Pewaris Langit

Alkisah, ada seorang anak laki-laki bernama Angga. Pekerjaanya adalah menjual tangga. Ia tinggal bersama dengan ibunya yang sudah tua. Setiap hari, Angga berjalan berkeliling desa untuk menjual tangga buatannya. Kadang, ia berhenti di bawah pohon untuk beristirahat di kala siang. Dari bawah pohon itulah, Angga jadi sering memandang langit.

Angga teringat, ketika ia bertanya kepada ibunya,

“Bu, kenapa langit itu tinggi sekali?” ucapnya suatu hari, sambil duduk menemani ibunya yang sedang mencuci beras dari periuk kayu.

“Ya, langit harus tinggi, Nak. Karena di sana tempat bersemayam dewa-dewa cahaya, dewa langit, dewa awan, dewa pelangi, juga dewa kegelapan.” sahut ibunya menjawab pertanyaan Angga tanpa menoleh.

“Hmm … Bu, aku ingin mengunjungi dewa langit. Bisakah tanggaku ini menggapai kaki langit untuk kunaiki?” tanya Angga, mencoba memandang langit dari tempat duduknya.

“Untuk apa kau ke sana, nak? Janganlah kau mengharapkan yang tidak masuk akal. Ingat kata-kata ibumu ini!” kata ibunya yang menjadi marah tiba-tiba.

Angga memandang ibunya dengan bingung, kenapa ibunya bisa menjadi sangat marah.

“Tapi, Bu … Aku ingin melihat bagaimana dewa langit bisa membuat warna langit yang indah seperti ini. Kadang biru, kadang jingga, dan kadang hitam pekat, tanpa ada cahaya.” sahut Angga masih tak beranjak dari tempat duduknya.

“Sudah, kau lakukan saja pekerjaanmu. Kau mengerti? Jangan kau bicarakan lagi keinginan anehmu itu.” teriak ibunya yang membuat Angga terdiam. Ia masih tak mengerti.

.

Dalam semilirnya tiupan angin, tertidurlah Angga. Kemudian ia bermimpi. Ia pergi ke atas gunung yang paling tinggi sambil membawa tangganya. Dalam mimpinya, ia berkata, “Wahai dewa yang hidup di langit, bisakah aku pergi melihat istanamu? Aku sudah membuat tangga ini, kokoh. Agar bisa kugunakan untuk menuju ke tempatmu. Aku ingin melihatmu melukis warna langit.” teriak Angga dari puncak gunung tertinggi.

Tiba-tiba, muncullah kilatan cahaya dari atas kepalanya. Warnanya kuning keemasan. Berkilauan, memecah langit biru pekat.

Angga mundur selangkah. Ia picingkan matanya, tak kuat menatap cahaya dahsyat itu.

Angin mulai berhembus, semakin lama semakin kuat. Menyelimuti tubuh Angga yang kecil.

Angin berhembus semakin dahsyat. Membuatnya tak bisa menatap apapun kecuali hanya kabut warna putih keabuan, yang tiba-tiba membungkus tubuhnya, perlahan-lahan mengangkatnya ke atas. Membubung tinggi. Semakin ke atas. Tubuh Angga semakin terasa ringan. Ya, ia merasa terbang. Tinggi, tinggi sekali, dan ringan. Lebih ringan dari kapas.

Tersadar kembali setelah beberapa saat, Angga berada di sebuah halaman istana yang sangat luas. Bangunan mirip kerajaan Aladin, ditumbuhi pohon-pohon mirip pohon kurma yang sungguh besar serta tinggi, membelalakkan matanya. Lantainya licin, dan lebih mengkilap daripada porselen di rumah pejabat yang pernah ia lihat. Bening, seperti kaca. Gemetar rasanya Angga berdiri di sana.

Ditatapnya bangunan megah itu. Istana. Tapi tak ada seorangpun yang menjaga, gumamnya.

Angga melangkahkan kaki. Pelan-pelan memberanikan diri membuka pintu dan memasukinya. Sungguh, pemandangan di depannya ingin membuatnya pingsan.

Barisan para dewa berdiri rapi di dalam sebuah ruangan. Semua memandangnya ketika ia masuk dari pintu yang ia buka.

“Hai, Angga. Bukankah kau ingin bertemu kami? Apa yang kau inginkan?” tanya seseorang, berbaju putih, berjenggot panjang, berdiri di ujung ruangan, dari sebuah kursi yang sungguh amat besar. Dari atas kepalanya, memancarkan cahaya yang sangat dahsyat.

“Apakah … kau … Dewa Langit?” tanya Angga terbata-bata.

“Ya. Aku Dewa Langit. Aku yang melukiskan warna langit untukmu. Pagi, siang, sore, petang, dan malam.” sahut Dewa Langit menjelaskan.

“Kemarilah, mendekat ke arahku.” serunya, masih dari atas singgasananya.

Angga pun bergerak perlahan, maju, mencoba mendekat.

Angga berjalan dengan tertunduk, ia merasa canggung dan tak nyaman. Pandangan mata para dewa itu mengikuti langkahnya.

Akhirnya, sampailah ia di dekat Sang Dewa Langit.

“Sekarang, katakan keinginanmu langsung di hadapanku, Anak muda!” suara Dewa Langit yang berusaha sangat lembut itu, masih terdengar menggelegar di telinga Angga.

Dengan sedikit ragu, dan takut, Angga mencoba menengadahkan wajahnya. Menatap ke arah Dewa Langit.

Namun … tiba-tiba Angga memundurkan tubuhnya hingga beberapa langkah ke belakang. Angga sungguh kaget bukan kepalang.

“Dewa … Dewa … Kau … Kauu … Benarkah kau Dewa Langit?” tanya Angga gugup.

“Ya. Apakah kau terkejut?” tanya Sang Dewa.

Angga masih tertegun. Matanya menatap nanar ke arah Dewa Langit yang dilihatnya.

“Hai, Anak muda. Katakan padaku, permintaan yang kau teriakkan di kaki gunung itu.” jawab Sang Dewa.

***

“Hei, Anak muda. Bangun, kau! Lihat hari sudah hampir gelap. Kenapa kau masih juga tidur di sini?” teriak seorang ibu tua, membangunkannya dari mimpi penting. Sangat penting.

Dengan terkejut, Angga tersadar. Memang, hari sudah hampir gelap. Sungguh lama ia tertidur. Kini, warna langit telah berubah menjadi jingga. Tanda petang telah tiba. Artinya, ia harus segera pulang. Ibunya pasti cemas menunggunya. Dipandanginya sejenak tangga yang ia buat itu. Pikirannya melayang kembali pada mimpinya bertemu Dewa Langit.

Benar-benar seperti nyata, batinnya.

“Ahh … sudahlah, aku harus pulang.” jawabnya sendiri.

Di rumah, ibunya telah menunggunya dalam cemas.

Hari ini ia sangat terlambat pulang.

“Nak, terlambat sekali pulangmu malam ini.” kata ibunya.

“Iya, Ibu. Maafkan aku. Aku tertidur cukup lama tadi.” jawab Angga pelan.

“Ya sudah, ayo kita makan. Ibu sudah menyiapkan lauk kesukaanmu.” hibur ibunya, sambil tersenyum dan mengajak Angga menuju ruang makan.

“Makanlah, Nak ….” kata Ibunya sambil menuangkan nasi di piring untuk Angga.

“Ehmm … Bu, bolehkah aku bertanya tentang ….” tanya Angga agak ragu.

“Ya, kau ingin bertanya tentang apa?” jawab ibunya mengijinkan.

“Tentang … A … A ….” Suara Angga tiba-tiba terbata-bata. Tersekat di tenggorokan. Matanya memandang sebuah foto. Foto usang yang diletakkan ibunya di dalam almari. Foto keluarga mereka. Angga, Ibu, dan … Ayahnya.

Ayah, tiba-tiba ia teringat pada sosok yang ia temui di dalam mimpinya tadi. Bermahkota cahaya yang berkilau.

Published by ardhist

Mari bertemu di Instagram @ruangtitikkoma

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: