Wajah Baru

“…OK, silakan kumpulkan tugas Anda tanggal 12 Juni, 1 minggu dari sekarang..”  kalimat terakhir dosenku menutup sesi kuliah Social Research hari ini.

“Huufffttt..matiii, mo nyari tema apaan nih kita?” Sinta menatap kosong ke arah papan tulis.

“Entahlah…belum kepikiran sama sekali. Boro-boro sosial research, hati sendiri aja belum di-research kenapa bisa jomblo kelamaan gini..” curhat Radit diiringi pandangan jijay dari kawan-kawannya.

Well, hari itu kami mendapat tugas melakukan social research kepada lingkungan sosial. Setiap mahasiswa diminta untuk melakukan pengamatan tentang apa yang sedang terjadi di sekeliling. Selanjutnya kami diharuskan menganalisis masalah, dan merumuskan problem solving dari masalah tersebut. Bukan tugas yang sulit sebetulnya, tapi membutuhkan kepekaan lebih kepada lingkungan sekitar.

2 hari berlalu, dan aku pun masih bertanya-tanya tentang apa yang bisa kutulis. Sore itu aku dan Sinta punya agenda ke sebuah mall untuk membeli pakaian, demi kelas zumba minggu depan. Maklum, masih mahasiswi begini rasanya ingin selalu tampil oke dan menarik di mata semua orang.

Sore itu, kukendarai motorku sendirian. Sebenarnya agak tidak biasa, rasanya aneh jika pergi tanpa teman. Namun Sinta ada urusan sehingga kami langsung janjian bertemu di mall saja. Sambil kulajukan motor dengan santai, kucoba untuk menangkap ide dari pandangan mataku. Hingga lampu merah perempatan depan menghentikan sejenak lajuku.

“Kak…minta uangnya, kak..buat makan, kak..” Seorang bocah kecil dengan baju kuning lusuh dan sobek di bagian bahu, mengulurkan tangannya. Kuamati wajahnya, masih kecil, polos, dan sedih menatapku dengan mengiba.

“Kamu sekolah?” tanyaku tanpa terlihat akan memenuhi apa maunya.

Anak kecil itu diam saja, tak menjawab. Matanya justru melihat ke arah tas, dan saku celanaku.

“Hei…lihat apa kamu? Jawab dulu, kamu sekolah gak..?” seruku lebih lantang dan sedikit tegas. Kuarahkan pandangan sekilas ke papan penunjuk detik lampu merah di atas. Ternyata masih di kisaran angka 50, masih cukup lama. Sipp!

“Ayo, jawab dulu..gak mau kasih uang nih kalo gitu.” Ancamku padanya.

“Ehmmm..enggak..” jawabnya lirih, takut akan reaksiku setelahnya.

“Lalu, uangnya buat apa nanti? Kan kalau punya uang harusnya buat sekolah..” Kucoba memancing obrolan yang lebih lama.

Tapi anak itu tak menjawab lagi, dia hanya memandangku dengan tatapan matanya yang lugu. Pandangan mata yang tak tahu, sebenarnya apa yang sedang ia lakukan disini.

Kulirik sekilas papan detik itu, masih 30 detik lagi. Kusapukan pandangan ke arah yang lebih jauh. Kulihat seorang wanita yang duduk di bawah pohon sambil menimang seorang bayi, dan 2 orang anak lainnya sedang berlarian di sekitarnya.

“Itu ibumu..? itu yang duduk disana..Lalu yang sedang lari-lari dan digendong itu apakah saudaramu juga? Kutanyakan itu pada si anak kecil yang masih setia menungguku untuk memberinya uang.

Anak itu mengangguk pelan.

“Gila,” pikirku. Mengemis dan punya 4 orang anak? Ataukah ini semua bukan anaknya? Hanya anak-anak yang memang dia pekerjakan untuk mendapatkan uang?

Inilah wajah kotaku, wajah sebuah kota besar di Indonesia. Di ujung sana berdiri sebuah mall raksasa, yang semua orang pasti punya uang untuk dihabiskan didalamnya. Sementara di sini, ada anak kecil yang tak pernah tahu bagaimana caranya menggapai semua mimpi. Boro-boro ­mimpi, bagaimana bisa hidup besok saja mereka tak mengerti.

Dunia sudah bergerak dengan sedemikian cepatnya. Semua orang berusaha dan berlomba-lomba untuk menjadi yang terdepan. Bukan hanya karena keambisiusan, tapi lebih kepada bagaimana bisa bertahan. Di tengah arus perkembangan jaman, bukankah kita harus ikut bergerak dan berubah dengan cepat? Jika tidak, kita yang akan tergilas. Dan itu artinya, kita tidak mampu bertahan. Bertahan adalah basic instinct yang dimiliki setiap manusia, maka seharusnya semuanya bisa. Hanya saja, harus tahu caranya.

10 detik lagi. “Nih, 5.000 yaa..buat ditabung. Bilang sama ibumu, aku minta sekolah gitu ya..! Supaya nanti bisa masuk ke situ tuh, makan disitu. Mau gak?” sambil kuulurkan selembar uang kertas coklat pada si anak kecil, lalu kutunjuk sebuah restoran padang di seberang jalan.

Anak itu mengangguk, kali ini lebih mantap.

“Ya sudah, udah hijau. Kakak pergi dulu ya..” Kuderukan motorku, melaju ke arah mall yang sudah tidak jauh lagi.

Sekitar 10 detik setelah itu, tiba-tiba terlintas dalam benak. “Eh, kenapa gak ini aja yang kujadikan bahan tugas kuliah kemarin? Wahh sipp, cocok nih kayaknya!”

Seketika itu, perlahan kukendalikan motor untuk bisa menepi guna mencari tanda putaran balik ke kanan. “Sipp, aku selesaikan dulu yang ini. “ Kulirik jam tangan merah jambu yang melingkar manis di pergelangan tangan kiri. “Jam 4 passss..duhh, bakal telat nih ketemu Sinta. Ahh sudah tak apalah, paling setengah jam.” pikirku.   

Kira-kira 100 meter di depan, terlihat ada tanda warna biru untuk putaran balik. Kubelokkan motor, dan kulajukan dengan kecepatan cukup tinggi. Targetku adalah lokasi ibu dari si anak kecil yang mengemis tadi.

Segera sesampainya disitu, aku sapa beliau. “Selamat sore bu..boleh ya saya menanyakan beberapa pertanyaan. Sebentaaar saja.” pintaku.

Si ibu menggeleng. Malah menyuruhku untuk pergi dengan membuat isyarat tangan yang menyuruhku untuk menjauh.

Terus terang aku tertegun pada reaksinya. Biasanya orang begini jika disapa atau ditegur justru senang, seolah sedang dimanusiakan. Tapi yang ini berbeda, ia tak suka.

Kulihat memang ada raut wajah yang mengekspresikan kekhawatiran dan ketakutan. Baginya, aku hanya orang asing yang tiba-tiba datang dan mengusik zona nyamannya.

Untuk itu kukatakan langsung saja ke topiknya, “Bu, apakah ini semua adalah anak ibu?”

Dia mengangguk. Agak malu sepertinya.

“Kenapa ibu biarkan mereka berkeliaran di jalan seperti ini? Bukankah ini sangat berbahaya? Jika ibu tidak punya uang untuk menanggung hidup mereka, mengapa ibu biarkan diri ibu melahirkan anak sebanyak ini?”  

Terdiam saja wanita itu sambil tangannya mengambil bola mainan si sulung yang jatuh di sampingnya.

“Dimana ayahnya?” tanyaku lirih, takut sendiri akan jawaban yang mungkin saja kudengar.

Wanita itu hanya menggelengkan kepalanya, tanpa berucap sepatah kata.

“Wahh..berat ini masalahnya. Mungkin tak perlu ditanya lebih detail lagi.” Batinku memutuskan.

“Baik bu, jadi ceritanya saya sedang ada tugas untuk memotret kehidupan sosial sekitar kampus. Untuk itu saya akan menulis tentang ibu dan anak-anak ibu ini. Untuk keperluan dokumentasi, maka saya perlu mengambil foto ibu dan anak-anak. Bolehkah?” pintaku sambil mengulurkan lembaran hijau 20 ribu rupiah dari saku.

“Aduh, jangan mbak..jangan..nanti saya susah mbak..” cegahnya atas permintaanku, sambil berupaya menolak uang 20 ribu yang kuulurkan.

“Tenang saja, ini hanya untuk dokumentasi, untuk tugas kuliah saya Bu..” ucapku untuk meyakinkannya.

“Tapi tidak diapa-apakan kan saya mba?” tambahnya lagi masih menyisakan kekhawatiran.

“Hehe…ya nggak bu, diapakan memangnya. Hanya foto saja, cukup.” Ucapku sekali lagi.

Tanpa kata-kata dia terima uang 20 ribu itu, dan akupun mengambil beberapa foto mereka.

“Yessss! Sudah selesai. Aku punya bahan untuk tugas kuliah bu Rini sekarang!” batinku riang.

Segera aku berpamitan kepada ibu itu setelah kulihat waktu sudah menunjukkan pukul 16.43. Sudah sangat terlambat aku menemui Sinta.

***

12 tahun berlalu. Aku datang lagi ke kota ini. Kota tempatku berjuang merumuskan mimpi-mimpi untuk masa depan. Kutatap perempatan kota ini dari sudut jendela restoran padang di seberang. Bersih, tak ada lagi anak-anak kecil berlarian seperti yang kulihat dulu di perempatan. Kutolehkan pandangan ke arah pohon tempat si ibu dulu duduk sambil menimang. Pohon itu sudah tidak ada. Berganti pemandangan apartemen mewah yang menjulang.

Entah bagaimana nasibnya kini, hanya Tuhan yang tahu. Memang semenjak ada aturan dilarang mengemis, kota ini pun perlahan mengubah wajahnya. Kini tidak ada lagi anak-anak yang seharusnya duduk di bangku sekolah, malah justru berebut rupiah. Kabarnya mereka dibina oleh pemerintah, tapi entahlah. Apapun itu, mental mengemis memang tidak pernah layak dijadikan pilihan. Mengubah mental adalah yang paling sulit, tetapi harus dilakukan.

Inilah sekarang wajah baru kotaku. Dialah bukti bahwa dunia telah berubah ke arah yang lebih maju.

Advertisements

2 thoughts on “Wajah Baru

  1. Seriuslah tulisanny mbak bagus banget dan mengalir. Tp sejauh yg saya tau. Mereka memang udh ga di jalan. Tapi masih ad yg keliaran minta2 keliling kampung atau mencari perempatan lain yg jauh dr pandangan polisi 😢.

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s