Jika Esok Tak Pernah Datang

Sebuah pertanyaan besar saat itu muncul dari balik meja kerjaku. Bertumpuk dokumen menunggu untuk dibaca, berbagai email masuk menunggu untuk dibalas, serta beberapa target project menunggu untuk dilaksanakan sesuai dengan timeline yang ditentukan. Namun entah mengapa, hari itu justru aku memikirkan hal lainnya.

Kudengar selentingan kabar, bahwa perusahaan akan ‘merumahkan’ begitu banyak karyawan. Tidak ada jaminan bisa ‘selamat’ meskipun jabatannya sudah di level aman. Sungguh menakutkan! Baru urusan beginian, tapi rasanya sudah seperti kiamat yang hampir datang.

Ya, dunia semakin tidak menentu saja, pikirku. Namun bukan itu yang menjadi masalah utama. Jika memang aku menjadi salah satunya, lalu apa yang harus kulakukan setelahnya? Selama ini hidupku sangat ‘nyaman’ dengan gaji-gaji yang rutin ku terima setiap bulan. Setiap akhir pekan, ku hamburkan uang untuk bersenang-senang dengan teman-teman. Dalam sebulan, mungkin bisa kubeli 2 tas bermerek internasional. Luar biasa, bukan? Tapi, jika aku dianggap tak ‘berharga’, lantas apa yang bisa ku lakukan kemudian?

Telepon berdering, rupanya Si Bos memintaku untuk datang ke ruangannya. Belum juga berdiri, tapi lutut ini rasanya sudah tak ada tenaga. Tenang, ini bukan karena kau mau di-PHK, sudah … segera saja ke sana, turuti apa maunya, begitu batinku bersuara.

Dalam sehari itu, ku dengar dua orang Kepala Bagian Accounting tamat riwayatnya. Waktunya hanya dua minggu untuk membereskan semua barang-barangnya. Perusahaan tak mau tahu, yang penting rencana perampingan tenaga kerja bisa dicapai sebagai bentuk komitmen perusahaan. Perusahaan ingin membuat sebuah rencana kerja yang lebih efektif dan efisien di masa depan. Terlalu banyak orang tidak sejalan dengan rencana mereka. Itulah kenapa banyak karyawan harus ikut menanggung resikonya.

Aku, bagaimana nasibku? Selama ini aku merasa semua akan baik-baik saja. Kuliah di perguruan tinggi negeri, cari nilai sebaik-baiknya, lulus secepat mungkin, mendaftar pekerjaan di perusahaan-perusahaan besar ternama, atau, ya … di kantor pemerintah saja, lumayan juga. Setelah itu, berkarir dengan sebaik-baiknya, dan nikmati hidup senikmat-nikmatnya. Yang akan terjadi nanti, ya sudah dipikir nanti saja lah ….

Aku lupa bahwa tidak pernah ada jaminan bahwa esok pasti akan datang. Tidak juga ada jaminan bahwa esok pasti akan lebih baik. Aku lupa untuk mempersiapkan masa depan, karena merasa telah sampai di kehidupan yang ku inginkan. Namun ternyata, itu juga yang membuatku lupa, bahwa ini adalah zona nyaman, bukan zona aman.

Kehidupan, memang sudah begini sejak awal mulanya. Tidak pernah mudah untuk menjalaninya. Kini, mungkin aku memang sedikit terlambat. Kesadaranku sangat telat dibandingkan mereka yang ku lihat dulu biasa saja. Mereka bukan biasa saja, tapi justru sedang menyimpan amunisinya.  Sekarang aku pun harus belajar dari apa ku tanam. Agar meskipun tidak sempurna, tapi masih bisa aku berharap, yang ku tuai tidak terlalu mengecewakan.

Kutekadkan diri untuk keluar dari zona nyaman. Jika dulu aku biasa mengatakan, “Yang nanti, dipikir saja gimana nanti lah …. ” sekarang harus ku ubah cara berpikirku menjadi, “Nanti gimana?”

Aku harus meyakinkan diri sendiri bahwa masih ada kesempatan bagi diriku, masih ada yang bisa ku lakukan untuk masa depanku. Tinggalkan mindset untuk merasa tenang, merasa hari esok pasti akan datang. Setiap hari harus diisi dengan perjuangan, dan perubahan. Jangan merasa nyaman, jangan merasa aman.

Memulai langkah bisnis, ataupun investasi adalah salah satu cara yang bisa ku pertimbangkan. Jika dulu selalu merasa nyaman dengan semua hal rutin yang biasa terjadi, kini tak boleh lagi. Kini, setiap hari, setiap saat, harus diisi dengan perubahan-perubahan. Manfaatkan waktu untuk hal-hal positif dan produktif, serta pergunakan segala aset dan sumber daya dengan bijaksana. Coba tantang diri sendiri untuk melakukan hal-hal baru, hingga suatu hari nanti, masa depan akan berterima kasih padaku.

Ddddrrtt … dddrrrtttt … ddddrrttt …. (ponsel bergetar)

Astaga kenapa aku masih di sini? Aku pun akhirnya tersadar.

Dua puluh menit berlalu dalam lamunanku. Pak Boss sudah menunggu. Oke, aku pergi dulu. Tapi ada satu hal penting yang bisa kudapatkan. Bahwa setelah ini, aku bertekad untuk keluar dari zona nyaman. Siap menuju zona aman. Bukan hal mudah, aku tahu … tapi tak ada cara terbaik untuk membuktikan, selain mencobanya, kan?

 

You’ll never change your life, until you change something you do daily. The secret of your success is found in your daily routine ….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s