Jiwa Dalam Kata (Part 2)

Lalu, bagaimana memberikan JIWA dalam tulisan?

IMG_7983

Nah, dalam dunia kepenulisan, kita tentu sering sekali mendengar istilah Show dan Tell. Atau Showing dan Telling. Apakah ada yang belum pernah mendengarnya?

Apakah itu, nanti coba kita bahas satu per satu. Namun sebelum kita membahas lebih lanjut, mari kategorikan dulu tulisan yang Anda tulis. Apakah FIKSI, NON FIKSI, atau FAKSI?

IMG_7984

Secara singkat, tulisan FIKSI adalah jenis tulisan yang berdasarkan khayalan atau imajinasi. Penulis bebas menggunakan imajinasinya untuk menggambarkan tokoh, dan peristiwa di tulisannya. Meskipun, kemungkinan untuk terjadi persamaan antara imajinasi penulis  dengan kenyataan bisa saja terjadi. Contoh tulisan fiksi antara lain, dongeng, fabel, cerpen, dan lain sebagainya.

Untuk NON FIKSI, secara singkat bisa saya tuliskan sebagai sebuah hasil riset. Tulisan non fiksi dibuat berdasarkan kenyataan, informasi, data, penelitian, ataupun fakta yang dipaparkan dalam tulisan. Data ataupun fakta yang dipaparkan bukanlah rekayasa, atau tambahan imajinasi dari penulis. Contoh Non Fiksi misalnya, artikel, resensi, dan reportase.

Selanjutnya ada satu lagi jenis tulisan yang semakin banyak digemari beberapa waktu terakhir, yaitu FAKSI. Faksi merupakan singkatan dari Fakta-Fiksi. Jenis tulisan ini memadukan dua jenis tulisan, yaitu Fiksi dan Non Fiksi. Lalu apa yang khas dari Faksi? Faksi biasanya merupakan tulisan yang dibuat berdasarkan kisah nyata, atau ada dasar faktanya, atau ada tempat, lokasi, tokoh yang memang nyata, tapi dibuat sebuah cerita hasil rekaan atau imajinasi penulisnya. Dalam bentuk Faksi, penulis diperbolehkan menuangkan imajinasi maupun tambahan detail lainnya untuk membuat cerita menjadi lebih menarik. Contohnya, buku Dan Brown : Da Vinci Code, Angel and Demon, kemudian karya Danielle Steel : No Greater Love tentang kisah cinta seusai tragedi kapal Titanic. Memang faksi bisa membuat pembaca sedikit kebingungan untuk menentukan ini fakta atau bukan dari sebuah kejadian yang terjadi.

Selanjutnya kita masuk kepada materi inti, yaitu SHOW dan TELL, atau SHOWING and TELLING.

Dalam kaitan dengan jenis tulisan Fiksi, Non Fiksi, dan Faksi diatas, maka meskipun tidak ada pakem yang menuliskan, tetapi kita bisa mengambil sebuah gambaran UMUM bahwa :

IMG_7985

Namun begini, sebenarnya teknik Showing juga bisa digunakan pada tulisan NON FIKSI. Misal, reportase. Maka reporter bisa saja menuliskan secara showing agar pembaca memperoleh gambaran yang jelas. Namun jika jenis karya merupakan penelitian, pemaparan data, akan lebih baik jika menggunakan telling karena tidak perlu menuliskan detail tentang gambaran keadaan.

Lalu apa sebenarnya SHOWING dan TELLING itu sendiri?

Secara singkat dan sederhana, SHOWING adalah :

IMG_7986

Sedangkan untuk TELLING akan lebih pada pemaparan lugas, tanpa menunjukkan deskripsi yang detail aatau jelas dalam gambaran situasinya. Untuk lebih jelas perbedaannya dengan Showing nanti setelah dicontohkan.

Dalam materi saya ini, akan saya jelaskan kenapa lebih baik menggunakan SHOWING untuk jenis tulisan FIKSI maupun FAKSI :

IMG_7987

Setelah tahu kenapa sebaiknya menggunakan showing di jenis tulisan anda, lalu kapan menggunakan showingnya?

IMG_7991

Dari sini kita tahu, bahwa tidak semua hal harus didetailkan atau dituliskan semua dengan showing. Selanjutnya, bagaimana menggunakan showing dalam naskah?

IMG_7990

Ada dua cara, yang pertama menggunakan Gestur, sedangkan yang kedua dengan melibatkan panca indera manusia.

Mari kita bahas untuk Gestur terlebih dahulu.

IMG_7992

Kita semua, dalam satu cara yang sama atau cara lain, mengirim pesan kecil kepada dunia. Kita menyampaikan pesan kepada dunia secara sadar maupun tidak sadar, melalui bahasa tubuh non-verbal. Misal :

  • Kita mengangkat satu alis saat tidak percaya.
  • Kita menggosok hidung ketika bingung.
  • Kita menyilangkan lengan kita untuk mengisolasi diri atau untuk melindungi diri kita sendiri
  • Kita mengangkat bahu saat tidak peduli, dan lain sebagainya.

Itulah yang kita sebut sebagai Gestur. Artinya suatu bentuk komunikasi non-verbal dengan aksi tubuh yang terlihat mengkomunikasikan pesan-pesan tertentu, baik sebagai pengganti wicara, atau bersamaan dengan kata-kata. Gestur mengikutkan gerakan dari tangan, wajah, atau bagian lain dari tubuh.

Setelah itu, apa tujuan penggunaan gestur dalam naskah?

IMG_8015

  1. Gestur bisa menyelaraskan dialog

➡️ Ayahku berhenti membaca sejenak dan berjalan untuk membukakan pintu dengan kaki terseret.

➡️ Ayahku mengangkat kepalanya, dan menoleh. Bangkit dari kursi yang didudukinya sejak satu jam yang lalu, sambil tetap menenteng koran yang baru datang pagi ini. Jalannya agak terseret, rupanya merasa kesemutan setelah satu jam berdiam. Diputarnya gagang kunci ke kiri dua kali, dan akhirnya terbukalah pintu itu.

➡️ Dari pemaparan gestur diatas, kita tahu lebih detail bagaimana perasaan tokoh ayah saat akan membuka pintu.

  1. Gestur bisa membuat karakter tokoh menjadi lebih berkarakter, atau jelas terlihat karakternya.

➡️ Dia tersenyum pada musuhnya

➡️ Wajahnya tersenyum seperti seorang singa yang kelaparan melihat mangsa.

  1. Cara terbaik menunjukkan emosi karakter adalah dengan memunculkan gestur dari benda-benda di sekitar kejadian.

➡️ Dia marah karena bunganya rusak terkena bola.

➡️ Matanya melotot ke arah anak-anak kecil yang sejak tadi bermain bola di depan rumah. Bola itu melesat jauh hingga menerjang ke dalam tamannya. Bunganya pun rusak terkena hempasan bola yang ditendang.

  1. Gestur akan membantu membuat dialog yang multifungsi.

➡ Contoh dialog tanpa gestur :

“Aku pergi dulu, Ma.”

“Pulang jam berapa?” tanya Mama.

“Mungkin malam,” jawabku.

➡ Contoh setelah menggunakan gestur :

“Aku pergi dulu, Ma,” kataku sambil membenarkan engsel pintu yang terlepas.  Mama menahan tanganku. “Pulang jam berapa?” Keningnya mengernyit, membuat kerutan di sekitar dahi dan matanya terlihat. Aku menarik napas. “Mungkin malam,” Kulepaskan pegangan tangan Mama.

Setelah mendapatkan gambaran tentang gestur, maka selanjutnya kita bahas tentang Panca Indera :

IMG_7993

Panca, artinya lima. Sedangkan in·dra1 (n) adalah alat untuk merasa, mencium bau, mendengar, melihat, meraba, dan merasakan sesuatu secara naluri (intuitif). Sehingga panca indera artinya lima alat yang digunakan untuk merasa, mencium bau, mendengar, melihat, meraba, dan merasakan sesuatu secara naluri (intuitif).

Ada pun untuk indera keenam, bisa juga dimasukkan dan didefinisikan sebagai indera untuk menangkap informasi tentang dunia sekitar yang tidak bisa diperoleh dengan indera biasa. Dalam bahasa inggris, indera keenam dikenal dengan istilah sixth sense. Adapun dalam istilah teknis parapsikologi, indera keenam dikenal dengan istilah extra sensory perception atau disingkat ESP. Namun, indera keenam ini tidak bisa dijelaskan secara ilmiah, sehingga dianggap tidak ada, dan hanya biasanya disebutkan Panca Indera. Meskipun dalam penulisan naskah boleh saja menyertakan keterlibatan indera keenam di dalam tulisan.

Setelah memahami tentang indera manusia yang bisa dilibatkan dalam naskah atau tulisan, maka selanjutnya bagaimana cara untuk melibatkannya?

IMG_8018

Pada intinya, melibatkan indera manusia untuk menggambarkan keadaan yang ingin ditunjukkan penulis.

  • Apa yang dilihat oleh matanya?
  • Apa yang didengar oleh telinganya?
  • Apa yang dicium oleh hidungnya?
  • Apa yang dirasakan oleh kulitnya?
  • Apa yang dikecap oleh lidahnya?
  • Apa yang dirasakan oleh perasaan/instingnya?

Untuk bisa mengenali perbedaannya, bisa langsung nanti kita simak di contoh showing.

IMG_8016

  • TELLING
  1. Pelukis itu berambut coklat dan membawa dua buah kuas di dalam tas kecil
  2. Meja itu pendek dan lapuk kayunya
  3. Garam itu tumpah tersenggol tangan Karin
  • SHOWING
  1. Lelaki pencemberut itu membersihkan sisa cat yang menempel di lengan kemejanya. Dengusan nafasnya yang keras membangunkan kucing hitam yang sejak siang tadi berbaring malas di dekat kaki jendela lukis. Aroma hambar musim panas tercium seketika. Dilihatnya langit masih bermatahari, menjelang pukul enam petang.
  2. Jody buru-buru menaruh kursi tanpa punggung di samping meja sebelum panci sop mendarat mulus di sana. Ariel menatapnya gemas, tapi mulutnya urung protes begitu melihat kayu-kayu berongga dengan beberapa rayap menguasai jajahan mereka dengan rakus.
  3. Terlambat, bubuk-bubuk putih itu telanjur berserakan di lantai bahkan di atas sandal jepitnya sendiri. Mukanya langsung menunduk dalam-dalam. Pasti halilintar akan pecah lagi. Memarnya belum pulih dan ibu kepala seperti raksasa kelaparan dengan pelototannya itu. Pasti, pasti akan dipukuli lagi. Kali ini karena sikunya menyenggol wadah garam.

Di akhir materi, bagaimana kesimpulan dari materi Show and Tell ini? Apa perbedaan dari Showing dan Telling yang telah dijelaskan melalui contoh-contoh di atas?

IMG_8003

  • TELLING

➡Relatif mudah, dan siapapun bisa menuliskan sehingga membentuk banyak paragraf

➡Jika digunakan untuk jenis tulisan non fiksi, memang lebih baik menggunakan telling. Yaitu berupa pemaparan hasil analisis, pemaparan data dan masalah, hingga sampai pada kesimpulan yg didapatkan.

  • SHOWING

➡Dijelaskan dengan detail, melibatkan indera manusia, mulai apa yang dilihat mata, apa yang didengar oleh telinga, dan apa yang dirasakan oleh perasaannya.

Showing membuat kalimatnya menjadi panjang. Penulis membutuhkan kreativitas dan pengembangan imajinasi yang luas untuk mengembangkan idenya.

Showing mampu membuat suasana lebih terasa bagi pembaca. Seolah bisa ikut masuk ke dalam cerita dan menjadi salah satu tokohnya. Itulah kenapa ada tokoh yang bisa sangat hidup dalam ingatan seorang pembaca, atau bisa membuat pembaca seolah tersihir oleh pesonanya.

Akhir kata, saya ucapkan terima kasih atas kesempatan yang diberikan dan mohon maaf jika ada kekurangan.

Terakhir, bagi saya pribadi,

IMG_8019

Sumber tulisan :

✍🏻 http://www.tapakrantau.com/show-dont-tell

✍🏻 http://www.kbbi.web.id

✍🏻 http://www.gurukita.com

✍🏻 http://www.membacatanpabatas.blogspot.co.id

✍🏻 http://www.elitasuratmi.wordpress.com

 

Published by ardhist

Mari bertemu di Instagram @ruangtitikkoma

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: