Ketika Takdir Menyapa

Selasa, 20 Februari 2018

Tepat hari ke-30 pertemuan takdirku di sini, 30 Days Writing Challenge, Jilid 11.  Lucu rasanya saat  mencoba mengingat kembali bagaimana aku, akhirnya bergabung di dalam grup ini.

Waktu itu, sekitar tiga bulan sejak aku bergabung menjadi kontributor media online Bernas.id, ternyata aku memiliki performance yang sangat buruk. Tidak produktif untuk menulis. Namun, hal itu bukan tanpa alasan. Aku mengalami yang penulis sering bilang, Writer’s  Block yang disebabkan karena tulisanku mendapatkan remark  Tidak Layak Tayang (Tidak Layak Tayang). Akhirnya hal kecil itu yang membuatku berhenti. Hiks ….

Akibat dari mutung-ku itulah yang akhirnya membuatku terancam untuk dikeluarkan dari grup Creative Writer Academy, tempatku selama ini menimba ilmu dan sebagai wadah sesama kontributor Bernas.id. Sebelum dikeluarkan, ternyata ada masa pemutihan yang dilakukan oleh mentor, yaitu dengan membayar denda sejumlah artikel. Melihat performance-ku yang sangat buruk, sudah tentu banyak artikel yang harus aku setorkan. Saat kulihat, wow 20 artikel dalam 1 minggu! Hahaha…

Parahnya, hal itu baru kuketahui setelah hari ke-4, sehingga waktuku  hanya tersisa 3 hari lagi. 20 artikel, 3 hari, berarti harus membuat minimal 6 artikel dalam 1 hari. Woww!! Menulis 1 artikel saja sulit, apalagi 6. Namun, itu adalah konsekuensi, dan aku harus bisa lakukan jika tak ingin tersingkir.

Dengan perjuangan yang sungguh luar biasa, aku berusaha sangat keras. Namun, dalam keterbatasan waktu, hanya ada 16 artikel yang mampu kuselesaikan. Rasa untuk masih ingin bertahan, membuatku tidak bisa menyerah begitu saja. Jika aku hanya pasrah, pastilah sudah jelas nasibku selanjutnya. Akhirnya inilah justru yang membawaku ke 30 Days Writing Challenge, Jilid 11.

Bagaimana caraku untuk lolos dari penyisihan? Saya kontak langsung mentor kami, Kak Rezky Firmansyah. Selama ini beliau tampil sesekali saja, sehingga sangat jarang berkomunikasi. Saya meminta kepada beliau untuk memberikan toleransi waktu untuk 4 artikel. Saat ditanya butuh berapa hari, saya jawab cukup 2 hari. Oke, deal!

Komunikasi akhirnya membuat saya ingin lebih banyak bertanya, dan di situlah beliau mengenalkan pada saya tentang 30 Days Writing Challenge, Jilid 11. Sebenarnya saya sudah pernah diinfo mengenai DWC ini, tetapi masih belum tertarik untuk mengikuti. Namun, melalui penjelasan Kak Rezky, akhirnya saya putuskan untuk IKUT!

Akhirnya hari itu datang juga. Hari pertama di kelas 30DWC, Jilid 11 ….

Sekilas, hmm … mayan, sepertinya terorganisir, batinku setelah mendapatkan penjelasan tentang Empire, Squad, Guardian, Fighters, penjelasan tentang ‘aturan main’ grup, serta jadwal-jadwal kegiatan. Oke, cukup menarik, batinku.

Hari pertama langsung dimulai untuk menulis, dan dibawah arahan Guardian, maka tim Squad kami, Squad 10, diwajibkan menyetorkan link tulisan. Saya adalah tipikal yang tidak terlalu suka beramah tamah di awal, haha … Bukan, bukan karena sombong atau sejenisnya, tetapi tidak tahu bagaimana memulai, haha ….

Untung akhir satu karakter spesial muncul, Kak Butet, namanya. Dia memang menjadi pintu pembuka dalam Squad 10. Tipikalnya yang ceria, dan supel, membuat Squad 10 menjadi seperti keluarga pada akhirnya. Dia seperti bola karet yang memantul-mantul di lantai ruangan. Warnanya kadang merah, kuning, kadang juga hijau. Lucu sekali melihatnya. Akhirnya semua anggota squad melihat ke arah bola itu, termasuk saya yang awalnya tak peduli, dan hanya duduk di luar, asik sendiri.

Satu per satu akhirnya kami mengenal karakter masing-masing. Tidak ada kompetisi di antara kami para fighters. Selalu saling support dan membantu untuk tercapainya tujuan akhir bersama. Dalam 30DWC11 ini, saya sangat luar biasa mengapresiasi kerja sama tim. Tak akan mungkin tanpa karakter-karakter ini, akan bisa menjadi sebuah tim yang solid.

Guardian kami, Bu Muhib adalah orang yang sangat bijaksana, terlihat kalem, tetapi tegas. Memberikan arahan dan masukan yang baik untuk grup. Seperti seharusnya seorang leader, beliau adalah sosok ketua kelas yang hebat! Dalam ketegasannya yang kalem, beliau tetap  menjadi seorang ibu yang selalu menerima anaknya, dengan apa adanya. Tak lupa, pasti selalu memberikan dukungan kepada kami para anggotanya. Luar biasa!

Butet, tipikal gadis yang ceria dan mudah mencairkan suasana. Membuat kami semua selalu bisa tertawa dalam tekanan yang mungkin menyita pikiran dan batin dalam kehidupan nyata. Kak Butet mampu menjadi warna, menjadi pelangi, dan penyejuk di dalam squad kami. Hebat!

Yulia, gadis mahasiswa, lincah, dan ceria. Masih seperti kebanyakan anak muda di usianya. Ketika masalah terbesar sudah bukan hanya pada matematika, tetapi pada kisah cinta yang menunggu endingnya ke mana, haha…

Yoga, satu-satunya laki-laki di squad kami. Yang masih berusaha berjuang untuk menjadi ‘seseorang’. Yang kisah cintanya juga tak kalah memilukan, haha… Namun, tetap semangatlah untuk masa depanmu, nak … Agar siapapun yang pernah mengecewakanmu di masa lalu, akan menyesal di masa depan. Salah satu yang catat dari Yoga adalah sudah mengikuti kelas DWC sampai tiga kali, tetapi baru kali ini aksi menulis 30 hari tanpa henti, sanggup untuk diakhiri dengan manis. Good job!

Siti Romlah, dan Nur Padilah, dua dari anggota squad yang paling terlihat kalem. Maklum, kami hanya bisa meraba dalam dunia maya, tanpa pernah bertemu untuk berbicara. Dua orang yang sangat saya apresiasi juga bahwa dalam Squad 10 ini mampu menyelesaikan semua tantangan tanpa banyak bicara.

Ibu Desi, senior kami dalam usia khususnya. Keistimewaannya adalah semangat yang tidak banyak dimiliki oleh orang-orang selevelnya. Luar biasaaaa menginspirasi. Saya, yang katanya masih muda, masih banyak alasan untuk tidak bisa melakukan banyak hal. Malu sama Bu Desi ….

Saya, hanya orang yang ingin melawan diri saya sendiri. Selama ini, hal yang paling sulit adalah mengalahkan diri saya sendiri yang malas, penuh keraguan, ketakutan, dan terlalu santai menghadapi hari-hari. Padahal waktu tak bisa kembali. Sungguh, bukankah itu sangat rugi?

Akhirnya saya merasa bahwa ini sangat tidak sehat. Saya adalah ibu, saya adalah istri. Apa yang bisa saya harapkan dari sebuah keluarga yang tokoh utamanya tidak mau berkembang dan berpikiran maju? Maka, bagi saya 30DWC ini adalah salah satu wadah saya untuk melawan diri saya sendiri. Saya ingin mendapatkan energi dari lingkungan sebanyak-banyaknya untuk membantu pikiran saya agar tetap bisa bertumbuh.

Begitulah…

Banyak hal yang akhirnya saya dapatkan saat di DWC11 ini. Lalu apa kabar tentang tulisan saya? Apakah tujuan yang saya inginkan sudah tercapai?

Ada satu yang memang tercapai, yaitu menulis tanpa henti membuat akhirnya menjadikan menulis sebagai sebuah kebiasaan. Namun pertanyaannya, seberapa bagus kualitasnya? Yang itu menurut saya masih harus saya tanyakan. Kepada diri sendiri dan kepada pembaca.

Ada kalanya, saya ingin membuat sebuah tulisan gue banget! dalam tulisan yang kutorehkan. Namun, bagaimana bisa? Karakter tulisan saya saja masih belum bisa saya temukan. Jika pun sudah, apakah ada pembedanya dengan tulisan yang lain? Bagi saya belum.

Bagaimana mau jadi penulis handal, jika karakter tulisan saja tak mampu kita temukan. Itu yang menjadi pertanyaan terbesar saya saat  ini.

Lalu bagaimana?

Jawaban saya, pastinya terdengar klise, dan ingin terlihat mudah. Belajar.

Ahh … membosankan, bukan?

Jadi mau apa?

Untuk itu saya sedikit bermimpi. Bahwa saya bisa mendapatkan kelas lanjutan dari DWC ini. Kelas yang lebih membantu mengarahkan saya untuk menggali kekurangan saya, dan melatih kekuatan saya.

Dalam satu kesempatan yang diadakan oleh mentor malam ini, saya menyampaikan mimpi saya itu.

Namun, saya paham bahwa perumusan sebuah konsep pasti membutuhkan cerita dan pertimbangan yang panjang.

Saya, sebagai pemimpi, ingin mencoba mengawalinya.

Selamat berjuang bersama, teman-teman ….

Semoga kesuksesan kita di masa depan akan menjadi manfaat bagi lebih banyak orang.

Saya tak akan bilang, semoga sukses pada kalian.

Karena sukses bukan lagi impian, sukses bukan lagi pilihan. Tapi sukses, adalah sebuah keharusan.

Keep On Fire, fighters ….

Doa terbaik untuk kalian semua, di manapun berada.

Published by ardhist

Mari bertemu di Instagram @ruangtitikkoma

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: