Ketika Matahari Bicara Senja

Gadis patah hati itu, masih juga terpaku. Kepalanya telah basah dihujani air dari awan hitam di atas kepalanya. Kepalanya pun meledak akibat hujaman petir yang menyambar tepat di ubun-ubunnya. Namun apa daya, kenyataan memang sepahit perasan air daun tuba yang dicelupkan ke dalam susu. Pahit, sangat pahit. Bahkan susu pun tak mampu menghapuskan kepahitan itu.

Ia tutup lagi amplop hijau yang membuat gemuruh besar di hatinya. Dilihatnya sekali lagi gambar hati yang membuatnya bahagia sejak lima tahun yang lalu. Namun kini, tak ubahnya hanya jadi sampah masa lalu yang tak perlu ditengok kembali. Apa yang masih tersisa, hati pun sudah patah, tak ada lagi yang bisa kutinggalkan sebagai harapan, begitu pikirnya.

Dengan isi kepala yang sudah tak lagi lengkap, hati yang patah, serta gemuruh badai yang masih menyesakkan dadanya, gadis itu beranjak dari duduknya. Sejenak, sinar matahari sore menyentuhnya, ingin menyapa dalam senja yang mampir sekejap. Ia pun menatap ke langit. Mencoba bertanya pada matahari yang hampir sampai di peraduan.

“Apa yang kau harapkan dariku, hai matahari? Aku sudah tak bisa memahami dunia ini lagi.”

“Tataplah langit itu. Liat warnaku di senja ini. Apakah manusia tahu, bahwa senja adalah saat paling indah dari sepanjang perjalananku setiap hari.”

“Hmm … ya, tapi sekarang bagiku semua sama saja. Gelap. Bukankan senja indahmu pun hanya sebentar. Selanjutnya akan berganti malam. Lalu apa gunanya indah senjamu?”

“Senja adalah penanda. Kadang manusia tidak menyadari, bahwa keindahan itu justru berada di persimpangan siang dan malam. Namun tidak semua bisa melihatnya. Sering orang melihat senja hanya sebagai pengakhir hari. Seolah ketika malam tiba, perjalanan hidup sudah terhenti. “

“Begitu pun kau. Lihat senja ini. Lupakan, maka gemuruh badaimu pun akan hilang. Lihatlah wajahmu. Sayu. Seharusnya bisa seindah senjaku ini. Merona, merah jingga keemasan.”

“Kau tak bisa memaksakan hati yang ingin pergi untuk tetap tinggal bersamamu. Pilihanmu hanya membiarkannya pergi dan berlalu.”

“Hei, matahari, diam kau! Sudah, tidur saja sana! Kau membuatku ingin melemparkan gulungan badai dalam dadaku ini untuk melenyapkan sinarmu selama-lamanya.”

“Bersabarlah … dan ikhlaskan semua. Tak bisa kau ubah kenyataan hidupmu. Ikhlaskanlah, agar jiwamu bahagia. Apakah kau ingin menandai senja ini sebagai pengakhir harimu? Atau kau resapi sakitmu dengan indah, lalu kau sambut aku esok hari?”

Gadis kecil itu menatap kembali amplop hijau di tangannya. Dijulurkanlah tangannya ke atas. Lalu datanglah angin, meniup amplop hijau itu. Hilang musnah.

Published by ardhist

Mari bertemu di Instagram @ruangtitikkoma

One thought on “Ketika Matahari Bicara Senja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: