Jejak Dalam Jiwa

Suatu hari ada yang bertanya, “Bagaimana masa kecilmu?”

Kau selalu mengabarkan pada dunia dengan jawaban, “Luar Biasaaa!”

Aku hanya tersenyum meringis saja….

Kuingat … kau bilang padaku waktu itu, “Kenapa? Apa salah jika ku bilang masa kecilku luar biasa?”

“Ohh, tentu saja tidak, sobat….” jawabku mencegah buruk sangkanya.

“Ya, sudah….tak usah kita bahas lagi itu,” pintamu sebelum masuk ke toko busana.

Dini, sahabatku satu ini. Bertahun-tahun menjalani kehidupan yang tak seperti orang lain alami. Mulai dari pengusiran ibunya oleh ayahnya sendiri. Membuat hidupnya hanya seputar kotak kardus harta yang sempat ia bawa pergi. Hidup mengajarkanmu untuk mencari tahu, bagaimana bertahan, hanya dengan memikirkan makan apa esok hari.

Anak sekecil itu, tak cukup mampu mengerti apa yang sedang terjadi.

Yang ia pahami, cerita indah hanyalah angan-angan ketinggian, tak pernah ada akhir kisah seperti drama di televisi.

Kini, sepuluh tahun berlalu sejak cerita itu.

Aku bertemu denganmu, sebagai kawan sekelasmu.

Yang ku lihat, kau begitu luar biasa, anggun, dan berwibawa.

Tapi kini ku pahami, sesungguhnya ada lubang besar menganga dalam jiwa.

Kau tak pernah menangis!

Tak pernah ku lihat engkau berlinangan air mata, meskipun beberapa kali dicampakkan cinta.

Tak pernah juga terlalu ‘drama’, seperti kebanyakan perempuan seusia lainnya.

Wow! Bagiku, kau hebat, kawan ….

Meski kadang beberapa laki-laki di kelas seberang , bergidik hanya dengan mendengarmu bicara.

Tapi, tak sedikit pula yang bernyali untuk menyatakan cinta.

Ya, masa kecilmu sungguh luar biasa. Seperti namamu, Dini.

Kau dipaksa menjadi dewasa sebelum waktunya. Di saat jiwa masih begitu rentan dengan trauma.

Dunia meminta lebih dari yang kau mampu, bahkan lebih kejam dari pada kata mati.

Tapi dari seluruh perjalanan ini, yang terhebat adalah bagaimana kau bisa bangkit dan percaya akan kau ukir takdirmu sendiri.

Sungguh, tak pernah ku temukan manusia seperti kau, Dini.

Waktu terus berputar tanpa menunggu kesiapan setiap makhluk-Nya.

Tanpa disangka takdir mempertemukan kita lagi dalam sebuah acara.

Kini, ku lihat kau sungguh jauh lebih mempesona.

Dan ketika pembawa acara bertanya, “Apa yang bisa Anda katakan pada masa kecil Anda?”

Seperti yang sudah kuduga, kau pasti menjawab, “Luar biasa!”

Ketika ditanya lagi, “Jika ayah Anda menonton, apa yang ingin Anda katakan padanya?

Kau jawab, “Saya mencintainya. Bagaimana pun, seorang anak tetap wajib berbakti pada orang tuanya.”

Sekali lagi, aku tak melihatmu meneteskan air mata.

 

 

Published by ardhist

Mari bertemu di Instagram @ruangtitikkoma

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: