Rasa. Di Mana Aku Harus Mencari?

Rasa. Setelah diksi pun masih jauh dari sempurna, kali ini saya harus belajar tentang bagaimana menyalurkan rasa. Sulit ternyata. Bagi saya. Karena ini terkait dengan masalah kepekaan, dan ketelitian.

Banyak teori yang menuliskan tentang rasa. Namun seperti halnya cinta, tidak ada teori pasti yang bisa menggambarkan bagaimana caranya jatuh cinta.

Kini, Tuhan mempertemukan saya dengan sekolah yang menarik. Cara mendidik di kelas ini menarik. Sangat menarik. Berbeda dari kelas yang lain yang pernah saya ikuti. Kelas ini tidak punya teori pasti. Aneh? tidak. Hanya berbeda.

Sebuah teori dianggap justru membatasi ruang berpikir kami di sini. Padahal rasa tak bisa diteorikan, dan dibatasi. Haha.. seru! Lalu bagaimana? Di sini sekolah jurusan Pendidikan Rasa. Sebuah jurusan yang belum pernah ada. Andaikan pun ada, apakah dipercaya? Karena tidak ada teorinya.

Lalu, belajar dari mana? Cara belajar kami diawali dengan cara membedah karya para maestro sastra. Ini menarik, kami jadi terbiasa untuk merasakan. Memahami, meresapi, dan akhirnya menuangkan.

Namun, itu pun ternyata masih tidak mudah. Maka cara selanjutnya adalah praktek. Baca baca, nulis. Baca lagi, nulis lagi. Semakin banyak baca diharapkan semakin mampu menulis. Namun itu juga ternyata masih jauh dari sempurna. Ya. Memang tidak mudah.

Lalu bagaimana? Saya mencoba menyederhanakan dalam analogi. Ketika hati begitu ingin makan kue coklat, maka cari kue coklat favorit itu. Lalu, coba resapi, rasakan bagaimana choco melting itu meleleh di dalam mulut, begitu manis, dan lembut. Simpan rasa dalam kecapan, catat, lalu tuangkan seberapa nikmatnya. Ketika kita mampu membuat orang lain ingin makan juga, di situ lah artinya kita telah menemukan rasa.

Selamat menemukan.

Advertisements

Desa Para Pembajak Sawah

Desa. Kampung. Tertinggal. Miskin. Petani. Nelayan. Itulah profil desaku. Tinggal di lokasi yang tak banyak bisa menuntut ini dan itu, rupanya sekarang menjadi sebuah cerita seru.

Desa. Ya, selama 15 tahun aku menghabiskan waktuku di sana. Tempat yang tak ada macam-macam seperti di kota. Jangan berharap apa-apa. Justru sebenarnya aku berhutang banyak padanya.

Desaku. Tempat para pembajak sawah berangkat pagi pulang petang. Saking cintanya pada kesederhanaan, sampai sekarang sawah pun masih digarap dengan tadah hujan. Bagaimana tidak banyak gagal? Ketika musim panen padi tak lagi menjanjikan perbaikan nasib kehidupan, maka harapan pun beralih ke jenis tanaman lain. Singkong, kacang, atau pun labu kuning. Bersuka cita panennya, tapi setelah itu bingung mau dijual ke mana. Ya, inilah desaku. Desa para pembajak sawah.

Kadang aku bingung. Desaku tak pernah bisa maju. Tersepuh oleh arus zaman, yang secara mental belum siap kami terima. Satu sisi, banyak anak mudanya bergaya bak artis ibukota. Anak-anak SMA pakai rok di atas lutut dengan bangga. Warung kopi pun tak pernah jeda dari sepi. Namun apa hasilnya. Desaku tetap tidak maju.

Aku kadang berpikir, kenapa para pembajak sawah ini harus jadi penghuni kasta terbawah? Bukankah negeri ini isinya tanah serta sawah? Entahlah … kaum yang senantiasa bodoh atau dibodohkan? Dibodohkan atau memang tidak dipintarkan? Desaku tak pernah maju. Sejak dulu hampir selalu begitu.

Benarkah tidak bisa maju?

Jika begitu, harusnya aku pulang untuk membangun desaku.

Diksi, Oh Diksi.

Diksi. Bagi saya yang masih sangat amatir, ternyata masalah diksi adalah masalah serius. Selama ini, membaca adalah syarat mutlak untuk bisa membuat sebuah tulisan yang bagus. Ternyata, bukan begitu pemahamannya.

Ada dua tipikal manusia membaca. Membaca untuk membaca, dan membaca untuk menulis. Bagi orang yang biasa membaca, dan memang hanya untuk membaca, maka tidak perlu menganalisis diksi dengan sangat detail. Berbeda dengan yang membaca untuk menulis, diksi adalah bagian dari analisis yang harus dicermati.

Kenapa diksi? Karena diksi mampu mengantarkan rasa, yang seharusnya benar-benar ingin disampaikan oleh penulis kepada pembaca. Sulit? Sangat. Jika kita tidak meneliti dengan cermat, dan melatihnya.

Ada salah satu cara yang mentor saya ajarkan untuk melatih diksi. Yaitu dengan membuat uraian atas kalimat singkat, agar lebih tergambarkan rasanya.

Misalnya, membuat uraian untuk ‘sekedar’ kalimat ini : Aku mencintaimu.

Dengan kemampuan saya yang masih sangat perlu dilatih, saya menjawab begini :

Aku mencintaimu

[4/15, 10:07 PM] Yuniar Ardhist:

1. Kutemukan kau selalu di situ. Tak pernah pergi. Meski detikku berusaha mengikis kenangan satu per satu. Ternyata ada sesuatu, yang tak pernah bisa kuubah, meski oleh waktu.

2. Bisikmu pada bulan setiap malam, semoga kita bisa memandangnya dari sudut yang sama. Entah kapan. Tapi kita paham satu hal, bulan kita sama. Meski sudut pandang kita masih berbeda.

3. Kenapa aku selalu ingin menunggumu? Bukankah waktu itu kau sudah memintaku pergi? Waktu seakan berhenti untukku menantimu. Namun kata mereka, aku telah begitu banyak menghabiskan waktu.

4. Menunggumu kembali, seperti menguras darahku sendiri. Semakin kering. Habis. Dan kau, masih tak kembali. Aku? Mati.

5. Tak pernah bisa kupahami. Kenapa hanya kau yang bisa menyalakan pijar di mataku. Begitu terang. Menyilaukan. Hingga hanya kau yang kulihat paling bersinar.

Kemudian, ditanggapi Mentor saya seperti ini :

[4/15, 10:26 PM] ‪Yuniar. Saya memolesnya dikit;

Aku mencintaimu.

1. Kutemukan kau di situ. Tak pernah pergi. Detik berusaha kuat mengikis kenangan. Satu per satu. Ada sesuatu tertinggal, yang tak pernah bisa kuubah, meski oleh waktu, meski oleh siapa pun, meski sampai kapan pun.

2. Bisikmu setiap malam, semoga kita bisa memandangnya dari sudut yang sama. Entah kapan. Tetapi yang pasti, kita paham satu hal, malam kita sama. Meski sudut pandang kita masih saja berbeda.

3. Mengapa aku selalu ingin menunggumu? Bukankah waktu itu kau sudah memintaku pergi jauh hingga lupa jalan kembali? Waktu seolah berhenti. Berhenti untukku. Untuk menantimu. Kata mereka, aku telah banyak menghabiskan waktu.

4. Menunggumu kembali ialah seperti menguras darah dalam tubuhku. Kian lama, kian kering. Lalu habis. Dan kau, masih saja tak kembali. Aku? Mati.

5. Tak pernah bisa kupahami, mengapa hanya kau yang bisa menyalakan sesuatu di mataku. Begitu terang. Sampai-sampai menyilaukan. Hingga hanya kau yang dapat kulihat terang.

Diksi, tidak mudah. Tapi, indah bukan?

Pijar 1000 Neon

Wanita renta berkalung selendang batik itu, berjalan pelan. Matanya tampak sangat kelam, hitam membulat, menatap dengan kosong ke arah depan. Punggungnya sudah cukup bungkuk, lebih dari 30 tahun memanggul dagangan.

Ya, namanya Mbok Mukijah. Wanita tua dengan daya pijar 1000 neon hadir di tengah-tengah manusia. Bekerja sebagai penjual jajanan pilus dan samier yang diracik sendiri dengan tangannya.

Perjalanan hari ini, terasa lebih berat dari hari-hari biasanya. Jarak tiga hingga lima kilometer, biasa ia tempuh setiap harinya. Untuk menghantarkan rasa sekedar kudapan bagi teman minum teh, atau penghabis senja. Pilus lima ratus rupiah, serta samier seribu tiga, tekun ia jajakan. Demi siapa?

Mbok Mukijah, wanita pejuang kehidupan. Sejak suaminya meninggal 10 tahun yang lalu, ketiga anaknya menjadi tanggung jawabnya sepenuhnya. Sekarang, ada seorang cucu yang ikut pula ditanggungnya. Cucu laki-laki yang sangat menggemaskan. Kulitnya yang putih, badannya yang selalu diisi dengan makanan bergizi, suatu siang datang bersama ayahnya.

Mbok Mukijah sangat terkejut. Lama tak bersua, anaknya datang bersama dengan cucunya. Tak hanya itu, sang anak membawa serta anak perempuan. Gadis kecil berpita merah, dengan bola mata sebesar rembulan saat purnama. Indah sekali.

Tak hanya itu, anak laki-lakinya datang, bersama juga dengan istri barunya. Ya, ia telah bercerai dengan istri lamanya. Istri barunya jauh lebih muda, dan sangat cantik. Kulitnya lebih mirip porselen yang mengkilat dan licin. Matanya indah, coklat keemasan. Sama seperti gadis berpita merah itu. Oh, rupanya anak ini mirip ibunya.

Suatu pagi, Mbok Mukijah membuat kehebohan. Seluruh kampung ia bangunkan. Ia berteriak-teriak, menangis, berlari mengetuk setiap pintu rumah-rumah tetangga.

“Ada apa, Mbok? Kenapa kau sebingung ini?”

Bu RT kaget mendengar pintunya diketuk dengan sangat keras.

“Bu, tolong Bu. Anak saya pergi dari rumah. Dia bawa beberapa uang simpanan saya. Sekarang, ia tinggalkan pula anaknya di rumah saya.” suara Mbok Mukijah terdengar antara mengiba dan berteriak. Batinnya perih, mendapati anaknya yang melakukan ini.

“Ya, Mbok. Lalu, Mbok mau kami mencari anak Mbok?”

“Bantu saya mengejarnya. Saya harus menemukannya. Saya ingin bertanya, kenapa ia juga tinggalkan anaknya?”

“Ke mana kami harus mengejar anak Mbok?”

“Jakarta. Dia pasti kembali ke Jakarta.”

Hening. Ibu RT pun tak lagi bicara. Ia hanya bisa mencoba menenangkan Mbok Mukijah.

Tahun berlalu. Mbok Mukijah masih sama. Hanya waktu yang berubah.

Lima belas tahun sudah usia cucunya. Kadang ia masih bertanya, ke mana ayah dan ibunya. Mbok Mukijah masih sama. Tak mampu menjawabnya.

Hari ini, rasanya lebih berat dari hari sebelumnya. Dadanya agak berat, lebih berat dari beban di punggungnya. Juga di pundaknya.

“Aku tidur sebentar ya, Le ….”

Cucunya mengangguk tanpa bertanya.

“Mak … mak … sudah masuk maghrib. Salat, yuk Mak!”

“Mak … Mak … Mak ….”

Daya 1000 pijar neon itu perlahan meredup.

Bagaimana Membuat Quotes yang baik?

Dalam kehidupan, seringkali manusia membutuhkan sebuah dorongan atau inspirasi untuk melakukan banyak hal. Dari yang ragu, menjadi tidak ragu. Dari yang salah, menjadi benar. Dari yang tidak tahu, menjadi tahu, dan lain sebagainya. Itulah yang akhirnya memunculkan sebuah ide, bernama quotes.

Quotes merupakan sebuah rangkaian kata yang mengandung sebuah arti atau makna tertentu. Ada beberapa hal yang sebaiknya diperhatikan, saat seseorang membuat quotes. Antara lain :

1. Diksi (pilihan kata)

Diksi adalah hal pertama, dan berperan sangat vital. Seseorang yang memang ingin membuat quotes harus menggunakan pilihan kata yang tepat, dan memiliki pemaknaan yang kuat. Sehingga quotes yang dihasilkan tidak perlu bertele-tele, menggunakan banyak kata, tetapi maknanya tidak memberikan kekuatan. Jika memang ingin membuat quotes, maka harus bisa menemukan diksi-diksi yang memberikan rasa dalam kata. Lalu dipadu padankan, akhirnya menjadi kalimat quotes yang singkat, padat, dan powerfull.

2.  Inspirasi

Untuk membuat quotes yang baik, maka juga penting untuk melakukan riset. Agar mampu menggali, apa saja kegelisahan, cara berpikir, masalah yang cocok diangkat, serta bagaimana seseorang mampu termotivasi dari quotes yang dibuat. Pada prinsipnya, riset sangat dibutuhkan sebelum melakukan berbagai macam hal.

Dalam hal inspirational quotes, maka dibutuhkan riset : Apa yang membuat orang tidak termotivasi, dan apa yang bisa membuat orang lain termotivasi. Ada dua jenis risetnya. Masalah dan solusi.

Jika pembuat quotes tidak melakukan ini, menurut saya, tetap bisa saja menulis quotes. Tetapi seberapa besar kekuatan quotes itu mempengaruhi orang lain, itu akan menjadi berbeda. Lalu apa tujuan membuat inspirational quotes, jika tidak ada orang lain yang merasa terpengaruh dan terinspirasi?

3. Gaya bahasa

Gaya bahasa adalah salah satu hal penting untuk diperhatikan saat menulis quotes. Dengan menggunakan gaya bahasa yang tepat, mampu membuat quotes tersebut diingat dengan baik oleh pembaca. Selama ini, gaya bahasa digunakan oleh banyak jenis tulisan, untuk menyampaikan pesan dengan lebih megena, karena mengedepankan rasa. Rasa, sangat penting. Karena dengan rasa, pesan bisa sampai dengan lebih mudah, dan sifatnya memorable. 

4. Tema

Tema sangat terkait dengan quotes yang akan dibuat. Jika seorang amatir, ingin membuat sebuah quotes, maka penting untuk menuliskan secara spesifik tentang tema quotes. Misal, tema umumnya adalah menulis dan inspiratif. Maka, penting untuk membuat daftar jawaban dari hal-hal terkait menulis dan inspiratif. Jawaban-jawaban itu, bisa diawali dari pertanyaan-pertanyaan. Misal, apa arti menulis untuk saya? Apa manfaat menulis untuk saya? Mengapa menulis itu penting untuk dilakukan? Apa saja yang bisa membuat orang suka menulis? Apa saja usaha yang telah saya lakukan untuk menulis? Apa yang akan saya lakukan jika saya merasa sedang tidak punya ide? dan lain sebagainya.

Jawaban-jawaban dari pertanyaan itu, akan mengerucutkan dalam tema spesifik. Dari tema spesifik, maka pembuat quotes bisa mendapatkan gambaran khusus untuk dituliskan ke dalam kalimat quotes.  Semakin spesifik tema yang diangkat, semakin mampu menjadi kekuatan bagi pembaca quotes.

Itulah keempat hal penting yang menurut saya perlu diperhatikan saat membuat quotes. Diharapkan quotes yang dihasilkan dari proses tersebut mampu menghasilkan kekuatan, solusi, dan inspirasi bagi pembaca atau pendengar.

Coba bedakan antara quotes biasa dengan quotes yang sudah biasa didengar. Quotes bisa saja abadi, bahkan meskipun pembuat quotes itu telah tiada. Quotes-nya masih selalu diingat dan didengungkan. Kenapa? Karena pesan yang ia sampaikan merupakan racikan yang tepat antara diksi, gaya bahasa, rasa, tema, paham masalah yang dihadapi, serta merupakan solusi.

Sebenarnya, menurut saya pribadi, quotes itu tidak untuk sengaja dibuat. Saat Anda mendengar inspirational quotes dari tokoh-tokoh besar, misal : Ir. Soekarno, Gus Dur, Emha Ainun Najib, Gus Mus, dan lain-lain, apakah beliau memang sengaja membuat quotes untuk menginspirasi orang lain? Saya berkeyakinan tidak. Namun, pada kenyataannya, banyak sekali kata-kata beliau yang dikutip, dan diangkat sebagai quotes. Tanya kenapa? Bagi saya, karena kalimat yang para tokoh sampaikan, secara tidak langsung mampu memberikan pengaruh bagi pendengarnya. Mampu mengusik rasa.

Namun, jika Anda memang sengaja membuat quotes, baiklah. Namun, buatlah quotes dengan baik. Sampaikan pesan dengan benar-benar mengedepankan rasa, tetapi juga memainkan logika dengan tepat. Keempat hal di atas, semoga bisa turut membantu untuk mencerahkan.

Tak Semua Masa Lalu Harus Dilupakan

Masih tentang cerpen. Dunia menawan yang menarik untuk dipelajari. Dalam belajar tentang cerpen, menganalisis, serta menyimpulkan sebuah cerpen sastra, maka saya diminta untuk membaca dan membedah banyak sekali karya penulis sastra.

Salah satu yang saya pelajari adalah cerpen milik Budi Darma. Beliau adalah seorang guru besar di Universitas Negeri Surabaya yang sudah banyak sekali membuat karya.

Cerpen tersebut judulnya Tarom. Tarom ditulis Budi Darma dengan gayanya yang khas. Diksi dan plotnya membuat kita seolah sedang terbang, mengunjungi satu negara ke negara lain. Namun, ada satu hal yang menjadi catatan saya. Cara Budi Darma, membuat kita terpaksa belajar masa lalu.

Masa lalu apa yang dituliskan Budi Darma? Budi Darma menyuguhkan sebuah kisah, dengan fakta-fakta masa lalu sangat terasa. Masa lalu di sini artinya adalah sejarah, atau sesuatu yang pernah terjadi di masa sebelum sekarang. Dalam tulisan-tulisan beliau,  pembaca secara tidak langsung diminta untuk melakukan riset.

Dalam cerpen Tarom tersebut, pembaca diajak belajar tentang masa Perang Dunia, Perang Indonesia dengan Malaysia dengan slogannya yang terkenal Ganyang Malaysia. Juga cerita antara Monalisa dan Leonardo Da Vinci. Semua dikemas secara apik, menjadikan cerita masa lalu itu indah untuk dinikmati.

Ya, banyak sekali di antara kita, manusia Indonesia khususnya, yang tidak peduli pada masa lalu negara ini. Masa lalu itu kita namakan sejarah. Sebuah bangsa yang hebat, adalah bangsa yang menghargai sejarah. Baik dan buruk, kelam, tetapi semua cerita masa lalu itulah yang membuat kita semua berdiri di sini.

Apakah kita harus menunggu selevel Master Budi Darma dahulu untuk bisa tergerak belajar masa lalu? Seharusnya kita justru bisa mencontoh dari beliau. Usia yang tak lagi muda, tetapi memiliki pemahaman dan pengetahuan seluas itu. Pasti ketertarikan pada sejarah, mempelajarinya, dan menuangkannya pada karya sastra sudah beliau lakukan sejak masih muda. Jangan melupakan masa lalu yang bisa memberikan arti bagi masa depan. Tak semua hal harus dilupakan.

Analisis Cerpen : Manusia Cahaya

Tulisan hari ini, masih tentang sebuah analisis cerpen sastra media. Mengapa saya merasa menganalisis cerpen sastra adalah penting? Karena ternyata, membiasakan diri untuk menganalisis, membuat saya semakin terasah kepekaan, rasa, dan peduli pada lingkungan sekitar.

Cerpen sastra media yang saya analisis kali ini adalah :

Judul : Manusia Cahaya

Penulis : Jalaludin Muttaqin

Seperti biasa, ada lima poin pokok yang saya gunakan untuk menganalisis pesan dalam cerpen. Yaitu, paragraf kunci, diksi-diksi yang menarik, penjelasan konten pada salah satu paragraf, pendapat pribadi tentang cerpen tersebut, serta amanat yang ingin disampaikan penulis. Mari kita bahas dengan detail, satu per satu :

1. Paragraf Kunci :

Sudah berapa tahun aku tinggal sendiri di sebuah gua yang gelap. Manusia mengira diriku berada dalam kegelapan yang tak bisa melihat apa-apa dan hanya setan yang dapat menemani sekaligus melihat. Semua dugaan-dugaan mereka salah. Karena diriku adalah cahaya itu sendiri, maka aku mengusir gelap dan aku menjadi diriku sendiri. Kegelapan hanya karena ketiadaan cahaya. Begitu Tuhan dalam al-Qur’an menjelaskan, dan aku telah menemukan cahaya itu sendiri.

2. Diksi-Diksi Menarik :

tak semua manusia bisa melihat setan kecuali hatinya telah bersih dari perbuatan-perbuatan setan.

⁃ Mengasingkan diri dari hiruk-pikuk dunia yang tiap waktu selalu berkelahi dengan perdebatan-perdebatan anyir tentang salah dan benar.

⁃ aku ingin menjadi cahaya yang tak pernah ditemukan oleh manusia yang kelak mereka tau dengan sendirinya.

⁃ Tuhan tidak bisa dilepas dari materi-materi manusia sedang manusia adalah tempat yang paling sempurnah dimana cahaya Tuhan itu memancar.

3. Pendapat tentang konten paragraf berikut ini :

Di sebuah pasar, di sebuah masjid, di sebuah kampus, dan di jalan-jalan raya. Manusia selalu memperdebatkan tentang manusia yang bercahaya. Anehnya, mereka mengatakan diriku adalah manusia yang mengaku sebagai Tuhan.

“Dia adalah Tuhan itu sendiri,” kata seorang ulama yang pernah menemuiku di sebuah gua.

>> ini adalah pemaparan untuk mengatakan bahwa pandangan umum masyarakat tentang tokoh Manusia Cahaya. Masyarakat mengganggap, manusia cahaya sangat suci, hingga selevel Tuhan. Bahkan ia adalah wujud Tuhan itu sendiri.

4. Pendapat tentang cerpen ini :

>> cerpen ini diksinya tidak lugas. Sehingga pemaknaan pesannya harus dipelajari pelan-pelan dari setiap kalimat yang dituliskan.

>> suka cara penyampaian penulisnya. Alurnya smooth juga seperti cerpen sebelumnya. Bergerak perlahan membawa pembaca kepada pesan demi pesan, hingga menemukan kesimpulan, meskipun pesan kuncinya bukan didapatkan di akhir paragraf. Di akhir paragraf justru dibuat menggantung, dan menyisakan pertanyaan.

5. Amanat yg ingin disampaikan penulis :

>> penulis ini menyampaikan pesan bahwa masih sedangkal itulah pemikiran masyarakat secara umum kepada orang yang agak berbeda cara berpikir dengan mereka (masyarakat secara umum).

>> sesungguhnya manusia adalah makhluk yang diberikan akal dan nafsu, sebagai bekal utk menjadi khalifah di bumi. Akal adalah wakil dari kebenaran, kebaikan, sedangkan nafsu sebagai wakil kesalahan, keburukan. Hidup manusia di dunia merupakan pertarungan antara kedua hal tersebut. Pemaparan itu menjelaskan bahwa betapa menusia sungguh lemah imannya, dan seringkali terpedaya oleh tipudaya setan. Bahkan orang yang seharusnya jauh dari sifat2 setan, penyebar firman-firman Tuhan, malah justru menjadi setan itu sendiri.

>> Manusia-manusia yang ingin mengikuti dan menjalankan ajaran Tuhan, malah dianggap aneh, dan sesat. Penghakiman itu berasal dari hukum manusia sendiri, persepsi, dan akhirnya justru menyesatkan, memutar balikkan kebenaran menjadi fitnah.

>> Sebenarnya sifat-sifat Tuhan itu ada di dalam diri manusia. Misal : pemaaf, menyayangi, mencintai keindahan, dll. Maka, bagi manusia yang semakin dekat dengan Tuhan, akan semakin merasakan besarnya sifat-sifat Tuhan dalam dirinya. Manusia Cahaya itu simbol dia sudah mengalami perenungan yang sangat dalam, pemahaman tentang kehidupan, ketenangan jiwa, untuk memahami tentang pesan-pesan Tuhan. Jiwanya sudah bersih, dan dekat dengan Tuhan.