BBW 2018, Cinta Itu Masih Ada

Hari ini, event tahunan yang digelar sejak tahun 2016 ini, dianggap selalu mendulang kesuksesan setiap kali diselenggarakan. Big Bad Wolf (BBW), begitulah namanya. Cukup aneh ya, tidak terlihat ada hubungannya sama sekali dengan buku, haha ….

Penggagas BBW adalah sepasang suami istri bernama Andrew Yap, dan Jacqueline Ng. Nama Big Bad Wolf diambil dari kisah Little Red Riding Hood, di mana ada seekor serigala yang menyamar sebagai nenek tua dan akan memangsa seeorang gadis kecil berjubah merah. Akhirnya oleh Andrew, nama Big Bad Wolf dijadikan sebagai nama untuk perusahaannya, karena dianggap menarik.

BBW Event 2018 kembali diselenggarakan di Indonesian Convention and Exhibition (ICE), BSD  CITY, Tangerang sejak hari ini, 29 Maret hingga 9 April 2018 nanti. Hari ini memang sudah saya tunggu-tunggu sejak beberapa minggu, bahkan setahun yang lalu. Kenapa? Karena tahun ini, adalah pertama kalinya saya berkesempatan untuk mengunjungi event ini di ICE.

Pertama kali saya menyusuri jalan sebelum ke ICE, rasanya jalanan itu lengang. Ya, seperti biasanya. Kondisi ini sangat kontras dengan saat event yang diselenggarakan adalah GIIAS 2017, pada Agustus tahun lalu. Pada saat itu, hampir sepanjang jalanan BSD CITY penuh oleh lalu lintas mobil yang keluar masuk dari jalanan sekitar ICE. Bahkan panitia sampai menyediakan shuttle bus, dan lokasi parkir tambahan. Berbeda dengan event BBW ini, jalanan masih sepi.

Setelah agak kesal karena parkir kendaraannya ternyata dibuat paling ujung, saya masuk ke dalam ruangan. Berbeda dengan GIIAS, yang biaya masukknya Rp 75.000/ orang, kali ini FREE. Setelah memasuki ruangan, betapa senangnya melihat begitu banyak orang lebih dari yang saya bayangkan. Saya paham, hari ini pasti belum bisa ramai, karena masih hari kerja dan ini siang hari.

Jujur, saya agak bingung. Bukankah kata data, daya baca masyarakat Indonesia sangat rendah. Namun, tadi saya melihat banyak sekali yang memasukkan buku ke keranjang  belanja. Tampaknya ini bukan untuk dikonsumsi sendiri, melainkan hasil dari jasa titip beli yang dilakukan melalui media sosial. Jadi, jika Anda berada di daerah lain yang tidak mungkin dijangkau jaraknya dari ICE, maka silakan menghubungi kontak para penyedia jastip di media sosial.

Mungkin ini akhirnya yang membuat kesimpulan awal saya salah. Hanya melihat keramaian di jalan hari ini sebagai tolok ukur sukses tidaknya sebuah acara. Ternyata, saya salah. Dari sekian banyak keranjang yang penuh dengan tumpukan buku, hingga sepertinya … saking banyaknya pesanan buku itu, kita bisa menyusunnya menjadi sebuah bangunan sangat tinggi.

Lalu, sebenarnya apa sih yang menarik dari BBW event yang rutin setiap tahun ini?

BBW adalah cara yang dilakukan untuk menjual buku hasil sisa produksi. Caranya, dengan memberikan potongan harga yang besar. Banyak buku-buku, khususnya buku lokal terbitan Indonesia, dijual dengan harga hanya Rp 15.000. Jadi, jangan mengharapkan buku-buku terbitan baru akan tersedia di sana. Yang kedua, buku-buku impor. Saya cek sebenarnya buku-buku impor itu relatif buku-buku baru, hanya saja di BBW event ini harganya lumayan lebih murah dibanding harga biasanya di toko buku. So, kapan lagi bisa membeli buku-buku impor dengan kualitas yang sangat bagus, tetapi harganya murah?

Saya bahagia, karena penilaian saya ternyata salah. Saya sangat bahagia karena masih banyak yang peduli pada literasi.  Ya, ternyata cinta itu masih ada.

Advertisements