Kecoa!

“Ttttiiiiittttttttt…” Aku terbangun dari tidurku di sofa ruang tamu malam itu. Kutengok ke sebelah kanan, ternyata suara itu berasal dari televisi yang sudah berakhir siarannya. “Aaaahhh…pantesan udah jam 02.00 dini hari. Rupanya aku tertidur  3 jam disini.”

Sambil beringsut untuk pindah ke kamar tidur, mataku tertuju pada meja di depanku. “Hahhh, apa ini? Kenapa bisa berantakan begini?” kutolehkan kepala ke kanan dan ke kiri. Tak ada siapapun di ruangan ini. Pintu pun kulihat terkunci.

Kusandarkan kepalaku untuk mengingat-ingat, apa yg terjadi, apa yang aku lakukan sebelum aku tidur. Tak mungkin aku mengajak seseorang kesini. Semua orang sibuk dengan dunianya sendiri-sendiri belakangan ini. Sementara aku, kekasih tak punya, temanpun tiada. Belum lagi pekerjaan yang sangat menyita waktu. “Kapan aku bisa berkenalan dengan seorang gadis jika begini?” batinku.

Kupandangi lagi meja itu. Semua makanan berserakan, seolah ada yang membongkarnya dengan paksa. “Perasaan tadi sebelum aku tidur, semuanya masih rapi di meja….” pikirku. “Ahhh sudahlah, mungkin aku yang lupa…besok saja aku membereskannya.” lanjutku sambil berdiri dan pindah ke kamar untuk melanjutkan tidur.

***

Esok paginya, saat aku hendak berangkat bekerja, langkahku terhenti di ruang tamu. Kemana perginya snack-snack yang tadi malam berantakan di meja itu? Kenapa makanan hampir tidak ada yang tersisa dan tinggal bungkusnya saja? Hal ini sungguh aneh sekali. Aku benar-benar tidak bermimpi melihatnya berserakan tadi malam. Rasa penasaran bercampur seram mulai menyusup masuk. “Hmmm..tampaknya aku harus menyelidikinya..” niatku malam itu sekembalinya dari kantor.

Malam itu juga aku segera pulang. Namun aku tak langsung kembali ke rumah, tapi mampir ke toko snack dulu. Kubeli beberapa snack untuk kujadikan umpan nanti malam. Sesampainya aku di rumah, aku pasang umpan snack yang kubeli tadi di atas meja ruang tamu. Lalu saat mulai masuk tengah malam, aku pura-pura berbaring di sofa untuk tidur. “Harus kutangkap malam ini juga siapa pelaku pencurian ini,” gumamku.

Entah sudah berapa lama aku tertidur, tapi aku terbangun dengan suara “kriuk..kriuk..kriuk..makanan ini enak sekali..” Kutolehkan kepalaku perlahan-lahan menuju ke sumber suara. Sungguh rasanya detak jantungku hampir berhenti, ketika di hadapanku terlihat 2 ekor kecoa sedang makan dengan enaknya. “Apakah aku sedang bermimpi? Tidak..tidak..ini bukan mimpi. Ini nyata!  Kudengar mereka tak hanya makan, tetapi juga sedang berkata-kata.”

Kupaksakan tubuhku untuk bangun dan duduk dengan tegak. Langsung saja kuarahkan pandanganku kepada mereka. “Hai!” Seketika mereka kaget melihatku. Tiba-tiba saja mereka lari dan bersembunyi. “Apa aku salah mendengar dan melihat? Bukankah kentang bukan makanan kecoak? Dan bagaimana mungkin kalian bisa bicara dalam bahasa manusia?” tanyaku pada mereka seraya menyingkirkan beberapa bungkus snack tempat mereka coba bersembunyi.

Bungkus snack terakhir kusingkirkan, membuat mereka tidak menemukan tempat bersembunyi lagi. Melihat bentengnya tak ada lagi, akhirnya mereka mencoba mengelabui dengan diam tak bergerak. “Hei…mau kemana kalian..cepat jelaskan bagaimana kalian bisa makan kentang dan bicara dalam bahasa manusia?” tanyaku tak sabar ingin jawaban. Mereka yang diam membisu tak bergerak, perlahan memandang ke arahku disertai sungutnya yang bergoyang-goyang. Aku mendekatkan wajahku ke arah mereka dan kulihat ada deretan gigi rapi mirip manusia yang berjajar di wajahnya.

Tiba-tiba saja, “Tulilaluit…tulilaluit..” bunyi itu menyadarkanku, dan kutemukan diriku sedang berbaring di ranjang kamar tidur. “Tulilaluit…tulilaluit..” kuulurkan tanganku ke bawah bantal untuk mencari handphone dan mematikan alarm pagi. Sedetik kemudian kupandangi diriku, “Kenapa aku ada disini? Bukankah aku tadi malam sedang bicara dengan 2 ekor kecoak di ruang tamu? Kenapa sekarang aku disini?“  

Tanpa menunggu lagi, kutepiskan selimut tebal yang melilit tubuhku, dan segera berlari menuju ke ruang tamu. “Berantakan…berantakan..mejanya berantakan..benar, ini bukan mimpi..” gumamku. “Lihat..lihat..snacknya habis, berarti memang ada yang menghabiskan..” kataku dengan yakin. “Tapi..tapi..benarkah kecoa itu yang menghabiskan? Benarkah aku melihat deretan gigi putih yang rapi berjajar di wajah mereka?”

Sejenak aku merasakan perasaan ngeri perlahan merayap naik, membayangkan kenyataan yang mungkin sedang kuhadapi saat ini.

Published by ardhist

Mari bertemu di Instagram @ruangtitikkoma

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: