Analisis Cerpen : Manusia Cahaya

Tulisan hari ini, masih tentang sebuah analisis cerpen sastra media. Mengapa saya merasa menganalisis cerpen sastra adalah penting? Karena ternyata, membiasakan diri untuk menganalisis, membuat saya semakin terasah kepekaan, rasa, dan peduli pada lingkungan sekitar.

Cerpen sastra media yang saya analisis kali ini adalah :

Judul : Manusia Cahaya

Penulis : Jalaludin Muttaqin

Seperti biasa, ada lima poin pokok yang saya gunakan untuk menganalisis pesan dalam cerpen. Yaitu, paragraf kunci, diksi-diksi yang menarik, penjelasan konten pada salah satu paragraf, pendapat pribadi tentang cerpen tersebut, serta amanat yang ingin disampaikan penulis. Mari kita bahas dengan detail, satu per satu :

1. Paragraf Kunci :

Sudah berapa tahun aku tinggal sendiri di sebuah gua yang gelap. Manusia mengira diriku berada dalam kegelapan yang tak bisa melihat apa-apa dan hanya setan yang dapat menemani sekaligus melihat. Semua dugaan-dugaan mereka salah. Karena diriku adalah cahaya itu sendiri, maka aku mengusir gelap dan aku menjadi diriku sendiri. Kegelapan hanya karena ketiadaan cahaya. Begitu Tuhan dalam al-Qur’an menjelaskan, dan aku telah menemukan cahaya itu sendiri.

2. Diksi-Diksi Menarik :

tak semua manusia bisa melihat setan kecuali hatinya telah bersih dari perbuatan-perbuatan setan.

⁃ Mengasingkan diri dari hiruk-pikuk dunia yang tiap waktu selalu berkelahi dengan perdebatan-perdebatan anyir tentang salah dan benar.

⁃ aku ingin menjadi cahaya yang tak pernah ditemukan oleh manusia yang kelak mereka tau dengan sendirinya.

⁃ Tuhan tidak bisa dilepas dari materi-materi manusia sedang manusia adalah tempat yang paling sempurnah dimana cahaya Tuhan itu memancar.

3. Pendapat tentang konten paragraf berikut ini :

Di sebuah pasar, di sebuah masjid, di sebuah kampus, dan di jalan-jalan raya. Manusia selalu memperdebatkan tentang manusia yang bercahaya. Anehnya, mereka mengatakan diriku adalah manusia yang mengaku sebagai Tuhan.

“Dia adalah Tuhan itu sendiri,” kata seorang ulama yang pernah menemuiku di sebuah gua.

>> ini adalah pemaparan untuk mengatakan bahwa pandangan umum masyarakat tentang tokoh Manusia Cahaya. Masyarakat mengganggap, manusia cahaya sangat suci, hingga selevel Tuhan. Bahkan ia adalah wujud Tuhan itu sendiri.

4. Pendapat tentang cerpen ini :

>> cerpen ini diksinya tidak lugas. Sehingga pemaknaan pesannya harus dipelajari pelan-pelan dari setiap kalimat yang dituliskan.

>> suka cara penyampaian penulisnya. Alurnya smooth juga seperti cerpen sebelumnya. Bergerak perlahan membawa pembaca kepada pesan demi pesan, hingga menemukan kesimpulan, meskipun pesan kuncinya bukan didapatkan di akhir paragraf. Di akhir paragraf justru dibuat menggantung, dan menyisakan pertanyaan.

5. Amanat yg ingin disampaikan penulis :

>> penulis ini menyampaikan pesan bahwa masih sedangkal itulah pemikiran masyarakat secara umum kepada orang yang agak berbeda cara berpikir dengan mereka (masyarakat secara umum).

>> sesungguhnya manusia adalah makhluk yang diberikan akal dan nafsu, sebagai bekal utk menjadi khalifah di bumi. Akal adalah wakil dari kebenaran, kebaikan, sedangkan nafsu sebagai wakil kesalahan, keburukan. Hidup manusia di dunia merupakan pertarungan antara kedua hal tersebut. Pemaparan itu menjelaskan bahwa betapa menusia sungguh lemah imannya, dan seringkali terpedaya oleh tipudaya setan. Bahkan orang yang seharusnya jauh dari sifat2 setan, penyebar firman-firman Tuhan, malah justru menjadi setan itu sendiri.

>> Manusia-manusia yang ingin mengikuti dan menjalankan ajaran Tuhan, malah dianggap aneh, dan sesat. Penghakiman itu berasal dari hukum manusia sendiri, persepsi, dan akhirnya justru menyesatkan, memutar balikkan kebenaran menjadi fitnah.

>> Sebenarnya sifat-sifat Tuhan itu ada di dalam diri manusia. Misal : pemaaf, menyayangi, mencintai keindahan, dll. Maka, bagi manusia yang semakin dekat dengan Tuhan, akan semakin merasakan besarnya sifat-sifat Tuhan dalam dirinya. Manusia Cahaya itu simbol dia sudah mengalami perenungan yang sangat dalam, pemahaman tentang kehidupan, ketenangan jiwa, untuk memahami tentang pesan-pesan Tuhan. Jiwanya sudah bersih, dan dekat dengan Tuhan.

Published by ardhist

Mari bertemu di Instagram @ruangtitikkoma

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: