Ketika Takdir Menyapa

Selasa, 20 Februari 2018

Tepat hari ke-30 pertemuan takdirku di sini, 30 Days Writing Challenge, Jilid 11.  Lucu rasanya saat  mencoba mengingat kembali bagaimana aku, akhirnya bergabung di dalam grup ini.

Waktu itu, sekitar tiga bulan sejak aku bergabung menjadi kontributor media online Bernas.id, ternyata aku memiliki performance yang sangat buruk. Tidak produktif untuk menulis. Namun, hal itu bukan tanpa alasan. Aku mengalami yang penulis sering bilang, Writer’s  Block yang disebabkan karena tulisanku mendapatkan remark  Tidak Layak Tayang (Tidak Layak Tayang). Akhirnya hal kecil itu yang membuatku berhenti. Hiks ….

Akibat dari mutung-ku itulah yang akhirnya membuatku terancam untuk dikeluarkan dari grup Creative Writer Academy, tempatku selama ini menimba ilmu dan sebagai wadah sesama kontributor Bernas.id. Sebelum dikeluarkan, ternyata ada masa pemutihan yang dilakukan oleh mentor, yaitu dengan membayar denda sejumlah artikel. Melihat performance-ku yang sangat buruk, sudah tentu banyak artikel yang harus aku setorkan. Saat kulihat, wow 20 artikel dalam 1 minggu! Hahaha…

Parahnya, hal itu baru kuketahui setelah hari ke-4, sehingga waktuku  hanya tersisa 3 hari lagi. 20 artikel, 3 hari, berarti harus membuat minimal 6 artikel dalam 1 hari. Woww!! Menulis 1 artikel saja sulit, apalagi 6. Namun, itu adalah konsekuensi, dan aku harus bisa lakukan jika tak ingin tersingkir.

Dengan perjuangan yang sungguh luar biasa, aku berusaha sangat keras. Namun, dalam keterbatasan waktu, hanya ada 16 artikel yang mampu kuselesaikan. Rasa untuk masih ingin bertahan, membuatku tidak bisa menyerah begitu saja. Jika aku hanya pasrah, pastilah sudah jelas nasibku selanjutnya. Akhirnya inilah justru yang membawaku ke 30 Days Writing Challenge, Jilid 11.

Bagaimana caraku untuk lolos dari penyisihan? Saya kontak langsung mentor kami, Kak Rezky Firmansyah. Selama ini beliau tampil sesekali saja, sehingga sangat jarang berkomunikasi. Saya meminta kepada beliau untuk memberikan toleransi waktu untuk 4 artikel. Saat ditanya butuh berapa hari, saya jawab cukup 2 hari. Oke, deal!

Komunikasi akhirnya membuat saya ingin lebih banyak bertanya, dan di situlah beliau mengenalkan pada saya tentang 30 Days Writing Challenge, Jilid 11. Sebenarnya saya sudah pernah diinfo mengenai DWC ini, tetapi masih belum tertarik untuk mengikuti. Namun, melalui penjelasan Kak Rezky, akhirnya saya putuskan untuk IKUT!

Akhirnya hari itu datang juga. Hari pertama di kelas 30DWC, Jilid 11 ….

Sekilas, hmm … mayan, sepertinya terorganisir, batinku setelah mendapatkan penjelasan tentang Empire, Squad, Guardian, Fighters, penjelasan tentang ‘aturan main’ grup, serta jadwal-jadwal kegiatan. Oke, cukup menarik, batinku.

Hari pertama langsung dimulai untuk menulis, dan dibawah arahan Guardian, maka tim Squad kami, Squad 10, diwajibkan menyetorkan link tulisan. Saya adalah tipikal yang tidak terlalu suka beramah tamah di awal, haha … Bukan, bukan karena sombong atau sejenisnya, tetapi tidak tahu bagaimana memulai, haha ….

Untung akhir satu karakter spesial muncul, Kak Butet, namanya. Dia memang menjadi pintu pembuka dalam Squad 10. Tipikalnya yang ceria, dan supel, membuat Squad 10 menjadi seperti keluarga pada akhirnya. Dia seperti bola karet yang memantul-mantul di lantai ruangan. Warnanya kadang merah, kuning, kadang juga hijau. Lucu sekali melihatnya. Akhirnya semua anggota squad melihat ke arah bola itu, termasuk saya yang awalnya tak peduli, dan hanya duduk di luar, asik sendiri.

Satu per satu akhirnya kami mengenal karakter masing-masing. Tidak ada kompetisi di antara kami para fighters. Selalu saling support dan membantu untuk tercapainya tujuan akhir bersama. Dalam 30DWC11 ini, saya sangat luar biasa mengapresiasi kerja sama tim. Tak akan mungkin tanpa karakter-karakter ini, akan bisa menjadi sebuah tim yang solid.

Guardian kami, Bu Muhib adalah orang yang sangat bijaksana, terlihat kalem, tetapi tegas. Memberikan arahan dan masukan yang baik untuk grup. Seperti seharusnya seorang leader, beliau adalah sosok ketua kelas yang hebat! Dalam ketegasannya yang kalem, beliau tetap  menjadi seorang ibu yang selalu menerima anaknya, dengan apa adanya. Tak lupa, pasti selalu memberikan dukungan kepada kami para anggotanya. Luar biasa!

Butet, tipikal gadis yang ceria dan mudah mencairkan suasana. Membuat kami semua selalu bisa tertawa dalam tekanan yang mungkin menyita pikiran dan batin dalam kehidupan nyata. Kak Butet mampu menjadi warna, menjadi pelangi, dan penyejuk di dalam squad kami. Hebat!

Yulia, gadis mahasiswa, lincah, dan ceria. Masih seperti kebanyakan anak muda di usianya. Ketika masalah terbesar sudah bukan hanya pada matematika, tetapi pada kisah cinta yang menunggu endingnya ke mana, haha…

Yoga, satu-satunya laki-laki di squad kami. Yang masih berusaha berjuang untuk menjadi ‘seseorang’. Yang kisah cintanya juga tak kalah memilukan, haha… Namun, tetap semangatlah untuk masa depanmu, nak … Agar siapapun yang pernah mengecewakanmu di masa lalu, akan menyesal di masa depan. Salah satu yang catat dari Yoga adalah sudah mengikuti kelas DWC sampai tiga kali, tetapi baru kali ini aksi menulis 30 hari tanpa henti, sanggup untuk diakhiri dengan manis. Good job!

Siti Romlah, dan Nur Padilah, dua dari anggota squad yang paling terlihat kalem. Maklum, kami hanya bisa meraba dalam dunia maya, tanpa pernah bertemu untuk berbicara. Dua orang yang sangat saya apresiasi juga bahwa dalam Squad 10 ini mampu menyelesaikan semua tantangan tanpa banyak bicara.

Ibu Desi, senior kami dalam usia khususnya. Keistimewaannya adalah semangat yang tidak banyak dimiliki oleh orang-orang selevelnya. Luar biasaaaa menginspirasi. Saya, yang katanya masih muda, masih banyak alasan untuk tidak bisa melakukan banyak hal. Malu sama Bu Desi ….

Saya, hanya orang yang ingin melawan diri saya sendiri. Selama ini, hal yang paling sulit adalah mengalahkan diri saya sendiri yang malas, penuh keraguan, ketakutan, dan terlalu santai menghadapi hari-hari. Padahal waktu tak bisa kembali. Sungguh, bukankah itu sangat rugi?

Akhirnya saya merasa bahwa ini sangat tidak sehat. Saya adalah ibu, saya adalah istri. Apa yang bisa saya harapkan dari sebuah keluarga yang tokoh utamanya tidak mau berkembang dan berpikiran maju? Maka, bagi saya 30DWC ini adalah salah satu wadah saya untuk melawan diri saya sendiri. Saya ingin mendapatkan energi dari lingkungan sebanyak-banyaknya untuk membantu pikiran saya agar tetap bisa bertumbuh.

Begitulah…

Banyak hal yang akhirnya saya dapatkan saat di DWC11 ini. Lalu apa kabar tentang tulisan saya? Apakah tujuan yang saya inginkan sudah tercapai?

Ada satu yang memang tercapai, yaitu menulis tanpa henti membuat akhirnya menjadikan menulis sebagai sebuah kebiasaan. Namun pertanyaannya, seberapa bagus kualitasnya? Yang itu menurut saya masih harus saya tanyakan. Kepada diri sendiri dan kepada pembaca.

Ada kalanya, saya ingin membuat sebuah tulisan gue banget! dalam tulisan yang kutorehkan. Namun, bagaimana bisa? Karakter tulisan saya saja masih belum bisa saya temukan. Jika pun sudah, apakah ada pembedanya dengan tulisan yang lain? Bagi saya belum.

Bagaimana mau jadi penulis handal, jika karakter tulisan saja tak mampu kita temukan. Itu yang menjadi pertanyaan terbesar saya saat  ini.

Lalu bagaimana?

Jawaban saya, pastinya terdengar klise, dan ingin terlihat mudah. Belajar.

Ahh … membosankan, bukan?

Jadi mau apa?

Untuk itu saya sedikit bermimpi. Bahwa saya bisa mendapatkan kelas lanjutan dari DWC ini. Kelas yang lebih membantu mengarahkan saya untuk menggali kekurangan saya, dan melatih kekuatan saya.

Dalam satu kesempatan yang diadakan oleh mentor malam ini, saya menyampaikan mimpi saya itu.

Namun, saya paham bahwa perumusan sebuah konsep pasti membutuhkan cerita dan pertimbangan yang panjang.

Saya, sebagai pemimpi, ingin mencoba mengawalinya.

Selamat berjuang bersama, teman-teman ….

Semoga kesuksesan kita di masa depan akan menjadi manfaat bagi lebih banyak orang.

Saya tak akan bilang, semoga sukses pada kalian.

Karena sukses bukan lagi impian, sukses bukan lagi pilihan. Tapi sukses, adalah sebuah keharusan.

Keep On Fire, fighters ….

Doa terbaik untuk kalian semua, di manapun berada.

Advertisements

Rasaku, Dalam Rasamu

Sent….

Done! Pikirku. Sekarang hanya tinggal menunggu pengumuman untuk lolos seleksi tahap Outlining. Ya, ini adalah project pertama dan terbesar yang pernah aku ikuti sampe saat ini. Project Kompetisi Kepenulisan Novella yang diselenggarakan salah satu penerbit di Indonesia.

Beberapa waktu terakhir ini, aku memang sedang memfokuskan diri untuk belajar dalam dunia kepenulisan. Bukan tidak sengaja tiba di sini. Namun, aku memang sengaja meminta kepada Allah untuk membuatku bertemu dengan dunia penulis, seperti mimpi masa kecil dulu.

“Yaa Allah … Aku ingat, bahwa dulu saat aku masih SD, aku bermimpi bisa menjadi seorang penulis.” curhatku pada Allah di suatu malam. “tapi aku tak tahu caranya, yaa Allah. Apakah dalam kehidupanku yang sekarang, diri ini masih punya kesempatan untuk melanjutkan mimpi?” tanyaku dalam doa waktu itu.

“Jika memang masih Engkau berikan kesempatan untukku, aku pasti akan sangat bahagia dan bersyukur pada-Mu. Akan kujalani kehidupanku sebagai penulis seperti yang kuimpikan lebih dari dua puluhan tahun yang lalu.” Lanjutku dalam doa, sekaligus berharap jawaban dari Allah.

Masih kuingat dengan jelas doaku itu, dan sekarang, aku di sini. Bersama dengan deadline yang menunggu. Pertama kali aku mengakrabkan diri dengan dunia penulis ini, rasanya masih seperti meraba-raba, hingga kini aku bertemu dengan kompetisi ini.

Melihat kompetisi ini membuatku ragu sekaligus tertarik. Ragu karena sudahlah tentu tak akan mungkin diriku menang, mengingat sama sekali belum memahami teknik kepenulisan. Namun, ini adalah salah satu cara yang paling cepat untuk belajar, begitu pikirku. Akhirnya ku bulatkan tekad untuk mengikutinya.

Akhirnya hari ini ku kirimkan juga materi untuk seleksi tahap awal, yaitu Outline. Dan segera keesokan harinya, aku dinyatakan lolos seleksi.

Begitu girangnya, dan sangat bersemangat untuk memulai menggarap naskah novel pertamaku. Ya, sampai di tahap awal ini membuatku yakin bahwa aku mampu juga untuk lolos di seleksi tahap berikutnya.

Setiap tahapan seleksi hanya diberikan waktu selama satu minggu untuk menuliskan naskah untuk disetorkan. Dari hasil outline yang aku buat, tertulis ada sepuluh bab yang harus kuselesaikan dalam enam tahap seleksi. Itu artinya rata-rata satu hingga dua bab harus kuselesaikan dalam seminggu sebagai materi yang diseleksi.

Setelah lolos tahap Outlining, sekarang mulai kubuat naskah untuk seleksi awal yaitu Bab I dan II saja dulu. Sebenarnya cukup mudah, hanya saja sulit sekali untuk mencari waktu dan fokus dalam suasana yang dibangun.

Seminggu kemudian, pagi-pagi sekali langsung kucari pengumumannya di Facebook.

Yeaaayyyy!! Aku lolos seleksi tahap 1. Semakin optimis aku untuk maju di tahap berikutnya. Selanjutnya adalah seleksi tahap ke-2. Sekali lagi, aku dianggap masih cukup bisa meneruskan perjuanganku di sini.

Keesokan harinya,  di daftar pengumuman tertulis namaku untuk mengikuti tahap selanjutnya yaitu tahap 3. Woow! Luarrr biasa, pikirku. Dengan penuh semangat, aku kirimkan materi untuk dikoreksi di tahap ke-3. Kembali, pagi-pagi aku bergegas untuk mengecek apakah namaku ada di salah satu nama peserta yang lolos. Tapi, ternyata kabar yang kuterima tak sesuai yang kuharapkan. Di tahap ke-3 inilah aku dinyatakan tidak lolos. Sedih, dan merasa gagal.

Namun, ya itulah kenyataan yang harus aku hadapi. Bahwa inilah kompetisi. Pasti semakin lama, semakin sulit dan memang harus ada yang tereliminasi. Aku memang sedih karena mimpiku untuk segera bisa membuat buku sendiri pupus di sini.

Dalam kesedihanku, rasa kecewaku, maka aku pun mulai bisa mengingat kembali apa tujuan untuk mengikuti kompetisi ini. Sewaktu di awal, aku hanya ingin menjajal kemampuan menulisku. Sejak awal sudah jelas, bahwa aku hanya ingin mengetahui dan juga mendapatkan ilmu tentang kepenulisan. Namun di atas semua itu, aku bahagia. ‘Rasa’ yang ingin kuungkapkan dalam novel , mungkin masih belum sebaik peserta lain, atau belum sesuai standar ‘rasa’ yang kau harapkan. Tetapi, sekarang aku tahu di mana posisi kemampuanku. Semoga suatu hari nanti, ‘rasaku’ bisa berhasil mengetuk pintu ‘rasamu’.

 

Sekolah, Untuk Apa?

Pendidikan, adalah hal yang selalu saya sepakati untuk terus didengungkan. Bukan hanya karena latar belakang saya yang dari keluarga pendidik. Namun, karena bagi saya pendidikan lebih dari sekedar memberikan bekal pengetahuan. Pendidikan adalah simbol sebuah peradaban.

Selama beberapa tahun terakhir, kehidupan saya akrab sekali dengan perubahan lingkungan. Hampir setiap tahun, domisili selalu berpindah dari satu kota ke kota lainnya. Sangat memungkinkan juga untuk berpindah negara.

Salah satu hal yang paling membutuhkan perhatian besar adalah masalah pendidikan anak. Setiap kali berpindah kota, saya pasti akan melakukan survey ke beberapa lembaga pendidikan yang kami anggap memiliki concern yang bagus pada potensi pengembangan kemampuan anak.

Ada beberapa hal yang kami anggap penting dimiliki lembaga penyelenggara pendidikan, dalam hal ini adalah sekolah formal. Antara lain :

  1. Tingkat kompetensi tenaga pendidik

Kompetensi tenaga pendidik menempati posisi paling penting yang harus kami pastikan. Kompetensi bukan saja dilihat dari latar belakang pendidikan sang guru, tetapi juga bagaimana cara guru untuk membangun komunikasi dengan anak.

Sampai titik ini, kesimpulan yang saya dapatkan adalah latar belakang guru dari jurusan Ilmu Pendidikan sangat penting. Selain itu, kami menganggap guru yang kompeten adalah guru yang mencintai profesinya, bangga akan tugasnya sebagai guru, dan memiliki mental mendidik, tidak hanya mengajar.

  1. Fasilitas sekolah

Pertimbangan kami selanjutnya adalah fasilitas yang mampu ditawarkan sekolah. Banyak yang menafikan hal ini. Menganggap bahwa ini adalah hal yang tidak terlalu penting, karena terkait dengan biaya. Pandangan saya, tidak mungkin sesuatu berkembang maksimal jika tidak didukung oleh fasilitas yang mendukung.

Namun, yang lebih penting bukan ketersediaan fasilitas, tetapi pemanfaatan fasilitas. Bagaimana misal sekolah yang dilengkapi oleh fasilitas teknologi dengan perbandingan 1:1 mampu menjawab kebutuhan pengetahuan anak. Terkait dengan biaya pendidikan, memang tidak bisa dipungkiri bahwa sekolah yang memiliki fasilitas lebih banyak biasanya mematok angka biaya pendidikan yang lebih tinggi. Tapi jangan pesimis parents, yang paling penting telah mengusahakan yang terbaik sesuai kemampuan.

  1. Kurikulum

Pertimbangan lainnya yang juga sangat penting adalah tentang kurikulum. Kurikulum secara singkat didefinisikan sebagai rencana pembelajaran yang dijadikan acuan, disusun, dirancang, dan dilaksanakan lembaga pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan. Sejumlah pakar menyepakati bahwa jantung pendidikan terletak pada kurikulum. Kurikulum juga dianggap sebagai ‘pengejawantahan’ visi dan misi sekolah.

Ketiga hal ini yang paling dominan mempengaruhi pertimbangan dalam menentukan lembaga pendidikan sekolah mana yang paling tepat untuk anak saya. Jika ditanya sepenting itukah peran sekolah? Bukankah pendidikan yang utama justru dari rumah? Lalu untuk apa sekolah?

Jawaban saya adalah karena tidak semua ilmu mampu ditransfer oleh orang tua. Pendidikan di rumah lebih kepada pembangunan karakter, sopan santun, dan penanaman nilai-nilai agama. Sedangkan pendidikan di sekolah lebih kepada penguasaan keilmuan, meskipun unsur mendidik harus tetap disertakan dalam proses pengajaran.

Para guru adalah elemen yang memang dilatih untuk memiliki keahlian khusus yang mungkin tidak dimiliki oleh orang tua. Bahkan sering kali terjadi, orang tua justru ikut ‘belajar’ dari pendidikan di sekolah anaknya. Maka pilihlah lembaga pendidikan, dalam hal ini sekolah, yang benar-benar mendukung visi dan misi pendidikan kita sebagai orang tua.

 

Di Balik Gong Xi Fa Chai

Hari ini, sekolah anak saya mengadakan Chinese New Year Celebration sebagai salah satu agenda kegiatan tahunan. Anak-anak di sekolah terlihat begitu antusias untuk menyambut hari ini. Beberapa minggu sebelumnya, kami para orang tua sudah diminta untuk membantu perencanaan kegiatan. Mulai dari mempersiapkan kostum, food sharing menu antar kelas, dimana setiap kelas akan diminta untuk membawa tema makanan yang berbeda, serta anak-anak yang latihan untuk perform untuk gerak dan lagu dalam bahasa mandarin.

Gong Xi

Akhirnya hari yang ditunggu tiba. Anak-anak, orang tua, dan para guru berkumpul bersama untuk memulai kegiatan. Kegiatan diawali dengan penampilan dari anak-anak kelas 1 dan 2 setingkat Sekolah Dasar. Di sekolah, kami menyebutnya dengan P1 dan P2. Anak-anak P1 dan P2 berkolaborasi untuk menyajikan barongsai, yang kemudian diberi angpao oleh para penonton. Anak-anak bersorak dengan girang.

Gong Xi 1

Pertunjukan selanjutnya adalah performance yang disajikan oleh anak-anak Pre-K atau setingkat Play Group. Mereka membawakan gerak dan lagu dengan sangat lucu. Penonton pun bersorak bahagia. Berikutnya adalah giliran anak K1, K2, hingga P3. K1 dan K2 adalah tingkatan selevel TK A dan TK B. Mereka pun terlihat sangat luar biasa gembira.

Gong Xi 2

Ada yang menarik di benak saya, ketika mereka mengucapkan,

Gong Xi Fa Chai,  Wan Shi Ru Yi, Xin Nian Jin Pu, Shen Ti Jian Kang, Xin Nian Kuai Le”

Yang artinya adalah “Selamat Sejahtera, Semoga sukses, Memiliki kemajuan yang lebih baik untuk tahun baru ini, Memiliki kesehatan yang lebih baik, Selamat Tahun Baru.”

Gong Xi 3

Ternyata banyak di antara kita yang mengira bahwa ucapan Gong Xi Fa Chai yang sudah akrab di telinga masyararakat Indonesia ini diartikan sebagai ucapan ‘Selamat Tahun Baru’ , padahal sebenarnya artinya bukan itu.

Jika ditilik ke dalam sejarah China Kuno, memang asal muasalnya sudah terlalu tua untuk ditelusuri. Namun ada beberapa penjelasan yang coba untuk diberikan. Ada salah satu versi yang mengatakan penggunaan kalimat Gong Xi Fa Chai berawal sebagai ucapan pemberian selamat di antara penduduk China, untuk merayakan berlalunya musim dingin yang luar biasa kerasnya. Pada perkembangan selanjutnya, seiring dengan kemampuan China untuk bertahan dan bisa melalui masa-masa sulit itu, membuat China menambahkan kata Fa Chai yang artinya selamat atau makmur. Hal itu melambangkan adanya harapan dari masyarakat China akan masa depan yang lebih baik, disertai dengan kemakmuran dan kesejahteraan dalam ekonomi.

Ada juga hal menarik dalam versi lain cerita asal muasal Gong Xi Fa Chai ini jika ditilik dari legenda China Kuno.  Legenda pertama mengisahkan bahwa Gong Xi digunakan sebagai ucapan selamat, ketika penduduk China berhasil selamat mengatasi binatang buas Nian yang kerap memangsa mereka. Padahal kata Nian, dalam bahasa China modern berarti ‘tahun’. Nian hidup di dasar laut, memiliki mulut besar sehingga bisa menelan manusia. Nian hanya akan muncul menjelang tahun baru dan mencari korban manusia maupun hewan. Akhirnya muncul seorang tua yang menawarkan bantuan untuk mengusir Nian. Akhirnya Nian berhasil diusir oleh orang tua itu menyalakan petasan dengan suara keras dan membuat Nian ketakutan. Ternyata orang tua itu adalah seorang dewa. Sebelum dewa itu pamit, ia berpesan kepada penduduk untuk memasang dekorasi dengan kertas merah pada pintu maupun jendela setiap akhir tahun. Warna merah adalah warna yang paling ditakuti Nian.

Cerita legenda ini berbeda dengan versi yang dituliskan oleh Wikipedia. Di situ dikisahkan bahwa Nian selalu muncul hari pertama di tahun baru dengan mengambil ternak dan memakan manusia, terutama anak-anak. Untuk melindungi diri, maka semua warga desa menyediakan makanan untuk Nian, berharap agar Nian hanya memangsa makanan itu saja. Suatu hari, Nian diketahui ketakutan setelah melihat ada anak yang memakai baju merah. Akhirnya diambil kesimpulan bahwa Nian takut dengan warna merah. Untuk itu, setiap tahun baru, penduduk akan memasang lampion, dan hiasan-hiasan gulung lainnya di setiap pintu dan jendela, serta menyalakan petasan yang bersuara keras. Di akhir cerita, nasib Nian berakhir di tangan seorang pendeta Tao bernama Hongjun Laozu, dan berubah menjadi gunung.

Lalu bagaimana kita sebagai masyarakat Indonesia menyikapi perayaan tahun baru China yang terlihat sangat semarak di banyak tempat di Indonesia? Satu hal yang sangat penting untuk dipahami, bahwa Indonesia adalah negara yang penuh keragaman. Bukan hanya bahasa dan agama, tetapi juga secara budaya. Sehingga seluruh masyarakat Indonesia harus saling menghargai dan memiliki rasa toleransi.

Hal kedua yang harus dipahami adalah, perayaan Imlek atau Tahun Baru China bukanlah sebuah ritual keagamaan. Imlek adalah kebudayaan. Sehingga tidak tepat jika dihubungkan antara perayaan Imlek dengan urusan keagamaan seseorang. Maka reaksi yang diberikan harus sudah memiliki pemahaman betul pada kedua hal ini.

Di Indonesia, Tahun Baru Imlek menjadi hari libur nasional mulai pada tahun 1999. Indonesia adalah negara yang terkenal dengan reputasi keberagamannya, dengan sebagian penduduk Indonesia adalah dari etnis Tionghoa. Dengan disahkannya Tahun Baru Imlek sebagai hari libur nasional maka masyarakat keturunan Tionghoa dimungkinkan untuk berkumpul merayakan pergantian tahun dengan seluruh keluarga besar dengan berbagai tradisi, seperti pemberian amplop merah, serta makan kue keranjang, nastar, dan mie.

Sudah sepantasnya kita sebagai masyarakat Indonesia yang menganggap perbedaan sebagai sebuah hal biasa, tetap selalu saling menghormati, menghargai, menjunjung tinggi kerukunan, persatuan, dan kesatuan demi menjadikan bangsa  Indonesia yang kita cintai, sebagai bangsa yang kuat, dan hebat di mata dunia.

Sumber Referensi :

  1. https://sites.google.com/a/gongxifatchoi.com/gong-xi-fat-choi—imlek-resources/home
  2. http://www.publicholidays.co.id

Aku Guru, Aku Murid

Adakah yang pernah bertanya kepada orang tua, atau kawan-kawan masa sekolah, “Untuk apa sekolah?” Lalu kira-kira apa jawaban mereka? Menjadi pandai, disayang orang tua, atau apa? Mungkin juga ada yang menjawab, “tidak tahu.”

Berbagai masalah pendidikan memang sudah menjadi International Issues. Di Indonesia sendiri, banyak permasalahan dalam pendidikan yang belum berhasil dipecahkan. Di tengah riuhnya politik, ekonomi, dan konflik sosial, di mana posisi pendidikan?

Pertanyaan kedua, adakah yang pernah bertanya pada anak-anak, bagaimana rasanya menjadi murid? Kira-kira jawaban apa yang akan kita dapatkan? Gak enak, bosan, bahagia, atau apa? Sekali lagi, jika Anda mendapatkan jawaban anak yang relatif tidak menyenangkan sebagai murid, mungkin perlu dilakukan evaluasi bersama antara orang tua, guru, dan anak.

Ada beberapa komponen yang dianggap memiliki peran penting akan keberhasilan sebuah pendidikan. Antara lain, tujuan pendidikan, peserta didik, pendidik, metode pendidikan, materi pendidikan, lingkungan pendidikan, serta alat dan fasilitas pendidikan. Namun, pernahkah mencoba untuk menilik diri sendiri, bahwa sesungguhnya setiap manusia diciptakan Tuhan sebagai guru, sekaligus murid.

Istilah long-life-learning ­Education menyiratkan makna bahwa belajar adalah sebuah proses, yang dimulai sejak manusia lahir, hingga meninggal. Setiap orang punya dorongan sejak lahir untuk mengembangkan diri, mendapatkan pendidikan seumur hidup, meningkatkan pengetahuan, serta ketrampilan. Maka, sesungguhnya setiap manusia adalah guru bagi dirinya sendiri.

Setiap manusia adalah guru, sekaligus juga sebagai murid. Ada beberapa prinsip yang harus diterapkan dalam konsep menjadi murid. Antara lain :

1. Learning to live together, yaitu belajar untuk memahami, mengerti pemikiran, dan cara pandang orang lain, yang sangat mungkin tidak sama. Banyak aspek yang harus dipahami, misal latar belakang, nilai-nilai keyakinan yang dianutnya, dan sebagainya.

2. Learning to know, yaitu belajar untuk meningkatkan kemampuan penguasaan dalam suatu bidang tertentu. Jika seseorang hadir sebagai seorang murid, maka ia bisa menerima transfer ilmu dengan baik.

3. Learning to do, yaitu belajar mengaplikasikan ilmu yang telah didapatkan dari learning to know. Dalam learning to do dibutuhkan kemampuan untuk bisa saling bekerja sama, berkolaborasi, belajar memecahkan masalah, dalam berbagai situasi yang dihadapi.

4. Learning to be, yaitu proses belajar untuk menjadi pribadi yang mandiri, dan bertanggung jawab untuk mewujudkan tujuan bersama.

Untuk itu, saya sangat mendukung sebuah gerakan yang bernama Semua Murid Semua Guru yang digagas oleh Najeela Shihab, sebagai sebuah gerakan untuk membuat perubahan yang lebih baik di dunia pendidikan anak. Sebagai gaungnya, publik pun bisa mengambil peran dengan menyebarkan dan memberikan informasi edukasi  yang bermakna untuk orang lain di sekitarnya.

Sesuai dengan Pasal 31, ayat 1, Undang-Undang Dasar 1945 yang berbunyi, “Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan.” Tidak hanya hak, tapi pendidikan adalah tanggung jawab seluruh lapisan masyarakat. Sehingga semua orang Indonesia wajib ikut terlibat dalam memajukan pendidikan di Indonesia.

Dalam proses itu, maka dimulai dari peran individu. Setiap orang membawa pesan untuk menjadi guru sekaligus murid, bagi diri sendiri, maupun orang lain. Memulainya di lingkungan sendiri, hingga menjadi teladan bagi orang lain. Serta tetap belajar untuk mengembangkan diri, meningkatkan kemampuan dan ketrampilan agar mencapai tujuan  long-life-learner.

Aku Guru, Aku Murid. Semoga tak akan ada lagi anak-anak dengan jawaban yang sudah pernah kita dengar, sejak puluhan tahun yang lalu.

Daftar Referensi :

1. http://anggritavita.blogspot.co.id/2013/11/konsep-life-long-learning-eduvation.html?m=1
2. http://izzazhoetd.blogspot.co.id/2011/12/komponen-komponen-pendidikan.html?m=1
3. http://www.alfasingasari.com/2017/01/pasal-31-ayat-1-2-3-4-5-uud-1945.html?m=1
4. https://www.haibunda.com/aktivitas/d-3783715/semua-murid-semua-guru-gerakan-untuk-perubahan-pendidikan
5. https://www.google.co.id/amp/s/m.kumparan.com/kartika-pamujiningtyas/najeela-shihab-semua-murid-semua-guru.amp

Aku, Indonesia

Rasaku sungguh resah,

ketika ku lihat kau mengacungkan jarimu. Tapi, bukan untuk menunjukkan kealpaan dalam dirimu. Kau malah acungkan telunjuk itu pada mereka yang kau anggap tak sama dengan seleramu.

Rasaku sungguh resah,

ketika kini tak lagi kau acungkan jarimu, tapi malah kau kepalkan tanganmu. Tapi bukan untuk menguji kesabaranmu, malah kau gunakan untuk menjatuhkan mereka yang tak sepaham denganmu.

Sejujurnya ingin kuketuk nuranimu, ingin kulongokkan kepalaku, untuk melihat apa isi hatimu.

Benarkah karena surga sudah dalam dekapanmu, sehingga kau anggap neraka adalah tempat bagi yang lainnya?

Aku Indonesia, memang sudah begini sejak lahir dulu kala.

Lantas kau ingin mengubahku menjadi apa?

Aku adalah Indonesia. Aku bukan agama, bukan suku, bukan ras, dan bukan golongan yang kau sukai saja. Aku tak mau kau dekte menjadi bukan diriku.

Kadang aku merasa kau lucu, ketika kau benci karena mereka tak seagama denganmu.

Kadang aku juga merasa kau lucu, ketika kau benci mereka yang tak sewarna kulit, tak sama bentuk mata, juga tak sama tipikal rambutnya, hanya karena tak sama denganmu.

Kadang aku juga merasa kau lucu, ketika kau sangka satu golongan lebih buruk dari golonganmu.

Lalu, apa kau mau hidup sendiri di muka bumiku ini, hai manusia?

Aku Indonesia, memang sudah begini sejak lahir dulu kala.

Lantas kau mau mengubahku menjadi apa?

Aku adalah kemajemukan, aku adalah toleransi, aku adalah kerukunan, dan aku adalah persatuan.

Katamu, kau lahir di sini. Tapi kau lupakan jati diri sendiri.

Kenapa tak bisa kau cintai semua karena berbeda

Kenapa tak kau pahami, bahwa tak mungkin semua hal menjadi sama?

Aku Indonesia, memang sudah begini sejak lahir dulu kala.

Lantas kau mau mengubahku menjadi apa?

Bagiku, antara manusia dan Tuhan punya hubungan yang tak bisa kau adili.

Karena memang bukan bagian dari tugasmu, wahai manusia ….

Semakin tinggi nilaimu di mata Tuhan, harusnya semakin cinta dirimu pada makhluk-makhluk-Nya.

Ingat, tugasmu hanya menyampaikan, bukan menggantikan Tuhan.

Aku Indonesia, memang sudah begini sejak lahir dulu kala.

Tak akan kubiarkan engkau menghancurkannya ….

Atau kau pergi saja ….

Jika Esok Tak Pernah Datang

Sebuah pertanyaan besar saat itu muncul dari balik meja kerjaku. Bertumpuk dokumen menunggu untuk dibaca, berbagai email masuk menunggu untuk dibalas, serta beberapa target project menunggu untuk dilaksanakan sesuai dengan timeline yang ditentukan. Namun entah mengapa, hari itu justru aku memikirkan hal lainnya.

Kudengar selentingan kabar, bahwa perusahaan akan ‘merumahkan’ begitu banyak karyawan. Tidak ada jaminan bisa ‘selamat’ meskipun jabatannya sudah di level aman. Sungguh menakutkan! Baru urusan beginian, tapi rasanya sudah seperti kiamat yang hampir datang.

Ya, dunia semakin tidak menentu saja, pikirku. Namun bukan itu yang menjadi masalah utama. Jika memang aku menjadi salah satunya, lalu apa yang harus kulakukan setelahnya? Selama ini hidupku sangat ‘nyaman’ dengan gaji-gaji yang rutin ku terima setiap bulan. Setiap akhir pekan, ku hamburkan uang untuk bersenang-senang dengan teman-teman. Dalam sebulan, mungkin bisa kubeli 2 tas bermerek internasional. Luar biasa, bukan? Tapi, jika aku dianggap tak ‘berharga’, lantas apa yang bisa ku lakukan kemudian?

Telepon berdering, rupanya Si Bos memintaku untuk datang ke ruangannya. Belum juga berdiri, tapi lutut ini rasanya sudah tak ada tenaga. Tenang, ini bukan karena kau mau di-PHK, sudah … segera saja ke sana, turuti apa maunya, begitu batinku bersuara.

Dalam sehari itu, ku dengar dua orang Kepala Bagian Accounting tamat riwayatnya. Waktunya hanya dua minggu untuk membereskan semua barang-barangnya. Perusahaan tak mau tahu, yang penting rencana perampingan tenaga kerja bisa dicapai sebagai bentuk komitmen perusahaan. Perusahaan ingin membuat sebuah rencana kerja yang lebih efektif dan efisien di masa depan. Terlalu banyak orang tidak sejalan dengan rencana mereka. Itulah kenapa banyak karyawan harus ikut menanggung resikonya.

Aku, bagaimana nasibku? Selama ini aku merasa semua akan baik-baik saja. Kuliah di perguruan tinggi negeri, cari nilai sebaik-baiknya, lulus secepat mungkin, mendaftar pekerjaan di perusahaan-perusahaan besar ternama, atau, ya … di kantor pemerintah saja, lumayan juga. Setelah itu, berkarir dengan sebaik-baiknya, dan nikmati hidup senikmat-nikmatnya. Yang akan terjadi nanti, ya sudah dipikir nanti saja lah ….

Aku lupa bahwa tidak pernah ada jaminan bahwa esok pasti akan datang. Tidak juga ada jaminan bahwa esok pasti akan lebih baik. Aku lupa untuk mempersiapkan masa depan, karena merasa telah sampai di kehidupan yang ku inginkan. Namun ternyata, itu juga yang membuatku lupa, bahwa ini adalah zona nyaman, bukan zona aman.

Kehidupan, memang sudah begini sejak awal mulanya. Tidak pernah mudah untuk menjalaninya. Kini, mungkin aku memang sedikit terlambat. Kesadaranku sangat telat dibandingkan mereka yang ku lihat dulu biasa saja. Mereka bukan biasa saja, tapi justru sedang menyimpan amunisinya.  Sekarang aku pun harus belajar dari apa ku tanam. Agar meskipun tidak sempurna, tapi masih bisa aku berharap, yang ku tuai tidak terlalu mengecewakan.

Kutekadkan diri untuk keluar dari zona nyaman. Jika dulu aku biasa mengatakan, “Yang nanti, dipikir saja gimana nanti lah …. ” sekarang harus ku ubah cara berpikirku menjadi, “Nanti gimana?”

Aku harus meyakinkan diri sendiri bahwa masih ada kesempatan bagi diriku, masih ada yang bisa ku lakukan untuk masa depanku. Tinggalkan mindset untuk merasa tenang, merasa hari esok pasti akan datang. Setiap hari harus diisi dengan perjuangan, dan perubahan. Jangan merasa nyaman, jangan merasa aman.

Memulai langkah bisnis, ataupun investasi adalah salah satu cara yang bisa ku pertimbangkan. Jika dulu selalu merasa nyaman dengan semua hal rutin yang biasa terjadi, kini tak boleh lagi. Kini, setiap hari, setiap saat, harus diisi dengan perubahan-perubahan. Manfaatkan waktu untuk hal-hal positif dan produktif, serta pergunakan segala aset dan sumber daya dengan bijaksana. Coba tantang diri sendiri untuk melakukan hal-hal baru, hingga suatu hari nanti, masa depan akan berterima kasih padaku.

Ddddrrtt … dddrrrtttt … ddddrrttt …. (ponsel bergetar)

Astaga kenapa aku masih di sini? Aku pun akhirnya tersadar.

Dua puluh menit berlalu dalam lamunanku. Pak Boss sudah menunggu. Oke, aku pergi dulu. Tapi ada satu hal penting yang bisa kudapatkan. Bahwa setelah ini, aku bertekad untuk keluar dari zona nyaman. Siap menuju zona aman. Bukan hal mudah, aku tahu … tapi tak ada cara terbaik untuk membuktikan, selain mencobanya, kan?

 

You’ll never change your life, until you change something you do daily. The secret of your success is found in your daily routine ….