Bertualang dalam Resensi

Untuk apa Anda membaca? Pertanyaan yang bisa jadi akan sangat beragam jawabannya. Namun, di antara jawaban Anda, adakah yang merasa bahwa membaca mengantarkan Anda pada keasyikan bertualang? Pasti banyak. Namun, bagaimana jika pertanyaannya adalah, “Apakah Anda meresensi buku yang telah Anda baca?”, kemudian mari tambahkan lagi, “Adakah yang merasakan bahwa meresensi buku adalah cara bertualang yang berbeda?”

Ketika seseorang merasa tertarik pada sebuah buku (dalam hal ini buku fisik), kemudian secara perlahan ia memperhatikan detil-detil, mulai dari desain sampul, ukuran, nama penulis, penerbit, penerjemah, ukuran huruf, dimensi buku, jumlah halaman, dan lain sebagainya, maka sesungguhnya ia telah bersedia untuk mulai diajak memasuki gerbang petualangan yang ditawarkan.

Namun, ini juga bukan tanpa resiko. Petualangan selalu menawarkan keasyikan, di sisi lain akan mengancam ketenangan pembacanya, bahkan membuatnya tersesat. Ketika itulah, pembaca akan berada dalam pilihan untuk terus melanjutkan perjalanan, atau berhenti saja di titik tertentu. Pada akhirnya akan muncul beberapa tipe pembaca, yang nekat meneruskan perjalanan tanpa tahu akan sampai di mana, yang tidak sabar untuk tahu tujuan akhirnya saja, atau yang memutuskan berhenti di tengah perjalanan. Dalam hal ini, saya termasuk tipe pembaca yang pertama. Dan dari sinilah saya memaknai perjalanan menulis resensi sebagai bentuk pencatatan perjalanan pemikiran saya.

Semakin banyak membaca, bukan saja sadar semakin banyak yang belum saya pahami, semakin banyak buku yang perlu saya baca, tapi ternyata saya juga sampai pada perasaan bahwa membaca saja tak cukup. Pikiran selama membaca hingga halaman terakhir, justru membawa saya pada banyak lintasan pikir yang berkelindan. Saya merasa membutuhkan ‘obat’ untuk meredakan sakit kepala karena banyak yang saya pikirkan. Akhirnya, menulis, adalah jalan keluar. Dan resensi, adalah salah satu bentuknya. Ketika media yang masih memungkinkan adalah blog pribadi, maka saya menuliskannya di sana. Namun, ketika kebutuhan akan visual dan jaringan pertemanan semakin besar, maka saya mulai menggunakan media Instagram.

Instagram, adalah platform. Di sana tidak menawarkan apa pun kecuali para pengguna secara kreatif mampu menjadikannya sebagai media untuk memberikan suguhan konten yang sesuai dengan gaya pribadi mereka. Maka, terciptalah sebuah akun @ruangtitikkoma yang khusus memberikan konten-konten resensi buku, microblog, dan foto-foto hasil karya pribadi saya sendiri. Tidak ada konsep yang secara instan saya terapkan dalam waktu bersamaan. Semua adalah pertemuan demi pertemuan, tahapan demi tahapan yang muncul dalam perjalanan.

Untuk kawan-kawan yang tertarik mengembangkan media sosial Instagram-nya menjadi sebuah public account seperti ini, mungkin beberapa hal di bawah ini bisa dicoba :

  1. Siapkan satu akun Instagram khusus untuk konten yang spesifik. Misal, konten literasi, maka harus khusus berisi konten-konten literasi, jangan dicampur dengan konten yang lain.
  2. Instagram adalah media yang memberikan fokus pada gambar/ video, maka Anda harus memaksimalkan kualitas visual. Berikan konsep foto sesuai gaya Anda, pelajari dari beberapa konsep foto sudah pernah ada di media sosial lantas padukan dengan gaya Anda.
  3. Menulis resensi di caption. Tidak ada tips khusus. Sesuaikan dengan gaya Anda. Jika saya sendiri, prinsipnya resensi atau ulasan di caption bersifat lebih umum, tetapi menyeluruh, dan detil. Detil adalah kunci dari segala kualitas. Dalam hal ini, kemampuan teknis menulis diperlukan, sehingga resensi atau ulasan, meski pun ‘hanya’ dalam caption, tidak membuat pembaca atau pengikut akun Anda kecewa dan sia-sia. Para pengikut atau pembaca perlu mendapatkan sesuatu dari tulisan Anda.
  4. Caption saja tidak cukup. Maka, menulis dalam bentuk microblog adalah salah satu cara untuk lebih detil. Banyak pemikiran lanjutan yang saya tuangkan dalam microblog. Sekali lagi, harus detil. Secara khusus, teknis pembuatan microblog bisa Anda pelajari terpisah dari akun-akun pembuat konten, lalu kembali sesuaikan dengan gaya Anda.
  5. Bio. Optimalkan pencantuman dalam bio. Untuk Anda yang terkoneksi dengan media sosial lain, misal Facebook, Twitter, atau platform lain, misal Goodreads, atau blog pribadi,maka gunakan Linktree untuk mencantumkan tautannya. Hal ini untuk memudahkan para pembaca atau pengikut Anda mengenal lebih jauh tentang gaya penulisan Anda.
  6. Berkawan dengan banyak orang dalam lingkungan yang sama. Misal akun Anda tentang dunia literasi, maka berkawanlah dengan akun-akun Instagram lain yang juga berkecimpung di dunia literasi. Mohon diingat, bahwa literasi bukan hanya mencakup pembaca, tetapi juga penulis, penerjemah, penerbit, editor, dll. Bangun jaringan yang luas untuk membawa Anda lebih jauh berkembang.
  7. Bergabung dalam komunitas atau acara/ kegiatan yang diselenggarakan terbuka untuk umum. Hal ini penting, karena Anda akan mampu secara cepat melebarkan jaringan pertemanan, meluaskan wawasan, mendapatkan informasi dan rekomendasi terbaru tentang buku-buku bagus, pun juga ruang bagi diskusi interaktif yang bisa mendekatkan Anda dengan penulis, penerbit, atau penerjemah favorit Anda. Di sini saya aktif di komunitas buku @bacabarengtangerang dan ruang diskusi buku KEBAB [KEtemu Buku Akhir Bulan] yang selalu diselenggarakan setiap bulan via Zoom dengan mengundang pembaca, penulis, juga penerbit. Jadwal kegiatannya bisa dilihat di @kebabreadingclub.
  8. Bangun komunikasi yang menyenangkan dengan sesama penikmat buku, atau pengikut Anda. Prinsipnya, Anda adalah diri Anda di konten. Anda berhak dan memiliki kontrol atas apa yang Anda unggah atau tuliskan. Anda berhak kritis, berhak tidak basa-basi, berhak tajam dalam pemikiran. Tetapi dalam lingkup interaksi sosial, Anda tetap seorang kawan yang menyenangkan.
  9. Jika Anda membutuhkan teknis untuk optimasi Instagram, bisa mempelajarinya secara khusus dari akun-akun pembuat konten terkait. Akan dibahas mengenai cara-cara meningkatkan performa akun Instagram Anda.

Kesembilan pendekatan yang saya lakukan di atas, sedikitnya adalah sebagai salah satu cara untuk saya mencatatkan pikiran yang terus mengembara ketika membaca. Tentu tidak bisa sepenuhnya sesuai. Yang paling penting adalah Anda harus mengenali (atau menciptakan) gaya diri Anda sendiri. Saya biasa membedah setiap buku yang saya baca, sehingga jarang bagi saya membaca dengan cepat. Saya sangat menikmati bagaimana sebuah buku mampu mengajak saya berpindah dari satu tempat ke tempat lain, bertemu beberapa tokoh berbeda, yang kemudian berubah karakter, berganti dari satu suasana ke suasana lain, mengantarkan pada plot-plot tak terduga, menelisik konflik yang diangkat, menebak, berekspektasi, dan sebagainya.

Di sisi lain, di saat yang sama, saya akan menyelami buku dari sudut pandang seorang penulis. Yang memperhatikan seberapa menarik sebuah gagasan yang diangkat, latar belakangnya, proses kreatifnya, bagaimana struktur penyusun ceritanya, bagaimana penulis mampu menguarkan keindahan dalam diksinya, apakah plot dan alurnya rapat atau banyak terjadi kebolongan, seberapa temponya, bagaimana konfliknya, dan sebagainya. Hingga pada akhirnya, saya justru merasa lebih menemukan jiwa saya dalam ketersesatan petualangan mencatat pemikiran bernama : resensi.

Published by ardhist

Mari bertemu di Instagram @ruangtitikkoma

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: