Rindu yang Terlupakan

Kiamat itu datang, menghampiri seorang gadis muda yang sedang duduk di teras sendirian. Lewat seorang tukang pos yang membawakan sepucuk surat. Amplopnya berwarna hijau, dengan gambar hati di bagian belakang.

Senyum mengembang dari bibir tipisnya. Siapa mengira, badai tsunami sudah menggulung-gulung di balik sampul yang belum dibuka. Perlahan awan mulai menghampiri, berarak hendak berhenti di atas kepalanya. Tinggal petir yang belum, menunggunya merobek gambar hati sebagai pembuka.

“Surat! Darimu, kekasihku. Lama sudah aku menunggumu. Di antara terangnya pagi menuju gelapnya malam, hingga harus berjumpa dengan pagi lagi, aku selalu menunggumu. Di sini.” batinnya penuh gemuruh suara laron yang berebut ingin terbang keluar dari sarang.

Ya. Gadis itu sudah lama menunggu setitik kabar akan kekasihnya yang pergi mencari bekal untuk membeli sepasang sepatu, gaun-gaun, serta semua kelengkapan hantaran pernikahan. Setidaknya begitu kata kekasihnya.

Namun, seratus purnama telah ia lewati. Salahkah jika selama penantian, dirinya merasa sebagai yang terlupakan? Tapi semua menguap begitu saja, seolah rindunya sudah menemukan muara. Meskipun ia paham, rindu hanya bisa diredakan dengan sebuah pertemuan. Namun jika pun itu tak bisa, anggaplah surat itu sebagai wakil raganya.

Penuh debar, jantung satu-satunya mengetuk berulang, meminta keluar. _Jantungku, bersabarlah. Akan kubuka dan kubacakan untukmu_, begitu janjinya. Mulai tangannya meraba gambar hati itu. Awan di atas kepala berubah semakin pekat. Petir mulai berkilat, tapi belum ada suara.

Sampul itu pun terbuka, ditariknya selembar kertas dari dalamnya. Aroma harum menyeruak, melintas di ujung hidungnya. Mengingatkannya pada aroma tubuh bercampur minyak wangi yang biasa dipakai kekasihnya.

“Sungguh, ini pasti kabar bahagia. Lama sudah kekasihku tak seromantis ini,” pikirnya menerawang ke saat mereka berpelukan.

Perlahan dia buka selembar kertas itu. Terlihat goresan tangan kekasihnya memenuhi seluruh halaman. Senyumnya semakin mengembang. Jantungnya pun semakin tak sabar. Ia berdetak semakin kencang. Tapi kilatan petir mulai semakin besar. Bersiap-siap menyambar. Badai tsunami sudah terjadi sejak tadi. Sebentar lagi, sebentar lagi, akan menyapu wajah gadis malang itu.

Kalimat baris pertama, “Kamu apa kabar? Aku baik. Maaf sudah lama tak mengirimkan kabar. Kau menungguku?”

“Bodoh! Tentu saja!” Sambil memonyongkan mulut, gadis itu menjawabnya.

Badai sudah menggulung sebagian aksara di dalam amplop, tinggal gadis itu yang belum ia lumatkan.

“Maaf. Mungkin mulai sekarang kau tak usah menungguku lagi. Aku tak mungkin kembali.”

Petir besar berkilat terang, kali ini diiringi suara gemuruh meski belum besar hingga perlu menutup telinga.

Tak percaya apa yang sedang dilihatnya. Gadis itu mengurut kembali. Membaca dari awal. Ia tak mempercayai pandangannya sendiri.

“Maaf. Mungkin mulai sekarang kau tak usah menungguku lagi. Aku tak mungkin kembali.”

Ia mulai tak percaya. Dilanjutkan membaca kalimat selanjutnya.

“Aku mencintainya. Maaf. Aku benar-benar mencintainya. Aku tahu ini tak adil untukmu. Tapi harus kukatakan ini, agar kau tak lagi menungguku. Semoga kau bahagia, kekasih masa laluku. Temukan masa depanmu.”

_Jedaaaaaarrr!!!!!_

Seketika gulungan badai tsunami itu langsung menggulung, dan menyapu wajahnya.

Awan hitam, diiringi petir besar mendarat di atas kepala. Menghujam tepat di ubun-ubun.

Seketika dunia berhenti. Kiamat itu datang, lewat tangan seorang tukang pos.

Published by ardhist

Mari bertemu di Instagram @ruangtitikkoma

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: