Sahabat Dua Kutub

Diandra dan Pukesi adalah dua sahabat. Sahabat dua kutub. Ya, bagaimana tidak. Tak ada yang sama dalam sifat mereka. Tak ada hobi, serta mimpi yang sama pula. Untungnya, selera mereka pada laki-laki pun berbeda.

Diandra dan Pukesi bertemu dalam satu ruang. Tak saling kenal. Hanya karena ijin semesta, mereka saling mengenal. Semakin lama mengenal, semakin paham, begitu banyak ketidaksamaan. Namun, di mana ada Diandra, di situ pula Pukesi ada.

Suatu hari, Diandra mengajak Pukesi untuk pergi melihat awan. Katanya, di sana ada pelukis langit dan pembuat butiran hujan untuk dijatuhkan ke bumi mereka. Namun, Pukesi tak ingin ke awan, ia ingin ke matahari. Tentu, Diandra menolak. Apa yang bisa dilihat di dalam matahari, selain kemarahan dan panas yang tak tertahankan? Namun, bagi Pukesi, matahari punya banyak cerita tentang kekuatan menjadi penerang bagi galaksinya.

Akhirnya, Diandra dan Pukesi tak lagi bertegur sapa. Lama. Dunia diantara keduanya tak lagi indah. Tak ada matahari yang menyinari, dan tak ada pula awan yang menaungi. Dunia mereka tampak gelap dan dingin. Diandra dan Pukesi perlahan bosan, lantas perlahan melangkah pergi. Mencari dunia baru yang lebih indah, dan layak untuk menerima sinar serta naungan.

Waktu berjalan dalam keteraturan. Tanpa diminta dan disadari siapapun juga. Juga tak bisa diperlambat atau dihentikan. Semakin lama, Diandra pun larut dalam kisahnya yang berhasil bertemu pelukis awan. Katanya, dulu langit tak biru begini warnanya. Pernah merah, kuning, juga hijau. Namun, semua makhluk ternyata lebih menyukai warna biru. Akhirnya, diputuskan lukisan warna langit adalah biru.

Begitu pun Pukesi. Ia mencari dunianya sendiri. Pergi menjelajah entah ke mana. Semakin hilang, tak tentu kabarnya. Kata orang, Pukesi hilang ditelan panasnya matahari. Tak ada yang bisa memastikan nasibnya kini. Banyak orang sempat penasaran. Mereka mencari Pukesi dengan hendak bertanya langsung pada matahari. Namun sinarnya yang dahsyat, membuat mereka mengurungkan niat.

Ruang dan waktu kembali bersatu. Diandra semakin luar biasa. Kisahnya tentang awan, pelukis langit, serta dewi-dewi hujan membuatnya semakin dikenal. Tak disangka, suatu hari Pukesi datang dalam keadaan yang amat menyedihkan. Tubuhnya kurus, kulitnya sangat legam, matanya berwarna kemerahan, berkilat-kilat penuh luapan perasaan. Ada kepiluan jauh di dalam jiwanya. Namun tak bisa diungkapkan pada siapa pun. Hingga akhirnya Pukesi menyerah. Ia ingin pulang. Dan berharap satu hal, bertemu Diandra.

Pukesi mendatangi Diandra yang kini selalu dipayungi awan di atas kepalanya. Seperti payung yang selalu menaunginya. Diandra menghentikan langkahnya. Melihat Pukesi yang tampak berdiri mematung di depannya.

“Pukesi?”

“Ya. Ini aku, Diandra. Pukesi.”

“Kau pulang? Kenapa kau pulang? Harusnya kau pergi selamanya. Agar aku tak perlu mencarimu.” teriak Diandra kesal. Awan di atas kepalanya menghitam, pertanda ada kesedihan dalam hatinya. Tampaknya sebentar lagi hujan.

“Maafkan aku, Diandra. Aku pergi cukup lama. Aku pun tak meninggalkan pesanku padamu. Tapi kini aku pulang. Apakah masih bisa kita seperti dulu?”

“Pukesi, kita adalah sahabat dua kutub. Dunia kita tak sama. Sifat kita tak sama. Begitupun mimpi dan tujuan kita.” sahut Diandra.

“Tapi setidaknya, dunia jadi menghangat dengan adanya matahari yang menyinari, dan awan yang menaungi. Selamat datang kembali, sahabatku, Pukesi ….”

Pukesi melangkahkan kakinya, berlari hendak memeluk Diandra dengan cepat. Kilatan cahaya di matanya perlahan membesar. Terus membesar. Diandra memeluknya dengan sangat erat. Namun, semakin lama, cahaya terang tak mampu menembus awan hitam yang menyelimuti. Petir menyambar, cahaya terang redup.

Dunia tiba-tiba gelap. Hujan turun deras sekali hari itu ….

Published by ardhist

Mari bertemu di Instagram @ruangtitikkoma

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: