Feedback, Siapa Takut?

Sebagai seorang penulis, sering sekali mendengar kata feedback. Kadang diminta untuk memberikan feedback, kadang mendapatkan feedback. Tapi sebenarnya apa sih, feedback itu? Dan bagaimana caranya memberikan feedback yang baik? Sebagai penulis, harus bisa memahami dan mengetahui tekniknya dengan benar.

Feedback, sebenarnya berasal dari dua kata. Yaitu, feed yang berarti asupan, atau memberi makan kepada sesuatu, dan kata back yang artinya kembali (ke diri sendiri). Jadi secara harfiah, feedback adalah asupan makanan yang diberikan kepada sesuatu, tetapi apa yang diberikan tersebut akan kembali kepada diri sendiri. Sulit dipahami ya jika secara harfiah? Baiklah. Jika begitu kita memahami istilah feedback dari pemaknaan saja, yaitu umpan balik, atau lebih familiar lagi, feedback adalah tanggapan.

Maka secara pemaknaan, feedback adalah tanggapan yang diberikan oleh seorang komunikan (penerima pesan) untuk seorang komunikator (pemberi pesan) menyampaikan pesannya. Feedback yang dihasilkan dari proses komunikasi, memberikan gambaran kepada komunikator tentang hasil komunikasi yang dilakukan. Feedback bisa berupa respon positif atau negatif.

Dalam lingkup sebagai penulis, yang sering mendapat feedback untuk tulisan sendiri atau diminta memberikan feedback pada tulisan orang lain, tentunya ketrampilan dalam feedback adalah salah satu hal yang sebaiknya dikuasai. Tapi sebenarnya, bagaimana cara menjadi ‘feedbacker’ yang baik? Ada hal-hal yang bisa menjadi acuan. Antara lain :

  1. Apresiasi atau Pujian

Mulailah dengan memuji penulis pada apa yang telah mereka usahakan. Hal itu sangat penting untuk mengetahui bahwa Anda menyukai sebagian dari cerita mereka. Berikan apresiasi misal bagaimana plot, karakter penokohan, ide cerita, dan sebagainya. Ini mungkin akan terlihat bahwa Anda mengikuti ‘ego’ dari penulis, tapi ini juga berperan dalam proses untuk mengkritik.

Pertama-tama, sangat penting bagi pemberi feedback untuk membuat penerima feedback merasa bahwa Anda berada di sisi mereka. Jika Anda langsung memulai dengan sebuah kritik yang berat, sangat mudah bagi penerima feedback untuk bersikap defensive atau anti.

Dengan mengawali feedback dari pujian, akan membuat penulis lain merasa bahwa kritik yang akan disampaikan selanjutnya bertujuan untuk membantu mereka agar menghasilkan karya yang terbaik.

  1. Kritik

Kritik. Inilah ‘daging’ dalam proses feedback yang dilakukan dalam proses komunikasi. Ada kunci yang sangat penting dari sebuah kritik, yaitu bermanfaat, atau bersifat membangun. Tidak masalah jika apa yang disampaikan sebagai kritik bukan sesuatu yang dianggap umum, atau aspek yang disepakati oleh sebagian besar orang. Namun, tidak ada alasan untuk ‘mengomeli’ penulis. Kemungkinan mereka juga bekerja keras untuk karya mereka, seperti yang Anda lakukan pada karya Anda. Sangat memungkinkan untuk menunjukkan masalah tanpa harus membuat merasa bahwa mereka adalah penulis yang buruk.

Salah satu cara untuk membuat sebuah kritik yang baik, adalah menghindari membuat penilaian atau pernyataan, tetapi justru mengajukan pertanyaan. Misal, “Saya tidak suka karakter tokoh A di dalam tulisan ini. Membuat saya merasa sangat bodoh.” Daripada menggunakan kalimat tersebut, mungkin lebih baik mengubahnya menjadi “Apakah karakter dalam tokoh A ini membuat pembaca berpikir menjadi bodoh? Jika iya, maka sebaiknya Anda mengubahnya.”

Dengan cara ini, memang akan berbeda rasanya seperti membuat pernyataan (judgement). Rasanya tidak akan terlalu kuat seperti jika Anda yang membuat ‘keputusan’. Namun kembali lagi, ini adalah karyanya, bukan karya Anda. Sehingga lebih baik, Anda bertindak sebagai pihak yang menunjukkan masalah, tanpa berperan sebagai pihak yang membuat keputusan.

Kritik yang sukses harus mengilhami penulis untuk kembali bekerja dan membuat beberapa revisi perubahan yang menarik, tidak justru membuat penulis enggan untuk melanjutkannya.

  1. Saran

Dalam lingkup saran, Anda bisa menawarkan beberapa saran untuk solusi dari masalah yang Anda tunjukkan di dalam kritik. Hal ini bisa membantu penulis lain untuk mendapatkan beberapa gagasan baru, atau solusi dari masalah. Namun sekali lagi perlu diingat, ini bukan karya Anda. Ini bukan tulisan Anda. Ini bukan buku Anda. Buatlah saran atau gagasan untuk dipertimbangkan, tetapi hormati kenyataan bahwa merekalah yang akan membuat keputusan akhir. 

  1. Jangan Berbohong!

Bersikap baik dan memberi semangat adalah sangat penting. Satu lagi yang penting adalah, jangan berbohong! Penilaian yang jujur sangat penting saat memberikan feedback.

Ada hal menarik yang saya pelajari. Jika suatu saat, anda diminta untuk memberikan feedback pada sebuah buku secara keseluruhan, tetapi tidak Anda temukan kekuatan atau saran perbaikan, kecuali ‘menulis ulang’, maka mungkin Anda bukanlah orang yang tepat untuk project tersebut.  Saat itu terjadi, sebaiknya katakan pada penulis, bahwa ini bukanlah ‘tipikal’ jenis buku Anda, dan Anda merasa tidak cukup mampu membantu memberikan feedback.

Begitupun saat Anda dan kawan Anda adalah masih sesama rekan penulis amatir yang masih saling membutuhkan masukan pada karya masing-masing. Jika hal itu terjadi, katakan bahwa ini bukan tipe tulisan Anda, dan cukup sulit bagi Anda untuk memberikan saran yang bermanfaat bagi si penulis.

Penulis mungkin akan terluka dengan sikap Anda, tapi itu akan lebih baik daripada penulis merasa terhalangi oleh feedback Anda, yang bisa saja justru membuat mereka ingin menyerah.

Tapi bagaimana jika diminta tetap untuk memberikan feedback? Katakan bahwa Anda akan bersedia untuk memberikan feedback, tetapi penilaiannya berdasarkan subjektivitas Anda. Apakah rekan Anda bisa menerima? Jika iya, maka lanjutkan. Jika tidak, ya hentikan.

Semoga keempat hal di atas bisa dijadikan pertimbangan oleh rekan sesama penulis saat dihadapkan pada situasi untuk memberikan atau menerima feedback dari penulis lain, atau dari pembaca sekalipun. Memberikan feedback adalah tindakan mengurai sesuatu yang (mungkin) rumit untuk menolong penulis mencapai hasil yang terbaik. Meminta feedback juga membantu untuk mendapatkan sudut pandang baru, atau gagasan yang lain. Kritik juga bisa dirasakan sebagai sesuatu yang jujur, kritis, tetapi tetap menyenangkan. Kejujuran disertai dengan kebaikan, akan membuat sebuah karya, tersaji sempurna!

Salam Literasi!

Published by ardhist

Mari bertemu di Instagram @ruangtitikkoma

4 thoughts on “Feedback, Siapa Takut?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: