2019. Tahun Boleh Politik, Apa Kabar PSN?

Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang menjabat sejak 20 Oktober 2014, akan berakhir masa tugasnya pada tahun 2019. Selama periode kepemimpinan beliau beserta Wakil Presiden Jusuf Kalla, ada 245 Proyek Strategis Nasional (PSN) yang ditetapkan melalui Peraturan Presiden (Perpres)  Nomor 58 Tahun 2017. Sebanyak 245 proyek dengan investasi Rp 4.417 Trilyun mencakup 15 sektor infrastruktur, serta 2 program, yaitu program ketenagalistrikan, dan 1 program industri pesawat terbang.

Presiden Jokowi memang menarik dengan ‘keambisiusannya’ dalam melakukan perluasan pembangunan infrastruktur di banyak wilayah di Indonesia. Seperti diketahui, bahwa pembangunan infrastruktur menjadi salah satu kunci utama untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, dan mencapai pemerataan ekonomi secara regional maupun nasional. Dalam mencapai target itu, pemerintah menerapkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019.

Tahun 2019 nanti akan dianggap sebagai tahun politik, di mana gaungnya sudah mulai terasa saat ini, di tahun 2018. Beberapa partai sudah mendeklarasikan dukungan ke salah satu calon presiden. Ada juga yang mengusung kadernya sebagai salah satu calon presiden atau wakil presiden. Rakyat? Masih adem ayem saja. Riaknya belum terlihat atau terasa. Konsolidasi politik masih terjadi di internal partai, belum ke arah eksternal. Rakyat masih mencoba menganalisis peta politik Indonesia 2019 akan ke mana. Para pelaku industri dan bisnis pun mulai memasang ancang-ancang terkait strategi dalam menghadapi tahun 2019 nanti.

***

Di bagian lain, kasak kusuk politik ternyata juga terjadi di salah satu warung kopi, di satu sudut  negeri.

“Cak, kamu pilih Presiden siapa?” tanya seorang tukang becak, yang pagi itu ngopi dulu di salah satu warung, sebuah kampung kecil.

“Wah, aku juga bingung Cak! Paling calonnya ya sama kayak dulu. Pak Jokowi dan Pak Prabowo toh?” jawab seorang penyapu jalan yang juga belum berangkat ke tempat kerjanya.

Ngopi sik, ben kuat ngadepi kenyataan.” Begitu dia selalu bilang.

“Iyo. Aku pikir juga akan begitu. Wah … kalo calonnya sama, nasib kita juga akan sama gini-gini aja yo Cak ….” kata pria tua itu, sambil menyeruput kopi dari cawan dengan tangan keriputnya. Usianya memang tak lagi muda, entah berapa lagi ia harus menjadi tukang becak.

Semoga nanti becakku banyak yang makai pas kampanye, begitu saja pemikirannya. Sedernana.

Pria penyapu jalan menengadahkan wajahnya ke langit. Matahari sudah mulai terasa sengatannya. Setiap pagi, setiap hari, tetap selalu sama. Siapa pun Presidennya. Yang pasti, aku bakal banyak kerjaan, nyapu terus gak bersih-bersih gara-gara kampanye, begitu batinnya.

***

Ya, memang hanya sebatas itulah hidup dan cerita kaum wong cilik dalam menghadapi perubahan di tahun politik nanti. Keinginannya tak banyak, juga tidak rumit. Sederhana, masih hanya soal perut hari ini dan bahagia besok bisa yakin makan apa. Wong cilik adalah suara yang diperebutkan, hanya sebagai objek. Sementara para subjek saat ini sedang memikirkan strategi besarnya sambil ngopi di cafe mahal di berbagai sudut kota. That’s life.

***

Ya. Kurang dari satu tahun lagi masa kepemimpinan Presiden Jokowi, lantas bagaimana progress report dari PSN tersebut?

Hingga di akhir tahun 2017, sebanyak 26 proyek sudah diselesaikan dan dioperasikan. Angka terseebut dengan rincian 20 proyek diselesaikan di tahun 2016, dan 6 proyek lagi di selesai hingga 19 Desember 2017. Proyeksinya, di tahun 2018 akan beroperasi 50 proyek, tahun 2019 sebanyak 56 proyek, dan 2020 sebanyak 23 proyek. Pelaksanaan pengerjaan proyek-proyek itu tidak berarti diselesaikan dalam setahun. Ada proyek yang ditargetkan beroperasi di tahun 2018, pengerjaannya dilaksanakan sebelum tahun 2018.

“PSN bukan semua selesai di tahun 2019. Kriteria dasar, harus mulai konstruksi paling lambat di tahun 2018. Contoh, 35 Gigawatt (GW) enggak selesai di tahun 2019. Kalau dibangun di 2018, butuh waktu antara 3 hingga 4 tahun. Bisa beres di tahun 2021, 2022, atau 2023.” kata Rainier, Direktur Program Komite Percepatan Pembangunan Infrastruktur Prioritas (KPPIP).

Proyeksi kemajuan PSN sampai dengan tahun 2020, jumlah proyek yang akan beroperasi ada sebanyak 170 proyek baik parsial ataupun keseluruhan. Itu artinya, bisa terbaca bahwa salah satu agenda kampanye Presiden Jokowi agar terpilih di periode kedua masa pemerintahannya adalah dengan mengandalkan issue pembangunan infrastruktur.

Issue ini memang sangat menarik juga untuk diamati oleh rakyat yang nantinya akan memilih calon Presiden. Jika dibandingkan dengan era pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), ada tercatat 66 proyek yang tersebar di  koridor Sumatra hingga Papua. Anggaran pembangunan infrastruktur di era Presiden Jokowi juga lebih tinggi 84 Trilyun dibandingkan Presiden SBY.

Infrastruktur memang menjadi pembeda paling nyata antara pemerintahan SBY dan Jokowi. Alasan Jokowi, jika tidak melakukan terobosan terkait dengan pembangunan infrastruktur, pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya akan berada di kisaran 5-6% saja. Dengan infrastruktur, proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mencapai 7-8% per tahun.

Hmm … sebuah strategi politik yang didasarkan pada hasil kerja nyata memang akan menjadi langkah paling sulit untuk dikalahkan. Maka, siapa pun lawan dari Presiden Jokowi nanti di Pilpres 2019, agaknya harus membuat sebuah penalaran yang logis untuk melawan issue ini.

Tak lupa, catatan untuk Presiden Jokowi adalah proyek-proyek tersebut belumlah selesai. Artinya masih ada janji yang belum terpenuhi. Dan agaknya, beberapa catatan kejadian kecelakaan kerja pada proyek infrastruktur yang pernah terjadi, harus menjadi perhatian khusus Jokowi. Karena runtuhnya jembatan, dan bangunan proyek, bisa meruntuhkan juga elektabilitas Jokowi di 2019.

Mari mikir politik, sambil ngopi. Di mana?

Advertisements

Read Aloud Week

Sekitar dua pekan yang lalu, di sekolah anak, sedang berlangsung Read Aloud Week. Read Aloud adalah sebuah aktivitas yang dilakukan untuk menumbuhkan kecintaan anak pada buku. Berbeda dengan aktivitas mendongeng yang bertujuan untuk menumbuhkan kecintaan anak pada cerita dan bahasa.

Untuk mendukung aktivitas Read Aloud, yang diartikan sebagai ‘Membaca dengan lantang’, maka sudah pasti satu hal yang paling dibutuhkan adalah buku. Dikarenakan, read aloud adalah aktivitas membacakan buku dengan lantang, maka buku pun menjadi ciri khasnya. Berbeda dengan mendongeng yang tidak perlu menghadirkan buku, karena yang terpenting adalah cara bercerita yang menarik dan menghibur.

Namun ternyata, tidak mudah juga bagi para orang tua untuk mempersiapkan hal ini. Ada beberapa tips yang bisa dilakukan orang tua untuk persiapan Read Aloud. Antara lain :

  1. Pilih buku yang akan menarik perhatian

Banyak sekali buku-buku yang sering orang tua bacakan untuk anak. Namun untuk aktivitas Read Aloud, sebaiknya dipilih buku yang sesuai dengan usia anak, topik, kosakata, panjang cerita, pesan yang bermakna, dan ilustrasi yang membuat anak-anak lebih mudah tertarik. Para orang tua bisa memilih jenis buku yang sesuai bersama anak. Berikan pemahaman dan motivasi bahwa membaca adalah hal yang sangat penting untuk dilakukan.

IMG_9954

  1. Lihat gambarnya, dan buatlah prediksi

Sebelum anda membaca keseluruhan isi buku, alangkah baiknya jika Anda melihat gambar-gambar dalam buku itu terlebih dahulu, tunjukkan pada anak, lalu meminta anak untuk menebak gambaran umum ceritanya. Saat membaca, anda harus menyampaikan informasi pada anak jika ada hal baru, perubahan, atau berbedaan dari prediksi cerita awal si anak.

IMG_9953

  1. Mulai membaca dengan judul, pengarang, dan ilustrator (jika tercantum) di cover buku

Jangan langsung menuju ke halaman pertama, dan mulai membaca. Tunjukkan pada anak-anak covernya, dan bacalah judulnya. Lakukan dengan perlahan dan jelas. Setelah itu, ceritakan singkat tentang pengarang atau ilustratornya, juga tentang gambaran umum buku yang akan dibaca.

IMG_0570

  1. Bacalah dengan ekspresif

Ini bukan saatnya untuk mengkhawatirkan ‘terlihat jelek atau bodoh’. Anak-anak menyukai suara yang lucu, dramatis, atau apapun yang digambarkan dalam alur cerita. Membaca dengan ekspresif tidak hanya membuat cerita terasa hidup dan nyata, tetapi juga mampu menyentuh perasaan mereka tentang pesan yang ingin disampaikan oleh penulis.

Bisa juga menyertakan efek drama, misal tertawa, menangis, menjerit, berteriak, dan lain sebagainya untuk menggambarkan emosi dalam diri sang tokoh. Kadang, suara dan ekspresi saat membacakan, membuat anak-anak mampu mengingat dan lebih mudah memahami makna.

  1. Buatlah koneksi atau hubungan

Setelah membaca cerita, buatlah hubungan antara anak-anak, cerita yang disampaikan, dan kehidupan nyata. Misalnya, membuat sebuah diskusi tentang pesan apa yang ingin disampaikan buku tersebut. Apakah ada yang pernah mengalaminya? Jika mengalami, bagaimana rasanya? Jika ada teman yang mengalami masalah serupa, apakah kawan yang lain sudah membantu? Jika belum pernah mengalami, sangat bagus didiskusikan bersama tentang makna pesan dari buku, dan diarahkan untuk menjadi bekal solusi jika suatu saat mengalami hal yang sama.

Itulah 5 hal yang perlu dipahami, dan bisa dilakukan orang tua sebelum membacakan buku dengan Read Aloud. Aktivitas Read Aloud sebenarnya sangat sederhana, hanya sekitar 30 menit setiap kali membaca. Namun, habit kecintaan pada buku dan membaca yang dipupuk selama (hanya) 30 menit dalam sekian tahun, akan membantu membangun pondasi dan minat yang kuat terhadap buku dan membaca di masa depannya.

Salam Literasi!