[ Review ] Bukan Perawan Maria – Feby Indirani (Bentang Pustaka)

Buku “Bukan Perawan Maria” karya Feby Indirani, terbitan Bentang Pustaka

Buku kumpulan cerpen berisi 19 judul tentang kisah-kisah yang mengangkat isu sosial berlatarkan agama Islam. Adalah isu-isu yang kita tahu kerap didengar, dibicarakan, juga ditarik ke banyak perspektif yang berbeda. Sederhananya, buku ini mengangkat isu-isu dalam lingkup syariah Islam yang hidup di antara perkembangan masyarakat yang beragam.

Terima kasih pada Bentang Pustaka untuk buku ini. Membaca blurb dan mukadimah dari seorang Ustaz, juga beberapa testimoni yang “wow” dari banyak pihak, membuat buku ini tampak sangat luar biasa.

Ide-ide di cerpen ini, bagus. Mengangkat isu-isu sensitif seperti istri yang meminta suami berpoligami, haramnya babi, orang yang menganggap bom bunuh diri sebagai tujuan mendapatkan surga, perempuan yang memakai niqab (cadar), dll. Saya mengapresiasi itu. Ide-ide seperti ini memang harus diangkat agar lebih banyak orang memahami secara benar dan tepat konteks.

Sayangnya, kalimat terakhir itu pula masalahnya. Banyaknya testimoni belum menjadikan saya mampu merasakan hal serupa. Cerpen-cerpen di sini bagi saya kurang mampu menyampaikan secara apik, rapat, indah, pesan-pesan esensial yang seharusnya bisa disampaikan. Masih sangat di permukaan, padahal sebenarnya isu yang diangkat penting dan bermakna luar biasa bagus dan dalam. Menurut saya, penulis gagal menggiring pemahaman pembaca kepada esensi itu. Sedih saya…

Bukan tanpa alasan. Ambil satu contoh, judul “Baby Ingin Masuk Islam”, sebagai salah satu isu paling ‘klasik’ yang dibicarakan. Di buku ini, dikisahkan ada seekor babi ingin masuk Islam. Hal ini menjadi perdebatan dalam sebuah sidang majelis yang menghadirkan Kyai Fikri sebagai sumber berita. Ia dimintai klarifikasi tentang kebenaran seekor babi yang kabarnya ingin menjadi muslim (pemeluk agama Islam).

Sampai di sini, menarik. Babi dikarakterkan sebagai sosok makhluk yang tercela dengan ‘status’ haramnya. Tiba-tiba ingin menjadi muslim di hari tuanya, sebelum dipotong. Sebagian berpikir, bagaimana bisa makhluk yang tercela (haram) berhak menjadi muslim? Bukankah akan semakin ‘mengotori’ agama itu sendiri? Respon anggota majelis mengesankan seolah-olah mereka orang-orang suci, dan berhak menghakimi status suci/ tidak sucinya orang lain.

Sebagaimana kita tahu, umat Islam memang tidak diperbolehkan untuk mengkonsumsi babi. Sebagian anggapan yang bergulir di masyarakat awam saat ini : bahwa babi dalam konteks keseluruhan adalah haram. Hewan yang seolah-olah tidak berguna diciptakan. Sehingga konteks “haram” melebar, bukan saja sebagai yang dilarang dimakan, tetapi juga berlaku di hal lainnya, misal dipelihara. Percakapan-percakapan dalam cerpen ini mengisyaratkan itu. Sampai di sini, saya sepakat. Analoginya bisa diterima dalam deskripsi.

Yang agak kurang nyaman bagi saya adalah ketika cerita digulirkan bahwa sang Kyai memelihara babi sebagai hewan ternak, dan ‘memberi makan’ kaum sangat kekurangan dan membutuhkan dari hasil ternak babinya itu.

Dijelaskan di sini, mereka kaum sangat miskin, dan bukan muslim (beragama Islam). Babi dianggap sebagai salah satu hewan ternak yang paling banyak menghasilkan keturunan. Juga diberikan alasan, hewan ternak lain sangat mahal.

Menurut saya ini tidak masuk akal, atau belum cukup alasan. Juga, seolah alasan-alasan yang diberikan ini sebagai sesuatu yang dipaksakan untuk pembenaran.

Seorang muslim tidak menerima suatu ‘ilmu’ tanpa berpikir. Tanpa ada landasan. Tanpa ada kajian yang benar. Begitu pun dalam konteks mengapa Islam melarang babi untuk dimakan. Semua ada penjelasannya, dan masuk akal.

Dalam konteks pemahaman Islam, babi adalah hewan yang diciptakan bukan untuk dimakan (oleh manusia). Hewannya sendiri (babi) tidak haram. Ia hanya haram ketika dimakan –oleh manusia. Dia juga tidak haram ketika yang memakannya adalah hewan lain, serigala misal. Artinya pula, babi juga tidak haram untuk dipelihara. Asal tidak dimakan. Poin pentingnya adalah : haram untuk dijadikan makanan bagi manusia. Sekali lagi, itu bukan tanpa alasan.

Akan jadi berbeda maksudnya, andai penulis menyampaikan konteksnya. Misal, latarnya adalah sebuah negeri yang memang biasa menggunakan babi sebagai makanan penduduk, tidak familiar (jika tidak bisa menyebutnya sebagai tidak ada) dengan ayam/ikan karena tempat tinggalnya biasa di hutan, atau posisi babi sebagai makanan yang justru memberikan pesan perdamaian/penghormatan dalam konteks budaya/ adat istiadat setempat. Itu menjadikan konteksnya berbeda. Namun, ketika lingkup yang diceritakan dibatasi dalam urusan “babi ingin masuk Islam” lantas status haram/halalnya dibenturkan dengan situasi dia dikonsumsi oleh orang karena sangat miskin dan tidak Islam karena alasan-alasan di atas, ini jadi tidak tepat (dan tidak utuh).

Alasan memberi makanan pada orang miskin, berbekal alasan hewan ternak lain lebih mahal dan bukan muslim, dinarasikan sebagai argumentasi menyikapi konflik “babi masuk Islam” tidak cukup mampu untuk meletakkan pesan : bahwa haram/halalnya babi tidak ditentukan oleh manusia, babi bukan hewan yang tercela/ tak berguna diciptakan, manusia harus meletakkan posisi halal/haram tepat pada posisinya, dll.

Bagaimana jika logika yang ditangkap justru menjadi : apakah artinya dengan memberi makan orang yang miskin dan tidak Islam dengan babi, akan menjadikan babi halal untuk dimakan? Jika ada yang berpikir begini, jelas akan menjadi cacat logika. Cerpennya tidak mampu menyampaikan pesan secara utuh, padahal itu yang penting!

Untuk kawan-kawan yang sudah paham, tidak ada masalah. Tapi bagaimana jika dibaca yang tidak? Cerpen-cerpen lain, yang saya rasakan juga relatif kurang mampu menyampaikan pesan secara utuh; kurang mampu diceritakan secara baik. Sederhananya : sepotong; sepenggal; terputus. Hanya seperti secuplik cerita yang diambil dari tempat asalnya untuk lalu dipindahkan begitu saja dalam bentuk tulisan. Padahal, tidak begitu yang seharusnya ketika sebuah ide/gagasan diungkapkan sebagai bentuk cerita (karya), apalagi buku, yang diterbitkan untuk dibaca secara luas, menjangkau sebanyak-banyaknya pembaca.

Published by ardhist

Mari bertemu di Instagram @ruangtitikkoma

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: