Ya Sudahlah….

Praaakkkk… Suara jatuh itu membangunkan diriku yang tengah tertidur lelap. Ternyata aku sejak tadi tidur di sofa ruang tamu. Baru kusadari setelah aku bangun, dan mendapati diriku yang terbaring dengan tangan kanan menjuntai ke lantai.

Ku tepukkan tanganku di dada, dan perut, tak ku temukan handphone yang ku rasa sejak tadi kupegang. Akhirnya aku bangkit, dan kucari ia di balik-balik bantal dan selempitan, tapi tak kutemukan. Lalu kusapukan pandanganku ke sekeliling, tampaklah ia tergeletak di ujung sana.

“Aduhh, jatuh lagi!” gumamku kesal sambil kupungut dia dan kuelus-elus layarnya sambil masih berdiri.

Saat ku cek apakah bisa nyala, “Haaaaaahhhh..?? Ohhhh, Myyyyyy Goddddd!!!” ucapku kaget pada angka waktu yang tertera besar di tengah layar handphone.

Ternyata di layar menunjukkan waktu sudah lewat tengah malam. “Astagaaa, ini beneran jam 01.30 ya?? Aduhh, aku belum setor tulisan untuk DWC, huhuhu..matiikkk!!”

Aku pun langsung terduduk lemas, tak tahu harus bagaimana menghadapi moment itu. Kubaringkan kembali kepalaku, dan sekilas kuingat beberapa nama berjalan di pikiran.

Kak Butet, Kak Yulia, Bu Muhib, Kak Siti, Kak Dila, Kak Desi, Kak Yoga… Aduh! bagaimana aku harus menghadapi mereka, ya Tuhaaaann! Batinku menyeru.

Rasanya benar-benar ditampar menggunakan sekop pasir yang besar itu. Blenggg! Kacau semua pikiran, berhenti sejenak tak bisa aku pikirkan hal lain apapun.

Dengan tangan yang masih gemetar, kucoba untuk membuka grup Squad 10 di Whatsapp-ku. Sungguh, tak berani rasanya aku menghadapi mereka. Aku bayangkan wajah-wajah yang kecewa sedang memandangku dari balik layar-layar ponsel yang mereka genggam.

Maafkan aku, Ibu..

Maafkan aku, Kak..

Sungguh… Aku benar-benar menyesal, dan merasa bersalah pada kalian…

Tak ada lagi kata-kata yang bisa aku ucapkan, selain maaf…

Meskipun itu tidak cukup, aku tahu…

Akhirnya ku beranikan diri untuk menuliskan kata di grup, “Kakak… Saya belum setor tulisan untuk hari ini. Maaf… Gimana ya, apakah masih bisa tetap hijau ladang kita?” ucapku menyapa teman-teman yang ternyata masih sibuk chatting di chatroom.

Sambil menunggu jawaban atas pertanyaanku, aku sempatkan untuk membaca historical chat di atasnya. Ternyata setelah aku telisik, teman-teman sempat kebingungan mencari link setoran tulisanku, di critical limit waktu hingga pukul 23.59.

“Gak ada, kak Yuniar belum setor link”, ucap kak Yulia saat itu.

“Oh iya ya, coba aku cek ke blog-nya,” jawab kak Butet menulis di Chatroom.

Yaa Alloh..aku merasa sangat bersalah. Kok aku bisa tidur sih, tadi? Kapan aku tidur? Aku ingat hanya ingin cek handpone sebelum lanjut nulis naskah kembali.

Ya Allah, tidak bisa diubah lagi, huhuhu..

Sejenak muncul notif chat baru, Kak Butet… Mataku membaca tulisan yang muncul di pop-up notifikasi. “Iya kak, jadi agak kuning sedikit. Nanti jadi kayak Squad 8,” tulisnya sambil meng-upload gambar kondisi ‘ladang’ Squad 10 di Empire.

Bleengggg, berasa ditampar lagi di wajahku.

Gilaaaakkkk!!! Gagal! Gagal!! Gagal kami jadi Squad yang sempurna ladangnya, hijaaaauuu sampai 20 hari ke depan! Dan ini gara-gara, akuuuuu… Pikiranku semakin menggila malam itu.

“Maafffff, kak… maaaffff… so so so sorryyyyy sorryyyyreally sorryyyy…” ucapku penuh penyesalan dari dalam hati. Tak ada lagi yang bisa kulakukan selain meminta maaf. Seraya kusetorku link tulisanku di daftar rekap tulisan yang biasa dishare di grup.

Luar biasa!! Beruntung punya teman-teman di Squad 10. Respon teman-teman justru lah yang menenangkan saya.

“Sudah, gak pa pa, kak…” begitu kalimat yang saya baca. Juga saat Our Guardian, Bu Muhib, merespon dengan “Gak apa-apa, kan gak sengaja. Jangan kendor semangat ya…” begitu komentarnya. Saya, dengan pandangan tertunduk seorang anak yang sangat menyesali kesalahannya, hanya bisa menjawab, “Baik, Bu..”

***

Sesungguhnya, yang membuat saya menyesal bukannya saya kehilangan satu poin dalam kesempatan ini, tetapi saya telah mengecewakan anggota Squad kami. Saya, adalah anggota yang selalu mengobarkan semangat untuk jangan sampai tidak setor tulisan. Jangan sampai kehilangan kesempatan. Jangan sampai membuat ‘ladang’ grup menjadi kuning, apalagi merah!

Setiap kali ada diantara anggota squad yang belum setor di waktu-waktu terakhir, saya kirimkan pesan ke nomor yang bersangkutan untuk jangan sampai terlambat setor. Saya pun selalu berusaha secepat-cepatnya setor tulisan di hari yang sama. Semua ingin saya kondisikan dengan yang seharusnya. Tapi kini, saya kalah! Saya kalah di luar kontrol saya. Saya kalah, di luar rencana yang saya persiapkan sebelumnya. Wow!

Inilah yang saya sebut sebagai takdir. Ada rencana Tuhan yang tak bisa kita lawan. Ada kehendak Tuhan yang tak bisa kita atur sesuai yang kita inginkan. Dan saya menyerah, dalam hal ini. Saya menyadari, dalam hidup ini memang ada hal-hal yang tak bisa kita atur. Sesungguhnya semua adalah misteri, yang tak bisa kita prediksi.

Lalu bagaimana saya setelah ini?

Terpuruk? Tidak. Kecewa, mungkin iya! Tapi nasi sudah menjadi bubur, tak mungkin saya ulang lagi waktu yang telah berlalu. Mungkin Alloh ingin saya belajar sesuatu, menerima. Tak semuanya bisa seperti harapan yang diimpikan. Ada Dia, yang paling berkuasa atas segala sesuatu, di setiap hitungan waktu.

Published by ardhist

Mari bertemu di Instagram @ruangtitikkoma

8 thoughts on “Ya Sudahlah….

  1. Salut sama mba, saya termasuk yang sering telat dan sering bikin guardian stress. Memang, nulis di DWC ini harus dimaknai bukan hanya untuk kita ya mba, tetapi memiliki efek juga ke orang lain.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: