What’s Next in 30DWC Jilid 12? (Part 2)

7. Membeli Beberapa Buku

Ada beberapa buku yang saya beli untuk ‘memaksa’ diri saya belajar. Ya, tugas di kehidupan nyata sesungguhnya sangat luar biasa banyaknya. Sedangkan menulis, tak bisa dilepaskan dari membiasakan diri untuk membaca. Beberapa buku yang saya beli itu meliputi fiksi dan non-fiksi. Ada beberapa buku non-fiksi yang memang saya beli untuk meng-update kebutuhan saya, khususnya tentang menulis, dan bisnis. Sedangkan buku fiksi, saya membutuhkannya untuk meluaskan imajinasi. Memang, belum semuanya terselesaikan. Namun, bagi saya yang terpenting justru beli dulu. Agar saat membutuhkannya, kita tahu ke mana harus mencari jawabannya.

8. Membaca

Membaca, tak bisa dipisahkan dari kata menulis. Butuh banyak wacana yang dibutuhkan untuk menulis, sehingga dengan adanya beberapa buku yang saya beli, akan memaksa saya untuk membaca. Jujur saja, tidak mudah untuk melakukan kegiatan ini di tengah kesibukan di dunia nyata. Namun, membaca pun sebenarnya tidak harus selalu  membaca sebuah buku. Bisa saja membaca cerpen, artikel, karya tulisan milik orang lain, dan lain sebagainya. Yang terpenting adalah tiada hari tanpa melewatkan kesempatan ini. Nah, sebagai bentuk nyatanya, saya membuat catatan hasil tulisan yang saya baca setiap harinya.

9. Mencari inspirasi ide baru

Mencari inspirasi ide baru ini saya perlukan agar saya selalu ada gagasan baru sebagai langkah lanjutan dari apa yang sudah saya mulai saat ini. Inspirasi ide baru itu misalnya diawali dari pertanyaan, “Jika ikut DWC lagi, apa yang akan saya tuliskan?” kemudian bisa juga dari, “Apa yang harus saya lakukan agar tulisan saya lebih bisa dibaca banyak orang? Apakah saya akan tetap menggunakan blog sebagai platform utama, ataukah ada yang menarik lainnya?”

10. Membuat bank ide

Berdasarkan beberapa inspirasi yang saya dapatkan, maka saya harus mengikatnya. Yaitu dengan mencatatkan ide. Ada beberapa ide yang saya dapatkan untuk bisa dikembangkan. Saya catat ke dalam buku khusus menulis, dan memikirkannya lebih detail. Terlebih jika saya ingin menjadikannya ke dalam sebuah buku pribadi. Ide-ide tersebut tak harus yang non-fiksi, tetapi termasuk ide cerpen yang akan saya pikirkan pengembangannya untuk dijadikan tulisan.

11. Mengikuti Grup yang memberikan manfaat

Dalam perjalanan menulis ini, tanpa disadari saya memang menjadi sangat haus ilmu menulis. Semakin mencari untuk tahu, semakin banyak yang tidak diketahui. Suatu hari saya iseng untuk menghitung berapa grup menulis yang saya ikuti. Ternyata lebih dari 30, haha ….

Grupnya rame? Sebagian. Banyak aktivitas atau tantangan menulis? Sebagian. Banyak para admin yang bernafsu untuk membuat sebuah grup menulis, menawarkan banyak janji-janji, tetapi kenyataannya sedikit saja yang bisa menjaga frekuensi menulis para anggotanya. Sama seperti saya, yang juga sangat bernafsu untuk bergabung ke dalamnya tanpa melakukan seleksi. Dengan ini, saya putuskan untuk melakukan ‘bersih-bersih’ grup.

Dari sekian banyak grup yang saya ikuti, saya pilih yang memberikan manfaat secara khusus. Misal, secara berkala menghadirkan pemateri untuk melakukan sharing di grup. Bisa dari para penulis yang sudah terlebih dulu memiliki karya,  bisa juga dari para mentor yang memiliki kemampuan coaching, ataupun kelas-kelas khusus yang memfasilitasi aktivitas menulis. Selain itu, saya remove.

12. Menjaga frekuensi semangat menulis

Bagaimana cara saya menjaga agar tetap dalam frekuensi yang sama untuk bersemangat menulis. Dengan bangga, saya sampaikan terima kasih yang sangat besar kepada rekan-rekan saya di Squad 10, alumni 30DWC Jilid 11. Di sana saya menemukan aura sangat positif dan memacu semangat untuk menulis. Setiap saat bicara tentang menulis, meng-update informasi lomba, share ilmu kepenulisan, serta share karya hasil tulisan untuk dibaca, dan memberikan feedback yang membangun.

13. Diskusi dengan mentor

Diskusi adalah hal penting yang saya sukai. Bagi saya, tidak mudah menjadi seorang mentor. Dan lebih tidak mudah lagi, menemukan seorang mentor yang tepat dan berkualitas. Seorang mentor berperan untuk mendorong, membantu, serta menjadi backing dalam proses yang kita lakukan untuk menjadi penulis handal. Cara-cara yang dilakukan mentor pun berbeda-beda. Ada yang memang mendampingi dengan kasih sayang selayaknya seorang ibu kepada anaknya, ada juga yang memberikan cara dengan self-coaching, ada juga yang caranya menghempaskan kita jauh hingga ke dasar jurang, mengkritik habis-habisan agar kita bisa paham bagaimana seharusnya berlatih dan berusaha. Bagaimanapun, tujuannya adalah sama. Sesuaikan saja dengan style yang kita sukai.

Ternyata, paling tidak ada 13 aktivitas menulis yang saya lakukan selama masa jeda. Namun, apakah mampu menjadi pondasi lebih untuk DWC12? Pertanyaan dasar kembali muncul, apa yang akan saya lakukan di DWC12?

Atas dasar ketiga belas aktivitas di atas, rasanya saya masih di tahap untuk menemukan ‘jati diri’. Semua tentang dunia kepenulisan ingin saya pelajari. Level pun, masih jauh dari kata bisa. Semua genre saya coba untuk mempelajari tekniknya, menuliskan, dan mencoba membuat karya yang berbeda-beda. Bagaimanapun, cara latihan menulis paling ampuh adalah dengan menuliskannya, kemudian mempublikasikannya dalam karya. Apapun jenisnya.

Untuk itu, target utama DWC12 tidak akan muluk-muluk. Masih untuk meningkatkan kualitas tulisan, sambil menemukan hal-hal baru atau potensi diri yang bisa saya gali. Saya tidak mau kualitas recehan.

Lalu, misinya apa?

Ada tiga jenis topik utama yang akan saya jadikan objek tulisan, yaitu : menulis naskah dengan satu tema (fiksi/ non-fiksi), menulis cerpen sebagai latihan untuk masuk ke jenis cerpen media (fiksi), serta menulis artikel tentang hal-hal menarik di sekitar (non-fiksi).

Kenapa tidak pilih salah satu dulu? Karena proses belajar saya memang begini. Kadang ide-ide yang datang tak bisa hanya dari satu jenis saja. Saya tidak mampu menahan untuk tidak menuliskannya. Jadi biar saja. Saya percaya, setiap naskah akan menemukan jodohnya. Tangkap, dan tuliskan saja.

“I can always edit a bad page, but not blank page.”

Published by ardhist

Mari bertemu di Instagram @ruangtitikkoma

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: