Kisah Seorang Penyadap Telepon (Analisis Cerpen)

KISAH SEORANG PENYADAP TELEPON

Cerpen Karya : Seno Gumira Ajidarma

Cerpen ini ditulis SGA pada 19 September 1998. Angka 1998 dan 32, sangat identik dengan sejarah Indonesia. Masa reformasi, diawali dari jatuhnya kekuasaan Presiden Soeharto. Situasi di masa itu cukup mencekam. Sang Ibu Kota, Jakarta, membara. Namun sebagai penulis, Seno tidak mengambil sudut pandang yang biasa. Dianalogikan dengan kisah hidup seorang penyadap telepon.

Dari segi analisis cerpennya secara teknis, tema yang diangkat SGA adalah ironi. Mengambil tokoh seorang penyadap telepon, yang punya karakter oportunis. Mencari kesempatan, dan akhirnya yang penting aman. Asal perut kenyang. Penokohan dilakukan secara dramatik, yaitu sifat tokoh disampaikan secara tersirat melalui tingkah laku si tokoh dalam cerita. Menggunakan alur (plot) maju. Situasi dan kondisi sosial (situasi negara Indonesia pada saat itu), masa reformasi menjadi latar (setting) cerita. Dengan menggunakan sudut pandang orang pertama, cerpen ini mampu membuat kesan tidak menunjuk kepada seseorang, pihak tertentu, serta tidak sedang menggurui. Gaya bahasanya dibuat secara metafora, menuliskan realitas dalam analogi, kiasan, dan perbandingan. Diksi dan pemilihan kalimatnya disampaikan secara lugas. Namun begitu, jika tidak memahami makna implisitnya, maka hanya akan bisa menangkap ceritanya secara makna harfiah saja.

Secara implisit, Seno ingin mengatakan bahwa kondisi negara Indonesia saat itu, disebabkan karena selama 32 tahun, negara tidak pernah mau mendengar. Kekuasaan absolut. Jika ada yang melawan, maka akan mudah saja dihilangkan nyawanya. (Mungkin) diculik. Tak ada yang tahu, tiba-tiba menghilang. Situasi akhirnya juga dimanfaatkan oleh golongan oportunis. Di mana mereka yang seharusnya menjadi pendengar, penyampai pesan pada atasan, justru akhirnya kehilangan hati nurani. Lagi-lagi, ujung-ujungnya uang & kenyamanan (digambarkan dalam kalimat “…..mencari pekerjaan itu susah). Mereka ini adalah golongan oportunis, pengkhianat negara yang mencari aman, mencari keuntungan dalam kesempatan apapun. Yang penting tidak mengganggu kepentingan diri sendiri. Namun di sini Seno menuliskan pesan nilai moralnya dari pemaparan tentang Ontology, juga paham filsafat yang dibawa oleh Heidegger tentang moral dan realitas itu ada. Tapi itu seperti omong kosong saja bagi si penyadap telepon. Baginya, itu tak ada gunanya. Akhirnya, siapa yang tertawa? Mereka, yang justru seharusnya menjadi pembawa pesan, dan pendamai. Ironis.

Published by ardhist

Mari bertemu di Instagram @ruangtitikkoma

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: