Kampung Rajungan

Rajungan adalah salah satu makanan dengan kandungan protein sangat tinggi. Semua orang sangat menyukai menu makanan yang satu ini. Namun, yang kutemukan hari ini rupanya kepiting, bukan rajungan.

Hari ini, akhir pekan datang. Semua orang punya daftar kegiatan untuk dihabiskan bersama dengan keluarga atau teman-teman. Di tempatku berdiri, tampak salah satu restoran kepiting yang sangat ramai dikunjungi pelanggan. Namun, sebelum langkahku berjalan memasuki, tiba-tiba ingatanku melayang ke masa dua puluh tahunan silam.

Aku adalah anak kampung. Hidup di sebuah kampung kecil, membuat masa kecilku tak banyak bisa menginginkan sesuatu. Tak bisa berharap up to date tentang film terbaru, tak bisa sering-sering membeli baju, sepatu, juga buku. Tak bisa banyak menginginkan sesuatu. Bukan karena aku tak mau, tapi karena tak ada toko, mall, atau restoran seperti di kota-kota besar kebanyakan. Jadi aku, tak pernah tahu bahwa aku bisa begitu banyak menginginkan sesuatu.

Namun begitu, kampungku istimewa. Ia yang tak punya mall itu, ternyata punya pabrik-pabrik rajungan yang sangat besar. Pabriknya setiap hari mengirimkan ber-ton-ton rajungan ke luar negeri, seperti Amerika dan Jepang. Setiap hari para karyawan bekerja mati-matian, untuk menangkap, mengepak, hingga ada yang bertugas mengupas rajungan, bersih dan licin dari kulitnya. Tinggal makan. Wow, bukan? Aku begitu bangga pada kampungku, sungguh.

Namun, sayang oh sayang. Aku anak kampungku. Tapi aku, tak pernah bisa sering makan rajungan. Selain harganya yang sangat mahal, sulit sekali ditemukan rajungan itu bebas berkeliaran di pasar-pasar tradisional. Aku adalah anak kampung rajungan, yang jarang makan rajungan. Hebat, bukan?

Suatu kali, aku protes pada ibuku.

“Aku ingin makan rajungan. Tapi kenapa sulit sekali aku menemuinya, Bu? Lebih sulit daripada harus bertemu dengan buku.” begitu tanyaku.

Ibuku hanya menjawab, “Hmm … ya, gimana lagi? Semua yang besar-besar dan layak jual, sudah masuk pabrik dan dikirim untuk pasar internasional.”

Selanjutnya, ibu memintaku untuk melanjutkan makan, dan jangan banyak mengoceh lagi tentang banyaknya keinginan. Makan rajungan, hal sederhana yang mahal. Karena tak bisa kulakukan di kampungku. Kampung rajungan.

Bertahun-tahun selanjutnya, aku masih terus saja bertanya. Kenapa kampungku begitu kejam padaku? Atau, dunia ini yang kejam pada kampungku? Entahlah.

Kini, aku berdiri di sini. Di depan restoran dengan sajian menu kepiting. Ya, kepiting. Bukan rajungan. Selanjutnya, tentu saja kucoba masuk, duduk, dan memesan hidangan makan malam.

“Silakan, Kak. Ini kepiting super yang khusus kami datangkan dari Alaska, Amerika. Ukurannya sangat besar, disajikan dengan bumbu khas dari kami, sehingga dijamin enak dan nikmat di lidah.” begitu celoteh pelayan, tersenyum memikat hati pelanggan.

Alaska, Amerika. Betapa mahalnya kehidupan. Kubayangkan, saat ini, di waktu yang sama, dalam ruang yang berbeda, Rajungan kampungku, dinikmati orang Amerika dan Jepang. Sedangkan aku, duduk di sini, sedang menikmati kepiting Alaska, asal Amerika.

Sambil kubolak-balik daftar menu itu, ingatanku kembali melayang ke kampung rajunganku di kejauhan. Bagaimana kabarmu, hai kampungku? Apakah generasimu sekarang, masih sulit menemukan rajungan meski hanya sekedar untuk menu makan siang?

Published by ardhist

Mari bertemu di Instagram @ruangtitikkoma

One thought on “Kampung Rajungan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: