Diksi, Oh Diksi.

Diksi. Bagi saya yang masih sangat amatir, ternyata masalah diksi adalah masalah serius. Selama ini, membaca adalah syarat mutlak untuk bisa membuat sebuah tulisan yang bagus. Ternyata, bukan begitu pemahamannya.

Ada dua tipikal manusia membaca. Membaca untuk membaca, dan membaca untuk menulis. Bagi orang yang biasa membaca, dan memang hanya untuk membaca, maka tidak perlu menganalisis diksi dengan sangat detail. Berbeda dengan yang membaca untuk menulis, diksi adalah bagian dari analisis yang harus dicermati.

Kenapa diksi? Karena diksi mampu mengantarkan rasa, yang seharusnya benar-benar ingin disampaikan oleh penulis kepada pembaca. Sulit? Sangat. Jika kita tidak meneliti dengan cermat, dan melatihnya.

Ada salah satu cara yang mentor saya ajarkan untuk melatih diksi. Yaitu dengan membuat uraian atas kalimat singkat, agar lebih tergambarkan rasanya.

Misalnya, membuat uraian untuk ‘sekedar’ kalimat ini : Aku mencintaimu.

Dengan kemampuan saya yang masih sangat perlu dilatih, saya menjawab begini :

Aku mencintaimu

[4/15, 10:07 PM] Yuniar Ardhist:

1. Kutemukan kau selalu di situ. Tak pernah pergi. Meski detikku berusaha mengikis kenangan satu per satu. Ternyata ada sesuatu, yang tak pernah bisa kuubah, meski oleh waktu.

2. Bisikmu pada bulan setiap malam, semoga kita bisa memandangnya dari sudut yang sama. Entah kapan. Tapi kita paham satu hal, bulan kita sama. Meski sudut pandang kita masih berbeda.

3. Kenapa aku selalu ingin menunggumu? Bukankah waktu itu kau sudah memintaku pergi? Waktu seakan berhenti untukku menantimu. Namun kata mereka, aku telah begitu banyak menghabiskan waktu.

4. Menunggumu kembali, seperti menguras darahku sendiri. Semakin kering. Habis. Dan kau, masih tak kembali. Aku? Mati.

5. Tak pernah bisa kupahami. Kenapa hanya kau yang bisa menyalakan pijar di mataku. Begitu terang. Menyilaukan. Hingga hanya kau yang kulihat paling bersinar.

Kemudian, ditanggapi Mentor saya seperti ini :

[4/15, 10:26 PM] ‪Yuniar. Saya memolesnya dikit;

Aku mencintaimu.

1. Kutemukan kau di situ. Tak pernah pergi. Detik berusaha kuat mengikis kenangan. Satu per satu. Ada sesuatu tertinggal, yang tak pernah bisa kuubah, meski oleh waktu, meski oleh siapa pun, meski sampai kapan pun.

2. Bisikmu setiap malam, semoga kita bisa memandangnya dari sudut yang sama. Entah kapan. Tetapi yang pasti, kita paham satu hal, malam kita sama. Meski sudut pandang kita masih saja berbeda.

3. Mengapa aku selalu ingin menunggumu? Bukankah waktu itu kau sudah memintaku pergi jauh hingga lupa jalan kembali? Waktu seolah berhenti. Berhenti untukku. Untuk menantimu. Kata mereka, aku telah banyak menghabiskan waktu.

4. Menunggumu kembali ialah seperti menguras darah dalam tubuhku. Kian lama, kian kering. Lalu habis. Dan kau, masih saja tak kembali. Aku? Mati.

5. Tak pernah bisa kupahami, mengapa hanya kau yang bisa menyalakan sesuatu di mataku. Begitu terang. Sampai-sampai menyilaukan. Hingga hanya kau yang dapat kulihat terang.

Diksi, tidak mudah. Tapi, indah bukan?

Published by ardhist

Mari bertemu di Instagram @ruangtitikkoma

One thought on “Diksi, Oh Diksi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: