Murid Kehidupan

Masih kuingat hari itu, dimana pertama kalinya dia akan memanggilku ibu.

Bahagia, pasti.

Namun ada sedikit rasaku kwatir pada diri ini.

Mampukah aku menjadikan ia se-luar biasa harapanku nanti?

Atau justru aku tak boleh banyak berharap darinya?

Yaa Allah, tapi mampukah aku mendidiknya tanpa berharap?

Bukankah dengan adanya harapan, aku akan menemukan jalan untuk mendidiknya seperti harapanku?

Di sinilah, kehidupan mengajariku ….

Tiba-tiba ia datang dan menyahut, “Tak perlu kau pikirkan bagaimana hidupnya kelak, karena itu bukan bagian dari tugasmu.”

Aku terhenyak mendengarnya mengatakan itu.

“Siapa kau?” tanyaku dalam diam.

“Aku adalah Sang Guru,” jawabmu membuatku semakin tak bisa tenang.

“Guru???” tanyaku ingin menegaskan kembali pada apa yang ku dengar.

“Ya, anakku. Aku tahu kebimbanganmu. Aku tahu rasa takutmu.” jawabmu kala itu, mencoba meyakinkan dan membuatku tenang.

“Lalu, apa maksudmu dengan tak perlu ku pikirkan masa depannya? Itu bukan tugasku? Bukankah, Allah menitipkan anak ini untuk kurawat dan kudidik, agar kelak hidupnya jauh lebih sukses daripada hidupku.” Aku membela diriku atas pernyataan yang ku anggap benar.

“Nak … dengarlah, ketika Sang Maha menciptakan anakmu, di sana ia dan anakmu telah membuat sebuah janji. Bahwa ada takdir yang akan dibawanya. Lengkap juga dengan jaminan akan kehidupannya selama di dunia. Di sana, bersama dengan Pemiliknya, ia membuat janji akan mampu memikul akal dan nafsunya untuk menjalani hidup di dunia.” jelasmu panjang sekali, membuat perasaanku tak menentu.

“Lalu, apa peranku hai, Sang Guru? Bukankah aku ini ibunya? Orang yang paling mencintainya. Paling melindunginya. Dan yang paling selalu membelanya,” tanyaku ingin tahu.

“Kau … Kau adalah sosok yang diamanahi Sang Maha. Tugasmu adalah menjaga amanah, menjalankan sesuai apa yang diharapkan-Nya.” jelasmu lagi, semakin membuatku ingin bertanya lagi.

“Lalu … apa yang harus kulakukan? Aku ingin menjadi ibu yang baik sejak hari pertama bertemu dengannya, wahai Guru ….” jawabku yang mulai terisak dalam diam.

“Ada dua hal yang paling penting untuk kau ajarkan padanya. Buatlah ia paham siapa Tuhannya, dan siapa Rosulnya.” jawabmu.

“Kenapa, wahai Guru?” jawabku ingin tahu.

“Karena sesungguhnya, itulah janji yang telah ia buat dengan Sang Maha sebelum ia ditiupkan ke dalam rahimmu.” jawabmu mengakhiri pembicaraan ini.

Tiba-tiba aku tersadar, dan kudapati diriku bersama seorang bayi mungil di pangkuan. Apa aku tadi bermimpi? Siapa itu Sang Guru? Ke mana ia sekarang? Namun, tak kudapati orang lain di sekitarku.

“Lalu, siapa yang kupanggil Sang Guru itu?” tanyaku pada dinding-dinding putih pucat di ruangan.

“Ibuku?” tanyaku lagi.

“Bukan” jawab nurani.

Lantas, siapa?

…. tak ada jawaban yang bisa kutemukan.

Senja itu berlalu, dalam tanyaku yang membisu dari balik jendela kamarku.

 

 

 

Published by ardhist

Mari bertemu di Instagram @ruangtitikkoma

2 thoughts on “Murid Kehidupan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: