Analisis Cerpen : Kalender Baru

Dalam proses mendalami cerpen rasa sastra, dan platform media, maka saya perlu memberikan asupan secara kontinyu untuk melatih kepekaan, dan rasa. Untuk itu, tidak ada yang bisa dilakukan selain, berlatih!

Berlatih pun hanya ada dua cara. Membaca dan menulis. Kontinyu, konsisten. Mbaca, nulis, mbaca, nulis. Begitu terus prosesnya.

Hari ini, saya mengasupi pikiran saya dengan cerpen karya A. Warits Rovi, berjudul Kalender Baru.

Silakan membaca cerpen Beliau di sini :

https://lakonhidup.com/2018/01/07/kalender-baru/amp/

A. Warits Rovi adalah seorang guru Bahasa Indonesia di MTs Al-Huda II Gapura, Sumenep, Madura. Cerpen Kalender Baru ini diterbitkan di Kedaulatan Rakyat, 7 Januari 2018.

Berikut ini adalah hasil olah pikiran saya yang dituangkan ke dalam lima parameter untuk mendeskripsikan.

1. Paragraf Kunci :

Aku menangis di tempat sampah, dalam segala sakit dan remuk yang kurasa. Kuamati tubuhku yang bergambar wanita-wanita hot. Aku sadar, beginilah memang nasib tubuh yang dihiasi aura kemaksiatan, mesti harus tercampak ke tempat yang hina, bahkan mungkin bisa dibakar

2. Diksi-diksi menarik :

⁃ jam yang terus membisikkan jeritan-jeritan zaman.

⁃ miIa memukul pangkal paku karat berkali-kali dengan palu besi, setelah ujungnya melewati celah lingkar logam yang lekat sebagai gantungan di bagian atas tubuhku, lantas ia tersenyum menatapku, seraya tangannya cekatan membetulkan posisi paku yang agak miring karena datar tembok tua yang sedikit retak.

⁃ Sebagai benda baru, aku berkenalan dengan benda-benda di ruagan ini, harum sisa cetakan tubuhku menyebar di udara, dihirup benda-benda lain hingga mereka mengucapkan selamat datang kepadaku

⁃ cakap dan tertawa, menertawakan keganjilan manusia yang hidupnya sibuk karena diatur oleh waktu yang dibuatnya sendiri

⁃ seolah kalender itu umpan bagi para malaikat untuk datang ke ruangan.

⁃ nasib tubuh yang dihiasi aura kemaksiatan, mesti harus tercampak ke tempat yang hina, bahkan mungkin bisa dibakar

3. Penjelasan Konten dalam paragraf ini :

Aku menangis di tempat sampah, dalam segala sakit dan remuk yang kurasa. Kuamati tubuhku yang bergambar wanita-wanita hot. Aku sadar, beginilah memang nasib tubuh yang dihiasi aura kemaksiatan, mesti harus tercampak ke tempat yang hina, bahkan mungkin bisa dibakar

>> pemaparan bermajas personifikasi yang menganalogikan benda mati seolah-olah hidup, punya sifat yg sama dengan manusia, dan melakukan hal-hal yang sama dengan yg manusia lakukan.

4. Pendapat tentang cerpen ini :

>> Cerpennya sederhana, jika dilihat dari per kata, diksinya lugas, tidak mencoba untuk terlalu puitis, tetapi setelah digabungkan ke dalam kalimat, membentuk penggambaran yang cukup menarik.

>> Seperti cerpen pada umumnya, pesannya ada di paragraf terakhir. Sebenarnya mudah diketahui pesannya sejak awal.

>> Yang paling terlihat, inti cerpen ini adalah contoh penggunaan majas personifikasi.

5. Amanat yang ingin disampaikan cerpen ini.

>> secara singkat, cerpen ini memberikan pesan, bahwa jika seorang manusia sudah banyak melakukan (ataupun hanya terlihat seolah melakukan), ia tak akan dihargai oleh masyarakat. Tidak punya harga diri, bahkan dianggap sampah. Sanksi paling berat memang sanksi sosial.

Published by ardhist

Mari bertemu di Instagram @ruangtitikkoma

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: