Bagaimana Membuat Quotes yang baik?

Dalam kehidupan, seringkali manusia membutuhkan sebuah dorongan atau inspirasi untuk melakukan banyak hal. Dari yang ragu, menjadi tidak ragu. Dari yang salah, menjadi benar. Dari yang tidak tahu, menjadi tahu, dan lain sebagainya. Itulah yang akhirnya memunculkan sebuah ide, bernama quotes.

Quotes merupakan sebuah rangkaian kata yang mengandung sebuah arti atau makna tertentu. Ada beberapa hal yang sebaiknya diperhatikan, saat seseorang membuat quotes. Antara lain :

1. Diksi (pilihan kata)

Diksi adalah hal pertama, dan berperan sangat vital. Seseorang yang memang ingin membuat quotes harus menggunakan pilihan kata yang tepat, dan memiliki pemaknaan yang kuat. Sehingga quotes yang dihasilkan tidak perlu bertele-tele, menggunakan banyak kata, tetapi maknanya tidak memberikan kekuatan. Jika memang ingin membuat quotes, maka harus bisa menemukan diksi-diksi yang memberikan rasa dalam kata. Lalu dipadu padankan, akhirnya menjadi kalimat quotes yang singkat, padat, dan powerfull.

2.  Inspirasi

Untuk membuat quotes yang baik, maka juga penting untuk melakukan riset. Agar mampu menggali, apa saja kegelisahan, cara berpikir, masalah yang cocok diangkat, serta bagaimana seseorang mampu termotivasi dari quotes yang dibuat. Pada prinsipnya, riset sangat dibutuhkan sebelum melakukan berbagai macam hal.

Dalam hal inspirational quotes, maka dibutuhkan riset : Apa yang membuat orang tidak termotivasi, dan apa yang bisa membuat orang lain termotivasi. Ada dua jenis risetnya. Masalah dan solusi.

Jika pembuat quotes tidak melakukan ini, menurut saya, tetap bisa saja menulis quotes. Tetapi seberapa besar kekuatan quotes itu mempengaruhi orang lain, itu akan menjadi berbeda. Lalu apa tujuan membuat inspirational quotes, jika tidak ada orang lain yang merasa terpengaruh dan terinspirasi?

3. Gaya bahasa

Gaya bahasa adalah salah satu hal penting untuk diperhatikan saat menulis quotes. Dengan menggunakan gaya bahasa yang tepat, mampu membuat quotes tersebut diingat dengan baik oleh pembaca. Selama ini, gaya bahasa digunakan oleh banyak jenis tulisan, untuk menyampaikan pesan dengan lebih megena, karena mengedepankan rasa. Rasa, sangat penting. Karena dengan rasa, pesan bisa sampai dengan lebih mudah, dan sifatnya memorable. 

4. Tema

Tema sangat terkait dengan quotes yang akan dibuat. Jika seorang amatir, ingin membuat sebuah quotes, maka penting untuk menuliskan secara spesifik tentang tema quotes. Misal, tema umumnya adalah menulis dan inspiratif. Maka, penting untuk membuat daftar jawaban dari hal-hal terkait menulis dan inspiratif. Jawaban-jawaban itu, bisa diawali dari pertanyaan-pertanyaan. Misal, apa arti menulis untuk saya? Apa manfaat menulis untuk saya? Mengapa menulis itu penting untuk dilakukan? Apa saja yang bisa membuat orang suka menulis? Apa saja usaha yang telah saya lakukan untuk menulis? Apa yang akan saya lakukan jika saya merasa sedang tidak punya ide? dan lain sebagainya.

Jawaban-jawaban dari pertanyaan itu, akan mengerucutkan dalam tema spesifik. Dari tema spesifik, maka pembuat quotes bisa mendapatkan gambaran khusus untuk dituliskan ke dalam kalimat quotes.  Semakin spesifik tema yang diangkat, semakin mampu menjadi kekuatan bagi pembaca quotes.

Itulah keempat hal penting yang menurut saya perlu diperhatikan saat membuat quotes. Diharapkan quotes yang dihasilkan dari proses tersebut mampu menghasilkan kekuatan, solusi, dan inspirasi bagi pembaca atau pendengar.

Coba bedakan antara quotes biasa dengan quotes yang sudah biasa didengar. Quotes bisa saja abadi, bahkan meskipun pembuat quotes itu telah tiada. Quotes-nya masih selalu diingat dan didengungkan. Kenapa? Karena pesan yang ia sampaikan merupakan racikan yang tepat antara diksi, gaya bahasa, rasa, tema, paham masalah yang dihadapi, serta merupakan solusi.

Sebenarnya, menurut saya pribadi, quotes itu tidak untuk sengaja dibuat. Saat Anda mendengar inspirational quotes dari tokoh-tokoh besar, misal : Ir. Soekarno, Gus Dur, Emha Ainun Najib, Gus Mus, dan lain-lain, apakah beliau memang sengaja membuat quotes untuk menginspirasi orang lain? Saya berkeyakinan tidak. Namun, pada kenyataannya, banyak sekali kata-kata beliau yang dikutip, dan diangkat sebagai quotes. Tanya kenapa? Bagi saya, karena kalimat yang para tokoh sampaikan, secara tidak langsung mampu memberikan pengaruh bagi pendengarnya. Mampu mengusik rasa.

Namun, jika Anda memang sengaja membuat quotes, baiklah. Namun, buatlah quotes dengan baik. Sampaikan pesan dengan benar-benar mengedepankan rasa, tetapi juga memainkan logika dengan tepat. Keempat hal di atas, semoga bisa turut membantu untuk mencerahkan.

Advertisements

Tak Semua Masa Lalu Harus Dilupakan

Masih tentang cerpen. Dunia menawan yang menarik untuk dipelajari. Dalam belajar tentang cerpen, menganalisis, serta menyimpulkan sebuah cerpen sastra, maka saya diminta untuk membaca dan membedah banyak sekali karya penulis sastra.

Salah satu yang saya pelajari adalah cerpen milik Budi Darma. Beliau adalah seorang guru besar di Universitas Negeri Surabaya yang sudah banyak sekali membuat karya.

Cerpen tersebut judulnya Tarom. Tarom ditulis Budi Darma dengan gayanya yang khas. Diksi dan plotnya membuat kita seolah sedang terbang, mengunjungi satu negara ke negara lain. Namun, ada satu hal yang menjadi catatan saya. Cara Budi Darma, membuat kita terpaksa belajar masa lalu.

Masa lalu apa yang dituliskan Budi Darma? Budi Darma menyuguhkan sebuah kisah, dengan fakta-fakta masa lalu sangat terasa. Masa lalu di sini artinya adalah sejarah, atau sesuatu yang pernah terjadi di masa sebelum sekarang. Dalam tulisan-tulisan beliau,  pembaca secara tidak langsung diminta untuk melakukan riset.

Dalam cerpen Tarom tersebut, pembaca diajak belajar tentang masa Perang Dunia, Perang Indonesia dengan Malaysia dengan slogannya yang terkenal Ganyang Malaysia. Juga cerita antara Monalisa dan Leonardo Da Vinci. Semua dikemas secara apik, menjadikan cerita masa lalu itu indah untuk dinikmati.

Ya, banyak sekali di antara kita, manusia Indonesia khususnya, yang tidak peduli pada masa lalu negara ini. Masa lalu itu kita namakan sejarah. Sebuah bangsa yang hebat, adalah bangsa yang menghargai sejarah. Baik dan buruk, kelam, tetapi semua cerita masa lalu itulah yang membuat kita semua berdiri di sini.

Apakah kita harus menunggu selevel Master Budi Darma dahulu untuk bisa tergerak belajar masa lalu? Seharusnya kita justru bisa mencontoh dari beliau. Usia yang tak lagi muda, tetapi memiliki pemahaman dan pengetahuan seluas itu. Pasti ketertarikan pada sejarah, mempelajarinya, dan menuangkannya pada karya sastra sudah beliau lakukan sejak masih muda. Jangan melupakan masa lalu yang bisa memberikan arti bagi masa depan. Tak semua hal harus dilupakan.

Cicak Yang Mati Karena Memakan Nyamuk

Musim hujan kembali datang. Para nyamuk seperti mati satu tumbuh seribu. Memang, nyamuk lebih terasa banyak di musim kemarau. Namun, di musim hujan mereka jadi lebih rajin untuk berkembang biak. Begitu lahir baru, ia merasa langsung cukup mampu untuk berburu.

Nyamuk dulu pun ternyata berbeda dengan nyamuk sekarang. Jika dulu, jentik nyamuk butuh waktu 12-14 hari untuk berubah menjadi nyamuk dewasa. Nyamuk sekarang hanya butuh waktu 9 hari dalam pertumbuhannya. Karena para nyamuk masa kini adalah nyamuk dewasa prematur, maka tubuhnya semakin kecil, tapi nafsu makannya semakin bertambah. Frekuensi makannya juga meningkat.

Nyamuk-nyamuk kekinian itu pun perlahan berevolusi menjadi semacam iblis bagi manusia. Ketika iblis diriwayatkan hidup di dalam aliran darah setiap manusia, nyamuk-nyamuk iblis hidup layaknya vampir yang menghisap darah. Darah, di dunia ini banyak sekali yang menginginkannya.

Nyamuk-nyamuk iblis bukan saja mengincar darah, ia melesat ke semua celah-celah. Menghabisi siapa saja yang bisa dihabisi. Tanpa pandang bulu siapa pun yang ia sebut sebagai lawannya. Jika begitu besarnya keinginannya untuk membunuh, apakah ada yang pernah bertanya, apakah nyamuk kanibal? Pertanyaan ini, ingin sekali aku jawab tidak. Bagiku nyamuk bisa menjadi kanibal, ketika keinginannya makan, tak bisa terpenuhi. Di dunia ini, adakah yang lebih bertahan selain kepentingan?

Suatu hari ada seekor cicak yang tengah terjaga. Makan seperti biasa yang biasa mereka lakukan. Tiba-tiba ada seekor nyamuk yang tidak diketahui dari mana datangnya, hinggap di dekatnya. Hmm … kesempatan besar. Hap! dimakanlah si nyamuk kecil itu oleh seekor cicak di dinding.

Esok paginya, kutemukan seekor cicak mati. Terjatuh dari langit-langit ruang tamuku. Kata cicak yang lain, ia mati karena memakan nyamuk.

Biola Tak Berdawai

Gadis yang patah hati itu perlahan menghibur diri. Ia teringat kembali apa kata matahari tentang senja yang ia lalui. Relakan, ikhlaskan. Toh, semua pasti sudah menjadi catatan bagi Sang Pemilik Kehidupan.

Tiba-tiba ia teringat pada biola kesayangan. Teronggok pilu dalam kesendirian di pojok ruangan. Ingatannya pun melayang ke masa sebelumnya. Ketika ada seorang pria yang menyerahkan biola itu sebagai tanda cinta sepenuhnya. Datang di malam minggu, khas para remaja absen kehadiran ke rumah kekasihnya.

Laki-laki itu datang dengan sangat sopan. Mengetuk pintu, dan mengucapkan salam. Saat itu, keluarlah sang ibunda. Membukakan dengan pandangan penuh selidik, dan tanda tanya.

“Ya? Teman Cemara?” tanya ibunya. Matanya memandang lurus, menerobos ke dalam bola mata sang pemuda. Mencari jawab, atas arti hadirnya.

“Ya, tante. Saya Vibra, Vibrasi Moldiso, kawan Cemara. Apakah Cemara ada?” begitu tanyanya, sambil mengangguk, dan mengeratkan pegangan ke leher biola.

Pemuda itu memang membawa biola. Sebuah biola yang dibuat khusus dari perpaduan kayu Spruce dan Maple. 

Biola, sungguh hadiah yang cocok untuk Cemara. Semoga ia suka, pikir sang pria. 

“Baik, silakan masuk. Tunggu sebentar, saya panggil Cemara.” titah sang ibunda sambil membukakan pintu lebih lebar.

Sejenak kemudian, hadirlah Cemara ke ruangan tempat si pemuda menunggu. Wajahnya sangat ayu, tetapi tak terlihat senyum yang tersungging sedikit pun dari ujung bibir ayunya. Dengaan wajah datar, ia bertanya,

“Ya, Vibra. Sorry, ada perlu apa? Aku sedang menunggu seseorang. Maaf, mungkin aku tak bisa lama. Ada yang ingin kau sampaikan?” katanya.

Entah mengapa, kalimat itu lebih terdengar seperti mengusir bagi Vibra. Padahal ia masih ingin berlama-lama. Maka ia pun paham, dan tahu diri apa maksudnya.

“Maaf, Cemara. Mungkin kau tak akan suka. Tapi bolehkah aku memberikan biola ini sebagai hadiah untukmu?” jawab Vibra mengawali percakapan kaku yang menunggu untuk diakhiri.

“Biola ini kubuat dengan tanganku sendiri. Bagian atasnya menggunakan kayu Spruce yang kulubangi membentuk huruf “f”. Kupotong dengan cara quarter-swan. Cukup sulit untuk memotong kayu dengan sudut 60-90 derajat dari cincin pertumbuhan kayu tersebut. Bagian badan belakang dan rusuk, aku gunakan kayu Maple yang kupotong secara slab-cut. Lalu, pada lehernya kugunakan kayu Maple dan kutempelkan fingerboard yang terbuat dari kayu Ebony. Kupilih Ebony, karena ia lebih keras, lebih kuat, dan tahan untuk lama digunakan. Setelah itu kubuat detail-detail sound post, juga bass bar.”

Cemara memandangi biola coklat gelap metalik itu dengan mengeryitkan dahi. Tanpa kata, hanya terasa ingin segera menyelesaikan percakapan kali ini. Namun, lawan bicaranya seolah tak mengerti. Terus menjelaskan caranya membuat biola yang sedikit pun tak ia pahami.

“Setelah itu aku akan membuat neck, bridge, tailpiece dari kayu Ebony, pernambuco, boxwood, atau rosewood. Ebony dan pernambuco kubuat lebih tipis sehingga lebih ringan, meskipun tetap rentan pecah. Pernambuco bisa memperbaiki suara yang teredam sehingga lebih cerah dan fokus. Sedangkan ebony, menghangatkan suara yang tajam. Boxwood dan rosewood pun kugunakan karena sifatnya yang ringan.”

Senyum mengembang dari wajah Vibra. Tampaknya ia puas menjelaskan tentang biola hasil buatannya. Seraya itu, ia ulurkan kepada Cemara.

“Cemara, terimalah ini. Biola hasil buatanku. Sungguh, kubuat ia sepenuh hatiku. Kudatangkan semua bahannya pun dari negeri di atas awan. Kau pasti tak akan bisa temukan biola yang sama seperti buatanku.”

Cemara diam sejenak. Bertanya,

“Kenapa kau memberiku biola? Bukankah aku tak bisa bermain biola?”

“Tak apa. Kau simpan saja. Mungkin suatu hari kau ingin mendengar bunyinya, meskipun hanya menggeseknya dengan helai rambutmu.”

Cemara masih tak mengerti.

“Aku pamit dulu. Semoga kau suka hadiahku”

Ya, ia ingat kembali sekarang. Sejak cintanya berlabuh pada pria yang mengiriminya kiamat lewat tukang pos, nasib biola itu perlahan usang dan nyaris masuk tong sampah.

Diambilnya benda berdebu itu, entah kenapa kali ini ingin rasanya ia mendengar suara biola. Ia ingat, biola itu membuatnya tertarik belajar biola. Membuatnya mengikuti beberapa lomba, dan memenangkan beberapa hadiah. Namun itu berubah arah, ketika ia jatuh cinta pada pria pengirim kiamat itu. Pria yang menjadikannya sosok yang berbeda. Bahkan ia pun seperti tak mengenal dirinya. Tapi cinta memang selalu buta. Sudahlah …. pikirnya mengakhiri rumitnya perang di kepalanya.

Biola. Kuingin mendengar suaramu. Ayo kita bermain. Ia angkat biola itu agar lebih dekat dengannya.

Namun tiba-tiba ia tercekat, kaget. Biola merdu itu, kini tanpa dawai.

Ketika Matahari Bicara Senja

Gadis patah hati itu, masih juga terpaku. Kepalanya telah basah dihujani air dari awan hitam di atas kepalanya. Kepalanya pun meledak akibat hujaman petir yang menyambar tepat di ubun-ubunnya. Namun apa daya, kenyataan memang sepahit perasan air daun tuba yang dicelupkan ke dalam susu. Pahit, sangat pahit. Bahkan susu pun tak mampu menghapuskan kepahitan itu.

Ia tutup lagi amplop hijau yang membuat gemuruh besar di hatinya. Dilihatnya sekali lagi gambar hati yang membuatnya bahagia sejak lima tahun yang lalu. Namun kini, tak ubahnya hanya jadi sampah masa lalu yang tak perlu ditengok kembali. Apa yang masih tersisa, hati pun sudah patah, tak ada lagi yang bisa kutinggalkan sebagai harapan, begitu pikirnya.

Dengan isi kepala yang sudah tak lagi lengkap, hati yang patah, serta gemuruh badai yang masih menyesakkan dadanya, gadis itu beranjak dari duduknya. Sejenak, sinar matahari sore menyentuhnya, ingin menyapa dalam senja yang mampir sekejap. Ia pun menatap ke langit. Mencoba bertanya pada matahari yang hampir sampai di peraduan.

“Apa yang kau harapkan dariku, hai matahari? Aku sudah tak bisa memahami dunia ini lagi.”

“Tataplah langit itu. Liat warnaku di senja ini. Apakah manusia tahu, bahwa senja adalah saat paling indah dari sepanjang perjalananku setiap hari.”

“Hmm … ya, tapi sekarang bagiku semua sama saja. Gelap. Bukankan senja indahmu pun hanya sebentar. Selanjutnya akan berganti malam. Lalu apa gunanya indah senjamu?”

“Senja adalah penanda. Kadang manusia tidak menyadari, bahwa keindahan itu justru berada di persimpangan siang dan malam. Namun tidak semua bisa melihatnya. Sering orang melihat senja hanya sebagai pengakhir hari. Seolah ketika malam tiba, perjalanan hidup sudah terhenti. “

“Begitu pun kau. Lihat senja ini. Lupakan, maka gemuruh badaimu pun akan hilang. Lihatlah wajahmu. Sayu. Seharusnya bisa seindah senjaku ini. Merona, merah jingga keemasan.”

“Kau tak bisa memaksakan hati yang ingin pergi untuk tetap tinggal bersamamu. Pilihanmu hanya membiarkannya pergi dan berlalu.”

“Hei, matahari, diam kau! Sudah, tidur saja sana! Kau membuatku ingin melemparkan gulungan badai dalam dadaku ini untuk melenyapkan sinarmu selama-lamanya.”

“Bersabarlah … dan ikhlaskan semua. Tak bisa kau ubah kenyataan hidupmu. Ikhlaskanlah, agar jiwamu bahagia. Apakah kau ingin menandai senja ini sebagai pengakhir harimu? Atau kau resapi sakitmu dengan indah, lalu kau sambut aku esok hari?”

Gadis kecil itu menatap kembali amplop hijau di tangannya. Dijulurkanlah tangannya ke atas. Lalu datanglah angin, meniup amplop hijau itu. Hilang musnah.

BBW 2018, Cinta Itu Masih Ada

Hari ini, event tahunan yang digelar sejak tahun 2016 ini, dianggap selalu mendulang kesuksesan setiap kali diselenggarakan. Big Bad Wolf (BBW), begitulah namanya. Cukup aneh ya, tidak terlihat ada hubungannya sama sekali dengan buku, haha ….

Penggagas BBW adalah sepasang suami istri bernama Andrew Yap, dan Jacqueline Ng. Nama Big Bad Wolf diambil dari kisah Little Red Riding Hood, di mana ada seekor serigala yang menyamar sebagai nenek tua dan akan memangsa seeorang gadis kecil berjubah merah. Akhirnya oleh Andrew, nama Big Bad Wolf dijadikan sebagai nama untuk perusahaannya, karena dianggap menarik.

BBW Event 2018 kembali diselenggarakan di Indonesian Convention and Exhibition (ICE), BSD  CITY, Tangerang sejak hari ini, 29 Maret hingga 9 April 2018 nanti. Hari ini memang sudah saya tunggu-tunggu sejak beberapa minggu, bahkan setahun yang lalu. Kenapa? Karena tahun ini, adalah pertama kalinya saya berkesempatan untuk mengunjungi event ini di ICE.

Pertama kali saya menyusuri jalan sebelum ke ICE, rasanya jalanan itu lengang. Ya, seperti biasanya. Kondisi ini sangat kontras dengan saat event yang diselenggarakan adalah GIIAS 2017, pada Agustus tahun lalu. Pada saat itu, hampir sepanjang jalanan BSD CITY penuh oleh lalu lintas mobil yang keluar masuk dari jalanan sekitar ICE. Bahkan panitia sampai menyediakan shuttle bus, dan lokasi parkir tambahan. Berbeda dengan event BBW ini, jalanan masih sepi.

Setelah agak kesal karena parkir kendaraannya ternyata dibuat paling ujung, saya masuk ke dalam ruangan. Berbeda dengan GIIAS, yang biaya masukknya Rp 75.000/ orang, kali ini FREE. Setelah memasuki ruangan, betapa senangnya melihat begitu banyak orang lebih dari yang saya bayangkan. Saya paham, hari ini pasti belum bisa ramai, karena masih hari kerja dan ini siang hari.

Jujur, saya agak bingung. Bukankah kata data, daya baca masyarakat Indonesia sangat rendah. Namun, tadi saya melihat banyak sekali yang memasukkan buku ke keranjang  belanja. Tampaknya ini bukan untuk dikonsumsi sendiri, melainkan hasil dari jasa titip beli yang dilakukan melalui media sosial. Jadi, jika Anda berada di daerah lain yang tidak mungkin dijangkau jaraknya dari ICE, maka silakan menghubungi kontak para penyedia jastip di media sosial.

Mungkin ini akhirnya yang membuat kesimpulan awal saya salah. Hanya melihat keramaian di jalan hari ini sebagai tolok ukur sukses tidaknya sebuah acara. Ternyata, saya salah. Dari sekian banyak keranjang yang penuh dengan tumpukan buku, hingga sepertinya … saking banyaknya pesanan buku itu, kita bisa menyusunnya menjadi sebuah bangunan sangat tinggi.

Lalu, sebenarnya apa sih yang menarik dari BBW event yang rutin setiap tahun ini?

BBW adalah cara yang dilakukan untuk menjual buku hasil sisa produksi. Caranya, dengan memberikan potongan harga yang besar. Banyak buku-buku, khususnya buku lokal terbitan Indonesia, dijual dengan harga hanya Rp 15.000. Jadi, jangan mengharapkan buku-buku terbitan baru akan tersedia di sana. Yang kedua, buku-buku impor. Saya cek sebenarnya buku-buku impor itu relatif buku-buku baru, hanya saja di BBW event ini harganya lumayan lebih murah dibanding harga biasanya di toko buku. So, kapan lagi bisa membeli buku-buku impor dengan kualitas yang sangat bagus, tetapi harganya murah?

Saya bahagia, karena penilaian saya ternyata salah. Saya sangat bahagia karena masih banyak yang peduli pada literasi.  Ya, ternyata cinta itu masih ada.

Bawang Putih, Nasibmu Kini. Tanya Kenapa?

Sebagai ibu rumah tangga, di mana frekuensi ke pasar lebih sering dibandingkan ke mall, maka saya tahu betul bahwa harga bawang putih kini sudah sama dengan harga ayam. Bukan hanya masalah harga, ketersediaan barangnya pun semakin langka. Selama kira-kira hampir sebulan, harganya terus saja merangkak naik meninggalkan komoditas lain. Ada apa gerangan?

Saya mencoba melakukan riset sederhana untuk membuat praduga atas alasan kenaikannya. Kira-kira ada dua hal besar yang menjadi dugaan saya, yaitu :

1. Impor yang belum tereksekusi dengan baik

Sejujurnya saya sedih untuk mengatakan, “Impor belum tereksekusi dengan baik.” Negara  dengan wilayah pertanian sangat luas ini justru masih menggantungkan 95% kebutuhan dalam negeri komoditas bawang putih dari impor. Negara importirnya terbesarnya adalah Cina dan Tiongkok.

Sesuai dengan riset data yang saya dapatkan, kebutuhan bawang putih Indonesia rata-rata berada di angka 500 ribu ton/ tahun. Namun berapa jumlah produksinya? Jika dibandingkan dengan tahun 2017, realisasinya hanya bisa di angka 70 ribu ton. Untuk tahun 2018, diproyeksikan bisa mencapai angka 100 ribu ton. Lalu berapa kebutuhan impornya? Tentu secara hitungan kasar, Indonesia masih membutuhkan sekitar 400 ribu ton. Luar biasa!

Pada awal Maret 2018 lalu, Kementerian Pertanian (Kementan) telah menerbitkan Rekomendasi Impor Produk Holtikultura (RIPH) untuk mengimpor sebanyak 400 ribu ton dari Cina kepada 37 perusahaan importir. Realisasi volume impor yang akan diberikan, seluruhnya tergantung pada ijin yang diterbitkan oleh Kementerian Perdagangan (Kemendag). Selanjutnya baru-baru saja, Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengeluarkan ijin untuk mengimpor 196 ribu ton bawang putih melalui Surat Persetujuan Impor (SPI) kepada 13 importir.

Meskipun sudah diterbitkan SPI, kelangkaan barang masih mungkin terjadi. Hal ini disebabkan realisasi impor yang dirasa kurang optimal. Terkesan terlambat, sehingga belum banyak bawang putih yang tiba di Indonesia. Jumlah importir saat ini juga hanya 13 perusahaan. Ada dugaan bahwa sedikitnya jumlah importir ini karena kebijakan dari Menteri Pertanian, yang dikeluarkan melalui Peraturan Menteri Pertanian (Permentan)  Nomor 16 Tahun 2016 tentang Rekomendasi Impor Produk Holtikultura (RIPH). Dalam aturan tersebut, mewajibkan importir untuk menghasilkan 5% bawang putih dari alokasi impor. Artinya, ada kewajiban bagi importir untuk ‘menanam’ bawang putih di lahan sendiri.

Simulasinya seperti ini. Jika seorang importir ingin mengeksekusi hak impornya, maka untuk menghasilkan 1.000 ton bawang putih dalam setahun, ia harus memproduksi 50 ton bawang putih dari kebun ‘sendiri’. Jika setiap hektar diperkirakan bisa menghasilkan 6 ton bawang putih, maka dibutuhkan lahan kurang lebih 8,33 hektar untuk menghasilkan 50 ton. Artinya, dibutuhkan biaya 416-500 juta per 50 ton bawang putih. Hal ini sebenarnya masih bisa disanggupi oleh importir. Hanya merasa berat, karena dianggap minim bantuan dari pemerintah, misalnya untuk bibit.

Lalu, apakah Indonesia tidak bisa swadaya bawang putih seperti halnya pada bawang merah? Ternyata, Indonesia pernah mampu memenuhi 80% kebutuhan dalam negeri sampai tahun 1998. Setelah itu, Indonesia bergabung dalam Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization/ WTO). Saat itulah, bawang putih asal negara lain khususnya Cina, menyerbu pasar Indonesia dan mematikan usaha bawang putih lokal karena harganya jatuh. Bawang putih lokal ukurannya kecil-kecil, berbeda dengan bawang putih impor yang besar-besar.

Dilihat dari teknik penanaman dan kondisi lahan yang ada di Indonesia, menanam bawang putih memang lebih sulit dibandingkan bawang merah. Bawang putih lebih memerlukan kondisi yang spesifik seperti kondisi lahan dan suhu tertentu. Itulah mengapa, semakin banyak petani yang malas melakukan penanaman bawang putih. Apalagi tanpa adanya bantuan teknologi untuk bisa melakukan penamanan secara massive.

2. Efek tidak langsung dari kenaikan harga minyak dunia

Pada pertengahan Februari 2018, harga minyak dunia menyentuh level hingga mencapai USD 65,73 per barel untuk harga minyak mentah Brent. Pemulihan pasar ekuitas global dan ketegangan di Timur Tengah angkat harga minyak,  di tengah kekhawatiran kenaikan produksi di AS. Pada awal pekan ini, harga minyak mentah Brent dibuka naik di atas USD 70 per barel untuk pertama kalinya sejak Januari 2018. Lantas apa efeknya bagi Indonesia?

Ada dua hal utama yang menjadi pembentuk harga jual BBM, yaitu harga minyak mentah dunia dan nilai tukar rupiah terhadap dolar. Jadi, jika dalam waktu yang bersamaan harga minyak mentah dunia naik, dan rupiah melemah, maka harga jual BBM akan melonjak. Atau, jika harga minyak dunia turun, tetapi nilai tukar rupiah melemah, maka harga jual BBM pun sulit untuk turun. Selama ini, Pemerintah meninjau harga jual BBM setiap tiga bulan.

Kondisi saat ini, harga minyak dunia memang sedang tinggi. Bagaimana dengan nilai tukar rupiah terhadap dolar? Akhir pekan lalu, nilai tukar rupiah melemah di level Rp 13.800 per USD. Namun, pekan ini sudah menguat ke level Rp 13.600 per USD. Melihat kisarannya, nilai tukar rupiah terhadap dolar itu masih relatif lemah. Kondisi itulah yang akhirnya membuat Pemerintah menaikkan harga Pertalite kembali per 24 Maret 2018. Alhasil, kenaikan pada Maret 2018 ini merupakan kenaikan yang kedua sejak Januari 2018.

Seperti diketahui bahwa sejak 2015, Pemerintahan Presiden Jokowi sudah mengurangi dan mencabut subsidi BBM besar-besaran untuk membiayai proyek-proyek infrastruktur. Karena itulah, kenaikan harga minyak mentah dunia dan lemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar mempengaruhi harga BBM non-subsidi.

Pemerintah mengklaim bahwa kenaikan harga BBM tersebut tidak akan terlalu mempengaruhi masyarakat. Hal ini dilihat dari tingkat inflasi bulanan di Februari  2018 sebesar 0,17% yang didominasi oleh kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau. Sementara dari kontribusi kelompok bahan bakar, hanya 0,22%. Prediksi inflasi di Maret hanya akan meningkat sekitar 0,2% dan di April akan meningkat lagi di kisaran 0,3% membuat Pemerintah merasa bahwa dampak kenaikan BBM tersebut tidak signifikan.

Namun, apakah benar demikian?

Sejak subsidi yang dikurangi besar-besaran oleh Pemerintah, maka golongan Non-subsidi juga akan merasakan pengaruhnya jika terjadi perubahan pada harga pasar dunia. Tiga kelompok bahan bakar yang  dikurangi subsidinya oleh Pemerintah meliputi, BBM, Gas (LPG), dan Listrik. Maka, jika terjadi kenaikan harga BBM Non-subsidi serta listrik, maka otomatis akan berimbas pada industri. Biaya produksi akan meningkat, karena akan mempengaruhi biaya pendistribusian barang hingga ke tangan konsumen. Naiknya biaya produksi tersebut, akan membentuk kenaikan harga hingga di tangan konsumen. Hampir seluruh harga bahan pokok mengalami kenaikan, termasuk bawang putih. Akibatnya, seluruh masyarakat baik di kelas penerima subsidi BBM maupun Non-subsidi, secara tidak langsung akan merasakan dampaknya.

Dua hal tersebut yang (mungkin) bisa saya simpulkan dari penyebab melambungnya harga bawang putih beberapa waktu terakhir ini. Jika bahan makanan pokok lain tidak terlalu tinggi naiknya, hal itu disebabkan karena ketersediaan pasokan di dalam negeri. Berbeda dengan bawang putih yang menggantungkan hampir semua kebutuhan dari impor. Itu membuat ketika terjadi kekurangan pasokan di dalam negeri, Indonesia harus buru-buru membuka keran impor.

Dengan harga produksi yang juga sedang tinggi, ditambah kekosongan stok di dalam negeri, membuat masyarakat Indonesia terpaksa harus menelan ludah. Mau tidak mau harus menerima. Tak ada yang bisa dilakukan. Lari pun ibarat dikepung macan. Bertahan dengan segala cara. Masyarakat Indonesia tidak mungkin makan tanpa bawang, kan?

Lalu, kapan Indonesia bisa seperti Thailand dalam hal pertanian? Hmm … masih jauh tampaknya perjalanan kita.

Sumber Referensi :

  1. https://www.bps.go.id/pressrelease/2018/03/01/1441/februari-2018-inflasi-sebesar-0-17-persen–inflasi-tertinggi-terjadi-di-jayapura-sebesar-1-05-persen-.html
  2. http://ekbis.rmol.co/read/2018/03/27/332604/Gila,-Harga-Bawang-Putih-Nyaris-Tembus-Rp-50.000-Per-Kg-
  3. http://industri.bisnis.com/read/20180322/99/753112/bawang-putih-realisasi-impor-belum-optimal-harga-tinggi
  4. https://www.merdeka.com/uang/kenaikan-harga-bawang-putih-dicemaskan-picu-kelangkaan.html
  5. http://www.liputan6.com/bisnis/read/3411055/harga-minyak-dunia-naik-bertahan-di-atas-usd-70-per-barel
  6. https://www.medcom.id/ekonomi/globals/xkEn777K-kenaikan-persediaan-as-buat-harga-minyak-dunia-jatuh
  7. https://tirto.id/alasan-pertamina-naikkan-harga-pertalite-rp200-per-liter-cGH7
  8. https://economy.okezone.com/read/2018/03/22/320/1876263/harga-minyak-dunia-naik-ke-level-tertinggi
  9. https://tirto.id/cara-pemerintah-dan-pertamina-menetapkan-harga-bbm-cvzz
  10. http://www.liputan6.com/bisnis/read/625211/bagaimana-cara-pertamina-hitung-harga-jual-bbm
  11. https://katadata.co.id/berita/2018/03/06/kementan-terbitkan-rekomendasi-impor-400-ribu-ton-bawang-putih
  12. https://katadata.co.id/berita/2018/03/07/kemendag-keluarkan-izin-impor-200-ribu-ton-bawang-putih
  13. https://katadata.co.id/berita/2018/03/23/harga-tinggi-di-pasar-mendag-akan-panggil-importir-bawang-putih
  14. http://jateng.tribunnews.com/2018/03/02/ada-apa-ini-nilai-tukar-rupiah-sentuh-rp-13775-per-dollar-as

‘Skill’ Kok Njiplak!

Beberapa hari kemarin, saya kembali dikejutkan oleh berita tentang seorang penulis yang melakukan plagiat pada 24 karya sastra. Sinting! Bagaimana mungkin ia bisa se-hilang akal itu? Bukankah sebagai seorang penulis –atau bahkan siapa pun manusianya — sejak awal mulai mengenal aksara, sudah pasti tahu bahwa plagiasi adalah sebuah kejahatan. Haram!

Yang lebih gila lagi, yang diplagiat itu adalah jenis cerpen sastra, yang kemudian dikirimkan ke beberapa media ternama Indonesia. Akhirnya, ada sebagian karyanya yang dimuat. Entahlah … ini sebuah kepintaran tingkat dewa bisa memilih dan memlagiat hingga 24 karya, atau justru kebodohan yang amat sangat.

Lebih mengejutlah lagi, melihat fakta bahwa plagiator ini adalah seorang penulis yang (katanya) sudah berkemampuan menulis dengan baik. Dengan profilnya waktu itu, seseorang yang digambarkan sebagai sosok sederhana dan pendiam.

Upaya seorang plagiat untuk menjadi penulis profesional yang mendapatkan pengakuan dari dunia literasi, tampaknya salah dipahami. Memplagiat karya orang lain sesungguhnya adalah upaya bunuh diri. Jika sudah begini, bukan masalah plagiator tersebut menyesal atau tidak. Bukan masalah ia berjanji tidak akan mengulangi atau tidak. Serta bukan masalah ia akan bangkit dari keterpurukannya akibat hujatan bertubi-tubi, atau tidak. Pertanyaannya, masihkah dunia percaya? Siapa yang akan percaya, karya yang ia tuliskan bukan hasil dari menjiplak?

Mengingatnya, membuat saya yang masih berjuang keras di dunia ‘ini’ serasa ditampar keras!

Namun, siapa sangka … penulis sekelas J.K Rowling dan Dan Brown pun pernah dihampiri dugaan melakukan plagiat. Dari Indonesia, sekelas Chairil Anwar pun pernah diduga menjiplak karya orang lain. Pada tahun 2010, penulis J.K Rowling disebut dalam perkara hukum yang menyebutnya mencuri ide untuk buku-buku Harry Potter-nya dari seorang penulis Inggris lainnya. Gugatan di salah satu pengadilan di London itu menyebutkan bahwa buku J.K Rowling yang berjudul Harry Potter and  The Goblet of Fire menyalin banyak bagian dari buku Jacob tahun 1987, The Adventures of Willy The Wizard-No 1 Livid Land.

Begitu pula yang terjadi pada Dan Brown. Novelnya yang berjudul The Da Vinci  Code dituduh melakukan plagiat atas novel berjudul The Holy Blood and The Holy Grail karya Michael Baigent dan Richard Lee. Tuduhan lain juga muncul dari seorang novelis lain bernama Lewis Perdue, untuk salah satu novelnya yang berjudul Daughter of God.

Di Indonesia, penyair Chairil Anwar dituduh oleh Hans Bague Jassin, seorang kritikus sastra yang juga bergelar Paus Sastra Indonesia. Hans membandingkan karya puisi Chairil dengan The Dead Young Soldiers karya Archibald MacLeish, penyair Amerika Serikat. Chairil menyanggah hal itu hingga ketegangan antara mereka sempat memuncak pada suatu acara di Gedung Kesenian Jakarta. Chairil dan Hans sempat berkelahi.

Itu sebagian dari nama-nama penulis Indonesia yang terkenal. Lantas, bagaimana yang namanya tidak populer? Seperti yang diungkapkan oleh Pak Bambang Trim,  Ketua Umum Perkumpulan Penulis Profesional Indonesia (Penpro) dan Pendiri Institut Penulis Indonesia, bahwa pernah dalam satu bulan, beliau sudah menerima tiga laporan tentang buku-buku rekan penulis yang diplagiat dalam bentuk buku lagi dengan judul yang mirip, atau paling tidak mengandung satu-dua kata kunci dari buku mereka.

Mental-mental plagiat ini memang harus dimusnahkan dari muka bumi. Namun, mengapa kenyataan ini bisa terjadi? Salah satu jawabannya adalah sulitnya melacak. Ada jutaan bahkan mungkin milyaran karya yang tersebar, dan masih terus bertambah setiap detiknya. Jika karya itu adalah sebuah foto atau lukisan, Anda hampir tidak mungkin untuk menjiplaknya. Tetapi jika tulisan, bagaimana Anda bisa menentukan originalitasnya?

Sesungguhnya, di dunia ini tidak ada ide yang benar-benar murni. Ide terbentuk dari pola pikir, cara pandang, dan hasil olah pikiran yang didapatkan dari mendengar, melihat, dan membaca ide orang lain. Jika memang demikian masih bisa dilakukan, mengapa Anda tidak memilih menjadi epigon saja dibanding menjadi plagiator? Epigon adalah orang yang tidak memiliki gagasan baru dan hanya mengikuti jejak pemikir atau seniman yang mendahuluinya. Singkatnya, peniru seniman atau pemikir besar. Itu masih tidak masalah, jika dibandingkan dengan melakukan plagiat. Contoh karya yang banyak ditiru oleh penulis lain misalnya Ayat-Ayat Cinta. Pada awal kemunculannya, novel ini banyak ditiru. Banyak yang menuliskan kisah sejenis, bahkan cover dan nama penulisnya pun senada.

Lantas, apa bedanya kisah tuduhan yang dilayangkan pada novelis J.K Rowling, Dan Brown, serta penyair Chairil Anwar dengan para plagiator recehan di Indonesia? Para penulis level dewa seperti J.K Rowling, Dan Brown, serta penyair Chairil Anwar berhasil membuktikan bahwa semua tuduhan itu salah. Bahkan mereka siap berperang di meja hijau demi membuktikan nama baik dan kredibilitas kemampuan mereka. Sedangkan di Indonesia, para plagiator kelas receh malah dengan bodohnya melakukan bunuh diri secara terang-terangan di perang terbuka.

Sumber Referensi :

  1. https://sains.kompas.com/read/2010/02/19/0405249/jk.rowling.digugat.melakukan.plagiat
  2. https://www.kompasiana.com/prasetyo_pirates/epigon-vs-plagiat_552e5e406ea83483568b456a
  3. https://www.kompasiana.com/bambangtrim/598272b557c78c462c121132/sontoloyo-plagiat-buku-merajalela
  4. http://sastranesia.com/arti-kata-epigon/
  5. http://www.plimbi.com/article/163307/tokoh-ternama-pernah-dituduh-plagiat

 

 

Hari Tersibuk di Dunia

Bagi seorang ibu rumah tangga, ternyata hari tersibuk di dunia itu bukanlah hari Senin hingga Jumat. Melainkan justru hari Sabtu dan Minggu. Mungkin Anda yang belum menikah, akan heran membaca pendapat saya. Solusinya, cepatlah menikah dan menjadi ibu rumah tangga, hehe ….

Bagi seorang ibu rumah tangga, Sabtu dan Minggu justru sangat banyak agenda. Mulai pagi, hingga pagi lagi. Kapan tidurnya? Haha …. Di mana semua yang bekerja sedang libur dan bersantai di rumah, tapi ibu rumah tangga tak punya hari libur. Justru ia harus bangun lebih pagi untuk memastikan banyak hal telah siap lebih awal. Mengurus suami dan anak-anak, yang mungkin saja hari itu akan membuat pemandangan rumah lebih mirip kapal pecah. Agenda siang, sore, hingga malam pun kadang sudah ada di luar rumah. Lelah? Pasti.

Namun, ini bukan tulisan berisi keluhan. Ini adalah kisah, di mana ternyata dalam tantangan menaklukkan hari tersibuk di dunia, saya memutuskan untuk tetap menulis. Meskipun ya, kali ini yang saya tulis hanya recehan. Hehe ….

Pada DWC12 kali ini, saya mengalami beberapa tantangan berbeda dibandingkan DWC11. Tantangan yang saya alami karena menghadapi orang yang berbeda, lingkungan yang berbeda, dan tujuan yang berbeda. Dalam beberapa hal, menjadikan saya lebih tertantang. Namun, dalam beberapa hal lain membuat saya sedikit harus memundurkan langkah. Namun, meskipun begitu, saya memutuskan untuk tetap menulis di hari tersibuk di dunia, Sabtu dan Minggu.

Mengikuti tantangan menulis membuat saya lebih berusaha untuk mengatur waktu. Saya harus bangun lebih pagi, harus selalu berusaha lebih cepat dalam menyelesaikan tugas-tugas keseharian, serta berpikir lebih cepat. Akhirnya, hari tersibuk di dunia itu, justru menjadi sangat sangat produktif. Bagi emak-emak, tidak ada waktu tidak produktif. Yang ada adalah sangat produktif, atau sangat produktif sekali.

Seperti saat ini, di hari ke-4 tantangan menulis di DWC12. Saya baru bisa mulai menulis dari pukul 21.47 malam. Banyak sekali yang harus saya selesaikan hari ini. Namun, apakah saya terpikir untuk tidak menyelesaikan tantangan menulis harian? Jawaban saya, tidak. Saya harus tetap menulis, masih ada waktu kurang lebih 2 jam lagi. Hanya tema yang saya pikirkan memang berubah, harus lebih sederhana. Namun, saya harus tetap menulis. Tidak ada alasan dengan bersembunyi di balik kata pembenaran.

Ya. Menulis dalam kesibukan, di hari tersibuk di dunia pula, membuat saya semakin paham, bahwa waktu adalah sesuatu yang harus kita tentukan sendiri. Kesempatan adalah hal yang harus kita ciptakan sendiri. Apapun bisa mungkin, saat kita merasa hal itu adalah penting. Akhirnya, kita akan lebih cerdas dalam menentukan sebuah prioritas di hari yang sama. Haruskah begini? Bagi saya, ya. Untuk naik kelas, bagaimana saya tidak mau menempuh ujian?

2019. Tahun Boleh Politik, Apa Kabar PSN?

Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang menjabat sejak 20 Oktober 2014, akan berakhir masa tugasnya pada tahun 2019. Selama periode kepemimpinan beliau beserta Wakil Presiden Jusuf Kalla, ada 245 Proyek Strategis Nasional (PSN) yang ditetapkan melalui Peraturan Presiden (Perpres)  Nomor 58 Tahun 2017. Sebanyak 245 proyek dengan investasi Rp 4.417 Trilyun mencakup 15 sektor infrastruktur, serta 2 program, yaitu program ketenagalistrikan, dan 1 program industri pesawat terbang.

Presiden Jokowi memang menarik dengan ‘keambisiusannya’ dalam melakukan perluasan pembangunan infrastruktur di banyak wilayah di Indonesia. Seperti diketahui, bahwa pembangunan infrastruktur menjadi salah satu kunci utama untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, dan mencapai pemerataan ekonomi secara regional maupun nasional. Dalam mencapai target itu, pemerintah menerapkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019.

Tahun 2019 nanti akan dianggap sebagai tahun politik, di mana gaungnya sudah mulai terasa saat ini, di tahun 2018. Beberapa partai sudah mendeklarasikan dukungan ke salah satu calon presiden. Ada juga yang mengusung kadernya sebagai salah satu calon presiden atau wakil presiden. Rakyat? Masih adem ayem saja. Riaknya belum terlihat atau terasa. Konsolidasi politik masih terjadi di internal partai, belum ke arah eksternal. Rakyat masih mencoba menganalisis peta politik Indonesia 2019 akan ke mana. Para pelaku industri dan bisnis pun mulai memasang ancang-ancang terkait strategi dalam menghadapi tahun 2019 nanti.

***

Di bagian lain, kasak kusuk politik ternyata juga terjadi di salah satu warung kopi, di satu sudut  negeri.

“Cak, kamu pilih Presiden siapa?” tanya seorang tukang becak, yang pagi itu ngopi dulu di salah satu warung, sebuah kampung kecil.

“Wah, aku juga bingung Cak! Paling calonnya ya sama kayak dulu. Pak Jokowi dan Pak Prabowo toh?” jawab seorang penyapu jalan yang juga belum berangkat ke tempat kerjanya.

Ngopi sik, ben kuat ngadepi kenyataan.” Begitu dia selalu bilang.

“Iyo. Aku pikir juga akan begitu. Wah … kalo calonnya sama, nasib kita juga akan sama gini-gini aja yo Cak ….” kata pria tua itu, sambil menyeruput kopi dari cawan dengan tangan keriputnya. Usianya memang tak lagi muda, entah berapa lagi ia harus menjadi tukang becak.

Semoga nanti becakku banyak yang makai pas kampanye, begitu saja pemikirannya. Sedernana.

Pria penyapu jalan menengadahkan wajahnya ke langit. Matahari sudah mulai terasa sengatannya. Setiap pagi, setiap hari, tetap selalu sama. Siapa pun Presidennya. Yang pasti, aku bakal banyak kerjaan, nyapu terus gak bersih-bersih gara-gara kampanye, begitu batinnya.

***

Ya, memang hanya sebatas itulah hidup dan cerita kaum wong cilik dalam menghadapi perubahan di tahun politik nanti. Keinginannya tak banyak, juga tidak rumit. Sederhana, masih hanya soal perut hari ini dan bahagia besok bisa yakin makan apa. Wong cilik adalah suara yang diperebutkan, hanya sebagai objek. Sementara para subjek saat ini sedang memikirkan strategi besarnya sambil ngopi di cafe mahal di berbagai sudut kota. That’s life.

***

Ya. Kurang dari satu tahun lagi masa kepemimpinan Presiden Jokowi, lantas bagaimana progress report dari PSN tersebut?

Hingga di akhir tahun 2017, sebanyak 26 proyek sudah diselesaikan dan dioperasikan. Angka terseebut dengan rincian 20 proyek diselesaikan di tahun 2016, dan 6 proyek lagi di selesai hingga 19 Desember 2017. Proyeksinya, di tahun 2018 akan beroperasi 50 proyek, tahun 2019 sebanyak 56 proyek, dan 2020 sebanyak 23 proyek. Pelaksanaan pengerjaan proyek-proyek itu tidak berarti diselesaikan dalam setahun. Ada proyek yang ditargetkan beroperasi di tahun 2018, pengerjaannya dilaksanakan sebelum tahun 2018.

“PSN bukan semua selesai di tahun 2019. Kriteria dasar, harus mulai konstruksi paling lambat di tahun 2018. Contoh, 35 Gigawatt (GW) enggak selesai di tahun 2019. Kalau dibangun di 2018, butuh waktu antara 3 hingga 4 tahun. Bisa beres di tahun 2021, 2022, atau 2023.” kata Rainier, Direktur Program Komite Percepatan Pembangunan Infrastruktur Prioritas (KPPIP).

Proyeksi kemajuan PSN sampai dengan tahun 2020, jumlah proyek yang akan beroperasi ada sebanyak 170 proyek baik parsial ataupun keseluruhan. Itu artinya, bisa terbaca bahwa salah satu agenda kampanye Presiden Jokowi agar terpilih di periode kedua masa pemerintahannya adalah dengan mengandalkan issue pembangunan infrastruktur.

Issue ini memang sangat menarik juga untuk diamati oleh rakyat yang nantinya akan memilih calon Presiden. Jika dibandingkan dengan era pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), ada tercatat 66 proyek yang tersebar di  koridor Sumatra hingga Papua. Anggaran pembangunan infrastruktur di era Presiden Jokowi juga lebih tinggi 84 Trilyun dibandingkan Presiden SBY.

Infrastruktur memang menjadi pembeda paling nyata antara pemerintahan SBY dan Jokowi. Alasan Jokowi, jika tidak melakukan terobosan terkait dengan pembangunan infrastruktur, pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya akan berada di kisaran 5-6% saja. Dengan infrastruktur, proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mencapai 7-8% per tahun.

Hmm … sebuah strategi politik yang didasarkan pada hasil kerja nyata memang akan menjadi langkah paling sulit untuk dikalahkan. Maka, siapa pun lawan dari Presiden Jokowi nanti di Pilpres 2019, agaknya harus membuat sebuah penalaran yang logis untuk melawan issue ini.

Tak lupa, catatan untuk Presiden Jokowi adalah proyek-proyek tersebut belumlah selesai. Artinya masih ada janji yang belum terpenuhi. Dan agaknya, beberapa catatan kejadian kecelakaan kerja pada proyek infrastruktur yang pernah terjadi, harus menjadi perhatian khusus Jokowi. Karena runtuhnya jembatan, dan bangunan proyek, bisa meruntuhkan juga elektabilitas Jokowi di 2019.

Mari mikir politik, sambil ngopi. Di mana?

What’s Next in 30DWC Jilid 12? (Part 2)

7. Membeli Beberapa Buku

Ada beberapa buku yang saya beli untuk ‘memaksa’ diri saya belajar. Ya, tugas di kehidupan nyata sesungguhnya sangat luar biasa banyaknya. Sedangkan menulis, tak bisa dilepaskan dari membiasakan diri untuk membaca. Beberapa buku yang saya beli itu meliputi fiksi dan non-fiksi. Ada beberapa buku non-fiksi yang memang saya beli untuk meng-update kebutuhan saya, khususnya tentang menulis, dan bisnis. Sedangkan buku fiksi, saya membutuhkannya untuk meluaskan imajinasi. Memang, belum semuanya terselesaikan. Namun, bagi saya yang terpenting justru beli dulu. Agar saat membutuhkannya, kita tahu ke mana harus mencari jawabannya.

8. Membaca

Membaca, tak bisa dipisahkan dari kata menulis. Butuh banyak wacana yang dibutuhkan untuk menulis, sehingga dengan adanya beberapa buku yang saya beli, akan memaksa saya untuk membaca. Jujur saja, tidak mudah untuk melakukan kegiatan ini di tengah kesibukan di dunia nyata. Namun, membaca pun sebenarnya tidak harus selalu  membaca sebuah buku. Bisa saja membaca cerpen, artikel, karya tulisan milik orang lain, dan lain sebagainya. Yang terpenting adalah tiada hari tanpa melewatkan kesempatan ini. Nah, sebagai bentuk nyatanya, saya membuat catatan hasil tulisan yang saya baca setiap harinya.

9. Mencari inspirasi ide baru

Mencari inspirasi ide baru ini saya perlukan agar saya selalu ada gagasan baru sebagai langkah lanjutan dari apa yang sudah saya mulai saat ini. Inspirasi ide baru itu misalnya diawali dari pertanyaan, “Jika ikut DWC lagi, apa yang akan saya tuliskan?” kemudian bisa juga dari, “Apa yang harus saya lakukan agar tulisan saya lebih bisa dibaca banyak orang? Apakah saya akan tetap menggunakan blog sebagai platform utama, ataukah ada yang menarik lainnya?”

10. Membuat bank ide

Berdasarkan beberapa inspirasi yang saya dapatkan, maka saya harus mengikatnya. Yaitu dengan mencatatkan ide. Ada beberapa ide yang saya dapatkan untuk bisa dikembangkan. Saya catat ke dalam buku khusus menulis, dan memikirkannya lebih detail. Terlebih jika saya ingin menjadikannya ke dalam sebuah buku pribadi. Ide-ide tersebut tak harus yang non-fiksi, tetapi termasuk ide cerpen yang akan saya pikirkan pengembangannya untuk dijadikan tulisan.

11. Mengikuti Grup yang memberikan manfaat

Dalam perjalanan menulis ini, tanpa disadari saya memang menjadi sangat haus ilmu menulis. Semakin mencari untuk tahu, semakin banyak yang tidak diketahui. Suatu hari saya iseng untuk menghitung berapa grup menulis yang saya ikuti. Ternyata lebih dari 30, haha ….

Grupnya rame? Sebagian. Banyak aktivitas atau tantangan menulis? Sebagian. Banyak para admin yang bernafsu untuk membuat sebuah grup menulis, menawarkan banyak janji-janji, tetapi kenyataannya sedikit saja yang bisa menjaga frekuensi menulis para anggotanya. Sama seperti saya, yang juga sangat bernafsu untuk bergabung ke dalamnya tanpa melakukan seleksi. Dengan ini, saya putuskan untuk melakukan ‘bersih-bersih’ grup.

Dari sekian banyak grup yang saya ikuti, saya pilih yang memberikan manfaat secara khusus. Misal, secara berkala menghadirkan pemateri untuk melakukan sharing di grup. Bisa dari para penulis yang sudah terlebih dulu memiliki karya,  bisa juga dari para mentor yang memiliki kemampuan coaching, ataupun kelas-kelas khusus yang memfasilitasi aktivitas menulis. Selain itu, saya remove.

12. Menjaga frekuensi semangat menulis

Bagaimana cara saya menjaga agar tetap dalam frekuensi yang sama untuk bersemangat menulis. Dengan bangga, saya sampaikan terima kasih yang sangat besar kepada rekan-rekan saya di Squad 10, alumni 30DWC Jilid 11. Di sana saya menemukan aura sangat positif dan memacu semangat untuk menulis. Setiap saat bicara tentang menulis, meng-update informasi lomba, share ilmu kepenulisan, serta share karya hasil tulisan untuk dibaca, dan memberikan feedback yang membangun.

13. Diskusi dengan mentor

Diskusi adalah hal penting yang saya sukai. Bagi saya, tidak mudah menjadi seorang mentor. Dan lebih tidak mudah lagi, menemukan seorang mentor yang tepat dan berkualitas. Seorang mentor berperan untuk mendorong, membantu, serta menjadi backing dalam proses yang kita lakukan untuk menjadi penulis handal. Cara-cara yang dilakukan mentor pun berbeda-beda. Ada yang memang mendampingi dengan kasih sayang selayaknya seorang ibu kepada anaknya, ada juga yang memberikan cara dengan self-coaching, ada juga yang caranya menghempaskan kita jauh hingga ke dasar jurang, mengkritik habis-habisan agar kita bisa paham bagaimana seharusnya berlatih dan berusaha. Bagaimanapun, tujuannya adalah sama. Sesuaikan saja dengan style yang kita sukai.

Ternyata, paling tidak ada 13 aktivitas menulis yang saya lakukan selama masa jeda. Namun, apakah mampu menjadi pondasi lebih untuk DWC12? Pertanyaan dasar kembali muncul, apa yang akan saya lakukan di DWC12?

Atas dasar ketiga belas aktivitas di atas, rasanya saya masih di tahap untuk menemukan ‘jati diri’. Semua tentang dunia kepenulisan ingin saya pelajari. Level pun, masih jauh dari kata bisa. Semua genre saya coba untuk mempelajari tekniknya, menuliskan, dan mencoba membuat karya yang berbeda-beda. Bagaimanapun, cara latihan menulis paling ampuh adalah dengan menuliskannya, kemudian mempublikasikannya dalam karya. Apapun jenisnya.

Untuk itu, target utama DWC12 tidak akan muluk-muluk. Masih untuk meningkatkan kualitas tulisan, sambil menemukan hal-hal baru atau potensi diri yang bisa saya gali. Saya tidak mau kualitas recehan.

Lalu, misinya apa?

Ada tiga jenis topik utama yang akan saya jadikan objek tulisan, yaitu : menulis naskah dengan satu tema (fiksi/ non-fiksi), menulis cerpen sebagai latihan untuk masuk ke jenis cerpen media (fiksi), serta menulis artikel tentang hal-hal menarik di sekitar (non-fiksi).

Kenapa tidak pilih salah satu dulu? Karena proses belajar saya memang begini. Kadang ide-ide yang datang tak bisa hanya dari satu jenis saja. Saya tidak mampu menahan untuk tidak menuliskannya. Jadi biar saja. Saya percaya, setiap naskah akan menemukan jodohnya. Tangkap, dan tuliskan saja.

“I can always edit a bad page, but not blank page.”

What’s Next in 30DWC Jilid 12 ?

Ya. Sudah sebulan sejak 30DWC Jilid 11 berakhir. Sekarang, masuk lagi hari pertama perang dimulai untuk 30DWC Jilid 12. Anggota Empire banyak yang berbeda, kawan Squad pun juga sudah tak sama. Rules secara teknis sebagian besar juga sama, hanya mungkin akan ada beberapa kejutan yang akan dilakukan di tengah-tengah periode tantangan.

Saya berpikir, apa yang akan saya lakukan di DWC Jilid 12 ini? Ketika semua kawan sudah berganti, begitupun semangat dari mentor untuk melakukan inovasi, apakah saya masih tetap sama? ”B-aja”, kata mentor saya. Jangan-jangan yang tidak berubah justru adalah saya. Jadi miris saya memikirkannya. Ini bukanlah perang melawan mereka, ini adalah perang melawan saya. Diri saya sendiri. Beranikah memulai?

Selama masa jeda antara DWC11 hingga DWC12, apa saja yang telah saya lakukan? Apakah seproduktif saat ikut DWC11? Ini akhirnya menjadi pertanyaan besar. Apakah saya selalu hanya terorientasi target? Semangat yang berapi-api itu karena saya punya target yang ingin saya capai. Jika tidak, maka terlenalah saya dengan segala alasan.

Maka dari itu, saya putuskan untuk ikut kembali di DWC12. Karena ternyata mental tempe saya, membuat saya belum membuahkan hasil yang saya harapkan. Tapi, ikut DWC12 lagi, lalu apa yang harus saya lakukan? Jawab pertanyaan besar ini dulu, begitu batin saya.

Sebelum melangkah ke sana, saya ingin menuliskan dulu, apa saja yang telah saya lakukan untuk aktivitas menulis, selama masa jeda. Antara lain :

  1. Mengambil project antologi

Ada tiga grup yang berencana akan membuat antologi. Cerpen teenlit remaja (fiksi), kumpulan eksperimen anak di bidang Fisika & Kimia (non fiksi), Cara menjadi orang yang lebih baik (non-fiksi). Ada beberapa lainnya, tetapi belum mendapatkan kepastian bagaimana tema dan ketentuan teknisnya.

  1. Revisi naskah-naskah antologi yang akan terbit

Dari dua yang akan terbit, yaitu tentang tema detektif cilik, dan genre thriller, sebagian harus saya revisi. Rencana akan diajukan ke penerbit major, dan editornya adalah salah satu editor penerbit major, sehingga lebih detail koreksinya. Di sini saya jadi banyak belajar tentang bagaimana membuat naskah yang lebih baik. Ada teknik-teknik yang harus saya pelajari lagi dengan lebih cermat.

  1. Belajar di kelas mentoring menulis

Ada kelas mentoring yang saya ikuti untuk belajar menulis lebih baik. Ada mentor yang akan membantu dalam proses saya bertumbuh. Sebenarnya, idealnya, kelas mentoring ini bisa saja tidak dilakukan. Artinya tidak akan menjadi wajib bagi seseorang. Asalkan ia punya kemampuan belajar sendiri yang luar biasa.

Hanya saja, bagi saya, kelas ini bukan hanya berperan sebagai kelas belajar, tetapi saya jadikan sebagai salah satu ‘pintu masuk’. Di kelas-kelas ini sudah terkumpul kawan-kawan baru, yang memiliki semangat dan tujuan yang sama. Saya bisa masuk ke dalam komunitas untuk memperoleh ilmu lebih banyak dan cepat.

  1. Mengikuti tantangan menulis 7 hari non stop, bernama GTC

Satu lagi, tantangan menulis yang ingin saya rasakan. Saat itu, ada seorang kawan yang menyarankan untuk ikut GTC. GTC adalah pintu gerbang untuk menuju ke grup menulis bernama YWC (Young Writers Club), di mana syaratnya adalah menulis 7 hari tanpa jeda. Namun, yang paling membuat saya semangat adalah, di dalam grup YWC tersebut ada seorang mentor menulis cerpen sastra media yang sangat hebat, bernama Ongky Arista. Tidak mudah untuk bisa menemuinya.

Beliau memang hanya berstatus sebagai anggota di YWC, tetapi akan membuka kelas sendiri untuk beliau mentori. Ini yang paling membuat saya rela menempuh perjalanan jauh, meskipun status saya sampai saat ini masih berdiri di depan rumah beliau, menunggu dibukakan pintu. Tapi saya akan menunggu, demi kesempatan itu.

  1. Mengevaluasi Draft Novel

Ada sebuah draft yang saya pernah tuliskan. Hasil dari pertarungan saya di lomba menulis novel. Ada tujuh tahapan seleksi yang harus saya lalui. Saat itu, belum untuk bertarget menang, tetapi lebih kepada ingin melihat sejauh mana kemampuan saya saat ini, sebagai pemula. Akhirnya, saya kalah di tahapan seleksi ke-4. Namun selama itu, saya  jadi bisa memperoleh sedikit gambaran mengenai tahapan seleksi oleh editor. Banyak yang memang harus saya perbaiki. Di waktu jeda inilah, saya sesekali melihat kembali ke draft lama saya, dan melakukan evaluasi.

Stres juga ternyata. Merevisi karya sendiri, menimbulkan rasa yang lebih berat dibandingkan dikoreksi orang lain. Selain harus membacanya berulang-ulang, rasanya juga seperti selalu saja ada kesalahan. Selalu saja ada yang kurang pas. Apalagi jika menemukan sebuah celah, atau alur yang ingin saya ubah. Tapi, bukankah itu sama saja akan mementahkan naskah jadi seperti awal lagi? Tidak mudah menjadi ingin sempurna, sungguh.

  1. Bergabung di komunitas WIFI Jakarta

Setelah berhasil melalui tantangan menulis di 30DWC Jilid 11, maka saya diijinkan untuk masuk ke grup alumni yang dibagi dalam Region, sesuai domisili. WiFI (Writer Fighter Indonesia) namanya. Saya bergabung ke dalam Region Jakarta. Di sana, bertemu kembali dengan para penulis yang sudah lebih senior, sudah lebih banyak karyanya. Wow!

Di sini, diberlakukan peraturan untuk OWOP (One Week One Post), artinya harus menyetorkan tulisan minimal satu tulisan setiap minggu. Hal ini dilakukan untuk membuat fighters tetap aktif menulis, meskipun hanya satu tulisan saja dalam seminggu. Sekali lagi, lingkungan bertumbuh yang kondusif berperan penting untuk menjaga semangat penulis. Tidak harus, tapi itu sangat membantu.

(bersambung)

Syukur Sederhana

Sebenarnya permintaan Tuhan itu sederhana. Bersyukurlah pada-Ku, maka akan Aku tambahkan nikmat-Ku untukmu. Namun dalam kenyataannya, banyak sekali di antara kita, manusia, yang tidak menyadarinya. Atau sebenarnya tahu, tetapi lupa. Padahal, jika kita menghitung jumlah nikmat Tuhan pada kita setiap hari, setiap detik, tak akan mampu kita menghitungnya.

Kucoba tuliskan satu saja hal yang membuatku bersyukur hari ini, dari sekian banyak yang kutuliskan. Sore ini, jadwalku mengantar anak untuk les menggambar manga. Kebetulan, aku bertemu dengan pemilik usahanya. Beliau jarang ada. Moment semesta yang mempertemukan kami saat itu, kugunakan untuk ngobrol ringan saja. Dari sekian bahan obrolan yang kami bicarakan, ada satu hal menarik yang akhirnya kuketahui. Beliau sangat suka membaca. Wah … hal yang akan sangat cocok dengan saya juga.

Saya penulis, ehm sorry … lebih tepatnya sedang belajar untuk menjadi penulis. Membaca adalah syarat mutlak untuk menjadi seorang penulis yang berkualitas. Menulis adalah sebuah aktivitas yang lebih sulit daripada membaca. Jika aktivitas membaca, Anda ingin menyerap ilmu atau pun pandangan orang untuk Anda simpan dan masukkan ke dalam memori Anda sendiri. Membuat sebuah pengalaman batin sendiri. Untuk mencapai itu, Anda tidak perlu menulis. Hal ini berbeda dengan aktivitas menulis. Menulis tidak bisa dilakukan tanpa membaca. Karena membaca adalah ‘asupan gizi’ yang dibutuhkan untuk bisa membuat materi dalam tulisan. Semakin banyak Anda membaca, maka akan semakin bagus kualitas tulisan Anda.

Tapi saya bahagia hari ini, karena saya bertemu dengan seorang lagi kawan baru yang suka dalam hal literasi. Baik itu membaca atau menulis. Bagi saya sudah sangat jarang seseorang dengan hobi membaca atau menulis hidup dalam era saat ini. Di mana semua orang seringkali hanya mengejar apa yang hanya terlihat saja, misal kecantikan fisik, dan kekayaan, tetapi lupa pada bagaimana mengupgrade keluasan berpikir dan imajinasi. Baik, anggaplah itu mungkin hanya pendapat saya saja. Tapi kenyataannya, kawan-kawan literasi saya berpendapat sama dan mereka semua, secara fisik sangat cantik. Jadi saya semakin bangga, bahwa banyak wanita cantik yang juga sangat pintar.

Menulis memang tidak menjadi pilihan setiap orang, karena konsekuensinya yang terasa lebih berat dibandingkan hanya sebagai seorang pembaca saja. Namun saya tetap memilih untuk menulis. Saya merasa bahwa dengan menulis saya bisa menjadi lebih bermanfaat. Baik kepada diri sendiri maupun orang lain. Namun berjuang untuk bisa mengimbangkan menulis dengan membaca itu sangat tidak mudah. Itulah kenapa saya bersyukur bertemu kawan baru saya. Selain karena kebiasaan itu semakin sulit ditemukan, pertemuan ini juga seakan menjawab kegelisahan dalam diri saya yang menginginkan adanya partner dalam membaca untuk bisa saling menyemangati. Dan kini, sore ini, saya menemukannya. Biarlah saya saja yang menjadi penulis, tapi dalam hal membaca, ku ingin berkawan dengannya. Boleh, kan?

Ternging suara Tuhan di telinga, Bersyukurlah pada-Ku, maka akan Aku tambahkan nikmat-Ku untukmu.

Bisik Rindu Dasar Samudera

    “Imas … apa yang sedang kau lakukan di sana, nak … kembalilah, nak … cepat kembali ….” Suara seorang wanita dari kejauhan, berteriak sekencang-kencangnya sore itu. Kutaksir usianya sekitar lima puluhan tahun. Bajunya yang sudah terlihat berlubang di bagian bahu dan lengan, menunjukkan cerita hidup yang tak mudah untuk dijalani. Kakinya tak mengenakan alas, ia menyisir pantai yang gelombangnya sedang tinggi sambil berteriak memanggil nama Imas, anaknya. Nafasnya memburu, tetapi desah itu tertelan angin laut yang menampar-nampar wajah dan dadanya.

    “Imas … maafkan ibu, nak … Ibu tak akan memarahimu lagi. Tapi tolong, kembalilah … Ombak itu bisa menelanmu nanti.” Teriak wanita tua itu dengan suara parau, akibat terlalu keras berteriak. Namun Imas, yang dipanggilnya dengan sekuat tenaga tak menoleh sedikitpun, apalagi menyahut. Entahlah … antara tidak mendengar, atau memang tidak mau dengar.

Sosok gadis yang dipanggilnya dari pinggir pantai itu justru melanjutkan langkahnya, semakin menantang gelombang yang kini setinggi dadanya. Ia berdiri kaku, lurus, dengan tangan lunglai ke bawah. Pandangannya menghadap ke depan, seperti sedang melihat sesuatu di kejauhan. Namun kosong.

Sang ibu menoleh dan menyapukan pandangan ke sekeliling. Ia ingin sekali meminta bantuan. Siapa saja yang bisa menyelamatkan Imas dan menariknya kembali ke daratan. Namun tak seorang pun ia temukan dalam sejauh-jauhnya jangkauan pandangan. Cara terakhir yang ia pikirkan adalah, ia harus menyelamatkan anaknya sendiri. Maka ia coba untuk maju, menyibak riak-riak ombak yang menghantam kaki.

Badannya yang ringkih akhirnya membuat sang ibu tua tak mampu menahan gelombang. Berulang kali ia terjatuh, dan hampir tenggelam. Celakanya, ia tak bisa berenang. Rasa penyesalan mendalam tiba-tiba ia rasakan. Di mana saat sangat dibutuhkan, kemampuan dasar bertahan hidup itu tak ia kuasai. Dulu ia tak peduli ketika sang ayah memintanya untuk belajar. Oh … penyesalan memang selalu datang terlambat, batinnya.

***

    “Bu … Bu … Bangun, Bu … Malam ini kau mengigau lagi.” Bisik seorang pria tua sambil menggoncangkan tubuh istrinya. Wajahnya yang terlihat sangat lelah, terpampang dari matanya yang sayu, dan kantong mata yang tebal. Di dahinya sudah penuh dengan lekukan-lekukan keriput, serta noda-noda hitam di pipinya, pertanda ia habiskan hampir seluruh waktunya untuk bekerja keras di luar ruangan, menahan serangan teriknya matahari.

    “Bu … bangun, Bu … kau sedang bermimpi. Bangun, Bu …” bisiknya lagi sambil menahan kantuk dan menggoncang-goncangkan tubuh istrinya. Ia lihat air mata mengalir deras di pipi istrinya. Dia usap dengan kain sarung yang digunakannya untuk selimut setiap malam.

Istrinya kini mulai tersadar, perlahan ia tenang dan mencoba untuk membuka matanya. Perlahan mata itu terbuka, dan ia menatap ke arah wajah yang sedang memandanginya.

    “Pak … aku bermimpi ya? Aku melihat Imas, Pak …” kembali sang istri mulai terisak, ”dia pergi ke tengah laut, sendirian, Pak…” akhirnya kembali pecahlah tangis sang istri.

Hati pria tua itu mendadak terasa pilu. Ia ingat anaknya, Imas, yang hingga saat ini tak kembali. Namun, ia harus menguatkan hati istrinya. Tak mungkin aku menangis juga saat ini, demikian pikirnya.

    “Imas nanti akan kembali, kau tenang saja, Bu … Dia sedang dalam perjalanan pulang. Bukankah orang pintar sebelah sudah bilang begitu. Sudah … kau tenang saja. Tidurlah lagi.” pinta sang suami sambil menyibakkan sedikit tirai jendela untuk mengintip suasana di luar. Tampaknya langit masih gelap, dan laut juga masih tenang. Hanya suara riak ombak kecil yang memecah keheningan malam.

    “Masih malam, Bu … kita harus tidur lagi. Esok kita harus bekerja. Siapa tahu, besok juga Imas pulang.” kata pria tua sambil menutup tirai, lalu membetulkan bantal tipis untuk ia tiduri lagi.

Sang istri menghela nafas panjang. Duduk termenung di atas dipan sempit yang hanya cukup untuk mereka berdua saja. Pikirannya menerawang, apa maksud dari mimpinya itu? Apakah benar yang orang pintar itu katakan?

Imas jatuh cinta pada pangeran dasar laut ini. Dia dipersunting oleh pangeran penguasa laut, yang sosoknya rupawan. Ia memang rupawan, tetapi bukan dari golongan manusia. Kadang ia memang datang ke daratan, menyapa penduduk sekitar dan seringkali menyamar sebagai nelayan, begitu sang orang pintar itu menjelaskan tentang kisah dibalik hilangnya  Imas selama kurang lebih tiga tahun ini.

    “Sosoknya bagaimana? Apakah dia seperti manusia?” kata suaminya waktu itu penasaran.

    “Ia terlihat seperti manusia, tapi dalam dimensi lain, sosok sebenarnya adalah ikan. Tubuh bagian atasnya manusia, tetapi bagian bawahnya adalah ikan.” Jelas sang orang pintar itu.

Imas, tidak kembali ke rumah selama tiga tahun. Dan selama itu pula, sang ibu terus bermimpi tentang anak semata wayangnya.

Sang ibu tidak begitu saja bisa mempercayai kata-kata si orang pintar, tetapi ia juga tak tahu, jika itu salah, lantas apa kebenarannya? Hingga sekarang ia belum bisa menjawabnya.

Entah berapa lama ia termangu dalam gelisahnya malam itu. Tiba-tiba suara ayam berkokok menyadarkannya. Bergegas ia beranjak untuk salat, karena azan di sini tak pernah terdengar. Ya, kampung ini masih jauh dari sentuhan agama. Entah apa saja aktivitas para ustaz itu, yang katanya berdakwah, tetapi pilih-pilih wilayah. Tak ada akses, tak ada fasilitas, enggan datang. Padahal bukankah seharusnya di sinilah mereka berada? Bagi kaum yang belum mendapatkan pencerahan. Makanya tak heran, jika suara orang pintar masih sangat didengarkan, seolah memang itulah suara kebenaran.

Lalu, dari manakah ia tahu tentang salat? Waktu itu, datang seorang anak muda dari pulau seberang. Seorang dokter katanya. Ia bertugas selama satu tahun di kampung ini. Selama itu pula, ia mengajarkan banyak hal. Mengobati beberapa penyakit, mengajari cara hidup sehat, termasuk juga tentang agama. Akhirnya, sebagian penduduk pun mulai paham siapa Tuhan, dan bagaimana seharusnya menjadi hamba Tuhan. Mereka juga belajar untuk menjalankan salat, dan berpuasa.

Namun, itu tidaklah lama. Setelah setahun, sang dokter berpamitan dengan penduduk kampung ini. Seluruh penduduk menjadi sangat sedih, dan merasa luar biasa kehilangan. Tapi apa daya, sang dokter mengatakan bahwa ia akan menikah. Dan tentu saja, tempat ini tidaklah cocok bagi istri serta anaknya kelak. Akhirnya, kembalilah sang dokter itu ke pulau asalnya.

Waktu berjalan, membuat ajaran dari sang dokter memudar. Hanya sedikit sekali yang masih menjalankannya. Mereka kembali kepada kehidupan lama. Tanpa sentuhan agama di dalamnya.

Waktu kembali berjalan seperti biasa. Semua warga kampung menjalankan aktivitas sehari-harinya.

    “Bu Bari! Pak Bari hari ini mendapat ikan banyak sekali, coba lihat ke sana. Ia dan suami saya sedang menyiapkan sejumlah keranjang untuk menaruh ikan-ikan hasil tangkapan.” Teriak sang tetangga suatu siang.

Bu Bari yang sedang membersihkan dapur menjawab dari dalam rumah.

    “Oh ya, Bu … terima kasih sudah mengabari saya. Sebentar lagi saya ke sana ya.” sambut Bu Bari dalam dalam rumah.

Segera Bu Bari  mengunci pintu rumah, dan belari kecil untuk mendatangi suaminya. Sebuah kabar bagus, mengingat tidak terlalu sering juga suaminya mendapatkan banyak tangkapan.

Lumayan untuk kita jual nanti, dan sisanya bisa ditabung untuk mencari Imas, pikir Bu Bari, selalu teringat anaknya.

***

  “Hilsa, ayo segera tidur. Ibu sudah mengantuk”. Sosok wanita tampak sedang menemani anaknya yang masih berusia sekitar dua tahun bermain. Tiba-tiba,

     “Imas, pulang nak … sudah lama kau tak pulang. Tidak ingatkah kau pada ayah dan ibumu?” Suara itu terdengar sangat jelas. Sontak membangunkan sang wanita itu, yang ternyata tanpa sadar tertidur di samping anaknya.

Imas. Ya, wanita itu adalah Imas.

Ibu … Ibu … Di mana ibu … Ibu … rumah …

Mendadak ia merasa pusing. Lama ia tak menyebut nama ibu. Ia juga tak ingat kapan pulang, dan tak pernah terpikir untuk pulang. Hidupnya kini seperti benar-benar baru, tanpa sama sekali ada kenangan untuk masa lalu. Namun, suara baru saja itu seolah mengingatkannya pada sesuatu yang pernah ada dalam ingatannya.

Beberapa potongan adegan seperti muncul secara random di pikirannya. Ada sosok dirinya ketika masih kecil, bersama seorang pria dan wanita. Moment ketika ia bermain di atas pohon, di pinggir pantai yang tenang. Juga potongan adegan ketika ia berenang bebas di lautan, hingga harus tersengat racun dari ubur-ubur yang membuatnya gatal-gatal.

Ayah … Ibu … Imas berbisik pelan sambil memejamkan matanya.

Imas memandang ke sekeliling. Entah kenapa rasanya ia berada antara sadar dan tidak sadar. Nyata dan tidak nyata. Dipandanglah anaknya. Si kecil masih bermain dengan asik. Namun ada yang aneh, kulit anaknya tidak seperti biasanya. Sekarang kulitnya berwarna kuning keemasan, dan mengkilat. Indah sekali. Sebuah keindahan yang justru membuat Imas diliputi keheranan, karena ini  berbeda dari biasanya.

Tiba-tiba terdengar suara pintu yang diketuk. Imas mendongakkan kepala. Perlahan bergerak untuk segera membuka pintu.

    “Sepertinya Ayahmu pulang, Nak.” bisik Imas pada anaknya.

Kebetulan suamiku sudah pulang. Mungkin nanti bisa kutanya padanya apa yang terjadi padaku, batin Imas merencanakan begitu setelah bertemu dengan suaminya.

Ceklek … ceklek … bunyi kunci pintu diputar dua kali. Perlahan Imas membuka pintu itu dan siap menyambut suaminya.

Tiba-tiba Imas kaget bukan kepalang. Terhuyung dan hampir pingsan melihat apa yang ada di depannya. Buru-buru tubuhnya yang hampir roboh, ditangkap sigap oleh sosok yang ia lihat.

Berdiri seorang laki-laki di depan pintu rumah Imas. Seorang laki-laki, yang dari wajahnya ia kenali sebagai suaminya selama ini. Namun ketika ia memandang penampakan pria itu,   Imas justru bergidik ngeri. Ia tak percaya pada apa yang dilihatnya.

Kaki. Di mana kakinya? Seorang manusia seharusnya memiliki kaki. Tapi laki-laki ini …

Tak punya kaki!

Mulut Imas tak bisa berkata sepatah kata pun juga. Ia lemas sekali. Sebelum ia pingsan, dilihatnya sekali lagi sosok pria di hadapannya.

Ya, benar. Itu ekor, bukan kaki. Itu ekor dari  ikan. Ikan!

Tiba-tiba semua gelap.

***

Di sudut ruangan kecil itu, tampak seorang wanita sedang bersujud dan berdoa dengan khusyuk. Dalam doanya yang begitu penuh pengharapan, ia menyebut nama anaknya, Imas.

    “Imas, pulang nak … sudah lama kau tak pulang. Tidak ingatkah kau pada ayah dan ibumu?” Dan semesta pun meneruskan doa itu. Menembus dinding langit, menghujam hingga ke dasar samudera.

Ketika Asa Diberkati Semesta

Kemana saja aku selama ini ….

Pertanyaan itu kadang menghampiri pikiranku, di sela-sela hari. Banyak sekali yang baru kutemukan di usia ini, dan itu membuatku jadi baru saja memulai.

Aku kadang berpikir, bahwa dalam hidup ini, yang paling berat bukanlah menemukan mimpi. Tapi membangun dan memperjuangkannya hingga nanti.

Kadang, dalam hati juga aku bertanya, apa yang kusebut sebagai mimpi? Pernahkah aku bermimpi? Jika pernah, apa, dan sudah sampai di mana perjalanannya.

Dalam sendiri, aku coba bertanya suatu kali. Aku menyadari bahwa ternyata lebih mudah untuk mengikuti mimpi manusia lainnya, dibandingkan bermimpi sendiri, lantas memperjuangkannya.

Pertanyaan selanjutnya, untuk apa? Untuk siapa? Dan, bahagiakah?

Hingga datang suatu masa, di mana aku teringat kembali pada apa yang pernah kukatakan, sekitar 20 tahunan lalu pada ibuku. Waktu itu, kutulis sebuah cerpen pertamaku. Kisah seorang gadis yang tak mampu mengungkapkan isi hatinya, pada laki-laki yang dicintainya. Hanya bisa memandang dari kejauhan, dan menikmati senyumnya yang terpancar.

Apakah itu kisah nyata? Haha..

Kuingat saat itu, begitu sulit kulukiskan apa yang ingin kukatakan ke dalam sebuah cerita. Bayangan yang membayang, ide yang berputar, tak mampu kutuliskan dalam barisan kata. Lalu apa akhirnya? Cerpen itu berakhir dalam ending yang sangat biasa.

Kudengar suara ibu memanggil dari ruang makan. Memintaku beranjak dari kamar, yang ternyata telah kudiami sejak beberapa jam berjalan. Sebuah cerpen, dengan cerita biasa, dan ending yang sangat biasa juga. Tidak mengesankan.

Lalu aku berpikir. Kenapa cerita cinta harus selalu menyedihkan? Bukankah banyak juga yang berakhir dengan kebahagiaan? Aku sendiri, bagaimana akan berakhir? Tak bisa ku jawab saat itu juga tentunya.

Aku merenung, kenapa tak kuciptakan sendiri imajinasiku? Bahwa meskipun tak tahu jalan kisahku, kubisa membuat sebuah akhir yang sesuai mauku. Dalam siratan kata di buku-buku.

Kudengar ibuku memanggil lagi, untuk yang kedua kali.

“Iya, Bu … tunggu, sebentar lagi. Silakan makan saja dulu, aku menyusul.” sahutku yang masih tenggelam dalam pikiran.

Kuputuskan mengetik satu lembar putih lagi. Namun, ada yang berbeda kali ini. Kisahnya bukan sebuah curahan hati, tetapi sebuah motivasi. Motivasi untuk tetap mencintai, motivasi untuk tetap menunggu pujaan hati, suatu hari akan datang memberikan hati.

Haha … sungguh, masih sangat kekanak-kanakan, bukan? Maklum aku masih anak putih biru waktu itu. Di mana masalah terbesar adalah cinta yang tak terbalaskan. Ehm … benarkah itu hanya masalah anak-anak? Atau hingga kapan pun, kisah cinta sejenis itu akan tetap selalu memilukan? Hiks ….

Tiba-tiba pintu diketuk, “Ayo, makan dulu, nanti dilanjutkan lagi.” ucap ibuku dari balik pintu.

“Oh ya, Bu. Sudah selesai, kok.” sahutku sambil membuka pintu dan menemui ibuku.

“Menulis? Tentang apa?” tanya ibuku sambil mengikuti langkahku dari belakang menuju ruang makan.

“Bu, aku ingin menjadi penulis. Suatu hari nanti, aku bisa kan jadi penulis? Tapi aku ingin bukuku nanti adalah kisah-kisah yang membuat orang semangat. Penuh motivasi. Gimana?” sahutku menjelaskan sambil mengambil nasi untuk kutaruh di piring.

“Ibu doakan, aamiin. Boleh saja, apapun yang kau mau, lakukan. Ibu percaya, kamu bisa.” Jawab ibuku sambil duduk di kursi sebelahku.

***

Waktu berlalu, ke masa-masa di mana aku harus mengejar banyak hal yang orang lain bilang bisa menjanjikan kesuksesan. Aku sekolah, lantas kuliah, dan mulai bekerja. Ku lupakan apa yang pernah kukatakan pada ibu saat remaja. Dan ketika tersadar, aku sudah di sini. Di usia ini. Di detik ini. Tanpa pernah melakukan apa-apa pada asa yang sempat kuteriakkan pada dunia.

Aku muali berpikir kembali, apakah itu yang disebut panggilan hati? Apakah itu yang kuyakini sebagai mimpi? Tapi, sudah terlambatkah untuk memulai? Apakah masih bisa kulanjutkan, apa yang kuinginkan puluhan tahun silam? Lalu, dari mana aku harus memulainya? Kawan? Tak banyak yang punya asa seperti yang kupunya. Lingkungan sekitar? Tak ada yang akrab dengan dunia menulis juga.

Sungguh, aku tak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaanku sendiri itu.

Ada satu titik, di mana aku benar-benar meminta pada Tuhan, apa jawabannya. Ku ingin Dia tunjukkan, jika memang itu membuatku jadi manusia yang lebih berguna.

Ajaib. Itu yang kurasakan, ketika yang kurasa tak mungkin, tiba-tiba hadir di depan mata. Aku tak tahu bagaimana semua bisa terjadi. Rasanya tiba-tiba saja semesta merestui. Tanpa kusangka, ada beberapa kesempatan yang membuatku bertemu dengan kawan yang berhobi sama. Akhirnya, bergabunglah aku di dalam komunitas pecinta aksara.

Pelan-pelan, Tuhan mengajakku mencoba lebih banyak hal. Dan semuanya, semuanya, sesuai apa yang kupinta. Rasanya tiba-tiba saja aku diperkenalkan kepada kelas-kelas menulis, kelas-kelas mentoring menulis, dan terakhir, di kelas-kelas tantangan menulis.

Aku pikir, ini pasti bukanlah kebetulan. Karena kebetulan memang tak pernah ada. Bahkan setiap daun yang jatuh, terjadi atas restu-Nya.

Ini, aku ingat benar, kapan aku pernah meminta ini terjadi. Hatiku yang memintanya. Doaku yang mengharapkan petunjuk-Nya. Akhirnya, semesta memberikan jalannya. Terima kasih Alloh, Engkau selalu luar biasa. Satu ‘keajaiban’ telah kau hadirkan kembali dalam kehidupan hamba.

Sekarang, di sinilah aku. Bersama kalian, teman-teman penulisku. Sahabat-sahabat seperjuanganku. Kita bersama dalam sebuah kisah. Merangkai mimpi, dan memperjuangkannya.

Karena seperti halnya cinta, kadang perjuangan yang membuat semesta bekerja seperti keinginan.

Bukan sebuah cinta tanpa harapan, karena tak pernah diungkapkan.

Terima kasih, Ibu ….

Aku percaya, ini berkat doamu.

Feedback, Siapa Takut?

Sebagai seorang penulis, sering sekali mendengar kata feedback. Kadang diminta untuk memberikan feedback, kadang mendapatkan feedback. Tapi sebenarnya apa sih, feedback itu? Dan bagaimana caranya memberikan feedback yang baik? Sebagai penulis, harus bisa memahami dan mengetahui tekniknya dengan benar.

Feedback, sebenarnya berasal dari dua kata. Yaitu, feed yang berarti asupan, atau memberi makan kepada sesuatu, dan kata back yang artinya kembali (ke diri sendiri). Jadi secara harfiah, feedback adalah asupan makanan yang diberikan kepada sesuatu, tetapi apa yang diberikan tersebut akan kembali kepada diri sendiri. Sulit dipahami ya jika secara harfiah? Baiklah. Jika begitu kita memahami istilah feedback dari pemaknaan saja, yaitu umpan balik, atau lebih familiar lagi, feedback adalah tanggapan.

Maka secara pemaknaan, feedback adalah tanggapan yang diberikan oleh seorang komunikan (penerima pesan) untuk seorang komunikator (pemberi pesan) menyampaikan pesannya. Feedback yang dihasilkan dari proses komunikasi, memberikan gambaran kepada komunikator tentang hasil komunikasi yang dilakukan. Feedback bisa berupa respon positif atau negatif.

Dalam lingkup sebagai penulis, yang sering mendapat feedback untuk tulisan sendiri atau diminta memberikan feedback pada tulisan orang lain, tentunya ketrampilan dalam feedback adalah salah satu hal yang sebaiknya dikuasai. Tapi sebenarnya, bagaimana cara menjadi ‘feedbacker’ yang baik? Ada hal-hal yang bisa menjadi acuan. Antara lain :

  1. Apresiasi atau Pujian

Mulailah dengan memuji penulis pada apa yang telah mereka usahakan. Hal itu sangat penting untuk mengetahui bahwa Anda menyukai sebagian dari cerita mereka. Berikan apresiasi misal bagaimana plot, karakter penokohan, ide cerita, dan sebagainya. Ini mungkin akan terlihat bahwa Anda mengikuti ‘ego’ dari penulis, tapi ini juga berperan dalam proses untuk mengkritik.

Pertama-tama, sangat penting bagi pemberi feedback untuk membuat penerima feedback merasa bahwa Anda berada di sisi mereka. Jika Anda langsung memulai dengan sebuah kritik yang berat, sangat mudah bagi penerima feedback untuk bersikap defensive atau anti.

Dengan mengawali feedback dari pujian, akan membuat penulis lain merasa bahwa kritik yang akan disampaikan selanjutnya bertujuan untuk membantu mereka agar menghasilkan karya yang terbaik.

  1. Kritik

Kritik. Inilah ‘daging’ dalam proses feedback yang dilakukan dalam proses komunikasi. Ada kunci yang sangat penting dari sebuah kritik, yaitu bermanfaat, atau bersifat membangun. Tidak masalah jika apa yang disampaikan sebagai kritik bukan sesuatu yang dianggap umum, atau aspek yang disepakati oleh sebagian besar orang. Namun, tidak ada alasan untuk ‘mengomeli’ penulis. Kemungkinan mereka juga bekerja keras untuk karya mereka, seperti yang Anda lakukan pada karya Anda. Sangat memungkinkan untuk menunjukkan masalah tanpa harus membuat merasa bahwa mereka adalah penulis yang buruk.

Salah satu cara untuk membuat sebuah kritik yang baik, adalah menghindari membuat penilaian atau pernyataan, tetapi justru mengajukan pertanyaan. Misal, “Saya tidak suka karakter tokoh A di dalam tulisan ini. Membuat saya merasa sangat bodoh.” Daripada menggunakan kalimat tersebut, mungkin lebih baik mengubahnya menjadi “Apakah karakter dalam tokoh A ini membuat pembaca berpikir menjadi bodoh? Jika iya, maka sebaiknya Anda mengubahnya.”

Dengan cara ini, memang akan berbeda rasanya seperti membuat pernyataan (judgement). Rasanya tidak akan terlalu kuat seperti jika Anda yang membuat ‘keputusan’. Namun kembali lagi, ini adalah karyanya, bukan karya Anda. Sehingga lebih baik, Anda bertindak sebagai pihak yang menunjukkan masalah, tanpa berperan sebagai pihak yang membuat keputusan.

Kritik yang sukses harus mengilhami penulis untuk kembali bekerja dan membuat beberapa revisi perubahan yang menarik, tidak justru membuat penulis enggan untuk melanjutkannya.

  1. Saran

Dalam lingkup saran, Anda bisa menawarkan beberapa saran untuk solusi dari masalah yang Anda tunjukkan di dalam kritik. Hal ini bisa membantu penulis lain untuk mendapatkan beberapa gagasan baru, atau solusi dari masalah. Namun sekali lagi perlu diingat, ini bukan karya Anda. Ini bukan tulisan Anda. Ini bukan buku Anda. Buatlah saran atau gagasan untuk dipertimbangkan, tetapi hormati kenyataan bahwa merekalah yang akan membuat keputusan akhir. 

  1. Jangan Berbohong!

Bersikap baik dan memberi semangat adalah sangat penting. Satu lagi yang penting adalah, jangan berbohong! Penilaian yang jujur sangat penting saat memberikan feedback.

Ada hal menarik yang saya pelajari. Jika suatu saat, anda diminta untuk memberikan feedback pada sebuah buku secara keseluruhan, tetapi tidak Anda temukan kekuatan atau saran perbaikan, kecuali ‘menulis ulang’, maka mungkin Anda bukanlah orang yang tepat untuk project tersebut.  Saat itu terjadi, sebaiknya katakan pada penulis, bahwa ini bukanlah ‘tipikal’ jenis buku Anda, dan Anda merasa tidak cukup mampu membantu memberikan feedback.

Begitupun saat Anda dan kawan Anda adalah masih sesama rekan penulis amatir yang masih saling membutuhkan masukan pada karya masing-masing. Jika hal itu terjadi, katakan bahwa ini bukan tipe tulisan Anda, dan cukup sulit bagi Anda untuk memberikan saran yang bermanfaat bagi si penulis.

Penulis mungkin akan terluka dengan sikap Anda, tapi itu akan lebih baik daripada penulis merasa terhalangi oleh feedback Anda, yang bisa saja justru membuat mereka ingin menyerah.

Tapi bagaimana jika diminta tetap untuk memberikan feedback? Katakan bahwa Anda akan bersedia untuk memberikan feedback, tetapi penilaiannya berdasarkan subjektivitas Anda. Apakah rekan Anda bisa menerima? Jika iya, maka lanjutkan. Jika tidak, ya hentikan.

Semoga keempat hal di atas bisa dijadikan pertimbangan oleh rekan sesama penulis saat dihadapkan pada situasi untuk memberikan atau menerima feedback dari penulis lain, atau dari pembaca sekalipun. Memberikan feedback adalah tindakan mengurai sesuatu yang (mungkin) rumit untuk menolong penulis mencapai hasil yang terbaik. Meminta feedback juga membantu untuk mendapatkan sudut pandang baru, atau gagasan yang lain. Kritik juga bisa dirasakan sebagai sesuatu yang jujur, kritis, tetapi tetap menyenangkan. Kejujuran disertai dengan kebaikan, akan membuat sebuah karya, tersaji sempurna!

Salam Literasi!

Setitik Nila, Dalam Susu Sebelanga

“Pak, rumah Anda terbakar!!!” suara satpam perumahan terdengar dari ujung telepon, menghentikan laju mobilku ke arah kantor yang berjarak 45 menit dari rumah.

“APA??” ucapku kaget hingga hampir menabrak mobil di depan. Segera kupinggirkan mobil, dan kulanjutkan pembicaraan.

“Ya, halo. Terbakar??? Saya pulang sekarang!!” ucapku sambil memutar setir, dan kembali ke rumah.

Aku shock! Gelap. Kulajukan kendaraan dengan kecepatan lebih dari setengah bagian, bagai kesetanan. Berlari dengan sangat tergesa, hingga kubanting saat menutup pintu mobil yang kuparkir di luar kerumunan orang.

Ramai. Petugas pemadam kebakaran sudah sibuk di tengah usaha pemadaman. Para tetangga membantu. Sebagian mengambil air dari rumah-rumah, sigap menyalurkan dengan ember-ember maupun selang.

Aku terbelalak kaku. Gemetar hingga tak bisa kurasakan ujung kakiku. Sejenak terhuyung sebelum akhirnya ditangkap oleh seseorang.

“Pak, rumah bapak terbakar. Baru saja, tapi api sudah menjalar sedemikian cepatnya.” jelas Sarip, pemilik bengkel motor di seberang rumah.

“….” hanya kutengok wajahnya, tanpa bisa berkata apa-apa.

Dari kejauhan, kulihat api masih besar, melalap sebagian kamar depan. Asap sudah membubung tinggi dan tebal.

Kulihat ada batu cukup besar di bawah kakiku. Mau kuapakan?

Ingin rasanya kuhantamkan ia ke kepalaku. Mencoba mati, atau ingin menyadarkanku dari mimpi. Detik ini masih tak bisa kupercayai, tentang apa yang kualami.

Logikaku sebagai laki-laki bicara, “Gila kau, masa mau mati. Duduk saja dulu di situ, lepas sepatumu, dan bantu mereka memadamkan api itu.” Begitu sarannya.

Oke, akhirnya aku kembali ke dunia nyata. Duduk, dan berpikir. Apa yang sudah aku lakukan tadi, sehingga bisa terjadi kebakaran ini? Seingatku, tak ada aku menyalakan kompor pagi ini. setrika? Tidak mungkin … semua sudah kumatikan sebelum berangkat.

“Yaa Tuhan … Dona!!” tiba-tiba aku tersentak kaget, mengingat apa yang terjadi pada kucingku, di mana dia sekarang.

Segera aku berlari, menyibak kerumunann orang. Mendekati rumahku yang sebagian kamar depan sudah berwarna gelap menjadi arang.

“Dona! Dona!” panggilku ke sekeliling. Mencari tahu di manakah Dona kucingku bersembunyi. Rasa takut dan sedih menyelinap. Takut untuk kupikirkan, dan takut untuk kurasakan.

Hening. Tak ada suara Dona yang biasanya selalu Miaaww ketika kupanggil. Dona, sekitar empat hari lalu baru saja kuadopsi dari seorang kawan.

***

“Tak mampu mengurusnya. Kau bawa saja ia pulang,” katanya yang punya 24 ekor kucing peliharaan di rumahnya.

“Ya … tapi gimana nih makannya? Mau gak dia makan ikan asin campur nasi seperti kucing kampung itu?”

“Ikan asin? Mana dia mau. Aku kasih makan dia ikan tongkol, seminggu 3 kali. Selebihnya kasih makan yang di pet shop itu bisa. Yaa paling 200 ribu cukup lah kau untuk kasih makan dia seminggu. Muraah.” kata kawanku setengah membujuk.

“Haah, tongkol? Gaya juga ya kucing sekarang. Makanan di pet shop? Astaagaaa … makanan kucing pun sudah made in America punya.” Nada bicaraku yang kaget membuatnya tertawa.

“Ahh … malas ahh! Aku tak sempat juga mengurusnya.” tolakku saat itu, sambil menatap tingkah polah Dona yang naik-naik ke atas kursi ruang tamu.

“Kalo gitu, ya sudah. Nanti biar kujual saja. Aku punya sembilan nih yang jenisnya sama dengan Dona. Bosen.” jelas kawanku, sambil siap membagikan tongkol yang sudah dicampurnya dengan nasi.

Gila, pikirku. Rumah ini lebih mirip rumah kucing dibandingkan dengan rumah manusia. Pikiranku membaca dari apa yang kulihat dari lensa mata.

Kutatap Dona saat itu. Bulunya yang tebal,  berwarna coklat muda, halus, dan polos sejenak membuatku terkesima. Tampaknya ia kucing yang manis. Tak terlalu merepotkan, jika kurawat dia. Toh hanya satu ekor, tak terlalu pusing aku nantinya.

Sejenak pandanganku beralih ke sebagian kucing yang tiduran anteng di kotak-kotak sejenis kardus.

“Ehm … itu mereka tidurnya di situ ya? Kalo malam apakah pindah ke kandang, atau tidur di situ saja?” tanyaku. Dona tampak asik memainkan bola kuning dengan kaki depannya.

“Oh yaa … mereka suka tidur di situ. Dulunya aku masukkan kandang dan rumah-rumahan. Tapi mereka sepertinya lebih suka di situ. Ya sudah, kubiarkan.” Jawab kawanku sambil terus membagikan tongkol di piring ke-12. Kucing-kucing lain mengerumuni kakinya, meminta jatah. Padahal piring-piring sudah diisi dengan makanan, tetap saja mereka berebut meminta. Tapi aneh, Dona tak terlalu peduli dengan itu. Ia masih sibuk bermain bola.

Kulihat lagi Dona, kupikir-pikir lagi. Apakah sebaiknya memang kubawa ia pulang? Tampaknya aku akan suka. Dalam hati, aku menyepakati. Akhirnya kuputuskan untuk mengatakan “iya”.

***

“Pak, ini kucing Anda?” suara serak dari belakang membuyarkan lamunanku.

“Ohh … iya, Pak. Terima kasih, Pak. Saya mencarinya ke mana-mana.” Jawabku pada Pak Asep, tetangga dari rumah pojok sebelah kanan blokku.

Kulihat ke arah rumahku, tampaknya api sudah reda. Dalam kalutku, masih ada yang bisa kusyukuri. Yang terbakar hanya kamar depan. Artinya malam ini, aku masih bisa tidur di kamar belakang. Dan yang terpenting, Dona selamat, pikirku.

Hampir sepanjang sisa hari itu, aku dibantu oleh warga, membereskan bekas kebakaran. Kulihat ke arah jam dinding yang masih menggantung di atas ruang makan,

23.43 … hampir tengah malam.

Kucoba untuk membaringkan tubuhku yang sudah tak punya tenaga ini. Kuangkat Dona dari lantai, dan kunaikkan dia ke atas kasur tidur kami.

Ya, rumah kotak kardusnya memang sudah kubuang ke perapian dua hari lalu. Baunya sungguh tidak enak. Sepertinya itu bau sisa air kencing Dona dan bekas makanannya yang tercecer. Tapi sekarang, Dona punya tempat baru yang lebih nyaman. Tidur di kasur empuk, di ujung ranjang ini. Setiap malam ku taruh dia di situ. Agar hangat, begitu pikirku.

***

Rasa perutku tiba-tiba tak enak. Sepertinya aku perlu ke kamar mandi di tengah malam buta. Aduhh, sungguh malas lah aku urusan begini. Beberapa kali, aku berusaha menepiskan rasa, menggeliat ke kiri, lalu ke kanan lagi. Tapi rasa dalam perut semakin tak kuasa untuk kutahan. Sedikit kubuka mata, mencari-cari ini sudah jam berapa. Apakah sudah pagi, atau masih lama aku menanti matahari?

Namun, mataku tiba-tiba terpaku pada sesuatu.

DONA. Berdiri di dekat jendela. Berdiri. Dia berdiri.

Apa itu di tangannya?? Ku coba memicingkan mata agar tampak lebih jelas apa yang kulihat.

Korek api..??

HAHHH!! KOREK API!

Sebelum ku tersadar sungguh, ku lihat Dona menggesekkan korek api itu, dan … menyala!

“DONA!” Ku panggil ia, keras!

Ia menoleh ke arahku, menyeringai dalam senyumnya yang manis tapi bengis. Tangannya justru dengan sengaja malah menyulutkan api itu, ke tirai warna putih kelabu yang menggantung.

“DONA!” Aku masih memanggilnya. Masih tak percaya pada apa yang ku lihat. Kali ini aku dibuat tak percaya juga pada apa yang kudengar.

“Rasakan, Kau! Sekarang kau akan tahu, bagaimana rasanya kehilangan rumahmu. Kenanganmu juga akan mati di sini, bersama ragamu.” Bisik Dona pelan, tapi masih sanggup kudengar.

Aku terdiam, kaku. Tak ada kata yang bisa ku ucapkan.

Dona …. Hanya itu yang sanggup kubisikkan pada hatiku. Mataku hanya menatap kosong ketika Dona melompat keluar jendela, menembus gelapnya malam.

Api mulai merambat, menjalar membakar ruangan.

Aku masih juga terpaku di situ beberapa detik, sebelum akhirnya tersadar harus keluar dari ruangan ini.

Segera kusingkapkan selimut yang masih membungkus kakiku untuk berlari ke arah pintu.

Klek … klek … klek …

Apa ini? Kenapa tak bisa kubuka?? Pintunya terkunci!

Wuzzzzz … Angin panas menyapu punggungku. Saat itulah baru aku tahu, rasanya dijemput maut yang selalu kutakuti sejak dulu.

Sekilas ingatanku melayang pada seorang kawan di sudut kota, pemilik Dona sebelumnya.

Read Aloud Week

Sekitar dua pekan yang lalu, di sekolah anak, sedang berlangsung Read Aloud Week. Read Aloud adalah sebuah aktivitas yang dilakukan untuk menumbuhkan kecintaan anak pada buku. Berbeda dengan aktivitas mendongeng yang bertujuan untuk menumbuhkan kecintaan anak pada cerita dan bahasa.

Untuk mendukung aktivitas Read Aloud, yang diartikan sebagai ‘Membaca dengan lantang’, maka sudah pasti satu hal yang paling dibutuhkan adalah buku. Dikarenakan, read aloud adalah aktivitas membacakan buku dengan lantang, maka buku pun menjadi ciri khasnya. Berbeda dengan mendongeng yang tidak perlu menghadirkan buku, karena yang terpenting adalah cara bercerita yang menarik dan menghibur.

Namun ternyata, tidak mudah juga bagi para orang tua untuk mempersiapkan hal ini. Ada beberapa tips yang bisa dilakukan orang tua untuk persiapan Read Aloud. Antara lain :

  1. Pilih buku yang akan menarik perhatian

Banyak sekali buku-buku yang sering orang tua bacakan untuk anak. Namun untuk aktivitas Read Aloud, sebaiknya dipilih buku yang sesuai dengan usia anak, topik, kosakata, panjang cerita, pesan yang bermakna, dan ilustrasi yang membuat anak-anak lebih mudah tertarik. Para orang tua bisa memilih jenis buku yang sesuai bersama anak. Berikan pemahaman dan motivasi bahwa membaca adalah hal yang sangat penting untuk dilakukan.

IMG_9954

  1. Lihat gambarnya, dan buatlah prediksi

Sebelum anda membaca keseluruhan isi buku, alangkah baiknya jika Anda melihat gambar-gambar dalam buku itu terlebih dahulu, tunjukkan pada anak, lalu meminta anak untuk menebak gambaran umum ceritanya. Saat membaca, anda harus menyampaikan informasi pada anak jika ada hal baru, perubahan, atau berbedaan dari prediksi cerita awal si anak.

IMG_9953

  1. Mulai membaca dengan judul, pengarang, dan ilustrator (jika tercantum) di cover buku

Jangan langsung menuju ke halaman pertama, dan mulai membaca. Tunjukkan pada anak-anak covernya, dan bacalah judulnya. Lakukan dengan perlahan dan jelas. Setelah itu, ceritakan singkat tentang pengarang atau ilustratornya, juga tentang gambaran umum buku yang akan dibaca.

IMG_0570

  1. Bacalah dengan ekspresif

Ini bukan saatnya untuk mengkhawatirkan ‘terlihat jelek atau bodoh’. Anak-anak menyukai suara yang lucu, dramatis, atau apapun yang digambarkan dalam alur cerita. Membaca dengan ekspresif tidak hanya membuat cerita terasa hidup dan nyata, tetapi juga mampu menyentuh perasaan mereka tentang pesan yang ingin disampaikan oleh penulis.

Bisa juga menyertakan efek drama, misal tertawa, menangis, menjerit, berteriak, dan lain sebagainya untuk menggambarkan emosi dalam diri sang tokoh. Kadang, suara dan ekspresi saat membacakan, membuat anak-anak mampu mengingat dan lebih mudah memahami makna.

  1. Buatlah koneksi atau hubungan

Setelah membaca cerita, buatlah hubungan antara anak-anak, cerita yang disampaikan, dan kehidupan nyata. Misalnya, membuat sebuah diskusi tentang pesan apa yang ingin disampaikan buku tersebut. Apakah ada yang pernah mengalaminya? Jika mengalami, bagaimana rasanya? Jika ada teman yang mengalami masalah serupa, apakah kawan yang lain sudah membantu? Jika belum pernah mengalami, sangat bagus didiskusikan bersama tentang makna pesan dari buku, dan diarahkan untuk menjadi bekal solusi jika suatu saat mengalami hal yang sama.

Itulah 5 hal yang perlu dipahami, dan bisa dilakukan orang tua sebelum membacakan buku dengan Read Aloud. Aktivitas Read Aloud sebenarnya sangat sederhana, hanya sekitar 30 menit setiap kali membaca. Namun, habit kecintaan pada buku dan membaca yang dipupuk selama (hanya) 30 menit dalam sekian tahun, akan membantu membangun pondasi dan minat yang kuat terhadap buku dan membaca di masa depannya.

Salam Literasi!

Manusia Dalam Pusaran

Lebih dari lima tahun yang lalu, sekitar Desember 2012, sebuah kota bernama Ghouta Timur menjadi sebuah wilayah yang tidak memiliki akses keluar untuk banyak hal, termasuk kesehatan dan makanan.

Ghouta Timur, sebuah daerah seluas 104 kilometer persegi, 10 kilometer sebelah timur pusat kota Damaskus, ibu kota Suriah. Saat ini, Ghouta Timur adalah daerah yang berada di bawah blokade rezim Bashar al-Assad. Presiden Suriah saat ini, yang merupakan anak dari Presiden Suriah sebelumnya, Hafizh al-Assad, yang memerintah tahun 1971-2000.

GHOUTA-TIMUR-1

Berita yang kembali memenuhi banyak headlines dan viral hampir di seluruh dunia, tentang ‘neraka’ di Ghouta Timur, sebenarnya bukanlah hal baru. Ini adalah rangkaian dari kisah perang yang terjadi di Suriah sejak sekitar sepuluh tahun yang lalu. Sungguh tidak mudah mengulik kisahnya, dan menyajikannya dalam bahasa yang lebih sederhana. Apalagi mengurai masalah, yang sudah sangat rumit untuk ditelaah.

Dari seluruh paparan kisah, salah satu yang menarik adalah tentang tokoh Bashar al-Assad, Sang Presiden. Daftar jejaknya menuliskan, Assad adalah lulusan sekolah kedokteran di Universitas Damaskus pada tahun 1988. Assad memulai karir dengan bekerja sebagai dokter di Angkatan Darat Suriah. Empat tahun kemudian, ia mengikuti studi pascasarjana di Rumah Sakit Mata Barat di London, yang mengkhususkan diri pada Optalmologi, salah satu spesialisasi ilmu kedokteran yang mempelajari tentang penyakit mata.

Optalmologi merupakan salah satu bidang kedokteran yang tidak biasa dan nyaris semua dokter yang mengambil spesialisasi ini adalah ahli di dua bidang mereka, yaitu bukan  hanya spesialis mata, akan tetapi juga dokter bedah yang sangat terampil. Optalmologi melakukan tes-tes yang rumit pada mata, dengan mendeteksi masalah pasien, kemudian meresepkan pengobatan. Sebagai dokter bedah, dokter yang mengambil bidang ini akan melakukan pembedahan rumit dan sulit untuk memperbaiki penglihatan pasien.

Karena kakaknya meninggal dalam kecelakaan mobil, Assad dipanggil kembali ke Suriah untuk menjadi ‘pewaris tahta’. Assad masuk ke dalam Akademi Militer dan mengambil peran dalam pendudukan Suriah atas Libanon, pada tahun 1998. Pada tanggal 10 Juli 2000, Assad terpilih menjadi presiden, menggantikan ayahnya yang meninggal. Assad terpilih kembali menjadi Presiden, pada tahun pemilihan berikutnya, yaitu 2007, dan 2014, hingga sekarang, melalui referendum. Banyak tulisan mengenai ‘ketidakpercayaan’ dalam hal ini, tetapi pada akhirnya Assad tetap berkuasa hingga, dan sudah memimpin hampir 18 tahun lamanya.

Suriah awalnya adalah negara demokratis. Lepas dari segala kelebihan dan kekurangannya, pasti diwarnai protes dan demonstrasi. Kekecewaan akhirnya memicu adanya pemberontakan oleh kelompok-kelompok militan di berbagai wilayah untuk melawan pemerintah. Hal itu akhirnya membuat pemerintah Assad melakukan upaya perlawanan dan pembersihan pada pemberontak. Masalah menjadi semakin rumit ketika beberapa pihak luar yang memiliki kepentingan tertentu, ikut campur dan masuk ke dalam perang tersebut, seperti Iran, Turki, Rusia, dan Amerika Serikat.

Saat ini, Ghouta Timur, seperti halnya Aleppo, menjadi salah satu daerah yang menghadapi badai krisis kemanusiaan terbesar abad ke-21. Pemerintah Assad menganggap bahwa Ghouta Timur menjadi sarang pemberontak, sehingga memblokade wilayah tersebut dan melakukan berbagai macam serangan untuk menumpas pemberontakan pada pemerintahan Assad.

Namun, Ghouta Timur adalah sebuah wilayah yang dihuni oleh sekitar 400 ribu warga sipil, yang setengahnya terdiri dari anak-anak. Serangan rezim Assad yang membombardir wilayah mereka dengan  senjata kimia, mortar, bom barel, dan sejumlah jenis bom lainnya justru menimbulkan konflik kemanusiaan yang dikecam oleh masyarakat dunia.

Sejak awal perang, rezim tersebut telah meluncurkan 46 kali serangan kimia ke Ghouta Timur. Lebih dari 1.400 warga sipil tewas dalam pembantaian yang  terjadi pada 21 Agustus 2013. Tahun ini, tercatat rezim Assad telah menggunakan tiga kali gas klorin di daerah tersebut.

Selama lebih dari lima tahun hidup dalam blokade, pasokan makanan dan kesehatan telah berhenti sekitar satu tahun yang lalu. Bayi, anak-anak, dan pasien meninggal karena tidak mendapatkan perawatan medis dan gizi yang cukup.

Hingga saat ini, rezim Assad mengklaim bahwa tindakan ini dilakukan untuk memerangi terorisme di Ghouta Timur.  Rezim Assad menganggap, para teroris di Ghouta Timur menggunakan warga sipil sebagai tameng, serta menargetkan ibu kota Damaskus dengan rudal.

Namun, pernyataan tersebut kontradiktif dengan hasil laporan wartawan Inggris, dan koresponden veteran Timur Tengah, Robert Fisk, yang mengatakan bahwa sebuah rekaman dari Ghouta, tidak memberikan penjelasan sama sekali bahwa orang-orang ‘bersenjata’ itu ada, dan melakukan perlawanan terhadap pemerintahan yang sah. Ada masalah apa di balik pemberitaan-pemberitaan yang sampai di telinga kita saat ini? Apakah ini adalah konspirasi global untuk sebuah penciptaan kolonialisme baru?

Masih sangat jauh bagi kita untuk bisa mengurai itu. Namun, ada satu hal yang saya anggap ironis. Sebuah negara, sejatinya adalah sebuah sistem kehidupan yang berlangsung bagi rakyatnya. Rakyat memiliki hak-hak untuk hidup damai, dan saling menghormati. Negara, diwakili oleh pemerintah, dalam ini Presiden, adalah simbol dari pemimpin yang mengayomi, bukan manusia yang menguasai. Presiden, sebagai kepala negara, diberikan tanggung jawab tertinggi oleh rakyat, untuk mengatur, dan memastikan pelaksanaan kewajiban, dan hak-hak rakyat diterima oleh semua rakyatnya.

Jika kita melihat apa yang terjadi di Amerika, sangat ironis jika dibandingkan dengan yang terjadi di Aleppo, Ghouta Timur, atau juga suku Rohingya. Di Amerika, sering sekali kita melihat film-film heroik, kisah superhero yang selalu sigap untuk menyelamatkan warga kotanya. Kadang juga, kita melihat seorang Presiden yang memilih untuk mati bersama warga kota, daripada menyelamatkan diri sendiri dari serangan alien. Bahkan juga, tampak adegan-adegan heroik para polisi Amerika yang melakukan berbagai macam usaha penyelamatan sandera dari para pelaku teror. Dengan sikap tegas, Sang Presiden tetap memerintahkan, selamatkan, jangan sampai ada korban, meskipun satu nyawa.

Sungguh ironis, ketika ada sebuah negara, dipimpin seorang Presiden, begitu luar biasa bisa melakukan tindakan di luar akal sehat dan nurani kemanusiaan. Terlebih ketika menilik latar belakangnya sebagai seorang dokter, pejuang kehidupan. Tak bisa membayangkan, bagaimana caranya bisa makan dan tidur dengan nyenyak di antara lautan darah dan tangis rakyatnya?

Entah sampai kapan konflik ini akan berlangsung. Namun, kita sebagai rakyat yang memiliki kecintaan pada tanah air Indonesia, seharusnya tetap bisa mengambil hikmah dari kejadian yang nyata. Pantaskah jika kita, yang disatukan dalam Bhineka Tunggal Ika, lantas melakukan tindakan yang justru memecah persatuan dan kesatuan bangsa? Ingat, sejak nenek moyang yang (katanya) seorang pelaut itu, kita sudah bersaudara.

 

Sumber Referensi :

1. http://aa.com.tr/id/dunia/apa-yang-terjadi-di-ghouta-timur/1070212

2. https://id.m.wikipedia.org/wiki/Oftalmologi

3. https://www.google.co.id/amp/s/fokustoday.com/2018/02/25/media-barat-dan-fakta-dalam-kasus-ghouta-timur-suria/amp/

4. https://id.m.wikipedia.org/wiki/Bashar_al-Assad

5. https://www.google.co.id/amp/s/www.islampos.com/amp/10-fakta-tentang-ghouta-timur-73059

6. https://www.google.co.id/amp/s/www.voaindonesia.com/amp/4137427.html

7. http://www.datdut.com/bashar-assad/

Ketika Takdir Menyapa

Selasa, 20 Februari 2018

Tepat hari ke-30 pertemuan takdirku di sini, 30 Days Writing Challenge, Jilid 11.  Lucu rasanya saat  mencoba mengingat kembali bagaimana aku, akhirnya bergabung di dalam grup ini.

Waktu itu, sekitar tiga bulan sejak aku bergabung menjadi kontributor media online Bernas.id, ternyata aku memiliki performance yang sangat buruk. Tidak produktif untuk menulis. Namun, hal itu bukan tanpa alasan. Aku mengalami yang penulis sering bilang, Writer’s  Block yang disebabkan karena tulisanku mendapatkan remark  Tidak Layak Tayang (Tidak Layak Tayang). Akhirnya hal kecil itu yang membuatku berhenti. Hiks ….

Akibat dari mutung-ku itulah yang akhirnya membuatku terancam untuk dikeluarkan dari grup Creative Writer Academy, tempatku selama ini menimba ilmu dan sebagai wadah sesama kontributor Bernas.id. Sebelum dikeluarkan, ternyata ada masa pemutihan yang dilakukan oleh mentor, yaitu dengan membayar denda sejumlah artikel. Melihat performance-ku yang sangat buruk, sudah tentu banyak artikel yang harus aku setorkan. Saat kulihat, wow 20 artikel dalam 1 minggu! Hahaha…

Parahnya, hal itu baru kuketahui setelah hari ke-4, sehingga waktuku  hanya tersisa 3 hari lagi. 20 artikel, 3 hari, berarti harus membuat minimal 6 artikel dalam 1 hari. Woww!! Menulis 1 artikel saja sulit, apalagi 6. Namun, itu adalah konsekuensi, dan aku harus bisa lakukan jika tak ingin tersingkir.

Dengan perjuangan yang sungguh luar biasa, aku berusaha sangat keras. Namun, dalam keterbatasan waktu, hanya ada 16 artikel yang mampu kuselesaikan. Rasa untuk masih ingin bertahan, membuatku tidak bisa menyerah begitu saja. Jika aku hanya pasrah, pastilah sudah jelas nasibku selanjutnya. Akhirnya inilah justru yang membawaku ke 30 Days Writing Challenge, Jilid 11.

Bagaimana caraku untuk lolos dari penyisihan? Saya kontak langsung mentor kami, Kak Rezky Firmansyah. Selama ini beliau tampil sesekali saja, sehingga sangat jarang berkomunikasi. Saya meminta kepada beliau untuk memberikan toleransi waktu untuk 4 artikel. Saat ditanya butuh berapa hari, saya jawab cukup 2 hari. Oke, deal!

Komunikasi akhirnya membuat saya ingin lebih banyak bertanya, dan di situlah beliau mengenalkan pada saya tentang 30 Days Writing Challenge, Jilid 11. Sebenarnya saya sudah pernah diinfo mengenai DWC ini, tetapi masih belum tertarik untuk mengikuti. Namun, melalui penjelasan Kak Rezky, akhirnya saya putuskan untuk IKUT!

Akhirnya hari itu datang juga. Hari pertama di kelas 30DWC, Jilid 11 ….

Sekilas, hmm … mayan, sepertinya terorganisir, batinku setelah mendapatkan penjelasan tentang Empire, Squad, Guardian, Fighters, penjelasan tentang ‘aturan main’ grup, serta jadwal-jadwal kegiatan. Oke, cukup menarik, batinku.

Hari pertama langsung dimulai untuk menulis, dan dibawah arahan Guardian, maka tim Squad kami, Squad 10, diwajibkan menyetorkan link tulisan. Saya adalah tipikal yang tidak terlalu suka beramah tamah di awal, haha … Bukan, bukan karena sombong atau sejenisnya, tetapi tidak tahu bagaimana memulai, haha ….

Untung akhir satu karakter spesial muncul, Kak Butet, namanya. Dia memang menjadi pintu pembuka dalam Squad 10. Tipikalnya yang ceria, dan supel, membuat Squad 10 menjadi seperti keluarga pada akhirnya. Dia seperti bola karet yang memantul-mantul di lantai ruangan. Warnanya kadang merah, kuning, kadang juga hijau. Lucu sekali melihatnya. Akhirnya semua anggota squad melihat ke arah bola itu, termasuk saya yang awalnya tak peduli, dan hanya duduk di luar, asik sendiri.

Satu per satu akhirnya kami mengenal karakter masing-masing. Tidak ada kompetisi di antara kami para fighters. Selalu saling support dan membantu untuk tercapainya tujuan akhir bersama. Dalam 30DWC11 ini, saya sangat luar biasa mengapresiasi kerja sama tim. Tak akan mungkin tanpa karakter-karakter ini, akan bisa menjadi sebuah tim yang solid.

Guardian kami, Bu Muhib adalah orang yang sangat bijaksana, terlihat kalem, tetapi tegas. Memberikan arahan dan masukan yang baik untuk grup. Seperti seharusnya seorang leader, beliau adalah sosok ketua kelas yang hebat! Dalam ketegasannya yang kalem, beliau tetap  menjadi seorang ibu yang selalu menerima anaknya, dengan apa adanya. Tak lupa, pasti selalu memberikan dukungan kepada kami para anggotanya. Luar biasa!

Butet, tipikal gadis yang ceria dan mudah mencairkan suasana. Membuat kami semua selalu bisa tertawa dalam tekanan yang mungkin menyita pikiran dan batin dalam kehidupan nyata. Kak Butet mampu menjadi warna, menjadi pelangi, dan penyejuk di dalam squad kami. Hebat!

Yulia, gadis mahasiswa, lincah, dan ceria. Masih seperti kebanyakan anak muda di usianya. Ketika masalah terbesar sudah bukan hanya pada matematika, tetapi pada kisah cinta yang menunggu endingnya ke mana, haha…

Yoga, satu-satunya laki-laki di squad kami. Yang masih berusaha berjuang untuk menjadi ‘seseorang’. Yang kisah cintanya juga tak kalah memilukan, haha… Namun, tetap semangatlah untuk masa depanmu, nak … Agar siapapun yang pernah mengecewakanmu di masa lalu, akan menyesal di masa depan. Salah satu yang catat dari Yoga adalah sudah mengikuti kelas DWC sampai tiga kali, tetapi baru kali ini aksi menulis 30 hari tanpa henti, sanggup untuk diakhiri dengan manis. Good job!

Siti Romlah, dan Nur Padilah, dua dari anggota squad yang paling terlihat kalem. Maklum, kami hanya bisa meraba dalam dunia maya, tanpa pernah bertemu untuk berbicara. Dua orang yang sangat saya apresiasi juga bahwa dalam Squad 10 ini mampu menyelesaikan semua tantangan tanpa banyak bicara.

Ibu Desi, senior kami dalam usia khususnya. Keistimewaannya adalah semangat yang tidak banyak dimiliki oleh orang-orang selevelnya. Luar biasaaaa menginspirasi. Saya, yang katanya masih muda, masih banyak alasan untuk tidak bisa melakukan banyak hal. Malu sama Bu Desi ….

Saya, hanya orang yang ingin melawan diri saya sendiri. Selama ini, hal yang paling sulit adalah mengalahkan diri saya sendiri yang malas, penuh keraguan, ketakutan, dan terlalu santai menghadapi hari-hari. Padahal waktu tak bisa kembali. Sungguh, bukankah itu sangat rugi?

Akhirnya saya merasa bahwa ini sangat tidak sehat. Saya adalah ibu, saya adalah istri. Apa yang bisa saya harapkan dari sebuah keluarga yang tokoh utamanya tidak mau berkembang dan berpikiran maju? Maka, bagi saya 30DWC ini adalah salah satu wadah saya untuk melawan diri saya sendiri. Saya ingin mendapatkan energi dari lingkungan sebanyak-banyaknya untuk membantu pikiran saya agar tetap bisa bertumbuh.

Begitulah…

Banyak hal yang akhirnya saya dapatkan saat di DWC11 ini. Lalu apa kabar tentang tulisan saya? Apakah tujuan yang saya inginkan sudah tercapai?

Ada satu yang memang tercapai, yaitu menulis tanpa henti membuat akhirnya menjadikan menulis sebagai sebuah kebiasaan. Namun pertanyaannya, seberapa bagus kualitasnya? Yang itu menurut saya masih harus saya tanyakan. Kepada diri sendiri dan kepada pembaca.

Ada kalanya, saya ingin membuat sebuah tulisan gue banget! dalam tulisan yang kutorehkan. Namun, bagaimana bisa? Karakter tulisan saya saja masih belum bisa saya temukan. Jika pun sudah, apakah ada pembedanya dengan tulisan yang lain? Bagi saya belum.

Bagaimana mau jadi penulis handal, jika karakter tulisan saja tak mampu kita temukan. Itu yang menjadi pertanyaan terbesar saya saat  ini.

Lalu bagaimana?

Jawaban saya, pastinya terdengar klise, dan ingin terlihat mudah. Belajar.

Ahh … membosankan, bukan?

Jadi mau apa?

Untuk itu saya sedikit bermimpi. Bahwa saya bisa mendapatkan kelas lanjutan dari DWC ini. Kelas yang lebih membantu mengarahkan saya untuk menggali kekurangan saya, dan melatih kekuatan saya.

Dalam satu kesempatan yang diadakan oleh mentor malam ini, saya menyampaikan mimpi saya itu.

Namun, saya paham bahwa perumusan sebuah konsep pasti membutuhkan cerita dan pertimbangan yang panjang.

Saya, sebagai pemimpi, ingin mencoba mengawalinya.

Selamat berjuang bersama, teman-teman ….

Semoga kesuksesan kita di masa depan akan menjadi manfaat bagi lebih banyak orang.

Saya tak akan bilang, semoga sukses pada kalian.

Karena sukses bukan lagi impian, sukses bukan lagi pilihan. Tapi sukses, adalah sebuah keharusan.

Keep On Fire, fighters ….

Doa terbaik untuk kalian semua, di manapun berada.

Rasaku, Dalam Rasamu

Sent….

Done! Pikirku. Sekarang hanya tinggal menunggu pengumuman untuk lolos seleksi tahap Outlining. Ya, ini adalah project pertama dan terbesar yang pernah aku ikuti sampe saat ini. Project Kompetisi Kepenulisan Novella yang diselenggarakan salah satu penerbit di Indonesia.

Beberapa waktu terakhir ini, aku memang sedang memfokuskan diri untuk belajar dalam dunia kepenulisan. Bukan tidak sengaja tiba di sini. Namun, aku memang sengaja meminta kepada Allah untuk membuatku bertemu dengan dunia penulis, seperti mimpi masa kecil dulu.

“Yaa Allah … Aku ingat, bahwa dulu saat aku masih SD, aku bermimpi bisa menjadi seorang penulis.” curhatku pada Allah di suatu malam. “tapi aku tak tahu caranya, yaa Allah. Apakah dalam kehidupanku yang sekarang, diri ini masih punya kesempatan untuk melanjutkan mimpi?” tanyaku dalam doa waktu itu.

“Jika memang masih Engkau berikan kesempatan untukku, aku pasti akan sangat bahagia dan bersyukur pada-Mu. Akan kujalani kehidupanku sebagai penulis seperti yang kuimpikan lebih dari dua puluhan tahun yang lalu.” Lanjutku dalam doa, sekaligus berharap jawaban dari Allah.

Masih kuingat dengan jelas doaku itu, dan sekarang, aku di sini. Bersama dengan deadline yang menunggu. Pertama kali aku mengakrabkan diri dengan dunia penulis ini, rasanya masih seperti meraba-raba, hingga kini aku bertemu dengan kompetisi ini.

Melihat kompetisi ini membuatku ragu sekaligus tertarik. Ragu karena sudahlah tentu tak akan mungkin diriku menang, mengingat sama sekali belum memahami teknik kepenulisan. Namun, ini adalah salah satu cara yang paling cepat untuk belajar, begitu pikirku. Akhirnya ku bulatkan tekad untuk mengikutinya.

Akhirnya hari ini ku kirimkan juga materi untuk seleksi tahap awal, yaitu Outline. Dan segera keesokan harinya, aku dinyatakan lolos seleksi.

Begitu girangnya, dan sangat bersemangat untuk memulai menggarap naskah novel pertamaku. Ya, sampai di tahap awal ini membuatku yakin bahwa aku mampu juga untuk lolos di seleksi tahap berikutnya.

Setiap tahapan seleksi hanya diberikan waktu selama satu minggu untuk menuliskan naskah untuk disetorkan. Dari hasil outline yang aku buat, tertulis ada sepuluh bab yang harus kuselesaikan dalam enam tahap seleksi. Itu artinya rata-rata satu hingga dua bab harus kuselesaikan dalam seminggu sebagai materi yang diseleksi.

Setelah lolos tahap Outlining, sekarang mulai kubuat naskah untuk seleksi awal yaitu Bab I dan II saja dulu. Sebenarnya cukup mudah, hanya saja sulit sekali untuk mencari waktu dan fokus dalam suasana yang dibangun.

Seminggu kemudian, pagi-pagi sekali langsung kucari pengumumannya di Facebook.

Yeaaayyyy!! Aku lolos seleksi tahap 1. Semakin optimis aku untuk maju di tahap berikutnya. Selanjutnya adalah seleksi tahap ke-2. Sekali lagi, aku dianggap masih cukup bisa meneruskan perjuanganku di sini.

Keesokan harinya,  di daftar pengumuman tertulis namaku untuk mengikuti tahap selanjutnya yaitu tahap 3. Woow! Luarrr biasa, pikirku. Dengan penuh semangat, aku kirimkan materi untuk dikoreksi di tahap ke-3. Kembali, pagi-pagi aku bergegas untuk mengecek apakah namaku ada di salah satu nama peserta yang lolos. Tapi, ternyata kabar yang kuterima tak sesuai yang kuharapkan. Di tahap ke-3 inilah aku dinyatakan tidak lolos. Sedih, dan merasa gagal.

Namun, ya itulah kenyataan yang harus aku hadapi. Bahwa inilah kompetisi. Pasti semakin lama, semakin sulit dan memang harus ada yang tereliminasi. Aku memang sedih karena mimpiku untuk segera bisa membuat buku sendiri pupus di sini.

Dalam kesedihanku, rasa kecewaku, maka aku pun mulai bisa mengingat kembali apa tujuan untuk mengikuti kompetisi ini. Sewaktu di awal, aku hanya ingin menjajal kemampuan menulisku. Sejak awal sudah jelas, bahwa aku hanya ingin mengetahui dan juga mendapatkan ilmu tentang kepenulisan. Namun di atas semua itu, aku bahagia. ‘Rasa’ yang ingin kuungkapkan dalam novel , mungkin masih belum sebaik peserta lain, atau belum sesuai standar ‘rasa’ yang kau harapkan. Tetapi, sekarang aku tahu di mana posisi kemampuanku. Semoga suatu hari nanti, ‘rasaku’ bisa berhasil mengetuk pintu ‘rasamu’.

 

Sekolah, Untuk Apa?

Pendidikan, adalah hal yang selalu saya sepakati untuk terus didengungkan. Bukan hanya karena latar belakang saya yang dari keluarga pendidik. Namun, karena bagi saya pendidikan lebih dari sekedar memberikan bekal pengetahuan. Pendidikan adalah simbol sebuah peradaban.

Selama beberapa tahun terakhir, kehidupan saya akrab sekali dengan perubahan lingkungan. Hampir setiap tahun, domisili selalu berpindah dari satu kota ke kota lainnya. Sangat memungkinkan juga untuk berpindah negara.

Salah satu hal yang paling membutuhkan perhatian besar adalah masalah pendidikan anak. Setiap kali berpindah kota, saya pasti akan melakukan survey ke beberapa lembaga pendidikan yang kami anggap memiliki concern yang bagus pada potensi pengembangan kemampuan anak.

Ada beberapa hal yang kami anggap penting dimiliki lembaga penyelenggara pendidikan, dalam hal ini adalah sekolah formal. Antara lain :

  1. Tingkat kompetensi tenaga pendidik

Kompetensi tenaga pendidik menempati posisi paling penting yang harus kami pastikan. Kompetensi bukan saja dilihat dari latar belakang pendidikan sang guru, tetapi juga bagaimana cara guru untuk membangun komunikasi dengan anak.

Sampai titik ini, kesimpulan yang saya dapatkan adalah latar belakang guru dari jurusan Ilmu Pendidikan sangat penting. Selain itu, kami menganggap guru yang kompeten adalah guru yang mencintai profesinya, bangga akan tugasnya sebagai guru, dan memiliki mental mendidik, tidak hanya mengajar.

  1. Fasilitas sekolah

Pertimbangan kami selanjutnya adalah fasilitas yang mampu ditawarkan sekolah. Banyak yang menafikan hal ini. Menganggap bahwa ini adalah hal yang tidak terlalu penting, karena terkait dengan biaya. Pandangan saya, tidak mungkin sesuatu berkembang maksimal jika tidak didukung oleh fasilitas yang mendukung.

Namun, yang lebih penting bukan ketersediaan fasilitas, tetapi pemanfaatan fasilitas. Bagaimana misal sekolah yang dilengkapi oleh fasilitas teknologi dengan perbandingan 1:1 mampu menjawab kebutuhan pengetahuan anak. Terkait dengan biaya pendidikan, memang tidak bisa dipungkiri bahwa sekolah yang memiliki fasilitas lebih banyak biasanya mematok angka biaya pendidikan yang lebih tinggi. Tapi jangan pesimis parents, yang paling penting telah mengusahakan yang terbaik sesuai kemampuan.

  1. Kurikulum

Pertimbangan lainnya yang juga sangat penting adalah tentang kurikulum. Kurikulum secara singkat didefinisikan sebagai rencana pembelajaran yang dijadikan acuan, disusun, dirancang, dan dilaksanakan lembaga pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan. Sejumlah pakar menyepakati bahwa jantung pendidikan terletak pada kurikulum. Kurikulum juga dianggap sebagai ‘pengejawantahan’ visi dan misi sekolah.

Ketiga hal ini yang paling dominan mempengaruhi pertimbangan dalam menentukan lembaga pendidikan sekolah mana yang paling tepat untuk anak saya. Jika ditanya sepenting itukah peran sekolah? Bukankah pendidikan yang utama justru dari rumah? Lalu untuk apa sekolah?

Jawaban saya adalah karena tidak semua ilmu mampu ditransfer oleh orang tua. Pendidikan di rumah lebih kepada pembangunan karakter, sopan santun, dan penanaman nilai-nilai agama. Sedangkan pendidikan di sekolah lebih kepada penguasaan keilmuan, meskipun unsur mendidik harus tetap disertakan dalam proses pengajaran.

Para guru adalah elemen yang memang dilatih untuk memiliki keahlian khusus yang mungkin tidak dimiliki oleh orang tua. Bahkan sering kali terjadi, orang tua justru ikut ‘belajar’ dari pendidikan di sekolah anaknya. Maka pilihlah lembaga pendidikan, dalam hal ini sekolah, yang benar-benar mendukung visi dan misi pendidikan kita sebagai orang tua.

 

Di Balik Gong Xi Fa Chai

Hari ini, sekolah anak saya mengadakan Chinese New Year Celebration sebagai salah satu agenda kegiatan tahunan. Anak-anak di sekolah terlihat begitu antusias untuk menyambut hari ini. Beberapa minggu sebelumnya, kami para orang tua sudah diminta untuk membantu perencanaan kegiatan. Mulai dari mempersiapkan kostum, food sharing menu antar kelas, dimana setiap kelas akan diminta untuk membawa tema makanan yang berbeda, serta anak-anak yang latihan untuk perform untuk gerak dan lagu dalam bahasa mandarin.

Gong Xi

Akhirnya hari yang ditunggu tiba. Anak-anak, orang tua, dan para guru berkumpul bersama untuk memulai kegiatan. Kegiatan diawali dengan penampilan dari anak-anak kelas 1 dan 2 setingkat Sekolah Dasar. Di sekolah, kami menyebutnya dengan P1 dan P2. Anak-anak P1 dan P2 berkolaborasi untuk menyajikan barongsai, yang kemudian diberi angpao oleh para penonton. Anak-anak bersorak dengan girang.

Gong Xi 1

Pertunjukan selanjutnya adalah performance yang disajikan oleh anak-anak Pre-K atau setingkat Play Group. Mereka membawakan gerak dan lagu dengan sangat lucu. Penonton pun bersorak bahagia. Berikutnya adalah giliran anak K1, K2, hingga P3. K1 dan K2 adalah tingkatan selevel TK A dan TK B. Mereka pun terlihat sangat luar biasa gembira.

Gong Xi 2

Ada yang menarik di benak saya, ketika mereka mengucapkan,

Gong Xi Fa Chai,  Wan Shi Ru Yi, Xin Nian Jin Pu, Shen Ti Jian Kang, Xin Nian Kuai Le”

Yang artinya adalah “Selamat Sejahtera, Semoga sukses, Memiliki kemajuan yang lebih baik untuk tahun baru ini, Memiliki kesehatan yang lebih baik, Selamat Tahun Baru.”

Gong Xi 3

Ternyata banyak di antara kita yang mengira bahwa ucapan Gong Xi Fa Chai yang sudah akrab di telinga masyararakat Indonesia ini diartikan sebagai ucapan ‘Selamat Tahun Baru’ , padahal sebenarnya artinya bukan itu.

Jika ditilik ke dalam sejarah China Kuno, memang asal muasalnya sudah terlalu tua untuk ditelusuri. Namun ada beberapa penjelasan yang coba untuk diberikan. Ada salah satu versi yang mengatakan penggunaan kalimat Gong Xi Fa Chai berawal sebagai ucapan pemberian selamat di antara penduduk China, untuk merayakan berlalunya musim dingin yang luar biasa kerasnya. Pada perkembangan selanjutnya, seiring dengan kemampuan China untuk bertahan dan bisa melalui masa-masa sulit itu, membuat China menambahkan kata Fa Chai yang artinya selamat atau makmur. Hal itu melambangkan adanya harapan dari masyarakat China akan masa depan yang lebih baik, disertai dengan kemakmuran dan kesejahteraan dalam ekonomi.

Ada juga hal menarik dalam versi lain cerita asal muasal Gong Xi Fa Chai ini jika ditilik dari legenda China Kuno.  Legenda pertama mengisahkan bahwa Gong Xi digunakan sebagai ucapan selamat, ketika penduduk China berhasil selamat mengatasi binatang buas Nian yang kerap memangsa mereka. Padahal kata Nian, dalam bahasa China modern berarti ‘tahun’. Nian hidup di dasar laut, memiliki mulut besar sehingga bisa menelan manusia. Nian hanya akan muncul menjelang tahun baru dan mencari korban manusia maupun hewan. Akhirnya muncul seorang tua yang menawarkan bantuan untuk mengusir Nian. Akhirnya Nian berhasil diusir oleh orang tua itu menyalakan petasan dengan suara keras dan membuat Nian ketakutan. Ternyata orang tua itu adalah seorang dewa. Sebelum dewa itu pamit, ia berpesan kepada penduduk untuk memasang dekorasi dengan kertas merah pada pintu maupun jendela setiap akhir tahun. Warna merah adalah warna yang paling ditakuti Nian.

Cerita legenda ini berbeda dengan versi yang dituliskan oleh Wikipedia. Di situ dikisahkan bahwa Nian selalu muncul hari pertama di tahun baru dengan mengambil ternak dan memakan manusia, terutama anak-anak. Untuk melindungi diri, maka semua warga desa menyediakan makanan untuk Nian, berharap agar Nian hanya memangsa makanan itu saja. Suatu hari, Nian diketahui ketakutan setelah melihat ada anak yang memakai baju merah. Akhirnya diambil kesimpulan bahwa Nian takut dengan warna merah. Untuk itu, setiap tahun baru, penduduk akan memasang lampion, dan hiasan-hiasan gulung lainnya di setiap pintu dan jendela, serta menyalakan petasan yang bersuara keras. Di akhir cerita, nasib Nian berakhir di tangan seorang pendeta Tao bernama Hongjun Laozu, dan berubah menjadi gunung.

Lalu bagaimana kita sebagai masyarakat Indonesia menyikapi perayaan tahun baru China yang terlihat sangat semarak di banyak tempat di Indonesia? Satu hal yang sangat penting untuk dipahami, bahwa Indonesia adalah negara yang penuh keragaman. Bukan hanya bahasa dan agama, tetapi juga secara budaya. Sehingga seluruh masyarakat Indonesia harus saling menghargai dan memiliki rasa toleransi.

Hal kedua yang harus dipahami adalah, perayaan Imlek atau Tahun Baru China bukanlah sebuah ritual keagamaan. Imlek adalah kebudayaan. Sehingga tidak tepat jika dihubungkan antara perayaan Imlek dengan urusan keagamaan seseorang. Maka reaksi yang diberikan harus sudah memiliki pemahaman betul pada kedua hal ini.

Di Indonesia, Tahun Baru Imlek menjadi hari libur nasional mulai pada tahun 1999. Indonesia adalah negara yang terkenal dengan reputasi keberagamannya, dengan sebagian penduduk Indonesia adalah dari etnis Tionghoa. Dengan disahkannya Tahun Baru Imlek sebagai hari libur nasional maka masyarakat keturunan Tionghoa dimungkinkan untuk berkumpul merayakan pergantian tahun dengan seluruh keluarga besar dengan berbagai tradisi, seperti pemberian amplop merah, serta makan kue keranjang, nastar, dan mie.

Sudah sepantasnya kita sebagai masyarakat Indonesia yang menganggap perbedaan sebagai sebuah hal biasa, tetap selalu saling menghormati, menghargai, menjunjung tinggi kerukunan, persatuan, dan kesatuan demi menjadikan bangsa  Indonesia yang kita cintai, sebagai bangsa yang kuat, dan hebat di mata dunia.

Sumber Referensi :

  1. https://sites.google.com/a/gongxifatchoi.com/gong-xi-fat-choi—imlek-resources/home
  2. http://www.publicholidays.co.id

Aku Guru, Aku Murid

Adakah yang pernah bertanya kepada orang tua, atau kawan-kawan masa sekolah, “Untuk apa sekolah?” Lalu kira-kira apa jawaban mereka? Menjadi pandai, disayang orang tua, atau apa? Mungkin juga ada yang menjawab, “tidak tahu.”

Berbagai masalah pendidikan memang sudah menjadi International Issues. Di Indonesia sendiri, banyak permasalahan dalam pendidikan yang belum berhasil dipecahkan. Di tengah riuhnya politik, ekonomi, dan konflik sosial, di mana posisi pendidikan?

Pertanyaan kedua, adakah yang pernah bertanya pada anak-anak, bagaimana rasanya menjadi murid? Kira-kira jawaban apa yang akan kita dapatkan? Gak enak, bosan, bahagia, atau apa? Sekali lagi, jika Anda mendapatkan jawaban anak yang relatif tidak menyenangkan sebagai murid, mungkin perlu dilakukan evaluasi bersama antara orang tua, guru, dan anak.

Ada beberapa komponen yang dianggap memiliki peran penting akan keberhasilan sebuah pendidikan. Antara lain, tujuan pendidikan, peserta didik, pendidik, metode pendidikan, materi pendidikan, lingkungan pendidikan, serta alat dan fasilitas pendidikan. Namun, pernahkah mencoba untuk menilik diri sendiri, bahwa sesungguhnya setiap manusia diciptakan Tuhan sebagai guru, sekaligus murid.

Istilah long-life-learning ­Education menyiratkan makna bahwa belajar adalah sebuah proses, yang dimulai sejak manusia lahir, hingga meninggal. Setiap orang punya dorongan sejak lahir untuk mengembangkan diri, mendapatkan pendidikan seumur hidup, meningkatkan pengetahuan, serta ketrampilan. Maka, sesungguhnya setiap manusia adalah guru bagi dirinya sendiri.

Setiap manusia adalah guru, sekaligus juga sebagai murid. Ada beberapa prinsip yang harus diterapkan dalam konsep menjadi murid. Antara lain :

1. Learning to live together, yaitu belajar untuk memahami, mengerti pemikiran, dan cara pandang orang lain, yang sangat mungkin tidak sama. Banyak aspek yang harus dipahami, misal latar belakang, nilai-nilai keyakinan yang dianutnya, dan sebagainya.

2. Learning to know, yaitu belajar untuk meningkatkan kemampuan penguasaan dalam suatu bidang tertentu. Jika seseorang hadir sebagai seorang murid, maka ia bisa menerima transfer ilmu dengan baik.

3. Learning to do, yaitu belajar mengaplikasikan ilmu yang telah didapatkan dari learning to know. Dalam learning to do dibutuhkan kemampuan untuk bisa saling bekerja sama, berkolaborasi, belajar memecahkan masalah, dalam berbagai situasi yang dihadapi.

4. Learning to be, yaitu proses belajar untuk menjadi pribadi yang mandiri, dan bertanggung jawab untuk mewujudkan tujuan bersama.

Untuk itu, saya sangat mendukung sebuah gerakan yang bernama Semua Murid Semua Guru yang digagas oleh Najeela Shihab, sebagai sebuah gerakan untuk membuat perubahan yang lebih baik di dunia pendidikan anak. Sebagai gaungnya, publik pun bisa mengambil peran dengan menyebarkan dan memberikan informasi edukasi  yang bermakna untuk orang lain di sekitarnya.

Sesuai dengan Pasal 31, ayat 1, Undang-Undang Dasar 1945 yang berbunyi, “Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan.” Tidak hanya hak, tapi pendidikan adalah tanggung jawab seluruh lapisan masyarakat. Sehingga semua orang Indonesia wajib ikut terlibat dalam memajukan pendidikan di Indonesia.

Dalam proses itu, maka dimulai dari peran individu. Setiap orang membawa pesan untuk menjadi guru sekaligus murid, bagi diri sendiri, maupun orang lain. Memulainya di lingkungan sendiri, hingga menjadi teladan bagi orang lain. Serta tetap belajar untuk mengembangkan diri, meningkatkan kemampuan dan ketrampilan agar mencapai tujuan  long-life-learner.

Aku Guru, Aku Murid. Semoga tak akan ada lagi anak-anak dengan jawaban yang sudah pernah kita dengar, sejak puluhan tahun yang lalu.

Daftar Referensi :

1. http://anggritavita.blogspot.co.id/2013/11/konsep-life-long-learning-eduvation.html?m=1
2. http://izzazhoetd.blogspot.co.id/2011/12/komponen-komponen-pendidikan.html?m=1
3. http://www.alfasingasari.com/2017/01/pasal-31-ayat-1-2-3-4-5-uud-1945.html?m=1
4. https://www.haibunda.com/aktivitas/d-3783715/semua-murid-semua-guru-gerakan-untuk-perubahan-pendidikan
5. https://www.google.co.id/amp/s/m.kumparan.com/kartika-pamujiningtyas/najeela-shihab-semua-murid-semua-guru.amp

Aku, Indonesia

Rasaku sungguh resah,

ketika ku lihat kau mengacungkan jarimu. Tapi, bukan untuk menunjukkan kealpaan dalam dirimu. Kau malah acungkan telunjuk itu pada mereka yang kau anggap tak sama dengan seleramu.

Rasaku sungguh resah,

ketika kini tak lagi kau acungkan jarimu, tapi malah kau kepalkan tanganmu. Tapi bukan untuk menguji kesabaranmu, malah kau gunakan untuk menjatuhkan mereka yang tak sepaham denganmu.

Sejujurnya ingin kuketuk nuranimu, ingin kulongokkan kepalaku, untuk melihat apa isi hatimu.

Benarkah karena surga sudah dalam dekapanmu, sehingga kau anggap neraka adalah tempat bagi yang lainnya?

Aku Indonesia, memang sudah begini sejak lahir dulu kala.

Lantas kau ingin mengubahku menjadi apa?

Aku adalah Indonesia. Aku bukan agama, bukan suku, bukan ras, dan bukan golongan yang kau sukai saja. Aku tak mau kau dekte menjadi bukan diriku.

Kadang aku merasa kau lucu, ketika kau benci karena mereka tak seagama denganmu.

Kadang aku juga merasa kau lucu, ketika kau benci mereka yang tak sewarna kulit, tak sama bentuk mata, juga tak sama tipikal rambutnya, hanya karena tak sama denganmu.

Kadang aku juga merasa kau lucu, ketika kau sangka satu golongan lebih buruk dari golonganmu.

Lalu, apa kau mau hidup sendiri di muka bumiku ini, hai manusia?

Aku Indonesia, memang sudah begini sejak lahir dulu kala.

Lantas kau mau mengubahku menjadi apa?

Aku adalah kemajemukan, aku adalah toleransi, aku adalah kerukunan, dan aku adalah persatuan.

Katamu, kau lahir di sini. Tapi kau lupakan jati diri sendiri.

Kenapa tak bisa kau cintai semua karena berbeda

Kenapa tak kau pahami, bahwa tak mungkin semua hal menjadi sama?

Aku Indonesia, memang sudah begini sejak lahir dulu kala.

Lantas kau mau mengubahku menjadi apa?

Bagiku, antara manusia dan Tuhan punya hubungan yang tak bisa kau adili.

Karena memang bukan bagian dari tugasmu, wahai manusia ….

Semakin tinggi nilaimu di mata Tuhan, harusnya semakin cinta dirimu pada makhluk-makhluk-Nya.

Ingat, tugasmu hanya menyampaikan, bukan menggantikan Tuhan.

Aku Indonesia, memang sudah begini sejak lahir dulu kala.

Tak akan kubiarkan engkau menghancurkannya ….

Atau kau pergi saja ….

Jika Esok Tak Pernah Datang

Sebuah pertanyaan besar saat itu muncul dari balik meja kerjaku. Bertumpuk dokumen menunggu untuk dibaca, berbagai email masuk menunggu untuk dibalas, serta beberapa target project menunggu untuk dilaksanakan sesuai dengan timeline yang ditentukan. Namun entah mengapa, hari itu justru aku memikirkan hal lainnya.

Kudengar selentingan kabar, bahwa perusahaan akan ‘merumahkan’ begitu banyak karyawan. Tidak ada jaminan bisa ‘selamat’ meskipun jabatannya sudah di level aman. Sungguh menakutkan! Baru urusan beginian, tapi rasanya sudah seperti kiamat yang hampir datang.

Ya, dunia semakin tidak menentu saja, pikirku. Namun bukan itu yang menjadi masalah utama. Jika memang aku menjadi salah satunya, lalu apa yang harus kulakukan setelahnya? Selama ini hidupku sangat ‘nyaman’ dengan gaji-gaji yang rutin ku terima setiap bulan. Setiap akhir pekan, ku hamburkan uang untuk bersenang-senang dengan teman-teman. Dalam sebulan, mungkin bisa kubeli 2 tas bermerek internasional. Luar biasa, bukan? Tapi, jika aku dianggap tak ‘berharga’, lantas apa yang bisa ku lakukan kemudian?

Telepon berdering, rupanya Si Bos memintaku untuk datang ke ruangannya. Belum juga berdiri, tapi lutut ini rasanya sudah tak ada tenaga. Tenang, ini bukan karena kau mau di-PHK, sudah … segera saja ke sana, turuti apa maunya, begitu batinku bersuara.

Dalam sehari itu, ku dengar dua orang Kepala Bagian Accounting tamat riwayatnya. Waktunya hanya dua minggu untuk membereskan semua barang-barangnya. Perusahaan tak mau tahu, yang penting rencana perampingan tenaga kerja bisa dicapai sebagai bentuk komitmen perusahaan. Perusahaan ingin membuat sebuah rencana kerja yang lebih efektif dan efisien di masa depan. Terlalu banyak orang tidak sejalan dengan rencana mereka. Itulah kenapa banyak karyawan harus ikut menanggung resikonya.

Aku, bagaimana nasibku? Selama ini aku merasa semua akan baik-baik saja. Kuliah di perguruan tinggi negeri, cari nilai sebaik-baiknya, lulus secepat mungkin, mendaftar pekerjaan di perusahaan-perusahaan besar ternama, atau, ya … di kantor pemerintah saja, lumayan juga. Setelah itu, berkarir dengan sebaik-baiknya, dan nikmati hidup senikmat-nikmatnya. Yang akan terjadi nanti, ya sudah dipikir nanti saja lah ….

Aku lupa bahwa tidak pernah ada jaminan bahwa esok pasti akan datang. Tidak juga ada jaminan bahwa esok pasti akan lebih baik. Aku lupa untuk mempersiapkan masa depan, karena merasa telah sampai di kehidupan yang ku inginkan. Namun ternyata, itu juga yang membuatku lupa, bahwa ini adalah zona nyaman, bukan zona aman.

Kehidupan, memang sudah begini sejak awal mulanya. Tidak pernah mudah untuk menjalaninya. Kini, mungkin aku memang sedikit terlambat. Kesadaranku sangat telat dibandingkan mereka yang ku lihat dulu biasa saja. Mereka bukan biasa saja, tapi justru sedang menyimpan amunisinya.  Sekarang aku pun harus belajar dari apa ku tanam. Agar meskipun tidak sempurna, tapi masih bisa aku berharap, yang ku tuai tidak terlalu mengecewakan.

Kutekadkan diri untuk keluar dari zona nyaman. Jika dulu aku biasa mengatakan, “Yang nanti, dipikir saja gimana nanti lah …. ” sekarang harus ku ubah cara berpikirku menjadi, “Nanti gimana?”

Aku harus meyakinkan diri sendiri bahwa masih ada kesempatan bagi diriku, masih ada yang bisa ku lakukan untuk masa depanku. Tinggalkan mindset untuk merasa tenang, merasa hari esok pasti akan datang. Setiap hari harus diisi dengan perjuangan, dan perubahan. Jangan merasa nyaman, jangan merasa aman.

Memulai langkah bisnis, ataupun investasi adalah salah satu cara yang bisa ku pertimbangkan. Jika dulu selalu merasa nyaman dengan semua hal rutin yang biasa terjadi, kini tak boleh lagi. Kini, setiap hari, setiap saat, harus diisi dengan perubahan-perubahan. Manfaatkan waktu untuk hal-hal positif dan produktif, serta pergunakan segala aset dan sumber daya dengan bijaksana. Coba tantang diri sendiri untuk melakukan hal-hal baru, hingga suatu hari nanti, masa depan akan berterima kasih padaku.

Ddddrrtt … dddrrrtttt … ddddrrttt …. (ponsel bergetar)

Astaga kenapa aku masih di sini? Aku pun akhirnya tersadar.

Dua puluh menit berlalu dalam lamunanku. Pak Boss sudah menunggu. Oke, aku pergi dulu. Tapi ada satu hal penting yang bisa kudapatkan. Bahwa setelah ini, aku bertekad untuk keluar dari zona nyaman. Siap menuju zona aman. Bukan hal mudah, aku tahu … tapi tak ada cara terbaik untuk membuktikan, selain mencobanya, kan?

 

You’ll never change your life, until you change something you do daily. The secret of your success is found in your daily routine ….

Jejak Dalam Jiwa

Suatu hari ada yang bertanya, “Bagaimana masa kecilmu?”

Kau selalu mengabarkan pada dunia dengan jawaban, “Luar Biasaaa!”

Aku hanya tersenyum meringis saja….

Kuingat … kau bilang padaku waktu itu, “Kenapa? Apa salah jika ku bilang masa kecilku luar biasa?”

“Ohh, tentu saja tidak, sobat….” jawabku mencegah buruk sangkanya.

“Ya, sudah….tak usah kita bahas lagi itu,” pintamu sebelum masuk ke toko busana.

Dini, sahabatku satu ini. Bertahun-tahun menjalani kehidupan yang tak seperti orang lain alami. Mulai dari pengusiran ibunya oleh ayahnya sendiri. Membuat hidupnya hanya seputar kotak kardus harta yang sempat ia bawa pergi. Hidup mengajarkanmu untuk mencari tahu, bagaimana bertahan, hanya dengan memikirkan makan apa esok hari.

Anak sekecil itu, tak cukup mampu mengerti apa yang sedang terjadi.

Yang ia pahami, cerita indah hanyalah angan-angan ketinggian, tak pernah ada akhir kisah seperti drama di televisi.

Kini, sepuluh tahun berlalu sejak cerita itu.

Aku bertemu denganmu, sebagai kawan sekelasmu.

Yang ku lihat, kau begitu luar biasa, anggun, dan berwibawa.

Tapi kini ku pahami, sesungguhnya ada lubang besar menganga dalam jiwa.

Kau tak pernah menangis!

Tak pernah ku lihat engkau berlinangan air mata, meskipun beberapa kali dicampakkan cinta.

Tak pernah juga terlalu ‘drama’, seperti kebanyakan perempuan seusia lainnya.

Wow! Bagiku, kau hebat, kawan ….

Meski kadang beberapa laki-laki di kelas seberang , bergidik hanya dengan mendengarmu bicara.

Tapi, tak sedikit pula yang bernyali untuk menyatakan cinta.

Ya, masa kecilmu sungguh luar biasa. Seperti namamu, Dini.

Kau dipaksa menjadi dewasa sebelum waktunya. Di saat jiwa masih begitu rentan dengan trauma.

Dunia meminta lebih dari yang kau mampu, bahkan lebih kejam dari pada kata mati.

Tapi dari seluruh perjalanan ini, yang terhebat adalah bagaimana kau bisa bangkit dan percaya akan kau ukir takdirmu sendiri.

Sungguh, tak pernah ku temukan manusia seperti kau, Dini.

Waktu terus berputar tanpa menunggu kesiapan setiap makhluk-Nya.

Tanpa disangka takdir mempertemukan kita lagi dalam sebuah acara.

Kini, ku lihat kau sungguh jauh lebih mempesona.

Dan ketika pembawa acara bertanya, “Apa yang bisa Anda katakan pada masa kecil Anda?”

Seperti yang sudah kuduga, kau pasti menjawab, “Luar biasa!”

Ketika ditanya lagi, “Jika ayah Anda menonton, apa yang ingin Anda katakan padanya?

Kau jawab, “Saya mencintainya. Bagaimana pun, seorang anak tetap wajib berbakti pada orang tuanya.”

Sekali lagi, aku tak melihatmu meneteskan air mata.

 

 

Debu yang Tak Seharusnya Kau Buang

Maaf sayang, sungguh sulit bagiku untuk mengatakan ini … Tapi aku rasa, tak bisa lagi aku mendampingimu. Bukan karena kau tak baik, hanya saja aku tak nyaman lagi bersamamu ….

Penggalan kalimat dalam sebuah surat diterima Wina pagi ini. Padahal ada lebih dari tiga puluh orang kawan sedang menunggunya sebagai salah satu peserta di acara bedah buku.

Sesaat sebelum Wina melangkah keluar dari rumah, datanglah tukang pos yang membawakan sepucuk surat kiriman  itu. Australia … begitu Wina melihat gambar bendera yang terpampang di pojok kanan suratnya.

Dengan degup jantung yang bersemangat ingin cepat-cepat, Tiara segera menuju kamarnya lagi, belum jadi pergi.

“Sandy … ini pasti dari Sandy. Akhirnya ia mengirimkan sebuah kabar padaku,” gumamnya. Bergegas Tiara masuk kembali ke kamarnya, menyalakan lampu meja belajar, dan duduk dengan posisi yang paling nyaman.

“Siapa yang datang, Tiara?” suara ibunya menyeru dari lantai bawah.

“Oh, tidak ada Maa, bukan siapa-siapa.” Jawab Tiara yang menjawab sekenanya saja.

Pikirannya sekarang hanya dipenuhi oleh sepucuk surat berwarna biru itu.

Perlahan dibukanya, dengan perasaan yang sangat campur aduk. Hati-hati sekali saat ia lepaskan surat itu dari lem perekatnya. Batinnya sebenarnya takut, kira-kira apa yang akan dibicarakan Sandy dalam surat itu. Kenapa selama enam bulan ini, Sandy tak pernah sekalipun mengirimkan kabar lagi. Tiara bingung harus mencari jejaknya sampai kemana. Nomor teleponnya tak lagi aktif, begitupun jejak digital di media sosialnya. Bagi Tiara, kertas biru itu adalah wakil diri Sandy, serta jawaban atas kerinduan Tiara.

Halo sayang,

Apa kabarmu di sana?

Semoga engkau selalu dalam lindungan Allah.

Maaf … maaffff ….

Pasti kau bertanya padaku, apa kabarku selama enam bulan ini ….

Pasti kau mencariku ….

Namun ada hal-hal yang tak bisa kujelaskan dengan begitu mudah padamu ….

Kau pasti bertanya, mengapa aku kirimkan surat ini?

Mengapa tak langsung ku temui saja dirimu di sana?

Namun aku tak menemukan cukup cara yang pantas untuk bisa menatap wajahmu lagi …

Jemari Tiara bergetar memegang lembar kertas itu. Ia masih berusaha mencerna apa maksud Sandy dalam kalimat terakhirnya.

tak menemukan cukup cara yang pantas …

tak bisa kujelaskan dengan begitu mudah …

Apa maksudnya ini?  batin Tiara.

“Tiara, sudah hampir jam sembilan, bukankah acaranya jam sembilan? Kau terlambat nanti.” Seru ibunya lagi mengingatkan, bahwa ia harus segera berangkat.

Namun Tiara tak menjawab. Pikirannya sibuk mencerna makna tersirat dalam kata-kata yang dibacanya.

Maaf sayang, sungguh sulit bagiku untuk mengatakan ini … Tapi aku rasa, tak bisa lagi aku mendampingimu. Bukan karena kau tak baik, hanya saja aku tak nyaman lagi bersamamu ….

Lepaskan aku, lupakan mimpi-mimpi kita, sayang ….

Aku tak akan bisa menjadi seseorang yang kau harapkan, seperti dulu ….

Mungkin ini aneh, atau terlalu mendadak ….

Tapi semoga foto ini bisa membuatmu memahami dengan cepat….

Maaf … hanya itu yang bisa aku katakan ….

Hiduplah dengan baik di sana, jalani hari-harimu ….

Percayalah bahwa suatu hari nanti akan kau temukan seseorang yang lebih baik dariku ….

 Sandy

Mata Tiara sudah tak bisa lagi menampung semua air mata yang ingin keluar. Matanya sembab, hidungnya memerah, dan riasan make up yang sejak tadi ditatanya dengan sangat apik, sekarang sudah beleber kemana-mana. Maskara dan eyeliner hitam itu telah jatuh setitik membasahi kertas biru yang dipegangnya. Hatinya sakit sekali, bernafas pun rasanya sulit.

Tak ada lagi harapan indah yang bisa aku perjuangkan setelah ini, begitu pikirnya sambil sesekali menyeka mata dengan punggung tangannya.

Dengan sisa keberanian yang ia punya, Tiara coba untuk menilik kembali ke dalam amplop surat yang tergeletak di sisi kirinya.

Foto … foto apa? Mana ada foto? Tanya Tiara dalam batinnya sendiri.

Dilihatnya ada lembar putih kaku yang terselip di situ. Sejenak Tiara ragu, apakah perlu diambil dan dilihatnya foto itu. Namun jika tak ia tuntaskan, akan semakin banyak pertanyaan yang menunggu jawaban.

Akhirnya ia beranikan diri untuk membaliknya. Sesaat, jantung Tiara serasa berhenti berdetak. Sungguh sebuah pemandangan yang sangat sulit untuk ia percayai. Sebuah dekorasi mewah penuh dengan bunga-bunga warna putih memenuhi ruangan. Indah, seperti impiannya pada sebuah pesta pernikahannya dengan Sandy kelak. Tampak sepasang pengantin berdiri dengan anggun dan berwibawa di tengah-tengahnya.

Mata Tiara memicing. Coba ia amati, siapakah sosok pengantin itu.

Deeegggggg! Detaknya berhenti, dan Tiara berasa tubuhnya ingin terguling dari kursi tempatnya duduk.

Sandy. Ini Sandy. Dia menikah? Apa, dia menikah? Ya, dia menikah!

Terlepas lembar foto itu dari tangannya. Beringsut ia coba untuk memindahkan tubuhnya ke tempat tidur di samping kanannya.

Apa ini, apa arti ini semua …Pikirannya masih belum bisa mencerna dan menerima.

“Tiara, sudah jam sembilan. Peserta telah banyak kawan yang menunggumu di sana.” Teriak Mamanya lagi.

“Ya, Maa..sebentar lagi.” Jawab Tiara yang mencoba membuat suaranya senormal mungkin.

Setengah jam berlalu, Tiara mencoba untuk menenangkan dirinya yang kalut atas kabar Sandy.

Bagaimana tidak, laki-laki yang sudah tiga tahun bersamanya itu, tiba-tiba menghilang, dan sekarang tiba-tiba datang dengan kabar pernikahannya. Bagaimana aku harus menghadapi dunia ini selanjutnya? Batin Tiara yang masih belum menemukan jawaban atas pertanyaannya.

***

Lima tahun berlalu sejak kejadian yang sangat menyesakkan hati itu.

Pagi ini, Tiara kembali hadir di sebuah acara bedah buku. Tetapi tak sama seperti lima tahun yang lalu. Kini, ia bukan lagi peserta di sana, tetapi sebagai pembiacara. Bukunya adalah salah satu Best Seller yang terpampang di semua toko buku di seluruh Indonesia. Untuk sebuah jenis buku teenlit, ini termasuk luar biasa.

Tiara mengawali acaranya pagi itu dengan sangat bersemangat dan bahagia. Acaranya dihadiri lebih dari seratus orang kali ini. Wow! Di sela-sela talkshow antara Tiara dan pembawa acara, sesekali pandangan Tiara mengarah pada sosok seorang pria yang hadir di ujung sana. Tommy, ya itulah nama kekasih Tiara saat ini. Tommy lah yang perlahan menyembuhkan luka hati Tiara. Tommy lah yang justru meminta Tiara untuk menuliskan buku sebagai pengobat lukanya di masa lalu. Kini, Tiara bahagia. Perlahan lukanya sembuh berkat waktu dan dukungan orang-orang yang menyayanginya.

“Kini lah saatnya untuk penanda tanganan buku Kak Tiara, yang sebentar lagi akan diangkat menjadi film di layar lebar. Ayo siapa yang sudah punya bukunya dan pengen ditanda tangani Kak Tiara? Atau ada yang belum punya bukunya? Bisa nanti langsung order di sini yaa..” seru pembawa acara lantang.

Tiara pun berdiri, dan maju menuju meja kursi yang disediakan untuk pembubuhan tanda tangan. Tampak di depannya, para hadirin diminta untuk antri membentuk barisan yang panjang. Satu per satu maju untuk berfoto dan mendapatkan tanda tangan di buku mereka.

Hadirin pertama maju, menghampiri Tiara di depan meja yang telah disediakan panitia. Ia ulurkan buku Tiara, dan dengan tersenyum, Tiara membaca judul di sampul depan buku itu. ‘Debu yang Tak Seharusnya Kau Buang’, begitu cetakan tebalnya di halaman depan. Terpampang manis.

Kemudian Tiara buka lembar selanjutnya, disana ia tuliskan, “Tahukah kau, bahwa bumi yang penuh kehidupan tercipta dari kumpulan debu yang menggumpal dan memadat di angkasa? Debu yang tak berguna itu, kini menjadi harapan bagi seluruh makhluk Tuhan untuk ingin hidup. Debu tak selamanya tak berguna. Karena ia bisa menjelma menjadi sesuatu yang tak pernah kau duga.” Seraya Tiara membubuhkan tanda tangan pada buku hasil karyanya.

Enjoy The Ride

Perjalanan hidup atau jalan hidup? Dua frasa yang memberikan dua makna yang berbeda. Perjalanan hidup menuju kepada makna proses, sedangkan jalan hidup menuju makna takdir. Oleh karena itu, saya lebih suka menyebut semua hal yang terjadi dalam kisah manusia adalah sebuah perjalanan hidup.

Apakah itu artinya tidak percaya takdir? Tentu bukan. Namun, saya lebih memilih untuk menjalani proses daripada mengharapkan takdir. Apakah itu berbeda? Tentu. Di dalam frasa ‘menjalani proses’ berarti ada beberapa hal yang menjadi influencer-nya. Sedangkan dalam frasa ‘mengharapkan takdir’ artinya lebih kepada menyerah, tanpa usaha.  Tapi bagaimana dengan menjalani takdir? Frasa itu artinya menjadi sama dengan perjalanan. Ada proses, ada usaha, ada perasaan menerima, dan ada keikhlasan.

Berdasarkan hal itu, maka kata kuncinya adalah pada kata ‘menjalani’. Maka perjalanan hidup akhirnya bermakna pada sebuah proses yang dilakukan untuk menjalani hidup.

Pertanyaan selanjutnya, hidup seperti apa yang layak untuk dijalani? Bagi saya, hidup sendiri adalah sebuah hal yang layak untuk dijalani. Maka permasalahannya bukan pada layak atau tidak layak, tapi seperti apa hidup yang ingin kita jalani. Pemahaman kata ‘ingin’ di sini bermakna sebuah pilihan. Sehingga hidup seperti apa yang layak dijalani? Yaitu, hidup yang sesuai dengan cara yang kita pilih untuk kita jalani.

Kadang, ada satu masa di mana kehidupan ini adalah kehidupan yang bukan kita inginkan. Mungkin hampir semua manusia pernah mengalaminya. Namun, sekali lagi … Bahwa hidup bukan tidak layak untuk dijalani, tetapi kita yang kurang tepat menentukan pilihan, atau tidak memiliki keberanian untuk menjalani hidup ini.

Hidup ini anugerah, sobat …

Banyak manusia yang sudah mati bahkan ingin dihidupkan kembali untuk mengulang perjalanannya.

Mereka ingin memperbaiki apa kesalahannya, dan melakukan hal yang seharusnya.

Lalu mengapa di antara kita ada yang merasa hidupnya tidak berguna?

Apakah perjalanan hidup seseorang selalu baik? Tidak.

Apakah perjalanan hidup seseorang selalu lancar? Pasti juga tidak.

Namun kembali lagi dari filosofi kata perjalanan. Perjalanan adalah proses. Perjalanan adalah usaha. Perjalanan adalah waktu. Jadi point-nya bukan terletak pada ‘di mana akhir dari semua ini?’ Tetapi bagaimana memaknai dan menikmati setiap prosesnya untuk mendapatkan akhir yang diharapkan.

Sometimes, the people around you won’t understand your journey.

They don’t need to. It’s not for them.

“Set your own life goal, and enjoy the ride….”

Lukisan Harapan

Sore ini, sepertinya agak berbeda dari biasanya.

Seharian hujan turun, membasahi setiap inci tanah dan rerumputan sekitar halaman.

Namun, kurasa…ada yang tak sama.

Warna langit justru terlihat sangat indah dari sudut taman tempatku menikmatinya.

“Wah, tampaknya senjaku hari ini sangat mempesona,” gumamku.

Ku mulai mengamatinya,

Kenapa engkau disuka, tapi juga dibenci banyak manusia?

“Apa yang mereka katakan tentangku?” tanyamu, mengagetkanku.

“Mereka bilang, kau memisahkan dua pasangan, siang dan malam,” jawabku.

“Aku? Tapi aku justru menyuguhkan harapan,” sanggahmu, terdengar pilu.

“Ehmm..yaa, tapi itu yang mereka rasakan, katanya.” Ungkapku, yang hanya sebagai penyampai kata.

“Aku adalah senja, the most magical color they ever seen,” katamu yang masih juga tak mau terima.

“Senja, bagiku… Engkau membuktikan, bahwa selalu ada keindahan dalam setiap hal. Namun, tak semua manusia mampu melihatnya,” jawabku sambil mengarahkan kamera untuk mengabadikan warnanya.

“Mereka membencimu, karena kau menandakan akan datang sebuah kegelapan. Mereka juga membencimu, karena engkau membuat mereka harus menunggu hingga esok datang,” jawabku menjelaskan sudut pandang.

“Mereka salah besar, kawan. Aku memberikan mereka kesempatan untuk merenung dalam ketenangan. Kadang manusia hanya selalu ingin melihat apa yang ingin dilihatnya saja. Mereka tak mau menerima, jika itu tak menjadi keinginannya. Padahal, bukankah Tuhan selalu punya rencana? Kenapa mereka tak mau percaya?” jelasmu panjang dengan sedikit nada kekesalan.

“Hidup adalah kumpulan dari keajaiban. Ia sangat sulit untuk bisa diramalkan. Kenapa mereka tak mau memberikan ruang bagi kedamaian? Aku adalah kedamaian. Aku adalah harapan. Lihatlah, betapa indah warna yang kupendarkan. Tidak selamanya akhir, selalu mereka yang tentukan. Aku, senja. Warnaku adalah bukti, bahwa apapun yang terjadi di hari itu, setiap hari akan selalu ada harapan untuk akhir yang membahagiakan. Tergantung padamu, melihatku dari sudut mana.” Ungkapmu dengan nada sedikit mendayu merdu.

“Ya senja, akan kuingat apa yang kau katakan. Kurasa, kini saatnya aku untuk pulang, sebelum gelap datang. Beristirahatlah, senja… Peraduan menunggu. Ku temui engkau disini lagi, esok hari.” Pamitku seraya bangkit dari bangku taman, dan berjalan menuju peraduanku.

“Selamat tinggal kawan, aku tak tahu apakah esok hari Tuhan masih akan memberiku kesempatan menemuimu. Bukankah hanya Dia, Sang pemilik waktu?” jawab senja menyadarkanku.

“Maka, meskipun aku hanya datang sebentar saja, dan hanya sebagai pembatas asamu, tolong lihatlah aku sebagai senja terbaikmu.” ungkapnya sebelum langit menyapu cakrawala dalam gelapnya.

Selama beberapa saat, ku masih berdiri termangu di situ. Masih dengan menatapnya yang sudah pergi. Kepergiannya, menandakan waktu yang sudah berganti. Berakhirnya hari ini, dan sebuah kesempatan lagi, untuk esok hari.

 

” Blessed are they who see beautiful things in humble places,

where other people see nothing.”

Motherhood

Hari ini saya diminta untuk hadir di acara Coffee Morning, sebuah istilah untuk mengajak orang tua dan guru di sekolah anak saya untuk bertemu, berkumpul, dan membicarakan sesuatu. Untuk kali ini, kami akan membahas terkait MAP Recap, Upcoming Events, dan Pick Up Cards. Namun, bukan itu yang ingin kita bahas di sini. Namun, ada sesuatu yang lebih penting untuk kita renungkan kembali.

Diantara banyak sekali kesibukan yang harus saya selesaikan setiap hari, ada timing yang membuat saya kembali teringat saat dulu pernah ditanya, ‘Jurusan’ apa yang ingin saya ambil di Universitas Kehidupan yang saya jalani. Banyak sekali peran-peran yang harus bisa saya mainkan, tetapi jika diminta untuk memilih salah satu saja, apa ‘peran’ yang ingin saya ambil.

Kembali lagi saya meyakinkan diri, bahwa dalam Universitas Kehidupan ini, saya memilih untuk masuk dalam Fakultas bernama Keluarga. Jurusannya? Jurusan Ilmu Pengasuhan (Parenting). Sejak mendedikasikan kehidupan saya di situ, banyak sekali hal yang berubah dari cara pandang saya selama ini. Saya, 10 tahun yang lalu, tak pernah berpikir untuk bisa seperti ini.

Hari ini, ketika meeting telah usai, saya pulang dengan membawa banyak sekali pemikiran. Bukan hanya karena sebuah hal baru yang saya dapatkan, tetapi juga terasa disentil dan diingatkan kembali. Bertemu dengan beberapa kawan yang memiliki keluasan berpikir dan beragam wacana, ternyata sangatlah membuka wawasan bagi pandangan saya.

Salah satu hal yang saya dapatkan hari ini. Ada seorang kawan, yang anaknya 8 bulan diajak tinggal di Singapura untuk terapi sensori. Mungkin tidak banyak dari kita, atau orang tua kita yang  memahami Sensory Difficulties Disorder. Apa itu? Ini adalah bahasa dokter Singapura tempat anak kawan saya terapi untuk menjelaskan tentang ‘kekacauan’ yang terjadi pada sensori anak.

Jika Anda, mengalami kejadian seperti ini, kira-kira apa yang ada dalam benak Anda? Sebuah keluarga sedang makan di restoran. Ayah, ibu, kakak, dan adik. Tiba-tiba ada suara berisik dari meja sebelah, suara beberapa orang gadis tertawa terbahak-bahak. Ketika mendengar itu, sang adik langsung terganggu dan memelototkan matanya menatap para gadis itu, bahkan siap-siap melempar dengan sesuatu di meja. Itu hanya satu contoh kejadian. Si anak juga bisa saja akan menjadi sangat marah, jika melihat sang ibu terlalu banyak bicara, terutama saat memarahinya. Ada berapa dari Anda yang akan ngeh jika itu adalah bagian dari Sensory Difficulties Disorder?

Ada contoh lain, seorang anak, mengalami tantrum. Sulit sekali untuk diredakan. Pada sebagian tantrum, masalah awalnya adalah karena ada hal yang tidak sesuai dengan keinginannya. Misal, ingin mainan mobil-mobilan. Karena tidak menemukan yang diharapkan, maka si anak akan marah hingga melakukan perusakan, atau bisa sampai menyakiti dirinya sendiri. Misal, memukul kepalanya sendiri. Saat mainan mobil-mobilan itu sudah diberikan, dan si anak akan tetap marah, tetap merusak atau menyakiti diri sendiri, berapa banyak dari Anda yang akan berpikir bahwa ia mengalami  Sensory Difficulties Disorder?

Jiwa anak sesungguhnya sangatlah lembut. Kita yang sekarang adalah ‘produk’ hasil olahan stimulasi yang kita kumpulkan sejak hari pertama kita datang ke dunia. Stimulasi itu bisa kita dapatkan dari ayah, ibu, guru, kawan, lingkungan, dan lain sebagainya. Masalah Sensory Difficulties Disorder inilah juga yang akhirnya membuat kawan saya harus stay di Singapura selama 8 bulan lamanya. Apa hasil observasi dokternya? Dan apa saja yang dilakukan selama 8 bulan terapinya?

Hasil observasi dokter di Singapura, menyatakan bahwa anak kawan saya, secara bahasa sederhana, mengalami sensitivitas yang lebih tinggi dari kebanyakan orang. Ya, jadi kekacauan yang disebabkan sensitif pada pitch suara dengan level diatas rata-rata. Pitch suara yang tinggi biasanya dimiliki oleh jenis kelamin wanita. Itulah mengapa, anak tersebut sensitif pada suara para gadis yang tertawa kencang, atau suara kemarahan ibunya.

Selama delapan bulan di Singapura, beberapa hal harus dilakukan para dokter untuk membuatnya si anak menjadi lebih tenang. Apa hubungannya? Ya, dengan kondisinya yang sudah tenang, akan membuat si anak lebih mampu mengendalikan diri saat menerima kondisi lingkungan yang mungkin saja tidak ideal. Suara-suara di sekitar yang datang tiba-tiba bisa mengganggu. Bahaya sekali jika responnya tidak bagus untuk menghadapi itu.

Lalu apa terapinya? Salah satu cara yang digunakan di Singapura adalah latihan sensorik dan motorik. Dan semuanya dilakukan dengan cara yang menyenangkan bagi si anak. Ibunya? Disinilah anak membutuhkan peran yang sangat penting dari orang tua. Ibunya dulu adalah seseorang yang bekerja. Seperti semua orang ketahui, bahwa tuntutan pekerjaan dunia jaman now sangat luar biasa besar. Apapun pekerjaan kita, dibutuhkan sebuah totalitas untuk melakukannya, bukan? Atau, ya, gak akan perform!

Aktivitas terapi itulah yang akhirnya membuat sang Ibu memutuskan untuk totalitas mengurus sendiri anaknya, 24 jam, 7 hari seminggu, dan tanpa asisten. Luar biasa untuk usia seorang wanita di atas 40 tahun. Setelah beliau mengurus sendiri anaknya, ada hal besar yang sangat dirasakannya. Banyak sekali perubahan positif yang luar biasa dari si anak. Si ibu pun merasakan sendiri, dan merasa sedikit menyesal setelah paham bahwa ada beberapa hal yang missed di jiwa anaknya, ketika masa-masa ia bekerja.

Saya tidak mengatakan bahwa seorang wanita tidak seharusnya bekerja. Ini adalah sebuah pilihan masing-masing orang, tentu sudah dengan pertimbangan banyak hal. Namun, saya ingin pembaca memahami bahwa memang ini adalah faktanya. Suka atau tidak suka, percaya atau tidak.

Semua wanita memahami, bahwa ketiadaan waktu kita, ketiadaan kesempatan kita untuk mendampingi mereka, faktanya membuat sebuah lubang yang sangat besar di dalam jiwa. Tentu ada perbedaan yang pembaca harus bisa membedakan. Antara ibu bekerja, dan ibu tidak bekerja. Kemudian ibu yang bekerja tapi sepulang dari bekerja menyediakan waktu untuk anaknya, dengan ibu yang bekerja tetapi anak sudah tidur, tidak ada kesempatan ngobrol dengan anak karena kecapekan. Kenyataannya, sulit sekali untuk bisa menjadi ideal di tengah tuntutan dunia. Belum lagi, jika perbedaan tipis itu ditambah dengan adanya nanny, dan yang tidak.  Memang semua tidak jaminan. Yang jaminan hanya resikonya. Jelas, there is something missing in their soul in every choice that you take. Apakah itu membuat jejak? Pasti! Apakah itu bisa ‘sembuh’? Depend on you. Maybe yes, but in fact many problem can’t be cured.

Lalu bagaimana seharusnya menjadi orang tua? It’s a difficult thing to answer. Namun, kawan saya dan Room Teacher anak saya membagi beberapa saran, antara lain :

  1. Perkuat Bonding dengan Anak

Secara bahasa yang mudah dipahami, bonding adalah ikatan. Bonding ini harus dibuat, dibentuk, dan terus dibangun mulai anak masih belia hingga kapanpun juga. Bonding ini sifatnya luas, tidak hanya dengan orang tua sebenarnya. Namun, bonding yang paling kuat harus antara anak dengan orang tua. Bagaimana membangun bonding? Itulah hal yang selalu menjadi masalah klasik bagi para orang tua, karena sifatnya sederhana, tapi tak mudah untuk dilakukan.

Jika bonding tidak terbangun dengan baik, jangan selalu salahkan kenapa ada anak yang tidak patuh pada orang tua-nya? Kenapa ada anak yang nakal sekali? Kenapa ada anak yang juga tidak mau merawat orang tuanya di saat orang tuanya sudah tua? Apapun yang terjadi pada anak, tengok dulu bagaimana cara orang tuanya mendidik dan memperlakukannya.

  1. Belajar, Belajar, Belajar

Dunia saat ini sudah sedemikian luar biasa berkembang. Sangat jauh lebih cepat dibandingkan kemampuan kita untuk mem-filter-nya. Anak-anak berkembang di dunia yang membuat kecepatan, kecerdasan, dan keterampilan berpikir mereka sangat jauh melampaui orang tuanya yang hidup di masa beberapa dekade lalu. Sudah sangat jauh berubah!

Pertanyaannya, bagaimana orang tua akan menjaga anaknya tetap bisa di garis yang lurus, sementara ilmu dan kemampuan orang tua tidak terupdate dan terasah dengan tajam sesuai perkembangan jaman? Jawabnya, nol besar! Orang tua yang tidak mau belajar tidak akan menjadi apa-apa selain bulan-bulanan anaknya. Catet!

Lalu, ilmu apa saja yang harus orang tua pelajari? Bagi saya tidak ada pengkategorian ilmu, juga tidak ada ilmu yang basi. Belajar apa saja yang harus dilakukan untuk membawa orang tua pada tujuan membuat anak-anaknya bahagia, menemukan siapa jati dirinya, melakukan hal-hal yang disukainya, dan mensukseskan kehidupan masa depannya.

  1. Buatlah anak-anak bangga memiliki Anda sebagai orang tua

Kadang, seringkali ada kawan kita di masa sekolah yang akan mengatakan, “Ayahku kan hanya buruh tani.” HANYA! “Ibuku kan hanya pembantu rumah tangga.” HANYA! Kenapa anak bisa mengatakan bahwa ayah dan ibunya HANYA…? Agar terasa merendah…sorry, i don’t think so! Seorang anak wajib diberikan kebanggaan pada ayah dan ibunya. Apapun adanya, apapun keadaannya, orang tua harus bisa membuat anak bangga atas dirinya. Yang pasti, jika positif, banggalah!

Namun, kebanggaan itu ternyata tidak hanya bisa didapatkan dari cara berkata-kata. Seorang anak akan mampu merasa bangga pada orang tuanya, jika orang tuanya pun melakukan hal yang membanggakan untuk anaknya. Cara-cara sederhana sebenarnya sangat membantu, misalnya dengan mengajak anak terlibat dalam kegiatan orang tua, sehingga anak akan melihat bahwa ayah atau ibunya telah melakukan tugas yang luar biasa dan bermanfaat. Selain itu, usahakan bisa hadir dalam acara-acara sekolah anak. Sekali lagi, mudah. Tapi tak cukup mudah untuk dilakukan.

 4. Tarik! Anak Anda

Pengertian ‘tarik’ di sini adalah, sebagai orang tua kita harus memiliki semacam alarm yang digunakan untuk memberi peringatan pada diri sendiri, bahwa inilah saatnya Anda harus memberikan perhatian, pemahaman, dan penjelasan lebih kepada anak Anda. Saat dia sudah mulai menjauh atau bonding mulai memudar, maka Anda harus segera menariknya. Jangan sampai anak Anda terlalu jauh, sehingga sulit untuk dipegang, dan akhirnya terlepas. So, tarik! anak Anda.

  1. Konsisten

Konsisten, hanyalah satu kata, tetapi maknanya sangat mendalam dan tidak mudah untuk dilakukan. Konsisten lebih ke arah proses, yang itu akhirnya membutuhkan waktu, dan harus memberikan kesempatan untuk dilakukan secara terus menerus. Namun seperti juga, long-life learning, tidak ada waktu yang terputus untuk memberikan sebuah pembelajaran, begitu juga konsistensi. Bagaimana supaya bisa konsisten? Salah satu caranya adalah dengan mengingat tujuan akhir kenapa melakukannya.

Itulah sedikit yang bisa saya bagikan di sini, semoga memberikan manfaat dan another sight dalam hal pengasuhan untuk anak-anak Anda. Bagi saya, ibu dari anak saya,

Motherhood is…

A choice we make every day, to put someone else’s happiness

and well-being ahead of your own…

To teach the hard lesson…

To do the right things even when we’re not sure what the right thing is…

And…try to forgive ourself, over and over again,

for doing everything wrong…

 

Yess, and it’s still  the most magical day of my life

was the day I became a MOM…

Jiwa Dalam Kata (Part 2)

Lalu, bagaimana memberikan JIWA dalam tulisan?

IMG_7983

Nah, dalam dunia kepenulisan, kita tentu sering sekali mendengar istilah Show dan Tell. Atau Showing dan Telling. Apakah ada yang belum pernah mendengarnya?

Apakah itu, nanti coba kita bahas satu per satu. Namun sebelum kita membahas lebih lanjut, mari kategorikan dulu tulisan yang Anda tulis. Apakah FIKSI, NON FIKSI, atau FAKSI?

IMG_7984

Secara singkat, tulisan FIKSI adalah jenis tulisan yang berdasarkan khayalan atau imajinasi. Penulis bebas menggunakan imajinasinya untuk menggambarkan tokoh, dan peristiwa di tulisannya. Meskipun, kemungkinan untuk terjadi persamaan antara imajinasi penulis  dengan kenyataan bisa saja terjadi. Contoh tulisan fiksi antara lain, dongeng, fabel, cerpen, dan lain sebagainya.

Untuk NON FIKSI, secara singkat bisa saya tuliskan sebagai sebuah hasil riset. Tulisan non fiksi dibuat berdasarkan kenyataan, informasi, data, penelitian, ataupun fakta yang dipaparkan dalam tulisan. Data ataupun fakta yang dipaparkan bukanlah rekayasa, atau tambahan imajinasi dari penulis. Contoh Non Fiksi misalnya, artikel, resensi, dan reportase.

Selanjutnya ada satu lagi jenis tulisan yang semakin banyak digemari beberapa waktu terakhir, yaitu FAKSI. Faksi merupakan singkatan dari Fakta-Fiksi. Jenis tulisan ini memadukan dua jenis tulisan, yaitu Fiksi dan Non Fiksi. Lalu apa yang khas dari Faksi? Faksi biasanya merupakan tulisan yang dibuat berdasarkan kisah nyata, atau ada dasar faktanya, atau ada tempat, lokasi, tokoh yang memang nyata, tapi dibuat sebuah cerita hasil rekaan atau imajinasi penulisnya. Dalam bentuk Faksi, penulis diperbolehkan menuangkan imajinasi maupun tambahan detail lainnya untuk membuat cerita menjadi lebih menarik. Contohnya, buku Dan Brown : Da Vinci Code, Angel and Demon, kemudian karya Danielle Steel : No Greater Love tentang kisah cinta seusai tragedi kapal Titanic. Memang faksi bisa membuat pembaca sedikit kebingungan untuk menentukan ini fakta atau bukan dari sebuah kejadian yang terjadi.

Selanjutnya kita masuk kepada materi inti, yaitu SHOW dan TELL, atau SHOWING and TELLING.

Dalam kaitan dengan jenis tulisan Fiksi, Non Fiksi, dan Faksi diatas, maka meskipun tidak ada pakem yang menuliskan, tetapi kita bisa mengambil sebuah gambaran UMUM bahwa :

IMG_7985

Namun begini, sebenarnya teknik Showing juga bisa digunakan pada tulisan NON FIKSI. Misal, reportase. Maka reporter bisa saja menuliskan secara showing agar pembaca memperoleh gambaran yang jelas. Namun jika jenis karya merupakan penelitian, pemaparan data, akan lebih baik jika menggunakan telling karena tidak perlu menuliskan detail tentang gambaran keadaan.

Lalu apa sebenarnya SHOWING dan TELLING itu sendiri?

Secara singkat dan sederhana, SHOWING adalah :

IMG_7986

Sedangkan untuk TELLING akan lebih pada pemaparan lugas, tanpa menunjukkan deskripsi yang detail aatau jelas dalam gambaran situasinya. Untuk lebih jelas perbedaannya dengan Showing nanti setelah dicontohkan.

Dalam materi saya ini, akan saya jelaskan kenapa lebih baik menggunakan SHOWING untuk jenis tulisan FIKSI maupun FAKSI :

IMG_7987

Setelah tahu kenapa sebaiknya menggunakan showing di jenis tulisan anda, lalu kapan menggunakan showingnya?

IMG_7991

Dari sini kita tahu, bahwa tidak semua hal harus didetailkan atau dituliskan semua dengan showing. Selanjutnya, bagaimana menggunakan showing dalam naskah?

IMG_7990

Ada dua cara, yang pertama menggunakan Gestur, sedangkan yang kedua dengan melibatkan panca indera manusia.

Mari kita bahas untuk Gestur terlebih dahulu.

IMG_7992

Kita semua, dalam satu cara yang sama atau cara lain, mengirim pesan kecil kepada dunia. Kita menyampaikan pesan kepada dunia secara sadar maupun tidak sadar, melalui bahasa tubuh non-verbal. Misal :

  • Kita mengangkat satu alis saat tidak percaya.
  • Kita menggosok hidung ketika bingung.
  • Kita menyilangkan lengan kita untuk mengisolasi diri atau untuk melindungi diri kita sendiri
  • Kita mengangkat bahu saat tidak peduli, dan lain sebagainya.

Itulah yang kita sebut sebagai Gestur. Artinya suatu bentuk komunikasi non-verbal dengan aksi tubuh yang terlihat mengkomunikasikan pesan-pesan tertentu, baik sebagai pengganti wicara, atau bersamaan dengan kata-kata. Gestur mengikutkan gerakan dari tangan, wajah, atau bagian lain dari tubuh.

Setelah itu, apa tujuan penggunaan gestur dalam naskah?

IMG_8015

  1. Gestur bisa menyelaraskan dialog

➡️ Ayahku berhenti membaca sejenak dan berjalan untuk membukakan pintu dengan kaki terseret.

➡️ Ayahku mengangkat kepalanya, dan menoleh. Bangkit dari kursi yang didudukinya sejak satu jam yang lalu, sambil tetap menenteng koran yang baru datang pagi ini. Jalannya agak terseret, rupanya merasa kesemutan setelah satu jam berdiam. Diputarnya gagang kunci ke kiri dua kali, dan akhirnya terbukalah pintu itu.

➡️ Dari pemaparan gestur diatas, kita tahu lebih detail bagaimana perasaan tokoh ayah saat akan membuka pintu.

  1. Gestur bisa membuat karakter tokoh menjadi lebih berkarakter, atau jelas terlihat karakternya.

➡️ Dia tersenyum pada musuhnya

➡️ Wajahnya tersenyum seperti seorang singa yang kelaparan melihat mangsa.

  1. Cara terbaik menunjukkan emosi karakter adalah dengan memunculkan gestur dari benda-benda di sekitar kejadian.

➡️ Dia marah karena bunganya rusak terkena bola.

➡️ Matanya melotot ke arah anak-anak kecil yang sejak tadi bermain bola di depan rumah. Bola itu melesat jauh hingga menerjang ke dalam tamannya. Bunganya pun rusak terkena hempasan bola yang ditendang.

  1. Gestur akan membantu membuat dialog yang multifungsi.

➡ Contoh dialog tanpa gestur :

“Aku pergi dulu, Ma.”

“Pulang jam berapa?” tanya Mama.

“Mungkin malam,” jawabku.

➡ Contoh setelah menggunakan gestur :

“Aku pergi dulu, Ma,” kataku sambil membenarkan engsel pintu yang terlepas.  Mama menahan tanganku. “Pulang jam berapa?” Keningnya mengernyit, membuat kerutan di sekitar dahi dan matanya terlihat. Aku menarik napas. “Mungkin malam,” Kulepaskan pegangan tangan Mama.

Setelah mendapatkan gambaran tentang gestur, maka selanjutnya kita bahas tentang Panca Indera :

IMG_7993

Panca, artinya lima. Sedangkan in·dra1 (n) adalah alat untuk merasa, mencium bau, mendengar, melihat, meraba, dan merasakan sesuatu secara naluri (intuitif). Sehingga panca indera artinya lima alat yang digunakan untuk merasa, mencium bau, mendengar, melihat, meraba, dan merasakan sesuatu secara naluri (intuitif).

Ada pun untuk indera keenam, bisa juga dimasukkan dan didefinisikan sebagai indera untuk menangkap informasi tentang dunia sekitar yang tidak bisa diperoleh dengan indera biasa. Dalam bahasa inggris, indera keenam dikenal dengan istilah sixth sense. Adapun dalam istilah teknis parapsikologi, indera keenam dikenal dengan istilah extra sensory perception atau disingkat ESP. Namun, indera keenam ini tidak bisa dijelaskan secara ilmiah, sehingga dianggap tidak ada, dan hanya biasanya disebutkan Panca Indera. Meskipun dalam penulisan naskah boleh saja menyertakan keterlibatan indera keenam di dalam tulisan.

Setelah memahami tentang indera manusia yang bisa dilibatkan dalam naskah atau tulisan, maka selanjutnya bagaimana cara untuk melibatkannya?

IMG_8018

Pada intinya, melibatkan indera manusia untuk menggambarkan keadaan yang ingin ditunjukkan penulis.

  • Apa yang dilihat oleh matanya?
  • Apa yang didengar oleh telinganya?
  • Apa yang dicium oleh hidungnya?
  • Apa yang dirasakan oleh kulitnya?
  • Apa yang dikecap oleh lidahnya?
  • Apa yang dirasakan oleh perasaan/instingnya?

Untuk bisa mengenali perbedaannya, bisa langsung nanti kita simak di contoh showing.

IMG_8016

  • TELLING
  1. Pelukis itu berambut coklat dan membawa dua buah kuas di dalam tas kecil
  2. Meja itu pendek dan lapuk kayunya
  3. Garam itu tumpah tersenggol tangan Karin
  • SHOWING
  1. Lelaki pencemberut itu membersihkan sisa cat yang menempel di lengan kemejanya. Dengusan nafasnya yang keras membangunkan kucing hitam yang sejak siang tadi berbaring malas di dekat kaki jendela lukis. Aroma hambar musim panas tercium seketika. Dilihatnya langit masih bermatahari, menjelang pukul enam petang.
  2. Jody buru-buru menaruh kursi tanpa punggung di samping meja sebelum panci sop mendarat mulus di sana. Ariel menatapnya gemas, tapi mulutnya urung protes begitu melihat kayu-kayu berongga dengan beberapa rayap menguasai jajahan mereka dengan rakus.
  3. Terlambat, bubuk-bubuk putih itu telanjur berserakan di lantai bahkan di atas sandal jepitnya sendiri. Mukanya langsung menunduk dalam-dalam. Pasti halilintar akan pecah lagi. Memarnya belum pulih dan ibu kepala seperti raksasa kelaparan dengan pelototannya itu. Pasti, pasti akan dipukuli lagi. Kali ini karena sikunya menyenggol wadah garam.

Di akhir materi, bagaimana kesimpulan dari materi Show and Tell ini? Apa perbedaan dari Showing dan Telling yang telah dijelaskan melalui contoh-contoh di atas?

IMG_8003

  • TELLING

➡Relatif mudah, dan siapapun bisa menuliskan sehingga membentuk banyak paragraf

➡Jika digunakan untuk jenis tulisan non fiksi, memang lebih baik menggunakan telling. Yaitu berupa pemaparan hasil analisis, pemaparan data dan masalah, hingga sampai pada kesimpulan yg didapatkan.

  • SHOWING

➡Dijelaskan dengan detail, melibatkan indera manusia, mulai apa yang dilihat mata, apa yang didengar oleh telinga, dan apa yang dirasakan oleh perasaannya.

Showing membuat kalimatnya menjadi panjang. Penulis membutuhkan kreativitas dan pengembangan imajinasi yang luas untuk mengembangkan idenya.

Showing mampu membuat suasana lebih terasa bagi pembaca. Seolah bisa ikut masuk ke dalam cerita dan menjadi salah satu tokohnya. Itulah kenapa ada tokoh yang bisa sangat hidup dalam ingatan seorang pembaca, atau bisa membuat pembaca seolah tersihir oleh pesonanya.

Akhir kata, saya ucapkan terima kasih atas kesempatan yang diberikan dan mohon maaf jika ada kekurangan.

Terakhir, bagi saya pribadi,

IMG_8019

Sumber tulisan :

✍🏻 http://www.tapakrantau.com/show-dont-tell

✍🏻 http://www.kbbi.web.id

✍🏻 http://www.gurukita.com

✍🏻 http://www.membacatanpabatas.blogspot.co.id

✍🏻 http://www.elitasuratmi.wordpress.com

 

Jiwa Dalam Kata (part 1)

JIWA DALAM KATA (Materi KOUF)

Oleh : Yuniar Ardhistikarini (Squad 10)

 2 Februari 2018

Selamat malam, teman-teman Squad 10 yang saya banggakan. Kali ini saya berkesempatan untuk mengisi KOUF Squad terlebih dulu. Materi saya bertemakan Showing, Telling. Atau ataukah Dan? Dengan judul  : Jiwa Dalam Kata.

IMG_7973

Sebelum membahas materi ini lebih jauh, mari kita tanyakan dulu kepada diri sendiri :

IMG_7974

Apakah diantara teman-teman sudah ada yang tahu dengan yakin, apa alasan Anda menulis? Alasan ini bukan hanya alasan, tetapi justru yang akan menentukan langkah kita selanjutnya. Maka, kita wajib menemukan apa alasan yang melandasi keinginan kita untuk menulis saat ini. Lalu bagaimana jika belum menemukan? Ya, temukan dulu! Hanya dengan itu Anda bisa memahami keinginan Anda yang sebenarnya.

Mari kita lihat, apakah salah satu alasan Anda menulis ada di sini ?

IMG_7977

Apakah ada salah satu alasan anda menulis di sini? Jika tidak, mungkin bisa anda sebutkan? Jika ada, good! Anda mulai tahu apa yang harus Anda lakukan setelah ini. Lalu, bagaimana jika semua alasan Anda adalah yang tertulis di situ? It’s OK, bagus! Apapun alasan Anda, jadikan dia seperti ini :

IMG_7978

Cintai alasan Anda, dan jadikan dia MOTIVASI!

Setiap alasan yang Anda tulis, adalah keinginan Anda, harapan Anda, dan mimpi Anda. Maka, sungguh sangat luar biasa manfaatnya jika segala alasan itu bisa Anda ramu menjadi sebuah motivasi. Ayo, jika begitu, mari kita rumuskan motivasi kita agar lebih terarah.

IMG_7980

Setelah anda dapatkan alasan Anda, lalu menjadikannya motivasi, sekarang mari rumuskan, apakah motivasi yang anda miliki untuk menulis adalah untuk diri sendiri, atau untuk orang lain? Untuk diri sendiri, misal menyembuhkan luka, mengontrol emosi lebih baik, membuat diri sendiri lebih produktif. Sedangkan motivasi untuk orang lain, misalnya ingin sharing pengalaman, ingin bermanfaat untuk orang lain, dan lain sebagainya. Lalu apakah boleh motivasi itu ditujukan untuk keduanya? Orang lain dan diri sendiri. Boleh! Good Job.

IMG_7981

Sekarang Anda telah memiliki sebuah motivasi, baik untuk diri sendiri maupun orang lain, maupun keduanya. Pertanyaan selanjutnya, untuk apa kita butuh memiliki motivasi bagi diri sendiri dan orang lain? Apa yang akan kita capai dari motivasi itu. Ada yang bisa menjawab?

Baik, begini…

Motivasi adalah sebuah dorongan dari dalam diri setiap orang untuk bisa melakukan hal-hal di luar dirinya, agar bisa mencapai sebuah tujuan. Dalam proses penyaluran dorongan dari dalam diri, hingga kepada tujuan, tentu ada PESAN yang dibawa. Pesan itulah yang membawa diri sendiri untuk tetap fokus dan selalu in line dengan tujuan.

Dalam dunia tulis menulis, pesan tersebut dibawa oleh KATA. Kekuatan seorang penulis bukanlah dari ototnya, atau mulutnya, tapi melalui setiap kata yang ia tuliskan. Kekuatan kata menjadi senjata dan ujung tombak sebuah keputusan dari hasil pemikiran sang penulis. Untuk itulah, setiap kata harus bermakna.

IMG_7982

Mari kita berikan soul (jiwa) kepada setiap kata yang kita tuliskan, sehingga mampu membuat tulisan kita, HIDUP!

Tapi…..kenapa KATA? Bukan kalimat…? Bukankah kata bisa saja tidak akan menjadi bermakna jika tidak disusun secara ‘apik’ menjadi kalimat?

Bagi saya, pernyataan tersebut tidak salah, hanya saja saya mengambil unsur mendasar dari sebuah kalimat adalah KATA. Itulah mengapa ada kalimat yang hanya membutuhkan sedikit saja kalimat, tetapi jika disusun sangat efektif, bisa memberikan pengaruh yang luar biasa. Itulah juga mengapa ada istilah diksi, yang artinya adalah pilihan kata. Bukan pilihan kalimat. Jadi menurut saya, kekuatan yang paling mendasar ada pada KATA. Bayangkan jika kita mampu memberikan ‘ruh’ pada setiap KATA yang kita tuliskan, kita pilih kata yang powerfull, maka akan mampu tercipta sebuah kalimat yang luar biasa. Sebagai penulis, itulah kekuatan kita.

(bersambung)

Ya Sudahlah….

Praaakkkk… Suara jatuh itu membangunkan diriku yang tengah tertidur lelap. Ternyata aku sejak tadi tidur di sofa ruang tamu. Baru kusadari setelah aku bangun, dan mendapati diriku yang terbaring dengan tangan kanan menjuntai ke lantai.

Ku tepukkan tanganku di dada, dan perut, tak ku temukan handphone yang ku rasa sejak tadi kupegang. Akhirnya aku bangkit, dan kucari ia di balik-balik bantal dan selempitan, tapi tak kutemukan. Lalu kusapukan pandanganku ke sekeliling, tampaklah ia tergeletak di ujung sana.

“Aduhh, jatuh lagi!” gumamku kesal sambil kupungut dia dan kuelus-elus layarnya sambil masih berdiri.

Saat ku cek apakah bisa nyala, “Haaaaaahhhh..?? Ohhhh, Myyyyyy Goddddd!!!” ucapku kaget pada angka waktu yang tertera besar di tengah layar handphone.

Ternyata di layar menunjukkan waktu sudah lewat tengah malam. “Astagaaa, ini beneran jam 01.30 ya?? Aduhh, aku belum setor tulisan untuk DWC, huhuhu..matiikkk!!”

Aku pun langsung terduduk lemas, tak tahu harus bagaimana menghadapi moment itu. Kubaringkan kembali kepalaku, dan sekilas kuingat beberapa nama berjalan di pikiran.

Kak Butet, Kak Yulia, Bu Muhib, Kak Siti, Kak Dila, Kak Desi, Kak Yoga… Aduh! bagaimana aku harus menghadapi mereka, ya Tuhaaaann! Batinku menyeru.

Rasanya benar-benar ditampar menggunakan sekop pasir yang besar itu. Blenggg! Kacau semua pikiran, berhenti sejenak tak bisa aku pikirkan hal lain apapun.

Dengan tangan yang masih gemetar, kucoba untuk membuka grup Squad 10 di Whatsapp-ku. Sungguh, tak berani rasanya aku menghadapi mereka. Aku bayangkan wajah-wajah yang kecewa sedang memandangku dari balik layar-layar ponsel yang mereka genggam.

Maafkan aku, Ibu..

Maafkan aku, Kak..

Sungguh… Aku benar-benar menyesal, dan merasa bersalah pada kalian…

Tak ada lagi kata-kata yang bisa aku ucapkan, selain maaf…

Meskipun itu tidak cukup, aku tahu…

Akhirnya ku beranikan diri untuk menuliskan kata di grup, “Kakak… Saya belum setor tulisan untuk hari ini. Maaf… Gimana ya, apakah masih bisa tetap hijau ladang kita?” ucapku menyapa teman-teman yang ternyata masih sibuk chatting di chatroom.

Sambil menunggu jawaban atas pertanyaanku, aku sempatkan untuk membaca historical chat di atasnya. Ternyata setelah aku telisik, teman-teman sempat kebingungan mencari link setoran tulisanku, di critical limit waktu hingga pukul 23.59.

“Gak ada, kak Yuniar belum setor link”, ucap kak Yulia saat itu.

“Oh iya ya, coba aku cek ke blog-nya,” jawab kak Butet menulis di Chatroom.

Yaa Alloh..aku merasa sangat bersalah. Kok aku bisa tidur sih, tadi? Kapan aku tidur? Aku ingat hanya ingin cek handpone sebelum lanjut nulis naskah kembali.

Ya Allah, tidak bisa diubah lagi, huhuhu..

Sejenak muncul notif chat baru, Kak Butet… Mataku membaca tulisan yang muncul di pop-up notifikasi. “Iya kak, jadi agak kuning sedikit. Nanti jadi kayak Squad 8,” tulisnya sambil meng-upload gambar kondisi ‘ladang’ Squad 10 di Empire.

Bleengggg, berasa ditampar lagi di wajahku.

Gilaaaakkkk!!! Gagal! Gagal!! Gagal kami jadi Squad yang sempurna ladangnya, hijaaaauuu sampai 20 hari ke depan! Dan ini gara-gara, akuuuuu… Pikiranku semakin menggila malam itu.

“Maafffff, kak… maaaffff… so so so sorryyyyy sorryyyyreally sorryyyy…” ucapku penuh penyesalan dari dalam hati. Tak ada lagi yang bisa kulakukan selain meminta maaf. Seraya kusetorku link tulisanku di daftar rekap tulisan yang biasa dishare di grup.

Luar biasa!! Beruntung punya teman-teman di Squad 10. Respon teman-teman justru lah yang menenangkan saya.

“Sudah, gak pa pa, kak…” begitu kalimat yang saya baca. Juga saat Our Guardian, Bu Muhib, merespon dengan “Gak apa-apa, kan gak sengaja. Jangan kendor semangat ya…” begitu komentarnya. Saya, dengan pandangan tertunduk seorang anak yang sangat menyesali kesalahannya, hanya bisa menjawab, “Baik, Bu..”

***

Sesungguhnya, yang membuat saya menyesal bukannya saya kehilangan satu poin dalam kesempatan ini, tetapi saya telah mengecewakan anggota Squad kami. Saya, adalah anggota yang selalu mengobarkan semangat untuk jangan sampai tidak setor tulisan. Jangan sampai kehilangan kesempatan. Jangan sampai membuat ‘ladang’ grup menjadi kuning, apalagi merah!

Setiap kali ada diantara anggota squad yang belum setor di waktu-waktu terakhir, saya kirimkan pesan ke nomor yang bersangkutan untuk jangan sampai terlambat setor. Saya pun selalu berusaha secepat-cepatnya setor tulisan di hari yang sama. Semua ingin saya kondisikan dengan yang seharusnya. Tapi kini, saya kalah! Saya kalah di luar kontrol saya. Saya kalah, di luar rencana yang saya persiapkan sebelumnya. Wow!

Inilah yang saya sebut sebagai takdir. Ada rencana Tuhan yang tak bisa kita lawan. Ada kehendak Tuhan yang tak bisa kita atur sesuai yang kita inginkan. Dan saya menyerah, dalam hal ini. Saya menyadari, dalam hidup ini memang ada hal-hal yang tak bisa kita atur. Sesungguhnya semua adalah misteri, yang tak bisa kita prediksi.

Lalu bagaimana saya setelah ini?

Terpuruk? Tidak. Kecewa, mungkin iya! Tapi nasi sudah menjadi bubur, tak mungkin saya ulang lagi waktu yang telah berlalu. Mungkin Alloh ingin saya belajar sesuatu, menerima. Tak semuanya bisa seperti harapan yang diimpikan. Ada Dia, yang paling berkuasa atas segala sesuatu, di setiap hitungan waktu.

(Terlihat) Kuat

”Mama…Nara gak mau les..masih mau main sepeda sama Steven…” rengek anakku di suatu sore yang masih agak panas.

Cuaca hari ini memang agak berbeda dari biasanya. Panas sekali, serasa bisa membakar kulit. Hari ini Rabu, tengah minggu, biasanya aku mengantar anakku untuk les lego di Jalan Pondok Bambu.

Namun, ya seperti itulah yang terjadi. Anakku, laki-laki, usia empat tahunan, belum bisa memahami kenapa dia harus menyudahi permainannya sore itu.

“No, Nara…You have to go…Today is Wednesday, so you know what you have to do, boy…?” Kucoba untuk mengajaknya pulang sambil mengarahkan sepedanya ke rumah.

Tapi anakku menolaknya dengan keras, “No! No! I won’t to go there! It’s boring..” teriaknya membuatnya Steven kawannya menoleh kaget.

Tak bisa membujuk anakku, akhirnya aku coba untuk membujuk Steven. “Steven, can you help me, please…?” bujukku sambil memandang dan mendekatinya. Steven mengangguk pelan, paham akan maksudku. “Steven, bisakah kamu bilang pada Nara…It’s OK Nara..nanti kita main bersama lagi setelah kamu pulang dari les…”

Ya, usia anakku memang masih sangat kecil. Belum cukup untuk bisa memahami apa itu les, mengapa harus masuk les, dan apa manfaat yang didapat saat ikut les. Sebetulnya aku pun bukan tanpa keraguan dan kekhawatiran saat akan mengikutkan dia ke lego course ini. Awalnya akupun ragu pada pilihan yang kuambil. Mampukah dia mengikuti materinya? Apakah ini baik untuk jiwanya jika aku sedikit memaksa? Banyak sekali beban pikiran yang menggelayut di kalbuku.

“Mama…gak mau les..kan main sepedanya belum selesai…” rajuk anakku lagi sambil menyatukan kedua tangannya dan memasang ekspresi please. Membuatku membuyarkan sejenak lamunan.

“Nara sayang, listen to me..dengarkan mama, nak…Jika hari ini kamu gak masuk les lego, nanti siapa yang akan membangun gedung yang tinggi itu? Kan kemarin gedungnya sudah terbangun sebagian…Masih inget gak? Sudah pakai crane kan? Hari ini mungkin kita akan diajak memasang atapnya. Hmm seru sekali ini tampaknya…” Kucoba lagi untuk mencari alasan yang masuk akal agar anakku bersedia mengubah pendiriannya.

“Yaa…tapi kan Nara mainnya belum selesai. Besok saja lesnya, maa..” Anakku masih juga tidak berubah pikiran.

Aku berpikir ulang, “Aduhh…alasan apa lagi ya? Apa iya, aku rescedule aja?” Melihat mata anakku rasanya aku pun tak sanggup untuk tidak memenuhi keinginannya. Sering sekali hal-hal seperti ini terjadi saat menghadapinya.

Tapi kucoba berpikir kembali, “Benarkah yang kulakukan, jika aku mengajarkannya untuk tidak mengikuti jadwal yang telah kami sepakati di awal? Dia memang masih kecil, dia memang belum paham, tetapi memahami adalah proses yang harus diajarkan sejak dini. Bagaimana bisa yakin membuatnya menjadi anak yang bertanggung jawab, jika tidak sedari kecil kita ajarkan bentuk tanggung jawab itu sendiri. Ada hal-hal yang harus kita lakukan, ada hal-hal yang harus kita selesaikan sesuai waktunya. Kadang, hal-hal itu memang tidak kita suka. Dia datang di saat yang tidak tepat bagi kita, tapi itulah arti tanggung jawab yang sesungguhnya.” Bisik batinku mengingatkan.

“Nara, tampaknya sudah ditunggu Kak Nita di sana. Kita sebentar saja lesnya. Hanya sebentar. Setelah itu kita main sepeda lagi. Mama janji, nanti kita naik sepeda keliling kompleks ya…” Akhirnya kuputuskan bagaimanapun caranya, anakku tetap harus berangkat les sore ini.

Mendengar janjiku, tampaknya ia tergoda. “Bener ya maa, janji untuk nanti naik sepeda keliling kompleks…” ucapnya untuk menekanku dengan mengulang janji yang kukatakan.

Senyumku mengembang, “Yessss!! Berhasil!” Kukedipkan sebelah mata sambil kuulurkan jari kelingking. Meminta tautan dengan jari kelingkingnya, sebagai tanda bahwa ada janji antara kami berdua.

Bergegas kami berangkat, dan ternyata Kak Nita sudah menunggu dengan senyumnya yang menyejukkan.

“Hai Nara, sore…sudah ditunggu Kak Puspa ya di dalam. Yukkk kita masuk yukk…Mami biar aja menunggu di sini ya…Nara banyak temannya kok di dalam. ”  Ucap Kak Nita ramah.

Sudah lebih dari tiga bulan sejak kelas lego ini dimulai. Selama itu pula, aku selalu berkata, “Nara..keep fighting! I know you can do everything that you want to be…” Selalu kubisikkan kata-kata itu di telinganya. Aku ingin anakku belajar, bahwa dia adalah leader bagi dirinya sendiri. “Percayalah pada diri sendiri, Nara…Kau bisa terbang lebih tinggi dari yang dirimu sendiri bayangkan,” batinku, sambil menunjukkan jempol ibu jari padanya. Wajahnya memandangku dengan senyum kecilnya.

Kukeluarkan ponsel dari saku. “Saatnya me time sebentar, cek whatsapp dulu deh, banyak banget pesan yang masuk…” Sambil kusandarkan kepala ke sofa tempatku menunggu. Tiba-tiba, tanpa sengaja mataku tertuju pada pengumuman yang ditempel di papan sterofoam warna hijau. “Ikuti! Lego Competition, batch 1. Tanggal 12 Oktober 2017”. Kuhampiri papan tempel pengumuman itu, “Mbak Nita…ini apa ya? Lomba? Anak-anak sini akan diikutkan lomba juga kah?” tanyaku penasaran.

“Oh iyaa, Mami…kami baru pasang pengumumannya pagi ini. Jadi nanti, kami akan mengadakan kompetisi lego. Dibuka untuk umum Mam…Anak-anak di sini juga boleh ikut. Akan dibuat kelas latihan juga nanti. Untuk seusia Nara nanti lombanya boleh didampingi oleh maminya. Jadi yang dinilai adalah speednya. Bagaimana si anak mampu menyelesaikan tantangan building challenge yang diberikan oleh kami dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.”  Jelas Kak Nita, menerangkan isi dari pengumuman itu.

“Oke Mbak, lalu Nara bagaimana ya? Apakah bisa daftar dan ikut kelas latihan?” tanyaku yang mulai bersemangat untuk mengajak anakku mengikuti lomba itu.

“Bisa Mam, sebentar bisa saya daftar sekarang…” ucap Kak Nita sambil mencari formulir pendaftaran di lacinya.

“Ohh..wait Mbak Nita, tunggu dulu…Nanti saya tanya Nara dulu ya, yang mau lomba kan Nara. Mau atau tidak nanti dia saja yang putuskan.” Cegahku dengan cepat sebelum ia menggoreskan pena.

“Ohh…iya betul. Baiklah, Mam…” ucapnya sambil tertawa malu.

***

Satu jam berlalu tanpa terasa, beberapa chat penting sudah kubalas. Sekarang tinggal menunggu anakku untuk keluar dari ruangan.

“Mamaaaaa…Nara udah selesai…” teriaknya riang begitu keluar dari ruangan di ujung sana.

“Hai, Sayang…Sudah selesai ya…? Gimana, menyenangkan build lego-nya?” tanyaku saat dia memelukku.

“Iyaaa…keren bangeettt tadi maa…Nara bisa bikin apartemen. Apartemennya ada kolam renangnya, dan ada pohon-pohonnya juga, lho!” ceritanya dengan sangat bersemangat.

“Waaahhh gooodddd jooobbb! Ehhh…Nara mau ikut lomba bangun rumah atau gedung lagi gak? Sama seperti yang Nara lakukan hari ini, tetapi harus lebih cepat karena ada waktunya. Gimana, mau gak?” bujukku, agar dia mau ikut dalam kompetisi itu bulan depan.

Ia pun menoleh ke arah Kak Nita. Matanya menyorotkan tanda tanya. Kak Nita tersenyum manis sambil mengangguk. “Iyaa..Nara ikut yaa..banyak temannya mau ikut juga lho!” ajaknya.

Nara memalingkan wajahnya dan menatapku. Ekspresinya menunjukkan bahwa dia ingin ambil bagian di situ. Akupun mengangguk setuju, sambil kupegang kedua bahunya.

“Mau…?” tanyaku.

“Iya maa, mau…” jawabnya.

“Baik Kak Nita, mohon bantuan untuk didaftarkan ya…” pintaku, merespon jawaban Nara.

“Baik mam, langsung saya daftar sekarang..” jawabnya tak kalah bersemangat.

***

Seminggu, dua minggu, kami latihan guna mempersiapkan diri dalam perlombaan. Nara mulai menemukan pola yang dia rasa nyaman. Dalam lomba ini, orang tua hanya berperan sebagai pihak pengarah saja. Tidak diperbolehkan untuk memegang legonya, apalagi memasangkan. Tentu sanksinya adalah didiskualifikasi dari lomba.

Waktu perlombaan yang ditunggu akhirnya tiba. Bertempat di lantai dasar sebuah mall terbesar di kota kami, suasana riuh sekali, mulai tahap pendaftaran hingga tahap pengambilan souvenir kotak pensil kecil. Satu jam menunggu, akhirnya lomba dimulai. Kami pun sudah bersiap di tempat yang ditentukan, dengan nomor peserta 10. Itu artinya giliran kami segera tiba. Begitu peluit ditiupkan sebagai tanda dimulainya waktu perhitungan, aku dan Nara sudah sibuk dengan konsep dan strategi lego kami saat latihan.

“Ayo, Nara..yaa betul..itu ambil yang yellow square. Good! Next yang green..Yess! Go! Go! Go! Nara.” Begitu aku selalu menjadi yang terdepan dalam menyemangatinya.

“Ehhh..jangan yang itu dulu..Belum, belum..yang biru dulu pasangnya. Nahh yakk, betul. Cepettt, pasang langsung di atas. Awas pegangin yang sebelah kiri, nanti ambruk!” seruku sangat bersemangat. Menang, kami bertekad menang. Agar kerja keras ini semua terbayarkan.

Dalam sekejap saja, tampaknya Nara sudah tangkas menyusun balok-balok lego itu sesuai dengan gambar petunjuk. Wooww! Luar biasa! Tanpa aku banyak memberikan arahan, Nara sudah mampu menyelesaikannya. “DONE!“ Begitu kami diminta berteriak sebagai tanda selesai.

“Yeaayyy!! Good job, Nara!” seruku sambil mengajaknya ber-high five dengan semangat. Nara tersenyum puas sambil sesekali melirik ke arah legonya yang sudah tersusun membentuk rumah. Kulayangkan pandanganku pada ayahnya yang sejak tadi bertugas mengambil video dokumentasi.

“Nara…anak papa, kamu hebat nak! Papa bangga sama kamu…” sambut ayahnya yang datang untuk memeluknya.

“Paaaa…Nara bisaaa, paaaa…Gak dibantu mama lho tadi, paa…” ucap anakku berapi-api.

“Oh yaa, good Nak…i’m proud of  you, Champ..” Begitu Ayah sering memanggilnya.

Nara tersenyum bangga dan bahagia atas pencapaiannya hari itu.

“Untuk pengumuman juara, akan diumumkan pada pukul 14.00 siang ini. Mohon bapak dan ibu, juga adik-adik sekalian untuk menunggu di sekitar area lomba ya…” seru panitia dari atas panggung.

“Ya sudah, mari kita makan siang dulu yaa…nanti kita balik kesini lagi sebelum jam dua.” ajak ayahnya.

***

Waktu pengumuman pun tiba. Kami bertiga sudah siap menunggu pengumuman juara. Feeling berkata rasanya akan mendapatkan salah satu dari piala di meja. Kulihat ayahnya sudah menatap ke arah panggung dengan harap-harap cemas, siapa yang akan membawa pulang piala-piala itu. Anakku pun sudah bersemangat sekali, mungkin batinnya, “Akan kubawa pulang piala paling besar itu.”

Akhirnya panitia mulai membacakan daftar para pemenang.

“Ya, bapak, ibu, dan adik-adik, mari kita sambut para juara dari Lego Competition hari ini. Bagi yang saya panggil namanya, dimohon untuk maju ke depan sambil membawa kertas nomor pesertanya, yaa..” seru kakak panitia dari atas panggung menghentikan keriuhan dari counter penjualan lego di ujung.

“Oke langsung saja yaa, juara ketiga…diraih oleh…Putri Zaskia Idris, dengan catatan waktu 3 menit 18 detik. Silakan maju ke depan.” Kulirik anakku sekilas, ekspresinya sedikit berubah. Aku pun mulai tidak tenang.

“Selanjutnya, juara kedua diraih oleh Bryan Zapelin Woyle dengan catatan waktu 3 menit lebih 2 detik. Silakan maju ke panggung ya, Bryan…” seru panitia dengan lantang. Mulai kulirik ayahnya. Pandangan kami bertemu, mengisyaratkan hal yang sama. Khawatir pada perasaan anaknya jika tidak berhasil membawa pulang salah satu piala.

“Dan….akhirnya, juara pertama, yang paling ditunggu-tunggu nih,” kupandang wajahnya yang sudah mulai pupus harapan. “Mama…Nara mau piala itu, Maa…” bisiknya kepadaku. Aku tak sanggup berkata lebih, selain “Iya, Nak…sabar dulu ya…” padahal hatiku pun berkecamuk berbagai perasaan. Sebenarnya aku tak mampu menanggung rasa, jika ternyata anakku bukanlah pemenangnya. Tapi aku harus terlihat kuat, untuk membantunya menjadi kuat menghadapi kenyataan, yang kadang berjalan tak sesuai dengan harapan.

“……Prabu Digta Utama, yeaaaayyyy!!! dengan catatan waktu paling cepat, 2 menit 37 detik. Silakan maju Digta, kamu hebat!!” seru pembaca pengumuman sangat lantang hingga suaranya terdengar sampai ke luar ruangan.

Seketika pecahlah tangis anakku. Ia kalungkan tangannya ke leherku, lalu memelukku dengan sangat erat. Erat pelukannya pasti sedalam perasaan kecewanya. Sungguh, sejujurnya aku pun tak kuat untuk berpura-pura menjadi kuat. Tak bisa juga aku menutupi rasa sedih hatiku. Bukan, bukan aku sedih karena kecewa pada anakku, tapi aku sedih melihatnya begitu kecewa pada dirinya sendiri, yang serasa tidak mampu. Aku sungguh ingin memberikan piala itu sebagai hadiahnya, tapi itu tak mungkin. Piala itu bukan milik kami.

Kupandang wajah suamiku, matanya berkaca-kaca. Tapi ia juga berusaha untuk menahan tangisnya. Aku tahu, pasti hatinya pun teriris, lukanya pasti perih. Baru kini aku menyadari, ada jenis luka yang lebih sakit daripada ditinggal kekasih. Kelak kau pun akan menyadarinya, anakku…

***

“……..and the champion is from Indonesia Team, Garuda! Congratulation…! Welcome Habib, Tony, Nara, and Sigit. Please go upstage for accept your thropy and a few simple celebrations.”  Teriak panitia First Lego League International Lego Championship 2030 – World Class yang diselenggarakan di Rhode Island, United States.

“Huaaaaa….Yeaaaayyyyy!!! Naraaa, kamu kereeennnnn!!” Spontan aku dan ayahnya langsung berdiri, berteriak keras, dan mengibarkan bendera Indonesia kami tinggi-tinggi.

Tiga belas tahun berlalu sejak rasa sakit itu…Kini kami ikut berada di sini. Tetap di barisan terdepan sebagai pendukungmu. Dulu, boleh saja dirimu merasa gagal total. Tak mampu untuk mempercayai diri sendiri lagi. Perjuangan seolah sia-sia, tanpa makna. Tapi lihatlah setelah belasan tahun ke depan, apa yang terjadi?

Kami melihatmu berdiri bangga di sana. Berjuang atas nama bangsa, mengibarkan bendera Indonesia di ajang kompetisi Internasional kelas dunia. Orang tua mana yang tak bangga, melihat anaknya berdiri mengangkat thropy kemenangannya?

Ternyata, kenyataan pahit itulah yang justru membuatmu berada disini. Ternyata, rasa sakit tidak sepenuhnya membunuh jiwa, tapi justru mampu menyembuhkannya. Saat engkau temukan dimana titik baliknya, maka bisa kau bakar habis rasa sakitmu, tanpa sisa. Mungkin saja sekarang kita kalah, tapi masa depan harus tetap diperjuangkan tanpa lelah.

Kami, ayah dan ibumu…adalah pihak pertama yang paling kuat mendukung perjuanganmu. Jangan sangka kami tak takut, jangan sangka kami selalu yakin. Sering sekali kami berdebat, juga bertengkar dengan nurani sendiri. Seperti yang kulakukan dulu, di sore itu…

Kadang, orang tua memang harus sedikit memaksa di awalnya. Bukan tanpa pertimbangan dia memilihkan sesuatu untukmu. Justru di usia belia inilah, peran orang tua sangat ditunggu. Jika nanti telah dewasa, pilihlah mana yang kau suka dan tidak suka. Akan datang waktu, dimana engkau sendiri yang akan tentukan jalanmu. Tapi sekarang, jalani dulu prosesnya, belajarlah dari pengalaman yang engkau terima. Siapa tahu, ternyata engkau mahir disana. Ada bakat terpendam yang baru kau temukan setelah mencobanya. Tentu saja, tak akan ada hari ini, tanpa hari itu…

Selama ini, kami berjuang mengalahkan diri sendiri, demi kamu. Kami hanya berusaha selalu (terlihat) kuat dimatamu, anakku…Hingga suatu hari, engkau temukan sendiri kekuatanmu…

Maze Runner – The Death Cure (Sebuah Review)

P

Judul Film : Maze Runner – The Death Cure

Tanggal Rilis : 24 Januari 2018

Genre : Action, Thriller, Distopia, Sci-Fi

Sutradara : Wes Ball

Penulis : T.S. Nowlin (penulis skenario), James Dashner (penulis buku)

Pemeran : Dylan O’Brien, Kaya Scodelario, Patricia Clarkson, Thomas Brodie-Sangster, Will Poultrer, dan Ki Hong Lee, dan lain-lain

Rating iMDB : 7.1/10 (sementara)

Rating saya : 8.5/10

Weekend datang lagi. Sepeti biasa, inilah waktu kami untuk mengupgrade kualitas imajinasi dengan menonton film di bioskop. Beberapa waktu lalu sudah saya baca beberapa judul film yang sedang rilis di bulan awal tahun 2018 ini. Salah satunya adalah Maze Runner – The Death Cure.

Seperti semua orang ketahui bahwa The Death Cure ini adalah serial terakhir dari Trilogi yang ada di novel The Maze Runner karangan James Dashner. Buku yang pertama berjudul The Maze Runner. Buku kedua adalah The Scorch Trials, dan yang seri ketiga dan juga sedang tanyang adalah The Death Cure.

Bagi Anda yang sudah membaca novelnya tentu mendapatkan beberapa perbedaan dengan filmnya. Hal itu biasa terjadi karena dalam film harus memperhatikan durasi, sedangkan novel bisa memberikan imajinasi tak terbatas kepada para pembacanya. Juga pastinya, ada beberapa pertimbangan lain yang membuat filmnya berbeda dengan bukunya.

Lalu bagaimana jika kita termasuk yang belum membaca bukunya, dan hanya langsung ingin menonton filmnya? Apakah filmnya layak untuk membuat kita berebut kursi? Semoga tulisan ini sedikit mampu memberikan pertimbangan bagi Anda sebelum memutuskan untuk membeli tiketnya.

1. Latar Belakang

Film Maze Runner, yang dirilis pada 2014 lalu, dan disutradarai oleh Wes Ball adalah sebuah film thriller aksi distopia fiksi ilmiah Amerika, dan dibintangi oleh anak-anak muda Dylan O’Brien, Kaya Scodelario, Patricia Clarkson, Thomas Brodie-Sangster, Will Poultrer, dan Ki Hong Lee. Jika kita melihat dari nama dan wajah-wajah pemerannya, mungkin tidak banyak yang mengetahui siapa mereka dan bagaimana sepak terjangnya di dunia perfilman. Maka, satu hal yang menjadi daya tarik pertama adalah, film ini menawarkan ‘kesegaran’, karena kita tidak mengetahui image atau karakter yang melekat pada diri para pemeran.

Film Maze Runner digadang-gadang sebagai pengganti franchise Divergent dan The Hunger Games ini ternyata memiliki sebuah ide cerita yang menarik, seru, dan sulit untuk ditebak arah ceritanya. Di scene awal ditunjukkan bahwa Thomas (Dylan O’Brien) berada di suatu tempat yang dia tak tahu bagaimana caranya ia bisa berada disitu. Thomas hidup tanpa bisa mengingat tentang kehidupannya sebelumnya. Yang dia ingat hanyalah namanya. Disanalah Thomas bertemu dengan anak-anak remaja seusianya, Newt, Teresa, Frypan, Gally, dan Minho. Berbagai kisah dan aksi seru mereka lewati untuk mencari tahu mengapa mereka bisa berada disana.

Menurut saya, ide cerita Maze Runner ini adalah perpaduan dari beberapa cerita film, antara lain yang terkenal adalah Resident Evil (2002), The Island (2005), I am Legend (2007), Doomsday (2008), juga World War Z (2013) yang dibintangi oleh Brad Pitt. Perpaduan kisah-kisah yang ada di  film-film tersebut, diramu, dan dikembangkan menjadi sebuah ide, sehingga menjadikan film bergenre action-thriller ini sangat ciamik.

2. Plot yang tidak mudah ditebak

Bicara mengenai plot, yang saya suka dari Maze Runner ini adalah plot ceritanya tidak mudah ditebak. Sering saat kita menonton sebuah film, plot cerita sudah diketahui arahnya akan kemana sejak di awal cerita. Sangat mudah untuk menemukan goal sebagai peng-ending ceritanya. Bagi saya, hal itu tidak cukup menarik, meskipun menggunakan pemeran yang sudah sangat dikenal. Di dalam Maze Runner, kita tidak langsung digiring pada inti dari ceritanya, tetapi diajak fokus pada satu kondisi yang membuat penonton menebak-nebak, dan ternyata, salah! Penonton akan digiring ke situasi yang berbeda di serial berikutnya.

Dari kisah trilogi Maze Runner ini, setiap seri yang difilmkan memiliki fokus yang berbeda untuk diangkat. Hal itulah yang membuat penonton sangat menunggu kelanjutannya. Maze Runner mampu mengembangkan cerita, meskipun tetap disatukan dalam sebuah benang merah yang sama.

3. Penokohan dan Karakter

Hal lain yang juga sangat penting untuk sebuah sajian karya adalah penokohan dan karakter. Dalam film Maze Runner ini, sang penulis berhasil menciptakan tokoh dan karakter yang kuat. Karakter yang kuat akan membangun sebuah image kuat yang mampu melekat di benak pemirsa.

Dalam film ini, Thomas, Minho, dan Newt adalah tokoh-tokoh yang memiliki karakter penokohan yang kuat. Thomas, sebagai sosok pemberani, setia kawan, berani mengambil resiko, dan punya rasa penasaran yang tinggi. Sementara karakter Minho, sebagai seorang yang paling cepat, paling kuat, dan paling badassss istilahnya. Minho sebagai sahabat terdekat Thomas, selalu siap berjuang bersama Thomas melewati hal tersulit sekalipun. Sedangkan tokoh Newt, ibarat sahabat yang selalu siap siaga kapan pun diperlukan, dan menjadi penyeimbang Thomas dalam setiap tindakan. Newt tidak secerdas dan sekuat Thomas dan Minho, tetapi karakter yang paling ingin ditonjolkan dari Newt adalah kesetiaan. Kesetiaan pada kawan, dan persahabatan, yang kadang harus dibayar mahal dengan nyawa sendiri.

4. Cinta

Sajian yang menarik juga dari trilogi Maze Runner ini adalah tentang kisah cinta antara Thomas dan Teresa. Dalam setiap kisah, sering sekali menjadikan cinta sebagai tema utama, atau hanya menyisipkannya saja, agar kisah terasa lebih hidup, dan manusiawi. Di sekuelnya Death Cure ini, Thomas dipertemukan kembali dengan gadis yang dicintainya, Teresa. Namun, ada konflik batin yang akan dirasakan Thomas membuat film ini terasa cukup nyesek di hati. Pilihan akan menentukan dimana kaki mereka harus dipijakkan. Dan itu artinya, bisa saja menjadi dua kubu yang saling berlawanan.

Yang juga menarik untuk dikulik tentang sisipan ‘bumbu’ cinta ini adalah tokoh Brenda. Sebagai seorang teman, Brenda terlihat lebih sensitif dan emosional jika menyangkut hal-hal yang berhubungan dengan Thomas. Apakah Brenda jatuh cinta pada Thomas? Who knows..?

5. Pesan moral yang kuat

Tentu semua sepakat bahwa dalam membuat atau menyimak sebuah karya, haruslah ada pesan dan sesuatu yang kita dapatkan. Itulah yang dimaksud pengalaman batin. Nilai-nilai itu mungkin tidak perlu kita dapatkan dari mengalami sendiri, tetapi cukup lewat karya yang disajikan.

Dalam film Maze Runner ini, khususnya seri The Death Cure, pesan moral yang paling kuat adalah pesan persahabatan. Dimana ketika pertaruhannya hanyalah hidup dan mati, tapi tetap apapun yang terjadi, hati tak akan bisa meninggalkan sahabat. Lebih baik memilih mati untuk membuat sahabat tetap hidup, daripada hidup dengan menyaksikan sahabat sendiri mati. Sungguh sebuah pertaruhan yang luar biasa, karena taruhannya adalah nyawa sendiri! Film Maze Runner berhasil mengangkat makna itu, dengan cara yang manusiawi. Manusiawi seperti apa? Kenyataan bahwa ada hal-hal yang tidak mampu kita lakukan, ada misi yang tidak bisa berhasil dengan sangat gemilang, dan ada pengorbanan yang harus membayar mahal untuk sebuah kebahagiaan. Maze Runner – The Death Cure berhasil membuat nilai-nilai itu terasa berharga karena disajikan dengan adegan konflik batin, dan sedikit adegan air mata yang menetes. Tidak lebay, bahkan tanpa kata, tapi penyajian gestur yang pas justru membuatnya terasa lebih nyessss…

 6. Kurang sipp

Bagi saya, overall tidak ada yang terlalu kontras untuk dibilang ‘kurang sipp’. Bukan tidak ada, tetapi tertutupi oleh hal-hal menarik lainnya. Dalam film yang ketiga ini, ada beberapa hal yang saya cermati dan rasanya memang kurang sreg di hati.

Misalnya, ketika Teresa dengan mudah bersedia untuk mengikuti keinginan Thomas, dan kawan-kawan. Meskipun memang Teresa dibuat dalam tekanan, tapi kurang terlihat perlawanan Teresa sebelumnya.

Bagi saya juga menjadi aneh, ketika dalam tubuh Thomas ada alat yang bisa melacak keberadaannya, tapi Thomas hanya terlihat terlacak ketika berada di luar tembok kota. Padahal Thomas memiliki waktu cukup lama sebelum akhirnya alat itu bisa dikeluarkan dari dalam tubuhnya.

Kemudian beberapa adegan terlalu banyak kebetulan. Saat-saat dimana para tokoh terdesak dan tidak mungkin melarikan diri, maka akan ada pihak yang membantu lolos dari masalah. Lucunya, timing dan posisinya selalu pas, haha..

Ya, itulah sebagian yang bisa terekam untuk film Maze Runner, khususnya untuk The Death Cure yang baru rilis beberapa waktu yang lalu. Untuk teman-teman yang belum menonton seri pertama dan keduanya, kiranya boleh untuk menontonnya terlebih dahulu, sebelum akhirnya berburu tiket menonton di bioskop terdekat. Dijamin gak akan rugi, deh!

Awal Sebuah Rasa

“Ka, ayo segera..diparut itu kelapanya. Bapak belum makan, udah siang ini..”  Begitulah seruan ibuku yang hampir setiap hari kudengar. Seruan untuk membantunya memasak menu makan siang keluarga kami. Memarut kelapa, meskipun terlihat sederhana, tetapi prakteknya sungguh tidaklah mudah. Hampir selalu tanganku berdarah-darah karena terkena parutnya. Setelah itu, perih berhari-hari harus kutanggung rasanya.

Aku yang tadinya hanya ingin mengambil segelas air di dapur, akhirnya setengah terpaksa menghampiri ibuku. “Yahhh…batal deh mo lanjut baca..” batinku. Padahal, bab VII novel detektif kecil itu memang sedang seru-serunya. Tapi, tak mungkin juga aku tolak perintah ibuku yang rasanya memang sedang terburu-buru.

“Ehmmmm ya, mana? Boleh ya sambil nonton tv ini marutnya..” rajukku. Hati ini sebenarnya malas, apalagi ceritanya memarut kelapa.

“Yaa wis, boleh..sana..tapi cepet lho ya! Ini dagingnya udah matang. Tinggal nunggu santannya.” Pesan ibuku sebelum kubawa beberapa potong daging buah kelapa setengah tua dalam wadah.

“Ya, ya..” Singkat aku menjawab. Padahal batinku berkata, “Wahh kapan selesainya nih marut segini banyak? Satu..tiga..lima..HAH! tujuh potong! Hiks..hikss….ini mah satu gelondong kelapa.” gerutuku.

Ya, itulah aku sekitar dua puluh tahun yang lalu. Anak kecil yang diminta membantu ibu memasak untuk menu makan siang kami setiap hari. Keluarga kami memang tidak memiliki pembantu, tidak biasa ada orang asing di rumah. Juga tak ada satu pun pembantu yang bisa memenuhi standar kualitas ayah dan ibuku. Hasilnya? Capek! Karena semua selalu dikerjakan sendiri. Haha..

Celakanya, aku termasuk anak pemalas. Tak ada satupun pekerjaan rumah yang aku suka. Standar kerapianku sangatlah buruk. Apalagi standar kesempurnaan seperti yang ayah dan ibuku miliki. Aku suka duniaku sendiri, aku suka melakukan yang kuinginkan saja. Ya, banyak hal yang kusuka, selain pekerjaan rumah! Anak perempuan satu-satunya di rumah itu, tapi justru tidak mirip anak perempuan kebanyakan. Mungkin itu membuat ibuku sedikit banyak juga jadi kesal.

Tapi satu hal yang diterapkan ibuku, beliau melatih kepekaan dengan selalu melibatkan anak-anaknya jika sedang melakukan pekerjaan. Saat ibu sedang mencuci dan aku malah menonton tv, ibu pasti akan memanggilku untuk ikut ambil bagian. Saat memasak seperti ini,  dan aku sedang asik membaca sekalipun, pasti akan tetap dapat kerjaan.

“Sudah santannya? Ayoo cepet, diperas sekalian yaa..” seru ibuku dari ruang dapur.

“Iyaaa…sebentar lagiii.” Balasku menenangkan, sambil kulirik dua potong daging kelapa yang belum kusentuh sama sekali. “Waduh! Bahaya nih..ngebuutt!” batinku.

“Srrreeekkkkk!”  Darah merah sedikit menodai parutan kelapa yang menempel di tanganku.

“Aduuuuhh! Kena lagi..” Kubuat luka ketigaku dalam sesi memarut siang ini. Tapi tak ada waktu lagi untuk bisa mengeluh. Ayahku sudah bolak-balik rute ruang tamu-dapur-ruang keluarga-dapur, begitu saja terus sejak tadi.

“Aku harus cepat…cepaaaaatt..Go! Go! Go! Yess you can..!” Begitu aku menyemangati diri sendiri, sambil semakin cepat kunaik turunkan kelapa di alat parut milik ibuku.

Sebenarnya, bisa saja ibuku membeli dalam kondisi kelapa sudah diparut. Hanya saja, rasanya akan sedikit berubah jika tidak langsung diperas. Tentu rasanya tidaklah enak. Sementara ayahku, tidak mau menggunakan santan instan, karena sudah dicampur beberapa bahan tambahan. “Kentalnya gak asli. Gak enak!” Begitu selalu komentar Ayah. Akhirnya, ya…marut dehh!

“Sudah belooommm..malah ngalamun!” Muncul sosok ibuku dari balik pintu untuk mengecek hasil kerjaku.

Ya, ya..sudah ini, tinggal diperas.” Jawabku gugup sambil meringis.

“Ya sudah, ayo cepat…bumbunya sudah jadi. Tinggal ditumis, lalu masukkan santannya.” Perintah ibuku.

Segera aku buru-buru ambil wadah kosong yang lebih besar, lalu kuisi dengan air hangat, dan kutuang perlahan-lahan, sedikit demi sedikit ke atas kelapa hasil parutan.

“Sedikit-sedikit aja, bikin santal kentalnya dulu.” Penjelasan ibuku mengingatkan.

“Iyaaa..paham..” Kujawab sambil memeras dengan lebih cepat seperti diburu hantu.

Akhirnya jadilah 1 mangkok kecil santan kental, berikut lanjut santal encernya.

Buru-buru aku kembali ke dapur. Kulihat ibuku sedang menyiapkan beberapa hal. Tampaknya kami masak lebih dari satu menu hari ini.

“Bu, kok banyak sekali masaknya?” tanyaku ingin tahu.

“Ya, sekalian untuk makan malam dan besok pagi sarapan. Besok ibu ada tugas jadi harus berangkat lebih awal. Khawatirnya tidak cukup waktu jika harus masak pagi-pagi.” Jelas ibuku.

“Ohh..oke. Lalu, setelah ini apa? Santannya buat dimasukin dimana? Itu cabenya setelah diiris terus diapain?” tanyaku sambil mengamati setiap wadah, beralih ke wajan, lalu mengamati apa yang dilakukan ibuku. Ternyata beliau sedang mengiris-iris daging.

Ibu menoleh ke arah telanan, alat untuk tatakan saat mengiris. “Aduhh, lupa..itu belum ibu iris cabe rawitnya. Tolong iris dulu ya, karena itu nanti jadi yang pertama ditumis setelah bawang merah dan putih.” Pinta ibuku.

“Waduhhh..ngiris cabeee? Gak mau ahh, panas lagi nanti tanganku.” Kutolak permintaan ibuku kali ini, karena memang aku masih trauma dengan kejadian sebelumnya dimana tanganku wedangen, istilah untuk menyebutkan tangan yang terasa panas setelah mengiris cabe.

Waktu itu, wedangen-ku lumayan lama, rasanya sungguh menyiksa. Ibu bilang, “Cuci dengan air, keringkan, lalu masukkan tanganmu ke beras.” Saran ibuku waktu itu. Namun setelah kucoba lakukan, ahhhh masih tidak berubah. Tanganku masih saja terasa panas. Tak mau kupercaya lagi tips yang dibilang orang ampuh itu.

“Nggak…nggak akan panas lagi. Jadi kalau mengiris cabe, cuci dulu cabenya, patahkan tangkainya, lalu iris. Kamu waktu itu, cabe udah dipatahkan tangkai, bukan dicuci di kran, malah direndam dalam air di mangkok, baru diiris. Ya panaaass..tanganmu kan bolak balik masuk ke air. Cucinya pas di awal aja, sekali. Kalau ditaruh wadah, jangan ada airnya. “ jelasnya panjang lebar.

“Ohhh..gitu ya? Hmmm tapiii..kalo panas lagi gimana..??” Masih aku berusaha menolak. “Tugas yang lain aja ada lagi gak..?” tambahku.

“Gak ada, udah tinggal itu. Cepetan..udah ditunggu Bapak! Cuman 5 biji aja gak lama. ” tegas ibuku.

“Udah gak bisa ngomong lagi nih kalau udah begini..” batinku.

Akhirnya aku pun dengan keraguan berusaha melakukan permintaan ibuku. Kupraktekkan teori mengiris cabe yang ibuku katakan sebelumnya. Dan hasilnya, “Ehhh iya ya, gak panas lho ya Bu..” komentarku.

“Nahh kaan, iya memang gak panas kalau begitu cara mengirisnya..” jawab ibuku sambil tersenyum meyakinkan. Terlihat senang sekali teorinya terbukti benar, haha..

“Ya udah, segera ditumis itu bawang merah, dan bawang putihnya dulu. Itu kasih minyak goreng dulu wajannya. Awas, hati-hati panassss…Kecilkan apinya aja, jangan gede-gede, cepat gosong nanti. “ Jelas ibuku yang sedang memberikan tutorial kelas memasak dengan sangat cepat untuk dipahami.

“Gini ya bu..? Udah bener kan, lalu..?” tanyaku untuk diberi instruksi selanjutnya.

“Lalu masukkan cabe, tumis dulu, nanti baru masukkan tomat irisnya.” Jawab ibuku dari belakang, sedang memindahkan buah anggur yang telah dicuci ke wadah buah.

“Oke, gini ya….sudah…lalu apa? Ini ditumis sampai gimana? ” tanyaku lagi untuk langkah selanjutnya.

“Sampai agak layu cabenya, baru nanti tomatnya. Tumis sampe agak layu juga, baru nanti masukkan labu siamnya. Itu labu siam udah ibu tiriskan di sana.” Jawab ibu yang muncul dari ruang makan di sebelah, sambil menunjuk ke tempat cuci piring. Dimana sang irisan labu siam tadi sudah ditiriskan.

“Sippp, okee..sudah semua, lalu?” Aku bertanya tanpa menoleh, sambil mengaduk.

Itu sekarang dagingnya masukkan saja. Hati-hati tumpah. Pelan-pelan. Jangan langsung dituang, pakai tangan atau sendok, tuangkan sedikit-sedikit. Nanti kamu bisa kena percikan minyak.” Lanjut ibuku menjelaskan.

“Hmmm enak baunya yaa..Goooood, lalu tinggal santannya ya?” kataku dengan yakin sambil terus mengaduk-aduk daging yang telah bercampur dengan bawang dan cabe iris.

“Yaa, sekarang tinggal masukkan santannya. Tapi santan yang encer dulu. Itu agak kecilin lagi apinya, masih kebesaran. Memasak santan jangan gunakan api besar. Nanti kualitas santannya jadi tidak bagus untuk kesehatan dan penampakannya pecah saat diaduk, jadi kurang bisa bercampur. ” Jelas ibu sedang menurunkan ilmunya padaku.

“Okeehh..sudah nih, dimasukkan santan encernya. Apalagi yang belum? Kapan masukin gula, dan garamnya, bu?” tanyaku ingat jika gula dan garam belum dimasukkan.

“Ya, sekarang masukkan gula, dan garamnya. Juga daun salam, daun jeruk, serta lengkuasnya. Aduk jangan sampai mendidih dan pecah ya santannya.” Pesan ibuku sambil mencuci beberapa bekas wadah kotor sisa memasak.

“Sudah bu…lalu santan kentalnya udah bisa dimasukkan sekarang?” tanyaku sambil menoleh ke belakang, mencari sosok ibuku untuk meyakinkan ucapanku.

“Gimana rasanya, sudah dicicip belum? Kalo sudah pas, atau andai perlu ditambahin gula dan garam, tidak terlalu banyak lagi. Itu juga cek dulu apakah labu siamnya sudah gak keras? Jika sudah, boleh masukin santan kentalnya. Lalu aduk terus jangan sampai pecah, terutama saat sudah mendidih. “ jelas ibuku di sesi terakhir memasak menu itu.

“Sippp..sudah oke semua sepertinya. Rasanya pun sudah enak. Mantapp bangettt ini rasanya. Ahh mau makan ahh..” jawabku sambil ngeloyor hendak mengambil piring.

“Lohh..lohh..lohh..itu matikan dulu apinya, lalu hidangkan dulu untuk Bapak di meja. Baru makan.” Ucap ibuku tersenyum sambil memasang ekspresi wajah mengatakan, “dasar!”

“Ohhh iyaaa..hahaha..oke..oke..” lanjutku seraya mematikan api di kompor, mengambil mangkok besar wadah sayur, dan menyiapkannya di meja untuk Ayahku.

“Bapak….sayurnya sudah matang, silakan makaaann..” seruku lantang dari ruang makan pada ayahku yang sedang membaca majalah di ruang depan.

***

Dua puluh tahun berlalu sejak cerita itu, dan aku pun masih bisa mengingatnya hingga disini usiaku. Dimana kini akulah pelaku utama dari segala cerita yang sama. Akulah yang kini menjadi seperti ibuku. Menyiapkan makanan untuk keluarga, memasak setiap hari untuk suami dan anakku.

Dunia masih sama, hanya berputar saja. Waktu yang berlalu selalu memberikan bekal sesuatu untuk masa depan kita. Mungkin dulu aku merasa terpaksa, karena memasak bukanlah hal yang aku suka. Namun ternyata suka atau tidak suka, bukan karena selalu menarik di awalnya. Tapi karena kita pernah mencoba. Baru bisa kita putuskan, suka atau tidak suka.

Ada hal yang kadang terpaksa, ada hal yang kadang tidak kita tahu sebelumnya. Disitulah sebuah kebiasaan dibangun. Melakukan hal yang sama terus menerus, akan membangun sebuah kebiasaan dalam hidup. Asal itu baik, patut dicoba. Temukan sisi menariknya, kenapa kita layak untuk melakukannya. Pahami, dan resapi esensinya, ikuti prosesnya. Memang, tidak akan selalu mudah. Atau lebih tepatnya, hampir selalu susah. Jalani saja, lakukan saja. Masalah suka atau tidak suka, biarlah perjalanan waktu yang membuktikan, apa keinginan hati yang sesungguhnya.

First Amazing Concert

“ Komite..dan panitia One in Harmony Concert kumpul di sekolah, besok jam 10. On time. Agenda : Koordinasi untuk Persiapan Konser. ” Begitu bunyi pesan singkat yang masuk di grup Whatsapp khusus Komite di ponselku pagi ini.

“Waduhhh..jam 10..?? Oh My God!! Jadi besok pagi, habis antar Nara ke sekolah, lanjut ke pasar, masak untuk lunch, dan langsung ke sekolah lagi. “ batinku mulai me-list hal-hal yang harus aku lakukan besok sebelum hadir di Committee meeting di sekolah anakku.

Ya, itulah sekolah anakku. Banyak sekali kegiatannya. Hampir setiap bulan selalu saja ada agenda yang diselenggarakan. Mulai dari lomba di sekolah sendiri, lomba antar sekolah, hingga tingkat kabupaten, propinsi dan nasional.

Hal-hal itu otomatis menjadi tugas tambahan bagi para orang tua. Kami dituntut untuk ikut serta berperan aktif  dan mendukung setiap program yang dilaksanakan oleh sekolah. Termasuk satu hal ini, konser paduan suara anak-anak yang direncanakan 1 bulan lagi.

Sebagai sekretaris komite sekolah, cukup banyak hal yang harus kupersiapkan. Setiap kali ada meeting dengan panitia pun tak mungkin bisa ijin tidak datang. Belum lagi hal-hal administratif yang harus kubereskan. Namun di rumah, aku tetaplah seorang ibu untuk anakku. Istri untuk suamiku. Artinya, tanggung jawab di rumah tetap tak bisa aku elakkan. Mencuci, memasak, dan menyetrika tetapi jadi bagian dari keseharianku.

***

Esoknya aku datang ke sekolah memenuhi undangan. Kulihat ada beberapa panitia dan anggota komite sudah duduk manis menunggu sesi kepala sekolah membuka pertemuan.

“Hai..halo Mijun, lama ga ketemu nih kita, sibuk banget kayaknyaaa..” sapaku untuk mama Arjuna, teman sekelas anakku sambil kuulurkan tangan untuk mengajaknya bersalaman.

“Hahaha sibuk nonton drama Korea aja si di rumah..mom Nara niiih yang malah ga pernah beredar..” balasnya sambil memukul kecil tanganku. Aku tersenyum sambil mengamati wajahnya yang dihias make up tipis, lipstick pink kemerahan, serta kerudung warna merah maroon hari itu.

Sebelum aku duduk, kulihat sang ketua komite, mama Feli, sudah duduk manis sambil ngemil pisang goreng.  “Wuiiihhh..mantappp kaliii ini ibu satu, gituu yaa ga nawar-nawarin, makan sendiriii..” candaku pada mama Feli yang biasa kupanggil dengan Mili. “Hahaha…emang! Mau kuhabisin semua nih biar yang datang belakangan pada gak kebagian!” balasnya.

Memang begitulah yang terjadi saat bertemu dengan para ibu sekolah anakku. Para ibu-ibu muda yang sebenarnya juga punya banyak kesibukan di luar, tetapi tetap bersemangat membantu dan mendukung seluruh kegiatan sekolah anak-anaknya. Merekalah yang menjadi salah satu inspirasiku, bahwa apapun kesibukan orang tua di luar sana, anak tetap menjadi yang utama.

Sekitar lima belas menit kemudian, mulai banyak yang berdatangan. Ya, saya dan beberapa pengurus memang selalu berusaha hadir lebih awal, agar mudah jika ada yang perlu dikoordinasikan lebih awal. Sekitar tiga puluh menit kemudian, rapat dimulai oleh ibu Kepala Sekolah.

“Baik..mama-mama sekalian. Seperti yang kami sampaikan sebelumnya, bahwa kurang lebih satu bulan lagi, sekolah akan mengikuti lomba paduan suara tingkat SD. Sedangkan untuk persiapannya, kami membutuhkan support dari mama-mama semua. Mulai hari ini anak-anak akan latihan seminggu tiga kali, dengan guru musik yang biasanya. Apakah mama-mama sekalian bisa membantu untuk memastikan bahwa anak-anak akan selalu hadir dalam latihan?” sambut ibu Kepala Sekolah sekaligus menagih keniatan kami di kelas extra paduan suara.

“Nanti di minggu pertama ini, akan ada seleksi suara yang dilakukan oleh guru musik. Dan jika nanti absensi kehadiran kurang dari 90% maka mohon maaf mungkin tidak bisa kami ikut sertakan dalam lomba.” tambah ibu Kepala Sekolah lagi.

”Wuaahhh.ketat sekali seleksinya, “ pikirku. Aku dan anakku memang anggota baru di sekolah ini. Maka kami masih agak surprise mengikuti ritme kegiatan sekolah. Tidak mudah awalnya, apalagi bagi anakku yang agak susah beradaptasi di lingkungan baru. Namun, tidak ada yang tidak bisa dilakukan jika kita berusaha melakukan yang terbaik.

Baik, silakan ibu-ibu komite dan panitia untuk membahas beberapa hal yang penting untuk disiapkan. Selanjutnya akan disampaikan oleh mama Feli selaku ketua komite dan mama Kafka sebagai ketua panitia. ” tutup Ibu Kepala Sekolah mengakhiri sesi pihak sekolah.

“Baik mama semua, langsung saja agar meetingnya singkat, padat, dan segera bisa dieksekusi dalam aksi yaa..Anak-anak membutuhkan beberapa persiapan, khususnya konsep kostum, dan akomodasi saat hari pelaksanaan. Setelah ini akan kita atur bagaimana konsep kostum untuk anak-anak, mulai dari belanja bahan, penjahitan, fitting, hingga nanti siap untuk digunakan lomba.” Mama Kafka menyampaikan dengan efektif.

Sekitar  satu jam kemudian, pertemuan tersebut berakhir dan rasanya pikiranku masih melayang-layang membayangkan hasil pertemuan tadi. Tambahan tugas lagi yang harus aku selesaikan. Menjadi tim pembuat konsep hingga pengadaan kostum lomba kali ini mungkin tidak akan cukup mudah. Tapi sekali lagi, ini demi anakku. Orang tua adalah pihak pertama yang harus mengambil peran sangat besar dalam kehidupan sang anak. Seharusnya memang tidak bisa dan tidak akan ada yang bisa memberikan kontribusi sebesar orang tua.  Maka untuk apapun yang akan diperjuangkan anakku, aku adalah orang pertama yang akan memberikan dukungan penuh.

Tiga hari ke depan, aku dan tim disibukkan mulai dari satu toko kain ke toko kain lainnya. “Bagus mana ya warnanya? Maroon yang ini atau yang magenta ini ya?” Diskusi kami siang itu di sebuah toko kain di tengah kota kami. “Ehhmm…klo buat anak laki-laki ini warnanya bagus nih merahnya. Tapi merah ini terlalu biasa gk ya warnanya? Nanti jangan-jangan banyak yang pakai warna merah, jadi gak spesial deh warna kostum kita..” ungkap Mama Feli memberikan komentarnya atas warna yang kupilih. “Hmm iya ya, bener juga ya..jadi gimana kalau magenta ini aja? Nanti kita cari kain hitam untuk bikin sabuk dan pita, serta kain tile untuk bikin tambahan gemerlapnya?” saran mama Kafka menambahkan. “Oh ya, boleh..boleh..udah yukk, kita lanjut ke toko baju anak. Masih perlu suspender dan kaos kaki hitam kan?” Begitulah yang terjadi selama sekitar 1 minggu. Semua konsep kostum sudah harus matang. Selanjutnya akan dijahitkan dan anak-anak akan fitting terakhir sebelum lomba.

Sudah sekitar dua minggu ini, Nara, anakku selama tiga kali dalam seminggu harus kembali ke sekolah pukul 15.30. Disana telah ada guru musik dan guru pendamping yang akan mengawal latian anak-anak. Selama dua minggu ini pula, aku sebagai orang tua berusaha untuk menjaga dan membuat mood anakku untuk tidak berubah. Bagi seorang anak usia 4 tahun, tidaklah mudah untuk melalui ini semua. Bagaimana mau bicara tentang kemenangan, sementara arti dari lomba saja mereka belum paham.

“Mama…..Nara ngantuk, gak mau latihan. Capek…..” ungkap anakku sore itu.

“Oh iya nak…capek ya…tapiii…..Arjuna, Kafka, dan Ella sedang menunggu Nara di sekolah sore ini. Kira-kira kalau Nara tidak datang, mereka sedih gak ya..??” bujukku. Terus terang aku pun bingung bagaimana caranya aku harus menyampaikan bahwa ini adalah lomba. “Kita harus latihan dengan keras dan sungguh-sungguh untuk bisa menang” batinku. Tapi bagaimana caraku untuk mengatakannya? Tentu ia akan menjawabnya dengan ekspresi kosong atau justru tidak peduli.

“Mamaaaa….Nara gak mau! Gak mauuuu! Mau bobok ajaaa! Mama ngerti gak siiiihh!”  Anakku dengan kesal memarahiku yang tetap ingin dia berangkat latihan.

Wah sudah, pusinglah saya jika sudah begini. Serba salah menghadapi anak-anak. Jika dipaksa nanti justru membuat moodnya buruk dan tidak konsen saat latihan, tapi jika tidak dipaksa, bagaimana caranya? Waktu lomba sudah semakin dekat, dan ini sudah minggu ketiga. Mampus!

Bingung aku bagaimana menghadapinya, akhirnya aku coba untuk menelpon Mama Kafka.

“Mom…sudah di sekolah belum? Nara badmood nih, ga mau masuk latihan. Bisa gak ya, kasih teleponnya ke Kafka dan minta Kafka untuk mengajak Nara. Bilang aja sudah ditunggu di sekolah. Seru banget latihannya, rugi kalau gak datang.” Pintaku pada mama Kafka di ujung telepon.

“Ohh..oke mom, tunggu ya..” jawab mama Kafka sambil mencari keberadaan Kafka. Sayup-sayup terdengar suara percakapan Kafka dengan ibunya.

Halo…Nara..Halo..ini Kafka.” Sahut Kafka. Segera aku serahkan ponselku kepada anakku yang tengah berguling-guling di tempat tidur. ”Ditunggu Kafka di sekolah ya! Ehmmm..Seru banget..Sudah ada Arjuna, Benic, Feli, Ella, lagi main..Ehmm Nara cepet kesini ya..Kita main bareng balapan mobil lagi yaa..” suara Kafka, menirukan suara ibu di sampingnya yang membisikkan kalimat untuk diucapkan.

“Nara, ayo jawab…ini Kafka yang telepon lohhh..” ucapku membujuknya lagi.

“….Ehmmm yaaa..” Hanya itu yang diucapkan anakku.

Begitulah yang terjadi sore ini dan beberapa kali setelahnya. Trik yang aku gunakan pun harus berbeda-beda agar si anak tidak terasa seperti dipaksa, meskipun sebenarnya memang dipaksa, haha..

Disinilah perjuangan orang tua. Dimana kadang pun orang tua tidak yakin pada apa yang dilakukannya benar atau salah. “Benarkah jika memaksa anak untuk melakukan hal yang tidak dia inginkan? Bukankah dia mungkin saja memang lelah? Tapi jika aku tidak menguatkan niat, bagaimana nanti latihannya? Bagaimana nanti performace-nya di panggung. Bukankah dia pasti juga bangga jika memenangkan lomba itu? Bukankah berarti latihannya akan terbayar lunas?” Berbagai pertanyaan menyesakkan pikiranku.

***

Tanpa terasa hari perlombaan yang ditunggu pun tiba. Aku dan ayahnya sangat excited untuk melihat performance-nya hari itu.  Untuk menyaksikan ini, ayahnya pun rela cuti dari kantornya. Untuk melihat bagaimana anaknya berjuang di atas panggung.

Sejak pukul sembilan pagi kami sudah siap di tempat lomba. Namun, agar kondisinya kondusif, anak-anak dipisahkan dari orang tuanya untuk di-briefing dulu oleh para guru di belakang panggung. Kami para orang tua dipersilakan untuk menempati kursi-kursi penonton di depan panggung. “Anak-anak akan tampil setelah ini ya moms..” bisik seorang guru kepadaku. “Baik Bu, terima kasih..” balasku.

Lalu, “……..” lampu ruangan dimatikan, suasana langsung senyap. Semua pandangan mata mengarah ke arah panggung. “Nara…Nara…anakku Nara…semangat nak! Mama dan papa disini, nak..” batinku ingin berteriak ketika kulihat tubuhnya yang masih mungil itu berjalan memasuki ruangan, dan menaiki tangga panggung. Kulambaikan tangan padanya, memberinya isyarat bahwa kami berdua selalu mendukungmu untuk maju. Matanya memandang ke arahku dan ayahnya. Senyumnya mengembang kecil. Hatiku bergetar melihatnya.

“Pada hari minggu, kuturut ayah ke kota..

Naik delman istimewa, ku duduk di muka…

……”

Kulihat ayahnya sudah siap dengan ponsel yang sedang merekam selama pertunjukan. Tanpa terasa air mataku menggenang, rasanya aku sudah hampir menangis. “Anakku yang dulu kugendong itu, sekarang sudah bisa berada disana untuk lomba. Seusiamu dulu, ibumu belum mampu apa-apa, belum paham apapun. Tapi engkau, sekecil ini, sudah bisa sampai di tahap ini. Menjawab tantanganmu sendiri, mengalahkan semua masalah yang menghambatmu beberapa waktu yang lalu. Dirimu menang atas dirimu sendiri. Itulah makna kemenangan yang sesungguhnya, anakku..Ingatlah itu….” batinku berkata dan ingin rasanya aku meneriakkan itu dengan lantang.

Ada dua puluh lima peserta yang mengikuti lomba paduan suara anak saat itu. Dan sekolahnya mendapatkan juara II se-Kabupaten. Tapi bagiku pribadi, juaranya berapapun, menang atau kalah, itu bukan masalah. Bagiku, anakku akan tetap selalu juara di hatiku. Bagiku, juara adalah bagaimana dia bisa berlomba mengalahkan kemalasan, ketidakpercaya dirian, ketakutan, dan keraguan pada diri sendiri. Kami bangga padamu, anakku…

Wajah Baru

“…OK, silakan kumpulkan tugas Anda tanggal 12 Juni, 1 minggu dari sekarang..”  kalimat terakhir dosenku menutup sesi kuliah Social Research hari ini.

“Huufffttt..matiii, mo nyari tema apaan nih kita?” Sinta menatap kosong ke arah papan tulis.

“Entahlah…belum kepikiran sama sekali. Boro-boro sosial research, hati sendiri aja belum di-research kenapa bisa jomblo kelamaan gini..” curhat Radit diiringi pandangan jijay dari kawan-kawannya.

Well, hari itu kami mendapat tugas melakukan social research kepada lingkungan sosial. Setiap mahasiswa diminta untuk melakukan pengamatan tentang apa yang sedang terjadi di sekeliling. Selanjutnya kami diharuskan menganalisis masalah, dan merumuskan problem solving dari masalah tersebut. Bukan tugas yang sulit sebetulnya, tapi membutuhkan kepekaan lebih kepada lingkungan sekitar.

2 hari berlalu, dan aku pun masih bertanya-tanya tentang apa yang bisa kutulis. Sore itu aku dan Sinta punya agenda ke sebuah mall untuk membeli pakaian, demi kelas zumba minggu depan. Maklum, masih mahasiswi begini rasanya ingin selalu tampil oke dan menarik di mata semua orang.

Sore itu, kukendarai motorku sendirian. Sebenarnya agak tidak biasa, rasanya aneh jika pergi tanpa teman. Namun Sinta ada urusan sehingga kami langsung janjian bertemu di mall saja. Sambil kulajukan motor dengan santai, kucoba untuk menangkap ide dari pandangan mataku. Hingga lampu merah perempatan depan menghentikan sejenak lajuku.

“Kak…minta uangnya, kak..buat makan, kak..” Seorang bocah kecil dengan baju kuning lusuh dan sobek di bagian bahu, mengulurkan tangannya. Kuamati wajahnya, masih kecil, polos, dan sedih menatapku dengan mengiba.

“Kamu sekolah?” tanyaku tanpa terlihat akan memenuhi apa maunya.

Anak kecil itu diam saja, tak menjawab. Matanya justru melihat ke arah tas, dan saku celanaku.

“Hei…lihat apa kamu? Jawab dulu, kamu sekolah gak..?” seruku lebih lantang dan sedikit tegas. Kuarahkan pandangan sekilas ke papan penunjuk detik lampu merah di atas. Ternyata masih di kisaran angka 50, masih cukup lama. Sipp!

“Ayo, jawab dulu..gak mau kasih uang nih kalo gitu.” Ancamku padanya.

“Ehmmm..enggak..” jawabnya lirih, takut akan reaksiku setelahnya.

“Lalu, uangnya buat apa nanti? Kan kalau punya uang harusnya buat sekolah..” Kucoba memancing obrolan yang lebih lama.

Tapi anak itu tak menjawab lagi, dia hanya memandangku dengan tatapan matanya yang lugu. Pandangan mata yang tak tahu, sebenarnya apa yang sedang ia lakukan disini.

Kulirik sekilas papan detik itu, masih 30 detik lagi. Kusapukan pandangan ke arah yang lebih jauh. Kulihat seorang wanita yang duduk di bawah pohon sambil menimang seorang bayi, dan 2 orang anak lainnya sedang berlarian di sekitarnya.

“Itu ibumu..? itu yang duduk disana..Lalu yang sedang lari-lari dan digendong itu apakah saudaramu juga? Kutanyakan itu pada si anak kecil yang masih setia menungguku untuk memberinya uang.

Anak itu mengangguk pelan.

“Gila,” pikirku. Mengemis dan punya 4 orang anak? Ataukah ini semua bukan anaknya? Hanya anak-anak yang memang dia pekerjakan untuk mendapatkan uang?

Inilah wajah kotaku, wajah sebuah kota besar di Indonesia. Di ujung sana berdiri sebuah mall raksasa, yang semua orang pasti punya uang untuk dihabiskan didalamnya. Sementara di sini, ada anak kecil yang tak pernah tahu bagaimana caranya menggapai semua mimpi. Boro-boro ­mimpi, bagaimana bisa hidup besok saja mereka tak mengerti.

Dunia sudah bergerak dengan sedemikian cepatnya. Semua orang berusaha dan berlomba-lomba untuk menjadi yang terdepan. Bukan hanya karena keambisiusan, tapi lebih kepada bagaimana bisa bertahan. Di tengah arus perkembangan jaman, bukankah kita harus ikut bergerak dan berubah dengan cepat? Jika tidak, kita yang akan tergilas. Dan itu artinya, kita tidak mampu bertahan. Bertahan adalah basic instinct yang dimiliki setiap manusia, maka seharusnya semuanya bisa. Hanya saja, harus tahu caranya.

10 detik lagi. “Nih, 5.000 yaa..buat ditabung. Bilang sama ibumu, aku minta sekolah gitu ya..! Supaya nanti bisa masuk ke situ tuh, makan disitu. Mau gak?” sambil kuulurkan selembar uang kertas coklat pada si anak kecil, lalu kutunjuk sebuah restoran padang di seberang jalan.

Anak itu mengangguk, kali ini lebih mantap.

“Ya sudah, udah hijau. Kakak pergi dulu ya..” Kuderukan motorku, melaju ke arah mall yang sudah tidak jauh lagi.

Sekitar 10 detik setelah itu, tiba-tiba terlintas dalam benak. “Eh, kenapa gak ini aja yang kujadikan bahan tugas kuliah kemarin? Wahh sipp, cocok nih kayaknya!”

Seketika itu, perlahan kukendalikan motor untuk bisa menepi guna mencari tanda putaran balik ke kanan. “Sipp, aku selesaikan dulu yang ini. “ Kulirik jam tangan merah jambu yang melingkar manis di pergelangan tangan kiri. “Jam 4 passss..duhh, bakal telat nih ketemu Sinta. Ahh sudah tak apalah, paling setengah jam.” pikirku.   

Kira-kira 100 meter di depan, terlihat ada tanda warna biru untuk putaran balik. Kubelokkan motor, dan kulajukan dengan kecepatan cukup tinggi. Targetku adalah lokasi ibu dari si anak kecil yang mengemis tadi.

Segera sesampainya disitu, aku sapa beliau. “Selamat sore bu..boleh ya saya menanyakan beberapa pertanyaan. Sebentaaar saja.” pintaku.

Si ibu menggeleng. Malah menyuruhku untuk pergi dengan membuat isyarat tangan yang menyuruhku untuk menjauh.

Terus terang aku tertegun pada reaksinya. Biasanya orang begini jika disapa atau ditegur justru senang, seolah sedang dimanusiakan. Tapi yang ini berbeda, ia tak suka.

Kulihat memang ada raut wajah yang mengekspresikan kekhawatiran dan ketakutan. Baginya, aku hanya orang asing yang tiba-tiba datang dan mengusik zona nyamannya.

Untuk itu kukatakan langsung saja ke topiknya, “Bu, apakah ini semua adalah anak ibu?”

Dia mengangguk. Agak malu sepertinya.

“Kenapa ibu biarkan mereka berkeliaran di jalan seperti ini? Bukankah ini sangat berbahaya? Jika ibu tidak punya uang untuk menanggung hidup mereka, mengapa ibu biarkan diri ibu melahirkan anak sebanyak ini?”  

Terdiam saja wanita itu sambil tangannya mengambil bola mainan si sulung yang jatuh di sampingnya.

“Dimana ayahnya?” tanyaku lirih, takut sendiri akan jawaban yang mungkin saja kudengar.

Wanita itu hanya menggelengkan kepalanya, tanpa berucap sepatah kata.

“Wahh..berat ini masalahnya. Mungkin tak perlu ditanya lebih detail lagi.” Batinku memutuskan.

“Baik bu, jadi ceritanya saya sedang ada tugas untuk memotret kehidupan sosial sekitar kampus. Untuk itu saya akan menulis tentang ibu dan anak-anak ibu ini. Untuk keperluan dokumentasi, maka saya perlu mengambil foto ibu dan anak-anak. Bolehkah?” pintaku sambil mengulurkan lembaran hijau 20 ribu rupiah dari saku.

“Aduh, jangan mbak..jangan..nanti saya susah mbak..” cegahnya atas permintaanku, sambil berupaya menolak uang 20 ribu yang kuulurkan.

“Tenang saja, ini hanya untuk dokumentasi, untuk tugas kuliah saya Bu..” ucapku untuk meyakinkannya.

“Tapi tidak diapa-apakan kan saya mba?” tambahnya lagi masih menyisakan kekhawatiran.

“Hehe…ya nggak bu, diapakan memangnya. Hanya foto saja, cukup.” Ucapku sekali lagi.

Tanpa kata-kata dia terima uang 20 ribu itu, dan akupun mengambil beberapa foto mereka.

“Yessss! Sudah selesai. Aku punya bahan untuk tugas kuliah bu Rini sekarang!” batinku riang.

Segera aku berpamitan kepada ibu itu setelah kulihat waktu sudah menunjukkan pukul 16.43. Sudah sangat terlambat aku menemui Sinta.

***

12 tahun berlalu. Aku datang lagi ke kota ini. Kota tempatku berjuang merumuskan mimpi-mimpi untuk masa depan. Kutatap perempatan kota ini dari sudut jendela restoran padang di seberang. Bersih, tak ada lagi anak-anak kecil berlarian seperti yang kulihat dulu di perempatan. Kutolehkan pandangan ke arah pohon tempat si ibu dulu duduk sambil menimang. Pohon itu sudah tidak ada. Berganti pemandangan apartemen mewah yang menjulang.

Entah bagaimana nasibnya kini, hanya Tuhan yang tahu. Memang semenjak ada aturan dilarang mengemis, kota ini pun perlahan mengubah wajahnya. Kini tidak ada lagi anak-anak yang seharusnya duduk di bangku sekolah, malah justru berebut rupiah. Kabarnya mereka dibina oleh pemerintah, tapi entahlah. Apapun itu, mental mengemis memang tidak pernah layak dijadikan pilihan. Mengubah mental adalah yang paling sulit, tetapi harus dilakukan.

Inilah sekarang wajah baru kotaku. Dialah bukti bahwa dunia telah berubah ke arah yang lebih maju.

Ketika Diijinkan Terjadi

“07.33…Yessss! Masih pagi untuk memulai hari..” gumamku di pagi ini. Biasanya jam segini, aku masih sibuk ngomel karena anakku tak juga segera mau pakai sepatu. Atau…masih sibuk nyuapin makan sambil membereskan handuk dan baju kotor yang berantakan.

Ya, bagi emak-emak macam aku ini, setiap detik rasanya sangat berharga. Pagiku sudah penuh to-do-list yang harus selesai hingga waktu tidur malam nanti. Untuk hari ini, saat semua bisa dimulai lebih dini. “Ohhh..indahnya hari ini..” ucapku riang.

Kusetel radio di mobil sambil berpikir, “Mau ngapain ya sekarang? Ehmm..pulang, lanjut memasak untuk lunch, ke swalayan beli susu, isi bensin mobil, atau ke bank?” Terdengar suara penyiar yang sudah berhalo-halo di radio.

“Haiii…buat kamu sobat GEMS.fm yang lagi di jalan,

hati-hati yaa..lagi rame banget nih di pesimpangan Jl. Surya Kencana..

Sabar sabaarrr ajaa dehh klo kena macet..

Daripada bete dan bosen yang ga ada gunanya, kita main curhat-curhatan aja yuukk!

Idih kak, pagi-pagi bawaannya udah baper amat yak..? haha

Tenaaaang,  curhatnya bukan urusan diputusin pacar kok, jadi ga bikin baperrr dongg!

Ini nih, kita-kita mau tau..barang apa aja sih yang selalu lo bawa  di tas, kecuali dompet dan handphone? Hayoo..klo para cewek pasti make up, lipstick..ahh basi, yang lain dong!

…..

“Ehmm..apaan yah? Aku jadi ikut mikir juga, haha..mayan seru juga nih penyiar!” pikirku sambil memutar tombol volume ke kanan.

Tiba-tiba, “Braaaaakkkk!!” Mobilku terdorong ke depan. “Waduhh..ini pasti ada yang nabrak dari belakang nih! Duhh mampus, peyokkk dehh mobil akuuu,” sambil kutepukkan tangan ke dahi. Kutolehkan kepala ke belakang, mencari dari mana sumber suara tabrakan itu. “Aduhhh bener nih kayaknyaa, mobil aku yang ditabraknya!”  Segera kucari posisi yang enak untuk memarkirkan mobil sementara, lalu keluar dan mencari siapa gerangan yang menabraknya.

Kulihat dari jauh tempatku berdiri, seorang anak muda, pengendara motor, usia sekitar 17 tahunan, sedang beradu argumen dengan seorang pengendara mobil lain. Sepertinya anak muda yang menabrak mobilku juga parah kondisi motornya.  Tapi tunggu dulu, “Gimana nasib mobilku? Peyokkah? Pecahkah?” Kulangkahkan kaki ke belakang mobil, “Aduhhhh!! Mayan nih!”  Ternyata ada peyok di bagian ujung kiri, dan lampu belakang mobil pun pecah.

Kupalingkan pandangan mencari anak muda yang menabrak mobilku tadi. “Ohh..dia masih disana rupanya.” Kuhampiri dia yang masih berdebat tapi sudah coba dilerai oleh satpam. Sekarang ia tampak sedang sedih memandangi motornya yang peyok depan dan belakang. Sementara pengendara mobil yang berdebat dengannya tampak sedang menguhubungi seseorang.

Lantas kuhampiri anak muda itu, “Mas..gimana nih, kok mobil saya jadi ikutan kena ya? Tadi gimana kejadiannya?” Si anak muda itu menjawab, “Aduhh iya bu, maaffff..saya tadi juga tiba-tiba ditabrak dari belakang oleh mobil itu. ” Sahutnya sambil menunjuk mobil hitam yang terparkir tak jauh dari motornya. “Ini motor saya juga peyok di depan, dan malah ada yang patah di belakang.” lalu menunjuk motornya yang perkiraan saya lumayan juga biaya perbaikannya. “Saya benar-benar minta maaf Bu..tapi sungguh saya tidak bermaksud menabrak mobil ibu. Saya bingung bagaimana harus mengganti kerusakan mobil ibu.” lanjutnya setengah mengiba.

Akhirnya kejadian ini membuat saya berpikir, bahwa memang ada hal-hal yang tak bisa kita hindari. Mungkin sekilas ini memang bukan kesalahanku sendiri, tetapi ada bagian dari kesalahan orang lain yang juga memberikan dampak kepadaku saat ini. Rugi, ya..mungkin. Tapi aku lebih ingin memaknainya sebagai sebuah “sentilan” yang Tuhan berikan untuk mengasah kepekaan. Jika Alloh menghendaki kejadian ini untuk terjadi , pasti bukan tanpa alasan Alloh mengijinkannya.

Bagiku, sesungguhnya kesialan itu tidak pernah ada. Yang ada adalah nikmat Alloh yang ingin dibagikan kepada lebih banyak orang.  Jika kita merasa selalu beruntung, bukankah itu sungguh aneh, jika kita tidak pernah memberi keberuntungan pada orang lain? Karena sesungguhnya Alloh selalu menciptakan segala sesuatu dengan seimbang. Pria-wanita, siang-malam, baik-buruk, dan lain sebagainya. Ujiannya adalah, bagaimana kita memaknai sebuah peristiwa?

Mengingat itu, lantas kulihat lagi si anak muda yang terduduk lesu di pinggir jalan itu. Sepatunya lusuh, sepertinya lebih dari 3  tahun tidak diganti. Celananya panjang, berwarna abu-abu, mengisyaratkan dia masih anak sekolah tingkat SMA. Motornya pun bukan motor baru, tapi motor butut model lama.

Sejenak kurenungkan,

“ Apa maksud Alloh dibalik peristiwa ini?

Mampukah aku meminta ganti rugi  padanya?

Mampukah aku menerima beberapa lembar kertas dari tangannya?

Uang apa yang akan dia gunakan untuk mengganti kerusakan mobilku?

Lalu bagaimana cara dia memperbaiki motornya?

Apakah  orang yang menabrak mobilnya akan mengganti sesuai kerusakannya?

Sementara mobilku, semuanya tercover asuransi. Tinggal dibawa ke bengkel, langsung diganti.  Semua beres dan hidup kembali seperti semula. Tapi bagaimana dengan anak itu? Mungkin saja kejadian ini berdampak lebih lama untuknya.

Yaa Alloh, rasanya aku tak mampu.” Batinku terus bicara.

Kuulurkan tangan ke dalam tas untuk mencari dompet merah tuaku. Kulihat disana ada beberapa lembar rupiah yang tersimpan. Kuhitung hingga lima lembar, lalu kuulurkan pada sosok anak muda itu. “Ini, ambillah..dan gunakan untuk perbaikan motormu.” Si anak muda itu menengadahkan wajahnya dan memandangku dengan heran. “Kok saya yang dikasih uang, bu? Bukankah saya yang seharusnya mengganti kerusakan mobil ibu?” tanyanya bingung.

Aku tersenyum padanya, “Tak apa, pakai saja. Untukmu uang itu lebih berguna. Soal mobilku, gampang. Nanti bisa aku atur. Ya sudah, selesaikan urusanmu dengannya, dan pergilah perbaiki motormu.” Ungkapku sambil pamit dan berlalu dari hadapannya.

Langkahku masih diikuti dengan pandangan mata keheranan olehnya. Tapi aku tersenyum puas dalam langkahku. Yaa Alloh, terima kasih. Mungkin hari ini Engkau memberiku jalan untuk membantu orang lain dengan cara ini. Semoga Engkau mudahkan jalan kami untuk lebih bahagia dan berkah dalam kehidupan. Aamiin..

Saat kunyalakan lagi radio di mobil, terdengar suara penyiar yang berbeda dari yang pagi tadi kudengar

“….

Ya, para pendengar sekalian..

Kami laporkan telah terjadi sedikit tabrakan di Jalan Cokro Kusumo antara 2 buah mobil dan 1 buah sepeda motor.

Mohon untuk lebih berhati-hati lagi dalam mengemudikan kendaraan Anda.”

 “09.47” Kulirik jam digital mobil dan mulailah aku berlalu. Tampaknya masih ada cukup waktu untuk melanjutkan to-do-list ku yang tertunda sejenak itu.

Kecoa!

“Ttttiiiiittttttttt…” Aku terbangun dari tidurku di sofa ruang tamu malam itu. Kutengok ke sebelah kanan, ternyata suara itu berasal dari televisi yang sudah berakhir siarannya. “Aaaahhh…pantesan udah jam 02.00 dini hari. Rupanya aku tertidur  3 jam disini.”

Sambil beringsut untuk pindah ke kamar tidur, mataku tertuju pada meja di depanku. “Hahhh, apa ini? Kenapa bisa berantakan begini?” kutolehkan kepala ke kanan dan ke kiri. Tak ada siapapun di ruangan ini. Pintu pun kulihat terkunci.

Kusandarkan kepalaku untuk mengingat-ingat, apa yg terjadi, apa yang aku lakukan sebelum aku tidur. Tak mungkin aku mengajak seseorang kesini. Semua orang sibuk dengan dunianya sendiri-sendiri belakangan ini. Sementara aku, kekasih tak punya, temanpun tiada. Belum lagi pekerjaan yang sangat menyita waktu. “Kapan aku bisa berkenalan dengan seorang gadis jika begini?” batinku.

Kupandangi lagi meja itu. Semua makanan berserakan, seolah ada yang membongkarnya dengan paksa. “Perasaan tadi sebelum aku tidur, semuanya masih rapi di meja….” pikirku. “Ahhh sudahlah, mungkin aku yang lupa…besok saja aku membereskannya.” lanjutku sambil berdiri dan pindah ke kamar untuk melanjutkan tidur.

***

Esok paginya, saat aku hendak berangkat bekerja, langkahku terhenti di ruang tamu. Kemana perginya snack-snack yang tadi malam berantakan di meja itu? Kenapa makanan hampir tidak ada yang tersisa dan tinggal bungkusnya saja? Hal ini sungguh aneh sekali. Aku benar-benar tidak bermimpi melihatnya berserakan tadi malam. Rasa penasaran bercampur seram mulai menyusup masuk. “Hmmm..tampaknya aku harus menyelidikinya..” niatku malam itu sekembalinya dari kantor.

Malam itu juga aku segera pulang. Namun aku tak langsung kembali ke rumah, tapi mampir ke toko snack dulu. Kubeli beberapa snack untuk kujadikan umpan nanti malam. Sesampainya aku di rumah, aku pasang umpan snack yang kubeli tadi di atas meja ruang tamu. Lalu saat mulai masuk tengah malam, aku pura-pura berbaring di sofa untuk tidur. “Harus kutangkap malam ini juga siapa pelaku pencurian ini,” gumamku.

Entah sudah berapa lama aku tertidur, tapi aku terbangun dengan suara “kriuk..kriuk..kriuk..makanan ini enak sekali..” Kutolehkan kepalaku perlahan-lahan menuju ke sumber suara. Sungguh rasanya detak jantungku hampir berhenti, ketika di hadapanku terlihat 2 ekor kecoa sedang makan dengan enaknya. “Apakah aku sedang bermimpi? Tidak..tidak..ini bukan mimpi. Ini nyata!  Kudengar mereka tak hanya makan, tetapi juga sedang berkata-kata.”

Kupaksakan tubuhku untuk bangun dan duduk dengan tegak. Langsung saja kuarahkan pandanganku kepada mereka. “Hai!” Seketika mereka kaget melihatku. Tiba-tiba saja mereka lari dan bersembunyi. “Apa aku salah mendengar dan melihat? Bukankah kentang bukan makanan kecoak? Dan bagaimana mungkin kalian bisa bicara dalam bahasa manusia?” tanyaku pada mereka seraya menyingkirkan beberapa bungkus snack tempat mereka coba bersembunyi.

Bungkus snack terakhir kusingkirkan, membuat mereka tidak menemukan tempat bersembunyi lagi. Melihat bentengnya tak ada lagi, akhirnya mereka mencoba mengelabui dengan diam tak bergerak. “Hei…mau kemana kalian..cepat jelaskan bagaimana kalian bisa makan kentang dan bicara dalam bahasa manusia?” tanyaku tak sabar ingin jawaban. Mereka yang diam membisu tak bergerak, perlahan memandang ke arahku disertai sungutnya yang bergoyang-goyang. Aku mendekatkan wajahku ke arah mereka dan kulihat ada deretan gigi rapi mirip manusia yang berjajar di wajahnya.

Tiba-tiba saja, “Tulilaluit…tulilaluit..” bunyi itu menyadarkanku, dan kutemukan diriku sedang berbaring di ranjang kamar tidur. “Tulilaluit…tulilaluit..” kuulurkan tanganku ke bawah bantal untuk mencari handphone dan mematikan alarm pagi. Sedetik kemudian kupandangi diriku, “Kenapa aku ada disini? Bukankah aku tadi malam sedang bicara dengan 2 ekor kecoak di ruang tamu? Kenapa sekarang aku disini?“  

Tanpa menunggu lagi, kutepiskan selimut tebal yang melilit tubuhku, dan segera berlari menuju ke ruang tamu. “Berantakan…berantakan..mejanya berantakan..benar, ini bukan mimpi..” gumamku. “Lihat..lihat..snacknya habis, berarti memang ada yang menghabiskan..” kataku dengan yakin. “Tapi..tapi..benarkah kecoa itu yang menghabiskan? Benarkah aku melihat deretan gigi putih yang rapi berjajar di wajah mereka?”

Sejenak aku merasakan perasaan ngeri perlahan merayap naik, membayangkan kenyataan yang mungkin sedang kuhadapi saat ini.

The Stories That Will Never Die

Banyak sekali diantara kita yang memiliki pengalaman batin dari membaca kisah di buku-buku yang hidup di masa kecil. Mungkin kisah-kisah yang kita baca hanyalah rekaan imajinasi dari penulisnya. Tetapi setelah waktu berjalan 10-20 tahun ke depan, ternyata kisah-kisah yang dulu akrab dengan keseharian, tetap selalu hidup dalam ingatan. Tak jarang pula, bukan hanya kisahnya yang kita ingat. Bahkan nama para tokoh, dan karakternya pun masih bisa kita gambarkan.

Begitupun saya, anak ’90-an. Banyak sekali kisah dari buku-buku yang menginspirasi saya. Masih ingin rasanya saya kembali membacanya satu per satu. Mungkinkah ada diantara teman-teman yang punya pengalaman sama dengan saya? Share yuk buku apa saja yang kalian baca di masa 10 hingga 20 tahun yang lalu. Ada beberapa judul yang pernah saya baca, akan saya tuliskan disini. Mungkin akan membuat teman-teman teringat dimana WOW day adalah saat kita tak bisa berhenti untuk membalik halaman demi halaman sebuah buku yang sedang kita baca saking serunya.

  1. S T O P

Buku ini berisi tentang kisah petualangan detektif cilik STOP (Sporty, Thomas, Oscar, dan Petra). Buku karangan Stefan Wolf asal Jerman ini mungkin tidak terlalu populer di Indonesia. Tapi justru yang tidak populer inilah yang paling saya suka, haha.. Cek dan ricek, ternyata sudah hampir semua karya Stefan Wolf dalam STOP sudah saya baca, hmm..

Kisah dalam buku STOP sangat menarik untuk anak-anak. Terbilang cara “showing”nya cukup ringan untuk dibaca anak-anak, meskipun kasus-kasusnya berhubungan dengan kriminalitas yg sebenarnya cukup berat. Misalnya pencurian, perampokan, penyanderaan, mafia, dan lain sebagainya.

Namun saat ini memang sudah sangat susah untuk mendapatkan kembali serialnya, dan Gramedia pun sudah tidak mencetak ulang karya-karyanya. Tapi mungkin saja masih bisa ditemukan di penjual buku-buku bekas di pelosok kota Anda. Penasaran? Hunting!

  1. Trio Detektif

Kisah petualangan trio detektif yang terdiri dari Jupiter ‘Jupe’ Jones, Peter ‘Pete’ Crenshaw, dan Robert ‘Bob’ Andrews ini hasil tulisan Robert Arthur, Jr pernah sangat membius anak-anak di jamannya. Petualangannya terasa sangat hidup saat dibaca, seolah-olah kita menjadi salah satu anggota dari Trio Detektif itu sendiri. Ceritanya relatif lebih berat dibandingkan STOP, lebih cocok untuk anak-anak yang mulai menginjak usia remaja.

  1. Goosebumps

Goosebumps hadir sebagai salah satu novel horor yang paling populer di Indonesia. Buku karangan R. L. Stine ini sempat juga dibuat filmnya, dan dirilis tahun 2015 silam. Bagi anak-anak yang penasaran dengan cerita-cerita horor yang memberikan bayangan imajinasi yang menarik dan hidup, Goosebumps adalah pilihan yang tepat. Kisahnya mengambil object dan kejadian di sekitar kita, sehingga rasa penasaran serta seram lebih terasa. Satu hal yang menjadi khas dari buku ini adalah, akhir ceritanya selalu menggantung. Menyisakan pertanyaan, dan keluasan imajinasi sendiri untuk meneruskan kisahnya.

  1. Lupus

Lupus menjadi salah satu novel anak-anak dan remaja yang paling laris pada masanya. Lupus adalah buku karya asli penulis Indonesia bernama Hilman Hariwijaya. Lupus menyajikan kisah keseharian tokoh Lupus bersama dengan adiknya, teman-temannya, dan keluarganya. Kisahnya bertumbuh mulai dari Lupus anak-anak hingga Lupus sudah SMA. Disajikan secara sangat kocak oleh Hilman, membuat tak jarang pembacanya tertawa terpingkal-pingkal, termasuk saya.  Rasanya tidak ada anak Indonesia yang tumbuh tanpa membaca kisah-kisah konyol Lupus, dan tidak pernah ketinggalan mengikuti setiap edisi terbarunya.

  1. Pak Janggut (Douwe Dabbert)

Pak Janggut adalah nama terjemahan Indonesia untuk salah satu novel anak-anak yang berasal dari Belanda. Tokoh pak Janggut sebenarnya bernama asli Douwe Dabbert. Dia diciptakan oleh seniman Piet Wijn dan penulis naskah Thom Roep.

Pak Janggut diceritakan sebagai sosok orang tua yang bertubuh pendek dan gendut. Dia memiliki janggut yang panjang berwarna putih  dan lebat Pak Janggut berkelana ke berbagai pelosok dengan selalu membawa buntelan kecil yang diikatkan ke sebatang kayu dan dipanggulnya. Buntelan kecil itu fungsinya seperti kantong Doraemon yang menyediakan berbagai hal yang dibutuhkan oleh pak Janggut. Di dalam petualangannya, Pak Janggut selalu mengalami kisah-kisah yang menakjubkan dan seru.

Di Indonesia, kisah tentang pak Janggut ini menjadi bagian cerita bersambung yang ada di dalam majalah Bobo. Maka anak-anak yang dulu tumbuh bersama Bobo pasti akan tahu tentang kisah Pak Janggut ini.

  1. Buku-buku Enid Bylton

Enid Bylton adalah salah satu penulis buku cerita anak berkebangsaan Inggris yang paling populer di abad ke-20. Karya-karyanya telah diterjemahkan ke berbagai bahasa di dunia, termasuk ke dalam bahasa Indonesia. Karya-karya Enid Bylton yang terkenal dan pernah saya baca antara lain, Lima Sekawan, Pasukan Mau Tahu, Sapta Siaga, Si Badung, Malory Towers, Lima Serangkai, Empat Serangkai, dan St. Clare. Enid Bylton meninggal di tahun  1968 di usia 71 tahun, tetapi bayangkan, 50 tahun setelah kepergiannya, buku-buku hasil karyanya masih dibaca oleh banyak anak di seluruh dunia. Luar biasa!

Itulah sebagian buku fiksi anak-anak yang turut tumbuh bersama masa kecilku. Sungguh betapa luar biasanya para penulisnya. Saat ini sebagian dari mereka mungkin telah tiada, tetapi karyanya tetap abadi. Mungkin sebagian besar para pembacanya di seluruh dunia tidak mengenal sosoknya, tetapi namanya sangat familiar. Terdengar seolah benar-benar hadir dalam kehidupan kita. Begitupun tokoh-tokoh hasil karangannya, sampai saat ini kita masih bisa mengingat nama, dan karakternya, seolah-olah mereka adalah kawan atau sahabat kecil kita.

Itulah salah satu alasan kenapa kita harus menulis. Karena suatu hari nanti kita pasti akan tiada dari muka bumi ini. Namun jika kita punya karya, nama kita akan tetap abadi, seabadi tokoh di buku-buku hasil karangan kita sendiri.

Kutemukan Diriku!

Dulu, ketika memiliki koleksi buku kesukaan adalah sebuah mimpi besar,  Ayahku adalah orang dibalik layar yang selalu mendukungku. Dulu, ketika waktu untuk membeli buku adalah sebuah agenda perjalanan, juga ayahkulah yang menghilangkan batasan itu.

Dulu, ketika rasa haus membacaku mencari peredanya, ada seorang sahabat yang melenyapkan dahagaku. Rumahnya yang penuh buku-buku yang tak pernah kutahu, rasanya sangat memuaskan asaku untuk melahap semuanya satu per satu.

Kini, saat aku menjadi diriku yang sekarang, aku pun menyadari bahwa ada orang-orang hebat yang menjadikan aku seperti ini. Orang-orang hebat yang menyertai perjalanan hidupku, membuat aku tumbuh menjadi pribadi yang kuharap lebih bermutu.

Saat kutarik masaku ke belakang, aku menjadi tahu darimana aku mendapatkan rasaku. Menjadi seorang penulis adalah salah satu passion yang tumbuh dari dalam jiwaku. Tapi berkat ayah dan sahabatku, aku semakin menemukan siapa diriku.

Sangat dekat dengan banyak sekali buku di masa awal kehidupan ternyata mampu membuat rasa cinta pada dunia literasi itu tetap ada, hingga pada akhirnya dia memanggilku…

Dan kini, aku mencoba memulai langkahku. Tak pernah ada kata terlambat, dan tak pernah ada ‘terlalu tua’ untuk belajar. Dari semua kisahku mengejar mimpi, yang pasti adalah aku menyadari bahwa kita terlihat hebat bukan semata karena diri kita memang hebat, tetapi ada peran, doa, dan dukungan orang-orang yang lebih hebat dalam takdir kehidupan kita.

Tak ada yang bisa disombongkan tentang kemampuan diri sendiri. Yang ada hanyalah rasa syukur dan semangat untuk melakukan yang kita sukai, yang kita bisa, mulai saat ini.

Start where you are..

Use what you have..

Do what you can..

#30DWC #30DWCJilid11 #Day1

Tangan yang Menepuk Bahuku

Sebuah tangan menepuk bahuku. Ringan, mungkin karena setengah ragu, atau khawatir membuat kaget. Namun, selembut apapun, tepukan itu tetap saja membuyarkan lamunanku. Entah sudah sejak kapan aku termangu, terbenam dalam kilatan potret masa lalu yang lewat dalam pikirku.

“Sas …. ”

“Hai Pram. Sorry, aku membuatmu kaget. Ehm … tadinya aku juga tak begitu yakin ini kau. Namun, kuingat gelang tali yang kau pakai itu. Maaf ….”

“Kau … sedang di sini juga? Bulan madu?”

“Haha … lama rupanya kita tak saling kontak lagi. Aku … ehm … sudah bercerai setahun yang lalu. Kau sendiri? Mana istrimu?”

“Tidak. Aku sedang perjalanan dinas.”

“Oh. Oke. Ehm … kau, sampai kapan di sini?”

“Mungkin 3 hari lagi.”

“Baiklah.”

“…”

“…”

Melihatnya kembali. Di tempat yang pernah kami kunjungi bersama dulu, bukanlah hal yang ingin kualami. Tujuh tahun berlalu sejak cerita kami berakhir. Tak pernah ada kontak lagi. Tak pernah ada cerita lagi. Hingga kudengar dia telah menikah dengan seorang rekan kerjanya, lalu pindah ke Amerika. Begitu pun aku, yang juga kemudian menikah, dan punya anak.

Tujuh tahun. Di usia pernikahan yang kelima, aku merasa cukup bahagia. Istri dan dua anak, cukup membuatku menutup kisah lalu. Namun kini, perjalanan dinas membuatku harus mengunjungi lagi tempat ini. Sebuah tempat yang sungguh ingin kulupakan. Sungguh. Namun kenapa semakin ingin kulupakan, ingatan itu semakin menghujam kuat ke dasar bawah sadar? Nahasnya, aku melihat lagi wajahnya di tempat ini. Ketika aku sedang ingin membuang ingatanku tentangnya. Lewat sebuah tepukan di bahu. Tepukan dari tangannya yang dulu kujanjikan tak akan pernah kulepaskan. Tangannya yang lembut dan hangat.

“Hei, Sas ….”

Langkahnya berhenti.

“Tahukah kau, di mana tempat terbaik untuk menikmati kopi?”

Langkahnya masih terkunci. Diam. Kupakukan pandangku pada punggungnya. Mungkin kini pun aku harus menyaksikan kembali punggungnya melangkah pergi.

“Aku tahu, Pram. Kuyakin kau juga pasti masih ingat di mana itu.”

Tiba-tiba dia membalikkan badan. Menatapku lurus di hadapan. Melangkah ke arahku. Mendekat. Menggulirkan desir yang entah apa. Yang mungkin akan kusesali. Atau, kunikmati.

Rahmi

Tejo tak akan tahu bagaimana rasanya menjadi Parman, ayahnya, jika saja ia tak bertemu dengan Rahmi. Sejak lima tahun lalu, Rahmi menjadi istri yang selalu mendorong Tejo untuk memperjuangkan hak-hak kaum tertindas di desa mereka.

Bagaimana tidak, tanah yang meraka huni saat ini, tak lama lagi akan diambil alih oleh pengusaha hotel. Beberapa kali Tejo dan Rahmi perlu bersitegang dengan pihak-pihak yang memiliki kepentingan. Undangan rembug yang dibalut serupa diskusi. Namun secara politis maksudnya hanya untuk merayu. Merayu agar para pemilik tanah rela menjual lahan mereka untuk dialih fungsikan.

Rahmi, perempuan biasa saja. Begitupun Tejo. Namun, Rahmi juga perempuan pemberani. Pejuang hak asasi. Sebuah semangat yang ia tularkan pada Tejo, suaminya.

Yang tak semua orang tahu, perjuangan melawan kekuasaan bukan sekedar kisah heroik. Bukan sekedar kisah semangat. Namun, bisa juga kisah kekalahan. Kisah kepiluan. Kisah sakit ketika seberapa pun kuatnya melawan, teriakan dalam demonstrasi, tak sekuat modal kapital yang kaum tuan miliki.

Kini Tejo sadar, betapa perjuangan ayahnya dulu sungguhlah luar biasa. Menjadi kuli tinta. Terkadang pergi berhari-hari, berminggu-minggu, mengunjungi wilayah-wilayah krisis keadilan, terlarang, berbatas aturan.

Tejo tertunduk. Air mata mulai sedikit menumpuk di bagian bawah mata. Tejo kecil hanya tahu jarang bertemu ayah. Jarang dipeluk ayah. Jarang diajak ngobrol dengan ayah. Tejo kecil hanya tahu, ayahnya pulang hanya untuk bekerja. Menumpuk puntung rokok, serta lembaran-lembaran kertas, catatan-catatan tangan, yang seringkali menjelma jadi istri ayah, mengalahkan ibunya. Ayahnya sering tertidur dalam lelah, di balik mesin ketik usang kamar kerjanya.

Tejo pun sempat membenci ayahnya. Bahkan berjanji, tak akan mau menjadi laki-laki seperti ayahnya ketika kelak dewasa. Tak mau pergi untuk bekerja, dan pulang pun untuk bekerja. Tejo tak mau nasib anaknya, sepertinya dirinya.

Namun, pernah sesekali ia dibuat bingung. Ketika ayah memanggilnya masuk. Menunjukkan mesin ketik, mengajarinya cara mengetik, menunjukkan buku-buku yang kata ayah, harus habis dibacanya ketika kelak dewasa.

Masih tertanam kuat pula, ketika ayah memegang kedua bahunya, seraya memandang tepat, menusuk jauh ke dalam matanya.

“Jo, kamu tahu apa itu pahlawan?”

“…”

“Pahlawan itu orang yang menang. Menang melawan dirinya sendiri. Dan memenangkan orang lain dalam pertarungan melawan ketidak adilan. Jadilah pahlawan untuk dirimu sendiri, dan sesamamu.”

“Bagaimana caranya, Yah? Aku bukan presiden.”

“Kau tahu apa ini? Mesin ketik. Kau mungkin bukan presiden. Bahkan kau tak perlu jadi presiden untuk bisa jadi pahlawan. Kita juga mungkin tak punya cukup uang. Tak punya pistol. Tak punya tenaga. Tapi kita punya pikiran. Hiduplah dengan pikiranmu. Bersuaralah dalam diammu. Dalam kata-katamu. Jadilah pahlawan dengan caramu. Kau mengerti?”

Tejo mengangguk. Setengah mengerti. Namun ada satu hal yang Tejo sadari, ayahnya sangat sayang padanya.

Dua hari kemudian, ayahnya pergi lagi. Kata ibu, ayah harus pergi ke sebuah daerah, di pelosok, untuk menyelidiki kasus petani.

Bertahun lewat, Tejo menikah dengan Rahmi. Perempuan aktivis, yang membuat Tejo teringat ayahnya. Mungkin itu pula, yang membuat Tejo jatuh cinta.

Kini Tejo sadar, ada kekuatan yang lebih besar daripada teriakan. Kekuatan kata-kata. Kekuatan kata-kata mungkin hanya lewat tulisan. Tapi gaungnya menempuh jarak yang tak bisa dibayangkan. Menembus ruang demi ruang. Mendengung di telinga masing-masing orang. Mengalir dalam pikiran, mengoyak, mencabik, dan mengusik nurani.

Kini pun Tejo mengerti, kenapa ayahnya memilih menjadi seorang penulis. Juga ayahnya, yang hingga kini tak pernah kembali.

Tangerang, 13 Des 2018

DWC12, Kompetitif!

Tanpa terasa, today is a last day in 30 Days Writing Challenge Jilid12. Saya, bukan lagi anak baru di sini. Ternyata begini rasanya jadi anak tidak baru, hehe..

Bagi saya, DWC selalu spesial. Bukan hanya memberikan saya semangat untuk berjuang dengan lebih kuat lagi, DWC juga mampu menciptakan hal baru untuk masuk sebagai rutinitas penting, yaitu menulis setiap hari.

Saya, sebagai anggota DWC alumni sejak Jilid 11, merasa bahwa DWC Jilid 12 ini ada perbedaan. Baik secara program, tantangan-tantangannya, maupun suasana dalam kompetisinya.

Di DWC yang telah berlangsung selama 30 hari ini, saya menemukan bahwa jiwa-jiwa menulis anak muda itu sebenarnya sangat besar. Semangatnya luar biasa. Bahkan lebih dan meluap-luap. Hal itu tampak dari bagaimana setiap fighter mampu berperan aktif dalam setiap tantangan yang diberikan.

Namun, ada juga satu hal yang ingin saya masukkan sebagai koreksi. Dari sekian banyak peserta, sebenarnya yang memiliki keterlibatan aktif hanya sekitar 25%. Selebihnya pasif. Banyak faktor yang perlu diteliti untuk itu. Apakah salah jika pasif? Tidak ada salah dan benar di sini. Semua bergerak seperti apa yang diharapkan. Tapi, bagi saya pribadi. jika seharusnya bisa menyerap 90% ilmu, tapi hanya menggunakan 50% energi untuk mencapai 90%, karena ragu, takut, kawatir, dan lain-lain sebenarnya sayang. Apalagi untuk yang baru pertama kali ikut. Tentu bisa saja berbeda dengan yang sudah pernah ikut. But well, it’s about me. Not you.

Satu lagi yang saya temukan, kurangnya konsistensi. Semangat memang menggebu-gebu, meluap-luap. Tetapi, tidak konsisten. Terbukti dengan banyaknya yang tidak setor, bahkan di hari pertama. Lalu juga banyak yang DO di beberapa hari berikutnya. Juga keterlibatan dalam feedback.

Namun, bagi saya pribadi, DWC tetap selalu spesial. Rasa. Rasa tak pernah sama. Makanya kalau punya pacar, hindari CLBK. Mending move on. Cari rasa yang berbeda, haha..

Anak Muda, Ke Mana Aja?

Hari ini, sesi feedback dimulai lagi di Empire. Sebagai sesama peserta, kali ini giliran kami untuk mendapatkan feedback, sekaligus memberikan feedback.

Ada yang menarik. Saya berbicara dengan seorang 19 tahun, anak muda. Sangat muda. Jauh lebih muda daripada saya. Namun, dia sudah jauh melebihi saya. Sebelumnya, saya juga bertemu teman dengan usia 12 tahun di kelas menulis DWC ini.

Saya merasa ini luar biasa. Anak muda sekarang sangat luar biasa. Maju dan berkembang dengan sangat cepat secara pemikiran, serta karya. Hebat!

Memang. Banyak hal-hal positif dan produktif yang bisa dilakukan oleh seorang anak muda jaman now. Ketika semua fasilitas ada, akses terbuka tanpa batas, membuat kaum mereka maju dengan sangat pesat.

Sungguh. Ironis. Ketika satu sisi, ada yang sangat mampu berkembang dengan segala potensinya, tetapi di sisi lain ada yang sangat mengecewakan. Memalukan. Itu terdengar sangat tidak membanggakan.

Beberapa waktu terakhir, kejadian buruk terjadi dengan melibatkan tokoh anak muda bangsa. Narkoba, miras oplosan, pencurian, pembunuhan, dan lain-lain dilakukan oleh anak muda. Sedih. Teriris.

Anak muda dianggap harapan bangsa. Benar adanya. Di tangan anak mudalah negara ini bisa berkembang sejauh apa yang menjadi mimpi-mimpi yang ada.

Majulah, anak muda. Berkibarlah!

Dunia ini sangat indah dan luas, untuk kau sesali di dalam ruang penjara.

Menggengam Dunia

Pelan tapi pasti, Radhita punya sebuah mimpi. Sekolah di luar negeri. Wow, bukan?

Kini, setelah lebih dari dua tahun ia berusaha untuk mendapatkan beasiswa, nyatanya kisah itu tak semulus yang ia rencanakan.

Orang bilang, sekolah di luar negeri itu keren. Bisa jadi orang sukses jika nanti pulang ke kampung halaman. Pun Radhita, ingin juga melakukan hal yang seperti harapan banyak orang.

Radhita, seorang anak pembajak tegalan sawah, mimpi jadi sarjana. Haha … ini mimpi di siang buta. Begitu bagi semua warga kampungnya. Seolah nasibnya nanti, sudah ditentukan sekarang.

Ya. Tak mudah memang. Dunia masa kini sudah sedemikian cepatnya berevolusi. Seolah-olah benar menggilas, menginjak, dan melemparkannya ke lubang bernama kegagalan, jika tak mampu mengikuti.

Radhita, anak kampung Batik Apung. Kampung para perajin batik, meski Ayahnya bukan bagian dari dunia perbatikan, tapi Radhita yakin kelak ia mampu membawa kampungnya jadi kampung yang terkenal.

Perjuangan Radhita belum usai. Kini dia masih harus menjalani serangkaian tes seleksi untuk bisa melangkap ke langkah pertamanya. Ya, langkah pertama selalu saja sulit. Sangat sulit. Butuh sebuah tekad baja, tanpa keraguan dan ketakutan yang menarik kembali ke belakang.

Ya, Radhita datang dengan setumpuk mimpi. Ia tuangkan ke dalam setumpuk kertas di dalam dekapan. Risetnya tentang : Matinya Kunang-Kunang Dalam Pendar, semoga mampu membuatnya diterima sebagai mahasiswa sastra di Paris, Perancis.

Rasa. Di Mana Aku Harus Mencari?

Rasa. Setelah diksi pun masih jauh dari sempurna, kali ini saya harus belajar tentang bagaimana menyalurkan rasa. Sulit ternyata. Bagi saya. Karena ini terkait dengan masalah kepekaan, dan ketelitian.

Banyak teori yang menuliskan tentang rasa. Namun seperti halnya cinta, tidak ada teori pasti yang bisa menggambarkan bagaimana caranya jatuh cinta.

Kini, Tuhan mempertemukan saya dengan sekolah yang menarik. Cara mendidik di kelas ini menarik. Sangat menarik. Berbeda dari kelas yang lain yang pernah saya ikuti. Kelas ini tidak punya teori pasti. Aneh? tidak. Hanya berbeda.

Sebuah teori dianggap justru membatasi ruang berpikir kami di sini. Padahal rasa tak bisa diteorikan, dan dibatasi. Haha.. seru! Lalu bagaimana? Di sini sekolah jurusan Pendidikan Rasa. Sebuah jurusan yang belum pernah ada. Andaikan pun ada, apakah dipercaya? Karena tidak ada teorinya.

Lalu, belajar dari mana? Cara belajar kami diawali dengan cara membedah karya para maestro sastra. Ini menarik, kami jadi terbiasa untuk merasakan. Memahami, meresapi, dan akhirnya menuangkan.

Namun, itu pun ternyata masih tidak mudah. Maka cara selanjutnya adalah praktek. Baca baca, nulis. Baca lagi, nulis lagi. Semakin banyak baca diharapkan semakin mampu menulis. Namun itu juga ternyata masih jauh dari sempurna. Ya. Memang tidak mudah.

Lalu bagaimana? Saya mencoba menyederhanakan dalam analogi. Ketika hati begitu ingin makan kue coklat, maka cari kue coklat favorit itu. Lalu, coba resapi, rasakan bagaimana choco melting itu meleleh di dalam mulut, begitu manis, dan lembut. Simpan rasa dalam kecapan, catat, lalu tuangkan seberapa nikmatnya. Ketika kita mampu membuat orang lain ingin makan juga, di situ lah artinya kita telah menemukan rasa.

Selamat menemukan.

Desa Para Pembajak Sawah

Desa. Kampung. Tertinggal. Miskin. Petani. Nelayan. Itulah profil desaku. Tinggal di lokasi yang tak banyak bisa menuntut ini dan itu, rupanya sekarang menjadi sebuah cerita seru.

Desa. Ya, selama 15 tahun aku menghabiskan waktuku di sana. Tempat yang tak ada macam-macam seperti di kota. Jangan berharap apa-apa. Justru sebenarnya aku berhutang banyak padanya.

Desaku. Tempat para pembajak sawah berangkat pagi pulang petang. Saking cintanya pada kesederhanaan, sampai sekarang sawah pun masih digarap dengan tadah hujan. Bagaimana tidak banyak gagal? Ketika musim panen padi tak lagi menjanjikan perbaikan nasib kehidupan, maka harapan pun beralih ke jenis tanaman lain. Singkong, kacang, atau pun labu kuning. Bersuka cita panennya, tapi setelah itu bingung mau dijual ke mana. Ya, inilah desaku. Desa para pembajak sawah.

Kadang aku bingung. Desaku tak pernah bisa maju. Tersepuh oleh arus zaman, yang secara mental belum siap kami terima. Satu sisi, banyak anak mudanya bergaya bak artis ibukota. Anak-anak SMA pakai rok di atas lutut dengan bangga. Warung kopi pun tak pernah jeda dari sepi. Namun apa hasilnya. Desaku tetap tidak maju.

Aku kadang berpikir, kenapa para pembajak sawah ini harus jadi penghuni kasta terbawah? Bukankah negeri ini isinya tanah serta sawah? Entahlah … kaum yang senantiasa bodoh atau dibodohkan? Dibodohkan atau memang tidak dipintarkan? Desaku tak pernah maju. Sejak dulu hampir selalu begitu.

Benarkah tidak bisa maju?

Jika begitu, harusnya aku pulang untuk membangun desaku.