Sekolah, Untuk Apa?

Pendidikan, adalah hal yang selalu saya sepakati untuk terus didengungkan. Bukan hanya karena latar belakang saya yang dari keluarga pendidik. Namun, karena bagi saya pendidikan lebih dari sekedar memberikan bekal pengetahuan. Pendidikan adalah simbol sebuah peradaban.

Selama beberapa tahun terakhir, kehidupan saya akrab sekali dengan perubahan lingkungan. Hampir setiap tahun, domisili selalu berpindah dari satu kota ke kota lainnya. Sangat memungkinkan juga untuk berpindah negara.

Salah satu hal yang paling membutuhkan perhatian besar adalah masalah pendidikan anak. Setiap kali berpindah kota, saya pasti akan melakukan survey ke beberapa lembaga pendidikan yang kami anggap memiliki concern yang bagus pada potensi pengembangan kemampuan anak.

Ada beberapa hal yang kami anggap penting dimiliki lembaga penyelenggara pendidikan, dalam hal ini adalah sekolah formal. Antara lain :

  1. Tingkat kompetensi tenaga pendidik

Kompetensi tenaga pendidik menempati posisi paling penting yang harus kami pastikan. Kompetensi bukan saja dilihat dari latar belakang pendidikan sang guru, tetapi juga bagaimana cara guru untuk membangun komunikasi dengan anak.

Sampai titik ini, kesimpulan yang saya dapatkan adalah latar belakang guru dari jurusan Ilmu Pendidikan sangat penting. Selain itu, kami menganggap guru yang kompeten adalah guru yang mencintai profesinya, bangga akan tugasnya sebagai guru, dan memiliki mental mendidik, tidak hanya mengajar.

  1. Fasilitas sekolah

Pertimbangan kami selanjutnya adalah fasilitas yang mampu ditawarkan sekolah. Banyak yang menafikan hal ini. Menganggap bahwa ini adalah hal yang tidak terlalu penting, karena terkait dengan biaya. Pandangan saya, tidak mungkin sesuatu berkembang maksimal jika tidak didukung oleh fasilitas yang mendukung.

Namun, yang lebih penting bukan ketersediaan fasilitas, tetapi pemanfaatan fasilitas. Bagaimana misal sekolah yang dilengkapi oleh fasilitas teknologi dengan perbandingan 1:1 mampu menjawab kebutuhan pengetahuan anak. Terkait dengan biaya pendidikan, memang tidak bisa dipungkiri bahwa sekolah yang memiliki fasilitas lebih banyak biasanya mematok angka biaya pendidikan yang lebih tinggi. Tapi jangan pesimis parents, yang paling penting telah mengusahakan yang terbaik sesuai kemampuan.

  1. Kurikulum

Pertimbangan lainnya yang juga sangat penting adalah tentang kurikulum. Kurikulum secara singkat didefinisikan sebagai rencana pembelajaran yang dijadikan acuan, disusun, dirancang, dan dilaksanakan lembaga pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan. Sejumlah pakar menyepakati bahwa jantung pendidikan terletak pada kurikulum. Kurikulum juga dianggap sebagai ‘pengejawantahan’ visi dan misi sekolah.

Ketiga hal ini yang paling dominan mempengaruhi pertimbangan dalam menentukan lembaga pendidikan sekolah mana yang paling tepat untuk anak saya. Jika ditanya sepenting itukah peran sekolah? Bukankah pendidikan yang utama justru dari rumah? Lalu untuk apa sekolah?

Jawaban saya adalah karena tidak semua ilmu mampu ditransfer oleh orang tua. Pendidikan di rumah lebih kepada pembangunan karakter, sopan santun, dan penanaman nilai-nilai agama. Sedangkan pendidikan di sekolah lebih kepada penguasaan keilmuan, meskipun unsur mendidik harus tetap disertakan dalam proses pengajaran.

Para guru adalah elemen yang memang dilatih untuk memiliki keahlian khusus yang mungkin tidak dimiliki oleh orang tua. Bahkan sering kali terjadi, orang tua justru ikut ‘belajar’ dari pendidikan di sekolah anaknya. Maka pilihlah lembaga pendidikan, dalam hal ini sekolah, yang benar-benar mendukung visi dan misi pendidikan kita sebagai orang tua.

 

Advertisements

Motherhood

Hari ini saya diminta untuk hadir di acara Coffee Morning, sebuah istilah untuk mengajak orang tua dan guru di sekolah anak saya untuk bertemu, berkumpul, dan membicarakan sesuatu. Untuk kali ini, kami akan membahas terkait MAP Recap, Upcoming Events, dan Pick Up Cards. Namun, bukan itu yang ingin kita bahas di sini. Namun, ada sesuatu yang lebih penting untuk kita renungkan kembali.

Diantara banyak sekali kesibukan yang harus saya selesaikan setiap hari, ada timing yang membuat saya kembali teringat saat dulu pernah ditanya, ‘Jurusan’ apa yang ingin saya ambil di Universitas Kehidupan yang saya jalani. Banyak sekali peran-peran yang harus bisa saya mainkan, tetapi jika diminta untuk memilih salah satu saja, apa ‘peran’ yang ingin saya ambil.

Kembali lagi saya meyakinkan diri, bahwa dalam Universitas Kehidupan ini, saya memilih untuk masuk dalam Fakultas bernama Keluarga. Jurusannya? Jurusan Ilmu Pengasuhan (Parenting). Sejak mendedikasikan kehidupan saya di situ, banyak sekali hal yang berubah dari cara pandang saya selama ini. Saya, 10 tahun yang lalu, tak pernah berpikir untuk bisa seperti ini.

Hari ini, ketika meeting telah usai, saya pulang dengan membawa banyak sekali pemikiran. Bukan hanya karena sebuah hal baru yang saya dapatkan, tetapi juga terasa disentil dan diingatkan kembali. Bertemu dengan beberapa kawan yang memiliki keluasan berpikir dan beragam wacana, ternyata sangatlah membuka wawasan bagi pandangan saya.

Salah satu hal yang saya dapatkan hari ini. Ada seorang kawan, yang anaknya 8 bulan diajak tinggal di Singapura untuk terapi sensori. Mungkin tidak banyak dari kita, atau orang tua kita yang  memahami Sensory Difficulties Disorder. Apa itu? Ini adalah bahasa dokter Singapura tempat anak kawan saya terapi untuk menjelaskan tentang ‘kekacauan’ yang terjadi pada sensori anak.

Jika Anda, mengalami kejadian seperti ini, kira-kira apa yang ada dalam benak Anda? Sebuah keluarga sedang makan di restoran. Ayah, ibu, kakak, dan adik. Tiba-tiba ada suara berisik dari meja sebelah, suara beberapa orang gadis tertawa terbahak-bahak. Ketika mendengar itu, sang adik langsung terganggu dan memelototkan matanya menatap para gadis itu, bahkan siap-siap melempar dengan sesuatu di meja. Itu hanya satu contoh kejadian. Si anak juga bisa saja akan menjadi sangat marah, jika melihat sang ibu terlalu banyak bicara, terutama saat memarahinya. Ada berapa dari Anda yang akan ngeh jika itu adalah bagian dari Sensory Difficulties Disorder?

Ada contoh lain, seorang anak, mengalami tantrum. Sulit sekali untuk diredakan. Pada sebagian tantrum, masalah awalnya adalah karena ada hal yang tidak sesuai dengan keinginannya. Misal, ingin mainan mobil-mobilan. Karena tidak menemukan yang diharapkan, maka si anak akan marah hingga melakukan perusakan, atau bisa sampai menyakiti dirinya sendiri. Misal, memukul kepalanya sendiri. Saat mainan mobil-mobilan itu sudah diberikan, dan si anak akan tetap marah, tetap merusak atau menyakiti diri sendiri, berapa banyak dari Anda yang akan berpikir bahwa ia mengalami  Sensory Difficulties Disorder?

Jiwa anak sesungguhnya sangatlah lembut. Kita yang sekarang adalah ‘produk’ hasil olahan stimulasi yang kita kumpulkan sejak hari pertama kita datang ke dunia. Stimulasi itu bisa kita dapatkan dari ayah, ibu, guru, kawan, lingkungan, dan lain sebagainya. Masalah Sensory Difficulties Disorder inilah juga yang akhirnya membuat kawan saya harus stay di Singapura selama 8 bulan lamanya. Apa hasil observasi dokternya? Dan apa saja yang dilakukan selama 8 bulan terapinya?

Hasil observasi dokter di Singapura, menyatakan bahwa anak kawan saya, secara bahasa sederhana, mengalami sensitivitas yang lebih tinggi dari kebanyakan orang. Ya, jadi kekacauan yang disebabkan sensitif pada pitch suara dengan level diatas rata-rata. Pitch suara yang tinggi biasanya dimiliki oleh jenis kelamin wanita. Itulah mengapa, anak tersebut sensitif pada suara para gadis yang tertawa kencang, atau suara kemarahan ibunya.

Selama delapan bulan di Singapura, beberapa hal harus dilakukan para dokter untuk membuatnya si anak menjadi lebih tenang. Apa hubungannya? Ya, dengan kondisinya yang sudah tenang, akan membuat si anak lebih mampu mengendalikan diri saat menerima kondisi lingkungan yang mungkin saja tidak ideal. Suara-suara di sekitar yang datang tiba-tiba bisa mengganggu. Bahaya sekali jika responnya tidak bagus untuk menghadapi itu.

Lalu apa terapinya? Salah satu cara yang digunakan di Singapura adalah latihan sensorik dan motorik. Dan semuanya dilakukan dengan cara yang menyenangkan bagi si anak. Ibunya? Disinilah anak membutuhkan peran yang sangat penting dari orang tua. Ibunya dulu adalah seseorang yang bekerja. Seperti semua orang ketahui, bahwa tuntutan pekerjaan dunia jaman now sangat luar biasa besar. Apapun pekerjaan kita, dibutuhkan sebuah totalitas untuk melakukannya, bukan? Atau, ya, gak akan perform!

Aktivitas terapi itulah yang akhirnya membuat sang Ibu memutuskan untuk totalitas mengurus sendiri anaknya, 24 jam, 7 hari seminggu, dan tanpa asisten. Luar biasa untuk usia seorang wanita di atas 40 tahun. Setelah beliau mengurus sendiri anaknya, ada hal besar yang sangat dirasakannya. Banyak sekali perubahan positif yang luar biasa dari si anak. Si ibu pun merasakan sendiri, dan merasa sedikit menyesal setelah paham bahwa ada beberapa hal yang missed di jiwa anaknya, ketika masa-masa ia bekerja.

Saya tidak mengatakan bahwa seorang wanita tidak seharusnya bekerja. Ini adalah sebuah pilihan masing-masing orang, tentu sudah dengan pertimbangan banyak hal. Namun, saya ingin pembaca memahami bahwa memang ini adalah faktanya. Suka atau tidak suka, percaya atau tidak.

Semua wanita memahami, bahwa ketiadaan waktu kita, ketiadaan kesempatan kita untuk mendampingi mereka, faktanya membuat sebuah lubang yang sangat besar di dalam jiwa. Tentu ada perbedaan yang pembaca harus bisa membedakan. Antara ibu bekerja, dan ibu tidak bekerja. Kemudian ibu yang bekerja tapi sepulang dari bekerja menyediakan waktu untuk anaknya, dengan ibu yang bekerja tetapi anak sudah tidur, tidak ada kesempatan ngobrol dengan anak karena kecapekan. Kenyataannya, sulit sekali untuk bisa menjadi ideal di tengah tuntutan dunia. Belum lagi, jika perbedaan tipis itu ditambah dengan adanya nanny, dan yang tidak.  Memang semua tidak jaminan. Yang jaminan hanya resikonya. Jelas, there is something missing in their soul in every choice that you take. Apakah itu membuat jejak? Pasti! Apakah itu bisa ‘sembuh’? Depend on you. Maybe yes, but in fact many problem can’t be cured.

Lalu bagaimana seharusnya menjadi orang tua? It’s a difficult thing to answer. Namun, kawan saya dan Room Teacher anak saya membagi beberapa saran, antara lain :

  1. Perkuat Bonding dengan Anak

Secara bahasa yang mudah dipahami, bonding adalah ikatan. Bonding ini harus dibuat, dibentuk, dan terus dibangun mulai anak masih belia hingga kapanpun juga. Bonding ini sifatnya luas, tidak hanya dengan orang tua sebenarnya. Namun, bonding yang paling kuat harus antara anak dengan orang tua. Bagaimana membangun bonding? Itulah hal yang selalu menjadi masalah klasik bagi para orang tua, karena sifatnya sederhana, tapi tak mudah untuk dilakukan.

Jika bonding tidak terbangun dengan baik, jangan selalu salahkan kenapa ada anak yang tidak patuh pada orang tua-nya? Kenapa ada anak yang nakal sekali? Kenapa ada anak yang juga tidak mau merawat orang tuanya di saat orang tuanya sudah tua? Apapun yang terjadi pada anak, tengok dulu bagaimana cara orang tuanya mendidik dan memperlakukannya.

  1. Belajar, Belajar, Belajar

Dunia saat ini sudah sedemikian luar biasa berkembang. Sangat jauh lebih cepat dibandingkan kemampuan kita untuk mem-filter-nya. Anak-anak berkembang di dunia yang membuat kecepatan, kecerdasan, dan keterampilan berpikir mereka sangat jauh melampaui orang tuanya yang hidup di masa beberapa dekade lalu. Sudah sangat jauh berubah!

Pertanyaannya, bagaimana orang tua akan menjaga anaknya tetap bisa di garis yang lurus, sementara ilmu dan kemampuan orang tua tidak terupdate dan terasah dengan tajam sesuai perkembangan jaman? Jawabnya, nol besar! Orang tua yang tidak mau belajar tidak akan menjadi apa-apa selain bulan-bulanan anaknya. Catet!

Lalu, ilmu apa saja yang harus orang tua pelajari? Bagi saya tidak ada pengkategorian ilmu, juga tidak ada ilmu yang basi. Belajar apa saja yang harus dilakukan untuk membawa orang tua pada tujuan membuat anak-anaknya bahagia, menemukan siapa jati dirinya, melakukan hal-hal yang disukainya, dan mensukseskan kehidupan masa depannya.

  1. Buatlah anak-anak bangga memiliki Anda sebagai orang tua

Kadang, seringkali ada kawan kita di masa sekolah yang akan mengatakan, “Ayahku kan hanya buruh tani.” HANYA! “Ibuku kan hanya pembantu rumah tangga.” HANYA! Kenapa anak bisa mengatakan bahwa ayah dan ibunya HANYA…? Agar terasa merendah…sorry, i don’t think so! Seorang anak wajib diberikan kebanggaan pada ayah dan ibunya. Apapun adanya, apapun keadaannya, orang tua harus bisa membuat anak bangga atas dirinya. Yang pasti, jika positif, banggalah!

Namun, kebanggaan itu ternyata tidak hanya bisa didapatkan dari cara berkata-kata. Seorang anak akan mampu merasa bangga pada orang tuanya, jika orang tuanya pun melakukan hal yang membanggakan untuk anaknya. Cara-cara sederhana sebenarnya sangat membantu, misalnya dengan mengajak anak terlibat dalam kegiatan orang tua, sehingga anak akan melihat bahwa ayah atau ibunya telah melakukan tugas yang luar biasa dan bermanfaat. Selain itu, usahakan bisa hadir dalam acara-acara sekolah anak. Sekali lagi, mudah. Tapi tak cukup mudah untuk dilakukan.

 4. Tarik! Anak Anda

Pengertian ‘tarik’ di sini adalah, sebagai orang tua kita harus memiliki semacam alarm yang digunakan untuk memberi peringatan pada diri sendiri, bahwa inilah saatnya Anda harus memberikan perhatian, pemahaman, dan penjelasan lebih kepada anak Anda. Saat dia sudah mulai menjauh atau bonding mulai memudar, maka Anda harus segera menariknya. Jangan sampai anak Anda terlalu jauh, sehingga sulit untuk dipegang, dan akhirnya terlepas. So, tarik! anak Anda.

  1. Konsisten

Konsisten, hanyalah satu kata, tetapi maknanya sangat mendalam dan tidak mudah untuk dilakukan. Konsisten lebih ke arah proses, yang itu akhirnya membutuhkan waktu, dan harus memberikan kesempatan untuk dilakukan secara terus menerus. Namun seperti juga, long-life learning, tidak ada waktu yang terputus untuk memberikan sebuah pembelajaran, begitu juga konsistensi. Bagaimana supaya bisa konsisten? Salah satu caranya adalah dengan mengingat tujuan akhir kenapa melakukannya.

Itulah sedikit yang bisa saya bagikan di sini, semoga memberikan manfaat dan another sight dalam hal pengasuhan untuk anak-anak Anda. Bagi saya, ibu dari anak saya,

Motherhood is…

A choice we make every day, to put someone else’s happiness

and well-being ahead of your own…

To teach the hard lesson…

To do the right things even when we’re not sure what the right thing is…

And…try to forgive ourself, over and over again,

for doing everything wrong…

 

Yess, and it’s still  the most magical day of my life

was the day I became a MOM…

(Terlihat) Kuat

”Mama…Nara gak mau les..masih mau main sepeda sama Steven…” rengek anakku di suatu sore yang masih agak panas.

Cuaca hari ini memang agak berbeda dari biasanya. Panas sekali, serasa bisa membakar kulit. Hari ini Rabu, tengah minggu, biasanya aku mengantar anakku untuk les lego di Jalan Pondok Bambu.

Namun, ya seperti itulah yang terjadi. Anakku, laki-laki, usia empat tahunan, belum bisa memahami kenapa dia harus menyudahi permainannya sore itu.

“No, Nara…You have to go…Today is Wednesday, so you know what you have to do, boy…?” Kucoba untuk mengajaknya pulang sambil mengarahkan sepedanya ke rumah.

Tapi anakku menolaknya dengan keras, “No! No! I won’t to go there! It’s boring..” teriaknya membuatnya Steven kawannya menoleh kaget.

Tak bisa membujuk anakku, akhirnya aku coba untuk membujuk Steven. “Steven, can you help me, please…?” bujukku sambil memandang dan mendekatinya. Steven mengangguk pelan, paham akan maksudku. “Steven, bisakah kamu bilang pada Nara…It’s OK Nara..nanti kita main bersama lagi setelah kamu pulang dari les…”

Ya, usia anakku memang masih sangat kecil. Belum cukup untuk bisa memahami apa itu les, mengapa harus masuk les, dan apa manfaat yang didapat saat ikut les. Sebetulnya aku pun bukan tanpa keraguan dan kekhawatiran saat akan mengikutkan dia ke lego course ini. Awalnya akupun ragu pada pilihan yang kuambil. Mampukah dia mengikuti materinya? Apakah ini baik untuk jiwanya jika aku sedikit memaksa? Banyak sekali beban pikiran yang menggelayut di kalbuku.

“Mama…gak mau les..kan main sepedanya belum selesai…” rajuk anakku lagi sambil menyatukan kedua tangannya dan memasang ekspresi please. Membuatku membuyarkan sejenak lamunan.

“Nara sayang, listen to me..dengarkan mama, nak…Jika hari ini kamu gak masuk les lego, nanti siapa yang akan membangun gedung yang tinggi itu? Kan kemarin gedungnya sudah terbangun sebagian…Masih inget gak? Sudah pakai crane kan? Hari ini mungkin kita akan diajak memasang atapnya. Hmm seru sekali ini tampaknya…” Kucoba lagi untuk mencari alasan yang masuk akal agar anakku bersedia mengubah pendiriannya.

“Yaa…tapi kan Nara mainnya belum selesai. Besok saja lesnya, maa..” Anakku masih juga tidak berubah pikiran.

Aku berpikir ulang, “Aduhh…alasan apa lagi ya? Apa iya, aku rescedule aja?” Melihat mata anakku rasanya aku pun tak sanggup untuk tidak memenuhi keinginannya. Sering sekali hal-hal seperti ini terjadi saat menghadapinya.

Tapi kucoba berpikir kembali, “Benarkah yang kulakukan, jika aku mengajarkannya untuk tidak mengikuti jadwal yang telah kami sepakati di awal? Dia memang masih kecil, dia memang belum paham, tetapi memahami adalah proses yang harus diajarkan sejak dini. Bagaimana bisa yakin membuatnya menjadi anak yang bertanggung jawab, jika tidak sedari kecil kita ajarkan bentuk tanggung jawab itu sendiri. Ada hal-hal yang harus kita lakukan, ada hal-hal yang harus kita selesaikan sesuai waktunya. Kadang, hal-hal itu memang tidak kita suka. Dia datang di saat yang tidak tepat bagi kita, tapi itulah arti tanggung jawab yang sesungguhnya.” Bisik batinku mengingatkan.

“Nara, tampaknya sudah ditunggu Kak Nita di sana. Kita sebentar saja lesnya. Hanya sebentar. Setelah itu kita main sepeda lagi. Mama janji, nanti kita naik sepeda keliling kompleks ya…” Akhirnya kuputuskan bagaimanapun caranya, anakku tetap harus berangkat les sore ini.

Mendengar janjiku, tampaknya ia tergoda. “Bener ya maa, janji untuk nanti naik sepeda keliling kompleks…” ucapnya untuk menekanku dengan mengulang janji yang kukatakan.

Senyumku mengembang, “Yessss!! Berhasil!” Kukedipkan sebelah mata sambil kuulurkan jari kelingking. Meminta tautan dengan jari kelingkingnya, sebagai tanda bahwa ada janji antara kami berdua.

Bergegas kami berangkat, dan ternyata Kak Nita sudah menunggu dengan senyumnya yang menyejukkan.

“Hai Nara, sore…sudah ditunggu Kak Puspa ya di dalam. Yukkk kita masuk yukk…Mami biar aja menunggu di sini ya…Nara banyak temannya kok di dalam. ”  Ucap Kak Nita ramah.

Sudah lebih dari tiga bulan sejak kelas lego ini dimulai. Selama itu pula, aku selalu berkata, “Nara..keep fighting! I know you can do everything that you want to be…” Selalu kubisikkan kata-kata itu di telinganya. Aku ingin anakku belajar, bahwa dia adalah leader bagi dirinya sendiri. “Percayalah pada diri sendiri, Nara…Kau bisa terbang lebih tinggi dari yang dirimu sendiri bayangkan,” batinku, sambil menunjukkan jempol ibu jari padanya. Wajahnya memandangku dengan senyum kecilnya.

Kukeluarkan ponsel dari saku. “Saatnya me time sebentar, cek whatsapp dulu deh, banyak banget pesan yang masuk…” Sambil kusandarkan kepala ke sofa tempatku menunggu. Tiba-tiba, tanpa sengaja mataku tertuju pada pengumuman yang ditempel di papan sterofoam warna hijau. “Ikuti! Lego Competition, batch 1. Tanggal 12 Oktober 2017”. Kuhampiri papan tempel pengumuman itu, “Mbak Nita…ini apa ya? Lomba? Anak-anak sini akan diikutkan lomba juga kah?” tanyaku penasaran.

“Oh iyaa, Mami…kami baru pasang pengumumannya pagi ini. Jadi nanti, kami akan mengadakan kompetisi lego. Dibuka untuk umum Mam…Anak-anak di sini juga boleh ikut. Akan dibuat kelas latihan juga nanti. Untuk seusia Nara nanti lombanya boleh didampingi oleh maminya. Jadi yang dinilai adalah speednya. Bagaimana si anak mampu menyelesaikan tantangan building challenge yang diberikan oleh kami dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.”  Jelas Kak Nita, menerangkan isi dari pengumuman itu.

“Oke Mbak, lalu Nara bagaimana ya? Apakah bisa daftar dan ikut kelas latihan?” tanyaku yang mulai bersemangat untuk mengajak anakku mengikuti lomba itu.

“Bisa Mam, sebentar bisa saya daftar sekarang…” ucap Kak Nita sambil mencari formulir pendaftaran di lacinya.

“Ohh..wait Mbak Nita, tunggu dulu…Nanti saya tanya Nara dulu ya, yang mau lomba kan Nara. Mau atau tidak nanti dia saja yang putuskan.” Cegahku dengan cepat sebelum ia menggoreskan pena.

“Ohh…iya betul. Baiklah, Mam…” ucapnya sambil tertawa malu.

***

Satu jam berlalu tanpa terasa, beberapa chat penting sudah kubalas. Sekarang tinggal menunggu anakku untuk keluar dari ruangan.

“Mamaaaaa…Nara udah selesai…” teriaknya riang begitu keluar dari ruangan di ujung sana.

“Hai, Sayang…Sudah selesai ya…? Gimana, menyenangkan build lego-nya?” tanyaku saat dia memelukku.

“Iyaaa…keren bangeettt tadi maa…Nara bisa bikin apartemen. Apartemennya ada kolam renangnya, dan ada pohon-pohonnya juga, lho!” ceritanya dengan sangat bersemangat.

“Waaahhh gooodddd jooobbb! Ehhh…Nara mau ikut lomba bangun rumah atau gedung lagi gak? Sama seperti yang Nara lakukan hari ini, tetapi harus lebih cepat karena ada waktunya. Gimana, mau gak?” bujukku, agar dia mau ikut dalam kompetisi itu bulan depan.

Ia pun menoleh ke arah Kak Nita. Matanya menyorotkan tanda tanya. Kak Nita tersenyum manis sambil mengangguk. “Iyaa..Nara ikut yaa..banyak temannya mau ikut juga lho!” ajaknya.

Nara memalingkan wajahnya dan menatapku. Ekspresinya menunjukkan bahwa dia ingin ambil bagian di situ. Akupun mengangguk setuju, sambil kupegang kedua bahunya.

“Mau…?” tanyaku.

“Iya maa, mau…” jawabnya.

“Baik Kak Nita, mohon bantuan untuk didaftarkan ya…” pintaku, merespon jawaban Nara.

“Baik mam, langsung saya daftar sekarang..” jawabnya tak kalah bersemangat.

***

Seminggu, dua minggu, kami latihan guna mempersiapkan diri dalam perlombaan. Nara mulai menemukan pola yang dia rasa nyaman. Dalam lomba ini, orang tua hanya berperan sebagai pihak pengarah saja. Tidak diperbolehkan untuk memegang legonya, apalagi memasangkan. Tentu sanksinya adalah didiskualifikasi dari lomba.

Waktu perlombaan yang ditunggu akhirnya tiba. Bertempat di lantai dasar sebuah mall terbesar di kota kami, suasana riuh sekali, mulai tahap pendaftaran hingga tahap pengambilan souvenir kotak pensil kecil. Satu jam menunggu, akhirnya lomba dimulai. Kami pun sudah bersiap di tempat yang ditentukan, dengan nomor peserta 10. Itu artinya giliran kami segera tiba. Begitu peluit ditiupkan sebagai tanda dimulainya waktu perhitungan, aku dan Nara sudah sibuk dengan konsep dan strategi lego kami saat latihan.

“Ayo, Nara..yaa betul..itu ambil yang yellow square. Good! Next yang green..Yess! Go! Go! Go! Nara.” Begitu aku selalu menjadi yang terdepan dalam menyemangatinya.

“Ehhh..jangan yang itu dulu..Belum, belum..yang biru dulu pasangnya. Nahh yakk, betul. Cepettt, pasang langsung di atas. Awas pegangin yang sebelah kiri, nanti ambruk!” seruku sangat bersemangat. Menang, kami bertekad menang. Agar kerja keras ini semua terbayarkan.

Dalam sekejap saja, tampaknya Nara sudah tangkas menyusun balok-balok lego itu sesuai dengan gambar petunjuk. Wooww! Luar biasa! Tanpa aku banyak memberikan arahan, Nara sudah mampu menyelesaikannya. “DONE!“ Begitu kami diminta berteriak sebagai tanda selesai.

“Yeaayyy!! Good job, Nara!” seruku sambil mengajaknya ber-high five dengan semangat. Nara tersenyum puas sambil sesekali melirik ke arah legonya yang sudah tersusun membentuk rumah. Kulayangkan pandanganku pada ayahnya yang sejak tadi bertugas mengambil video dokumentasi.

“Nara…anak papa, kamu hebat nak! Papa bangga sama kamu…” sambut ayahnya yang datang untuk memeluknya.

“Paaaa…Nara bisaaa, paaaa…Gak dibantu mama lho tadi, paa…” ucap anakku berapi-api.

“Oh yaa, good Nak…i’m proud of  you, Champ..” Begitu Ayah sering memanggilnya.

Nara tersenyum bangga dan bahagia atas pencapaiannya hari itu.

“Untuk pengumuman juara, akan diumumkan pada pukul 14.00 siang ini. Mohon bapak dan ibu, juga adik-adik sekalian untuk menunggu di sekitar area lomba ya…” seru panitia dari atas panggung.

“Ya sudah, mari kita makan siang dulu yaa…nanti kita balik kesini lagi sebelum jam dua.” ajak ayahnya.

***

Waktu pengumuman pun tiba. Kami bertiga sudah siap menunggu pengumuman juara. Feeling berkata rasanya akan mendapatkan salah satu dari piala di meja. Kulihat ayahnya sudah menatap ke arah panggung dengan harap-harap cemas, siapa yang akan membawa pulang piala-piala itu. Anakku pun sudah bersemangat sekali, mungkin batinnya, “Akan kubawa pulang piala paling besar itu.”

Akhirnya panitia mulai membacakan daftar para pemenang.

“Ya, bapak, ibu, dan adik-adik, mari kita sambut para juara dari Lego Competition hari ini. Bagi yang saya panggil namanya, dimohon untuk maju ke depan sambil membawa kertas nomor pesertanya, yaa..” seru kakak panitia dari atas panggung menghentikan keriuhan dari counter penjualan lego di ujung.

“Oke langsung saja yaa, juara ketiga…diraih oleh…Putri Zaskia Idris, dengan catatan waktu 3 menit 18 detik. Silakan maju ke depan.” Kulirik anakku sekilas, ekspresinya sedikit berubah. Aku pun mulai tidak tenang.

“Selanjutnya, juara kedua diraih oleh Bryan Zapelin Woyle dengan catatan waktu 3 menit lebih 2 detik. Silakan maju ke panggung ya, Bryan…” seru panitia dengan lantang. Mulai kulirik ayahnya. Pandangan kami bertemu, mengisyaratkan hal yang sama. Khawatir pada perasaan anaknya jika tidak berhasil membawa pulang salah satu piala.

“Dan….akhirnya, juara pertama, yang paling ditunggu-tunggu nih,” kupandang wajahnya yang sudah mulai pupus harapan. “Mama…Nara mau piala itu, Maa…” bisiknya kepadaku. Aku tak sanggup berkata lebih, selain “Iya, Nak…sabar dulu ya…” padahal hatiku pun berkecamuk berbagai perasaan. Sebenarnya aku tak mampu menanggung rasa, jika ternyata anakku bukanlah pemenangnya. Tapi aku harus terlihat kuat, untuk membantunya menjadi kuat menghadapi kenyataan, yang kadang berjalan tak sesuai dengan harapan.

“……Prabu Digta Utama, yeaaaayyyy!!! dengan catatan waktu paling cepat, 2 menit 37 detik. Silakan maju Digta, kamu hebat!!” seru pembaca pengumuman sangat lantang hingga suaranya terdengar sampai ke luar ruangan.

Seketika pecahlah tangis anakku. Ia kalungkan tangannya ke leherku, lalu memelukku dengan sangat erat. Erat pelukannya pasti sedalam perasaan kecewanya. Sungguh, sejujurnya aku pun tak kuat untuk berpura-pura menjadi kuat. Tak bisa juga aku menutupi rasa sedih hatiku. Bukan, bukan aku sedih karena kecewa pada anakku, tapi aku sedih melihatnya begitu kecewa pada dirinya sendiri, yang serasa tidak mampu. Aku sungguh ingin memberikan piala itu sebagai hadiahnya, tapi itu tak mungkin. Piala itu bukan milik kami.

Kupandang wajah suamiku, matanya berkaca-kaca. Tapi ia juga berusaha untuk menahan tangisnya. Aku tahu, pasti hatinya pun teriris, lukanya pasti perih. Baru kini aku menyadari, ada jenis luka yang lebih sakit daripada ditinggal kekasih. Kelak kau pun akan menyadarinya, anakku…

***

“……..and the champion is from Indonesia Team, Garuda! Congratulation…! Welcome Habib, Tony, Nara, and Sigit. Please go upstage for accept your thropy and a few simple celebrations.”  Teriak panitia First Lego League International Lego Championship 2030 – World Class yang diselenggarakan di Rhode Island, United States.

“Huaaaaa….Yeaaaayyyyy!!! Naraaa, kamu kereeennnnn!!” Spontan aku dan ayahnya langsung berdiri, berteriak keras, dan mengibarkan bendera Indonesia kami tinggi-tinggi.

Tiga belas tahun berlalu sejak rasa sakit itu…Kini kami ikut berada di sini. Tetap di barisan terdepan sebagai pendukungmu. Dulu, boleh saja dirimu merasa gagal total. Tak mampu untuk mempercayai diri sendiri lagi. Perjuangan seolah sia-sia, tanpa makna. Tapi lihatlah setelah belasan tahun ke depan, apa yang terjadi?

Kami melihatmu berdiri bangga di sana. Berjuang atas nama bangsa, mengibarkan bendera Indonesia di ajang kompetisi Internasional kelas dunia. Orang tua mana yang tak bangga, melihat anaknya berdiri mengangkat thropy kemenangannya?

Ternyata, kenyataan pahit itulah yang justru membuatmu berada disini. Ternyata, rasa sakit tidak sepenuhnya membunuh jiwa, tapi justru mampu menyembuhkannya. Saat engkau temukan dimana titik baliknya, maka bisa kau bakar habis rasa sakitmu, tanpa sisa. Mungkin saja sekarang kita kalah, tapi masa depan harus tetap diperjuangkan tanpa lelah.

Kami, ayah dan ibumu…adalah pihak pertama yang paling kuat mendukung perjuanganmu. Jangan sangka kami tak takut, jangan sangka kami selalu yakin. Sering sekali kami berdebat, juga bertengkar dengan nurani sendiri. Seperti yang kulakukan dulu, di sore itu…

Kadang, orang tua memang harus sedikit memaksa di awalnya. Bukan tanpa pertimbangan dia memilihkan sesuatu untukmu. Justru di usia belia inilah, peran orang tua sangat ditunggu. Jika nanti telah dewasa, pilihlah mana yang kau suka dan tidak suka. Akan datang waktu, dimana engkau sendiri yang akan tentukan jalanmu. Tapi sekarang, jalani dulu prosesnya, belajarlah dari pengalaman yang engkau terima. Siapa tahu, ternyata engkau mahir disana. Ada bakat terpendam yang baru kau temukan setelah mencobanya. Tentu saja, tak akan ada hari ini, tanpa hari itu…

Selama ini, kami berjuang mengalahkan diri sendiri, demi kamu. Kami hanya berusaha selalu (terlihat) kuat dimatamu, anakku…Hingga suatu hari, engkau temukan sendiri kekuatanmu…

Awal Sebuah Rasa

“Ka, ayo segera..diparut itu kelapanya. Bapak belum makan, udah siang ini..”  Begitulah seruan ibuku yang hampir setiap hari kudengar. Seruan untuk membantunya memasak menu makan siang keluarga kami. Memarut kelapa, meskipun terlihat sederhana, tetapi prakteknya sungguh tidaklah mudah. Hampir selalu tanganku berdarah-darah karena terkena parutnya. Setelah itu, perih berhari-hari harus kutanggung rasanya.

Aku yang tadinya hanya ingin mengambil segelas air di dapur, akhirnya setengah terpaksa menghampiri ibuku. “Yahhh…batal deh mo lanjut baca..” batinku. Padahal, bab VII novel detektif kecil itu memang sedang seru-serunya. Tapi, tak mungkin juga aku tolak perintah ibuku yang rasanya memang sedang terburu-buru.

“Ehmmmm ya, mana? Boleh ya sambil nonton tv ini marutnya..” rajukku. Hati ini sebenarnya malas, apalagi ceritanya memarut kelapa.

“Yaa wis, boleh..sana..tapi cepet lho ya! Ini dagingnya udah matang. Tinggal nunggu santannya.” Pesan ibuku sebelum kubawa beberapa potong daging buah kelapa setengah tua dalam wadah.

“Ya, ya..” Singkat aku menjawab. Padahal batinku berkata, “Wahh kapan selesainya nih marut segini banyak? Satu..tiga..lima..HAH! tujuh potong! Hiks..hikss….ini mah satu gelondong kelapa.” gerutuku.

Ya, itulah aku sekitar dua puluh tahun yang lalu. Anak kecil yang diminta membantu ibu memasak untuk menu makan siang kami setiap hari. Keluarga kami memang tidak memiliki pembantu, tidak biasa ada orang asing di rumah. Juga tak ada satu pun pembantu yang bisa memenuhi standar kualitas ayah dan ibuku. Hasilnya? Capek! Karena semua selalu dikerjakan sendiri. Haha..

Celakanya, aku termasuk anak pemalas. Tak ada satupun pekerjaan rumah yang aku suka. Standar kerapianku sangatlah buruk. Apalagi standar kesempurnaan seperti yang ayah dan ibuku miliki. Aku suka duniaku sendiri, aku suka melakukan yang kuinginkan saja. Ya, banyak hal yang kusuka, selain pekerjaan rumah! Anak perempuan satu-satunya di rumah itu, tapi justru tidak mirip anak perempuan kebanyakan. Mungkin itu membuat ibuku sedikit banyak juga jadi kesal.

Tapi satu hal yang diterapkan ibuku, beliau melatih kepekaan dengan selalu melibatkan anak-anaknya jika sedang melakukan pekerjaan. Saat ibu sedang mencuci dan aku malah menonton tv, ibu pasti akan memanggilku untuk ikut ambil bagian. Saat memasak seperti ini,  dan aku sedang asik membaca sekalipun, pasti akan tetap dapat kerjaan.

“Sudah santannya? Ayoo cepet, diperas sekalian yaa..” seru ibuku dari ruang dapur.

“Iyaaa…sebentar lagiii.” Balasku menenangkan, sambil kulirik dua potong daging kelapa yang belum kusentuh sama sekali. “Waduh! Bahaya nih..ngebuutt!” batinku.

“Srrreeekkkkk!”  Darah merah sedikit menodai parutan kelapa yang menempel di tanganku.

“Aduuuuhh! Kena lagi..” Kubuat luka ketigaku dalam sesi memarut siang ini. Tapi tak ada waktu lagi untuk bisa mengeluh. Ayahku sudah bolak-balik rute ruang tamu-dapur-ruang keluarga-dapur, begitu saja terus sejak tadi.

“Aku harus cepat…cepaaaaatt..Go! Go! Go! Yess you can..!” Begitu aku menyemangati diri sendiri, sambil semakin cepat kunaik turunkan kelapa di alat parut milik ibuku.

Sebenarnya, bisa saja ibuku membeli dalam kondisi kelapa sudah diparut. Hanya saja, rasanya akan sedikit berubah jika tidak langsung diperas. Tentu rasanya tidaklah enak. Sementara ayahku, tidak mau menggunakan santan instan, karena sudah dicampur beberapa bahan tambahan. “Kentalnya gak asli. Gak enak!” Begitu selalu komentar Ayah. Akhirnya, ya…marut dehh!

“Sudah belooommm..malah ngalamun!” Muncul sosok ibuku dari balik pintu untuk mengecek hasil kerjaku.

Ya, ya..sudah ini, tinggal diperas.” Jawabku gugup sambil meringis.

“Ya sudah, ayo cepat…bumbunya sudah jadi. Tinggal ditumis, lalu masukkan santannya.” Perintah ibuku.

Segera aku buru-buru ambil wadah kosong yang lebih besar, lalu kuisi dengan air hangat, dan kutuang perlahan-lahan, sedikit demi sedikit ke atas kelapa hasil parutan.

“Sedikit-sedikit aja, bikin santal kentalnya dulu.” Penjelasan ibuku mengingatkan.

“Iyaaa..paham..” Kujawab sambil memeras dengan lebih cepat seperti diburu hantu.

Akhirnya jadilah 1 mangkok kecil santan kental, berikut lanjut santal encernya.

Buru-buru aku kembali ke dapur. Kulihat ibuku sedang menyiapkan beberapa hal. Tampaknya kami masak lebih dari satu menu hari ini.

“Bu, kok banyak sekali masaknya?” tanyaku ingin tahu.

“Ya, sekalian untuk makan malam dan besok pagi sarapan. Besok ibu ada tugas jadi harus berangkat lebih awal. Khawatirnya tidak cukup waktu jika harus masak pagi-pagi.” Jelas ibuku.

“Ohh..oke. Lalu, setelah ini apa? Santannya buat dimasukin dimana? Itu cabenya setelah diiris terus diapain?” tanyaku sambil mengamati setiap wadah, beralih ke wajan, lalu mengamati apa yang dilakukan ibuku. Ternyata beliau sedang mengiris-iris daging.

Ibu menoleh ke arah telanan, alat untuk tatakan saat mengiris. “Aduhh, lupa..itu belum ibu iris cabe rawitnya. Tolong iris dulu ya, karena itu nanti jadi yang pertama ditumis setelah bawang merah dan putih.” Pinta ibuku.

“Waduhhh..ngiris cabeee? Gak mau ahh, panas lagi nanti tanganku.” Kutolak permintaan ibuku kali ini, karena memang aku masih trauma dengan kejadian sebelumnya dimana tanganku wedangen, istilah untuk menyebutkan tangan yang terasa panas setelah mengiris cabe.

Waktu itu, wedangen-ku lumayan lama, rasanya sungguh menyiksa. Ibu bilang, “Cuci dengan air, keringkan, lalu masukkan tanganmu ke beras.” Saran ibuku waktu itu. Namun setelah kucoba lakukan, ahhhh masih tidak berubah. Tanganku masih saja terasa panas. Tak mau kupercaya lagi tips yang dibilang orang ampuh itu.

“Nggak…nggak akan panas lagi. Jadi kalau mengiris cabe, cuci dulu cabenya, patahkan tangkainya, lalu iris. Kamu waktu itu, cabe udah dipatahkan tangkai, bukan dicuci di kran, malah direndam dalam air di mangkok, baru diiris. Ya panaaass..tanganmu kan bolak balik masuk ke air. Cucinya pas di awal aja, sekali. Kalau ditaruh wadah, jangan ada airnya. “ jelasnya panjang lebar.

“Ohhh..gitu ya? Hmmm tapiii..kalo panas lagi gimana..??” Masih aku berusaha menolak. “Tugas yang lain aja ada lagi gak..?” tambahku.

“Gak ada, udah tinggal itu. Cepetan..udah ditunggu Bapak! Cuman 5 biji aja gak lama. ” tegas ibuku.

“Udah gak bisa ngomong lagi nih kalau udah begini..” batinku.

Akhirnya aku pun dengan keraguan berusaha melakukan permintaan ibuku. Kupraktekkan teori mengiris cabe yang ibuku katakan sebelumnya. Dan hasilnya, “Ehhh iya ya, gak panas lho ya Bu..” komentarku.

“Nahh kaan, iya memang gak panas kalau begitu cara mengirisnya..” jawab ibuku sambil tersenyum meyakinkan. Terlihat senang sekali teorinya terbukti benar, haha..

“Ya udah, segera ditumis itu bawang merah, dan bawang putihnya dulu. Itu kasih minyak goreng dulu wajannya. Awas, hati-hati panassss…Kecilkan apinya aja, jangan gede-gede, cepat gosong nanti. “ Jelas ibuku yang sedang memberikan tutorial kelas memasak dengan sangat cepat untuk dipahami.

“Gini ya bu..? Udah bener kan, lalu..?” tanyaku untuk diberi instruksi selanjutnya.

“Lalu masukkan cabe, tumis dulu, nanti baru masukkan tomat irisnya.” Jawab ibuku dari belakang, sedang memindahkan buah anggur yang telah dicuci ke wadah buah.

“Oke, gini ya….sudah…lalu apa? Ini ditumis sampai gimana? ” tanyaku lagi untuk langkah selanjutnya.

“Sampai agak layu cabenya, baru nanti tomatnya. Tumis sampe agak layu juga, baru nanti masukkan labu siamnya. Itu labu siam udah ibu tiriskan di sana.” Jawab ibu yang muncul dari ruang makan di sebelah, sambil menunjuk ke tempat cuci piring. Dimana sang irisan labu siam tadi sudah ditiriskan.

“Sippp, okee..sudah semua, lalu?” Aku bertanya tanpa menoleh, sambil mengaduk.

Itu sekarang dagingnya masukkan saja. Hati-hati tumpah. Pelan-pelan. Jangan langsung dituang, pakai tangan atau sendok, tuangkan sedikit-sedikit. Nanti kamu bisa kena percikan minyak.” Lanjut ibuku menjelaskan.

“Hmmm enak baunya yaa..Goooood, lalu tinggal santannya ya?” kataku dengan yakin sambil terus mengaduk-aduk daging yang telah bercampur dengan bawang dan cabe iris.

“Yaa, sekarang tinggal masukkan santannya. Tapi santan yang encer dulu. Itu agak kecilin lagi apinya, masih kebesaran. Memasak santan jangan gunakan api besar. Nanti kualitas santannya jadi tidak bagus untuk kesehatan dan penampakannya pecah saat diaduk, jadi kurang bisa bercampur. ” Jelas ibu sedang menurunkan ilmunya padaku.

“Okeehh..sudah nih, dimasukkan santan encernya. Apalagi yang belum? Kapan masukin gula, dan garamnya, bu?” tanyaku ingat jika gula dan garam belum dimasukkan.

“Ya, sekarang masukkan gula, dan garamnya. Juga daun salam, daun jeruk, serta lengkuasnya. Aduk jangan sampai mendidih dan pecah ya santannya.” Pesan ibuku sambil mencuci beberapa bekas wadah kotor sisa memasak.

“Sudah bu…lalu santan kentalnya udah bisa dimasukkan sekarang?” tanyaku sambil menoleh ke belakang, mencari sosok ibuku untuk meyakinkan ucapanku.

“Gimana rasanya, sudah dicicip belum? Kalo sudah pas, atau andai perlu ditambahin gula dan garam, tidak terlalu banyak lagi. Itu juga cek dulu apakah labu siamnya sudah gak keras? Jika sudah, boleh masukin santan kentalnya. Lalu aduk terus jangan sampai pecah, terutama saat sudah mendidih. “ jelas ibuku di sesi terakhir memasak menu itu.

“Sippp..sudah oke semua sepertinya. Rasanya pun sudah enak. Mantapp bangettt ini rasanya. Ahh mau makan ahh..” jawabku sambil ngeloyor hendak mengambil piring.

“Lohh..lohh..lohh..itu matikan dulu apinya, lalu hidangkan dulu untuk Bapak di meja. Baru makan.” Ucap ibuku tersenyum sambil memasang ekspresi wajah mengatakan, “dasar!”

“Ohhh iyaaa..hahaha..oke..oke..” lanjutku seraya mematikan api di kompor, mengambil mangkok besar wadah sayur, dan menyiapkannya di meja untuk Ayahku.

“Bapak….sayurnya sudah matang, silakan makaaann..” seruku lantang dari ruang makan pada ayahku yang sedang membaca majalah di ruang depan.

***

Dua puluh tahun berlalu sejak cerita itu, dan aku pun masih bisa mengingatnya hingga disini usiaku. Dimana kini akulah pelaku utama dari segala cerita yang sama. Akulah yang kini menjadi seperti ibuku. Menyiapkan makanan untuk keluarga, memasak setiap hari untuk suami dan anakku.

Dunia masih sama, hanya berputar saja. Waktu yang berlalu selalu memberikan bekal sesuatu untuk masa depan kita. Mungkin dulu aku merasa terpaksa, karena memasak bukanlah hal yang aku suka. Namun ternyata suka atau tidak suka, bukan karena selalu menarik di awalnya. Tapi karena kita pernah mencoba. Baru bisa kita putuskan, suka atau tidak suka.

Ada hal yang kadang terpaksa, ada hal yang kadang tidak kita tahu sebelumnya. Disitulah sebuah kebiasaan dibangun. Melakukan hal yang sama terus menerus, akan membangun sebuah kebiasaan dalam hidup. Asal itu baik, patut dicoba. Temukan sisi menariknya, kenapa kita layak untuk melakukannya. Pahami, dan resapi esensinya, ikuti prosesnya. Memang, tidak akan selalu mudah. Atau lebih tepatnya, hampir selalu susah. Jalani saja, lakukan saja. Masalah suka atau tidak suka, biarlah perjalanan waktu yang membuktikan, apa keinginan hati yang sesungguhnya.

First Amazing Concert

“ Komite..dan panitia One in Harmony Concert kumpul di sekolah, besok jam 10. On time. Agenda : Koordinasi untuk Persiapan Konser. ” Begitu bunyi pesan singkat yang masuk di grup Whatsapp khusus Komite di ponselku pagi ini.

“Waduhhh..jam 10..?? Oh My God!! Jadi besok pagi, habis antar Nara ke sekolah, lanjut ke pasar, masak untuk lunch, dan langsung ke sekolah lagi. “ batinku mulai me-list hal-hal yang harus aku lakukan besok sebelum hadir di Committee meeting di sekolah anakku.

Ya, itulah sekolah anakku. Banyak sekali kegiatannya. Hampir setiap bulan selalu saja ada agenda yang diselenggarakan. Mulai dari lomba di sekolah sendiri, lomba antar sekolah, hingga tingkat kabupaten, propinsi dan nasional.

Hal-hal itu otomatis menjadi tugas tambahan bagi para orang tua. Kami dituntut untuk ikut serta berperan aktif  dan mendukung setiap program yang dilaksanakan oleh sekolah. Termasuk satu hal ini, konser paduan suara anak-anak yang direncanakan 1 bulan lagi.

Sebagai sekretaris komite sekolah, cukup banyak hal yang harus kupersiapkan. Setiap kali ada meeting dengan panitia pun tak mungkin bisa ijin tidak datang. Belum lagi hal-hal administratif yang harus kubereskan. Namun di rumah, aku tetaplah seorang ibu untuk anakku. Istri untuk suamiku. Artinya, tanggung jawab di rumah tetap tak bisa aku elakkan. Mencuci, memasak, dan menyetrika tetapi jadi bagian dari keseharianku.

***

Esoknya aku datang ke sekolah memenuhi undangan. Kulihat ada beberapa panitia dan anggota komite sudah duduk manis menunggu sesi kepala sekolah membuka pertemuan.

“Hai..halo Mijun, lama ga ketemu nih kita, sibuk banget kayaknyaaa..” sapaku untuk mama Arjuna, teman sekelas anakku sambil kuulurkan tangan untuk mengajaknya bersalaman.

“Hahaha sibuk nonton drama Korea aja si di rumah..mom Nara niiih yang malah ga pernah beredar..” balasnya sambil memukul kecil tanganku. Aku tersenyum sambil mengamati wajahnya yang dihias make up tipis, lipstick pink kemerahan, serta kerudung warna merah maroon hari itu.

Sebelum aku duduk, kulihat sang ketua komite, mama Feli, sudah duduk manis sambil ngemil pisang goreng.  “Wuiiihhh..mantappp kaliii ini ibu satu, gituu yaa ga nawar-nawarin, makan sendiriii..” candaku pada mama Feli yang biasa kupanggil dengan Mili. “Hahaha…emang! Mau kuhabisin semua nih biar yang datang belakangan pada gak kebagian!” balasnya.

Memang begitulah yang terjadi saat bertemu dengan para ibu sekolah anakku. Para ibu-ibu muda yang sebenarnya juga punya banyak kesibukan di luar, tetapi tetap bersemangat membantu dan mendukung seluruh kegiatan sekolah anak-anaknya. Merekalah yang menjadi salah satu inspirasiku, bahwa apapun kesibukan orang tua di luar sana, anak tetap menjadi yang utama.

Sekitar lima belas menit kemudian, mulai banyak yang berdatangan. Ya, saya dan beberapa pengurus memang selalu berusaha hadir lebih awal, agar mudah jika ada yang perlu dikoordinasikan lebih awal. Sekitar tiga puluh menit kemudian, rapat dimulai oleh ibu Kepala Sekolah.

“Baik..mama-mama sekalian. Seperti yang kami sampaikan sebelumnya, bahwa kurang lebih satu bulan lagi, sekolah akan mengikuti lomba paduan suara tingkat SD. Sedangkan untuk persiapannya, kami membutuhkan support dari mama-mama semua. Mulai hari ini anak-anak akan latihan seminggu tiga kali, dengan guru musik yang biasanya. Apakah mama-mama sekalian bisa membantu untuk memastikan bahwa anak-anak akan selalu hadir dalam latihan?” sambut ibu Kepala Sekolah sekaligus menagih keniatan kami di kelas extra paduan suara.

“Nanti di minggu pertama ini, akan ada seleksi suara yang dilakukan oleh guru musik. Dan jika nanti absensi kehadiran kurang dari 90% maka mohon maaf mungkin tidak bisa kami ikut sertakan dalam lomba.” tambah ibu Kepala Sekolah lagi.

”Wuaahhh.ketat sekali seleksinya, “ pikirku. Aku dan anakku memang anggota baru di sekolah ini. Maka kami masih agak surprise mengikuti ritme kegiatan sekolah. Tidak mudah awalnya, apalagi bagi anakku yang agak susah beradaptasi di lingkungan baru. Namun, tidak ada yang tidak bisa dilakukan jika kita berusaha melakukan yang terbaik.

Baik, silakan ibu-ibu komite dan panitia untuk membahas beberapa hal yang penting untuk disiapkan. Selanjutnya akan disampaikan oleh mama Feli selaku ketua komite dan mama Kafka sebagai ketua panitia. ” tutup Ibu Kepala Sekolah mengakhiri sesi pihak sekolah.

“Baik mama semua, langsung saja agar meetingnya singkat, padat, dan segera bisa dieksekusi dalam aksi yaa..Anak-anak membutuhkan beberapa persiapan, khususnya konsep kostum, dan akomodasi saat hari pelaksanaan. Setelah ini akan kita atur bagaimana konsep kostum untuk anak-anak, mulai dari belanja bahan, penjahitan, fitting, hingga nanti siap untuk digunakan lomba.” Mama Kafka menyampaikan dengan efektif.

Sekitar  satu jam kemudian, pertemuan tersebut berakhir dan rasanya pikiranku masih melayang-layang membayangkan hasil pertemuan tadi. Tambahan tugas lagi yang harus aku selesaikan. Menjadi tim pembuat konsep hingga pengadaan kostum lomba kali ini mungkin tidak akan cukup mudah. Tapi sekali lagi, ini demi anakku. Orang tua adalah pihak pertama yang harus mengambil peran sangat besar dalam kehidupan sang anak. Seharusnya memang tidak bisa dan tidak akan ada yang bisa memberikan kontribusi sebesar orang tua.  Maka untuk apapun yang akan diperjuangkan anakku, aku adalah orang pertama yang akan memberikan dukungan penuh.

Tiga hari ke depan, aku dan tim disibukkan mulai dari satu toko kain ke toko kain lainnya. “Bagus mana ya warnanya? Maroon yang ini atau yang magenta ini ya?” Diskusi kami siang itu di sebuah toko kain di tengah kota kami. “Ehhmm…klo buat anak laki-laki ini warnanya bagus nih merahnya. Tapi merah ini terlalu biasa gk ya warnanya? Nanti jangan-jangan banyak yang pakai warna merah, jadi gak spesial deh warna kostum kita..” ungkap Mama Feli memberikan komentarnya atas warna yang kupilih. “Hmm iya ya, bener juga ya..jadi gimana kalau magenta ini aja? Nanti kita cari kain hitam untuk bikin sabuk dan pita, serta kain tile untuk bikin tambahan gemerlapnya?” saran mama Kafka menambahkan. “Oh ya, boleh..boleh..udah yukk, kita lanjut ke toko baju anak. Masih perlu suspender dan kaos kaki hitam kan?” Begitulah yang terjadi selama sekitar 1 minggu. Semua konsep kostum sudah harus matang. Selanjutnya akan dijahitkan dan anak-anak akan fitting terakhir sebelum lomba.

Sudah sekitar dua minggu ini, Nara, anakku selama tiga kali dalam seminggu harus kembali ke sekolah pukul 15.30. Disana telah ada guru musik dan guru pendamping yang akan mengawal latian anak-anak. Selama dua minggu ini pula, aku sebagai orang tua berusaha untuk menjaga dan membuat mood anakku untuk tidak berubah. Bagi seorang anak usia 4 tahun, tidaklah mudah untuk melalui ini semua. Bagaimana mau bicara tentang kemenangan, sementara arti dari lomba saja mereka belum paham.

“Mama…..Nara ngantuk, gak mau latihan. Capek…..” ungkap anakku sore itu.

“Oh iya nak…capek ya…tapiii…..Arjuna, Kafka, dan Ella sedang menunggu Nara di sekolah sore ini. Kira-kira kalau Nara tidak datang, mereka sedih gak ya..??” bujukku. Terus terang aku pun bingung bagaimana caranya aku harus menyampaikan bahwa ini adalah lomba. “Kita harus latihan dengan keras dan sungguh-sungguh untuk bisa menang” batinku. Tapi bagaimana caraku untuk mengatakannya? Tentu ia akan menjawabnya dengan ekspresi kosong atau justru tidak peduli.

“Mamaaaa….Nara gak mau! Gak mauuuu! Mau bobok ajaaa! Mama ngerti gak siiiihh!”  Anakku dengan kesal memarahiku yang tetap ingin dia berangkat latihan.

Wah sudah, pusinglah saya jika sudah begini. Serba salah menghadapi anak-anak. Jika dipaksa nanti justru membuat moodnya buruk dan tidak konsen saat latihan, tapi jika tidak dipaksa, bagaimana caranya? Waktu lomba sudah semakin dekat, dan ini sudah minggu ketiga. Mampus!

Bingung aku bagaimana menghadapinya, akhirnya aku coba untuk menelpon Mama Kafka.

“Mom…sudah di sekolah belum? Nara badmood nih, ga mau masuk latihan. Bisa gak ya, kasih teleponnya ke Kafka dan minta Kafka untuk mengajak Nara. Bilang aja sudah ditunggu di sekolah. Seru banget latihannya, rugi kalau gak datang.” Pintaku pada mama Kafka di ujung telepon.

“Ohh..oke mom, tunggu ya..” jawab mama Kafka sambil mencari keberadaan Kafka. Sayup-sayup terdengar suara percakapan Kafka dengan ibunya.

Halo…Nara..Halo..ini Kafka.” Sahut Kafka. Segera aku serahkan ponselku kepada anakku yang tengah berguling-guling di tempat tidur. ”Ditunggu Kafka di sekolah ya! Ehmmm..Seru banget..Sudah ada Arjuna, Benic, Feli, Ella, lagi main..Ehmm Nara cepet kesini ya..Kita main bareng balapan mobil lagi yaa..” suara Kafka, menirukan suara ibu di sampingnya yang membisikkan kalimat untuk diucapkan.

“Nara, ayo jawab…ini Kafka yang telepon lohhh..” ucapku membujuknya lagi.

“….Ehmmm yaaa..” Hanya itu yang diucapkan anakku.

Begitulah yang terjadi sore ini dan beberapa kali setelahnya. Trik yang aku gunakan pun harus berbeda-beda agar si anak tidak terasa seperti dipaksa, meskipun sebenarnya memang dipaksa, haha..

Disinilah perjuangan orang tua. Dimana kadang pun orang tua tidak yakin pada apa yang dilakukannya benar atau salah. “Benarkah jika memaksa anak untuk melakukan hal yang tidak dia inginkan? Bukankah dia mungkin saja memang lelah? Tapi jika aku tidak menguatkan niat, bagaimana nanti latihannya? Bagaimana nanti performace-nya di panggung. Bukankah dia pasti juga bangga jika memenangkan lomba itu? Bukankah berarti latihannya akan terbayar lunas?” Berbagai pertanyaan menyesakkan pikiranku.

***

Tanpa terasa hari perlombaan yang ditunggu pun tiba. Aku dan ayahnya sangat excited untuk melihat performance-nya hari itu.  Untuk menyaksikan ini, ayahnya pun rela cuti dari kantornya. Untuk melihat bagaimana anaknya berjuang di atas panggung.

Sejak pukul sembilan pagi kami sudah siap di tempat lomba. Namun, agar kondisinya kondusif, anak-anak dipisahkan dari orang tuanya untuk di-briefing dulu oleh para guru di belakang panggung. Kami para orang tua dipersilakan untuk menempati kursi-kursi penonton di depan panggung. “Anak-anak akan tampil setelah ini ya moms..” bisik seorang guru kepadaku. “Baik Bu, terima kasih..” balasku.

Lalu, “……..” lampu ruangan dimatikan, suasana langsung senyap. Semua pandangan mata mengarah ke arah panggung. “Nara…Nara…anakku Nara…semangat nak! Mama dan papa disini, nak..” batinku ingin berteriak ketika kulihat tubuhnya yang masih mungil itu berjalan memasuki ruangan, dan menaiki tangga panggung. Kulambaikan tangan padanya, memberinya isyarat bahwa kami berdua selalu mendukungmu untuk maju. Matanya memandang ke arahku dan ayahnya. Senyumnya mengembang kecil. Hatiku bergetar melihatnya.

“Pada hari minggu, kuturut ayah ke kota..

Naik delman istimewa, ku duduk di muka…

……”

Kulihat ayahnya sudah siap dengan ponsel yang sedang merekam selama pertunjukan. Tanpa terasa air mataku menggenang, rasanya aku sudah hampir menangis. “Anakku yang dulu kugendong itu, sekarang sudah bisa berada disana untuk lomba. Seusiamu dulu, ibumu belum mampu apa-apa, belum paham apapun. Tapi engkau, sekecil ini, sudah bisa sampai di tahap ini. Menjawab tantanganmu sendiri, mengalahkan semua masalah yang menghambatmu beberapa waktu yang lalu. Dirimu menang atas dirimu sendiri. Itulah makna kemenangan yang sesungguhnya, anakku..Ingatlah itu….” batinku berkata dan ingin rasanya aku meneriakkan itu dengan lantang.

Ada dua puluh lima peserta yang mengikuti lomba paduan suara anak saat itu. Dan sekolahnya mendapatkan juara II se-Kabupaten. Tapi bagiku pribadi, juaranya berapapun, menang atau kalah, itu bukan masalah. Bagiku, anakku akan tetap selalu juara di hatiku. Bagiku, juara adalah bagaimana dia bisa berlomba mengalahkan kemalasan, ketidakpercaya dirian, ketakutan, dan keraguan pada diri sendiri. Kami bangga padamu, anakku…

Manager Keluarga

Postingan saya kali ini sudah menginjak NHW (Nice Home Work) ke-6 dalam komunitas IIP (Institut Ibu Profesional). Dalam materi kali ini, kami diminta untuk belajar menjadi manager keluarga yang handal. Tujuannya adalah untuk mempermudah para bunda untuk menemukan peran hidup dan membantu para bunda untuk mendampingi anak-anak menemukan peran hidupnya. Namun dalam kenyataannya, ada ha-hal yang kadang mengganggu proses menemukan peran hidup tersebut, disebut sebagai rutinitas. Menjalankan pekerjaan rutin yang tidak selesai, membuat para bunda menjadi merasa sibuk sehingga kadang tidak ada waktu lagi untuk menemukan proses menemukan diri. Maka kami disini diminta untuk mengikuti tahapan-tahapan untuk memperbaiki arah. Yang pertama adalah :
1. Mengenali 3 aktivitas yang paling penting & 3 aktivitas paling tidak penting.
Aktivitas-aktivitas yang ditulis disini adalah pendapat secara pribadi. Karena penting atau tidak penting adalah relatif, artinya setiap orang bisa atau boleh memiliki sudut pandang yang berbeda. Bagi saya aktivitas rutin yang paling penting :
– Memenuhi segala kebutuhan anak, misal menyiapkan bekal yang bergizi terbaik setiap pagi, melatih rutinitas untuk sholat dan mengaji, dll
– Memenuhi segala kebutuhan suami, misal saat akan berangkat kerja, saat pulang kerja, menyiapkan makan malam yang terbaik, merawat jika sakit, dll
– Memastikan keadaan rumah selalu bersih, rapi, dan kondusif untuk melaksanakan semua aktivitas. (Di rumah kami kebetulan memiliki ART, maka saya menjalankan fungsi saya untuk supervisi, dan melakukan sebagian aktivitas yang tidak perlu dilakukan oleh ART).
Sementara untuk hal yang “dianggap” paling tidak penting, sebenarnya bagi saya tidak ada aktivitas tidak penting yang saya lakukan, hanya saja terkadang porsi waktunya lebih dari yang seharusnya. Misal :
– Mengobrol dengan sahabat-sahabat lama di grup atau di sosmed. Hal ini jika dianggap tidak penting sebenarnya tidak bisa juga, karena saya dan sahabat-sahabat lama memang masih bersilaturrahim dengan sangat baik. Ada beberapa hal yang kadang memang penting untuk dibicarakan. Dan aktivitas ini tidak selalu terjadi setiap hari/ setiap saat di jam yang sama (tidak rutin)
– Membersihkan rumah. Bagi saya saat dulu belum memiliki ART, kegiatan membereskan rumah adalah rutinitas yang menghambat saya untuk melakukan aktivitas lain yang seharusnya bisa meningkatkan peran/ kemampuan saya. Pekerjaan rumah adalah hal paling menyita perhatian, tapi tidak pernah bisa selesai. Untuk itulah saat ini saya dibantu oleh ART dan saya tetap menjalankan peran sebagai istri dan ibu dengan memastikan keadaan rumah kondusif untuk segala aktivitas suami dan anak, serta tetap melakukan sebagian hal yang tidak perlu dilakukan oleh ART. Saya menyadari bahwa saya tetap sebagai penanggung jawab dari rumah.
– Mengobrol dengan tetangga. Sebenarnya hal ini tidak bisa juga dikatakan rutin, dan tidak penting. Biasanya saya mengobrol dengan tetangga itu adalah saat sore, dimana anak-anak membutuhkan aktivitas sosial dengan teman-temannya. Hal itu yang membuat saya relatif lebih sering bertemu dengan tetangga, dan berkomunikasi seputar hal-hal sehari-hari. Hanya saja yang perlu dicermati adalah topik obrolannya, bukan aktivitasnya.
2. Waktu pelaksanaan aktivitas-aktivitas
Jika pertanyaannya adalah waktu anda selama ini habis untuk kegiatan/ aktivitas yang mana maka jawaban saya adalah untuk aktivitas yang saya masukkan dalam kelompok aktivitas penting. Bagaimanapun kegiatan harian/ rutinitas tersebut tetap menjadi prioritas utama.

3. Prioritas Aktivitas
Sesuai arahan dari IIP, maka saya akan menjadikan aktivitas-aktivitas penting tersebut untuk menjadi aktivitas dinamis sehari-hari untuk memperbanyak jam terbang peran hidup saya. Hal ini konsisten dengan peran hidup yang ingin saya pilih adalah menjadi orang tua dan istri yang terbaik dalam keluarga.

4. Scheduling
Bagi saya, segala aktivitas rutin tersebut sudah memiliki plot-plot waktu yang selalu rutin saya lakukan. Sehingga sudah pasti akan terlaksana sesuai jadwal.

5. Konsisten
Bagi saya, konsisten adalah kuncinya. Dalam melaksanakan sebuah rutinitas, yang paling penting adalah kemampuan untuk konsisten dalam melaksanakan dan memenuhi timelinenya. Jika pun ada agenda-agenda yang tidak terencana, saya pribadi memiliki sebuah ukuran pentingnya aktivitas tersebut sehingga akan dibuat tetap tidak mengganggu aktivitas normal.

6. Daily List
Membuat sebuah daftar pekerjaan harian sebenarnya bukanlah tipikal saya. Bukan karena tidak mampu membuat, tapi bagi saya tidak perlu terlalu kaku dalam menentukan aturan waktu dan aktivitas harian yang perlu dilakukan. 3 agenda paling penting dalam keseharian saya ada yang memiliki waktu yang sama setiap harinya, ada yang berbeda-beda. Maka bagi saya, yang paling penting adalah memenuhi sesuai target waktunya.
Misal : anak saya masuk sekolah pukul 07.30, makan pagi jam 09.00 maka saya bisa memilih untuk menyiapkan bekal anak saya sebelum berangkat ke sekolah (07.30) atau sebelum jam makan pagi (09.00). Ada alasan yang berbeda kenapa saya memilih untuk menyiapkan sebelum jam berangkat ke sekolah atau jam makan pagi, antara lain jika ada jenis makanan yang lebih enak dimakan saat hangat, maka saya akan memilih untuk mengantarkan bekal anak sebelum jam makan pagi. Jika menu makanan tidak perlu sebaiknya hangat, maka saya akan menyiapkan sejak awal sebelum berangkat ke sekolah. Hal tersebut yang saya maksud tidak bisa terlalu kaku dalam menentukan daily list. Yang paling penting adalah memenuhi target waktunya.

Demikian hal yang bisa saya gambarkan dari aktivitas saya sehari-hari untuk belajar menjadi menager yang handal dalam keluarga. Semoga bermanfaat ya, readers….

(Mencoba) Memahami Maksud Allah

Postingan ke-3 di blog ini masih tentang materi dari matrikulasi Institut Ibu Profesional. Kali ini judulnya adalah “Membangun Peradaban dari Dalam Rumah”. Dimana kali ini nice homework nya lebih seru dan menantang, yaitu diminta untuk mengirimkan surat cinta kepada suami, dan melihat responnya. Begitu bagi saya, sungguh sangat sulit dilakukan awalnya karena tidak pernah saya lakukan sebelumnya. Lagipula ini bukan karakter saya. Tapi dengan sedikit pemaksaan akhirnya saya pun melakukannya. Ternyata sungguh luar biasa hasilnya. Suami saya sangat mengapresiasi itu, dan intinya mengatakan kepada saya bahwa beliau juga merasa sangat beruntung memiliki istri seperti saya. Sangat bahagia dengan kehidupannya saat ini bersama saya. Tak lupa beliau menitipkan juga pesan-pesan yang beliau harapkan kepada saya untuk menjadi istri yang baik dan menjaga martabat keluarga. Semoga kehidupan kami akan terus bahagia sampai waktu berhenti. Terima kasih, suamiku…..

Dalam kehidupan kami saat ini, telah dikaruniai seorang anak laki-laki, berusia 4 tahun. Bagi saya seorang ibu rumah tangga yang full time menyerahkan waktu untuk perkembangan anak saya, maka untuk saat ini ada beberapa hal yang saya amati berpotensi menjadi kekuatan diri anak saya, antara lain :
1. Memiliki kemampuan bahasa/ komunikasi yang sangat baik. Bahkan menurut saya termasuk di atas rata-rata untuk anak seusianya. Kemampuan ini saya harapkan bisa menjadi bekalnya untuk mampu berkomunikasi dengan baik dengan teman-temannya, menjadi anak yang percaya diri, dan berani mengungkapkan pendapat di depan orang lain.
2. Memiliki kemauan keras pada suatu keinginan. Hal ini bisa dipandang positif dan negatif. Negatif mungkin jika dilihat dari skala anak2 yang masih belum bisa diberi pemahaman, sehingga kadang menimbulkan konflik. Tapi saya percaya bahwa potensi kemampuan ini akan menjadi sesuatu yang membanggakan kelak saat saya membimbingnya dengan sabar dan mengarahkan dengan baik.
3. Menyukai aktifitas yang berhubungan dengan musik, seperti menyanyi, dan bermain musik. Untuk itu saya arahkan kegiatannya pada hal-hal yang mendukung hobinya tersebut. Misal mengikuti aktivitas paduan suara, membelikan alat musik, selanjutnya rencananya akan saya ikutkan les musik saat usianya sudah dirasa cukup mampu.
4. Detail. Dalam banyak hal, anak saya menyukai sesuatu yang detail. Hal-hal kecil ternyata diperhatikan. Dia mengamati juga kondisi di sekitarnya, kemudian kadang dia ceritakan kembali kepada kami apa yang telah diamatinya sebelumnya. Dalam hal mainan, dia menyukai lego (mainan bongkar pasang) yang kecil yang membutuhkan ketelitian untuk memasang. Dia juga sangat menyukai kipas angin, diperhatikan detailnya, mesinnya, dan putarannya. Dia bisa menonton video tentang kipas angin dalam banyak jenis, dia ceritakan apa saja jenis kipas angin, dan bagaimana cara memperbaikinya. Kemudian dia akan praktekkan kepada kipas angin yang dia sukai. Akan dia bongkar, melihat mesinnya, dan mencoba memperbaikinya. Hal ini sama juga halnya dengan AC, tetapi jika pada AC tidak bisa dipraktekkan untuk bongkar pasang, hehe…
5. Perfectionist. Menyukai sesuatu yang rapi, bersih, dan sempurna. Dalam banyak hal dia suka memasang dengan benar2 lurus, benar2 rapi. Dia juga tidak suka sesuatu yang kotor sehingga kadang dia ingin membersihkan, misal membersihkan kipas angin, dan mobil.

Melihat suami dan anak saya, tentunya saya kadang juga memilikirkan, apa potensi yang saya miliki, dan apa tujuan Allah untuk menempatkan saya sebagai istri dan ibu dari keluarga ini dengan segena kemampuan saya. Jika menilik diri saya yang (menurut saya) juga memiliki kekuatan komunikasi yang baik, mudah beradaptasi, mempunyai keinginan yang kuat, target dalam suatu hal, suka mimpi yang besar, maka mungkin Allah menginginkan saya untuk menjadi ibu yang hebat, yang bisa membimbing anak saya menjadi seorang yang sangat luar biasa. Begitupun kepada suami saya, yang saya pandang sebagai seseorang yang jauhhh di atas saya memiliki kemampuan luar biasa dalam banyak hal, maka Allah meminta saya untuk menjadi penyeimbangnya, serta pelengkapnya karena banyak juga kekurangan saya dilengkapi oleh suami saya yg memiliki kemampuan kebalikan dari saya.
Membaca semua yang saya tulis tadi, itu semua adalah faktor internal yang saling mempengaruhi dalam kehidupan kami. Lalu bagaimana dengan faktor eksternalnya? Faktor eksternal adalah faktor dari luar, misalnya lingkungan tempat tinggal. Merasakan dan menganalisa lingkungan tempat tinggal kami saat ini, ada beberapa hal yang menjadi tantangan ke depan. Antara lain, bagaimana lingkungan tempat tinggal ini kondusif untuk pendidikan karakter anak. Ada beberapa anak tetangga yang kurang mendapatkan perhatian dari orang tuanya sehingga beberapa hal memberi pengaruh negatif kepada anak saya. Melihat kondisi ini saat ini, jika berusaha menangkap maksud Allah, maka bagi saya Allah ingin menjadikan saya orang yang lebih sabar, orang yang mampu membuktikan kepada lingkungan bahwa pengaruh pendidikan dasar pada anak2 sangat penting. Pengaruh pengasuhan oleh ibu secara langsung memantau perkembangannya sangat signifikan. Allah ingin saya mengajarkan kepada anak2 yang kurang mendapatkan perhatian menjadi anak yang lebih baik.

Akhirnya, sampai kepada pertanyaan besar, apa peran spesifik keluarga kami di muka bumi. Menurut saya, peran kami adalah menjadi manusia yang selalu bersyukur pada Allah, menjalani kehidupan kami dengan hati yang lapang, serta memberikan yang terbaik bagi anak-anak kami. Sesederhana itu saja. Perubahan diawali dari dalam keluarga. In shaa Allah jika keluarga baik, bahagia, maka Allah akan melimpahkan juga keberkahan dan nikmat-Nya.  Kenapa begitu? Karena skenario Allah untuk kami sungguh sempurna. Allah dengan luar biasanya mempertemukan saya dan suami, kemudian mengkaruniai kami anak yang luar biasa. Maka kami merasa telah dipercaya oleh Allah untuk meneruskan hal-hal baik dan memberi anak kami masa depan yang sesuai dengan harapan Allah.
Waahh sepertinya sudah banyak yang saya tuliskan. Semoga point2 di atas bisa menjadi manfaat bagi yang membaca.