Ketika Diijinkan Terjadi

“07.33…Yessss! Masih pagi untuk memulai hari..” gumamku di pagi ini. Biasanya jam segini, aku masih sibuk ngomel karena anakku tak juga segera mau pakai sepatu. Atau…masih sibuk nyuapin makan sambil membereskan handuk dan baju kotor yang berantakan.

Ya, bagi emak-emak macam aku ini, setiap detik rasanya sangat berharga. Pagiku sudah penuh to-do-list yang harus selesai hingga waktu tidur malam nanti. Untuk hari ini, saat semua bisa dimulai lebih dini. “Ohhh..indahnya hari ini..” ucapku riang.

Kusetel radio di mobil sambil berpikir, “Mau ngapain ya sekarang? Ehmm..pulang, lanjut memasak untuk lunch, ke swalayan beli susu, isi bensin mobil, atau ke bank?” Terdengar suara penyiar yang sudah berhalo-halo di radio.

“Haiii…buat kamu sobat GEMS.fm yang lagi di jalan,

hati-hati yaa..lagi rame banget nih di pesimpangan Jl. Surya Kencana..

Sabar sabaarrr ajaa dehh klo kena macet..

Daripada bete dan bosen yang ga ada gunanya, kita main curhat-curhatan aja yuukk!

Idih kak, pagi-pagi bawaannya udah baper amat yak..? haha

Tenaaaang,  curhatnya bukan urusan diputusin pacar kok, jadi ga bikin baperrr dongg!

Ini nih, kita-kita mau tau..barang apa aja sih yang selalu lo bawa  di tas, kecuali dompet dan handphone? Hayoo..klo para cewek pasti make up, lipstick..ahh basi, yang lain dong!

…..

“Ehmm..apaan yah? Aku jadi ikut mikir juga, haha..mayan seru juga nih penyiar!” pikirku sambil memutar tombol volume ke kanan.

Tiba-tiba, “Braaaaakkkk!!” Mobilku terdorong ke depan. “Waduhh..ini pasti ada yang nabrak dari belakang nih! Duhh mampus, peyokkk dehh mobil akuuu,” sambil kutepukkan tangan ke dahi. Kutolehkan kepala ke belakang, mencari dari mana sumber suara tabrakan itu. “Aduhhh bener nih kayaknyaa, mobil aku yang ditabraknya!”  Segera kucari posisi yang enak untuk memarkirkan mobil sementara, lalu keluar dan mencari siapa gerangan yang menabraknya.

Kulihat dari jauh tempatku berdiri, seorang anak muda, pengendara motor, usia sekitar 17 tahunan, sedang beradu argumen dengan seorang pengendara mobil lain. Sepertinya anak muda yang menabrak mobilku juga parah kondisi motornya.  Tapi tunggu dulu, “Gimana nasib mobilku? Peyokkah? Pecahkah?” Kulangkahkan kaki ke belakang mobil, “Aduhhhh!! Mayan nih!”  Ternyata ada peyok di bagian ujung kiri, dan lampu belakang mobil pun pecah.

Kupalingkan pandangan mencari anak muda yang menabrak mobilku tadi. “Ohh..dia masih disana rupanya.” Kuhampiri dia yang masih berdebat tapi sudah coba dilerai oleh satpam. Sekarang ia tampak sedang sedih memandangi motornya yang peyok depan dan belakang. Sementara pengendara mobil yang berdebat dengannya tampak sedang menguhubungi seseorang.

Lantas kuhampiri anak muda itu, “Mas..gimana nih, kok mobil saya jadi ikutan kena ya? Tadi gimana kejadiannya?” Si anak muda itu menjawab, “Aduhh iya bu, maaffff..saya tadi juga tiba-tiba ditabrak dari belakang oleh mobil itu. ” Sahutnya sambil menunjuk mobil hitam yang terparkir tak jauh dari motornya. “Ini motor saya juga peyok di depan, dan malah ada yang patah di belakang.” lalu menunjuk motornya yang perkiraan saya lumayan juga biaya perbaikannya. “Saya benar-benar minta maaf Bu..tapi sungguh saya tidak bermaksud menabrak mobil ibu. Saya bingung bagaimana harus mengganti kerusakan mobil ibu.” lanjutnya setengah mengiba.

Akhirnya kejadian ini membuat saya berpikir, bahwa memang ada hal-hal yang tak bisa kita hindari. Mungkin sekilas ini memang bukan kesalahanku sendiri, tetapi ada bagian dari kesalahan orang lain yang juga memberikan dampak kepadaku saat ini. Rugi, ya..mungkin. Tapi aku lebih ingin memaknainya sebagai sebuah “sentilan” yang Tuhan berikan untuk mengasah kepekaan. Jika Alloh menghendaki kejadian ini untuk terjadi , pasti bukan tanpa alasan Alloh mengijinkannya.

Bagiku, sesungguhnya kesialan itu tidak pernah ada. Yang ada adalah nikmat Alloh yang ingin dibagikan kepada lebih banyak orang.  Jika kita merasa selalu beruntung, bukankah itu sungguh aneh, jika kita tidak pernah memberi keberuntungan pada orang lain? Karena sesungguhnya Alloh selalu menciptakan segala sesuatu dengan seimbang. Pria-wanita, siang-malam, baik-buruk, dan lain sebagainya. Ujiannya adalah, bagaimana kita memaknai sebuah peristiwa?

Mengingat itu, lantas kulihat lagi si anak muda yang terduduk lesu di pinggir jalan itu. Sepatunya lusuh, sepertinya lebih dari 3  tahun tidak diganti. Celananya panjang, berwarna abu-abu, mengisyaratkan dia masih anak sekolah tingkat SMA. Motornya pun bukan motor baru, tapi motor butut model lama.

Sejenak kurenungkan,

“ Apa maksud Alloh dibalik peristiwa ini?

Mampukah aku meminta ganti rugi  padanya?

Mampukah aku menerima beberapa lembar kertas dari tangannya?

Uang apa yang akan dia gunakan untuk mengganti kerusakan mobilku?

Lalu bagaimana cara dia memperbaiki motornya?

Apakah  orang yang menabrak mobilnya akan mengganti sesuai kerusakannya?

Sementara mobilku, semuanya tercover asuransi. Tinggal dibawa ke bengkel, langsung diganti.  Semua beres dan hidup kembali seperti semula. Tapi bagaimana dengan anak itu? Mungkin saja kejadian ini berdampak lebih lama untuknya.

Yaa Alloh, rasanya aku tak mampu.” Batinku terus bicara.

Kuulurkan tangan ke dalam tas untuk mencari dompet merah tuaku. Kulihat disana ada beberapa lembar rupiah yang tersimpan. Kuhitung hingga lima lembar, lalu kuulurkan pada sosok anak muda itu. “Ini, ambillah..dan gunakan untuk perbaikan motormu.” Si anak muda itu menengadahkan wajahnya dan memandangku dengan heran. “Kok saya yang dikasih uang, bu? Bukankah saya yang seharusnya mengganti kerusakan mobil ibu?” tanyanya bingung.

Aku tersenyum padanya, “Tak apa, pakai saja. Untukmu uang itu lebih berguna. Soal mobilku, gampang. Nanti bisa aku atur. Ya sudah, selesaikan urusanmu dengannya, dan pergilah perbaiki motormu.” Ungkapku sambil pamit dan berlalu dari hadapannya.

Langkahku masih diikuti dengan pandangan mata keheranan olehnya. Tapi aku tersenyum puas dalam langkahku. Yaa Alloh, terima kasih. Mungkin hari ini Engkau memberiku jalan untuk membantu orang lain dengan cara ini. Semoga Engkau mudahkan jalan kami untuk lebih bahagia dan berkah dalam kehidupan. Aamiin..

Saat kunyalakan lagi radio di mobil, terdengar suara penyiar yang berbeda dari yang pagi tadi kudengar

“….

Ya, para pendengar sekalian..

Kami laporkan telah terjadi sedikit tabrakan di Jalan Cokro Kusumo antara 2 buah mobil dan 1 buah sepeda motor.

Mohon untuk lebih berhati-hati lagi dalam mengemudikan kendaraan Anda.”

 “09.47” Kulirik jam digital mobil dan mulailah aku berlalu. Tampaknya masih ada cukup waktu untuk melanjutkan to-do-list ku yang tertunda sejenak itu.

Advertisements

2 thoughts on “Ketika Diijinkan Terjadi

  1. Mbak aku terharu bacany 😢. Kadang memang kita udah hati2 banget berkendara. Eh malah entah yg di belakang atau didepan yg kurang hati2. Tp memang kadang selalu ada hikmahnga ya mbak. Smg apa yg mbak lakukan ke si anak muda tsb bisa jd pemberat amal jariyahny mbak 😊😘.
    Btw, tulisanny mbak bagus, kyak baca tulisan fiksi. Hehe

    Liked by 1 person

    1. Terima kasih ya mba..saya masih newbie nih..masih butuh banyak bantuan dan masukan. Trima kasih telah berkenan membacanya mba Emiriasemesta.. 🙏🏻🙏🏻🙏🏻

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s