Layangan Kertas

Musim berganti. Layangan kertas tak lagi menarik untuk dimainkan anak-anak. Susah mainnya, kata mereka. Gak ada tempat untuk main, katanya. Anak-anak tidak dianggap berguna, kata mereka juga.

Musim berganti. Kini anak-anak bingung mau bermain apa. Katanya main, tapi tempatnya hanya di kotak kubikel, berbayar pula. Bayangkan, bermain pun sekarang harus bayar. Seperti kencing. Buang ‘sampah’ saja bayar. Anak-anak mulai kehilangan haknya, bermain dengan merdeka.

Musim berganti. Angin sudah berubah arah. Dulu, ketika angin utara bertiup ke selatan, tandanya musim bermain layangan kertas tiba. Anak-anak berkumpul di lapangan. Membawa satu per satu layangan kertas serta tali senar yang digulungkan pada kaleng susu bendera. Sekarang, mungkin mereka bermain layangan di ruang-ruang kamar mereka. Mencari lawan mainnya pun dari dunia maya. Ya, musim telah berubah.

Aku rindu. Ketika bermain layangan bukan hanya cerita cara menerbangkannya saja. Tapi juga bagaimana serunya mengejar ketika kalah pertandingan. Berlari menyusuri jalan, gang-gang, hingga tak ayal musti memanjat pohon tempat layangan kertas itu menyangsang di salah satu dahannya. Ya, justru memang itu asiknya bermain layang-layang. Masih adakah kisah itu sekarang, Nak?

Musim berganti. Kini layangan kertas hanya mainan anak-anak yang tak punya mainan. Mainan anak-anak yang tak mampu membayar, atas haknya untuk bisa bermain. Dengan merdeka.

Mungkinkah kisah itu masih ada, Nak?

Published by ardhist

Mari bertemu di Instagram @ruangtitikkoma

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: