[Kumcer] Pertunjukan di Awan – Roberto Bolano, Cesar Aira, dkk

Dari 250-an halaman, yang paling bisa saya ingat hanya sekalimat dari Patricio Pron dalam cerpen Mengunjungi Sang Maestro, “…karena untuk suatu alasan, orang Jerman percaya bahwa siapa pun yang tinggal di sebuah negara tanpa rumah sakit pastilah bahagia.”

Kalimat itu lantas membawa pada penelusuran data-data dan artikel-artikel, meski tak menemukan apa sesungguhnya alasan yang dimaksud. Tafsir berikutnya adalah, itu merupakan ungkapan sarkas. Kenyataannya tak ada negara yang dibangun tanpa rumah sakit di dalamnya. Artinya, tak ada manusia yang benar-benar bisa hidup bahagia, tinggal di negara mana pun.

Bicara ketidakbahagiaan, apalagi dibawa dalam lingkup hidup dalam suatu negara, tentu tidak hanya mengaitkan dengan hal-hal besar, tetapi juga sekecil-kecilnya urusan, misal (sekedar) urusan menjumpai potongan lakban di suatu tempat. Siapa yang peduli pada lakban yang menempel di suatu tempat? Ternyata tidak demikian. Yang sepele itu malah justru mengalirkan pada urusan besar. Siapa sangka bahwa potongan lakban yang dikira hanya tertempel begitu saja di pintu ruang bawah tanah, mengantarkan Presiden AS, Richard Nixon pada pengunduran dirinya. Kasus itu dikenal dengan sebutan skandal “Watergate”, tentang penyadapan informasi oleh tim kampanye Nixon (Partai Republik), pada kubu lawan (Partai Demokrat). Laporan investigasi menyebut ada keterlibatan Nixon yang terpilih kembali menjadi Presiden.

Masalah ‘sepele’ lain, misal tentang surat yang diabaikan oleh Woodrow Wilson, Presiden AS ke-28. Karena sibuk, Wilson mengabaikan surat dari sosialis muda yang ingin bertemu. Ia adalah Ho Chi Minh, yang ingin meminta bantuan pada AS untuk dapat merdeka dari Perancis. Karena kecewa, Minh pergi ke Uni Soviet, belajar Marxisme, bertemu Trotsky dan Stalin, hingga menjadikannya tokoh komunis yang disegani. Kejadian yang akhirnya menjadi embrio terjadinya perang Vietnam, salah satu perang yang paling memakan korban jiwa. Andai saja Wilson mau meluangkan sedikit waktu untuk bertemu Minh, mungkin sejarah akan berkelok ke arah berbeda.

Keduanya telah dicatat sejarah sebagai butterly effect yang akhirnya mengubah sejarah dunia dari hal-hal kecil yang awalnya dianggap sepele atau tidak penting. Mungkin begitu pula cara kerja kebahagiaan dan ketidakbahagiaan menghinggapi perasaan manusia. Dimulai dari sesuatu yang kecil, yang perlahan menggulung, membesar semacam bola salju. Sebagian di antaranya ada yang menggelinding liar hingga tak bisa dikendalikan. Dan, tentu saja tidak mungkin bisa memuaskan semua  orang dalam suatu negara paling bahagia sekalipun. Ketidakbahagiaan membuat manusia tidak sehat, khususnya mental. Akhirnya, setiap negara pasti membangun rumah sakit di dalamnya. Mungkin begitu maksud Pron dalam cerpennya tentang pandangan orang Jerman.

***

Pertunjukan di Awan, adalah kumpulan cerpen beberapa penulis dunia. Sebut saja di antaranya Cesar Aira, Roberto Belano, Julio Cortazar, Andres Neuman, dan Patricio Pron. Mendapatkan karya-karya mereka untuk dibaca dalam satu buku kiranya menjadi project menarik bagi Basabasi untuk menerbitkannya. Karya penulis-penulis Amerika Latin — Cile, Argentina, Spanyol, Meksiko, dan Bolivia diterjemahkan dari bahasa Inggris yang diterbitkan media-media terkemuka. Sampai dengan narasi ini, tentu menarik untuk membuat pembaca; khususnya yang ingin mengenal sastra Amerika Latin lebih dalam, jadi tertarik.

Namun, apakah isinya semenarik narasi awal yang disampaikan? Pertama, telaah akan dimulai dari penerjemahan. Kualitas penerjemahan dalam buku ini cukup baik. Relatif tidak ada, misal, diksi tidak lazim, atau susunan kalimat yang membingungkan. Namun, masalahnya bukan itu saja. Ketika dilakukan pembacaan utuh (satu cerpen), hanya sedikit yang saya anggap menarik. Pertunjukan di Awan, salah satunya. Tidak  heran ia dipilih sebagai judul. Kedua, alasan pemilihan konten. Dalam konteks ini, sebagai pembaca saya belum mendapatkan cukup gagasan mengapa cerpen-cerpen dalam buku ini yang dipilih. Apakah (hanya) karena diterbitkan media-media terkemuka, atau memang ada alasan lain yang dinilai editor layak untuk disampaikan pada pembaca Indonesia –yang masih butuh banyak belajar sastra dunia.

Pertanyaan lanjutan, jika memang dianggap kurang, apa yang mungkin menyebabkan ceritanya tidak (kurang) menarik itu? Saya hanya bisa menangkap dua alasan yang mungkin. Pertama, cerpen-cerpen ini diterjemahkan dari karya yang terbit di media. Seperti sastra koran di Indonesia, jujur saja, tidak semua karya yang dimuat adalah bagus. Tidak semua penulis yang bisa menerbitkan karya, pun dengan latar belakang yang banyak juga, dianggap cukup mampu membuat tulisan yang menghanyutkan perasaan pembacanya. Hanya dengan embel-embel New York Times, apakah lantas membuat short stories yang diterbitkannya pasti bagus? Kedua, kita di Indonesia, tidak memahami konteks yang ingin disampaikan oleh penulis. New York Times, misalnya, adalah media (koran) Amerika, berbasis di kota New York, dengan pengaruh dan pembaca di seluruh dunia. Artinya, untuk bisa memahami isi cerpen, dikaitkan dengan konteks saat karya itu ditulis, butuh waktu untuk merunutnya lebih jauh — jika memang ingin menyelami dengan benar maksud dari cerpen itu sendiri.

Ambil contoh begini, cerpen Martin Aleida “Tanah Air”. Ia bukan hanya cerpen tentang tanah air dalam konteks yang biasa. Lebih dari itu, Martin ingin menyampaikann pesan tentang eksil Indonesia. Cerpen yang dinobatkan sebagai cerpen terbaik pilihan Kompas 2016 tersebut, ditulis Martin ketika mengadakan riset tentang eksil Indonesia di sejumlah kota di Eropa : Amsterdam, Den Haag, Berlin, Praha, dan Sofia, selama tiga bulan (Maret, April, Mei 2016). Riset tersebut ditulis dalam bentuk jurnalistik. Dari sini, pembaca mendapatkan gambaran yang jelas tentang cerpen yang ditulis Martin. Bukan hanya cerpen biasa, tetapi paparan berita jurnalistik yang dikemas dalam balutan karya sastra fiksi untuk memberikan gambaran lebih nyata situasi dan pesan. Ini penting. Nah, apakah pembaca mendapatkan gambaran yang sama ketika membaca karya-karya cerpen di buku ini seperti halnya sedang membaca karya Martin? Bedakan lagi dengan karya-karya klasik dunia.

Dari dua alasan ini saja, sangat mempengaruhi kualitas pembacaan. Bukan hanya itu, lebih jauh lagi : apa makna yang bisa diresapi pembaca selesai membacanya. Apakah cukup hanya berakhir sebagai cerita (biasa)? Sebagai pembaca saya bisa saja membedahnya lebih jauh ke dalam, terutama karena pembaca memiliki hak untuk mendapatkan kualitas sepadan dengan harga yang dibayarkan. Dan, adalah tanggung jawab  penerbit untuk memberikan kualitas yang sebanding.

Akhirnya, saya kembali lagi pada kalimat Pron di awal, “…karena untuk suatu alasan, orang Jerman percaya bahwa siapa pun yang tinggal di sebuah negara tanpa rumah sakit pastilah bahagia.”. Saya coba memasukkannya dalam konteks : bahagiakah saya ketika membaca kumcer ini? Karena dalam lingkup negara, jelas : negara saya punya banyak ruang untuk disebut sebagai rumah sakit. Maka, saya coba meresapi kebahagiaan sebagai individu saja.

Jawabannya, tidak. Cerpen-cerpen yang dipilih kurang menarik. Atau, alasan kedua, saya yang tidak memahami konteks cerpen yang dituliskan sehingga tidak menangkap pesan lebih esensial, selain hal-hal biasa. Kalimat terakhir itu akan menggelinding lagi pada pertanyaan lanjutan : “Apakah ketidakbahagiaan ini akan menjadi semacam bola salju yang semakin lama semakin besar?” Jawabannya tentu ada di tangan penerbit.

Published by ardhist

Mari bertemu di Instagram @ruangtitikkoma

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: