First Amazing Concert

“ Komite..dan panitia One in Harmony Concert kumpul di sekolah, besok jam 10. On time. Agenda : Koordinasi untuk Persiapan Konser. ” Begitu bunyi pesan singkat yang masuk di grup Whatsapp khusus Komite di ponselku pagi ini.

“Waduhhh..jam 10..?? Oh My God!! Jadi besok pagi, habis antar Nara ke sekolah, lanjut ke pasar, masak untuk lunch, dan langsung ke sekolah lagi. “ batinku mulai me-list hal-hal yang harus aku lakukan besok sebelum hadir di Committee meeting di sekolah anakku.

Ya, itulah sekolah anakku. Banyak sekali kegiatannya. Hampir setiap bulan selalu saja ada agenda yang diselenggarakan. Mulai dari lomba di sekolah sendiri, lomba antar sekolah, hingga tingkat kabupaten, propinsi dan nasional.

Hal-hal itu otomatis menjadi tugas tambahan bagi para orang tua. Kami dituntut untuk ikut serta berperan aktif  dan mendukung setiap program yang dilaksanakan oleh sekolah. Termasuk satu hal ini, konser paduan suara anak-anak yang direncanakan 1 bulan lagi.

Sebagai sekretaris komite sekolah, cukup banyak hal yang harus kupersiapkan. Setiap kali ada meeting dengan panitia pun tak mungkin bisa ijin tidak datang. Belum lagi hal-hal administratif yang harus kubereskan. Namun di rumah, aku tetaplah seorang ibu untuk anakku. Istri untuk suamiku. Artinya, tanggung jawab di rumah tetap tak bisa aku elakkan. Mencuci, memasak, dan menyetrika tetapi jadi bagian dari keseharianku.

***

Esoknya aku datang ke sekolah memenuhi undangan. Kulihat ada beberapa panitia dan anggota komite sudah duduk manis menunggu sesi kepala sekolah membuka pertemuan.

“Hai..halo Mijun, lama ga ketemu nih kita, sibuk banget kayaknyaaa..” sapaku untuk mama Arjuna, teman sekelas anakku sambil kuulurkan tangan untuk mengajaknya bersalaman.

“Hahaha sibuk nonton drama Korea aja si di rumah..mom Nara niiih yang malah ga pernah beredar..” balasnya sambil memukul kecil tanganku. Aku tersenyum sambil mengamati wajahnya yang dihias make up tipis, lipstick pink kemerahan, serta kerudung warna merah maroon hari itu.

Sebelum aku duduk, kulihat sang ketua komite, mama Feli, sudah duduk manis sambil ngemil pisang goreng.  “Wuiiihhh..mantappp kaliii ini ibu satu, gituu yaa ga nawar-nawarin, makan sendiriii..” candaku pada mama Feli yang biasa kupanggil dengan Mili. “Hahaha…emang! Mau kuhabisin semua nih biar yang datang belakangan pada gak kebagian!” balasnya.

Memang begitulah yang terjadi saat bertemu dengan para ibu sekolah anakku. Para ibu-ibu muda yang sebenarnya juga punya banyak kesibukan di luar, tetapi tetap bersemangat membantu dan mendukung seluruh kegiatan sekolah anak-anaknya. Merekalah yang menjadi salah satu inspirasiku, bahwa apapun kesibukan orang tua di luar sana, anak tetap menjadi yang utama.

Sekitar lima belas menit kemudian, mulai banyak yang berdatangan. Ya, saya dan beberapa pengurus memang selalu berusaha hadir lebih awal, agar mudah jika ada yang perlu dikoordinasikan lebih awal. Sekitar tiga puluh menit kemudian, rapat dimulai oleh ibu Kepala Sekolah.

“Baik..mama-mama sekalian. Seperti yang kami sampaikan sebelumnya, bahwa kurang lebih satu bulan lagi, sekolah akan mengikuti lomba paduan suara tingkat SD. Sedangkan untuk persiapannya, kami membutuhkan support dari mama-mama semua. Mulai hari ini anak-anak akan latihan seminggu tiga kali, dengan guru musik yang biasanya. Apakah mama-mama sekalian bisa membantu untuk memastikan bahwa anak-anak akan selalu hadir dalam latihan?” sambut ibu Kepala Sekolah sekaligus menagih keniatan kami di kelas extra paduan suara.

“Nanti di minggu pertama ini, akan ada seleksi suara yang dilakukan oleh guru musik. Dan jika nanti absensi kehadiran kurang dari 90% maka mohon maaf mungkin tidak bisa kami ikut sertakan dalam lomba.” tambah ibu Kepala Sekolah lagi.

”Wuaahhh.ketat sekali seleksinya, “ pikirku. Aku dan anakku memang anggota baru di sekolah ini. Maka kami masih agak surprise mengikuti ritme kegiatan sekolah. Tidak mudah awalnya, apalagi bagi anakku yang agak susah beradaptasi di lingkungan baru. Namun, tidak ada yang tidak bisa dilakukan jika kita berusaha melakukan yang terbaik.

Baik, silakan ibu-ibu komite dan panitia untuk membahas beberapa hal yang penting untuk disiapkan. Selanjutnya akan disampaikan oleh mama Feli selaku ketua komite dan mama Kafka sebagai ketua panitia. ” tutup Ibu Kepala Sekolah mengakhiri sesi pihak sekolah.

“Baik mama semua, langsung saja agar meetingnya singkat, padat, dan segera bisa dieksekusi dalam aksi yaa..Anak-anak membutuhkan beberapa persiapan, khususnya konsep kostum, dan akomodasi saat hari pelaksanaan. Setelah ini akan kita atur bagaimana konsep kostum untuk anak-anak, mulai dari belanja bahan, penjahitan, fitting, hingga nanti siap untuk digunakan lomba.” Mama Kafka menyampaikan dengan efektif.

Sekitar  satu jam kemudian, pertemuan tersebut berakhir dan rasanya pikiranku masih melayang-layang membayangkan hasil pertemuan tadi. Tambahan tugas lagi yang harus aku selesaikan. Menjadi tim pembuat konsep hingga pengadaan kostum lomba kali ini mungkin tidak akan cukup mudah. Tapi sekali lagi, ini demi anakku. Orang tua adalah pihak pertama yang harus mengambil peran sangat besar dalam kehidupan sang anak. Seharusnya memang tidak bisa dan tidak akan ada yang bisa memberikan kontribusi sebesar orang tua.  Maka untuk apapun yang akan diperjuangkan anakku, aku adalah orang pertama yang akan memberikan dukungan penuh.

Tiga hari ke depan, aku dan tim disibukkan mulai dari satu toko kain ke toko kain lainnya. “Bagus mana ya warnanya? Maroon yang ini atau yang magenta ini ya?” Diskusi kami siang itu di sebuah toko kain di tengah kota kami. “Ehhmm…klo buat anak laki-laki ini warnanya bagus nih merahnya. Tapi merah ini terlalu biasa gk ya warnanya? Nanti jangan-jangan banyak yang pakai warna merah, jadi gak spesial deh warna kostum kita..” ungkap Mama Feli memberikan komentarnya atas warna yang kupilih. “Hmm iya ya, bener juga ya..jadi gimana kalau magenta ini aja? Nanti kita cari kain hitam untuk bikin sabuk dan pita, serta kain tile untuk bikin tambahan gemerlapnya?” saran mama Kafka menambahkan. “Oh ya, boleh..boleh..udah yukk, kita lanjut ke toko baju anak. Masih perlu suspender dan kaos kaki hitam kan?” Begitulah yang terjadi selama sekitar 1 minggu. Semua konsep kostum sudah harus matang. Selanjutnya akan dijahitkan dan anak-anak akan fitting terakhir sebelum lomba.

Sudah sekitar dua minggu ini, Nara, anakku selama tiga kali dalam seminggu harus kembali ke sekolah pukul 15.30. Disana telah ada guru musik dan guru pendamping yang akan mengawal latian anak-anak. Selama dua minggu ini pula, aku sebagai orang tua berusaha untuk menjaga dan membuat mood anakku untuk tidak berubah. Bagi seorang anak usia 4 tahun, tidaklah mudah untuk melalui ini semua. Bagaimana mau bicara tentang kemenangan, sementara arti dari lomba saja mereka belum paham.

“Mama…..Nara ngantuk, gak mau latihan. Capek…..” ungkap anakku sore itu.

“Oh iya nak…capek ya…tapiii…..Arjuna, Kafka, dan Ella sedang menunggu Nara di sekolah sore ini. Kira-kira kalau Nara tidak datang, mereka sedih gak ya..??” bujukku. Terus terang aku pun bingung bagaimana caranya aku harus menyampaikan bahwa ini adalah lomba. “Kita harus latihan dengan keras dan sungguh-sungguh untuk bisa menang” batinku. Tapi bagaimana caraku untuk mengatakannya? Tentu ia akan menjawabnya dengan ekspresi kosong atau justru tidak peduli.

“Mamaaaa….Nara gak mau! Gak mauuuu! Mau bobok ajaaa! Mama ngerti gak siiiihh!”  Anakku dengan kesal memarahiku yang tetap ingin dia berangkat latihan.

Wah sudah, pusinglah saya jika sudah begini. Serba salah menghadapi anak-anak. Jika dipaksa nanti justru membuat moodnya buruk dan tidak konsen saat latihan, tapi jika tidak dipaksa, bagaimana caranya? Waktu lomba sudah semakin dekat, dan ini sudah minggu ketiga. Mampus!

Bingung aku bagaimana menghadapinya, akhirnya aku coba untuk menelpon Mama Kafka.

“Mom…sudah di sekolah belum? Nara badmood nih, ga mau masuk latihan. Bisa gak ya, kasih teleponnya ke Kafka dan minta Kafka untuk mengajak Nara. Bilang aja sudah ditunggu di sekolah. Seru banget latihannya, rugi kalau gak datang.” Pintaku pada mama Kafka di ujung telepon.

“Ohh..oke mom, tunggu ya..” jawab mama Kafka sambil mencari keberadaan Kafka. Sayup-sayup terdengar suara percakapan Kafka dengan ibunya.

Halo…Nara..Halo..ini Kafka.” Sahut Kafka. Segera aku serahkan ponselku kepada anakku yang tengah berguling-guling di tempat tidur. ”Ditunggu Kafka di sekolah ya! Ehmmm..Seru banget..Sudah ada Arjuna, Benic, Feli, Ella, lagi main..Ehmm Nara cepet kesini ya..Kita main bareng balapan mobil lagi yaa..” suara Kafka, menirukan suara ibu di sampingnya yang membisikkan kalimat untuk diucapkan.

“Nara, ayo jawab…ini Kafka yang telepon lohhh..” ucapku membujuknya lagi.

“….Ehmmm yaaa..” Hanya itu yang diucapkan anakku.

Begitulah yang terjadi sore ini dan beberapa kali setelahnya. Trik yang aku gunakan pun harus berbeda-beda agar si anak tidak terasa seperti dipaksa, meskipun sebenarnya memang dipaksa, haha..

Disinilah perjuangan orang tua. Dimana kadang pun orang tua tidak yakin pada apa yang dilakukannya benar atau salah. “Benarkah jika memaksa anak untuk melakukan hal yang tidak dia inginkan? Bukankah dia mungkin saja memang lelah? Tapi jika aku tidak menguatkan niat, bagaimana nanti latihannya? Bagaimana nanti performace-nya di panggung. Bukankah dia pasti juga bangga jika memenangkan lomba itu? Bukankah berarti latihannya akan terbayar lunas?” Berbagai pertanyaan menyesakkan pikiranku.

***

Tanpa terasa hari perlombaan yang ditunggu pun tiba. Aku dan ayahnya sangat excited untuk melihat performance-nya hari itu.  Untuk menyaksikan ini, ayahnya pun rela cuti dari kantornya. Untuk melihat bagaimana anaknya berjuang di atas panggung.

Sejak pukul sembilan pagi kami sudah siap di tempat lomba. Namun, agar kondisinya kondusif, anak-anak dipisahkan dari orang tuanya untuk di-briefing dulu oleh para guru di belakang panggung. Kami para orang tua dipersilakan untuk menempati kursi-kursi penonton di depan panggung. “Anak-anak akan tampil setelah ini ya moms..” bisik seorang guru kepadaku. “Baik Bu, terima kasih..” balasku.

Lalu, “……..” lampu ruangan dimatikan, suasana langsung senyap. Semua pandangan mata mengarah ke arah panggung. “Nara…Nara…anakku Nara…semangat nak! Mama dan papa disini, nak..” batinku ingin berteriak ketika kulihat tubuhnya yang masih mungil itu berjalan memasuki ruangan, dan menaiki tangga panggung. Kulambaikan tangan padanya, memberinya isyarat bahwa kami berdua selalu mendukungmu untuk maju. Matanya memandang ke arahku dan ayahnya. Senyumnya mengembang kecil. Hatiku bergetar melihatnya.

“Pada hari minggu, kuturut ayah ke kota..

Naik delman istimewa, ku duduk di muka…

……”

Kulihat ayahnya sudah siap dengan ponsel yang sedang merekam selama pertunjukan. Tanpa terasa air mataku menggenang, rasanya aku sudah hampir menangis. “Anakku yang dulu kugendong itu, sekarang sudah bisa berada disana untuk lomba. Seusiamu dulu, ibumu belum mampu apa-apa, belum paham apapun. Tapi engkau, sekecil ini, sudah bisa sampai di tahap ini. Menjawab tantanganmu sendiri, mengalahkan semua masalah yang menghambatmu beberapa waktu yang lalu. Dirimu menang atas dirimu sendiri. Itulah makna kemenangan yang sesungguhnya, anakku..Ingatlah itu….” batinku berkata dan ingin rasanya aku meneriakkan itu dengan lantang.

Ada dua puluh lima peserta yang mengikuti lomba paduan suara anak saat itu. Dan sekolahnya mendapatkan juara II se-Kabupaten. Tapi bagiku pribadi, juaranya berapapun, menang atau kalah, itu bukan masalah. Bagiku, anakku akan tetap selalu juara di hatiku. Bagiku, juara adalah bagaimana dia bisa berlomba mengalahkan kemalasan, ketidakpercaya dirian, ketakutan, dan keraguan pada diri sendiri. Kami bangga padamu, anakku…

Published by ardhist

Mari bertemu di Instagram @ruangtitikkoma

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: