Debu yang Tak Seharusnya Kau Buang

Maaf sayang, sungguh sulit bagiku untuk mengatakan ini … Tapi aku rasa, tak bisa lagi aku mendampingimu. Bukan karena kau tak baik, hanya saja aku tak nyaman lagi bersamamu ….

Penggalan kalimat dalam sebuah surat diterima Wina pagi ini. Padahal ada lebih dari tiga puluh orang kawan sedang menunggunya sebagai salah satu peserta di acara bedah buku.

Sesaat sebelum Wina melangkah keluar dari rumah, datanglah tukang pos yang membawakan sepucuk surat kiriman  itu. Australia … begitu Wina melihat gambar bendera yang terpampang di pojok kanan suratnya.

Dengan degup jantung yang bersemangat ingin cepat-cepat, Tiara segera menuju kamarnya lagi, belum jadi pergi.

“Sandy … ini pasti dari Sandy. Akhirnya ia mengirimkan sebuah kabar padaku,” gumamnya. Bergegas Tiara masuk kembali ke kamarnya, menyalakan lampu meja belajar, dan duduk dengan posisi yang paling nyaman.

“Siapa yang datang, Tiara?” suara ibunya menyeru dari lantai bawah.

“Oh, tidak ada Maa, bukan siapa-siapa.” Jawab Tiara yang menjawab sekenanya saja.

Pikirannya sekarang hanya dipenuhi oleh sepucuk surat berwarna biru itu.

Perlahan dibukanya, dengan perasaan yang sangat campur aduk. Hati-hati sekali saat ia lepaskan surat itu dari lem perekatnya. Batinnya sebenarnya takut, kira-kira apa yang akan dibicarakan Sandy dalam surat itu. Kenapa selama enam bulan ini, Sandy tak pernah sekalipun mengirimkan kabar lagi. Tiara bingung harus mencari jejaknya sampai kemana. Nomor teleponnya tak lagi aktif, begitupun jejak digital di media sosialnya. Bagi Tiara, kertas biru itu adalah wakil diri Sandy, serta jawaban atas kerinduan Tiara.

Halo sayang,

Apa kabarmu di sana?

Semoga engkau selalu dalam lindungan Allah.

Maaf … maaffff ….

Pasti kau bertanya padaku, apa kabarku selama enam bulan ini ….

Pasti kau mencariku ….

Namun ada hal-hal yang tak bisa kujelaskan dengan begitu mudah padamu ….

Kau pasti bertanya, mengapa aku kirimkan surat ini?

Mengapa tak langsung ku temui saja dirimu di sana?

Namun aku tak menemukan cukup cara yang pantas untuk bisa menatap wajahmu lagi …

Jemari Tiara bergetar memegang lembar kertas itu. Ia masih berusaha mencerna apa maksud Sandy dalam kalimat terakhirnya.

tak menemukan cukup cara yang pantas …

tak bisa kujelaskan dengan begitu mudah …

Apa maksudnya ini?  batin Tiara.

“Tiara, sudah hampir jam sembilan, bukankah acaranya jam sembilan? Kau terlambat nanti.” Seru ibunya lagi mengingatkan, bahwa ia harus segera berangkat.

Namun Tiara tak menjawab. Pikirannya sibuk mencerna makna tersirat dalam kata-kata yang dibacanya.

Maaf sayang, sungguh sulit bagiku untuk mengatakan ini … Tapi aku rasa, tak bisa lagi aku mendampingimu. Bukan karena kau tak baik, hanya saja aku tak nyaman lagi bersamamu ….

Lepaskan aku, lupakan mimpi-mimpi kita, sayang ….

Aku tak akan bisa menjadi seseorang yang kau harapkan, seperti dulu ….

Mungkin ini aneh, atau terlalu mendadak ….

Tapi semoga foto ini bisa membuatmu memahami dengan cepat….

Maaf … hanya itu yang bisa aku katakan ….

Hiduplah dengan baik di sana, jalani hari-harimu ….

Percayalah bahwa suatu hari nanti akan kau temukan seseorang yang lebih baik dariku ….

 Sandy

Mata Tiara sudah tak bisa lagi menampung semua air mata yang ingin keluar. Matanya sembab, hidungnya memerah, dan riasan make up yang sejak tadi ditatanya dengan sangat apik, sekarang sudah beleber kemana-mana. Maskara dan eyeliner hitam itu telah jatuh setitik membasahi kertas biru yang dipegangnya. Hatinya sakit sekali, bernafas pun rasanya sulit.

Tak ada lagi harapan indah yang bisa aku perjuangkan setelah ini, begitu pikirnya sambil sesekali menyeka mata dengan punggung tangannya.

Dengan sisa keberanian yang ia punya, Tiara coba untuk menilik kembali ke dalam amplop surat yang tergeletak di sisi kirinya.

Foto … foto apa? Mana ada foto? Tanya Tiara dalam batinnya sendiri.

Dilihatnya ada lembar putih kaku yang terselip di situ. Sejenak Tiara ragu, apakah perlu diambil dan dilihatnya foto itu. Namun jika tak ia tuntaskan, akan semakin banyak pertanyaan yang menunggu jawaban.

Akhirnya ia beranikan diri untuk membaliknya. Sesaat, jantung Tiara serasa berhenti berdetak. Sungguh sebuah pemandangan yang sangat sulit untuk ia percayai. Sebuah dekorasi mewah penuh dengan bunga-bunga warna putih memenuhi ruangan. Indah, seperti impiannya pada sebuah pesta pernikahannya dengan Sandy kelak. Tampak sepasang pengantin berdiri dengan anggun dan berwibawa di tengah-tengahnya.

Mata Tiara memicing. Coba ia amati, siapakah sosok pengantin itu.

Deeegggggg! Detaknya berhenti, dan Tiara berasa tubuhnya ingin terguling dari kursi tempatnya duduk.

Sandy. Ini Sandy. Dia menikah? Apa, dia menikah? Ya, dia menikah!

Terlepas lembar foto itu dari tangannya. Beringsut ia coba untuk memindahkan tubuhnya ke tempat tidur di samping kanannya.

Apa ini, apa arti ini semua …Pikirannya masih belum bisa mencerna dan menerima.

“Tiara, sudah jam sembilan. Peserta telah banyak kawan yang menunggumu di sana.” Teriak Mamanya lagi.

“Ya, Maa..sebentar lagi.” Jawab Tiara yang mencoba membuat suaranya senormal mungkin.

Setengah jam berlalu, Tiara mencoba untuk menenangkan dirinya yang kalut atas kabar Sandy.

Bagaimana tidak, laki-laki yang sudah tiga tahun bersamanya itu, tiba-tiba menghilang, dan sekarang tiba-tiba datang dengan kabar pernikahannya. Bagaimana aku harus menghadapi dunia ini selanjutnya? Batin Tiara yang masih belum menemukan jawaban atas pertanyaannya.

***

Lima tahun berlalu sejak kejadian yang sangat menyesakkan hati itu.

Pagi ini, Tiara kembali hadir di sebuah acara bedah buku. Tetapi tak sama seperti lima tahun yang lalu. Kini, ia bukan lagi peserta di sana, tetapi sebagai pembiacara. Bukunya adalah salah satu Best Seller yang terpampang di semua toko buku di seluruh Indonesia. Untuk sebuah jenis buku teenlit, ini termasuk luar biasa.

Tiara mengawali acaranya pagi itu dengan sangat bersemangat dan bahagia. Acaranya dihadiri lebih dari seratus orang kali ini. Wow! Di sela-sela talkshow antara Tiara dan pembawa acara, sesekali pandangan Tiara mengarah pada sosok seorang pria yang hadir di ujung sana. Tommy, ya itulah nama kekasih Tiara saat ini. Tommy lah yang perlahan menyembuhkan luka hati Tiara. Tommy lah yang justru meminta Tiara untuk menuliskan buku sebagai pengobat lukanya di masa lalu. Kini, Tiara bahagia. Perlahan lukanya sembuh berkat waktu dan dukungan orang-orang yang menyayanginya.

“Kini lah saatnya untuk penanda tanganan buku Kak Tiara, yang sebentar lagi akan diangkat menjadi film di layar lebar. Ayo siapa yang sudah punya bukunya dan pengen ditanda tangani Kak Tiara? Atau ada yang belum punya bukunya? Bisa nanti langsung order di sini yaa..” seru pembawa acara lantang.

Tiara pun berdiri, dan maju menuju meja kursi yang disediakan untuk pembubuhan tanda tangan. Tampak di depannya, para hadirin diminta untuk antri membentuk barisan yang panjang. Satu per satu maju untuk berfoto dan mendapatkan tanda tangan di buku mereka.

Hadirin pertama maju, menghampiri Tiara di depan meja yang telah disediakan panitia. Ia ulurkan buku Tiara, dan dengan tersenyum, Tiara membaca judul di sampul depan buku itu. ‘Debu yang Tak Seharusnya Kau Buang’, begitu cetakan tebalnya di halaman depan. Terpampang manis.

Kemudian Tiara buka lembar selanjutnya, disana ia tuliskan, “Tahukah kau, bahwa bumi yang penuh kehidupan tercipta dari kumpulan debu yang menggumpal dan memadat di angkasa? Debu yang tak berguna itu, kini menjadi harapan bagi seluruh makhluk Tuhan untuk ingin hidup. Debu tak selamanya tak berguna. Karena ia bisa menjelma menjadi sesuatu yang tak pernah kau duga.” Seraya Tiara membubuhkan tanda tangan pada buku hasil karyanya.

Published by ardhist

Mari bertemu di Instagram @ruangtitikkoma

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: