Ketika Takdir Menyapa

Selasa, 20 Februari 2018

Tepat hari ke-30 pertemuan takdirku di sini, 30 Days Writing Challenge, Jilid 11.  Lucu rasanya saat  mencoba mengingat kembali bagaimana aku, akhirnya bergabung di dalam grup ini.

Waktu itu, sekitar tiga bulan sejak aku bergabung menjadi kontributor media online Bernas.id, ternyata aku memiliki performance yang sangat buruk. Tidak produktif untuk menulis. Namun, hal itu bukan tanpa alasan. Aku mengalami yang penulis sering bilang, Writer’s  Block yang disebabkan karena tulisanku mendapatkan remark  Tidak Layak Tayang (Tidak Layak Tayang). Akhirnya hal kecil itu yang membuatku berhenti. Hiks ….

Akibat dari mutung-ku itulah yang akhirnya membuatku terancam untuk dikeluarkan dari grup Creative Writer Academy, tempatku selama ini menimba ilmu dan sebagai wadah sesama kontributor Bernas.id. Sebelum dikeluarkan, ternyata ada masa pemutihan yang dilakukan oleh mentor, yaitu dengan membayar denda sejumlah artikel. Melihat performance-ku yang sangat buruk, sudah tentu banyak artikel yang harus aku setorkan. Saat kulihat, wow 20 artikel dalam 1 minggu! Hahaha…

Parahnya, hal itu baru kuketahui setelah hari ke-4, sehingga waktuku  hanya tersisa 3 hari lagi. 20 artikel, 3 hari, berarti harus membuat minimal 6 artikel dalam 1 hari. Woww!! Menulis 1 artikel saja sulit, apalagi 6. Namun, itu adalah konsekuensi, dan aku harus bisa lakukan jika tak ingin tersingkir.

Dengan perjuangan yang sungguh luar biasa, aku berusaha sangat keras. Namun, dalam keterbatasan waktu, hanya ada 16 artikel yang mampu kuselesaikan. Rasa untuk masih ingin bertahan, membuatku tidak bisa menyerah begitu saja. Jika aku hanya pasrah, pastilah sudah jelas nasibku selanjutnya. Akhirnya inilah justru yang membawaku ke 30 Days Writing Challenge, Jilid 11.

Bagaimana caraku untuk lolos dari penyisihan? Saya kontak langsung mentor kami, Kak Rezky Firmansyah. Selama ini beliau tampil sesekali saja, sehingga sangat jarang berkomunikasi. Saya meminta kepada beliau untuk memberikan toleransi waktu untuk 4 artikel. Saat ditanya butuh berapa hari, saya jawab cukup 2 hari. Oke, deal!

Komunikasi akhirnya membuat saya ingin lebih banyak bertanya, dan di situlah beliau mengenalkan pada saya tentang 30 Days Writing Challenge, Jilid 11. Sebenarnya saya sudah pernah diinfo mengenai DWC ini, tetapi masih belum tertarik untuk mengikuti. Namun, melalui penjelasan Kak Rezky, akhirnya saya putuskan untuk IKUT!

Akhirnya hari itu datang juga. Hari pertama di kelas 30DWC, Jilid 11 ….

Sekilas, hmm … mayan, sepertinya terorganisir, batinku setelah mendapatkan penjelasan tentang Empire, Squad, Guardian, Fighters, penjelasan tentang ‘aturan main’ grup, serta jadwal-jadwal kegiatan. Oke, cukup menarik, batinku.

Hari pertama langsung dimulai untuk menulis, dan dibawah arahan Guardian, maka tim Squad kami, Squad 10, diwajibkan menyetorkan link tulisan. Saya adalah tipikal yang tidak terlalu suka beramah tamah di awal, haha … Bukan, bukan karena sombong atau sejenisnya, tetapi tidak tahu bagaimana memulai, haha ….

Untung akhir satu karakter spesial muncul, Kak Butet, namanya. Dia memang menjadi pintu pembuka dalam Squad 10. Tipikalnya yang ceria, dan supel, membuat Squad 10 menjadi seperti keluarga pada akhirnya. Dia seperti bola karet yang memantul-mantul di lantai ruangan. Warnanya kadang merah, kuning, kadang juga hijau. Lucu sekali melihatnya. Akhirnya semua anggota squad melihat ke arah bola itu, termasuk saya yang awalnya tak peduli, dan hanya duduk di luar, asik sendiri.

Satu per satu akhirnya kami mengenal karakter masing-masing. Tidak ada kompetisi di antara kami para fighters. Selalu saling support dan membantu untuk tercapainya tujuan akhir bersama. Dalam 30DWC11 ini, saya sangat luar biasa mengapresiasi kerja sama tim. Tak akan mungkin tanpa karakter-karakter ini, akan bisa menjadi sebuah tim yang solid.

Guardian kami, Bu Muhib adalah orang yang sangat bijaksana, terlihat kalem, tetapi tegas. Memberikan arahan dan masukan yang baik untuk grup. Seperti seharusnya seorang leader, beliau adalah sosok ketua kelas yang hebat! Dalam ketegasannya yang kalem, beliau tetap  menjadi seorang ibu yang selalu menerima anaknya, dengan apa adanya. Tak lupa, pasti selalu memberikan dukungan kepada kami para anggotanya. Luar biasa!

Butet, tipikal gadis yang ceria dan mudah mencairkan suasana. Membuat kami semua selalu bisa tertawa dalam tekanan yang mungkin menyita pikiran dan batin dalam kehidupan nyata. Kak Butet mampu menjadi warna, menjadi pelangi, dan penyejuk di dalam squad kami. Hebat!

Yulia, gadis mahasiswa, lincah, dan ceria. Masih seperti kebanyakan anak muda di usianya. Ketika masalah terbesar sudah bukan hanya pada matematika, tetapi pada kisah cinta yang menunggu endingnya ke mana, haha…

Yoga, satu-satunya laki-laki di squad kami. Yang masih berusaha berjuang untuk menjadi ‘seseorang’. Yang kisah cintanya juga tak kalah memilukan, haha… Namun, tetap semangatlah untuk masa depanmu, nak … Agar siapapun yang pernah mengecewakanmu di masa lalu, akan menyesal di masa depan. Salah satu yang catat dari Yoga adalah sudah mengikuti kelas DWC sampai tiga kali, tetapi baru kali ini aksi menulis 30 hari tanpa henti, sanggup untuk diakhiri dengan manis. Good job!

Siti Romlah, dan Nur Padilah, dua dari anggota squad yang paling terlihat kalem. Maklum, kami hanya bisa meraba dalam dunia maya, tanpa pernah bertemu untuk berbicara. Dua orang yang sangat saya apresiasi juga bahwa dalam Squad 10 ini mampu menyelesaikan semua tantangan tanpa banyak bicara.

Ibu Desi, senior kami dalam usia khususnya. Keistimewaannya adalah semangat yang tidak banyak dimiliki oleh orang-orang selevelnya. Luar biasaaaa menginspirasi. Saya, yang katanya masih muda, masih banyak alasan untuk tidak bisa melakukan banyak hal. Malu sama Bu Desi ….

Saya, hanya orang yang ingin melawan diri saya sendiri. Selama ini, hal yang paling sulit adalah mengalahkan diri saya sendiri yang malas, penuh keraguan, ketakutan, dan terlalu santai menghadapi hari-hari. Padahal waktu tak bisa kembali. Sungguh, bukankah itu sangat rugi?

Akhirnya saya merasa bahwa ini sangat tidak sehat. Saya adalah ibu, saya adalah istri. Apa yang bisa saya harapkan dari sebuah keluarga yang tokoh utamanya tidak mau berkembang dan berpikiran maju? Maka, bagi saya 30DWC ini adalah salah satu wadah saya untuk melawan diri saya sendiri. Saya ingin mendapatkan energi dari lingkungan sebanyak-banyaknya untuk membantu pikiran saya agar tetap bisa bertumbuh.

Begitulah…

Banyak hal yang akhirnya saya dapatkan saat di DWC11 ini. Lalu apa kabar tentang tulisan saya? Apakah tujuan yang saya inginkan sudah tercapai?

Ada satu yang memang tercapai, yaitu menulis tanpa henti membuat akhirnya menjadikan menulis sebagai sebuah kebiasaan. Namun pertanyaannya, seberapa bagus kualitasnya? Yang itu menurut saya masih harus saya tanyakan. Kepada diri sendiri dan kepada pembaca.

Ada kalanya, saya ingin membuat sebuah tulisan gue banget! dalam tulisan yang kutorehkan. Namun, bagaimana bisa? Karakter tulisan saya saja masih belum bisa saya temukan. Jika pun sudah, apakah ada pembedanya dengan tulisan yang lain? Bagi saya belum.

Bagaimana mau jadi penulis handal, jika karakter tulisan saja tak mampu kita temukan. Itu yang menjadi pertanyaan terbesar saya saat  ini.

Lalu bagaimana?

Jawaban saya, pastinya terdengar klise, dan ingin terlihat mudah. Belajar.

Ahh … membosankan, bukan?

Jadi mau apa?

Untuk itu saya sedikit bermimpi. Bahwa saya bisa mendapatkan kelas lanjutan dari DWC ini. Kelas yang lebih membantu mengarahkan saya untuk menggali kekurangan saya, dan melatih kekuatan saya.

Dalam satu kesempatan yang diadakan oleh mentor malam ini, saya menyampaikan mimpi saya itu.

Namun, saya paham bahwa perumusan sebuah konsep pasti membutuhkan cerita dan pertimbangan yang panjang.

Saya, sebagai pemimpi, ingin mencoba mengawalinya.

Selamat berjuang bersama, teman-teman ….

Semoga kesuksesan kita di masa depan akan menjadi manfaat bagi lebih banyak orang.

Saya tak akan bilang, semoga sukses pada kalian.

Karena sukses bukan lagi impian, sukses bukan lagi pilihan. Tapi sukses, adalah sebuah keharusan.

Keep On Fire, fighters ….

Doa terbaik untuk kalian semua, di manapun berada.

Advertisements

Rasaku, Dalam Rasamu

Sent….

Done! Pikirku. Sekarang hanya tinggal menunggu pengumuman untuk lolos seleksi tahap Outlining. Ya, ini adalah project pertama dan terbesar yang pernah aku ikuti sampe saat ini. Project Kompetisi Kepenulisan Novella yang diselenggarakan salah satu penerbit di Indonesia.

Beberapa waktu terakhir ini, aku memang sedang memfokuskan diri untuk belajar dalam dunia kepenulisan. Bukan tidak sengaja tiba di sini. Namun, aku memang sengaja meminta kepada Allah untuk membuatku bertemu dengan dunia penulis, seperti mimpi masa kecil dulu.

“Yaa Allah … Aku ingat, bahwa dulu saat aku masih SD, aku bermimpi bisa menjadi seorang penulis.” curhatku pada Allah di suatu malam. “tapi aku tak tahu caranya, yaa Allah. Apakah dalam kehidupanku yang sekarang, diri ini masih punya kesempatan untuk melanjutkan mimpi?” tanyaku dalam doa waktu itu.

“Jika memang masih Engkau berikan kesempatan untukku, aku pasti akan sangat bahagia dan bersyukur pada-Mu. Akan kujalani kehidupanku sebagai penulis seperti yang kuimpikan lebih dari dua puluhan tahun yang lalu.” Lanjutku dalam doa, sekaligus berharap jawaban dari Allah.

Masih kuingat dengan jelas doaku itu, dan sekarang, aku di sini. Bersama dengan deadline yang menunggu. Pertama kali aku mengakrabkan diri dengan dunia penulis ini, rasanya masih seperti meraba-raba, hingga kini aku bertemu dengan kompetisi ini.

Melihat kompetisi ini membuatku ragu sekaligus tertarik. Ragu karena sudahlah tentu tak akan mungkin diriku menang, mengingat sama sekali belum memahami teknik kepenulisan. Namun, ini adalah salah satu cara yang paling cepat untuk belajar, begitu pikirku. Akhirnya ku bulatkan tekad untuk mengikutinya.

Akhirnya hari ini ku kirimkan juga materi untuk seleksi tahap awal, yaitu Outline. Dan segera keesokan harinya, aku dinyatakan lolos seleksi.

Begitu girangnya, dan sangat bersemangat untuk memulai menggarap naskah novel pertamaku. Ya, sampai di tahap awal ini membuatku yakin bahwa aku mampu juga untuk lolos di seleksi tahap berikutnya.

Setiap tahapan seleksi hanya diberikan waktu selama satu minggu untuk menuliskan naskah untuk disetorkan. Dari hasil outline yang aku buat, tertulis ada sepuluh bab yang harus kuselesaikan dalam enam tahap seleksi. Itu artinya rata-rata satu hingga dua bab harus kuselesaikan dalam seminggu sebagai materi yang diseleksi.

Setelah lolos tahap Outlining, sekarang mulai kubuat naskah untuk seleksi awal yaitu Bab I dan II saja dulu. Sebenarnya cukup mudah, hanya saja sulit sekali untuk mencari waktu dan fokus dalam suasana yang dibangun.

Seminggu kemudian, pagi-pagi sekali langsung kucari pengumumannya di Facebook.

Yeaaayyyy!! Aku lolos seleksi tahap 1. Semakin optimis aku untuk maju di tahap berikutnya. Selanjutnya adalah seleksi tahap ke-2. Sekali lagi, aku dianggap masih cukup bisa meneruskan perjuanganku di sini.

Keesokan harinya,  di daftar pengumuman tertulis namaku untuk mengikuti tahap selanjutnya yaitu tahap 3. Woow! Luarrr biasa, pikirku. Dengan penuh semangat, aku kirimkan materi untuk dikoreksi di tahap ke-3. Kembali, pagi-pagi aku bergegas untuk mengecek apakah namaku ada di salah satu nama peserta yang lolos. Tapi, ternyata kabar yang kuterima tak sesuai yang kuharapkan. Di tahap ke-3 inilah aku dinyatakan tidak lolos. Sedih, dan merasa gagal.

Namun, ya itulah kenyataan yang harus aku hadapi. Bahwa inilah kompetisi. Pasti semakin lama, semakin sulit dan memang harus ada yang tereliminasi. Aku memang sedih karena mimpiku untuk segera bisa membuat buku sendiri pupus di sini.

Dalam kesedihanku, rasa kecewaku, maka aku pun mulai bisa mengingat kembali apa tujuan untuk mengikuti kompetisi ini. Sewaktu di awal, aku hanya ingin menjajal kemampuan menulisku. Sejak awal sudah jelas, bahwa aku hanya ingin mengetahui dan juga mendapatkan ilmu tentang kepenulisan. Namun di atas semua itu, aku bahagia. ‘Rasa’ yang ingin kuungkapkan dalam novel , mungkin masih belum sebaik peserta lain, atau belum sesuai standar ‘rasa’ yang kau harapkan. Tetapi, sekarang aku tahu di mana posisi kemampuanku. Semoga suatu hari nanti, ‘rasaku’ bisa berhasil mengetuk pintu ‘rasamu’.

 

Aku, Indonesia

Rasaku sungguh resah,

ketika ku lihat kau mengacungkan jarimu. Tapi, bukan untuk menunjukkan kealpaan dalam dirimu. Kau malah acungkan telunjuk itu pada mereka yang kau anggap tak sama dengan seleramu.

Rasaku sungguh resah,

ketika kini tak lagi kau acungkan jarimu, tapi malah kau kepalkan tanganmu. Tapi bukan untuk menguji kesabaranmu, malah kau gunakan untuk menjatuhkan mereka yang tak sepaham denganmu.

Sejujurnya ingin kuketuk nuranimu, ingin kulongokkan kepalaku, untuk melihat apa isi hatimu.

Benarkah karena surga sudah dalam dekapanmu, sehingga kau anggap neraka adalah tempat bagi yang lainnya?

Aku Indonesia, memang sudah begini sejak lahir dulu kala.

Lantas kau ingin mengubahku menjadi apa?

Aku adalah Indonesia. Aku bukan agama, bukan suku, bukan ras, dan bukan golongan yang kau sukai saja. Aku tak mau kau dekte menjadi bukan diriku.

Kadang aku merasa kau lucu, ketika kau benci karena mereka tak seagama denganmu.

Kadang aku juga merasa kau lucu, ketika kau benci mereka yang tak sewarna kulit, tak sama bentuk mata, juga tak sama tipikal rambutnya, hanya karena tak sama denganmu.

Kadang aku juga merasa kau lucu, ketika kau sangka satu golongan lebih buruk dari golonganmu.

Lalu, apa kau mau hidup sendiri di muka bumiku ini, hai manusia?

Aku Indonesia, memang sudah begini sejak lahir dulu kala.

Lantas kau mau mengubahku menjadi apa?

Aku adalah kemajemukan, aku adalah toleransi, aku adalah kerukunan, dan aku adalah persatuan.

Katamu, kau lahir di sini. Tapi kau lupakan jati diri sendiri.

Kenapa tak bisa kau cintai semua karena berbeda

Kenapa tak kau pahami, bahwa tak mungkin semua hal menjadi sama?

Aku Indonesia, memang sudah begini sejak lahir dulu kala.

Lantas kau mau mengubahku menjadi apa?

Bagiku, antara manusia dan Tuhan punya hubungan yang tak bisa kau adili.

Karena memang bukan bagian dari tugasmu, wahai manusia ….

Semakin tinggi nilaimu di mata Tuhan, harusnya semakin cinta dirimu pada makhluk-makhluk-Nya.

Ingat, tugasmu hanya menyampaikan, bukan menggantikan Tuhan.

Aku Indonesia, memang sudah begini sejak lahir dulu kala.

Tak akan kubiarkan engkau menghancurkannya ….

Atau kau pergi saja ….

Jika Esok Tak Pernah Datang

Sebuah pertanyaan besar saat itu muncul dari balik meja kerjaku. Bertumpuk dokumen menunggu untuk dibaca, berbagai email masuk menunggu untuk dibalas, serta beberapa target project menunggu untuk dilaksanakan sesuai dengan timeline yang ditentukan. Namun entah mengapa, hari itu justru aku memikirkan hal lainnya.

Kudengar selentingan kabar, bahwa perusahaan akan ‘merumahkan’ begitu banyak karyawan. Tidak ada jaminan bisa ‘selamat’ meskipun jabatannya sudah di level aman. Sungguh menakutkan! Baru urusan beginian, tapi rasanya sudah seperti kiamat yang hampir datang.

Ya, dunia semakin tidak menentu saja, pikirku. Namun bukan itu yang menjadi masalah utama. Jika memang aku menjadi salah satunya, lalu apa yang harus kulakukan setelahnya? Selama ini hidupku sangat ‘nyaman’ dengan gaji-gaji yang rutin ku terima setiap bulan. Setiap akhir pekan, ku hamburkan uang untuk bersenang-senang dengan teman-teman. Dalam sebulan, mungkin bisa kubeli 2 tas bermerek internasional. Luar biasa, bukan? Tapi, jika aku dianggap tak ‘berharga’, lantas apa yang bisa ku lakukan kemudian?

Telepon berdering, rupanya Si Bos memintaku untuk datang ke ruangannya. Belum juga berdiri, tapi lutut ini rasanya sudah tak ada tenaga. Tenang, ini bukan karena kau mau di-PHK, sudah … segera saja ke sana, turuti apa maunya, begitu batinku bersuara.

Dalam sehari itu, ku dengar dua orang Kepala Bagian Accounting tamat riwayatnya. Waktunya hanya dua minggu untuk membereskan semua barang-barangnya. Perusahaan tak mau tahu, yang penting rencana perampingan tenaga kerja bisa dicapai sebagai bentuk komitmen perusahaan. Perusahaan ingin membuat sebuah rencana kerja yang lebih efektif dan efisien di masa depan. Terlalu banyak orang tidak sejalan dengan rencana mereka. Itulah kenapa banyak karyawan harus ikut menanggung resikonya.

Aku, bagaimana nasibku? Selama ini aku merasa semua akan baik-baik saja. Kuliah di perguruan tinggi negeri, cari nilai sebaik-baiknya, lulus secepat mungkin, mendaftar pekerjaan di perusahaan-perusahaan besar ternama, atau, ya … di kantor pemerintah saja, lumayan juga. Setelah itu, berkarir dengan sebaik-baiknya, dan nikmati hidup senikmat-nikmatnya. Yang akan terjadi nanti, ya sudah dipikir nanti saja lah ….

Aku lupa bahwa tidak pernah ada jaminan bahwa esok pasti akan datang. Tidak juga ada jaminan bahwa esok pasti akan lebih baik. Aku lupa untuk mempersiapkan masa depan, karena merasa telah sampai di kehidupan yang ku inginkan. Namun ternyata, itu juga yang membuatku lupa, bahwa ini adalah zona nyaman, bukan zona aman.

Kehidupan, memang sudah begini sejak awal mulanya. Tidak pernah mudah untuk menjalaninya. Kini, mungkin aku memang sedikit terlambat. Kesadaranku sangat telat dibandingkan mereka yang ku lihat dulu biasa saja. Mereka bukan biasa saja, tapi justru sedang menyimpan amunisinya.  Sekarang aku pun harus belajar dari apa ku tanam. Agar meskipun tidak sempurna, tapi masih bisa aku berharap, yang ku tuai tidak terlalu mengecewakan.

Kutekadkan diri untuk keluar dari zona nyaman. Jika dulu aku biasa mengatakan, “Yang nanti, dipikir saja gimana nanti lah …. ” sekarang harus ku ubah cara berpikirku menjadi, “Nanti gimana?”

Aku harus meyakinkan diri sendiri bahwa masih ada kesempatan bagi diriku, masih ada yang bisa ku lakukan untuk masa depanku. Tinggalkan mindset untuk merasa tenang, merasa hari esok pasti akan datang. Setiap hari harus diisi dengan perjuangan, dan perubahan. Jangan merasa nyaman, jangan merasa aman.

Memulai langkah bisnis, ataupun investasi adalah salah satu cara yang bisa ku pertimbangkan. Jika dulu selalu merasa nyaman dengan semua hal rutin yang biasa terjadi, kini tak boleh lagi. Kini, setiap hari, setiap saat, harus diisi dengan perubahan-perubahan. Manfaatkan waktu untuk hal-hal positif dan produktif, serta pergunakan segala aset dan sumber daya dengan bijaksana. Coba tantang diri sendiri untuk melakukan hal-hal baru, hingga suatu hari nanti, masa depan akan berterima kasih padaku.

Ddddrrtt … dddrrrtttt … ddddrrttt …. (ponsel bergetar)

Astaga kenapa aku masih di sini? Aku pun akhirnya tersadar.

Dua puluh menit berlalu dalam lamunanku. Pak Boss sudah menunggu. Oke, aku pergi dulu. Tapi ada satu hal penting yang bisa kudapatkan. Bahwa setelah ini, aku bertekad untuk keluar dari zona nyaman. Siap menuju zona aman. Bukan hal mudah, aku tahu … tapi tak ada cara terbaik untuk membuktikan, selain mencobanya, kan?

 

You’ll never change your life, until you change something you do daily. The secret of your success is found in your daily routine ….

Jejak Dalam Jiwa

Suatu hari ada yang bertanya, “Bagaimana masa kecilmu?”

Kau selalu mengabarkan pada dunia dengan jawaban, “Luar Biasaaa!”

Aku hanya tersenyum meringis saja….

Kuingat … kau bilang padaku waktu itu, “Kenapa? Apa salah jika ku bilang masa kecilku luar biasa?”

“Ohh, tentu saja tidak, sobat….” jawabku mencegah buruk sangkanya.

“Ya, sudah….tak usah kita bahas lagi itu,” pintamu sebelum masuk ke toko busana.

Dini, sahabatku satu ini. Bertahun-tahun menjalani kehidupan yang tak seperti orang lain alami. Mulai dari pengusiran ibunya oleh ayahnya sendiri. Membuat hidupnya hanya seputar kotak kardus harta yang sempat ia bawa pergi. Hidup mengajarkanmu untuk mencari tahu, bagaimana bertahan, hanya dengan memikirkan makan apa esok hari.

Anak sekecil itu, tak cukup mampu mengerti apa yang sedang terjadi.

Yang ia pahami, cerita indah hanyalah angan-angan ketinggian, tak pernah ada akhir kisah seperti drama di televisi.

Kini, sepuluh tahun berlalu sejak cerita itu.

Aku bertemu denganmu, sebagai kawan sekelasmu.

Yang ku lihat, kau begitu luar biasa, anggun, dan berwibawa.

Tapi kini ku pahami, sesungguhnya ada lubang besar menganga dalam jiwa.

Kau tak pernah menangis!

Tak pernah ku lihat engkau berlinangan air mata, meskipun beberapa kali dicampakkan cinta.

Tak pernah juga terlalu ‘drama’, seperti kebanyakan perempuan seusia lainnya.

Wow! Bagiku, kau hebat, kawan ….

Meski kadang beberapa laki-laki di kelas seberang , bergidik hanya dengan mendengarmu bicara.

Tapi, tak sedikit pula yang bernyali untuk menyatakan cinta.

Ya, masa kecilmu sungguh luar biasa. Seperti namamu, Dini.

Kau dipaksa menjadi dewasa sebelum waktunya. Di saat jiwa masih begitu rentan dengan trauma.

Dunia meminta lebih dari yang kau mampu, bahkan lebih kejam dari pada kata mati.

Tapi dari seluruh perjalanan ini, yang terhebat adalah bagaimana kau bisa bangkit dan percaya akan kau ukir takdirmu sendiri.

Sungguh, tak pernah ku temukan manusia seperti kau, Dini.

Waktu terus berputar tanpa menunggu kesiapan setiap makhluk-Nya.

Tanpa disangka takdir mempertemukan kita lagi dalam sebuah acara.

Kini, ku lihat kau sungguh jauh lebih mempesona.

Dan ketika pembawa acara bertanya, “Apa yang bisa Anda katakan pada masa kecil Anda?”

Seperti yang sudah kuduga, kau pasti menjawab, “Luar biasa!”

Ketika ditanya lagi, “Jika ayah Anda menonton, apa yang ingin Anda katakan padanya?

Kau jawab, “Saya mencintainya. Bagaimana pun, seorang anak tetap wajib berbakti pada orang tuanya.”

Sekali lagi, aku tak melihatmu meneteskan air mata.

 

 

Debu yang Tak Seharusnya Kau Buang

Maaf sayang, sungguh sulit bagiku untuk mengatakan ini … Tapi aku rasa, tak bisa lagi aku mendampingimu. Bukan karena kau tak baik, hanya saja aku tak nyaman lagi bersamamu ….

Penggalan kalimat dalam sebuah surat diterima Wina pagi ini. Padahal ada lebih dari tiga puluh orang kawan sedang menunggunya sebagai salah satu peserta di acara bedah buku.

Sesaat sebelum Wina melangkah keluar dari rumah, datanglah tukang pos yang membawakan sepucuk surat kiriman  itu. Australia … begitu Wina melihat gambar bendera yang terpampang di pojok kanan suratnya.

Dengan degup jantung yang bersemangat ingin cepat-cepat, Tiara segera menuju kamarnya lagi, belum jadi pergi.

“Sandy … ini pasti dari Sandy. Akhirnya ia mengirimkan sebuah kabar padaku,” gumamnya. Bergegas Tiara masuk kembali ke kamarnya, menyalakan lampu meja belajar, dan duduk dengan posisi yang paling nyaman.

“Siapa yang datang, Tiara?” suara ibunya menyeru dari lantai bawah.

“Oh, tidak ada Maa, bukan siapa-siapa.” Jawab Tiara yang menjawab sekenanya saja.

Pikirannya sekarang hanya dipenuhi oleh sepucuk surat berwarna biru itu.

Perlahan dibukanya, dengan perasaan yang sangat campur aduk. Hati-hati sekali saat ia lepaskan surat itu dari lem perekatnya. Batinnya sebenarnya takut, kira-kira apa yang akan dibicarakan Sandy dalam surat itu. Kenapa selama enam bulan ini, Sandy tak pernah sekalipun mengirimkan kabar lagi. Tiara bingung harus mencari jejaknya sampai kemana. Nomor teleponnya tak lagi aktif, begitupun jejak digital di media sosialnya. Bagi Tiara, kertas biru itu adalah wakil diri Sandy, serta jawaban atas kerinduan Tiara.

Halo sayang,

Apa kabarmu di sana?

Semoga engkau selalu dalam lindungan Allah.

Maaf … maaffff ….

Pasti kau bertanya padaku, apa kabarku selama enam bulan ini ….

Pasti kau mencariku ….

Namun ada hal-hal yang tak bisa kujelaskan dengan begitu mudah padamu ….

Kau pasti bertanya, mengapa aku kirimkan surat ini?

Mengapa tak langsung ku temui saja dirimu di sana?

Namun aku tak menemukan cukup cara yang pantas untuk bisa menatap wajahmu lagi …

Jemari Tiara bergetar memegang lembar kertas itu. Ia masih berusaha mencerna apa maksud Sandy dalam kalimat terakhirnya.

tak menemukan cukup cara yang pantas …

tak bisa kujelaskan dengan begitu mudah …

Apa maksudnya ini?  batin Tiara.

“Tiara, sudah hampir jam sembilan, bukankah acaranya jam sembilan? Kau terlambat nanti.” Seru ibunya lagi mengingatkan, bahwa ia harus segera berangkat.

Namun Tiara tak menjawab. Pikirannya sibuk mencerna makna tersirat dalam kata-kata yang dibacanya.

Maaf sayang, sungguh sulit bagiku untuk mengatakan ini … Tapi aku rasa, tak bisa lagi aku mendampingimu. Bukan karena kau tak baik, hanya saja aku tak nyaman lagi bersamamu ….

Lepaskan aku, lupakan mimpi-mimpi kita, sayang ….

Aku tak akan bisa menjadi seseorang yang kau harapkan, seperti dulu ….

Mungkin ini aneh, atau terlalu mendadak ….

Tapi semoga foto ini bisa membuatmu memahami dengan cepat….

Maaf … hanya itu yang bisa aku katakan ….

Hiduplah dengan baik di sana, jalani hari-harimu ….

Percayalah bahwa suatu hari nanti akan kau temukan seseorang yang lebih baik dariku ….

 Sandy

Mata Tiara sudah tak bisa lagi menampung semua air mata yang ingin keluar. Matanya sembab, hidungnya memerah, dan riasan make up yang sejak tadi ditatanya dengan sangat apik, sekarang sudah beleber kemana-mana. Maskara dan eyeliner hitam itu telah jatuh setitik membasahi kertas biru yang dipegangnya. Hatinya sakit sekali, bernafas pun rasanya sulit.

Tak ada lagi harapan indah yang bisa aku perjuangkan setelah ini, begitu pikirnya sambil sesekali menyeka mata dengan punggung tangannya.

Dengan sisa keberanian yang ia punya, Tiara coba untuk menilik kembali ke dalam amplop surat yang tergeletak di sisi kirinya.

Foto … foto apa? Mana ada foto? Tanya Tiara dalam batinnya sendiri.

Dilihatnya ada lembar putih kaku yang terselip di situ. Sejenak Tiara ragu, apakah perlu diambil dan dilihatnya foto itu. Namun jika tak ia tuntaskan, akan semakin banyak pertanyaan yang menunggu jawaban.

Akhirnya ia beranikan diri untuk membaliknya. Sesaat, jantung Tiara serasa berhenti berdetak. Sungguh sebuah pemandangan yang sangat sulit untuk ia percayai. Sebuah dekorasi mewah penuh dengan bunga-bunga warna putih memenuhi ruangan. Indah, seperti impiannya pada sebuah pesta pernikahannya dengan Sandy kelak. Tampak sepasang pengantin berdiri dengan anggun dan berwibawa di tengah-tengahnya.

Mata Tiara memicing. Coba ia amati, siapakah sosok pengantin itu.

Deeegggggg! Detaknya berhenti, dan Tiara berasa tubuhnya ingin terguling dari kursi tempatnya duduk.

Sandy. Ini Sandy. Dia menikah? Apa, dia menikah? Ya, dia menikah!

Terlepas lembar foto itu dari tangannya. Beringsut ia coba untuk memindahkan tubuhnya ke tempat tidur di samping kanannya.

Apa ini, apa arti ini semua …Pikirannya masih belum bisa mencerna dan menerima.

“Tiara, sudah jam sembilan. Peserta telah banyak kawan yang menunggumu di sana.” Teriak Mamanya lagi.

“Ya, Maa..sebentar lagi.” Jawab Tiara yang mencoba membuat suaranya senormal mungkin.

Setengah jam berlalu, Tiara mencoba untuk menenangkan dirinya yang kalut atas kabar Sandy.

Bagaimana tidak, laki-laki yang sudah tiga tahun bersamanya itu, tiba-tiba menghilang, dan sekarang tiba-tiba datang dengan kabar pernikahannya. Bagaimana aku harus menghadapi dunia ini selanjutnya? Batin Tiara yang masih belum menemukan jawaban atas pertanyaannya.

***

Lima tahun berlalu sejak kejadian yang sangat menyesakkan hati itu.

Pagi ini, Tiara kembali hadir di sebuah acara bedah buku. Tetapi tak sama seperti lima tahun yang lalu. Kini, ia bukan lagi peserta di sana, tetapi sebagai pembiacara. Bukunya adalah salah satu Best Seller yang terpampang di semua toko buku di seluruh Indonesia. Untuk sebuah jenis buku teenlit, ini termasuk luar biasa.

Tiara mengawali acaranya pagi itu dengan sangat bersemangat dan bahagia. Acaranya dihadiri lebih dari seratus orang kali ini. Wow! Di sela-sela talkshow antara Tiara dan pembawa acara, sesekali pandangan Tiara mengarah pada sosok seorang pria yang hadir di ujung sana. Tommy, ya itulah nama kekasih Tiara saat ini. Tommy lah yang perlahan menyembuhkan luka hati Tiara. Tommy lah yang justru meminta Tiara untuk menuliskan buku sebagai pengobat lukanya di masa lalu. Kini, Tiara bahagia. Perlahan lukanya sembuh berkat waktu dan dukungan orang-orang yang menyayanginya.

“Kini lah saatnya untuk penanda tanganan buku Kak Tiara, yang sebentar lagi akan diangkat menjadi film di layar lebar. Ayo siapa yang sudah punya bukunya dan pengen ditanda tangani Kak Tiara? Atau ada yang belum punya bukunya? Bisa nanti langsung order di sini yaa..” seru pembawa acara lantang.

Tiara pun berdiri, dan maju menuju meja kursi yang disediakan untuk pembubuhan tanda tangan. Tampak di depannya, para hadirin diminta untuk antri membentuk barisan yang panjang. Satu per satu maju untuk berfoto dan mendapatkan tanda tangan di buku mereka.

Hadirin pertama maju, menghampiri Tiara di depan meja yang telah disediakan panitia. Ia ulurkan buku Tiara, dan dengan tersenyum, Tiara membaca judul di sampul depan buku itu. ‘Debu yang Tak Seharusnya Kau Buang’, begitu cetakan tebalnya di halaman depan. Terpampang manis.

Kemudian Tiara buka lembar selanjutnya, disana ia tuliskan, “Tahukah kau, bahwa bumi yang penuh kehidupan tercipta dari kumpulan debu yang menggumpal dan memadat di angkasa? Debu yang tak berguna itu, kini menjadi harapan bagi seluruh makhluk Tuhan untuk ingin hidup. Debu tak selamanya tak berguna. Karena ia bisa menjelma menjadi sesuatu yang tak pernah kau duga.” Seraya Tiara membubuhkan tanda tangan pada buku hasil karyanya.

Enjoy The Ride

Perjalanan hidup atau jalan hidup? Dua frasa yang memberikan dua makna yang berbeda. Perjalanan hidup menuju kepada makna proses, sedangkan jalan hidup menuju makna takdir. Oleh karena itu, saya lebih suka menyebut semua hal yang terjadi dalam kisah manusia adalah sebuah perjalanan hidup.

Apakah itu artinya tidak percaya takdir? Tentu bukan. Namun, saya lebih memilih untuk menjalani proses daripada mengharapkan takdir. Apakah itu berbeda? Tentu. Di dalam frasa ‘menjalani proses’ berarti ada beberapa hal yang menjadi influencer-nya. Sedangkan dalam frasa ‘mengharapkan takdir’ artinya lebih kepada menyerah, tanpa usaha.  Tapi bagaimana dengan menjalani takdir? Frasa itu artinya menjadi sama dengan perjalanan. Ada proses, ada usaha, ada perasaan menerima, dan ada keikhlasan.

Berdasarkan hal itu, maka kata kuncinya adalah pada kata ‘menjalani’. Maka perjalanan hidup akhirnya bermakna pada sebuah proses yang dilakukan untuk menjalani hidup.

Pertanyaan selanjutnya, hidup seperti apa yang layak untuk dijalani? Bagi saya, hidup sendiri adalah sebuah hal yang layak untuk dijalani. Maka permasalahannya bukan pada layak atau tidak layak, tapi seperti apa hidup yang ingin kita jalani. Pemahaman kata ‘ingin’ di sini bermakna sebuah pilihan. Sehingga hidup seperti apa yang layak dijalani? Yaitu, hidup yang sesuai dengan cara yang kita pilih untuk kita jalani.

Kadang, ada satu masa di mana kehidupan ini adalah kehidupan yang bukan kita inginkan. Mungkin hampir semua manusia pernah mengalaminya. Namun, sekali lagi … Bahwa hidup bukan tidak layak untuk dijalani, tetapi kita yang kurang tepat menentukan pilihan, atau tidak memiliki keberanian untuk menjalani hidup ini.

Hidup ini anugerah, sobat …

Banyak manusia yang sudah mati bahkan ingin dihidupkan kembali untuk mengulang perjalanannya.

Mereka ingin memperbaiki apa kesalahannya, dan melakukan hal yang seharusnya.

Lalu mengapa di antara kita ada yang merasa hidupnya tidak berguna?

Apakah perjalanan hidup seseorang selalu baik? Tidak.

Apakah perjalanan hidup seseorang selalu lancar? Pasti juga tidak.

Namun kembali lagi dari filosofi kata perjalanan. Perjalanan adalah proses. Perjalanan adalah usaha. Perjalanan adalah waktu. Jadi point-nya bukan terletak pada ‘di mana akhir dari semua ini?’ Tetapi bagaimana memaknai dan menikmati setiap prosesnya untuk mendapatkan akhir yang diharapkan.

Sometimes, the people around you won’t understand your journey.

They don’t need to. It’s not for them.

“Set your own life goal, and enjoy the ride….”