What’s Next in 30DWC Jilid 12? (Part 2)

7. Membeli Beberapa Buku

Ada beberapa buku yang saya beli untuk ‘memaksa’ diri saya belajar. Ya, tugas di kehidupan nyata sesungguhnya sangat luar biasa banyaknya. Sedangkan menulis, tak bisa dilepaskan dari membiasakan diri untuk membaca. Beberapa buku yang saya beli itu meliputi fiksi dan non-fiksi. Ada beberapa buku non-fiksi yang memang saya beli untuk meng-update kebutuhan saya, khususnya tentang menulis, dan bisnis. Sedangkan buku fiksi, saya membutuhkannya untuk meluaskan imajinasi. Memang, belum semuanya terselesaikan. Namun, bagi saya yang terpenting justru beli dulu. Agar saat membutuhkannya, kita tahu ke mana harus mencari jawabannya.

8. Membaca

Membaca, tak bisa dipisahkan dari kata menulis. Butuh banyak wacana yang dibutuhkan untuk menulis, sehingga dengan adanya beberapa buku yang saya beli, akan memaksa saya untuk membaca. Jujur saja, tidak mudah untuk melakukan kegiatan ini di tengah kesibukan di dunia nyata. Namun, membaca pun sebenarnya tidak harus selalu  membaca sebuah buku. Bisa saja membaca cerpen, artikel, karya tulisan milik orang lain, dan lain sebagainya. Yang terpenting adalah tiada hari tanpa melewatkan kesempatan ini. Nah, sebagai bentuk nyatanya, saya membuat catatan hasil tulisan yang saya baca setiap harinya.

9. Mencari inspirasi ide baru

Mencari inspirasi ide baru ini saya perlukan agar saya selalu ada gagasan baru sebagai langkah lanjutan dari apa yang sudah saya mulai saat ini. Inspirasi ide baru itu misalnya diawali dari pertanyaan, “Jika ikut DWC lagi, apa yang akan saya tuliskan?” kemudian bisa juga dari, “Apa yang harus saya lakukan agar tulisan saya lebih bisa dibaca banyak orang? Apakah saya akan tetap menggunakan blog sebagai platform utama, ataukah ada yang menarik lainnya?”

10. Membuat bank ide

Berdasarkan beberapa inspirasi yang saya dapatkan, maka saya harus mengikatnya. Yaitu dengan mencatatkan ide. Ada beberapa ide yang saya dapatkan untuk bisa dikembangkan. Saya catat ke dalam buku khusus menulis, dan memikirkannya lebih detail. Terlebih jika saya ingin menjadikannya ke dalam sebuah buku pribadi. Ide-ide tersebut tak harus yang non-fiksi, tetapi termasuk ide cerpen yang akan saya pikirkan pengembangannya untuk dijadikan tulisan.

11. Mengikuti Grup yang memberikan manfaat

Dalam perjalanan menulis ini, tanpa disadari saya memang menjadi sangat haus ilmu menulis. Semakin mencari untuk tahu, semakin banyak yang tidak diketahui. Suatu hari saya iseng untuk menghitung berapa grup menulis yang saya ikuti. Ternyata lebih dari 30, haha ….

Grupnya rame? Sebagian. Banyak aktivitas atau tantangan menulis? Sebagian. Banyak para admin yang bernafsu untuk membuat sebuah grup menulis, menawarkan banyak janji-janji, tetapi kenyataannya sedikit saja yang bisa menjaga frekuensi menulis para anggotanya. Sama seperti saya, yang juga sangat bernafsu untuk bergabung ke dalamnya tanpa melakukan seleksi. Dengan ini, saya putuskan untuk melakukan ‘bersih-bersih’ grup.

Dari sekian banyak grup yang saya ikuti, saya pilih yang memberikan manfaat secara khusus. Misal, secara berkala menghadirkan pemateri untuk melakukan sharing di grup. Bisa dari para penulis yang sudah terlebih dulu memiliki karya,  bisa juga dari para mentor yang memiliki kemampuan coaching, ataupun kelas-kelas khusus yang memfasilitasi aktivitas menulis. Selain itu, saya remove.

12. Menjaga frekuensi semangat menulis

Bagaimana cara saya menjaga agar tetap dalam frekuensi yang sama untuk bersemangat menulis. Dengan bangga, saya sampaikan terima kasih yang sangat besar kepada rekan-rekan saya di Squad 10, alumni 30DWC Jilid 11. Di sana saya menemukan aura sangat positif dan memacu semangat untuk menulis. Setiap saat bicara tentang menulis, meng-update informasi lomba, share ilmu kepenulisan, serta share karya hasil tulisan untuk dibaca, dan memberikan feedback yang membangun.

13. Diskusi dengan mentor

Diskusi adalah hal penting yang saya sukai. Bagi saya, tidak mudah menjadi seorang mentor. Dan lebih tidak mudah lagi, menemukan seorang mentor yang tepat dan berkualitas. Seorang mentor berperan untuk mendorong, membantu, serta menjadi backing dalam proses yang kita lakukan untuk menjadi penulis handal. Cara-cara yang dilakukan mentor pun berbeda-beda. Ada yang memang mendampingi dengan kasih sayang selayaknya seorang ibu kepada anaknya, ada juga yang memberikan cara dengan self-coaching, ada juga yang caranya menghempaskan kita jauh hingga ke dasar jurang, mengkritik habis-habisan agar kita bisa paham bagaimana seharusnya berlatih dan berusaha. Bagaimanapun, tujuannya adalah sama. Sesuaikan saja dengan style yang kita sukai.

Ternyata, paling tidak ada 13 aktivitas menulis yang saya lakukan selama masa jeda. Namun, apakah mampu menjadi pondasi lebih untuk DWC12? Pertanyaan dasar kembali muncul, apa yang akan saya lakukan di DWC12?

Atas dasar ketiga belas aktivitas di atas, rasanya saya masih di tahap untuk menemukan ‘jati diri’. Semua tentang dunia kepenulisan ingin saya pelajari. Level pun, masih jauh dari kata bisa. Semua genre saya coba untuk mempelajari tekniknya, menuliskan, dan mencoba membuat karya yang berbeda-beda. Bagaimanapun, cara latihan menulis paling ampuh adalah dengan menuliskannya, kemudian mempublikasikannya dalam karya. Apapun jenisnya.

Untuk itu, target utama DWC12 tidak akan muluk-muluk. Masih untuk meningkatkan kualitas tulisan, sambil menemukan hal-hal baru atau potensi diri yang bisa saya gali. Saya tidak mau kualitas recehan.

Lalu, misinya apa?

Ada tiga jenis topik utama yang akan saya jadikan objek tulisan, yaitu : menulis naskah dengan satu tema (fiksi/ non-fiksi), menulis cerpen sebagai latihan untuk masuk ke jenis cerpen media (fiksi), serta menulis artikel tentang hal-hal menarik di sekitar (non-fiksi).

Kenapa tidak pilih salah satu dulu? Karena proses belajar saya memang begini. Kadang ide-ide yang datang tak bisa hanya dari satu jenis saja. Saya tidak mampu menahan untuk tidak menuliskannya. Jadi biar saja. Saya percaya, setiap naskah akan menemukan jodohnya. Tangkap, dan tuliskan saja.

“I can always edit a bad page, but not blank page.”

Advertisements

Bisik Rindu Dasar Samudera

    “Imas … apa yang sedang kau lakukan di sana, nak … kembalilah, nak … cepat kembali ….” Suara seorang wanita dari kejauhan, berteriak sekencang-kencangnya sore itu. Kutaksir usianya sekitar lima puluhan tahun. Bajunya yang sudah terlihat berlubang di bagian bahu dan lengan, menunjukkan cerita hidup yang tak mudah untuk dijalani. Kakinya tak mengenakan alas, ia menyisir pantai yang gelombangnya sedang tinggi sambil berteriak memanggil nama Imas, anaknya. Nafasnya memburu, tetapi desah itu tertelan angin laut yang menampar-nampar wajah dan dadanya.

    “Imas … maafkan ibu, nak … Ibu tak akan memarahimu lagi. Tapi tolong, kembalilah … Ombak itu bisa menelanmu nanti.” Teriak wanita tua itu dengan suara parau, akibat terlalu keras berteriak. Namun Imas, yang dipanggilnya dengan sekuat tenaga tak menoleh sedikitpun, apalagi menyahut. Entahlah … antara tidak mendengar, atau memang tidak mau dengar.

Sosok gadis yang dipanggilnya dari pinggir pantai itu justru melanjutkan langkahnya, semakin menantang gelombang yang kini setinggi dadanya. Ia berdiri kaku, lurus, dengan tangan lunglai ke bawah. Pandangannya menghadap ke depan, seperti sedang melihat sesuatu di kejauhan. Namun kosong.

Sang ibu menoleh dan menyapukan pandangan ke sekeliling. Ia ingin sekali meminta bantuan. Siapa saja yang bisa menyelamatkan Imas dan menariknya kembali ke daratan. Namun tak seorang pun ia temukan dalam sejauh-jauhnya jangkauan pandangan. Cara terakhir yang ia pikirkan adalah, ia harus menyelamatkan anaknya sendiri. Maka ia coba untuk maju, menyibak riak-riak ombak yang menghantam kaki.

Badannya yang ringkih akhirnya membuat sang ibu tua tak mampu menahan gelombang. Berulang kali ia terjatuh, dan hampir tenggelam. Celakanya, ia tak bisa berenang. Rasa penyesalan mendalam tiba-tiba ia rasakan. Di mana saat sangat dibutuhkan, kemampuan dasar bertahan hidup itu tak ia kuasai. Dulu ia tak peduli ketika sang ayah memintanya untuk belajar. Oh … penyesalan memang selalu datang terlambat, batinnya.

***

    “Bu … Bu … Bangun, Bu … Malam ini kau mengigau lagi.” Bisik seorang pria tua sambil menggoncangkan tubuh istrinya. Wajahnya yang terlihat sangat lelah, terpampang dari matanya yang sayu, dan kantong mata yang tebal. Di dahinya sudah penuh dengan lekukan-lekukan keriput, serta noda-noda hitam di pipinya, pertanda ia habiskan hampir seluruh waktunya untuk bekerja keras di luar ruangan, menahan serangan teriknya matahari.

    “Bu … bangun, Bu … kau sedang bermimpi. Bangun, Bu …” bisiknya lagi sambil menahan kantuk dan menggoncang-goncangkan tubuh istrinya. Ia lihat air mata mengalir deras di pipi istrinya. Dia usap dengan kain sarung yang digunakannya untuk selimut setiap malam.

Istrinya kini mulai tersadar, perlahan ia tenang dan mencoba untuk membuka matanya. Perlahan mata itu terbuka, dan ia menatap ke arah wajah yang sedang memandanginya.

    “Pak … aku bermimpi ya? Aku melihat Imas, Pak …” kembali sang istri mulai terisak, ”dia pergi ke tengah laut, sendirian, Pak…” akhirnya kembali pecahlah tangis sang istri.

Hati pria tua itu mendadak terasa pilu. Ia ingat anaknya, Imas, yang hingga saat ini tak kembali. Namun, ia harus menguatkan hati istrinya. Tak mungkin aku menangis juga saat ini, demikian pikirnya.

    “Imas nanti akan kembali, kau tenang saja, Bu … Dia sedang dalam perjalanan pulang. Bukankah orang pintar sebelah sudah bilang begitu. Sudah … kau tenang saja. Tidurlah lagi.” pinta sang suami sambil menyibakkan sedikit tirai jendela untuk mengintip suasana di luar. Tampaknya langit masih gelap, dan laut juga masih tenang. Hanya suara riak ombak kecil yang memecah keheningan malam.

    “Masih malam, Bu … kita harus tidur lagi. Esok kita harus bekerja. Siapa tahu, besok juga Imas pulang.” kata pria tua sambil menutup tirai, lalu membetulkan bantal tipis untuk ia tiduri lagi.

Sang istri menghela nafas panjang. Duduk termenung di atas dipan sempit yang hanya cukup untuk mereka berdua saja. Pikirannya menerawang, apa maksud dari mimpinya itu? Apakah benar yang orang pintar itu katakan?

Imas jatuh cinta pada pangeran dasar laut ini. Dia dipersunting oleh pangeran penguasa laut, yang sosoknya rupawan. Ia memang rupawan, tetapi bukan dari golongan manusia. Kadang ia memang datang ke daratan, menyapa penduduk sekitar dan seringkali menyamar sebagai nelayan, begitu sang orang pintar itu menjelaskan tentang kisah dibalik hilangnya  Imas selama kurang lebih tiga tahun ini.

    “Sosoknya bagaimana? Apakah dia seperti manusia?” kata suaminya waktu itu penasaran.

    “Ia terlihat seperti manusia, tapi dalam dimensi lain, sosok sebenarnya adalah ikan. Tubuh bagian atasnya manusia, tetapi bagian bawahnya adalah ikan.” Jelas sang orang pintar itu.

Imas, tidak kembali ke rumah selama tiga tahun. Dan selama itu pula, sang ibu terus bermimpi tentang anak semata wayangnya.

Sang ibu tidak begitu saja bisa mempercayai kata-kata si orang pintar, tetapi ia juga tak tahu, jika itu salah, lantas apa kebenarannya? Hingga sekarang ia belum bisa menjawabnya.

Entah berapa lama ia termangu dalam gelisahnya malam itu. Tiba-tiba suara ayam berkokok menyadarkannya. Bergegas ia beranjak untuk salat, karena azan di sini tak pernah terdengar. Ya, kampung ini masih jauh dari sentuhan agama. Entah apa saja aktivitas para ustaz itu, yang katanya berdakwah, tetapi pilih-pilih wilayah. Tak ada akses, tak ada fasilitas, enggan datang. Padahal bukankah seharusnya di sinilah mereka berada? Bagi kaum yang belum mendapatkan pencerahan. Makanya tak heran, jika suara orang pintar masih sangat didengarkan, seolah memang itulah suara kebenaran.

Lalu, dari manakah ia tahu tentang salat? Waktu itu, datang seorang anak muda dari pulau seberang. Seorang dokter katanya. Ia bertugas selama satu tahun di kampung ini. Selama itu pula, ia mengajarkan banyak hal. Mengobati beberapa penyakit, mengajari cara hidup sehat, termasuk juga tentang agama. Akhirnya, sebagian penduduk pun mulai paham siapa Tuhan, dan bagaimana seharusnya menjadi hamba Tuhan. Mereka juga belajar untuk menjalankan salat, dan berpuasa.

Namun, itu tidaklah lama. Setelah setahun, sang dokter berpamitan dengan penduduk kampung ini. Seluruh penduduk menjadi sangat sedih, dan merasa luar biasa kehilangan. Tapi apa daya, sang dokter mengatakan bahwa ia akan menikah. Dan tentu saja, tempat ini tidaklah cocok bagi istri serta anaknya kelak. Akhirnya, kembalilah sang dokter itu ke pulau asalnya.

Waktu berjalan, membuat ajaran dari sang dokter memudar. Hanya sedikit sekali yang masih menjalankannya. Mereka kembali kepada kehidupan lama. Tanpa sentuhan agama di dalamnya.

Waktu kembali berjalan seperti biasa. Semua warga kampung menjalankan aktivitas sehari-harinya.

    “Bu Bari! Pak Bari hari ini mendapat ikan banyak sekali, coba lihat ke sana. Ia dan suami saya sedang menyiapkan sejumlah keranjang untuk menaruh ikan-ikan hasil tangkapan.” Teriak sang tetangga suatu siang.

Bu Bari yang sedang membersihkan dapur menjawab dari dalam rumah.

    “Oh ya, Bu … terima kasih sudah mengabari saya. Sebentar lagi saya ke sana ya.” sambut Bu Bari dalam dalam rumah.

Segera Bu Bari  mengunci pintu rumah, dan belari kecil untuk mendatangi suaminya. Sebuah kabar bagus, mengingat tidak terlalu sering juga suaminya mendapatkan banyak tangkapan.

Lumayan untuk kita jual nanti, dan sisanya bisa ditabung untuk mencari Imas, pikir Bu Bari, selalu teringat anaknya.

***

  “Hilsa, ayo segera tidur. Ibu sudah mengantuk”. Sosok wanita tampak sedang menemani anaknya yang masih berusia sekitar dua tahun bermain. Tiba-tiba,

     “Imas, pulang nak … sudah lama kau tak pulang. Tidak ingatkah kau pada ayah dan ibumu?” Suara itu terdengar sangat jelas. Sontak membangunkan sang wanita itu, yang ternyata tanpa sadar tertidur di samping anaknya.

Imas. Ya, wanita itu adalah Imas.

Ibu … Ibu … Di mana ibu … Ibu … rumah …

Mendadak ia merasa pusing. Lama ia tak menyebut nama ibu. Ia juga tak ingat kapan pulang, dan tak pernah terpikir untuk pulang. Hidupnya kini seperti benar-benar baru, tanpa sama sekali ada kenangan untuk masa lalu. Namun, suara baru saja itu seolah mengingatkannya pada sesuatu yang pernah ada dalam ingatannya.

Beberapa potongan adegan seperti muncul secara random di pikirannya. Ada sosok dirinya ketika masih kecil, bersama seorang pria dan wanita. Moment ketika ia bermain di atas pohon, di pinggir pantai yang tenang. Juga potongan adegan ketika ia berenang bebas di lautan, hingga harus tersengat racun dari ubur-ubur yang membuatnya gatal-gatal.

Ayah … Ibu … Imas berbisik pelan sambil memejamkan matanya.

Imas memandang ke sekeliling. Entah kenapa rasanya ia berada antara sadar dan tidak sadar. Nyata dan tidak nyata. Dipandanglah anaknya. Si kecil masih bermain dengan asik. Namun ada yang aneh, kulit anaknya tidak seperti biasanya. Sekarang kulitnya berwarna kuning keemasan, dan mengkilat. Indah sekali. Sebuah keindahan yang justru membuat Imas diliputi keheranan, karena ini  berbeda dari biasanya.

Tiba-tiba terdengar suara pintu yang diketuk. Imas mendongakkan kepala. Perlahan bergerak untuk segera membuka pintu.

    “Sepertinya Ayahmu pulang, Nak.” bisik Imas pada anaknya.

Kebetulan suamiku sudah pulang. Mungkin nanti bisa kutanya padanya apa yang terjadi padaku, batin Imas merencanakan begitu setelah bertemu dengan suaminya.

Ceklek … ceklek … bunyi kunci pintu diputar dua kali. Perlahan Imas membuka pintu itu dan siap menyambut suaminya.

Tiba-tiba Imas kaget bukan kepalang. Terhuyung dan hampir pingsan melihat apa yang ada di depannya. Buru-buru tubuhnya yang hampir roboh, ditangkap sigap oleh sosok yang ia lihat.

Berdiri seorang laki-laki di depan pintu rumah Imas. Seorang laki-laki, yang dari wajahnya ia kenali sebagai suaminya selama ini. Namun ketika ia memandang penampakan pria itu,   Imas justru bergidik ngeri. Ia tak percaya pada apa yang dilihatnya.

Kaki. Di mana kakinya? Seorang manusia seharusnya memiliki kaki. Tapi laki-laki ini …

Tak punya kaki!

Mulut Imas tak bisa berkata sepatah kata pun juga. Ia lemas sekali. Sebelum ia pingsan, dilihatnya sekali lagi sosok pria di hadapannya.

Ya, benar. Itu ekor, bukan kaki. Itu ekor dari  ikan. Ikan!

Tiba-tiba semua gelap.

***

Di sudut ruangan kecil itu, tampak seorang wanita sedang bersujud dan berdoa dengan khusyuk. Dalam doanya yang begitu penuh pengharapan, ia menyebut nama anaknya, Imas.

    “Imas, pulang nak … sudah lama kau tak pulang. Tidak ingatkah kau pada ayah dan ibumu?” Dan semesta pun meneruskan doa itu. Menembus dinding langit, menghujam hingga ke dasar samudera.

Setitik Nila, Dalam Susu Sebelanga

“Pak, rumah Anda terbakar!!!” suara satpam perumahan terdengar dari ujung telepon, menghentikan laju mobilku ke arah kantor yang berjarak 45 menit dari rumah.

“APA??” ucapku kaget hingga hampir menabrak mobil di depan. Segera kupinggirkan mobil, dan kulanjutkan pembicaraan.

“Ya, halo. Terbakar??? Saya pulang sekarang!!” ucapku sambil memutar setir, dan kembali ke rumah.

Aku shock! Gelap. Kulajukan kendaraan dengan kecepatan lebih dari setengah bagian, bagai kesetanan. Berlari dengan sangat tergesa, hingga kubanting saat menutup pintu mobil yang kuparkir di luar kerumunan orang.

Ramai. Petugas pemadam kebakaran sudah sibuk di tengah usaha pemadaman. Para tetangga membantu. Sebagian mengambil air dari rumah-rumah, sigap menyalurkan dengan ember-ember maupun selang.

Aku terbelalak kaku. Gemetar hingga tak bisa kurasakan ujung kakiku. Sejenak terhuyung sebelum akhirnya ditangkap oleh seseorang.

“Pak, rumah bapak terbakar. Baru saja, tapi api sudah menjalar sedemikian cepatnya.” jelas Sarip, pemilik bengkel motor di seberang rumah.

“….” hanya kutengok wajahnya, tanpa bisa berkata apa-apa.

Dari kejauhan, kulihat api masih besar, melalap sebagian kamar depan. Asap sudah membubung tinggi dan tebal.

Kulihat ada batu cukup besar di bawah kakiku. Mau kuapakan?

Ingin rasanya kuhantamkan ia ke kepalaku. Mencoba mati, atau ingin menyadarkanku dari mimpi. Detik ini masih tak bisa kupercayai, tentang apa yang kualami.

Logikaku sebagai laki-laki bicara, “Gila kau, masa mau mati. Duduk saja dulu di situ, lepas sepatumu, dan bantu mereka memadamkan api itu.” Begitu sarannya.

Oke, akhirnya aku kembali ke dunia nyata. Duduk, dan berpikir. Apa yang sudah aku lakukan tadi, sehingga bisa terjadi kebakaran ini? Seingatku, tak ada aku menyalakan kompor pagi ini. setrika? Tidak mungkin … semua sudah kumatikan sebelum berangkat.

“Yaa Tuhan … Dona!!” tiba-tiba aku tersentak kaget, mengingat apa yang terjadi pada kucingku, di mana dia sekarang.

Segera aku berlari, menyibak kerumunann orang. Mendekati rumahku yang sebagian kamar depan sudah berwarna gelap menjadi arang.

“Dona! Dona!” panggilku ke sekeliling. Mencari tahu di manakah Dona kucingku bersembunyi. Rasa takut dan sedih menyelinap. Takut untuk kupikirkan, dan takut untuk kurasakan.

Hening. Tak ada suara Dona yang biasanya selalu Miaaww ketika kupanggil. Dona, sekitar empat hari lalu baru saja kuadopsi dari seorang kawan.

***

“Tak mampu mengurusnya. Kau bawa saja ia pulang,” katanya yang punya 24 ekor kucing peliharaan di rumahnya.

“Ya … tapi gimana nih makannya? Mau gak dia makan ikan asin campur nasi seperti kucing kampung itu?”

“Ikan asin? Mana dia mau. Aku kasih makan dia ikan tongkol, seminggu 3 kali. Selebihnya kasih makan yang di pet shop itu bisa. Yaa paling 200 ribu cukup lah kau untuk kasih makan dia seminggu. Muraah.” kata kawanku setengah membujuk.

“Haah, tongkol? Gaya juga ya kucing sekarang. Makanan di pet shop? Astaagaaa … makanan kucing pun sudah made in America punya.” Nada bicaraku yang kaget membuatnya tertawa.

“Ahh … malas ahh! Aku tak sempat juga mengurusnya.” tolakku saat itu, sambil menatap tingkah polah Dona yang naik-naik ke atas kursi ruang tamu.

“Kalo gitu, ya sudah. Nanti biar kujual saja. Aku punya sembilan nih yang jenisnya sama dengan Dona. Bosen.” jelas kawanku, sambil siap membagikan tongkol yang sudah dicampurnya dengan nasi.

Gila, pikirku. Rumah ini lebih mirip rumah kucing dibandingkan dengan rumah manusia. Pikiranku membaca dari apa yang kulihat dari lensa mata.

Kutatap Dona saat itu. Bulunya yang tebal,  berwarna coklat muda, halus, dan polos sejenak membuatku terkesima. Tampaknya ia kucing yang manis. Tak terlalu merepotkan, jika kurawat dia. Toh hanya satu ekor, tak terlalu pusing aku nantinya.

Sejenak pandanganku beralih ke sebagian kucing yang tiduran anteng di kotak-kotak sejenis kardus.

“Ehm … itu mereka tidurnya di situ ya? Kalo malam apakah pindah ke kandang, atau tidur di situ saja?” tanyaku. Dona tampak asik memainkan bola kuning dengan kaki depannya.

“Oh yaa … mereka suka tidur di situ. Dulunya aku masukkan kandang dan rumah-rumahan. Tapi mereka sepertinya lebih suka di situ. Ya sudah, kubiarkan.” Jawab kawanku sambil terus membagikan tongkol di piring ke-12. Kucing-kucing lain mengerumuni kakinya, meminta jatah. Padahal piring-piring sudah diisi dengan makanan, tetap saja mereka berebut meminta. Tapi aneh, Dona tak terlalu peduli dengan itu. Ia masih sibuk bermain bola.

Kulihat lagi Dona, kupikir-pikir lagi. Apakah sebaiknya memang kubawa ia pulang? Tampaknya aku akan suka. Dalam hati, aku menyepakati. Akhirnya kuputuskan untuk mengatakan “iya”.

***

“Pak, ini kucing Anda?” suara serak dari belakang membuyarkan lamunanku.

“Ohh … iya, Pak. Terima kasih, Pak. Saya mencarinya ke mana-mana.” Jawabku pada Pak Asep, tetangga dari rumah pojok sebelah kanan blokku.

Kulihat ke arah rumahku, tampaknya api sudah reda. Dalam kalutku, masih ada yang bisa kusyukuri. Yang terbakar hanya kamar depan. Artinya malam ini, aku masih bisa tidur di kamar belakang. Dan yang terpenting, Dona selamat, pikirku.

Hampir sepanjang sisa hari itu, aku dibantu oleh warga, membereskan bekas kebakaran. Kulihat ke arah jam dinding yang masih menggantung di atas ruang makan,

23.43 … hampir tengah malam.

Kucoba untuk membaringkan tubuhku yang sudah tak punya tenaga ini. Kuangkat Dona dari lantai, dan kunaikkan dia ke atas kasur tidur kami.

Ya, rumah kotak kardusnya memang sudah kubuang ke perapian dua hari lalu. Baunya sungguh tidak enak. Sepertinya itu bau sisa air kencing Dona dan bekas makanannya yang tercecer. Tapi sekarang, Dona punya tempat baru yang lebih nyaman. Tidur di kasur empuk, di ujung ranjang ini. Setiap malam ku taruh dia di situ. Agar hangat, begitu pikirku.

***

Rasa perutku tiba-tiba tak enak. Sepertinya aku perlu ke kamar mandi di tengah malam buta. Aduhh, sungguh malas lah aku urusan begini. Beberapa kali, aku berusaha menepiskan rasa, menggeliat ke kiri, lalu ke kanan lagi. Tapi rasa dalam perut semakin tak kuasa untuk kutahan. Sedikit kubuka mata, mencari-cari ini sudah jam berapa. Apakah sudah pagi, atau masih lama aku menanti matahari?

Namun, mataku tiba-tiba terpaku pada sesuatu.

DONA. Berdiri di dekat jendela. Berdiri. Dia berdiri.

Apa itu di tangannya?? Ku coba memicingkan mata agar tampak lebih jelas apa yang kulihat.

Korek api..??

HAHHH!! KOREK API!

Sebelum ku tersadar sungguh, ku lihat Dona menggesekkan korek api itu, dan … menyala!

“DONA!” Ku panggil ia, keras!

Ia menoleh ke arahku, menyeringai dalam senyumnya yang manis tapi bengis. Tangannya justru dengan sengaja malah menyulutkan api itu, ke tirai warna putih kelabu yang menggantung.

“DONA!” Aku masih memanggilnya. Masih tak percaya pada apa yang ku lihat. Kali ini aku dibuat tak percaya juga pada apa yang kudengar.

“Rasakan, Kau! Sekarang kau akan tahu, bagaimana rasanya kehilangan rumahmu. Kenanganmu juga akan mati di sini, bersama ragamu.” Bisik Dona pelan, tapi masih sanggup kudengar.

Aku terdiam, kaku. Tak ada kata yang bisa ku ucapkan.

Dona …. Hanya itu yang sanggup kubisikkan pada hatiku. Mataku hanya menatap kosong ketika Dona melompat keluar jendela, menembus gelapnya malam.

Api mulai merambat, menjalar membakar ruangan.

Aku masih juga terpaku di situ beberapa detik, sebelum akhirnya tersadar harus keluar dari ruangan ini.

Segera kusingkapkan selimut yang masih membungkus kakiku untuk berlari ke arah pintu.

Klek … klek … klek …

Apa ini? Kenapa tak bisa kubuka?? Pintunya terkunci!

Wuzzzzz … Angin panas menyapu punggungku. Saat itulah baru aku tahu, rasanya dijemput maut yang selalu kutakuti sejak dulu.

Sekilas ingatanku melayang pada seorang kawan di sudut kota, pemilik Dona sebelumnya.

Read Aloud Week

Sekitar dua pekan yang lalu, di sekolah anak, sedang berlangsung Read Aloud Week. Read Aloud adalah sebuah aktivitas yang dilakukan untuk menumbuhkan kecintaan anak pada buku. Berbeda dengan aktivitas mendongeng yang bertujuan untuk menumbuhkan kecintaan anak pada cerita dan bahasa.

Untuk mendukung aktivitas Read Aloud, yang diartikan sebagai ‘Membaca dengan lantang’, maka sudah pasti satu hal yang paling dibutuhkan adalah buku. Dikarenakan, read aloud adalah aktivitas membacakan buku dengan lantang, maka buku pun menjadi ciri khasnya. Berbeda dengan mendongeng yang tidak perlu menghadirkan buku, karena yang terpenting adalah cara bercerita yang menarik dan menghibur.

Namun ternyata, tidak mudah juga bagi para orang tua untuk mempersiapkan hal ini. Ada beberapa tips yang bisa dilakukan orang tua untuk persiapan Read Aloud. Antara lain :

  1. Pilih buku yang akan menarik perhatian

Banyak sekali buku-buku yang sering orang tua bacakan untuk anak. Namun untuk aktivitas Read Aloud, sebaiknya dipilih buku yang sesuai dengan usia anak, topik, kosakata, panjang cerita, pesan yang bermakna, dan ilustrasi yang membuat anak-anak lebih mudah tertarik. Para orang tua bisa memilih jenis buku yang sesuai bersama anak. Berikan pemahaman dan motivasi bahwa membaca adalah hal yang sangat penting untuk dilakukan.

IMG_9954

  1. Lihat gambarnya, dan buatlah prediksi

Sebelum anda membaca keseluruhan isi buku, alangkah baiknya jika Anda melihat gambar-gambar dalam buku itu terlebih dahulu, tunjukkan pada anak, lalu meminta anak untuk menebak gambaran umum ceritanya. Saat membaca, anda harus menyampaikan informasi pada anak jika ada hal baru, perubahan, atau berbedaan dari prediksi cerita awal si anak.

IMG_9953

  1. Mulai membaca dengan judul, pengarang, dan ilustrator (jika tercantum) di cover buku

Jangan langsung menuju ke halaman pertama, dan mulai membaca. Tunjukkan pada anak-anak covernya, dan bacalah judulnya. Lakukan dengan perlahan dan jelas. Setelah itu, ceritakan singkat tentang pengarang atau ilustratornya, juga tentang gambaran umum buku yang akan dibaca.

IMG_0570

  1. Bacalah dengan ekspresif

Ini bukan saatnya untuk mengkhawatirkan ‘terlihat jelek atau bodoh’. Anak-anak menyukai suara yang lucu, dramatis, atau apapun yang digambarkan dalam alur cerita. Membaca dengan ekspresif tidak hanya membuat cerita terasa hidup dan nyata, tetapi juga mampu menyentuh perasaan mereka tentang pesan yang ingin disampaikan oleh penulis.

Bisa juga menyertakan efek drama, misal tertawa, menangis, menjerit, berteriak, dan lain sebagainya untuk menggambarkan emosi dalam diri sang tokoh. Kadang, suara dan ekspresi saat membacakan, membuat anak-anak mampu mengingat dan lebih mudah memahami makna.

  1. Buatlah koneksi atau hubungan

Setelah membaca cerita, buatlah hubungan antara anak-anak, cerita yang disampaikan, dan kehidupan nyata. Misalnya, membuat sebuah diskusi tentang pesan apa yang ingin disampaikan buku tersebut. Apakah ada yang pernah mengalaminya? Jika mengalami, bagaimana rasanya? Jika ada teman yang mengalami masalah serupa, apakah kawan yang lain sudah membantu? Jika belum pernah mengalami, sangat bagus didiskusikan bersama tentang makna pesan dari buku, dan diarahkan untuk menjadi bekal solusi jika suatu saat mengalami hal yang sama.

Itulah 5 hal yang perlu dipahami, dan bisa dilakukan orang tua sebelum membacakan buku dengan Read Aloud. Aktivitas Read Aloud sebenarnya sangat sederhana, hanya sekitar 30 menit setiap kali membaca. Namun, habit kecintaan pada buku dan membaca yang dipupuk selama (hanya) 30 menit dalam sekian tahun, akan membantu membangun pondasi dan minat yang kuat terhadap buku dan membaca di masa depannya.

Salam Literasi!