Pijar 1000 Neon

Wanita renta berkalung selendang batik itu, berjalan pelan. Matanya tampak sangat kelam, hitam membulat, menatap dengan kosong ke arah depan. Punggungnya sudah cukup bungkuk, lebih dari 30 tahun memanggul dagangan.

Ya, namanya Mbok Mukijah. Wanita tua dengan daya pijar 1000 neon hadir di tengah-tengah manusia. Bekerja sebagai penjual jajanan pilus dan samier yang diracik sendiri dengan tangannya.

Perjalanan hari ini, terasa lebih berat dari hari-hari biasanya. Jarak tiga hingga lima kilometer, biasa ia tempuh setiap harinya. Untuk menghantarkan rasa sekedar kudapan bagi teman minum teh, atau penghabis senja. Pilus lima ratus rupiah, serta samier seribu tiga, tekun ia jajakan. Demi siapa?

Mbok Mukijah, wanita pejuang kehidupan. Sejak suaminya meninggal 10 tahun yang lalu, ketiga anaknya menjadi tanggung jawabnya sepenuhnya. Sekarang, ada seorang cucu yang ikut pula ditanggungnya. Cucu laki-laki yang sangat menggemaskan. Kulitnya yang putih, badannya yang selalu diisi dengan makanan bergizi, suatu siang datang bersama ayahnya.

Mbok Mukijah sangat terkejut. Lama tak bersua, anaknya datang bersama dengan cucunya. Tak hanya itu, sang anak membawa serta anak perempuan. Gadis kecil berpita merah, dengan bola mata sebesar rembulan saat purnama. Indah sekali.

Tak hanya itu, anak laki-lakinya datang, bersama juga dengan istri barunya. Ya, ia telah bercerai dengan istri lamanya. Istri barunya jauh lebih muda, dan sangat cantik. Kulitnya lebih mirip porselen yang mengkilat dan licin. Matanya indah, coklat keemasan. Sama seperti gadis berpita merah itu. Oh, rupanya anak ini mirip ibunya.

Suatu pagi, Mbok Mukijah membuat kehebohan. Seluruh kampung ia bangunkan. Ia berteriak-teriak, menangis, berlari mengetuk setiap pintu rumah-rumah tetangga.

“Ada apa, Mbok? Kenapa kau sebingung ini?”

Bu RT kaget mendengar pintunya diketuk dengan sangat keras.

“Bu, tolong Bu. Anak saya pergi dari rumah. Dia bawa beberapa uang simpanan saya. Sekarang, ia tinggalkan pula anaknya di rumah saya.” suara Mbok Mukijah terdengar antara mengiba dan berteriak. Batinnya perih, mendapati anaknya yang melakukan ini.

“Ya, Mbok. Lalu, Mbok mau kami mencari anak Mbok?”

“Bantu saya mengejarnya. Saya harus menemukannya. Saya ingin bertanya, kenapa ia juga tinggalkan anaknya?”

“Ke mana kami harus mengejar anak Mbok?”

“Jakarta. Dia pasti kembali ke Jakarta.”

Hening. Ibu RT pun tak lagi bicara. Ia hanya bisa mencoba menenangkan Mbok Mukijah.

Tahun berlalu. Mbok Mukijah masih sama. Hanya waktu yang berubah.

Lima belas tahun sudah usia cucunya. Kadang ia masih bertanya, ke mana ayah dan ibunya. Mbok Mukijah masih sama. Tak mampu menjawabnya.

Hari ini, rasanya lebih berat dari hari sebelumnya. Dadanya agak berat, lebih berat dari beban di punggungnya. Juga di pundaknya.

“Aku tidur sebentar ya, Le ….”

Cucunya mengangguk tanpa bertanya.

“Mak … mak … sudah masuk maghrib. Salat, yuk Mak!”

“Mak … Mak … Mak ….”

Daya 1000 pijar neon itu perlahan meredup.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s