{Tentang Penerjemahan} Luka Kematian – Marguerite Duras

Ketika membaca “Kisah-Kisah Awal” karya Marcel Proust (di buku sebelumnya), ada merasa penerjemahannya kurang enak dibaca. Dalam perspektif ini, sedikitnya ada dua kemungkinan. Tipikal penulisan karyanya, atau memang penerjemahan yang kurang bisa mengalirkan maksud dari tulisan Proust. Saya memang belum pernah membaca karya asli Proust yang diterjemahkan dalam buku tersebut. Namun sedikitnya, ada harapan penerjemahan seharusnya bisa cukup membantu pembaca untuk (mulai) mengenal atau lebih jauh –mengagumi– karya Proust. Kenyataannya tidak. Lantas, bagaimana dengan karya ini ?

“Luka Kematian” karya Marguerite Duras ini saya baca dari buku terbitan Trubadur, penerbit dan penerjemah yang sama dengan “Kisah-Kisah Awal”. Bukan tanpa sengaja, justru karena ingin melakukan ‘riset’ pada keduanya, dari sisi penerjemahan.

Pembacaan karya (sastra) tidak bisa disamakan dengan pengujian yang dilakukan pada data statistik. Ia tak bisa dilakukan berbasis sampel sebagai cara membuat pola untuk memetakan situasi. Apalagi, meramalkan (forecasting). Pembacaan bukan urusan ramal-meramal. Para pembaca malah diminta harus menceburkan diri sendiri, berenang dalam lautan teks-teks yg bisa jadi menenggelamkan. Setelah itu pun, tidak ada jaminan bahwa hasil penyimpulan akan sama satu pembaca dengan yang lain. Setiap pembaca punya preferensi berbeda. Dan, selayaknya manusia, setiap karya seolah penjelmaan objek hidup, yang tidak hanya memiliki ruh, tapi juga mewarisi ‘genetika’ dari penulisnya. Namun terkadang, ia pun serupa anak-anak, berbeda meski dilahirkan dari rahim yang sama. Atas dasar inilah, semua proses harus terus dilakukan sendiri. Membaca karya, satu demi satu, serta sebisa mungkin menuliskannya. Membaca, mendengar pendapat, bertanya, berdiskusi, tentu membantu. Tapi bagaimana pun, nikmat petualangan hanya bisa diresapi dari hasil penjelajahan sendiri.

Setelah Proust, karya Marguerite Duras ini akan saya jadikan ‘objek penelitian’. Sebagaimana yang seharusnya dilakukan, saya harus berenang sendiri ke dalam teks-teks Duras untuk merasakan penerjemahannya. Luka Kematian, adalah novelet yang diterjemahkan dari bahasa Perancis berjudul La Maladie de la mort (The Malady of Death). Duras adalah penulis perempuan kelahiran Vietnam, berkebangsaan Perancis. Menghasilkan banyak karya mulai skrip film, esai, dan tentu, novel yang menang penghargaan bergengsi. Disebutkan, Duras memang banyak mengangkat tema seksualitas manusia dalam karya-karyanya, termasuk dalam karya ini.

Buku ini hanya diisi satu kisah, tentang pria yang ingin merasakan cinta. Maka ia pun membayar seorang perempuan, untuk ‘mengajarkan’ cinta –lebih tepatnya, mencintai. Anggapan yang diyakini sebagian orang, bahwa cinta sama dengan seks. Atau bahkan, seks itulah yang disebut sebagai cinta. Terikhwal seks, yang paling sederhana, dimulai dari pencecapan indera pada objek –diasosiasikan dengan tubuh (fisik, bentuk, kefanaan). Maka jika ingin belajar tentang cinta (mencintai), silakan mulai dari pemujaan pada bentuk itu sendiri; tubuh. Sebanyak 39 halaman, menceritakan situasi yang berjalan sejak perempuan itu datang, hingga di akhir, perempuan itu pergi.

Pembukaan noveletnya sedikit memberi gambaran awal situasi, “Boleh jadi kau belum mengenal perempuan itu, boleh jadi kau melihatnya di berbagai tempat pada saat yang bersamaan, di sebuah hotel, di sebuah jalan, di dalam kereta, di sebuah bar, di dalam sebuah buku, di dalam sebuah film, dirimu sendiri, di lubuk hatimu paling dalam, ketika penismu ereksi di malam hari, mencari tempat untuk membubuhkan dirinya, tempat untuk menumpahkan air matanya.”

Alur dimulai ketika pria membayar perempuan itu untuk beberapa waktu yang tidak ditentukan. Sang perempuan diminta datang setiap malam, tidak diminta untuk bicara, hanya perlu pasrah melakukan apapun yang diinginkan si pria. Sebagaimana kesepakatan, perempuan yang bukan pelacur itu mengikuti apa yang diinginkan si pria sebagai konsekuensi dari bayaran yang telah ia terima. Si pria memulai pelajarannya. Diawali dengan mengamati tubuh dengan detil, menyentuhnya, hingga melakukan persetubuhan sebagai cara untuk membangkitkan cinta. Namun, beberapa malam yang dilalui dalam ketelanjangan perempuan yang begitu cantik di ranjangnya, justru membuatnya menangis. Si pria bahkan merasa bebal pada apa yang dilihatnya sendiri, membuatnya pasrah untuk berhenti menyentuh perempuan itu. Pertanyaan-pertanyaan terus mengalir dalam benaknya, ia merasa ganjil. 

Lewat percakapan antar keduanya, si perempuan mengatakan si pria menderita –yang ia sebut sebagai– luka kematian. Sebuah ungkapan bahwa ada yang salah dari diri si pria. Awalnya, perempuan itu menolak untuk menjelaskan lebih lanjut maksud ucapannya. Sang pria semakin tersiksa dengan keganjilannya sendiri. Ia mulai tahu ada yang salah dalam dirinya, tapi tak bisa menjelaskan dengan tepat. Ia adalah laki-laki yang selamanya tak pernah (merasa) mencintai perempuan. Tak pernah berhasrat pada perempuan. Dan tak pernah merasa ada yang bisa mencintainya. Semakin dalam ia mencoba untuk mengakrabi tubuh perempuan(nya), semakin dalam pula kegelisahannya. Ia bahkan merasa takjub ketika melihat tubuh perempuan(nya) bisa terangsang dan merasakan kenikmatan ketika disentuhnya.

Bentuk pergolakan batin yang dirasakan si pria mungkin bisa digambarkan dalam teks-teks ini.

“Kau ingin  menemukan segala sesuatu dari diri seorang perempuan, sebanyak mungkin. Kau tidak mengerti bahwa bagimu hal itu mustahil.” (hlm. 25)

“Kau terus  berbicara, seorang diri di dunia ini, seperti yang kau kehendaki. Kau berkata bahwa cinta selalu membuatmu merasa tidak berada di tempat yang tepat, kau tak pernah mengerti, kau selalu menghindari cinta itu sendiri, selalu ingin bebas untuk tidak mencintai. Kau berkata bahwa kau telah kehilangan. Tapi kau tak tahu apa yang telah hilang dari dirimu, Atau, yang telah kau hilangkan dari dirimu.” (hlm. 33)

Dan di sinilah jawaban atas pertanyaan yang ingin ia temukan, ketika

Si pria bertanya,“…bagaimana tindakan mencintai itu bisa terjadi — bagaimana emosi untuk mencintai itu bisa terjadi.

Sang perempuan menjawab, “Disebabkan oleh suatu perubahan tiba-tiba di dalam logika alam semesta. Tidak  pernah  disebabkan oleh tindakan yang dikehendaki.”

“Mungkinkah emosi untuk mencintai itu pun berasal dari sesuatu yang lain?”, pria itu kembali bertanya.

“Hal itu bisa berasal dari apa pun, dari terbangnya seekor burung malam, dari dalam tidur, dari mimpi di dalam tidur, dari mendekatnya kematian, dari sebuah kata, dari suatu kejahatan, dari cinta itu sendiri, seringkali tanpa diketahui apa sebabnya”, perempuan itu menjelaskan dengan  lebih  panjang.

Suatu hari, ditemuinya kamar yang selama ini dihuni oleh perempuan bayarannya dalam keadaan kosong. Di saat itulah ia merasa ada sesuatu yang hilang dalam jiwanya. Kehampaan mulai menyelimuti hatinya. Perempuan itu takkan pernah kembali. Sesekali mungkin si pria akan merindukannya. Namun, tak ada yang bisa disalahkan selain dirinya sendiri.

Akhirnya yang tersisa dari keseluruhan hubungan itu hanya beberapa kata tertentu yang ia ingat dari perempuan itu, salah satunya memberi tahu apa yang salah dalam dirinya : luka kematian. Meski begitu, si pria telah berhasil menjalani cinta dengan satu-satunya cara yang memungkinkan baginya. (Yaitu) dengan cara kehilangan cinta itu sebelum cinta itu sendiri terjadi. (hlm. 39)

Dan, mari kembali lagi pada penerjemahan. Dua karya ini, diterjemahkan oleh penerjemah dan diterbitkan oleh penerbit yang sama. Dari hasil pembacaan dan penelaahan maksud tulisan Duras melalui hasil penerjemahan, tampak Luka Kematian jauh memiliki hasil penerjemahan yang lebih enak dibaca dan bisa dipahami, bahkan bisa ditarik penafsiran pesan atas pembacaannya. Namun, apakah ini berarti tipikal penulisan Duras lebih menarik dibanding Proust, atau apakah ide tulisan yang diangkat memang lebih mudah untuk dipahami, atau ada alasan-alasan lain? Tentu masih perlu perjalanan lanjutan untuk bisa membuktikannya.

 

Published by ardhist

Mari bertemu di Instagram @ruangtitikkoma

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: