Lukisan Harapan

Sore ini, sepertinya agak berbeda dari biasanya.

Seharian hujan turun, membasahi setiap inci tanah dan rerumputan sekitar halaman.

Namun, kurasa…ada yang tak sama.

Warna langit justru terlihat sangat indah dari sudut taman tempatku menikmatinya.

“Wah, tampaknya senjaku hari ini sangat mempesona,” gumamku.

Ku mulai mengamatinya,

Kenapa engkau disuka, tapi juga dibenci banyak manusia?

“Apa yang mereka katakan tentangku?” tanyamu, mengagetkanku.

“Mereka bilang, kau memisahkan dua pasangan, siang dan malam,” jawabku.

“Aku? Tapi aku justru menyuguhkan harapan,” sanggahmu, terdengar pilu.

“Ehmm..yaa, tapi itu yang mereka rasakan, katanya.” Ungkapku, yang hanya sebagai penyampai kata.

“Aku adalah senja, the most magical color they ever seen,” katamu yang masih juga tak mau terima.

“Senja, bagiku… Engkau membuktikan, bahwa selalu ada keindahan dalam setiap hal. Namun, tak semua manusia mampu melihatnya,” jawabku sambil mengarahkan kamera untuk mengabadikan warnanya.

“Mereka membencimu, karena kau menandakan akan datang sebuah kegelapan. Mereka juga membencimu, karena engkau membuat mereka harus menunggu hingga esok datang,” jawabku menjelaskan sudut pandang.

“Mereka salah besar, kawan. Aku memberikan mereka kesempatan untuk merenung dalam ketenangan. Kadang manusia hanya selalu ingin melihat apa yang ingin dilihatnya saja. Mereka tak mau menerima, jika itu tak menjadi keinginannya. Padahal, bukankah Tuhan selalu punya rencana? Kenapa mereka tak mau percaya?” jelasmu panjang dengan sedikit nada kekesalan.

“Hidup adalah kumpulan dari keajaiban. Ia sangat sulit untuk bisa diramalkan. Kenapa mereka tak mau memberikan ruang bagi kedamaian? Aku adalah kedamaian. Aku adalah harapan. Lihatlah, betapa indah warna yang kupendarkan. Tidak selamanya akhir, selalu mereka yang tentukan. Aku, senja. Warnaku adalah bukti, bahwa apapun yang terjadi di hari itu, setiap hari akan selalu ada harapan untuk akhir yang membahagiakan. Tergantung padamu, melihatku dari sudut mana.” Ungkapmu dengan nada sedikit mendayu merdu.

“Ya senja, akan kuingat apa yang kau katakan. Kurasa, kini saatnya aku untuk pulang, sebelum gelap datang. Beristirahatlah, senja… Peraduan menunggu. Ku temui engkau disini lagi, esok hari.” Pamitku seraya bangkit dari bangku taman, dan berjalan menuju peraduanku.

“Selamat tinggal kawan, aku tak tahu apakah esok hari Tuhan masih akan memberiku kesempatan menemuimu. Bukankah hanya Dia, Sang pemilik waktu?” jawab senja menyadarkanku.

“Maka, meskipun aku hanya datang sebentar saja, dan hanya sebagai pembatas asamu, tolong lihatlah aku sebagai senja terbaikmu.” ungkapnya sebelum langit menyapu cakrawala dalam gelapnya.

Selama beberapa saat, ku masih berdiri termangu di situ. Masih dengan menatapnya yang sudah pergi. Kepergiannya, menandakan waktu yang sudah berganti. Berakhirnya hari ini, dan sebuah kesempatan lagi, untuk esok hari.

 

” Blessed are they who see beautiful things in humble places,

where other people see nothing.”

Published by ardhist

Mari bertemu di Instagram @ruangtitikkoma

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: