Awal Sebuah Rasa

“Ka, ayo segera..diparut itu kelapanya. Bapak belum makan, udah siang ini..”  Begitulah seruan ibuku yang hampir setiap hari kudengar. Seruan untuk membantunya memasak menu makan siang keluarga kami. Memarut kelapa, meskipun terlihat sederhana, tetapi prakteknya sungguh tidaklah mudah. Hampir selalu tanganku berdarah-darah karena terkena parutnya. Setelah itu, perih berhari-hari harus kutanggung rasanya.

Aku yang tadinya hanya ingin mengambil segelas air di dapur, akhirnya setengah terpaksa menghampiri ibuku. “Yahhh…batal deh mo lanjut baca..” batinku. Padahal, bab VII novel detektif kecil itu memang sedang seru-serunya. Tapi, tak mungkin juga aku tolak perintah ibuku yang rasanya memang sedang terburu-buru.

“Ehmmmm ya, mana? Boleh ya sambil nonton tv ini marutnya..” rajukku. Hati ini sebenarnya malas, apalagi ceritanya memarut kelapa.

“Yaa wis, boleh..sana..tapi cepet lho ya! Ini dagingnya udah matang. Tinggal nunggu santannya.” Pesan ibuku sebelum kubawa beberapa potong daging buah kelapa setengah tua dalam wadah.

“Ya, ya..” Singkat aku menjawab. Padahal batinku berkata, “Wahh kapan selesainya nih marut segini banyak? Satu..tiga..lima..HAH! tujuh potong! Hiks..hikss….ini mah satu gelondong kelapa.” gerutuku.

Ya, itulah aku sekitar dua puluh tahun yang lalu. Anak kecil yang diminta membantu ibu memasak untuk menu makan siang kami setiap hari. Keluarga kami memang tidak memiliki pembantu, tidak biasa ada orang asing di rumah. Juga tak ada satu pun pembantu yang bisa memenuhi standar kualitas ayah dan ibuku. Hasilnya? Capek! Karena semua selalu dikerjakan sendiri. Haha..

Celakanya, aku termasuk anak pemalas. Tak ada satupun pekerjaan rumah yang aku suka. Standar kerapianku sangatlah buruk. Apalagi standar kesempurnaan seperti yang ayah dan ibuku miliki. Aku suka duniaku sendiri, aku suka melakukan yang kuinginkan saja. Ya, banyak hal yang kusuka, selain pekerjaan rumah! Anak perempuan satu-satunya di rumah itu, tapi justru tidak mirip anak perempuan kebanyakan. Mungkin itu membuat ibuku sedikit banyak juga jadi kesal.

Tapi satu hal yang diterapkan ibuku, beliau melatih kepekaan dengan selalu melibatkan anak-anaknya jika sedang melakukan pekerjaan. Saat ibu sedang mencuci dan aku malah menonton tv, ibu pasti akan memanggilku untuk ikut ambil bagian. Saat memasak seperti ini,  dan aku sedang asik membaca sekalipun, pasti akan tetap dapat kerjaan.

“Sudah santannya? Ayoo cepet, diperas sekalian yaa..” seru ibuku dari ruang dapur.

“Iyaaa…sebentar lagiii.” Balasku menenangkan, sambil kulirik dua potong daging kelapa yang belum kusentuh sama sekali. “Waduh! Bahaya nih..ngebuutt!” batinku.

“Srrreeekkkkk!”  Darah merah sedikit menodai parutan kelapa yang menempel di tanganku.

“Aduuuuhh! Kena lagi..” Kubuat luka ketigaku dalam sesi memarut siang ini. Tapi tak ada waktu lagi untuk bisa mengeluh. Ayahku sudah bolak-balik rute ruang tamu-dapur-ruang keluarga-dapur, begitu saja terus sejak tadi.

“Aku harus cepat…cepaaaaatt..Go! Go! Go! Yess you can..!” Begitu aku menyemangati diri sendiri, sambil semakin cepat kunaik turunkan kelapa di alat parut milik ibuku.

Sebenarnya, bisa saja ibuku membeli dalam kondisi kelapa sudah diparut. Hanya saja, rasanya akan sedikit berubah jika tidak langsung diperas. Tentu rasanya tidaklah enak. Sementara ayahku, tidak mau menggunakan santan instan, karena sudah dicampur beberapa bahan tambahan. “Kentalnya gak asli. Gak enak!” Begitu selalu komentar Ayah. Akhirnya, ya…marut dehh!

“Sudah belooommm..malah ngalamun!” Muncul sosok ibuku dari balik pintu untuk mengecek hasil kerjaku.

Ya, ya..sudah ini, tinggal diperas.” Jawabku gugup sambil meringis.

“Ya sudah, ayo cepat…bumbunya sudah jadi. Tinggal ditumis, lalu masukkan santannya.” Perintah ibuku.

Segera aku buru-buru ambil wadah kosong yang lebih besar, lalu kuisi dengan air hangat, dan kutuang perlahan-lahan, sedikit demi sedikit ke atas kelapa hasil parutan.

“Sedikit-sedikit aja, bikin santal kentalnya dulu.” Penjelasan ibuku mengingatkan.

“Iyaaa..paham..” Kujawab sambil memeras dengan lebih cepat seperti diburu hantu.

Akhirnya jadilah 1 mangkok kecil santan kental, berikut lanjut santal encernya.

Buru-buru aku kembali ke dapur. Kulihat ibuku sedang menyiapkan beberapa hal. Tampaknya kami masak lebih dari satu menu hari ini.

“Bu, kok banyak sekali masaknya?” tanyaku ingin tahu.

“Ya, sekalian untuk makan malam dan besok pagi sarapan. Besok ibu ada tugas jadi harus berangkat lebih awal. Khawatirnya tidak cukup waktu jika harus masak pagi-pagi.” Jelas ibuku.

“Ohh..oke. Lalu, setelah ini apa? Santannya buat dimasukin dimana? Itu cabenya setelah diiris terus diapain?” tanyaku sambil mengamati setiap wadah, beralih ke wajan, lalu mengamati apa yang dilakukan ibuku. Ternyata beliau sedang mengiris-iris daging.

Ibu menoleh ke arah telanan, alat untuk tatakan saat mengiris. “Aduhh, lupa..itu belum ibu iris cabe rawitnya. Tolong iris dulu ya, karena itu nanti jadi yang pertama ditumis setelah bawang merah dan putih.” Pinta ibuku.

“Waduhhh..ngiris cabeee? Gak mau ahh, panas lagi nanti tanganku.” Kutolak permintaan ibuku kali ini, karena memang aku masih trauma dengan kejadian sebelumnya dimana tanganku wedangen, istilah untuk menyebutkan tangan yang terasa panas setelah mengiris cabe.

Waktu itu, wedangen-ku lumayan lama, rasanya sungguh menyiksa. Ibu bilang, “Cuci dengan air, keringkan, lalu masukkan tanganmu ke beras.” Saran ibuku waktu itu. Namun setelah kucoba lakukan, ahhhh masih tidak berubah. Tanganku masih saja terasa panas. Tak mau kupercaya lagi tips yang dibilang orang ampuh itu.

“Nggak…nggak akan panas lagi. Jadi kalau mengiris cabe, cuci dulu cabenya, patahkan tangkainya, lalu iris. Kamu waktu itu, cabe udah dipatahkan tangkai, bukan dicuci di kran, malah direndam dalam air di mangkok, baru diiris. Ya panaaass..tanganmu kan bolak balik masuk ke air. Cucinya pas di awal aja, sekali. Kalau ditaruh wadah, jangan ada airnya. “ jelasnya panjang lebar.

“Ohhh..gitu ya? Hmmm tapiii..kalo panas lagi gimana..??” Masih aku berusaha menolak. “Tugas yang lain aja ada lagi gak..?” tambahku.

“Gak ada, udah tinggal itu. Cepetan..udah ditunggu Bapak! Cuman 5 biji aja gak lama. ” tegas ibuku.

“Udah gak bisa ngomong lagi nih kalau udah begini..” batinku.

Akhirnya aku pun dengan keraguan berusaha melakukan permintaan ibuku. Kupraktekkan teori mengiris cabe yang ibuku katakan sebelumnya. Dan hasilnya, “Ehhh iya ya, gak panas lho ya Bu..” komentarku.

“Nahh kaan, iya memang gak panas kalau begitu cara mengirisnya..” jawab ibuku sambil tersenyum meyakinkan. Terlihat senang sekali teorinya terbukti benar, haha..

“Ya udah, segera ditumis itu bawang merah, dan bawang putihnya dulu. Itu kasih minyak goreng dulu wajannya. Awas, hati-hati panassss…Kecilkan apinya aja, jangan gede-gede, cepat gosong nanti. “ Jelas ibuku yang sedang memberikan tutorial kelas memasak dengan sangat cepat untuk dipahami.

“Gini ya bu..? Udah bener kan, lalu..?” tanyaku untuk diberi instruksi selanjutnya.

“Lalu masukkan cabe, tumis dulu, nanti baru masukkan tomat irisnya.” Jawab ibuku dari belakang, sedang memindahkan buah anggur yang telah dicuci ke wadah buah.

“Oke, gini ya….sudah…lalu apa? Ini ditumis sampai gimana? ” tanyaku lagi untuk langkah selanjutnya.

“Sampai agak layu cabenya, baru nanti tomatnya. Tumis sampe agak layu juga, baru nanti masukkan labu siamnya. Itu labu siam udah ibu tiriskan di sana.” Jawab ibu yang muncul dari ruang makan di sebelah, sambil menunjuk ke tempat cuci piring. Dimana sang irisan labu siam tadi sudah ditiriskan.

“Sippp, okee..sudah semua, lalu?” Aku bertanya tanpa menoleh, sambil mengaduk.

Itu sekarang dagingnya masukkan saja. Hati-hati tumpah. Pelan-pelan. Jangan langsung dituang, pakai tangan atau sendok, tuangkan sedikit-sedikit. Nanti kamu bisa kena percikan minyak.” Lanjut ibuku menjelaskan.

“Hmmm enak baunya yaa..Goooood, lalu tinggal santannya ya?” kataku dengan yakin sambil terus mengaduk-aduk daging yang telah bercampur dengan bawang dan cabe iris.

“Yaa, sekarang tinggal masukkan santannya. Tapi santan yang encer dulu. Itu agak kecilin lagi apinya, masih kebesaran. Memasak santan jangan gunakan api besar. Nanti kualitas santannya jadi tidak bagus untuk kesehatan dan penampakannya pecah saat diaduk, jadi kurang bisa bercampur. ” Jelas ibu sedang menurunkan ilmunya padaku.

“Okeehh..sudah nih, dimasukkan santan encernya. Apalagi yang belum? Kapan masukin gula, dan garamnya, bu?” tanyaku ingat jika gula dan garam belum dimasukkan.

“Ya, sekarang masukkan gula, dan garamnya. Juga daun salam, daun jeruk, serta lengkuasnya. Aduk jangan sampai mendidih dan pecah ya santannya.” Pesan ibuku sambil mencuci beberapa bekas wadah kotor sisa memasak.

“Sudah bu…lalu santan kentalnya udah bisa dimasukkan sekarang?” tanyaku sambil menoleh ke belakang, mencari sosok ibuku untuk meyakinkan ucapanku.

“Gimana rasanya, sudah dicicip belum? Kalo sudah pas, atau andai perlu ditambahin gula dan garam, tidak terlalu banyak lagi. Itu juga cek dulu apakah labu siamnya sudah gak keras? Jika sudah, boleh masukin santan kentalnya. Lalu aduk terus jangan sampai pecah, terutama saat sudah mendidih. “ jelas ibuku di sesi terakhir memasak menu itu.

“Sippp..sudah oke semua sepertinya. Rasanya pun sudah enak. Mantapp bangettt ini rasanya. Ahh mau makan ahh..” jawabku sambil ngeloyor hendak mengambil piring.

“Lohh..lohh..lohh..itu matikan dulu apinya, lalu hidangkan dulu untuk Bapak di meja. Baru makan.” Ucap ibuku tersenyum sambil memasang ekspresi wajah mengatakan, “dasar!”

“Ohhh iyaaa..hahaha..oke..oke..” lanjutku seraya mematikan api di kompor, mengambil mangkok besar wadah sayur, dan menyiapkannya di meja untuk Ayahku.

“Bapak….sayurnya sudah matang, silakan makaaann..” seruku lantang dari ruang makan pada ayahku yang sedang membaca majalah di ruang depan.

***

Dua puluh tahun berlalu sejak cerita itu, dan aku pun masih bisa mengingatnya hingga disini usiaku. Dimana kini akulah pelaku utama dari segala cerita yang sama. Akulah yang kini menjadi seperti ibuku. Menyiapkan makanan untuk keluarga, memasak setiap hari untuk suami dan anakku.

Dunia masih sama, hanya berputar saja. Waktu yang berlalu selalu memberikan bekal sesuatu untuk masa depan kita. Mungkin dulu aku merasa terpaksa, karena memasak bukanlah hal yang aku suka. Namun ternyata suka atau tidak suka, bukan karena selalu menarik di awalnya. Tapi karena kita pernah mencoba. Baru bisa kita putuskan, suka atau tidak suka.

Ada hal yang kadang terpaksa, ada hal yang kadang tidak kita tahu sebelumnya. Disitulah sebuah kebiasaan dibangun. Melakukan hal yang sama terus menerus, akan membangun sebuah kebiasaan dalam hidup. Asal itu baik, patut dicoba. Temukan sisi menariknya, kenapa kita layak untuk melakukannya. Pahami, dan resapi esensinya, ikuti prosesnya. Memang, tidak akan selalu mudah. Atau lebih tepatnya, hampir selalu susah. Jalani saja, lakukan saja. Masalah suka atau tidak suka, biarlah perjalanan waktu yang membuktikan, apa keinginan hati yang sesungguhnya.

Advertisements

10 thoughts on “Awal Sebuah Rasa

  1. 1. haha…, lucu ‘Ayahku sudah bolak-balik rute ruang tamu-dapur-ruang keluarga-dapur’
    2. tuh ibumu membohongi kamu, katanya bumbunya sudah jadi. tinggal ditumis, kalau bumbu sudah jadi kan identik dengan bumbu halus, bumbu yg sudah diblender semua
    3. kalau menggunakan api besar nanti kualitas santannya tidak bagus buat kesehatan, dapat menyebabkan apa ya kak?
    4. ini fiksi atau kisah nyatamu kak?
    5. santan kak bukan santal

    Like

    1. Sipp2, noted kak, akan saya revisi hehe..
      2. Oke, diganti jangan bumbu ya bahasanya..
      3. Kolesterol kak, santan yg dimasak dlm api besar, mendidih masih terus saja dipanaskan. Ga bagus itu..
      3. Faksi kak, gabungan fiksi dan non fiksi
      4. Noted kak

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s