Syukur Sederhana

Sebenarnya permintaan Tuhan itu sederhana. Bersyukurlah pada-Ku, maka akan Aku tambahkan nikmat-Ku untukmu. Namun dalam kenyataannya, banyak sekali di antara kita, manusia, yang tidak menyadarinya. Atau sebenarnya tahu, tetapi lupa. Padahal, jika kita menghitung jumlah nikmat Tuhan pada kita setiap hari, setiap detik, tak akan mampu kita menghitungnya.

Kucoba tuliskan satu saja hal yang membuatku bersyukur hari ini, dari sekian banyak yang kutuliskan. Sore ini, jadwalku mengantar anak untuk les menggambar manga. Kebetulan, aku bertemu dengan pemilik usahanya. Beliau jarang ada. Moment semesta yang mempertemukan kami saat itu, kugunakan untuk ngobrol ringan saja. Dari sekian bahan obrolan yang kami bicarakan, ada satu hal menarik yang akhirnya kuketahui. Beliau sangat suka membaca. Wah … hal yang akan sangat cocok dengan saya juga.

Saya penulis, ehm sorry … lebih tepatnya sedang belajar untuk menjadi penulis. Membaca adalah syarat mutlak untuk menjadi seorang penulis yang berkualitas. Menulis adalah sebuah aktivitas yang lebih sulit daripada membaca. Jika aktivitas membaca, Anda ingin menyerap ilmu atau pun pandangan orang untuk Anda simpan dan masukkan ke dalam memori Anda sendiri. Membuat sebuah pengalaman batin sendiri. Untuk mencapai itu, Anda tidak perlu menulis. Hal ini berbeda dengan aktivitas menulis. Menulis tidak bisa dilakukan tanpa membaca. Karena membaca adalah ‘asupan gizi’ yang dibutuhkan untuk bisa membuat materi dalam tulisan. Semakin banyak Anda membaca, maka akan semakin bagus kualitas tulisan Anda.

Tapi saya bahagia hari ini, karena saya bertemu dengan seorang lagi kawan baru yang suka dalam hal literasi. Baik itu membaca atau menulis. Bagi saya sudah sangat jarang seseorang dengan hobi membaca atau menulis hidup dalam era saat ini. Di mana semua orang seringkali hanya mengejar apa yang hanya terlihat saja, misal kecantikan fisik, dan kekayaan, tetapi lupa pada bagaimana mengupgrade keluasan berpikir dan imajinasi. Baik, anggaplah itu mungkin hanya pendapat saya saja. Tapi kenyataannya, kawan-kawan literasi saya berpendapat sama dan mereka semua, secara fisik sangat cantik. Jadi saya semakin bangga, bahwa banyak wanita cantik yang juga sangat pintar.

Menulis memang tidak menjadi pilihan setiap orang, karena konsekuensinya yang terasa lebih berat dibandingkan hanya sebagai seorang pembaca saja. Namun saya tetap memilih untuk menulis. Saya merasa bahwa dengan menulis saya bisa menjadi lebih bermanfaat. Baik kepada diri sendiri maupun orang lain. Namun berjuang untuk bisa mengimbangkan menulis dengan membaca itu sangat tidak mudah. Itulah kenapa saya bersyukur bertemu kawan baru saya. Selain karena kebiasaan itu semakin sulit ditemukan, pertemuan ini juga seakan menjawab kegelisahan dalam diri saya yang menginginkan adanya partner dalam membaca untuk bisa saling menyemangati. Dan kini, sore ini, saya menemukannya. Biarlah saya saja yang menjadi penulis, tapi dalam hal membaca, ku ingin berkawan dengannya. Boleh, kan?

Ternging suara Tuhan di telinga, Bersyukurlah pada-Ku, maka akan Aku tambahkan nikmat-Ku untukmu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s