DWC12, Kompetitif!

Tanpa terasa, today is a last day in 30 Days Writing Challenge Jilid12. Saya, bukan lagi anak baru di sini. Ternyata begini rasanya jadi anak tidak baru, hehe..

Bagi saya, DWC selalu spesial. Bukan hanya memberikan saya semangat untuk berjuang dengan lebih kuat lagi, DWC juga mampu menciptakan hal baru untuk masuk sebagai rutinitas penting, yaitu menulis setiap hari.

Saya, sebagai anggota DWC alumni sejak Jilid 11, merasa bahwa DWC Jilid 12 ini ada perbedaan. Baik secara program, tantangan-tantangannya, maupun suasana dalam kompetisinya.

Di DWC yang telah berlangsung selama 30 hari ini, saya menemukan bahwa jiwa-jiwa menulis anak muda itu sebenarnya sangat besar. Semangatnya luar biasa. Bahkan lebih dan meluap-luap. Hal itu tampak dari bagaimana setiap fighter mampu berperan aktif dalam setiap tantangan yang diberikan.

Namun, ada juga satu hal yang ingin saya masukkan sebagai koreksi. Dari sekian banyak peserta, sebenarnya yang memiliki keterlibatan aktif hanya sekitar 25%. Selebihnya pasif. Banyak faktor yang perlu diteliti untuk itu. Apakah salah jika pasif? Tidak ada salah dan benar di sini. Semua bergerak seperti apa yang diharapkan. Tapi, bagi saya pribadi. jika seharusnya bisa menyerap 90% ilmu, tapi hanya menggunakan 50% energi untuk mencapai 90%, karena ragu, takut, kawatir, dan lain-lain sebenarnya sayang. Apalagi untuk yang baru pertama kali ikut. Tentu bisa saja berbeda dengan yang sudah pernah ikut. But well, it’s about me. Not you.

Satu lagi yang saya temukan, kurangnya konsistensi. Semangat memang menggebu-gebu, meluap-luap. Tetapi, tidak konsisten. Terbukti dengan banyaknya yang tidak setor, bahkan di hari pertama. Lalu juga banyak yang DO di beberapa hari berikutnya. Juga keterlibatan dalam feedback.

Namun, bagi saya pribadi, DWC tetap selalu spesial. Rasa. Rasa tak pernah sama. Makanya kalau punya pacar, hindari CLBK. Mending move on. Cari rasa yang berbeda, haha..

Advertisements

Anak Muda, Ke Mana Aja?

Hari ini, sesi feedback dimulai lagi di Empire. Sebagai sesama peserta, kali ini giliran kami untuk mendapatkan feedback, sekaligus memberikan feedback.

Ada yang menarik. Saya berbicara dengan seorang 19 tahun, anak muda. Sangat muda. Jauh lebih muda daripada saya. Namun, dia sudah jauh melebihi saya. Sebelumnya, saya juga bertemu teman dengan usia 12 tahun di kelas menulis DWC ini.

Saya merasa ini luar biasa. Anak muda sekarang sangat luar biasa. Maju dan berkembang dengan sangat cepat secara pemikiran, serta karya. Hebat!

Memang. Banyak hal-hal positif dan produktif yang bisa dilakukan oleh seorang anak muda jaman now. Ketika semua fasilitas ada, akses terbuka tanpa batas, membuat kaum mereka maju dengan sangat pesat.

Sungguh. Ironis. Ketika satu sisi, ada yang sangat mampu berkembang dengan segala potensinya, tetapi di sisi lain ada yang sangat mengecewakan. Memalukan. Itu terdengar sangat tidak membanggakan.

Beberapa waktu terakhir, kejadian buruk terjadi dengan melibatkan tokoh anak muda bangsa. Narkoba, miras oplosan, pencurian, pembunuhan, dan lain-lain dilakukan oleh anak muda. Sedih. Teriris.

Anak muda dianggap harapan bangsa. Benar adanya. Di tangan anak mudalah negara ini bisa berkembang sejauh apa yang menjadi mimpi-mimpi yang ada.

Majulah, anak muda. Berkibarlah!

Dunia ini sangat indah dan luas, untuk kau sesali di dalam ruang penjara.

Menggengam Dunia

Pelan tapi pasti, Radhita punya sebuah mimpi. Sekolah di luar negeri. Wow, bukan?

Kini, setelah lebih dari dua tahun ia berusaha untuk mendapatkan beasiswa, nyatanya kisah itu tak semulus yang ia rencanakan.

Orang bilang, sekolah di luar negeri itu keren. Bisa jadi orang sukses jika nanti pulang ke kampung halaman. Pun Radhita, ingin juga melakukan hal yang seperti harapan banyak orang.

Radhita, seorang anak pembajak tegalan sawah, mimpi jadi sarjana. Haha … ini mimpi di siang buta. Begitu bagi semua warga kampungnya. Seolah nasibnya nanti, sudah ditentukan sekarang.

Ya. Tak mudah memang. Dunia masa kini sudah sedemikian cepatnya berevolusi. Seolah-olah benar menggilas, menginjak, dan melemparkannya ke lubang bernama kegagalan, jika tak mampu mengikuti.

Radhita, anak kampung Batik Apung. Kampung para perajin batik, meski Ayahnya bukan bagian dari dunia perbatikan, tapi Radhita yakin kelak ia mampu membawa kampungnya jadi kampung yang terkenal.

Perjuangan Radhita belum usai. Kini dia masih harus menjalani serangkaian tes seleksi untuk bisa melangkap ke langkah pertamanya. Ya, langkah pertama selalu saja sulit. Sangat sulit. Butuh sebuah tekad baja, tanpa keraguan dan ketakutan yang menarik kembali ke belakang.

Ya, Radhita datang dengan setumpuk mimpi. Ia tuangkan ke dalam setumpuk kertas di dalam dekapan. Risetnya tentang : Matinya Kunang-Kunang Dalam Pendar, semoga mampu membuatnya diterima sebagai mahasiswa sastra di Paris, Perancis.

Rasa. Di Mana Aku Harus Mencari?

Rasa. Setelah diksi pun masih jauh dari sempurna, kali ini saya harus belajar tentang bagaimana menyalurkan rasa. Sulit ternyata. Bagi saya. Karena ini terkait dengan masalah kepekaan, dan ketelitian.

Banyak teori yang menuliskan tentang rasa. Namun seperti halnya cinta, tidak ada teori pasti yang bisa menggambarkan bagaimana caranya jatuh cinta.

Kini, Tuhan mempertemukan saya dengan sekolah yang menarik. Cara mendidik di kelas ini menarik. Sangat menarik. Berbeda dari kelas yang lain yang pernah saya ikuti. Kelas ini tidak punya teori pasti. Aneh? tidak. Hanya berbeda.

Sebuah teori dianggap justru membatasi ruang berpikir kami di sini. Padahal rasa tak bisa diteorikan, dan dibatasi. Haha.. seru! Lalu bagaimana? Di sini sekolah jurusan Pendidikan Rasa. Sebuah jurusan yang belum pernah ada. Andaikan pun ada, apakah dipercaya? Karena tidak ada teorinya.

Lalu, belajar dari mana? Cara belajar kami diawali dengan cara membedah karya para maestro sastra. Ini menarik, kami jadi terbiasa untuk merasakan. Memahami, meresapi, dan akhirnya menuangkan.

Namun, itu pun ternyata masih tidak mudah. Maka cara selanjutnya adalah praktek. Baca baca, nulis. Baca lagi, nulis lagi. Semakin banyak baca diharapkan semakin mampu menulis. Namun itu juga ternyata masih jauh dari sempurna. Ya. Memang tidak mudah.

Lalu bagaimana? Saya mencoba menyederhanakan dalam analogi. Ketika hati begitu ingin makan kue coklat, maka cari kue coklat favorit itu. Lalu, coba resapi, rasakan bagaimana choco melting itu meleleh di dalam mulut, begitu manis, dan lembut. Simpan rasa dalam kecapan, catat, lalu tuangkan seberapa nikmatnya. Ketika kita mampu membuat orang lain ingin makan juga, di situ lah artinya kita telah menemukan rasa.

Selamat menemukan.

Desa Para Pembajak Sawah

Desa. Kampung. Tertinggal. Miskin. Petani. Nelayan. Itulah profil desaku. Tinggal di lokasi yang tak banyak bisa menuntut ini dan itu, rupanya sekarang menjadi sebuah cerita seru.

Desa. Ya, selama 15 tahun aku menghabiskan waktuku di sana. Tempat yang tak ada macam-macam seperti di kota. Jangan berharap apa-apa. Justru sebenarnya aku berhutang banyak padanya.

Desaku. Tempat para pembajak sawah berangkat pagi pulang petang. Saking cintanya pada kesederhanaan, sampai sekarang sawah pun masih digarap dengan tadah hujan. Bagaimana tidak banyak gagal? Ketika musim panen padi tak lagi menjanjikan perbaikan nasib kehidupan, maka harapan pun beralih ke jenis tanaman lain. Singkong, kacang, atau pun labu kuning. Bersuka cita panennya, tapi setelah itu bingung mau dijual ke mana. Ya, inilah desaku. Desa para pembajak sawah.

Kadang aku bingung. Desaku tak pernah bisa maju. Tersepuh oleh arus zaman, yang secara mental belum siap kami terima. Satu sisi, banyak anak mudanya bergaya bak artis ibukota. Anak-anak SMA pakai rok di atas lutut dengan bangga. Warung kopi pun tak pernah jeda dari sepi. Namun apa hasilnya. Desaku tetap tidak maju.

Aku kadang berpikir, kenapa para pembajak sawah ini harus jadi penghuni kasta terbawah? Bukankah negeri ini isinya tanah serta sawah? Entahlah … kaum yang senantiasa bodoh atau dibodohkan? Dibodohkan atau memang tidak dipintarkan? Desaku tak pernah maju. Sejak dulu hampir selalu begitu.

Benarkah tidak bisa maju?

Jika begitu, harusnya aku pulang untuk membangun desaku.

Diksi, Oh Diksi.

Diksi. Bagi saya yang masih sangat amatir, ternyata masalah diksi adalah masalah serius. Selama ini, membaca adalah syarat mutlak untuk bisa membuat sebuah tulisan yang bagus. Ternyata, bukan begitu pemahamannya.

Ada dua tipikal manusia membaca. Membaca untuk membaca, dan membaca untuk menulis. Bagi orang yang biasa membaca, dan memang hanya untuk membaca, maka tidak perlu menganalisis diksi dengan sangat detail. Berbeda dengan yang membaca untuk menulis, diksi adalah bagian dari analisis yang harus dicermati.

Kenapa diksi? Karena diksi mampu mengantarkan rasa, yang seharusnya benar-benar ingin disampaikan oleh penulis kepada pembaca. Sulit? Sangat. Jika kita tidak meneliti dengan cermat, dan melatihnya.

Ada salah satu cara yang mentor saya ajarkan untuk melatih diksi. Yaitu dengan membuat uraian atas kalimat singkat, agar lebih tergambarkan rasanya.

Misalnya, membuat uraian untuk ‘sekedar’ kalimat ini : Aku mencintaimu.

Dengan kemampuan saya yang masih sangat perlu dilatih, saya menjawab begini :

Aku mencintaimu

[4/15, 10:07 PM] Yuniar Ardhist:

1. Kutemukan kau selalu di situ. Tak pernah pergi. Meski detikku berusaha mengikis kenangan satu per satu. Ternyata ada sesuatu, yang tak pernah bisa kuubah, meski oleh waktu.

2. Bisikmu pada bulan setiap malam, semoga kita bisa memandangnya dari sudut yang sama. Entah kapan. Tapi kita paham satu hal, bulan kita sama. Meski sudut pandang kita masih berbeda.

3. Kenapa aku selalu ingin menunggumu? Bukankah waktu itu kau sudah memintaku pergi? Waktu seakan berhenti untukku menantimu. Namun kata mereka, aku telah begitu banyak menghabiskan waktu.

4. Menunggumu kembali, seperti menguras darahku sendiri. Semakin kering. Habis. Dan kau, masih tak kembali. Aku? Mati.

5. Tak pernah bisa kupahami. Kenapa hanya kau yang bisa menyalakan pijar di mataku. Begitu terang. Menyilaukan. Hingga hanya kau yang kulihat paling bersinar.

Kemudian, ditanggapi Mentor saya seperti ini :

[4/15, 10:26 PM] ‪Yuniar. Saya memolesnya dikit;

Aku mencintaimu.

1. Kutemukan kau di situ. Tak pernah pergi. Detik berusaha kuat mengikis kenangan. Satu per satu. Ada sesuatu tertinggal, yang tak pernah bisa kuubah, meski oleh waktu, meski oleh siapa pun, meski sampai kapan pun.

2. Bisikmu setiap malam, semoga kita bisa memandangnya dari sudut yang sama. Entah kapan. Tetapi yang pasti, kita paham satu hal, malam kita sama. Meski sudut pandang kita masih saja berbeda.

3. Mengapa aku selalu ingin menunggumu? Bukankah waktu itu kau sudah memintaku pergi jauh hingga lupa jalan kembali? Waktu seolah berhenti. Berhenti untukku. Untuk menantimu. Kata mereka, aku telah banyak menghabiskan waktu.

4. Menunggumu kembali ialah seperti menguras darah dalam tubuhku. Kian lama, kian kering. Lalu habis. Dan kau, masih saja tak kembali. Aku? Mati.

5. Tak pernah bisa kupahami, mengapa hanya kau yang bisa menyalakan sesuatu di mataku. Begitu terang. Sampai-sampai menyilaukan. Hingga hanya kau yang dapat kulihat terang.

Diksi, tidak mudah. Tapi, indah bukan?

Pijar 1000 Neon

Wanita renta berkalung selendang batik itu, berjalan pelan. Matanya tampak sangat kelam, hitam membulat, menatap dengan kosong ke arah depan. Punggungnya sudah cukup bungkuk, lebih dari 30 tahun memanggul dagangan.

Ya, namanya Mbok Mukijah. Wanita tua dengan daya pijar 1000 neon hadir di tengah-tengah manusia. Bekerja sebagai penjual jajanan pilus dan samier yang diracik sendiri dengan tangannya.

Perjalanan hari ini, terasa lebih berat dari hari-hari biasanya. Jarak tiga hingga lima kilometer, biasa ia tempuh setiap harinya. Untuk menghantarkan rasa sekedar kudapan bagi teman minum teh, atau penghabis senja. Pilus lima ratus rupiah, serta samier seribu tiga, tekun ia jajakan. Demi siapa?

Mbok Mukijah, wanita pejuang kehidupan. Sejak suaminya meninggal 10 tahun yang lalu, ketiga anaknya menjadi tanggung jawabnya sepenuhnya. Sekarang, ada seorang cucu yang ikut pula ditanggungnya. Cucu laki-laki yang sangat menggemaskan. Kulitnya yang putih, badannya yang selalu diisi dengan makanan bergizi, suatu siang datang bersama ayahnya.

Mbok Mukijah sangat terkejut. Lama tak bersua, anaknya datang bersama dengan cucunya. Tak hanya itu, sang anak membawa serta anak perempuan. Gadis kecil berpita merah, dengan bola mata sebesar rembulan saat purnama. Indah sekali.

Tak hanya itu, anak laki-lakinya datang, bersama juga dengan istri barunya. Ya, ia telah bercerai dengan istri lamanya. Istri barunya jauh lebih muda, dan sangat cantik. Kulitnya lebih mirip porselen yang mengkilat dan licin. Matanya indah, coklat keemasan. Sama seperti gadis berpita merah itu. Oh, rupanya anak ini mirip ibunya.

Suatu pagi, Mbok Mukijah membuat kehebohan. Seluruh kampung ia bangunkan. Ia berteriak-teriak, menangis, berlari mengetuk setiap pintu rumah-rumah tetangga.

“Ada apa, Mbok? Kenapa kau sebingung ini?”

Bu RT kaget mendengar pintunya diketuk dengan sangat keras.

“Bu, tolong Bu. Anak saya pergi dari rumah. Dia bawa beberapa uang simpanan saya. Sekarang, ia tinggalkan pula anaknya di rumah saya.” suara Mbok Mukijah terdengar antara mengiba dan berteriak. Batinnya perih, mendapati anaknya yang melakukan ini.

“Ya, Mbok. Lalu, Mbok mau kami mencari anak Mbok?”

“Bantu saya mengejarnya. Saya harus menemukannya. Saya ingin bertanya, kenapa ia juga tinggalkan anaknya?”

“Ke mana kami harus mengejar anak Mbok?”

“Jakarta. Dia pasti kembali ke Jakarta.”

Hening. Ibu RT pun tak lagi bicara. Ia hanya bisa mencoba menenangkan Mbok Mukijah.

Tahun berlalu. Mbok Mukijah masih sama. Hanya waktu yang berubah.

Lima belas tahun sudah usia cucunya. Kadang ia masih bertanya, ke mana ayah dan ibunya. Mbok Mukijah masih sama. Tak mampu menjawabnya.

Hari ini, rasanya lebih berat dari hari sebelumnya. Dadanya agak berat, lebih berat dari beban di punggungnya. Juga di pundaknya.

“Aku tidur sebentar ya, Le ….”

Cucunya mengangguk tanpa bertanya.

“Mak … mak … sudah masuk maghrib. Salat, yuk Mak!”

“Mak … Mak … Mak ….”

Daya 1000 pijar neon itu perlahan meredup.