Bagaimana Membuat Quotes yang baik?

Dalam kehidupan, seringkali manusia membutuhkan sebuah dorongan atau inspirasi untuk melakukan banyak hal. Dari yang ragu, menjadi tidak ragu. Dari yang salah, menjadi benar. Dari yang tidak tahu, menjadi tahu, dan lain sebagainya. Itulah yang akhirnya memunculkan sebuah ide, bernama quotes.

Quotes merupakan sebuah rangkaian kata yang mengandung sebuah arti atau makna tertentu. Ada beberapa hal yang sebaiknya diperhatikan, saat seseorang membuat quotes. Antara lain :

1. Diksi (pilihan kata)

Diksi adalah hal pertama, dan berperan sangat vital. Seseorang yang memang ingin membuat quotes harus menggunakan pilihan kata yang tepat, dan memiliki pemaknaan yang kuat. Sehingga quotes yang dihasilkan tidak perlu bertele-tele, menggunakan banyak kata, tetapi maknanya tidak memberikan kekuatan. Jika memang ingin membuat quotes, maka harus bisa menemukan diksi-diksi yang memberikan rasa dalam kata. Lalu dipadu padankan, akhirnya menjadi kalimat quotes yang singkat, padat, dan powerfull.

2.  Inspirasi

Untuk membuat quotes yang baik, maka juga penting untuk melakukan riset. Agar mampu menggali, apa saja kegelisahan, cara berpikir, masalah yang cocok diangkat, serta bagaimana seseorang mampu termotivasi dari quotes yang dibuat. Pada prinsipnya, riset sangat dibutuhkan sebelum melakukan berbagai macam hal.

Dalam hal inspirational quotes, maka dibutuhkan riset : Apa yang membuat orang tidak termotivasi, dan apa yang bisa membuat orang lain termotivasi. Ada dua jenis risetnya. Masalah dan solusi.

Jika pembuat quotes tidak melakukan ini, menurut saya, tetap bisa saja menulis quotes. Tetapi seberapa besar kekuatan quotes itu mempengaruhi orang lain, itu akan menjadi berbeda. Lalu apa tujuan membuat inspirational quotes, jika tidak ada orang lain yang merasa terpengaruh dan terinspirasi?

3. Gaya bahasa

Gaya bahasa adalah salah satu hal penting untuk diperhatikan saat menulis quotes. Dengan menggunakan gaya bahasa yang tepat, mampu membuat quotes tersebut diingat dengan baik oleh pembaca. Selama ini, gaya bahasa digunakan oleh banyak jenis tulisan, untuk menyampaikan pesan dengan lebih megena, karena mengedepankan rasa. Rasa, sangat penting. Karena dengan rasa, pesan bisa sampai dengan lebih mudah, dan sifatnya memorable. 

4. Tema

Tema sangat terkait dengan quotes yang akan dibuat. Jika seorang amatir, ingin membuat sebuah quotes, maka penting untuk menuliskan secara spesifik tentang tema quotes. Misal, tema umumnya adalah menulis dan inspiratif. Maka, penting untuk membuat daftar jawaban dari hal-hal terkait menulis dan inspiratif. Jawaban-jawaban itu, bisa diawali dari pertanyaan-pertanyaan. Misal, apa arti menulis untuk saya? Apa manfaat menulis untuk saya? Mengapa menulis itu penting untuk dilakukan? Apa saja yang bisa membuat orang suka menulis? Apa saja usaha yang telah saya lakukan untuk menulis? Apa yang akan saya lakukan jika saya merasa sedang tidak punya ide? dan lain sebagainya.

Jawaban-jawaban dari pertanyaan itu, akan mengerucutkan dalam tema spesifik. Dari tema spesifik, maka pembuat quotes bisa mendapatkan gambaran khusus untuk dituliskan ke dalam kalimat quotes.  Semakin spesifik tema yang diangkat, semakin mampu menjadi kekuatan bagi pembaca quotes.

Itulah keempat hal penting yang menurut saya perlu diperhatikan saat membuat quotes. Diharapkan quotes yang dihasilkan dari proses tersebut mampu menghasilkan kekuatan, solusi, dan inspirasi bagi pembaca atau pendengar.

Coba bedakan antara quotes biasa dengan quotes yang sudah biasa didengar. Quotes bisa saja abadi, bahkan meskipun pembuat quotes itu telah tiada. Quotes-nya masih selalu diingat dan didengungkan. Kenapa? Karena pesan yang ia sampaikan merupakan racikan yang tepat antara diksi, gaya bahasa, rasa, tema, paham masalah yang dihadapi, serta merupakan solusi.

Sebenarnya, menurut saya pribadi, quotes itu tidak untuk sengaja dibuat. Saat Anda mendengar inspirational quotes dari tokoh-tokoh besar, misal : Ir. Soekarno, Gus Dur, Emha Ainun Najib, Gus Mus, dan lain-lain, apakah beliau memang sengaja membuat quotes untuk menginspirasi orang lain? Saya berkeyakinan tidak. Namun, pada kenyataannya, banyak sekali kata-kata beliau yang dikutip, dan diangkat sebagai quotes. Tanya kenapa? Bagi saya, karena kalimat yang para tokoh sampaikan, secara tidak langsung mampu memberikan pengaruh bagi pendengarnya. Mampu mengusik rasa.

Namun, jika Anda memang sengaja membuat quotes, baiklah. Namun, buatlah quotes dengan baik. Sampaikan pesan dengan benar-benar mengedepankan rasa, tetapi juga memainkan logika dengan tepat. Keempat hal di atas, semoga bisa turut membantu untuk mencerahkan.

Advertisements

Tak Semua Masa Lalu Harus Dilupakan

Masih tentang cerpen. Dunia menawan yang menarik untuk dipelajari. Dalam belajar tentang cerpen, menganalisis, serta menyimpulkan sebuah cerpen sastra, maka saya diminta untuk membaca dan membedah banyak sekali karya penulis sastra.

Salah satu yang saya pelajari adalah cerpen milik Budi Darma. Beliau adalah seorang guru besar di Universitas Negeri Surabaya yang sudah banyak sekali membuat karya.

Cerpen tersebut judulnya Tarom. Tarom ditulis Budi Darma dengan gayanya yang khas. Diksi dan plotnya membuat kita seolah sedang terbang, mengunjungi satu negara ke negara lain. Namun, ada satu hal yang menjadi catatan saya. Cara Budi Darma, membuat kita terpaksa belajar masa lalu.

Masa lalu apa yang dituliskan Budi Darma? Budi Darma menyuguhkan sebuah kisah, dengan fakta-fakta masa lalu sangat terasa. Masa lalu di sini artinya adalah sejarah, atau sesuatu yang pernah terjadi di masa sebelum sekarang. Dalam tulisan-tulisan beliau,  pembaca secara tidak langsung diminta untuk melakukan riset.

Dalam cerpen Tarom tersebut, pembaca diajak belajar tentang masa Perang Dunia, Perang Indonesia dengan Malaysia dengan slogannya yang terkenal Ganyang Malaysia. Juga cerita antara Monalisa dan Leonardo Da Vinci. Semua dikemas secara apik, menjadikan cerita masa lalu itu indah untuk dinikmati.

Ya, banyak sekali di antara kita, manusia Indonesia khususnya, yang tidak peduli pada masa lalu negara ini. Masa lalu itu kita namakan sejarah. Sebuah bangsa yang hebat, adalah bangsa yang menghargai sejarah. Baik dan buruk, kelam, tetapi semua cerita masa lalu itulah yang membuat kita semua berdiri di sini.

Apakah kita harus menunggu selevel Master Budi Darma dahulu untuk bisa tergerak belajar masa lalu? Seharusnya kita justru bisa mencontoh dari beliau. Usia yang tak lagi muda, tetapi memiliki pemahaman dan pengetahuan seluas itu. Pasti ketertarikan pada sejarah, mempelajarinya, dan menuangkannya pada karya sastra sudah beliau lakukan sejak masih muda. Jangan melupakan masa lalu yang bisa memberikan arti bagi masa depan. Tak semua hal harus dilupakan.

Cicak Yang Mati Karena Memakan Nyamuk

Musim hujan kembali datang. Para nyamuk seperti mati satu tumbuh seribu. Memang, nyamuk lebih terasa banyak di musim kemarau. Namun, di musim hujan mereka jadi lebih rajin untuk berkembang biak. Begitu lahir baru, ia merasa langsung cukup mampu untuk berburu.

Nyamuk dulu pun ternyata berbeda dengan nyamuk sekarang. Jika dulu, jentik nyamuk butuh waktu 12-14 hari untuk berubah menjadi nyamuk dewasa. Nyamuk sekarang hanya butuh waktu 9 hari dalam pertumbuhannya. Karena para nyamuk masa kini adalah nyamuk dewasa prematur, maka tubuhnya semakin kecil, tapi nafsu makannya semakin bertambah. Frekuensi makannya juga meningkat.

Nyamuk-nyamuk kekinian itu pun perlahan berevolusi menjadi semacam iblis bagi manusia. Ketika iblis diriwayatkan hidup di dalam aliran darah setiap manusia, nyamuk-nyamuk iblis hidup layaknya vampir yang menghisap darah. Darah, di dunia ini banyak sekali yang menginginkannya.

Nyamuk-nyamuk iblis bukan saja mengincar darah, ia melesat ke semua celah-celah. Menghabisi siapa saja yang bisa dihabisi. Tanpa pandang bulu siapa pun yang ia sebut sebagai lawannya. Jika begitu besarnya keinginannya untuk membunuh, apakah ada yang pernah bertanya, apakah nyamuk kanibal? Pertanyaan ini, ingin sekali aku jawab tidak. Bagiku nyamuk bisa menjadi kanibal, ketika keinginannya makan, tak bisa terpenuhi. Di dunia ini, adakah yang lebih bertahan selain kepentingan?

Suatu hari ada seekor cicak yang tengah terjaga. Makan seperti biasa yang biasa mereka lakukan. Tiba-tiba ada seekor nyamuk yang tidak diketahui dari mana datangnya, hinggap di dekatnya. Hmm … kesempatan besar. Hap! dimakanlah si nyamuk kecil itu oleh seekor cicak di dinding.

Esok paginya, kutemukan seekor cicak mati. Terjatuh dari langit-langit ruang tamuku. Kata cicak yang lain, ia mati karena memakan nyamuk.

Biola Tak Berdawai

Gadis yang patah hati itu perlahan menghibur diri. Ia teringat kembali apa kata matahari tentang senja yang ia lalui. Relakan, ikhlaskan. Toh, semua pasti sudah menjadi catatan bagi Sang Pemilik Kehidupan.

Tiba-tiba ia teringat pada biola kesayangan. Teronggok pilu dalam kesendirian di pojok ruangan. Ingatannya pun melayang ke masa sebelumnya. Ketika ada seorang pria yang menyerahkan biola itu sebagai tanda cinta sepenuhnya. Datang di malam minggu, khas para remaja absen kehadiran ke rumah kekasihnya.

Laki-laki itu datang dengan sangat sopan. Mengetuk pintu, dan mengucapkan salam. Saat itu, keluarlah sang ibunda. Membukakan dengan pandangan penuh selidik, dan tanda tanya.

“Ya? Teman Cemara?” tanya ibunya. Matanya memandang lurus, menerobos ke dalam bola mata sang pemuda. Mencari jawab, atas arti hadirnya.

“Ya, tante. Saya Vibra, Vibrasi Moldiso, kawan Cemara. Apakah Cemara ada?” begitu tanyanya, sambil mengangguk, dan mengeratkan pegangan ke leher biola.

Pemuda itu memang membawa biola. Sebuah biola yang dibuat khusus dari perpaduan kayu Spruce dan Maple. 

Biola, sungguh hadiah yang cocok untuk Cemara. Semoga ia suka, pikir sang pria. 

“Baik, silakan masuk. Tunggu sebentar, saya panggil Cemara.” titah sang ibunda sambil membukakan pintu lebih lebar.

Sejenak kemudian, hadirlah Cemara ke ruangan tempat si pemuda menunggu. Wajahnya sangat ayu, tetapi tak terlihat senyum yang tersungging sedikit pun dari ujung bibir ayunya. Dengaan wajah datar, ia bertanya,

“Ya, Vibra. Sorry, ada perlu apa? Aku sedang menunggu seseorang. Maaf, mungkin aku tak bisa lama. Ada yang ingin kau sampaikan?” katanya.

Entah mengapa, kalimat itu lebih terdengar seperti mengusir bagi Vibra. Padahal ia masih ingin berlama-lama. Maka ia pun paham, dan tahu diri apa maksudnya.

“Maaf, Cemara. Mungkin kau tak akan suka. Tapi bolehkah aku memberikan biola ini sebagai hadiah untukmu?” jawab Vibra mengawali percakapan kaku yang menunggu untuk diakhiri.

“Biola ini kubuat dengan tanganku sendiri. Bagian atasnya menggunakan kayu Spruce yang kulubangi membentuk huruf “f”. Kupotong dengan cara quarter-swan. Cukup sulit untuk memotong kayu dengan sudut 60-90 derajat dari cincin pertumbuhan kayu tersebut. Bagian badan belakang dan rusuk, aku gunakan kayu Maple yang kupotong secara slab-cut. Lalu, pada lehernya kugunakan kayu Maple dan kutempelkan fingerboard yang terbuat dari kayu Ebony. Kupilih Ebony, karena ia lebih keras, lebih kuat, dan tahan untuk lama digunakan. Setelah itu kubuat detail-detail sound post, juga bass bar.”

Cemara memandangi biola coklat gelap metalik itu dengan mengeryitkan dahi. Tanpa kata, hanya terasa ingin segera menyelesaikan percakapan kali ini. Namun, lawan bicaranya seolah tak mengerti. Terus menjelaskan caranya membuat biola yang sedikit pun tak ia pahami.

“Setelah itu aku akan membuat neck, bridge, tailpiece dari kayu Ebony, pernambuco, boxwood, atau rosewood. Ebony dan pernambuco kubuat lebih tipis sehingga lebih ringan, meskipun tetap rentan pecah. Pernambuco bisa memperbaiki suara yang teredam sehingga lebih cerah dan fokus. Sedangkan ebony, menghangatkan suara yang tajam. Boxwood dan rosewood pun kugunakan karena sifatnya yang ringan.”

Senyum mengembang dari wajah Vibra. Tampaknya ia puas menjelaskan tentang biola hasil buatannya. Seraya itu, ia ulurkan kepada Cemara.

“Cemara, terimalah ini. Biola hasil buatanku. Sungguh, kubuat ia sepenuh hatiku. Kudatangkan semua bahannya pun dari negeri di atas awan. Kau pasti tak akan bisa temukan biola yang sama seperti buatanku.”

Cemara diam sejenak. Bertanya,

“Kenapa kau memberiku biola? Bukankah aku tak bisa bermain biola?”

“Tak apa. Kau simpan saja. Mungkin suatu hari kau ingin mendengar bunyinya, meskipun hanya menggeseknya dengan helai rambutmu.”

Cemara masih tak mengerti.

“Aku pamit dulu. Semoga kau suka hadiahku”

Ya, ia ingat kembali sekarang. Sejak cintanya berlabuh pada pria yang mengiriminya kiamat lewat tukang pos, nasib biola itu perlahan usang dan nyaris masuk tong sampah.

Diambilnya benda berdebu itu, entah kenapa kali ini ingin rasanya ia mendengar suara biola. Ia ingat, biola itu membuatnya tertarik belajar biola. Membuatnya mengikuti beberapa lomba, dan memenangkan beberapa hadiah. Namun itu berubah arah, ketika ia jatuh cinta pada pria pengirim kiamat itu. Pria yang menjadikannya sosok yang berbeda. Bahkan ia pun seperti tak mengenal dirinya. Tapi cinta memang selalu buta. Sudahlah …. pikirnya mengakhiri rumitnya perang di kepalanya.

Biola. Kuingin mendengar suaramu. Ayo kita bermain. Ia angkat biola itu agar lebih dekat dengannya.

Namun tiba-tiba ia tercekat, kaget. Biola merdu itu, kini tanpa dawai.

Ketika Matahari Bicara Senja

Gadis patah hati itu, masih juga terpaku. Kepalanya telah basah dihujani air dari awan hitam di atas kepalanya. Kepalanya pun meledak akibat hujaman petir yang menyambar tepat di ubun-ubunnya. Namun apa daya, kenyataan memang sepahit perasan air daun tuba yang dicelupkan ke dalam susu. Pahit, sangat pahit. Bahkan susu pun tak mampu menghapuskan kepahitan itu.

Ia tutup lagi amplop hijau yang membuat gemuruh besar di hatinya. Dilihatnya sekali lagi gambar hati yang membuatnya bahagia sejak lima tahun yang lalu. Namun kini, tak ubahnya hanya jadi sampah masa lalu yang tak perlu ditengok kembali. Apa yang masih tersisa, hati pun sudah patah, tak ada lagi yang bisa kutinggalkan sebagai harapan, begitu pikirnya.

Dengan isi kepala yang sudah tak lagi lengkap, hati yang patah, serta gemuruh badai yang masih menyesakkan dadanya, gadis itu beranjak dari duduknya. Sejenak, sinar matahari sore menyentuhnya, ingin menyapa dalam senja yang mampir sekejap. Ia pun menatap ke langit. Mencoba bertanya pada matahari yang hampir sampai di peraduan.

“Apa yang kau harapkan dariku, hai matahari? Aku sudah tak bisa memahami dunia ini lagi.”

“Tataplah langit itu. Liat warnaku di senja ini. Apakah manusia tahu, bahwa senja adalah saat paling indah dari sepanjang perjalananku setiap hari.”

“Hmm … ya, tapi sekarang bagiku semua sama saja. Gelap. Bukankan senja indahmu pun hanya sebentar. Selanjutnya akan berganti malam. Lalu apa gunanya indah senjamu?”

“Senja adalah penanda. Kadang manusia tidak menyadari, bahwa keindahan itu justru berada di persimpangan siang dan malam. Namun tidak semua bisa melihatnya. Sering orang melihat senja hanya sebagai pengakhir hari. Seolah ketika malam tiba, perjalanan hidup sudah terhenti. “

“Begitu pun kau. Lihat senja ini. Lupakan, maka gemuruh badaimu pun akan hilang. Lihatlah wajahmu. Sayu. Seharusnya bisa seindah senjaku ini. Merona, merah jingga keemasan.”

“Kau tak bisa memaksakan hati yang ingin pergi untuk tetap tinggal bersamamu. Pilihanmu hanya membiarkannya pergi dan berlalu.”

“Hei, matahari, diam kau! Sudah, tidur saja sana! Kau membuatku ingin melemparkan gulungan badai dalam dadaku ini untuk melenyapkan sinarmu selama-lamanya.”

“Bersabarlah … dan ikhlaskan semua. Tak bisa kau ubah kenyataan hidupmu. Ikhlaskanlah, agar jiwamu bahagia. Apakah kau ingin menandai senja ini sebagai pengakhir harimu? Atau kau resapi sakitmu dengan indah, lalu kau sambut aku esok hari?”

Gadis kecil itu menatap kembali amplop hijau di tangannya. Dijulurkanlah tangannya ke atas. Lalu datanglah angin, meniup amplop hijau itu. Hilang musnah.

BBW 2018, Cinta Itu Masih Ada

Hari ini, event tahunan yang digelar sejak tahun 2016 ini, dianggap selalu mendulang kesuksesan setiap kali diselenggarakan. Big Bad Wolf (BBW), begitulah namanya. Cukup aneh ya, tidak terlihat ada hubungannya sama sekali dengan buku, haha ….

Penggagas BBW adalah sepasang suami istri bernama Andrew Yap, dan Jacqueline Ng. Nama Big Bad Wolf diambil dari kisah Little Red Riding Hood, di mana ada seekor serigala yang menyamar sebagai nenek tua dan akan memangsa seeorang gadis kecil berjubah merah. Akhirnya oleh Andrew, nama Big Bad Wolf dijadikan sebagai nama untuk perusahaannya, karena dianggap menarik.

BBW Event 2018 kembali diselenggarakan di Indonesian Convention and Exhibition (ICE), BSD  CITY, Tangerang sejak hari ini, 29 Maret hingga 9 April 2018 nanti. Hari ini memang sudah saya tunggu-tunggu sejak beberapa minggu, bahkan setahun yang lalu. Kenapa? Karena tahun ini, adalah pertama kalinya saya berkesempatan untuk mengunjungi event ini di ICE.

Pertama kali saya menyusuri jalan sebelum ke ICE, rasanya jalanan itu lengang. Ya, seperti biasanya. Kondisi ini sangat kontras dengan saat event yang diselenggarakan adalah GIIAS 2017, pada Agustus tahun lalu. Pada saat itu, hampir sepanjang jalanan BSD CITY penuh oleh lalu lintas mobil yang keluar masuk dari jalanan sekitar ICE. Bahkan panitia sampai menyediakan shuttle bus, dan lokasi parkir tambahan. Berbeda dengan event BBW ini, jalanan masih sepi.

Setelah agak kesal karena parkir kendaraannya ternyata dibuat paling ujung, saya masuk ke dalam ruangan. Berbeda dengan GIIAS, yang biaya masukknya Rp 75.000/ orang, kali ini FREE. Setelah memasuki ruangan, betapa senangnya melihat begitu banyak orang lebih dari yang saya bayangkan. Saya paham, hari ini pasti belum bisa ramai, karena masih hari kerja dan ini siang hari.

Jujur, saya agak bingung. Bukankah kata data, daya baca masyarakat Indonesia sangat rendah. Namun, tadi saya melihat banyak sekali yang memasukkan buku ke keranjang  belanja. Tampaknya ini bukan untuk dikonsumsi sendiri, melainkan hasil dari jasa titip beli yang dilakukan melalui media sosial. Jadi, jika Anda berada di daerah lain yang tidak mungkin dijangkau jaraknya dari ICE, maka silakan menghubungi kontak para penyedia jastip di media sosial.

Mungkin ini akhirnya yang membuat kesimpulan awal saya salah. Hanya melihat keramaian di jalan hari ini sebagai tolok ukur sukses tidaknya sebuah acara. Ternyata, saya salah. Dari sekian banyak keranjang yang penuh dengan tumpukan buku, hingga sepertinya … saking banyaknya pesanan buku itu, kita bisa menyusunnya menjadi sebuah bangunan sangat tinggi.

Lalu, sebenarnya apa sih yang menarik dari BBW event yang rutin setiap tahun ini?

BBW adalah cara yang dilakukan untuk menjual buku hasil sisa produksi. Caranya, dengan memberikan potongan harga yang besar. Banyak buku-buku, khususnya buku lokal terbitan Indonesia, dijual dengan harga hanya Rp 15.000. Jadi, jangan mengharapkan buku-buku terbitan baru akan tersedia di sana. Yang kedua, buku-buku impor. Saya cek sebenarnya buku-buku impor itu relatif buku-buku baru, hanya saja di BBW event ini harganya lumayan lebih murah dibanding harga biasanya di toko buku. So, kapan lagi bisa membeli buku-buku impor dengan kualitas yang sangat bagus, tetapi harganya murah?

Saya bahagia, karena penilaian saya ternyata salah. Saya sangat bahagia karena masih banyak yang peduli pada literasi.  Ya, ternyata cinta itu masih ada.

Bawang Putih, Nasibmu Kini. Tanya Kenapa?

Sebagai ibu rumah tangga, di mana frekuensi ke pasar lebih sering dibandingkan ke mall, maka saya tahu betul bahwa harga bawang putih kini sudah sama dengan harga ayam. Bukan hanya masalah harga, ketersediaan barangnya pun semakin langka. Selama kira-kira hampir sebulan, harganya terus saja merangkak naik meninggalkan komoditas lain. Ada apa gerangan?

Saya mencoba melakukan riset sederhana untuk membuat praduga atas alasan kenaikannya. Kira-kira ada dua hal besar yang menjadi dugaan saya, yaitu :

1. Impor yang belum tereksekusi dengan baik

Sejujurnya saya sedih untuk mengatakan, “Impor belum tereksekusi dengan baik.” Negara  dengan wilayah pertanian sangat luas ini justru masih menggantungkan 95% kebutuhan dalam negeri komoditas bawang putih dari impor. Negara importirnya terbesarnya adalah Cina dan Tiongkok.

Sesuai dengan riset data yang saya dapatkan, kebutuhan bawang putih Indonesia rata-rata berada di angka 500 ribu ton/ tahun. Namun berapa jumlah produksinya? Jika dibandingkan dengan tahun 2017, realisasinya hanya bisa di angka 70 ribu ton. Untuk tahun 2018, diproyeksikan bisa mencapai angka 100 ribu ton. Lalu berapa kebutuhan impornya? Tentu secara hitungan kasar, Indonesia masih membutuhkan sekitar 400 ribu ton. Luar biasa!

Pada awal Maret 2018 lalu, Kementerian Pertanian (Kementan) telah menerbitkan Rekomendasi Impor Produk Holtikultura (RIPH) untuk mengimpor sebanyak 400 ribu ton dari Cina kepada 37 perusahaan importir. Realisasi volume impor yang akan diberikan, seluruhnya tergantung pada ijin yang diterbitkan oleh Kementerian Perdagangan (Kemendag). Selanjutnya baru-baru saja, Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengeluarkan ijin untuk mengimpor 196 ribu ton bawang putih melalui Surat Persetujuan Impor (SPI) kepada 13 importir.

Meskipun sudah diterbitkan SPI, kelangkaan barang masih mungkin terjadi. Hal ini disebabkan realisasi impor yang dirasa kurang optimal. Terkesan terlambat, sehingga belum banyak bawang putih yang tiba di Indonesia. Jumlah importir saat ini juga hanya 13 perusahaan. Ada dugaan bahwa sedikitnya jumlah importir ini karena kebijakan dari Menteri Pertanian, yang dikeluarkan melalui Peraturan Menteri Pertanian (Permentan)  Nomor 16 Tahun 2016 tentang Rekomendasi Impor Produk Holtikultura (RIPH). Dalam aturan tersebut, mewajibkan importir untuk menghasilkan 5% bawang putih dari alokasi impor. Artinya, ada kewajiban bagi importir untuk ‘menanam’ bawang putih di lahan sendiri.

Simulasinya seperti ini. Jika seorang importir ingin mengeksekusi hak impornya, maka untuk menghasilkan 1.000 ton bawang putih dalam setahun, ia harus memproduksi 50 ton bawang putih dari kebun ‘sendiri’. Jika setiap hektar diperkirakan bisa menghasilkan 6 ton bawang putih, maka dibutuhkan lahan kurang lebih 8,33 hektar untuk menghasilkan 50 ton. Artinya, dibutuhkan biaya 416-500 juta per 50 ton bawang putih. Hal ini sebenarnya masih bisa disanggupi oleh importir. Hanya merasa berat, karena dianggap minim bantuan dari pemerintah, misalnya untuk bibit.

Lalu, apakah Indonesia tidak bisa swadaya bawang putih seperti halnya pada bawang merah? Ternyata, Indonesia pernah mampu memenuhi 80% kebutuhan dalam negeri sampai tahun 1998. Setelah itu, Indonesia bergabung dalam Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization/ WTO). Saat itulah, bawang putih asal negara lain khususnya Cina, menyerbu pasar Indonesia dan mematikan usaha bawang putih lokal karena harganya jatuh. Bawang putih lokal ukurannya kecil-kecil, berbeda dengan bawang putih impor yang besar-besar.

Dilihat dari teknik penanaman dan kondisi lahan yang ada di Indonesia, menanam bawang putih memang lebih sulit dibandingkan bawang merah. Bawang putih lebih memerlukan kondisi yang spesifik seperti kondisi lahan dan suhu tertentu. Itulah mengapa, semakin banyak petani yang malas melakukan penanaman bawang putih. Apalagi tanpa adanya bantuan teknologi untuk bisa melakukan penamanan secara massive.

2. Efek tidak langsung dari kenaikan harga minyak dunia

Pada pertengahan Februari 2018, harga minyak dunia menyentuh level hingga mencapai USD 65,73 per barel untuk harga minyak mentah Brent. Pemulihan pasar ekuitas global dan ketegangan di Timur Tengah angkat harga minyak,  di tengah kekhawatiran kenaikan produksi di AS. Pada awal pekan ini, harga minyak mentah Brent dibuka naik di atas USD 70 per barel untuk pertama kalinya sejak Januari 2018. Lantas apa efeknya bagi Indonesia?

Ada dua hal utama yang menjadi pembentuk harga jual BBM, yaitu harga minyak mentah dunia dan nilai tukar rupiah terhadap dolar. Jadi, jika dalam waktu yang bersamaan harga minyak mentah dunia naik, dan rupiah melemah, maka harga jual BBM akan melonjak. Atau, jika harga minyak dunia turun, tetapi nilai tukar rupiah melemah, maka harga jual BBM pun sulit untuk turun. Selama ini, Pemerintah meninjau harga jual BBM setiap tiga bulan.

Kondisi saat ini, harga minyak dunia memang sedang tinggi. Bagaimana dengan nilai tukar rupiah terhadap dolar? Akhir pekan lalu, nilai tukar rupiah melemah di level Rp 13.800 per USD. Namun, pekan ini sudah menguat ke level Rp 13.600 per USD. Melihat kisarannya, nilai tukar rupiah terhadap dolar itu masih relatif lemah. Kondisi itulah yang akhirnya membuat Pemerintah menaikkan harga Pertalite kembali per 24 Maret 2018. Alhasil, kenaikan pada Maret 2018 ini merupakan kenaikan yang kedua sejak Januari 2018.

Seperti diketahui bahwa sejak 2015, Pemerintahan Presiden Jokowi sudah mengurangi dan mencabut subsidi BBM besar-besaran untuk membiayai proyek-proyek infrastruktur. Karena itulah, kenaikan harga minyak mentah dunia dan lemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar mempengaruhi harga BBM non-subsidi.

Pemerintah mengklaim bahwa kenaikan harga BBM tersebut tidak akan terlalu mempengaruhi masyarakat. Hal ini dilihat dari tingkat inflasi bulanan di Februari  2018 sebesar 0,17% yang didominasi oleh kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau. Sementara dari kontribusi kelompok bahan bakar, hanya 0,22%. Prediksi inflasi di Maret hanya akan meningkat sekitar 0,2% dan di April akan meningkat lagi di kisaran 0,3% membuat Pemerintah merasa bahwa dampak kenaikan BBM tersebut tidak signifikan.

Namun, apakah benar demikian?

Sejak subsidi yang dikurangi besar-besaran oleh Pemerintah, maka golongan Non-subsidi juga akan merasakan pengaruhnya jika terjadi perubahan pada harga pasar dunia. Tiga kelompok bahan bakar yang  dikurangi subsidinya oleh Pemerintah meliputi, BBM, Gas (LPG), dan Listrik. Maka, jika terjadi kenaikan harga BBM Non-subsidi serta listrik, maka otomatis akan berimbas pada industri. Biaya produksi akan meningkat, karena akan mempengaruhi biaya pendistribusian barang hingga ke tangan konsumen. Naiknya biaya produksi tersebut, akan membentuk kenaikan harga hingga di tangan konsumen. Hampir seluruh harga bahan pokok mengalami kenaikan, termasuk bawang putih. Akibatnya, seluruh masyarakat baik di kelas penerima subsidi BBM maupun Non-subsidi, secara tidak langsung akan merasakan dampaknya.

Dua hal tersebut yang (mungkin) bisa saya simpulkan dari penyebab melambungnya harga bawang putih beberapa waktu terakhir ini. Jika bahan makanan pokok lain tidak terlalu tinggi naiknya, hal itu disebabkan karena ketersediaan pasokan di dalam negeri. Berbeda dengan bawang putih yang menggantungkan hampir semua kebutuhan dari impor. Itu membuat ketika terjadi kekurangan pasokan di dalam negeri, Indonesia harus buru-buru membuka keran impor.

Dengan harga produksi yang juga sedang tinggi, ditambah kekosongan stok di dalam negeri, membuat masyarakat Indonesia terpaksa harus menelan ludah. Mau tidak mau harus menerima. Tak ada yang bisa dilakukan. Lari pun ibarat dikepung macan. Bertahan dengan segala cara. Masyarakat Indonesia tidak mungkin makan tanpa bawang, kan?

Lalu, kapan Indonesia bisa seperti Thailand dalam hal pertanian? Hmm … masih jauh tampaknya perjalanan kita.

Sumber Referensi :

  1. https://www.bps.go.id/pressrelease/2018/03/01/1441/februari-2018-inflasi-sebesar-0-17-persen–inflasi-tertinggi-terjadi-di-jayapura-sebesar-1-05-persen-.html
  2. http://ekbis.rmol.co/read/2018/03/27/332604/Gila,-Harga-Bawang-Putih-Nyaris-Tembus-Rp-50.000-Per-Kg-
  3. http://industri.bisnis.com/read/20180322/99/753112/bawang-putih-realisasi-impor-belum-optimal-harga-tinggi
  4. https://www.merdeka.com/uang/kenaikan-harga-bawang-putih-dicemaskan-picu-kelangkaan.html
  5. http://www.liputan6.com/bisnis/read/3411055/harga-minyak-dunia-naik-bertahan-di-atas-usd-70-per-barel
  6. https://www.medcom.id/ekonomi/globals/xkEn777K-kenaikan-persediaan-as-buat-harga-minyak-dunia-jatuh
  7. https://tirto.id/alasan-pertamina-naikkan-harga-pertalite-rp200-per-liter-cGH7
  8. https://economy.okezone.com/read/2018/03/22/320/1876263/harga-minyak-dunia-naik-ke-level-tertinggi
  9. https://tirto.id/cara-pemerintah-dan-pertamina-menetapkan-harga-bbm-cvzz
  10. http://www.liputan6.com/bisnis/read/625211/bagaimana-cara-pertamina-hitung-harga-jual-bbm
  11. https://katadata.co.id/berita/2018/03/06/kementan-terbitkan-rekomendasi-impor-400-ribu-ton-bawang-putih
  12. https://katadata.co.id/berita/2018/03/07/kemendag-keluarkan-izin-impor-200-ribu-ton-bawang-putih
  13. https://katadata.co.id/berita/2018/03/23/harga-tinggi-di-pasar-mendag-akan-panggil-importir-bawang-putih
  14. http://jateng.tribunnews.com/2018/03/02/ada-apa-ini-nilai-tukar-rupiah-sentuh-rp-13775-per-dollar-as