Rasaku, Dalam Rasamu

Sent….

Done! Pikirku. Sekarang hanya tinggal menunggu pengumuman untuk lolos seleksi tahap Outlining. Ya, ini adalah project pertama dan terbesar yang pernah aku ikuti sampe saat ini. Project Kompetisi Kepenulisan Novella yang diselenggarakan salah satu penerbit di Indonesia.

Beberapa waktu terakhir ini, aku memang sedang memfokuskan diri untuk belajar dalam dunia kepenulisan. Bukan tidak sengaja tiba di sini. Namun, aku memang sengaja meminta kepada Allah untuk membuatku bertemu dengan dunia penulis, seperti mimpi masa kecil dulu.

“Yaa Allah … Aku ingat, bahwa dulu saat aku masih SD, aku bermimpi bisa menjadi seorang penulis.” curhatku pada Allah di suatu malam. “tapi aku tak tahu caranya, yaa Allah. Apakah dalam kehidupanku yang sekarang, diri ini masih punya kesempatan untuk melanjutkan mimpi?” tanyaku dalam doa waktu itu.

“Jika memang masih Engkau berikan kesempatan untukku, aku pasti akan sangat bahagia dan bersyukur pada-Mu. Akan kujalani kehidupanku sebagai penulis seperti yang kuimpikan lebih dari dua puluhan tahun yang lalu.” Lanjutku dalam doa, sekaligus berharap jawaban dari Allah.

Masih kuingat dengan jelas doaku itu, dan sekarang, aku di sini. Bersama dengan deadline yang menunggu. Pertama kali aku mengakrabkan diri dengan dunia penulis ini, rasanya masih seperti meraba-raba, hingga kini aku bertemu dengan kompetisi ini.

Melihat kompetisi ini membuatku ragu sekaligus tertarik. Ragu karena sudahlah tentu tak akan mungkin diriku menang, mengingat sama sekali belum memahami teknik kepenulisan. Namun, ini adalah salah satu cara yang paling cepat untuk belajar, begitu pikirku. Akhirnya ku bulatkan tekad untuk mengikutinya.

Akhirnya hari ini ku kirimkan juga materi untuk seleksi tahap awal, yaitu Outline. Dan segera keesokan harinya, aku dinyatakan lolos seleksi.

Begitu girangnya, dan sangat bersemangat untuk memulai menggarap naskah novel pertamaku. Ya, sampai di tahap awal ini membuatku yakin bahwa aku mampu juga untuk lolos di seleksi tahap berikutnya.

Setiap tahapan seleksi hanya diberikan waktu selama satu minggu untuk menuliskan naskah untuk disetorkan. Dari hasil outline yang aku buat, tertulis ada sepuluh bab yang harus kuselesaikan dalam enam tahap seleksi. Itu artinya rata-rata satu hingga dua bab harus kuselesaikan dalam seminggu sebagai materi yang diseleksi.

Setelah lolos tahap Outlining, sekarang mulai kubuat naskah untuk seleksi awal yaitu Bab I dan II saja dulu. Sebenarnya cukup mudah, hanya saja sulit sekali untuk mencari waktu dan fokus dalam suasana yang dibangun.

Seminggu kemudian, pagi-pagi sekali langsung kucari pengumumannya di Facebook.

Yeaaayyyy!! Aku lolos seleksi tahap 1. Semakin optimis aku untuk maju di tahap berikutnya. Selanjutnya adalah seleksi tahap ke-2. Sekali lagi, aku dianggap masih cukup bisa meneruskan perjuanganku di sini.

Keesokan harinya,  di daftar pengumuman tertulis namaku untuk mengikuti tahap selanjutnya yaitu tahap 3. Woow! Luarrr biasa, pikirku. Dengan penuh semangat, aku kirimkan materi untuk dikoreksi di tahap ke-3. Kembali, pagi-pagi aku bergegas untuk mengecek apakah namaku ada di salah satu nama peserta yang lolos. Tapi, ternyata kabar yang kuterima tak sesuai yang kuharapkan. Di tahap ke-3 inilah aku dinyatakan tidak lolos. Sedih, dan merasa gagal.

Namun, ya itulah kenyataan yang harus aku hadapi. Bahwa inilah kompetisi. Pasti semakin lama, semakin sulit dan memang harus ada yang tereliminasi. Aku memang sedih karena mimpiku untuk segera bisa membuat buku sendiri pupus di sini.

Dalam kesedihanku, rasa kecewaku, maka aku pun mulai bisa mengingat kembali apa tujuan untuk mengikuti kompetisi ini. Sewaktu di awal, aku hanya ingin menjajal kemampuan menulisku. Sejak awal sudah jelas, bahwa aku hanya ingin mengetahui dan juga mendapatkan ilmu tentang kepenulisan. Namun di atas semua itu, aku bahagia. ‘Rasa’ yang ingin kuungkapkan dalam novel , mungkin masih belum sebaik peserta lain, atau belum sesuai standar ‘rasa’ yang kau harapkan. Tetapi, sekarang aku tahu di mana posisi kemampuanku. Semoga suatu hari nanti, ‘rasaku’ bisa berhasil mengetuk pintu ‘rasamu’.

 

Published by ardhist

Mari bertemu di Instagram @ruangtitikkoma

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: