Bagaimana Membuat Quotes yang baik?

Dalam kehidupan, seringkali manusia membutuhkan sebuah dorongan atau inspirasi untuk melakukan banyak hal. Dari yang ragu, menjadi tidak ragu. Dari yang salah, menjadi benar. Dari yang tidak tahu, menjadi tahu, dan lain sebagainya. Itulah yang akhirnya memunculkan sebuah ide, bernama quotes.

Quotes merupakan sebuah rangkaian kata yang mengandung sebuah arti atau makna tertentu. Ada beberapa hal yang sebaiknya diperhatikan, saat seseorang membuat quotes. Antara lain :

1. Diksi (pilihan kata)

Diksi adalah hal pertama, dan berperan sangat vital. Seseorang yang memang ingin membuat quotes harus menggunakan pilihan kata yang tepat, dan memiliki pemaknaan yang kuat. Sehingga quotes yang dihasilkan tidak perlu bertele-tele, menggunakan banyak kata, tetapi maknanya tidak memberikan kekuatan. Jika memang ingin membuat quotes, maka harus bisa menemukan diksi-diksi yang memberikan rasa dalam kata. Lalu dipadu padankan, akhirnya menjadi kalimat quotes yang singkat, padat, dan powerfull.

2.  Inspirasi

Untuk membuat quotes yang baik, maka juga penting untuk melakukan riset. Agar mampu menggali, apa saja kegelisahan, cara berpikir, masalah yang cocok diangkat, serta bagaimana seseorang mampu termotivasi dari quotes yang dibuat. Pada prinsipnya, riset sangat dibutuhkan sebelum melakukan berbagai macam hal.

Dalam hal inspirational quotes, maka dibutuhkan riset : Apa yang membuat orang tidak termotivasi, dan apa yang bisa membuat orang lain termotivasi. Ada dua jenis risetnya. Masalah dan solusi.

Jika pembuat quotes tidak melakukan ini, menurut saya, tetap bisa saja menulis quotes. Tetapi seberapa besar kekuatan quotes itu mempengaruhi orang lain, itu akan menjadi berbeda. Lalu apa tujuan membuat inspirational quotes, jika tidak ada orang lain yang merasa terpengaruh dan terinspirasi?

3. Gaya bahasa

Gaya bahasa adalah salah satu hal penting untuk diperhatikan saat menulis quotes. Dengan menggunakan gaya bahasa yang tepat, mampu membuat quotes tersebut diingat dengan baik oleh pembaca. Selama ini, gaya bahasa digunakan oleh banyak jenis tulisan, untuk menyampaikan pesan dengan lebih megena, karena mengedepankan rasa. Rasa, sangat penting. Karena dengan rasa, pesan bisa sampai dengan lebih mudah, dan sifatnya memorable. 

4. Tema

Tema sangat terkait dengan quotes yang akan dibuat. Jika seorang amatir, ingin membuat sebuah quotes, maka penting untuk menuliskan secara spesifik tentang tema quotes. Misal, tema umumnya adalah menulis dan inspiratif. Maka, penting untuk membuat daftar jawaban dari hal-hal terkait menulis dan inspiratif. Jawaban-jawaban itu, bisa diawali dari pertanyaan-pertanyaan. Misal, apa arti menulis untuk saya? Apa manfaat menulis untuk saya? Mengapa menulis itu penting untuk dilakukan? Apa saja yang bisa membuat orang suka menulis? Apa saja usaha yang telah saya lakukan untuk menulis? Apa yang akan saya lakukan jika saya merasa sedang tidak punya ide? dan lain sebagainya.

Jawaban-jawaban dari pertanyaan itu, akan mengerucutkan dalam tema spesifik. Dari tema spesifik, maka pembuat quotes bisa mendapatkan gambaran khusus untuk dituliskan ke dalam kalimat quotes.  Semakin spesifik tema yang diangkat, semakin mampu menjadi kekuatan bagi pembaca quotes.

Itulah keempat hal penting yang menurut saya perlu diperhatikan saat membuat quotes. Diharapkan quotes yang dihasilkan dari proses tersebut mampu menghasilkan kekuatan, solusi, dan inspirasi bagi pembaca atau pendengar.

Coba bedakan antara quotes biasa dengan quotes yang sudah biasa didengar. Quotes bisa saja abadi, bahkan meskipun pembuat quotes itu telah tiada. Quotes-nya masih selalu diingat dan didengungkan. Kenapa? Karena pesan yang ia sampaikan merupakan racikan yang tepat antara diksi, gaya bahasa, rasa, tema, paham masalah yang dihadapi, serta merupakan solusi.

Sebenarnya, menurut saya pribadi, quotes itu tidak untuk sengaja dibuat. Saat Anda mendengar inspirational quotes dari tokoh-tokoh besar, misal : Ir. Soekarno, Gus Dur, Emha Ainun Najib, Gus Mus, dan lain-lain, apakah beliau memang sengaja membuat quotes untuk menginspirasi orang lain? Saya berkeyakinan tidak. Namun, pada kenyataannya, banyak sekali kata-kata beliau yang dikutip, dan diangkat sebagai quotes. Tanya kenapa? Bagi saya, karena kalimat yang para tokoh sampaikan, secara tidak langsung mampu memberikan pengaruh bagi pendengarnya. Mampu mengusik rasa.

Namun, jika Anda memang sengaja membuat quotes, baiklah. Namun, buatlah quotes dengan baik. Sampaikan pesan dengan benar-benar mengedepankan rasa, tetapi juga memainkan logika dengan tepat. Keempat hal di atas, semoga bisa turut membantu untuk mencerahkan.

Tak Semua Masa Lalu Harus Dilupakan

Masih tentang cerpen. Dunia menawan yang menarik untuk dipelajari. Dalam belajar tentang cerpen, menganalisis, serta menyimpulkan sebuah cerpen sastra, maka saya diminta untuk membaca dan membedah banyak sekali karya penulis sastra.

Salah satu yang saya pelajari adalah cerpen milik Budi Darma. Beliau adalah seorang guru besar di Universitas Negeri Surabaya yang sudah banyak sekali membuat karya.

Cerpen tersebut judulnya Tarom. Tarom ditulis Budi Darma dengan gayanya yang khas. Diksi dan plotnya membuat kita seolah sedang terbang, mengunjungi satu negara ke negara lain. Namun, ada satu hal yang menjadi catatan saya. Cara Budi Darma, membuat kita terpaksa belajar masa lalu.

Masa lalu apa yang dituliskan Budi Darma? Budi Darma menyuguhkan sebuah kisah, dengan fakta-fakta masa lalu sangat terasa. Masa lalu di sini artinya adalah sejarah, atau sesuatu yang pernah terjadi di masa sebelum sekarang. Dalam tulisan-tulisan beliau,  pembaca secara tidak langsung diminta untuk melakukan riset.

Dalam cerpen Tarom tersebut, pembaca diajak belajar tentang masa Perang Dunia, Perang Indonesia dengan Malaysia dengan slogannya yang terkenal Ganyang Malaysia. Juga cerita antara Monalisa dan Leonardo Da Vinci. Semua dikemas secara apik, menjadikan cerita masa lalu itu indah untuk dinikmati.

Ya, banyak sekali di antara kita, manusia Indonesia khususnya, yang tidak peduli pada masa lalu negara ini. Masa lalu itu kita namakan sejarah. Sebuah bangsa yang hebat, adalah bangsa yang menghargai sejarah. Baik dan buruk, kelam, tetapi semua cerita masa lalu itulah yang membuat kita semua berdiri di sini.

Apakah kita harus menunggu selevel Master Budi Darma dahulu untuk bisa tergerak belajar masa lalu? Seharusnya kita justru bisa mencontoh dari beliau. Usia yang tak lagi muda, tetapi memiliki pemahaman dan pengetahuan seluas itu. Pasti ketertarikan pada sejarah, mempelajarinya, dan menuangkannya pada karya sastra sudah beliau lakukan sejak masih muda. Jangan melupakan masa lalu yang bisa memberikan arti bagi masa depan. Tak semua hal harus dilupakan.

Analisis Cerpen : Manusia Cahaya

Tulisan hari ini, masih tentang sebuah analisis cerpen sastra media. Mengapa saya merasa menganalisis cerpen sastra adalah penting? Karena ternyata, membiasakan diri untuk menganalisis, membuat saya semakin terasah kepekaan, rasa, dan peduli pada lingkungan sekitar.

Cerpen sastra media yang saya analisis kali ini adalah :

Judul : Manusia Cahaya

Penulis : Jalaludin Muttaqin

Seperti biasa, ada lima poin pokok yang saya gunakan untuk menganalisis pesan dalam cerpen. Yaitu, paragraf kunci, diksi-diksi yang menarik, penjelasan konten pada salah satu paragraf, pendapat pribadi tentang cerpen tersebut, serta amanat yang ingin disampaikan penulis. Mari kita bahas dengan detail, satu per satu :

1. Paragraf Kunci :

Sudah berapa tahun aku tinggal sendiri di sebuah gua yang gelap. Manusia mengira diriku berada dalam kegelapan yang tak bisa melihat apa-apa dan hanya setan yang dapat menemani sekaligus melihat. Semua dugaan-dugaan mereka salah. Karena diriku adalah cahaya itu sendiri, maka aku mengusir gelap dan aku menjadi diriku sendiri. Kegelapan hanya karena ketiadaan cahaya. Begitu Tuhan dalam al-Qur’an menjelaskan, dan aku telah menemukan cahaya itu sendiri.

2. Diksi-Diksi Menarik :

tak semua manusia bisa melihat setan kecuali hatinya telah bersih dari perbuatan-perbuatan setan.

⁃ Mengasingkan diri dari hiruk-pikuk dunia yang tiap waktu selalu berkelahi dengan perdebatan-perdebatan anyir tentang salah dan benar.

⁃ aku ingin menjadi cahaya yang tak pernah ditemukan oleh manusia yang kelak mereka tau dengan sendirinya.

⁃ Tuhan tidak bisa dilepas dari materi-materi manusia sedang manusia adalah tempat yang paling sempurnah dimana cahaya Tuhan itu memancar.

3. Pendapat tentang konten paragraf berikut ini :

Di sebuah pasar, di sebuah masjid, di sebuah kampus, dan di jalan-jalan raya. Manusia selalu memperdebatkan tentang manusia yang bercahaya. Anehnya, mereka mengatakan diriku adalah manusia yang mengaku sebagai Tuhan.

“Dia adalah Tuhan itu sendiri,” kata seorang ulama yang pernah menemuiku di sebuah gua.

>> ini adalah pemaparan untuk mengatakan bahwa pandangan umum masyarakat tentang tokoh Manusia Cahaya. Masyarakat mengganggap, manusia cahaya sangat suci, hingga selevel Tuhan. Bahkan ia adalah wujud Tuhan itu sendiri.

4. Pendapat tentang cerpen ini :

>> cerpen ini diksinya tidak lugas. Sehingga pemaknaan pesannya harus dipelajari pelan-pelan dari setiap kalimat yang dituliskan.

>> suka cara penyampaian penulisnya. Alurnya smooth juga seperti cerpen sebelumnya. Bergerak perlahan membawa pembaca kepada pesan demi pesan, hingga menemukan kesimpulan, meskipun pesan kuncinya bukan didapatkan di akhir paragraf. Di akhir paragraf justru dibuat menggantung, dan menyisakan pertanyaan.

5. Amanat yg ingin disampaikan penulis :

>> penulis ini menyampaikan pesan bahwa masih sedangkal itulah pemikiran masyarakat secara umum kepada orang yang agak berbeda cara berpikir dengan mereka (masyarakat secara umum).

>> sesungguhnya manusia adalah makhluk yang diberikan akal dan nafsu, sebagai bekal utk menjadi khalifah di bumi. Akal adalah wakil dari kebenaran, kebaikan, sedangkan nafsu sebagai wakil kesalahan, keburukan. Hidup manusia di dunia merupakan pertarungan antara kedua hal tersebut. Pemaparan itu menjelaskan bahwa betapa menusia sungguh lemah imannya, dan seringkali terpedaya oleh tipudaya setan. Bahkan orang yang seharusnya jauh dari sifat2 setan, penyebar firman-firman Tuhan, malah justru menjadi setan itu sendiri.

>> Manusia-manusia yang ingin mengikuti dan menjalankan ajaran Tuhan, malah dianggap aneh, dan sesat. Penghakiman itu berasal dari hukum manusia sendiri, persepsi, dan akhirnya justru menyesatkan, memutar balikkan kebenaran menjadi fitnah.

>> Sebenarnya sifat-sifat Tuhan itu ada di dalam diri manusia. Misal : pemaaf, menyayangi, mencintai keindahan, dll. Maka, bagi manusia yang semakin dekat dengan Tuhan, akan semakin merasakan besarnya sifat-sifat Tuhan dalam dirinya. Manusia Cahaya itu simbol dia sudah mengalami perenungan yang sangat dalam, pemahaman tentang kehidupan, ketenangan jiwa, untuk memahami tentang pesan-pesan Tuhan. Jiwanya sudah bersih, dan dekat dengan Tuhan.

Analisis Cerpen : Kalender Baru

Dalam proses mendalami cerpen rasa sastra, dan platform media, maka saya perlu memberikan asupan secara kontinyu untuk melatih kepekaan, dan rasa. Untuk itu, tidak ada yang bisa dilakukan selain, berlatih!

Berlatih pun hanya ada dua cara. Membaca dan menulis. Kontinyu, konsisten. Mbaca, nulis, mbaca, nulis. Begitu terus prosesnya.

Hari ini, saya mengasupi pikiran saya dengan cerpen karya A. Warits Rovi, berjudul Kalender Baru.

Silakan membaca cerpen Beliau di sini :

https://lakonhidup.com/2018/01/07/kalender-baru/amp/

A. Warits Rovi adalah seorang guru Bahasa Indonesia di MTs Al-Huda II Gapura, Sumenep, Madura. Cerpen Kalender Baru ini diterbitkan di Kedaulatan Rakyat, 7 Januari 2018.

Berikut ini adalah hasil olah pikiran saya yang dituangkan ke dalam lima parameter untuk mendeskripsikan.

1. Paragraf Kunci :

Aku menangis di tempat sampah, dalam segala sakit dan remuk yang kurasa. Kuamati tubuhku yang bergambar wanita-wanita hot. Aku sadar, beginilah memang nasib tubuh yang dihiasi aura kemaksiatan, mesti harus tercampak ke tempat yang hina, bahkan mungkin bisa dibakar

2. Diksi-diksi menarik :

⁃ jam yang terus membisikkan jeritan-jeritan zaman.

⁃ miIa memukul pangkal paku karat berkali-kali dengan palu besi, setelah ujungnya melewati celah lingkar logam yang lekat sebagai gantungan di bagian atas tubuhku, lantas ia tersenyum menatapku, seraya tangannya cekatan membetulkan posisi paku yang agak miring karena datar tembok tua yang sedikit retak.

⁃ Sebagai benda baru, aku berkenalan dengan benda-benda di ruagan ini, harum sisa cetakan tubuhku menyebar di udara, dihirup benda-benda lain hingga mereka mengucapkan selamat datang kepadaku

⁃ cakap dan tertawa, menertawakan keganjilan manusia yang hidupnya sibuk karena diatur oleh waktu yang dibuatnya sendiri

⁃ seolah kalender itu umpan bagi para malaikat untuk datang ke ruangan.

⁃ nasib tubuh yang dihiasi aura kemaksiatan, mesti harus tercampak ke tempat yang hina, bahkan mungkin bisa dibakar

3. Penjelasan Konten dalam paragraf ini :

Aku menangis di tempat sampah, dalam segala sakit dan remuk yang kurasa. Kuamati tubuhku yang bergambar wanita-wanita hot. Aku sadar, beginilah memang nasib tubuh yang dihiasi aura kemaksiatan, mesti harus tercampak ke tempat yang hina, bahkan mungkin bisa dibakar

>> pemaparan bermajas personifikasi yang menganalogikan benda mati seolah-olah hidup, punya sifat yg sama dengan manusia, dan melakukan hal-hal yang sama dengan yg manusia lakukan.

4. Pendapat tentang cerpen ini :

>> Cerpennya sederhana, jika dilihat dari per kata, diksinya lugas, tidak mencoba untuk terlalu puitis, tetapi setelah digabungkan ke dalam kalimat, membentuk penggambaran yang cukup menarik.

>> Seperti cerpen pada umumnya, pesannya ada di paragraf terakhir. Sebenarnya mudah diketahui pesannya sejak awal.

>> Yang paling terlihat, inti cerpen ini adalah contoh penggunaan majas personifikasi.

5. Amanat yang ingin disampaikan cerpen ini.

>> secara singkat, cerpen ini memberikan pesan, bahwa jika seorang manusia sudah banyak melakukan (ataupun hanya terlihat seolah melakukan), ia tak akan dihargai oleh masyarakat. Tidak punya harga diri, bahkan dianggap sampah. Sanksi paling berat memang sanksi sosial.

Perempuan Satu Tahun Lalu (Sebuah Review)

Bagi saya yang sedang belajar tentang cerpen, tentu menarik jika setiap cerpen itu bisa dibedah dan dimaknai pesannya.

Ada hal menarik yang saya sadari beberapa waktu terakhir ini, yaitu bahwa cerpen bukan hanya sebagai media curhat atau pun bercerita kisah fiksi semata. Namun, lebih dari itu. Cerpen sesungguhnya sebuah alat yang sangat tajam untuk menceritakan banyak hal, termasuk fakta. Yang lebih indah lagi, menceritakan fakta dan disembunyikan ke dalam fiksi. Mungkinkah? Sangat mungkin. Nyata, dan banyak contohnya.

Jenis cerpen ini disebut sebagai cerpen sastra media. Kenapa media? Karena jenis cerpen tersebut biasanya ditayangkan di media-media cetak khususnya, sebagai alat untuk memberikan opini, atau perimbangan wacana bagi pembaca. Sedangkan sastra, digunakan sebagai cara untuk menceritakan realitas, tanpa menggurui. Singkatnya, menumbuhkan rasa, mendekatkan kembali manusia kepada kehidupan.

Untuk lebih mendalami dunia cerpen sastra media, maka harus diawali dari kebiasaan membaca cerpen berjenis sama, kemudian menelitinya. Salah satu cerpen yang hari ini saya teliti berjudul Perempuan Satu Tahun Lalu, karya Ongky Arista UA. Cerpen ini dimuat di Media Indonesia, pada 21 Januari 2018 lalu.

Ada lima poin yang saya gunakan untuk mendeskripsikan cerpen ini. Yaitu, paragraf kunci, diksi-diksi yang menarik, penjelasan konten pada salah satu paragraf, pendapat tentang cerpen tersebut, serta amanat yang terkandung di dalamnya.

Inilah hasil deskripsi saya untuk cerpen “Perempuan Satu Tahun Lalu”

Baca cerpennya di sini :

http://m.mediaindonesia.com/read/detail/141636-perempuan-satu-tahun-lalu

1. Paragraf kunci :

Karena ini adalah sudut pandang dari 2 orang, maka ada lebih dari 1 paragraf kunci :

⁃ Ini tentang perempuan yang kukenal satu tahun sebelum kulihat perempuan yang membawa ingatan itu satu tahun lalu. Susah payah kulupakan. Sudah kuletakkan ingatan itu dalam peti lalu kubuang ke sungai mati. Berharap semua ingatan mati bersama arus yang kian jauh, kian mengering, lalu benar-benar mati di suatu muara paling jauh.

⁃ Cintaku untuk kau adalah sama dengan cinta lelaki yang merebut kau dari cintaku. Percintaan kita di malam yang bisu itu sudah kutimbang-timbang sebagai pengesahan cinta kita berdua. Kau mencintaiku sebagaimana aku yang sebaliknya.

2. Diksi2 yang menarik :

⁃ berjalan pelan, seperti malas, seperti manja, seperti bermain-main dengan pasir

⁃ Lupaku menjadi tak benar-benar sempurna selain sempurna menjadi ingatan lama yang datang kembali

⁃ kuletakkan ingatan itu dalam peti lalu kubuang ke sungai mati

⁃ mata rantai perempuanmu

⁃ telinga suamimu lebar dan matanya seperti kelelawar

⁃ benci yang mengendap di bawah berlembar-lembar cinta di bumi ini. Endapan itu akan menuju ke permukaan saat cinta mulai habis dikhianati. Pengkhianatan selalu terjadi di mana pun. Bahkan di tempat dan kondisi yang paling tidak mungkin sekalipun.

⁃ Cintaku untuk kau adalah sama dengan cinta lelaki yang merebut kau dari cintaku.

⁃ Cintamu kepadanya adalah pengkhianatan cinta bagiku. Pelanggaran berat bagi pengesahan itu

⁃ Mengapa mati tak menungguku bercerita terlebih dahulu

⁃ kematian mempertemukan segala makhluk yang sama-sama mati andai saja betul ingin bertemu dengan salah satunya

⁃ Tak harus menikahiku agar kau benar-benar menikmatiku melebihi menikahiku. Bukankah itu kenikmatan bagi setiap lelaki?

⁃ ada pengadilan yang paling adil tanpa kita ikut campur suap-menyuap di dalamnya

⁃ jika tak selesai cerita ini, anggaplah sudah selesai bersama aj…(al).

3. Penjelasan tentang paragraf ini :

Cintaku untuk kau adalah sama dengan cinta lelaki yang merebut kau dari cintaku. Percintaan kita di malam yang bisu itu sudah kutimbang-timbang sebagai pengesahan cinta kita berdua. Kau mencintaiku sebagaimana aku yang sebaliknya.

Kalimat-kalimat dalam paragraf tersebut merupakan ungkapan perasaan seorang laki-laki yg sangat mencintai seorang perempuan. Tapi wanita itu saat ini (memilih) bersama laki-laki lain. Laki-laki ini yakin sebenarnya si perempuan sangat mencintai dirinya sebesar cintanya pada perempuan itu.

4. Pendapat tentang cerpen ini :

Cerpen ini sangat kerenn! Baguuss! Saya harus berulang kali membacanya untuk menemukan pesannya. Rasa yang dimasukkan ke dalam naskah sangat terasa. Perasaan kecewa, marah, dendam, sakit hati, benci, dan sedih bercampur dalam hubungan antar tokoh. Cerpen ini membuat pembacanya berpikir. Sangat salut pada Kak Ongky, bisa membuat alur yang kelak kelok. Andai ini film mudah sekali dicerna, tetapi karena tulisan, butuh konsentrasi lebih utk memahami. Hebaaatt!

5. Amanat dalam cerpen ini :

Menurut saya, cerpen ini menceritakan perasaan 2 tokoh. Sebenarnya ada 4 tokoh yang digambarkan, yaitu : 2 laki-laki, dan 2 perempuan. Di cerpen ini, menceritakan hubungan 4 orang tokoh tersebut, tapi dikemas dalam percakapan 2 tokoh. Hebaaaatt!

Inti dari ceritanya adalah seorang pria yang sangat mencintai perempuan. Namun perempuan itu memilih bersama (menikah) dengan pria lain. Kemudian pria itu, mencari pelarian dengan perempuan lain, yg mencintainya. Namun, ternyata sang pria masih tetap tidak bisa melupakan si perempuan sebelumnya. Sang pria dendam pada perempuan yg dicintainya tapi mengkhianatinya. Sementara si perempuan yg saat ini bersamanya, dendam pada si pria yg ternyata masih mencintai wanita lain di masa lalunya.

Secara singkat, Sebuah dendam dari perasaan dikhianati. Padahal mereka yg sakit dikhianati, juga melakukan pengkhianatan.

Sahabat Dua Kutub

Diandra dan Pukesi adalah dua sahabat. Sahabat dua kutub. Ya, bagaimana tidak. Tak ada yang sama dalam sifat mereka. Tak ada hobi, serta mimpi yang sama pula. Untungnya, selera mereka pada laki-laki pun berbeda.

Diandra dan Pukesi bertemu dalam satu ruang. Tak saling kenal. Hanya karena ijin semesta, mereka saling mengenal. Semakin lama mengenal, semakin paham, begitu banyak ketidaksamaan. Namun, di mana ada Diandra, di situ pula Pukesi ada.

Suatu hari, Diandra mengajak Pukesi untuk pergi melihat awan. Katanya, di sana ada pelukis langit dan pembuat butiran hujan untuk dijatuhkan ke bumi mereka. Namun, Pukesi tak ingin ke awan, ia ingin ke matahari. Tentu, Diandra menolak. Apa yang bisa dilihat di dalam matahari, selain kemarahan dan panas yang tak tertahankan? Namun, bagi Pukesi, matahari punya banyak cerita tentang kekuatan menjadi penerang bagi galaksinya.

Akhirnya, Diandra dan Pukesi tak lagi bertegur sapa. Lama. Dunia diantara keduanya tak lagi indah. Tak ada matahari yang menyinari, dan tak ada pula awan yang menaungi. Dunia mereka tampak gelap dan dingin. Diandra dan Pukesi perlahan bosan, lantas perlahan melangkah pergi. Mencari dunia baru yang lebih indah, dan layak untuk menerima sinar serta naungan.

Waktu berjalan dalam keteraturan. Tanpa diminta dan disadari siapapun juga. Juga tak bisa diperlambat atau dihentikan. Semakin lama, Diandra pun larut dalam kisahnya yang berhasil bertemu pelukis awan. Katanya, dulu langit tak biru begini warnanya. Pernah merah, kuning, juga hijau. Namun, semua makhluk ternyata lebih menyukai warna biru. Akhirnya, diputuskan lukisan warna langit adalah biru.

Begitu pun Pukesi. Ia mencari dunianya sendiri. Pergi menjelajah entah ke mana. Semakin hilang, tak tentu kabarnya. Kata orang, Pukesi hilang ditelan panasnya matahari. Tak ada yang bisa memastikan nasibnya kini. Banyak orang sempat penasaran. Mereka mencari Pukesi dengan hendak bertanya langsung pada matahari. Namun sinarnya yang dahsyat, membuat mereka mengurungkan niat.

Ruang dan waktu kembali bersatu. Diandra semakin luar biasa. Kisahnya tentang awan, pelukis langit, serta dewi-dewi hujan membuatnya semakin dikenal. Tak disangka, suatu hari Pukesi datang dalam keadaan yang amat menyedihkan. Tubuhnya kurus, kulitnya sangat legam, matanya berwarna kemerahan, berkilat-kilat penuh luapan perasaan. Ada kepiluan jauh di dalam jiwanya. Namun tak bisa diungkapkan pada siapa pun. Hingga akhirnya Pukesi menyerah. Ia ingin pulang. Dan berharap satu hal, bertemu Diandra.

Pukesi mendatangi Diandra yang kini selalu dipayungi awan di atas kepalanya. Seperti payung yang selalu menaunginya. Diandra menghentikan langkahnya. Melihat Pukesi yang tampak berdiri mematung di depannya.

“Pukesi?”

“Ya. Ini aku, Diandra. Pukesi.”

“Kau pulang? Kenapa kau pulang? Harusnya kau pergi selamanya. Agar aku tak perlu mencarimu.” teriak Diandra kesal. Awan di atas kepalanya menghitam, pertanda ada kesedihan dalam hatinya. Tampaknya sebentar lagi hujan.

“Maafkan aku, Diandra. Aku pergi cukup lama. Aku pun tak meninggalkan pesanku padamu. Tapi kini aku pulang. Apakah masih bisa kita seperti dulu?”

“Pukesi, kita adalah sahabat dua kutub. Dunia kita tak sama. Sifat kita tak sama. Begitupun mimpi dan tujuan kita.” sahut Diandra.

“Tapi setidaknya, dunia jadi menghangat dengan adanya matahari yang menyinari, dan awan yang menaungi. Selamat datang kembali, sahabatku, Pukesi ….”

Pukesi melangkahkan kakinya, berlari hendak memeluk Diandra dengan cepat. Kilatan cahaya di matanya perlahan membesar. Terus membesar. Diandra memeluknya dengan sangat erat. Namun, semakin lama, cahaya terang tak mampu menembus awan hitam yang menyelimuti. Petir menyambar, cahaya terang redup.

Dunia tiba-tiba gelap. Hujan turun deras sekali hari itu ….

Kampung Rajungan

Rajungan adalah salah satu makanan dengan kandungan protein sangat tinggi. Semua orang sangat menyukai menu makanan yang satu ini. Namun, yang kutemukan hari ini rupanya kepiting, bukan rajungan.

Hari ini, akhir pekan datang. Semua orang punya daftar kegiatan untuk dihabiskan bersama dengan keluarga atau teman-teman. Di tempatku berdiri, tampak salah satu restoran kepiting yang sangat ramai dikunjungi pelanggan. Namun, sebelum langkahku berjalan memasuki, tiba-tiba ingatanku melayang ke masa dua puluh tahunan silam.

Aku adalah anak kampung. Hidup di sebuah kampung kecil, membuat masa kecilku tak banyak bisa menginginkan sesuatu. Tak bisa berharap up to date tentang film terbaru, tak bisa sering-sering membeli baju, sepatu, juga buku. Tak bisa banyak menginginkan sesuatu. Bukan karena aku tak mau, tapi karena tak ada toko, mall, atau restoran seperti di kota-kota besar kebanyakan. Jadi aku, tak pernah tahu bahwa aku bisa begitu banyak menginginkan sesuatu.

Namun begitu, kampungku istimewa. Ia yang tak punya mall itu, ternyata punya pabrik-pabrik rajungan yang sangat besar. Pabriknya setiap hari mengirimkan ber-ton-ton rajungan ke luar negeri, seperti Amerika dan Jepang. Setiap hari para karyawan bekerja mati-matian, untuk menangkap, mengepak, hingga ada yang bertugas mengupas rajungan, bersih dan licin dari kulitnya. Tinggal makan. Wow, bukan? Aku begitu bangga pada kampungku, sungguh.

Namun, sayang oh sayang. Aku anak kampungku. Tapi aku, tak pernah bisa sering makan rajungan. Selain harganya yang sangat mahal, sulit sekali ditemukan rajungan itu bebas berkeliaran di pasar-pasar tradisional. Aku adalah anak kampung rajungan, yang jarang makan rajungan. Hebat, bukan?

Suatu kali, aku protes pada ibuku.

“Aku ingin makan rajungan. Tapi kenapa sulit sekali aku menemuinya, Bu? Lebih sulit daripada harus bertemu dengan buku.” begitu tanyaku.

Ibuku hanya menjawab, “Hmm … ya, gimana lagi? Semua yang besar-besar dan layak jual, sudah masuk pabrik dan dikirim untuk pasar internasional.”

Selanjutnya, ibu memintaku untuk melanjutkan makan, dan jangan banyak mengoceh lagi tentang banyaknya keinginan. Makan rajungan, hal sederhana yang mahal. Karena tak bisa kulakukan di kampungku. Kampung rajungan.

Bertahun-tahun selanjutnya, aku masih terus saja bertanya. Kenapa kampungku begitu kejam padaku? Atau, dunia ini yang kejam pada kampungku? Entahlah.

Kini, aku berdiri di sini. Di depan restoran dengan sajian menu kepiting. Ya, kepiting. Bukan rajungan. Selanjutnya, tentu saja kucoba masuk, duduk, dan memesan hidangan makan malam.

“Silakan, Kak. Ini kepiting super yang khusus kami datangkan dari Alaska, Amerika. Ukurannya sangat besar, disajikan dengan bumbu khas dari kami, sehingga dijamin enak dan nikmat di lidah.” begitu celoteh pelayan, tersenyum memikat hati pelanggan.

Alaska, Amerika. Betapa mahalnya kehidupan. Kubayangkan, saat ini, di waktu yang sama, dalam ruang yang berbeda, Rajungan kampungku, dinikmati orang Amerika dan Jepang. Sedangkan aku, duduk di sini, sedang menikmati kepiting Alaska, asal Amerika.

Sambil kubolak-balik daftar menu itu, ingatanku kembali melayang ke kampung rajunganku di kejauhan. Bagaimana kabarmu, hai kampungku? Apakah generasimu sekarang, masih sulit menemukan rajungan meski hanya sekedar untuk menu makan siang?

Cicak Yang Mati Karena Memakan Nyamuk

Musim hujan kembali datang. Para nyamuk seperti mati satu tumbuh seribu. Memang, nyamuk lebih terasa banyak di musim kemarau. Namun, di musim hujan mereka jadi lebih rajin untuk berkembang biak. Begitu lahir baru, ia merasa langsung cukup mampu untuk berburu.

Nyamuk dulu pun ternyata berbeda dengan nyamuk sekarang. Jika dulu, jentik nyamuk butuh waktu 12-14 hari untuk berubah menjadi nyamuk dewasa. Nyamuk sekarang hanya butuh waktu 9 hari dalam pertumbuhannya. Karena para nyamuk masa kini adalah nyamuk dewasa prematur, maka tubuhnya semakin kecil, tapi nafsu makannya semakin bertambah. Frekuensi makannya juga meningkat.

Nyamuk-nyamuk kekinian itu pun perlahan berevolusi menjadi semacam iblis bagi manusia. Ketika iblis diriwayatkan hidup di dalam aliran darah setiap manusia, nyamuk-nyamuk iblis hidup layaknya vampir yang menghisap darah. Darah, di dunia ini banyak sekali yang menginginkannya.

Nyamuk-nyamuk iblis bukan saja mengincar darah, ia melesat ke semua celah-celah. Menghabisi siapa saja yang bisa dihabisi. Tanpa pandang bulu siapa pun yang ia sebut sebagai lawannya. Jika begitu besarnya keinginannya untuk membunuh, apakah ada yang pernah bertanya, apakah nyamuk kanibal? Pertanyaan ini, ingin sekali aku jawab tidak. Bagiku nyamuk bisa menjadi kanibal, ketika keinginannya makan, tak bisa terpenuhi. Di dunia ini, adakah yang lebih bertahan selain kepentingan?

Suatu hari ada seekor cicak yang tengah terjaga. Makan seperti biasa yang biasa mereka lakukan. Tiba-tiba ada seekor nyamuk yang tidak diketahui dari mana datangnya, hinggap di dekatnya. Hmm … kesempatan besar. Hap! dimakanlah si nyamuk kecil itu oleh seekor cicak di dinding.

Esok paginya, kutemukan seekor cicak mati. Terjatuh dari langit-langit ruang tamuku. Kata cicak yang lain, ia mati karena memakan nyamuk.

Biola Tak Berdawai

Gadis yang patah hati itu perlahan menghibur diri. Ia teringat kembali apa kata matahari tentang senja yang ia lalui. Relakan, ikhlaskan. Toh, semua pasti sudah menjadi catatan bagi Sang Pemilik Kehidupan.

Tiba-tiba ia teringat pada biola kesayangan. Teronggok pilu dalam kesendirian di pojok ruangan. Ingatannya pun melayang ke masa sebelumnya. Ketika ada seorang pria yang menyerahkan biola itu sebagai tanda cinta sepenuhnya. Datang di malam minggu, khas para remaja absen kehadiran ke rumah kekasihnya.

Laki-laki itu datang dengan sangat sopan. Mengetuk pintu, dan mengucapkan salam. Saat itu, keluarlah sang ibunda. Membukakan dengan pandangan penuh selidik, dan tanda tanya.

“Ya? Teman Cemara?” tanya ibunya. Matanya memandang lurus, menerobos ke dalam bola mata sang pemuda. Mencari jawab, atas arti hadirnya.

“Ya, tante. Saya Vibra, Vibrasi Moldiso, kawan Cemara. Apakah Cemara ada?” begitu tanyanya, sambil mengangguk, dan mengeratkan pegangan ke leher biola.

Pemuda itu memang membawa biola. Sebuah biola yang dibuat khusus dari perpaduan kayu Spruce dan Maple. 

Biola, sungguh hadiah yang cocok untuk Cemara. Semoga ia suka, pikir sang pria. 

“Baik, silakan masuk. Tunggu sebentar, saya panggil Cemara.” titah sang ibunda sambil membukakan pintu lebih lebar.

Sejenak kemudian, hadirlah Cemara ke ruangan tempat si pemuda menunggu. Wajahnya sangat ayu, tetapi tak terlihat senyum yang tersungging sedikit pun dari ujung bibir ayunya. Dengaan wajah datar, ia bertanya,

“Ya, Vibra. Sorry, ada perlu apa? Aku sedang menunggu seseorang. Maaf, mungkin aku tak bisa lama. Ada yang ingin kau sampaikan?” katanya.

Entah mengapa, kalimat itu lebih terdengar seperti mengusir bagi Vibra. Padahal ia masih ingin berlama-lama. Maka ia pun paham, dan tahu diri apa maksudnya.

“Maaf, Cemara. Mungkin kau tak akan suka. Tapi bolehkah aku memberikan biola ini sebagai hadiah untukmu?” jawab Vibra mengawali percakapan kaku yang menunggu untuk diakhiri.

“Biola ini kubuat dengan tanganku sendiri. Bagian atasnya menggunakan kayu Spruce yang kulubangi membentuk huruf “f”. Kupotong dengan cara quarter-swan. Cukup sulit untuk memotong kayu dengan sudut 60-90 derajat dari cincin pertumbuhan kayu tersebut. Bagian badan belakang dan rusuk, aku gunakan kayu Maple yang kupotong secara slab-cut. Lalu, pada lehernya kugunakan kayu Maple dan kutempelkan fingerboard yang terbuat dari kayu Ebony. Kupilih Ebony, karena ia lebih keras, lebih kuat, dan tahan untuk lama digunakan. Setelah itu kubuat detail-detail sound post, juga bass bar.”

Cemara memandangi biola coklat gelap metalik itu dengan mengeryitkan dahi. Tanpa kata, hanya terasa ingin segera menyelesaikan percakapan kali ini. Namun, lawan bicaranya seolah tak mengerti. Terus menjelaskan caranya membuat biola yang sedikit pun tak ia pahami.

“Setelah itu aku akan membuat neck, bridge, tailpiece dari kayu Ebony, pernambuco, boxwood, atau rosewood. Ebony dan pernambuco kubuat lebih tipis sehingga lebih ringan, meskipun tetap rentan pecah. Pernambuco bisa memperbaiki suara yang teredam sehingga lebih cerah dan fokus. Sedangkan ebony, menghangatkan suara yang tajam. Boxwood dan rosewood pun kugunakan karena sifatnya yang ringan.”

Senyum mengembang dari wajah Vibra. Tampaknya ia puas menjelaskan tentang biola hasil buatannya. Seraya itu, ia ulurkan kepada Cemara.

“Cemara, terimalah ini. Biola hasil buatanku. Sungguh, kubuat ia sepenuh hatiku. Kudatangkan semua bahannya pun dari negeri di atas awan. Kau pasti tak akan bisa temukan biola yang sama seperti buatanku.”

Cemara diam sejenak. Bertanya,

“Kenapa kau memberiku biola? Bukankah aku tak bisa bermain biola?”

“Tak apa. Kau simpan saja. Mungkin suatu hari kau ingin mendengar bunyinya, meskipun hanya menggeseknya dengan helai rambutmu.”

Cemara masih tak mengerti.

“Aku pamit dulu. Semoga kau suka hadiahku”

Ya, ia ingat kembali sekarang. Sejak cintanya berlabuh pada pria yang mengiriminya kiamat lewat tukang pos, nasib biola itu perlahan usang dan nyaris masuk tong sampah.

Diambilnya benda berdebu itu, entah kenapa kali ini ingin rasanya ia mendengar suara biola. Ia ingat, biola itu membuatnya tertarik belajar biola. Membuatnya mengikuti beberapa lomba, dan memenangkan beberapa hadiah. Namun itu berubah arah, ketika ia jatuh cinta pada pria pengirim kiamat itu. Pria yang menjadikannya sosok yang berbeda. Bahkan ia pun seperti tak mengenal dirinya. Tapi cinta memang selalu buta. Sudahlah …. pikirnya mengakhiri rumitnya perang di kepalanya.

Biola. Kuingin mendengar suaramu. Ayo kita bermain. Ia angkat biola itu agar lebih dekat dengannya.

Namun tiba-tiba ia tercekat, kaget. Biola merdu itu, kini tanpa dawai.

Ketika Matahari Bicara Senja

Gadis patah hati itu, masih juga terpaku. Kepalanya telah basah dihujani air dari awan hitam di atas kepalanya. Kepalanya pun meledak akibat hujaman petir yang menyambar tepat di ubun-ubunnya. Namun apa daya, kenyataan memang sepahit perasan air daun tuba yang dicelupkan ke dalam susu. Pahit, sangat pahit. Bahkan susu pun tak mampu menghapuskan kepahitan itu.

Ia tutup lagi amplop hijau yang membuat gemuruh besar di hatinya. Dilihatnya sekali lagi gambar hati yang membuatnya bahagia sejak lima tahun yang lalu. Namun kini, tak ubahnya hanya jadi sampah masa lalu yang tak perlu ditengok kembali. Apa yang masih tersisa, hati pun sudah patah, tak ada lagi yang bisa kutinggalkan sebagai harapan, begitu pikirnya.

Dengan isi kepala yang sudah tak lagi lengkap, hati yang patah, serta gemuruh badai yang masih menyesakkan dadanya, gadis itu beranjak dari duduknya. Sejenak, sinar matahari sore menyentuhnya, ingin menyapa dalam senja yang mampir sekejap. Ia pun menatap ke langit. Mencoba bertanya pada matahari yang hampir sampai di peraduan.

“Apa yang kau harapkan dariku, hai matahari? Aku sudah tak bisa memahami dunia ini lagi.”

“Tataplah langit itu. Liat warnaku di senja ini. Apakah manusia tahu, bahwa senja adalah saat paling indah dari sepanjang perjalananku setiap hari.”

“Hmm … ya, tapi sekarang bagiku semua sama saja. Gelap. Bukankan senja indahmu pun hanya sebentar. Selanjutnya akan berganti malam. Lalu apa gunanya indah senjamu?”

“Senja adalah penanda. Kadang manusia tidak menyadari, bahwa keindahan itu justru berada di persimpangan siang dan malam. Namun tidak semua bisa melihatnya. Sering orang melihat senja hanya sebagai pengakhir hari. Seolah ketika malam tiba, perjalanan hidup sudah terhenti. “

“Begitu pun kau. Lihat senja ini. Lupakan, maka gemuruh badaimu pun akan hilang. Lihatlah wajahmu. Sayu. Seharusnya bisa seindah senjaku ini. Merona, merah jingga keemasan.”

“Kau tak bisa memaksakan hati yang ingin pergi untuk tetap tinggal bersamamu. Pilihanmu hanya membiarkannya pergi dan berlalu.”

“Hei, matahari, diam kau! Sudah, tidur saja sana! Kau membuatku ingin melemparkan gulungan badai dalam dadaku ini untuk melenyapkan sinarmu selama-lamanya.”

“Bersabarlah … dan ikhlaskan semua. Tak bisa kau ubah kenyataan hidupmu. Ikhlaskanlah, agar jiwamu bahagia. Apakah kau ingin menandai senja ini sebagai pengakhir harimu? Atau kau resapi sakitmu dengan indah, lalu kau sambut aku esok hari?”

Gadis kecil itu menatap kembali amplop hijau di tangannya. Dijulurkanlah tangannya ke atas. Lalu datanglah angin, meniup amplop hijau itu. Hilang musnah.