Bawang Putih, Nasibmu Kini. Tanya Kenapa?

Sebagai ibu rumah tangga, di mana frekuensi ke pasar lebih sering dibandingkan ke mall, maka saya tahu betul bahwa harga bawang putih kini sudah sama dengan harga ayam. Bukan hanya masalah harga, ketersediaan barangnya pun semakin langka. Selama kira-kira hampir sebulan, harganya terus saja merangkak naik meninggalkan komoditas lain. Ada apa gerangan?

Saya mencoba melakukan riset sederhana untuk membuat praduga atas alasan kenaikannya. Kira-kira ada dua hal besar yang menjadi dugaan saya, yaitu :

1. Impor yang belum tereksekusi dengan baik

Sejujurnya saya sedih untuk mengatakan, “Impor belum tereksekusi dengan baik.” Negara  dengan wilayah pertanian sangat luas ini justru masih menggantungkan 95% kebutuhan dalam negeri komoditas bawang putih dari impor. Negara importirnya terbesarnya adalah Cina dan Tiongkok.

Sesuai dengan riset data yang saya dapatkan, kebutuhan bawang putih Indonesia rata-rata berada di angka 500 ribu ton/ tahun. Namun berapa jumlah produksinya? Jika dibandingkan dengan tahun 2017, realisasinya hanya bisa di angka 70 ribu ton. Untuk tahun 2018, diproyeksikan bisa mencapai angka 100 ribu ton. Lalu berapa kebutuhan impornya? Tentu secara hitungan kasar, Indonesia masih membutuhkan sekitar 400 ribu ton. Luar biasa!

Pada awal Maret 2018 lalu, Kementerian Pertanian (Kementan) telah menerbitkan Rekomendasi Impor Produk Holtikultura (RIPH) untuk mengimpor sebanyak 400 ribu ton dari Cina kepada 37 perusahaan importir. Realisasi volume impor yang akan diberikan, seluruhnya tergantung pada ijin yang diterbitkan oleh Kementerian Perdagangan (Kemendag). Selanjutnya baru-baru saja, Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengeluarkan ijin untuk mengimpor 196 ribu ton bawang putih melalui Surat Persetujuan Impor (SPI) kepada 13 importir.

Meskipun sudah diterbitkan SPI, kelangkaan barang masih mungkin terjadi. Hal ini disebabkan realisasi impor yang dirasa kurang optimal. Terkesan terlambat, sehingga belum banyak bawang putih yang tiba di Indonesia. Jumlah importir saat ini juga hanya 13 perusahaan. Ada dugaan bahwa sedikitnya jumlah importir ini karena kebijakan dari Menteri Pertanian, yang dikeluarkan melalui Peraturan Menteri Pertanian (Permentan)  Nomor 16 Tahun 2016 tentang Rekomendasi Impor Produk Holtikultura (RIPH). Dalam aturan tersebut, mewajibkan importir untuk menghasilkan 5% bawang putih dari alokasi impor. Artinya, ada kewajiban bagi importir untuk ‘menanam’ bawang putih di lahan sendiri.

Simulasinya seperti ini. Jika seorang importir ingin mengeksekusi hak impornya, maka untuk menghasilkan 1.000 ton bawang putih dalam setahun, ia harus memproduksi 50 ton bawang putih dari kebun ‘sendiri’. Jika setiap hektar diperkirakan bisa menghasilkan 6 ton bawang putih, maka dibutuhkan lahan kurang lebih 8,33 hektar untuk menghasilkan 50 ton. Artinya, dibutuhkan biaya 416-500 juta per 50 ton bawang putih. Hal ini sebenarnya masih bisa disanggupi oleh importir. Hanya merasa berat, karena dianggap minim bantuan dari pemerintah, misalnya untuk bibit.

Lalu, apakah Indonesia tidak bisa swadaya bawang putih seperti halnya pada bawang merah? Ternyata, Indonesia pernah mampu memenuhi 80% kebutuhan dalam negeri sampai tahun 1998. Setelah itu, Indonesia bergabung dalam Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization/ WTO). Saat itulah, bawang putih asal negara lain khususnya Cina, menyerbu pasar Indonesia dan mematikan usaha bawang putih lokal karena harganya jatuh. Bawang putih lokal ukurannya kecil-kecil, berbeda dengan bawang putih impor yang besar-besar.

Dilihat dari teknik penanaman dan kondisi lahan yang ada di Indonesia, menanam bawang putih memang lebih sulit dibandingkan bawang merah. Bawang putih lebih memerlukan kondisi yang spesifik seperti kondisi lahan dan suhu tertentu. Itulah mengapa, semakin banyak petani yang malas melakukan penanaman bawang putih. Apalagi tanpa adanya bantuan teknologi untuk bisa melakukan penamanan secara massive.

2. Efek tidak langsung dari kenaikan harga minyak dunia

Pada pertengahan Februari 2018, harga minyak dunia menyentuh level hingga mencapai USD 65,73 per barel untuk harga minyak mentah Brent. Pemulihan pasar ekuitas global dan ketegangan di Timur Tengah angkat harga minyak,  di tengah kekhawatiran kenaikan produksi di AS. Pada awal pekan ini, harga minyak mentah Brent dibuka naik di atas USD 70 per barel untuk pertama kalinya sejak Januari 2018. Lantas apa efeknya bagi Indonesia?

Ada dua hal utama yang menjadi pembentuk harga jual BBM, yaitu harga minyak mentah dunia dan nilai tukar rupiah terhadap dolar. Jadi, jika dalam waktu yang bersamaan harga minyak mentah dunia naik, dan rupiah melemah, maka harga jual BBM akan melonjak. Atau, jika harga minyak dunia turun, tetapi nilai tukar rupiah melemah, maka harga jual BBM pun sulit untuk turun. Selama ini, Pemerintah meninjau harga jual BBM setiap tiga bulan.

Kondisi saat ini, harga minyak dunia memang sedang tinggi. Bagaimana dengan nilai tukar rupiah terhadap dolar? Akhir pekan lalu, nilai tukar rupiah melemah di level Rp 13.800 per USD. Namun, pekan ini sudah menguat ke level Rp 13.600 per USD. Melihat kisarannya, nilai tukar rupiah terhadap dolar itu masih relatif lemah. Kondisi itulah yang akhirnya membuat Pemerintah menaikkan harga Pertalite kembali per 24 Maret 2018. Alhasil, kenaikan pada Maret 2018 ini merupakan kenaikan yang kedua sejak Januari 2018.

Seperti diketahui bahwa sejak 2015, Pemerintahan Presiden Jokowi sudah mengurangi dan mencabut subsidi BBM besar-besaran untuk membiayai proyek-proyek infrastruktur. Karena itulah, kenaikan harga minyak mentah dunia dan lemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar mempengaruhi harga BBM non-subsidi.

Pemerintah mengklaim bahwa kenaikan harga BBM tersebut tidak akan terlalu mempengaruhi masyarakat. Hal ini dilihat dari tingkat inflasi bulanan di Februari  2018 sebesar 0,17% yang didominasi oleh kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau. Sementara dari kontribusi kelompok bahan bakar, hanya 0,22%. Prediksi inflasi di Maret hanya akan meningkat sekitar 0,2% dan di April akan meningkat lagi di kisaran 0,3% membuat Pemerintah merasa bahwa dampak kenaikan BBM tersebut tidak signifikan.

Namun, apakah benar demikian?

Sejak subsidi yang dikurangi besar-besaran oleh Pemerintah, maka golongan Non-subsidi juga akan merasakan pengaruhnya jika terjadi perubahan pada harga pasar dunia. Tiga kelompok bahan bakar yang  dikurangi subsidinya oleh Pemerintah meliputi, BBM, Gas (LPG), dan Listrik. Maka, jika terjadi kenaikan harga BBM Non-subsidi serta listrik, maka otomatis akan berimbas pada industri. Biaya produksi akan meningkat, karena akan mempengaruhi biaya pendistribusian barang hingga ke tangan konsumen. Naiknya biaya produksi tersebut, akan membentuk kenaikan harga hingga di tangan konsumen. Hampir seluruh harga bahan pokok mengalami kenaikan, termasuk bawang putih. Akibatnya, seluruh masyarakat baik di kelas penerima subsidi BBM maupun Non-subsidi, secara tidak langsung akan merasakan dampaknya.

Dua hal tersebut yang (mungkin) bisa saya simpulkan dari penyebab melambungnya harga bawang putih beberapa waktu terakhir ini. Jika bahan makanan pokok lain tidak terlalu tinggi naiknya, hal itu disebabkan karena ketersediaan pasokan di dalam negeri. Berbeda dengan bawang putih yang menggantungkan hampir semua kebutuhan dari impor. Itu membuat ketika terjadi kekurangan pasokan di dalam negeri, Indonesia harus buru-buru membuka keran impor.

Dengan harga produksi yang juga sedang tinggi, ditambah kekosongan stok di dalam negeri, membuat masyarakat Indonesia terpaksa harus menelan ludah. Mau tidak mau harus menerima. Tak ada yang bisa dilakukan. Lari pun ibarat dikepung macan. Bertahan dengan segala cara. Masyarakat Indonesia tidak mungkin makan tanpa bawang, kan?

Lalu, kapan Indonesia bisa seperti Thailand dalam hal pertanian? Hmm … masih jauh tampaknya perjalanan kita.

Sumber Referensi :

  1. https://www.bps.go.id/pressrelease/2018/03/01/1441/februari-2018-inflasi-sebesar-0-17-persen–inflasi-tertinggi-terjadi-di-jayapura-sebesar-1-05-persen-.html
  2. http://ekbis.rmol.co/read/2018/03/27/332604/Gila,-Harga-Bawang-Putih-Nyaris-Tembus-Rp-50.000-Per-Kg-
  3. http://industri.bisnis.com/read/20180322/99/753112/bawang-putih-realisasi-impor-belum-optimal-harga-tinggi
  4. https://www.merdeka.com/uang/kenaikan-harga-bawang-putih-dicemaskan-picu-kelangkaan.html
  5. http://www.liputan6.com/bisnis/read/3411055/harga-minyak-dunia-naik-bertahan-di-atas-usd-70-per-barel
  6. https://www.medcom.id/ekonomi/globals/xkEn777K-kenaikan-persediaan-as-buat-harga-minyak-dunia-jatuh
  7. https://tirto.id/alasan-pertamina-naikkan-harga-pertalite-rp200-per-liter-cGH7
  8. https://economy.okezone.com/read/2018/03/22/320/1876263/harga-minyak-dunia-naik-ke-level-tertinggi
  9. https://tirto.id/cara-pemerintah-dan-pertamina-menetapkan-harga-bbm-cvzz
  10. http://www.liputan6.com/bisnis/read/625211/bagaimana-cara-pertamina-hitung-harga-jual-bbm
  11. https://katadata.co.id/berita/2018/03/06/kementan-terbitkan-rekomendasi-impor-400-ribu-ton-bawang-putih
  12. https://katadata.co.id/berita/2018/03/07/kemendag-keluarkan-izin-impor-200-ribu-ton-bawang-putih
  13. https://katadata.co.id/berita/2018/03/23/harga-tinggi-di-pasar-mendag-akan-panggil-importir-bawang-putih
  14. http://jateng.tribunnews.com/2018/03/02/ada-apa-ini-nilai-tukar-rupiah-sentuh-rp-13775-per-dollar-as
Advertisements

First Amazing Concert

“ Komite..dan panitia One in Harmony Concert kumpul di sekolah, besok jam 10. On time. Agenda : Koordinasi untuk Persiapan Konser. ” Begitu bunyi pesan singkat yang masuk di grup Whatsapp khusus Komite di ponselku pagi ini.

“Waduhhh..jam 10..?? Oh My God!! Jadi besok pagi, habis antar Nara ke sekolah, lanjut ke pasar, masak untuk lunch, dan langsung ke sekolah lagi. “ batinku mulai me-list hal-hal yang harus aku lakukan besok sebelum hadir di Committee meeting di sekolah anakku.

Ya, itulah sekolah anakku. Banyak sekali kegiatannya. Hampir setiap bulan selalu saja ada agenda yang diselenggarakan. Mulai dari lomba di sekolah sendiri, lomba antar sekolah, hingga tingkat kabupaten, propinsi dan nasional.

Hal-hal itu otomatis menjadi tugas tambahan bagi para orang tua. Kami dituntut untuk ikut serta berperan aktif  dan mendukung setiap program yang dilaksanakan oleh sekolah. Termasuk satu hal ini, konser paduan suara anak-anak yang direncanakan 1 bulan lagi.

Sebagai sekretaris komite sekolah, cukup banyak hal yang harus kupersiapkan. Setiap kali ada meeting dengan panitia pun tak mungkin bisa ijin tidak datang. Belum lagi hal-hal administratif yang harus kubereskan. Namun di rumah, aku tetaplah seorang ibu untuk anakku. Istri untuk suamiku. Artinya, tanggung jawab di rumah tetap tak bisa aku elakkan. Mencuci, memasak, dan menyetrika tetapi jadi bagian dari keseharianku.

***

Esoknya aku datang ke sekolah memenuhi undangan. Kulihat ada beberapa panitia dan anggota komite sudah duduk manis menunggu sesi kepala sekolah membuka pertemuan.

“Hai..halo Mijun, lama ga ketemu nih kita, sibuk banget kayaknyaaa..” sapaku untuk mama Arjuna, teman sekelas anakku sambil kuulurkan tangan untuk mengajaknya bersalaman.

“Hahaha sibuk nonton drama Korea aja si di rumah..mom Nara niiih yang malah ga pernah beredar..” balasnya sambil memukul kecil tanganku. Aku tersenyum sambil mengamati wajahnya yang dihias make up tipis, lipstick pink kemerahan, serta kerudung warna merah maroon hari itu.

Sebelum aku duduk, kulihat sang ketua komite, mama Feli, sudah duduk manis sambil ngemil pisang goreng.  “Wuiiihhh..mantappp kaliii ini ibu satu, gituu yaa ga nawar-nawarin, makan sendiriii..” candaku pada mama Feli yang biasa kupanggil dengan Mili. “Hahaha…emang! Mau kuhabisin semua nih biar yang datang belakangan pada gak kebagian!” balasnya.

Memang begitulah yang terjadi saat bertemu dengan para ibu sekolah anakku. Para ibu-ibu muda yang sebenarnya juga punya banyak kesibukan di luar, tetapi tetap bersemangat membantu dan mendukung seluruh kegiatan sekolah anak-anaknya. Merekalah yang menjadi salah satu inspirasiku, bahwa apapun kesibukan orang tua di luar sana, anak tetap menjadi yang utama.

Sekitar lima belas menit kemudian, mulai banyak yang berdatangan. Ya, saya dan beberapa pengurus memang selalu berusaha hadir lebih awal, agar mudah jika ada yang perlu dikoordinasikan lebih awal. Sekitar tiga puluh menit kemudian, rapat dimulai oleh ibu Kepala Sekolah.

“Baik..mama-mama sekalian. Seperti yang kami sampaikan sebelumnya, bahwa kurang lebih satu bulan lagi, sekolah akan mengikuti lomba paduan suara tingkat SD. Sedangkan untuk persiapannya, kami membutuhkan support dari mama-mama semua. Mulai hari ini anak-anak akan latihan seminggu tiga kali, dengan guru musik yang biasanya. Apakah mama-mama sekalian bisa membantu untuk memastikan bahwa anak-anak akan selalu hadir dalam latihan?” sambut ibu Kepala Sekolah sekaligus menagih keniatan kami di kelas extra paduan suara.

“Nanti di minggu pertama ini, akan ada seleksi suara yang dilakukan oleh guru musik. Dan jika nanti absensi kehadiran kurang dari 90% maka mohon maaf mungkin tidak bisa kami ikut sertakan dalam lomba.” tambah ibu Kepala Sekolah lagi.

”Wuaahhh.ketat sekali seleksinya, “ pikirku. Aku dan anakku memang anggota baru di sekolah ini. Maka kami masih agak surprise mengikuti ritme kegiatan sekolah. Tidak mudah awalnya, apalagi bagi anakku yang agak susah beradaptasi di lingkungan baru. Namun, tidak ada yang tidak bisa dilakukan jika kita berusaha melakukan yang terbaik.

Baik, silakan ibu-ibu komite dan panitia untuk membahas beberapa hal yang penting untuk disiapkan. Selanjutnya akan disampaikan oleh mama Feli selaku ketua komite dan mama Kafka sebagai ketua panitia. ” tutup Ibu Kepala Sekolah mengakhiri sesi pihak sekolah.

“Baik mama semua, langsung saja agar meetingnya singkat, padat, dan segera bisa dieksekusi dalam aksi yaa..Anak-anak membutuhkan beberapa persiapan, khususnya konsep kostum, dan akomodasi saat hari pelaksanaan. Setelah ini akan kita atur bagaimana konsep kostum untuk anak-anak, mulai dari belanja bahan, penjahitan, fitting, hingga nanti siap untuk digunakan lomba.” Mama Kafka menyampaikan dengan efektif.

Sekitar  satu jam kemudian, pertemuan tersebut berakhir dan rasanya pikiranku masih melayang-layang membayangkan hasil pertemuan tadi. Tambahan tugas lagi yang harus aku selesaikan. Menjadi tim pembuat konsep hingga pengadaan kostum lomba kali ini mungkin tidak akan cukup mudah. Tapi sekali lagi, ini demi anakku. Orang tua adalah pihak pertama yang harus mengambil peran sangat besar dalam kehidupan sang anak. Seharusnya memang tidak bisa dan tidak akan ada yang bisa memberikan kontribusi sebesar orang tua.  Maka untuk apapun yang akan diperjuangkan anakku, aku adalah orang pertama yang akan memberikan dukungan penuh.

Tiga hari ke depan, aku dan tim disibukkan mulai dari satu toko kain ke toko kain lainnya. “Bagus mana ya warnanya? Maroon yang ini atau yang magenta ini ya?” Diskusi kami siang itu di sebuah toko kain di tengah kota kami. “Ehhmm…klo buat anak laki-laki ini warnanya bagus nih merahnya. Tapi merah ini terlalu biasa gk ya warnanya? Nanti jangan-jangan banyak yang pakai warna merah, jadi gak spesial deh warna kostum kita..” ungkap Mama Feli memberikan komentarnya atas warna yang kupilih. “Hmm iya ya, bener juga ya..jadi gimana kalau magenta ini aja? Nanti kita cari kain hitam untuk bikin sabuk dan pita, serta kain tile untuk bikin tambahan gemerlapnya?” saran mama Kafka menambahkan. “Oh ya, boleh..boleh..udah yukk, kita lanjut ke toko baju anak. Masih perlu suspender dan kaos kaki hitam kan?” Begitulah yang terjadi selama sekitar 1 minggu. Semua konsep kostum sudah harus matang. Selanjutnya akan dijahitkan dan anak-anak akan fitting terakhir sebelum lomba.

Sudah sekitar dua minggu ini, Nara, anakku selama tiga kali dalam seminggu harus kembali ke sekolah pukul 15.30. Disana telah ada guru musik dan guru pendamping yang akan mengawal latian anak-anak. Selama dua minggu ini pula, aku sebagai orang tua berusaha untuk menjaga dan membuat mood anakku untuk tidak berubah. Bagi seorang anak usia 4 tahun, tidaklah mudah untuk melalui ini semua. Bagaimana mau bicara tentang kemenangan, sementara arti dari lomba saja mereka belum paham.

“Mama…..Nara ngantuk, gak mau latihan. Capek…..” ungkap anakku sore itu.

“Oh iya nak…capek ya…tapiii…..Arjuna, Kafka, dan Ella sedang menunggu Nara di sekolah sore ini. Kira-kira kalau Nara tidak datang, mereka sedih gak ya..??” bujukku. Terus terang aku pun bingung bagaimana caranya aku harus menyampaikan bahwa ini adalah lomba. “Kita harus latihan dengan keras dan sungguh-sungguh untuk bisa menang” batinku. Tapi bagaimana caraku untuk mengatakannya? Tentu ia akan menjawabnya dengan ekspresi kosong atau justru tidak peduli.

“Mamaaaa….Nara gak mau! Gak mauuuu! Mau bobok ajaaa! Mama ngerti gak siiiihh!”  Anakku dengan kesal memarahiku yang tetap ingin dia berangkat latihan.

Wah sudah, pusinglah saya jika sudah begini. Serba salah menghadapi anak-anak. Jika dipaksa nanti justru membuat moodnya buruk dan tidak konsen saat latihan, tapi jika tidak dipaksa, bagaimana caranya? Waktu lomba sudah semakin dekat, dan ini sudah minggu ketiga. Mampus!

Bingung aku bagaimana menghadapinya, akhirnya aku coba untuk menelpon Mama Kafka.

“Mom…sudah di sekolah belum? Nara badmood nih, ga mau masuk latihan. Bisa gak ya, kasih teleponnya ke Kafka dan minta Kafka untuk mengajak Nara. Bilang aja sudah ditunggu di sekolah. Seru banget latihannya, rugi kalau gak datang.” Pintaku pada mama Kafka di ujung telepon.

“Ohh..oke mom, tunggu ya..” jawab mama Kafka sambil mencari keberadaan Kafka. Sayup-sayup terdengar suara percakapan Kafka dengan ibunya.

Halo…Nara..Halo..ini Kafka.” Sahut Kafka. Segera aku serahkan ponselku kepada anakku yang tengah berguling-guling di tempat tidur. ”Ditunggu Kafka di sekolah ya! Ehmmm..Seru banget..Sudah ada Arjuna, Benic, Feli, Ella, lagi main..Ehmm Nara cepet kesini ya..Kita main bareng balapan mobil lagi yaa..” suara Kafka, menirukan suara ibu di sampingnya yang membisikkan kalimat untuk diucapkan.

“Nara, ayo jawab…ini Kafka yang telepon lohhh..” ucapku membujuknya lagi.

“….Ehmmm yaaa..” Hanya itu yang diucapkan anakku.

Begitulah yang terjadi sore ini dan beberapa kali setelahnya. Trik yang aku gunakan pun harus berbeda-beda agar si anak tidak terasa seperti dipaksa, meskipun sebenarnya memang dipaksa, haha..

Disinilah perjuangan orang tua. Dimana kadang pun orang tua tidak yakin pada apa yang dilakukannya benar atau salah. “Benarkah jika memaksa anak untuk melakukan hal yang tidak dia inginkan? Bukankah dia mungkin saja memang lelah? Tapi jika aku tidak menguatkan niat, bagaimana nanti latihannya? Bagaimana nanti performace-nya di panggung. Bukankah dia pasti juga bangga jika memenangkan lomba itu? Bukankah berarti latihannya akan terbayar lunas?” Berbagai pertanyaan menyesakkan pikiranku.

***

Tanpa terasa hari perlombaan yang ditunggu pun tiba. Aku dan ayahnya sangat excited untuk melihat performance-nya hari itu.  Untuk menyaksikan ini, ayahnya pun rela cuti dari kantornya. Untuk melihat bagaimana anaknya berjuang di atas panggung.

Sejak pukul sembilan pagi kami sudah siap di tempat lomba. Namun, agar kondisinya kondusif, anak-anak dipisahkan dari orang tuanya untuk di-briefing dulu oleh para guru di belakang panggung. Kami para orang tua dipersilakan untuk menempati kursi-kursi penonton di depan panggung. “Anak-anak akan tampil setelah ini ya moms..” bisik seorang guru kepadaku. “Baik Bu, terima kasih..” balasku.

Lalu, “……..” lampu ruangan dimatikan, suasana langsung senyap. Semua pandangan mata mengarah ke arah panggung. “Nara…Nara…anakku Nara…semangat nak! Mama dan papa disini, nak..” batinku ingin berteriak ketika kulihat tubuhnya yang masih mungil itu berjalan memasuki ruangan, dan menaiki tangga panggung. Kulambaikan tangan padanya, memberinya isyarat bahwa kami berdua selalu mendukungmu untuk maju. Matanya memandang ke arahku dan ayahnya. Senyumnya mengembang kecil. Hatiku bergetar melihatnya.

“Pada hari minggu, kuturut ayah ke kota..

Naik delman istimewa, ku duduk di muka…

……”

Kulihat ayahnya sudah siap dengan ponsel yang sedang merekam selama pertunjukan. Tanpa terasa air mataku menggenang, rasanya aku sudah hampir menangis. “Anakku yang dulu kugendong itu, sekarang sudah bisa berada disana untuk lomba. Seusiamu dulu, ibumu belum mampu apa-apa, belum paham apapun. Tapi engkau, sekecil ini, sudah bisa sampai di tahap ini. Menjawab tantanganmu sendiri, mengalahkan semua masalah yang menghambatmu beberapa waktu yang lalu. Dirimu menang atas dirimu sendiri. Itulah makna kemenangan yang sesungguhnya, anakku..Ingatlah itu….” batinku berkata dan ingin rasanya aku meneriakkan itu dengan lantang.

Ada dua puluh lima peserta yang mengikuti lomba paduan suara anak saat itu. Dan sekolahnya mendapatkan juara II se-Kabupaten. Tapi bagiku pribadi, juaranya berapapun, menang atau kalah, itu bukan masalah. Bagiku, anakku akan tetap selalu juara di hatiku. Bagiku, juara adalah bagaimana dia bisa berlomba mengalahkan kemalasan, ketidakpercaya dirian, ketakutan, dan keraguan pada diri sendiri. Kami bangga padamu, anakku…