Pertanyaan untuk Malam

Malam selalu menambah pertanyaan di benak Samin. Sebuah pertanyaan yang tak mungkin ia cari jawabnya dari ibu. Bukan, bukan Samin tak berani bertanya. Namun, bukan penjelasan yang ia dapatkan. Melainkan tumpahan amarah yang berujung pada tangisan ibunya. Dibandingkan kemarahan yang menyembur sebagaimana lava dari gunung yang meletus, tentu sedikit sayatan akibat tangisan ibunya lebih tak mampu ditanggung Samin.

Pernah suatu kali ia bertanya,

“Ibu, kenapa ayah tak pernah pulang? Bukankah ia bukan pelaut yang melintasi lautan? Ia juga bukan seorang polisi yang perlu mengejar penjahat hingga masuk hutan, lalu tersesat. Ayah hanya penjual buah di pasar kan, Bu?”

Sebuah pertanyaan dari seorang anak delapan tahun. Namun, Ibunya tak menoleh. Tak pula menjawab. Seolah tak pernah mendengar apa pun. Seolah tak ada yang bicara. Senyap.

“Ibu, apakah kau tahu di mana ayah?”

“Untuk apa kau tanya ayahmu? Bukankah dia juga tak peduli padamu? Kau pikir siapa dia? Dia tak pantas jadi ayahmu.”

“Kenapa, Bu? Kenapa ibu bicara begitu tentang ayah?”

“Sudah, diam. Main saja sana. Aku tak mau mendengar kau bertanya tentang dia lagi.”

“Ibu, jangan begitu, Bu. Aku kangen ayah.”

“Diaaam! Sudah sana keluar! Kau urus saja itu ayam-ayam. Masukkan ke kandang, sebentar lagi maghrib.”

Senja mulai membiaskan warnanya di langit. Pendar jingganya menghampar sejenak sebelum digantikan oleh kegelapan malam. Pertanyaan yang masih kuat mengganjal di benak Samin, ia dekat erat. Perlahan diturutilah perintah ibunya. Ayam-ayam perlu dimasukkan ke kandang.

“Enak sekali jadi kau. Setiap hari hanya berpikir makan, lalu tidur. Tak ada urusan kau dengan siapa ayahmu, siapa ibumu, juga siapa dirimu. Tak peduli kau di mana pun mereka. Hidupmu hanya milikmu. Hanya tentang dirimu.”

Samin memandang ke atas, langit masih jingga. Dia giring semua ayam ke kandang, menguncinya, lalu berjalan kembali ke rumah.

Namun langkahnya terhenti. Sayup mengalir dalam telinganya, serupa isak tangis. Siapa yang menangis? Siapa lagi yang ada di dalam rumah?

“Ibu….?”

Perlahan melangkahkan kaki, dia mencari di mana ibunya. Kakinya melewati ruang tamu, dia longokkan kepala ke kamar tidur, hingga memaku langkah di dapur. Tungku masih membara, tapi di mana ibunya. Matanya menyapu ruangan, mencari di mana gerangan.

Tanpa suara, Samin mendapati arah isak itu. Ibunya sedang menangis, menangis di tempat cuci piring.

Jika dirinya bukanlah laki-laki, mungkin batinnya tak akan kuat. Beberapa piring terserak, pecah dalam keping-keping. Namun bukan hanya itu yang membuatnya sekarat. Ibunya. Ibunya. Dengan apa dia membuat goresan merah di pergelangan itu?

“Ibuuu..Apa yang ibu lakukan? Apa ini karena pertanyaanku tentang ayah? Maafkan aku ibu. Maafkan aku.”

Kejadian hari itu, isak ibunya, dan tetesan merah segar yang membasahi lempeng putih piring-piring, mengunci kuat mulutnya untuk bertanya lagi, di mana ayah?

Malam menyelinap dengan cepat. Namun lambat untuk bisa dilalui. Masih juga Samin tak pernah tahu, kenapa ayahnya tak pernah kembali. Padahal dia bukan pelaut yang melintasi lautan. Juga bukan polisi yang sedang mengejar penjahat ke dalam hutan, lalu tersesat sendirian. Ayahnya, hanya penjual buah. Di pasar.

Haruskah ia bertanya pada malam? Mungkin ia menjadi saksi. Ketika mata Samin terpejam, dan bermimpi.

Published by ardhist

Mari bertemu di Instagram @ruangtitikkoma

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: