Hari Tersibuk di Dunia

Bagi seorang ibu rumah tangga, ternyata hari tersibuk di dunia itu bukanlah hari Senin hingga Jumat. Melainkan justru hari Sabtu dan Minggu. Mungkin Anda yang belum menikah, akan heran membaca pendapat saya. Solusinya, cepatlah menikah dan menjadi ibu rumah tangga, hehe ….

Bagi seorang ibu rumah tangga, Sabtu dan Minggu justru sangat banyak agenda. Mulai pagi, hingga pagi lagi. Kapan tidurnya? Haha …. Di mana semua yang bekerja sedang libur dan bersantai di rumah, tapi ibu rumah tangga tak punya hari libur. Justru ia harus bangun lebih pagi untuk memastikan banyak hal telah siap lebih awal. Mengurus suami dan anak-anak, yang mungkin saja hari itu akan membuat pemandangan rumah lebih mirip kapal pecah. Agenda siang, sore, hingga malam pun kadang sudah ada di luar rumah. Lelah? Pasti.

Namun, ini bukan tulisan berisi keluhan. Ini adalah kisah, di mana ternyata dalam tantangan menaklukkan hari tersibuk di dunia, saya memutuskan untuk tetap menulis. Meskipun ya, kali ini yang saya tulis hanya recehan. Hehe ….

Pada DWC12 kali ini, saya mengalami beberapa tantangan berbeda dibandingkan DWC11. Tantangan yang saya alami karena menghadapi orang yang berbeda, lingkungan yang berbeda, dan tujuan yang berbeda. Dalam beberapa hal, menjadikan saya lebih tertantang. Namun, dalam beberapa hal lain membuat saya sedikit harus memundurkan langkah. Namun, meskipun begitu, saya memutuskan untuk tetap menulis di hari tersibuk di dunia, Sabtu dan Minggu.

Mengikuti tantangan menulis membuat saya lebih berusaha untuk mengatur waktu. Saya harus bangun lebih pagi, harus selalu berusaha lebih cepat dalam menyelesaikan tugas-tugas keseharian, serta berpikir lebih cepat. Akhirnya, hari tersibuk di dunia itu, justru menjadi sangat sangat produktif. Bagi emak-emak, tidak ada waktu tidak produktif. Yang ada adalah sangat produktif, atau sangat produktif sekali.

Seperti saat ini, di hari ke-4 tantangan menulis di DWC12. Saya baru bisa mulai menulis dari pukul 21.47 malam. Banyak sekali yang harus saya selesaikan hari ini. Namun, apakah saya terpikir untuk tidak menyelesaikan tantangan menulis harian? Jawaban saya, tidak. Saya harus tetap menulis, masih ada waktu kurang lebih 2 jam lagi. Hanya tema yang saya pikirkan memang berubah, harus lebih sederhana. Namun, saya harus tetap menulis. Tidak ada alasan dengan bersembunyi di balik kata pembenaran.

Ya. Menulis dalam kesibukan, di hari tersibuk di dunia pula, membuat saya semakin paham, bahwa waktu adalah sesuatu yang harus kita tentukan sendiri. Kesempatan adalah hal yang harus kita ciptakan sendiri. Apapun bisa mungkin, saat kita merasa hal itu adalah penting. Akhirnya, kita akan lebih cerdas dalam menentukan sebuah prioritas di hari yang sama. Haruskah begini? Bagi saya, ya. Untuk naik kelas, bagaimana saya tidak mau menempuh ujian?

Advertisements

4 thoughts on “Hari Tersibuk di Dunia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s