Bagaimana Membuat Quotes yang baik?

Dalam kehidupan, seringkali manusia membutuhkan sebuah dorongan atau inspirasi untuk melakukan banyak hal. Dari yang ragu, menjadi tidak ragu. Dari yang salah, menjadi benar. Dari yang tidak tahu, menjadi tahu, dan lain sebagainya. Itulah yang akhirnya memunculkan sebuah ide, bernama quotes.

Quotes merupakan sebuah rangkaian kata yang mengandung sebuah arti atau makna tertentu. Ada beberapa hal yang sebaiknya diperhatikan, saat seseorang membuat quotes. Antara lain :

1. Diksi (pilihan kata)

Diksi adalah hal pertama, dan berperan sangat vital. Seseorang yang memang ingin membuat quotes harus menggunakan pilihan kata yang tepat, dan memiliki pemaknaan yang kuat. Sehingga quotes yang dihasilkan tidak perlu bertele-tele, menggunakan banyak kata, tetapi maknanya tidak memberikan kekuatan. Jika memang ingin membuat quotes, maka harus bisa menemukan diksi-diksi yang memberikan rasa dalam kata. Lalu dipadu padankan, akhirnya menjadi kalimat quotes yang singkat, padat, dan powerfull.

2.  Inspirasi

Untuk membuat quotes yang baik, maka juga penting untuk melakukan riset. Agar mampu menggali, apa saja kegelisahan, cara berpikir, masalah yang cocok diangkat, serta bagaimana seseorang mampu termotivasi dari quotes yang dibuat. Pada prinsipnya, riset sangat dibutuhkan sebelum melakukan berbagai macam hal.

Dalam hal inspirational quotes, maka dibutuhkan riset : Apa yang membuat orang tidak termotivasi, dan apa yang bisa membuat orang lain termotivasi. Ada dua jenis risetnya. Masalah dan solusi.

Jika pembuat quotes tidak melakukan ini, menurut saya, tetap bisa saja menulis quotes. Tetapi seberapa besar kekuatan quotes itu mempengaruhi orang lain, itu akan menjadi berbeda. Lalu apa tujuan membuat inspirational quotes, jika tidak ada orang lain yang merasa terpengaruh dan terinspirasi?

3. Gaya bahasa

Gaya bahasa adalah salah satu hal penting untuk diperhatikan saat menulis quotes. Dengan menggunakan gaya bahasa yang tepat, mampu membuat quotes tersebut diingat dengan baik oleh pembaca. Selama ini, gaya bahasa digunakan oleh banyak jenis tulisan, untuk menyampaikan pesan dengan lebih megena, karena mengedepankan rasa. Rasa, sangat penting. Karena dengan rasa, pesan bisa sampai dengan lebih mudah, dan sifatnya memorable. 

4. Tema

Tema sangat terkait dengan quotes yang akan dibuat. Jika seorang amatir, ingin membuat sebuah quotes, maka penting untuk menuliskan secara spesifik tentang tema quotes. Misal, tema umumnya adalah menulis dan inspiratif. Maka, penting untuk membuat daftar jawaban dari hal-hal terkait menulis dan inspiratif. Jawaban-jawaban itu, bisa diawali dari pertanyaan-pertanyaan. Misal, apa arti menulis untuk saya? Apa manfaat menulis untuk saya? Mengapa menulis itu penting untuk dilakukan? Apa saja yang bisa membuat orang suka menulis? Apa saja usaha yang telah saya lakukan untuk menulis? Apa yang akan saya lakukan jika saya merasa sedang tidak punya ide? dan lain sebagainya.

Jawaban-jawaban dari pertanyaan itu, akan mengerucutkan dalam tema spesifik. Dari tema spesifik, maka pembuat quotes bisa mendapatkan gambaran khusus untuk dituliskan ke dalam kalimat quotes.  Semakin spesifik tema yang diangkat, semakin mampu menjadi kekuatan bagi pembaca quotes.

Itulah keempat hal penting yang menurut saya perlu diperhatikan saat membuat quotes. Diharapkan quotes yang dihasilkan dari proses tersebut mampu menghasilkan kekuatan, solusi, dan inspirasi bagi pembaca atau pendengar.

Coba bedakan antara quotes biasa dengan quotes yang sudah biasa didengar. Quotes bisa saja abadi, bahkan meskipun pembuat quotes itu telah tiada. Quotes-nya masih selalu diingat dan didengungkan. Kenapa? Karena pesan yang ia sampaikan merupakan racikan yang tepat antara diksi, gaya bahasa, rasa, tema, paham masalah yang dihadapi, serta merupakan solusi.

Sebenarnya, menurut saya pribadi, quotes itu tidak untuk sengaja dibuat. Saat Anda mendengar inspirational quotes dari tokoh-tokoh besar, misal : Ir. Soekarno, Gus Dur, Emha Ainun Najib, Gus Mus, dan lain-lain, apakah beliau memang sengaja membuat quotes untuk menginspirasi orang lain? Saya berkeyakinan tidak. Namun, pada kenyataannya, banyak sekali kata-kata beliau yang dikutip, dan diangkat sebagai quotes. Tanya kenapa? Bagi saya, karena kalimat yang para tokoh sampaikan, secara tidak langsung mampu memberikan pengaruh bagi pendengarnya. Mampu mengusik rasa.

Namun, jika Anda memang sengaja membuat quotes, baiklah. Namun, buatlah quotes dengan baik. Sampaikan pesan dengan benar-benar mengedepankan rasa, tetapi juga memainkan logika dengan tepat. Keempat hal di atas, semoga bisa turut membantu untuk mencerahkan.

Advertisements

‘Skill’ Kok Njiplak!

Beberapa hari kemarin, saya kembali dikejutkan oleh berita tentang seorang penulis yang melakukan plagiat pada 24 karya sastra. Sinting! Bagaimana mungkin ia bisa se-hilang akal itu? Bukankah sebagai seorang penulis –atau bahkan siapa pun manusianya — sejak awal mulai mengenal aksara, sudah pasti tahu bahwa plagiasi adalah sebuah kejahatan. Haram!

Yang lebih gila lagi, yang diplagiat itu adalah jenis cerpen sastra, yang kemudian dikirimkan ke beberapa media ternama Indonesia. Akhirnya, ada sebagian karyanya yang dimuat. Entahlah … ini sebuah kepintaran tingkat dewa bisa memilih dan memlagiat hingga 24 karya, atau justru kebodohan yang amat sangat.

Lebih mengejutlah lagi, melihat fakta bahwa plagiator ini adalah seorang penulis yang (katanya) sudah berkemampuan menulis dengan baik. Dengan profilnya waktu itu, seseorang yang digambarkan sebagai sosok sederhana dan pendiam.

Upaya seorang plagiat untuk menjadi penulis profesional yang mendapatkan pengakuan dari dunia literasi, tampaknya salah dipahami. Memplagiat karya orang lain sesungguhnya adalah upaya bunuh diri. Jika sudah begini, bukan masalah plagiator tersebut menyesal atau tidak. Bukan masalah ia berjanji tidak akan mengulangi atau tidak. Serta bukan masalah ia akan bangkit dari keterpurukannya akibat hujatan bertubi-tubi, atau tidak. Pertanyaannya, masihkah dunia percaya? Siapa yang akan percaya, karya yang ia tuliskan bukan hasil dari menjiplak?

Mengingatnya, membuat saya yang masih berjuang keras di dunia ‘ini’ serasa ditampar keras!

Namun, siapa sangka … penulis sekelas J.K Rowling dan Dan Brown pun pernah dihampiri dugaan melakukan plagiat. Dari Indonesia, sekelas Chairil Anwar pun pernah diduga menjiplak karya orang lain. Pada tahun 2010, penulis J.K Rowling disebut dalam perkara hukum yang menyebutnya mencuri ide untuk buku-buku Harry Potter-nya dari seorang penulis Inggris lainnya. Gugatan di salah satu pengadilan di London itu menyebutkan bahwa buku J.K Rowling yang berjudul Harry Potter and  The Goblet of Fire menyalin banyak bagian dari buku Jacob tahun 1987, The Adventures of Willy The Wizard-No 1 Livid Land.

Begitu pula yang terjadi pada Dan Brown. Novelnya yang berjudul The Da Vinci  Code dituduh melakukan plagiat atas novel berjudul The Holy Blood and The Holy Grail karya Michael Baigent dan Richard Lee. Tuduhan lain juga muncul dari seorang novelis lain bernama Lewis Perdue, untuk salah satu novelnya yang berjudul Daughter of God.

Di Indonesia, penyair Chairil Anwar dituduh oleh Hans Bague Jassin, seorang kritikus sastra yang juga bergelar Paus Sastra Indonesia. Hans membandingkan karya puisi Chairil dengan The Dead Young Soldiers karya Archibald MacLeish, penyair Amerika Serikat. Chairil menyanggah hal itu hingga ketegangan antara mereka sempat memuncak pada suatu acara di Gedung Kesenian Jakarta. Chairil dan Hans sempat berkelahi.

Itu sebagian dari nama-nama penulis Indonesia yang terkenal. Lantas, bagaimana yang namanya tidak populer? Seperti yang diungkapkan oleh Pak Bambang Trim,  Ketua Umum Perkumpulan Penulis Profesional Indonesia (Penpro) dan Pendiri Institut Penulis Indonesia, bahwa pernah dalam satu bulan, beliau sudah menerima tiga laporan tentang buku-buku rekan penulis yang diplagiat dalam bentuk buku lagi dengan judul yang mirip, atau paling tidak mengandung satu-dua kata kunci dari buku mereka.

Mental-mental plagiat ini memang harus dimusnahkan dari muka bumi. Namun, mengapa kenyataan ini bisa terjadi? Salah satu jawabannya adalah sulitnya melacak. Ada jutaan bahkan mungkin milyaran karya yang tersebar, dan masih terus bertambah setiap detiknya. Jika karya itu adalah sebuah foto atau lukisan, Anda hampir tidak mungkin untuk menjiplaknya. Tetapi jika tulisan, bagaimana Anda bisa menentukan originalitasnya?

Sesungguhnya, di dunia ini tidak ada ide yang benar-benar murni. Ide terbentuk dari pola pikir, cara pandang, dan hasil olah pikiran yang didapatkan dari mendengar, melihat, dan membaca ide orang lain. Jika memang demikian masih bisa dilakukan, mengapa Anda tidak memilih menjadi epigon saja dibanding menjadi plagiator? Epigon adalah orang yang tidak memiliki gagasan baru dan hanya mengikuti jejak pemikir atau seniman yang mendahuluinya. Singkatnya, peniru seniman atau pemikir besar. Itu masih tidak masalah, jika dibandingkan dengan melakukan plagiat. Contoh karya yang banyak ditiru oleh penulis lain misalnya Ayat-Ayat Cinta. Pada awal kemunculannya, novel ini banyak ditiru. Banyak yang menuliskan kisah sejenis, bahkan cover dan nama penulisnya pun senada.

Lantas, apa bedanya kisah tuduhan yang dilayangkan pada novelis J.K Rowling, Dan Brown, serta penyair Chairil Anwar dengan para plagiator recehan di Indonesia? Para penulis level dewa seperti J.K Rowling, Dan Brown, serta penyair Chairil Anwar berhasil membuktikan bahwa semua tuduhan itu salah. Bahkan mereka siap berperang di meja hijau demi membuktikan nama baik dan kredibilitas kemampuan mereka. Sedangkan di Indonesia, para plagiator kelas receh malah dengan bodohnya melakukan bunuh diri secara terang-terangan di perang terbuka.

Sumber Referensi :

  1. https://sains.kompas.com/read/2010/02/19/0405249/jk.rowling.digugat.melakukan.plagiat
  2. https://www.kompasiana.com/prasetyo_pirates/epigon-vs-plagiat_552e5e406ea83483568b456a
  3. https://www.kompasiana.com/bambangtrim/598272b557c78c462c121132/sontoloyo-plagiat-buku-merajalela
  4. http://sastranesia.com/arti-kata-epigon/
  5. http://www.plimbi.com/article/163307/tokoh-ternama-pernah-dituduh-plagiat

 

 

What’s Next in 30DWC Jilid 12 ?

Ya. Sudah sebulan sejak 30DWC Jilid 11 berakhir. Sekarang, masuk lagi hari pertama perang dimulai untuk 30DWC Jilid 12. Anggota Empire banyak yang berbeda, kawan Squad pun juga sudah tak sama. Rules secara teknis sebagian besar juga sama, hanya mungkin akan ada beberapa kejutan yang akan dilakukan di tengah-tengah periode tantangan.

Saya berpikir, apa yang akan saya lakukan di DWC Jilid 12 ini? Ketika semua kawan sudah berganti, begitupun semangat dari mentor untuk melakukan inovasi, apakah saya masih tetap sama? ”B-aja”, kata mentor saya. Jangan-jangan yang tidak berubah justru adalah saya. Jadi miris saya memikirkannya. Ini bukanlah perang melawan mereka, ini adalah perang melawan saya. Diri saya sendiri. Beranikah memulai?

Selama masa jeda antara DWC11 hingga DWC12, apa saja yang telah saya lakukan? Apakah seproduktif saat ikut DWC11? Ini akhirnya menjadi pertanyaan besar. Apakah saya selalu hanya terorientasi target? Semangat yang berapi-api itu karena saya punya target yang ingin saya capai. Jika tidak, maka terlenalah saya dengan segala alasan.

Maka dari itu, saya putuskan untuk ikut kembali di DWC12. Karena ternyata mental tempe saya, membuat saya belum membuahkan hasil yang saya harapkan. Tapi, ikut DWC12 lagi, lalu apa yang harus saya lakukan? Jawab pertanyaan besar ini dulu, begitu batin saya.

Sebelum melangkah ke sana, saya ingin menuliskan dulu, apa saja yang telah saya lakukan untuk aktivitas menulis, selama masa jeda. Antara lain :

  1. Mengambil project antologi

Ada tiga grup yang berencana akan membuat antologi. Cerpen teenlit remaja (fiksi), kumpulan eksperimen anak di bidang Fisika & Kimia (non fiksi), Cara menjadi orang yang lebih baik (non-fiksi). Ada beberapa lainnya, tetapi belum mendapatkan kepastian bagaimana tema dan ketentuan teknisnya.

  1. Revisi naskah-naskah antologi yang akan terbit

Dari dua yang akan terbit, yaitu tentang tema detektif cilik, dan genre thriller, sebagian harus saya revisi. Rencana akan diajukan ke penerbit major, dan editornya adalah salah satu editor penerbit major, sehingga lebih detail koreksinya. Di sini saya jadi banyak belajar tentang bagaimana membuat naskah yang lebih baik. Ada teknik-teknik yang harus saya pelajari lagi dengan lebih cermat.

  1. Belajar di kelas mentoring menulis

Ada kelas mentoring yang saya ikuti untuk belajar menulis lebih baik. Ada mentor yang akan membantu dalam proses saya bertumbuh. Sebenarnya, idealnya, kelas mentoring ini bisa saja tidak dilakukan. Artinya tidak akan menjadi wajib bagi seseorang. Asalkan ia punya kemampuan belajar sendiri yang luar biasa.

Hanya saja, bagi saya, kelas ini bukan hanya berperan sebagai kelas belajar, tetapi saya jadikan sebagai salah satu ‘pintu masuk’. Di kelas-kelas ini sudah terkumpul kawan-kawan baru, yang memiliki semangat dan tujuan yang sama. Saya bisa masuk ke dalam komunitas untuk memperoleh ilmu lebih banyak dan cepat.

  1. Mengikuti tantangan menulis 7 hari non stop, bernama GTC

Satu lagi, tantangan menulis yang ingin saya rasakan. Saat itu, ada seorang kawan yang menyarankan untuk ikut GTC. GTC adalah pintu gerbang untuk menuju ke grup menulis bernama YWC (Young Writers Club), di mana syaratnya adalah menulis 7 hari tanpa jeda. Namun, yang paling membuat saya semangat adalah, di dalam grup YWC tersebut ada seorang mentor menulis cerpen sastra media yang sangat hebat, bernama Ongky Arista. Tidak mudah untuk bisa menemuinya.

Beliau memang hanya berstatus sebagai anggota di YWC, tetapi akan membuka kelas sendiri untuk beliau mentori. Ini yang paling membuat saya rela menempuh perjalanan jauh, meskipun status saya sampai saat ini masih berdiri di depan rumah beliau, menunggu dibukakan pintu. Tapi saya akan menunggu, demi kesempatan itu.

  1. Mengevaluasi Draft Novel

Ada sebuah draft yang saya pernah tuliskan. Hasil dari pertarungan saya di lomba menulis novel. Ada tujuh tahapan seleksi yang harus saya lalui. Saat itu, belum untuk bertarget menang, tetapi lebih kepada ingin melihat sejauh mana kemampuan saya saat ini, sebagai pemula. Akhirnya, saya kalah di tahapan seleksi ke-4. Namun selama itu, saya  jadi bisa memperoleh sedikit gambaran mengenai tahapan seleksi oleh editor. Banyak yang memang harus saya perbaiki. Di waktu jeda inilah, saya sesekali melihat kembali ke draft lama saya, dan melakukan evaluasi.

Stres juga ternyata. Merevisi karya sendiri, menimbulkan rasa yang lebih berat dibandingkan dikoreksi orang lain. Selain harus membacanya berulang-ulang, rasanya juga seperti selalu saja ada kesalahan. Selalu saja ada yang kurang pas. Apalagi jika menemukan sebuah celah, atau alur yang ingin saya ubah. Tapi, bukankah itu sama saja akan mementahkan naskah jadi seperti awal lagi? Tidak mudah menjadi ingin sempurna, sungguh.

  1. Bergabung di komunitas WIFI Jakarta

Setelah berhasil melalui tantangan menulis di 30DWC Jilid 11, maka saya diijinkan untuk masuk ke grup alumni yang dibagi dalam Region, sesuai domisili. WiFI (Writer Fighter Indonesia) namanya. Saya bergabung ke dalam Region Jakarta. Di sana, bertemu kembali dengan para penulis yang sudah lebih senior, sudah lebih banyak karyanya. Wow!

Di sini, diberlakukan peraturan untuk OWOP (One Week One Post), artinya harus menyetorkan tulisan minimal satu tulisan setiap minggu. Hal ini dilakukan untuk membuat fighters tetap aktif menulis, meskipun hanya satu tulisan saja dalam seminggu. Sekali lagi, lingkungan bertumbuh yang kondusif berperan penting untuk menjaga semangat penulis. Tidak harus, tapi itu sangat membantu.

(bersambung)

Syukur Sederhana

Sebenarnya permintaan Tuhan itu sederhana. Bersyukurlah pada-Ku, maka akan Aku tambahkan nikmat-Ku untukmu. Namun dalam kenyataannya, banyak sekali di antara kita, manusia, yang tidak menyadarinya. Atau sebenarnya tahu, tetapi lupa. Padahal, jika kita menghitung jumlah nikmat Tuhan pada kita setiap hari, setiap detik, tak akan mampu kita menghitungnya.

Kucoba tuliskan satu saja hal yang membuatku bersyukur hari ini, dari sekian banyak yang kutuliskan. Sore ini, jadwalku mengantar anak untuk les menggambar manga. Kebetulan, aku bertemu dengan pemilik usahanya. Beliau jarang ada. Moment semesta yang mempertemukan kami saat itu, kugunakan untuk ngobrol ringan saja. Dari sekian bahan obrolan yang kami bicarakan, ada satu hal menarik yang akhirnya kuketahui. Beliau sangat suka membaca. Wah … hal yang akan sangat cocok dengan saya juga.

Saya penulis, ehm sorry … lebih tepatnya sedang belajar untuk menjadi penulis. Membaca adalah syarat mutlak untuk menjadi seorang penulis yang berkualitas. Menulis adalah sebuah aktivitas yang lebih sulit daripada membaca. Jika aktivitas membaca, Anda ingin menyerap ilmu atau pun pandangan orang untuk Anda simpan dan masukkan ke dalam memori Anda sendiri. Membuat sebuah pengalaman batin sendiri. Untuk mencapai itu, Anda tidak perlu menulis. Hal ini berbeda dengan aktivitas menulis. Menulis tidak bisa dilakukan tanpa membaca. Karena membaca adalah ‘asupan gizi’ yang dibutuhkan untuk bisa membuat materi dalam tulisan. Semakin banyak Anda membaca, maka akan semakin bagus kualitas tulisan Anda.

Tapi saya bahagia hari ini, karena saya bertemu dengan seorang lagi kawan baru yang suka dalam hal literasi. Baik itu membaca atau menulis. Bagi saya sudah sangat jarang seseorang dengan hobi membaca atau menulis hidup dalam era saat ini. Di mana semua orang seringkali hanya mengejar apa yang hanya terlihat saja, misal kecantikan fisik, dan kekayaan, tetapi lupa pada bagaimana mengupgrade keluasan berpikir dan imajinasi. Baik, anggaplah itu mungkin hanya pendapat saya saja. Tapi kenyataannya, kawan-kawan literasi saya berpendapat sama dan mereka semua, secara fisik sangat cantik. Jadi saya semakin bangga, bahwa banyak wanita cantik yang juga sangat pintar.

Menulis memang tidak menjadi pilihan setiap orang, karena konsekuensinya yang terasa lebih berat dibandingkan hanya sebagai seorang pembaca saja. Namun saya tetap memilih untuk menulis. Saya merasa bahwa dengan menulis saya bisa menjadi lebih bermanfaat. Baik kepada diri sendiri maupun orang lain. Namun berjuang untuk bisa mengimbangkan menulis dengan membaca itu sangat tidak mudah. Itulah kenapa saya bersyukur bertemu kawan baru saya. Selain karena kebiasaan itu semakin sulit ditemukan, pertemuan ini juga seakan menjawab kegelisahan dalam diri saya yang menginginkan adanya partner dalam membaca untuk bisa saling menyemangati. Dan kini, sore ini, saya menemukannya. Biarlah saya saja yang menjadi penulis, tapi dalam hal membaca, ku ingin berkawan dengannya. Boleh, kan?

Ternging suara Tuhan di telinga, Bersyukurlah pada-Ku, maka akan Aku tambahkan nikmat-Ku untukmu.

Ketika Asa Diberkati Semesta

Kemana saja aku selama ini ….

Pertanyaan itu kadang menghampiri pikiranku, di sela-sela hari. Banyak sekali yang baru kutemukan di usia ini, dan itu membuatku jadi baru saja memulai.

Aku kadang berpikir, bahwa dalam hidup ini, yang paling berat bukanlah menemukan mimpi. Tapi membangun dan memperjuangkannya hingga nanti.

Kadang, dalam hati juga aku bertanya, apa yang kusebut sebagai mimpi? Pernahkah aku bermimpi? Jika pernah, apa, dan sudah sampai di mana perjalanannya.

Dalam sendiri, aku coba bertanya suatu kali. Aku menyadari bahwa ternyata lebih mudah untuk mengikuti mimpi manusia lainnya, dibandingkan bermimpi sendiri, lantas memperjuangkannya.

Pertanyaan selanjutnya, untuk apa? Untuk siapa? Dan, bahagiakah?

Hingga datang suatu masa, di mana aku teringat kembali pada apa yang pernah kukatakan, sekitar 20 tahunan lalu pada ibuku. Waktu itu, kutulis sebuah cerpen pertamaku. Kisah seorang gadis yang tak mampu mengungkapkan isi hatinya, pada laki-laki yang dicintainya. Hanya bisa memandang dari kejauhan, dan menikmati senyumnya yang terpancar.

Apakah itu kisah nyata? Haha..

Kuingat saat itu, begitu sulit kulukiskan apa yang ingin kukatakan ke dalam sebuah cerita. Bayangan yang membayang, ide yang berputar, tak mampu kutuliskan dalam barisan kata. Lalu apa akhirnya? Cerpen itu berakhir dalam ending yang sangat biasa.

Kudengar suara ibu memanggil dari ruang makan. Memintaku beranjak dari kamar, yang ternyata telah kudiami sejak beberapa jam berjalan. Sebuah cerpen, dengan cerita biasa, dan ending yang sangat biasa juga. Tidak mengesankan.

Lalu aku berpikir. Kenapa cerita cinta harus selalu menyedihkan? Bukankah banyak juga yang berakhir dengan kebahagiaan? Aku sendiri, bagaimana akan berakhir? Tak bisa ku jawab saat itu juga tentunya.

Aku merenung, kenapa tak kuciptakan sendiri imajinasiku? Bahwa meskipun tak tahu jalan kisahku, kubisa membuat sebuah akhir yang sesuai mauku. Dalam siratan kata di buku-buku.

Kudengar ibuku memanggil lagi, untuk yang kedua kali.

“Iya, Bu … tunggu, sebentar lagi. Silakan makan saja dulu, aku menyusul.” sahutku yang masih tenggelam dalam pikiran.

Kuputuskan mengetik satu lembar putih lagi. Namun, ada yang berbeda kali ini. Kisahnya bukan sebuah curahan hati, tetapi sebuah motivasi. Motivasi untuk tetap mencintai, motivasi untuk tetap menunggu pujaan hati, suatu hari akan datang memberikan hati.

Haha … sungguh, masih sangat kekanak-kanakan, bukan? Maklum aku masih anak putih biru waktu itu. Di mana masalah terbesar adalah cinta yang tak terbalaskan. Ehm … benarkah itu hanya masalah anak-anak? Atau hingga kapan pun, kisah cinta sejenis itu akan tetap selalu memilukan? Hiks ….

Tiba-tiba pintu diketuk, “Ayo, makan dulu, nanti dilanjutkan lagi.” ucap ibuku dari balik pintu.

“Oh ya, Bu. Sudah selesai, kok.” sahutku sambil membuka pintu dan menemui ibuku.

“Menulis? Tentang apa?” tanya ibuku sambil mengikuti langkahku dari belakang menuju ruang makan.

“Bu, aku ingin menjadi penulis. Suatu hari nanti, aku bisa kan jadi penulis? Tapi aku ingin bukuku nanti adalah kisah-kisah yang membuat orang semangat. Penuh motivasi. Gimana?” sahutku menjelaskan sambil mengambil nasi untuk kutaruh di piring.

“Ibu doakan, aamiin. Boleh saja, apapun yang kau mau, lakukan. Ibu percaya, kamu bisa.” Jawab ibuku sambil duduk di kursi sebelahku.

***

Waktu berlalu, ke masa-masa di mana aku harus mengejar banyak hal yang orang lain bilang bisa menjanjikan kesuksesan. Aku sekolah, lantas kuliah, dan mulai bekerja. Ku lupakan apa yang pernah kukatakan pada ibu saat remaja. Dan ketika tersadar, aku sudah di sini. Di usia ini. Di detik ini. Tanpa pernah melakukan apa-apa pada asa yang sempat kuteriakkan pada dunia.

Aku muali berpikir kembali, apakah itu yang disebut panggilan hati? Apakah itu yang kuyakini sebagai mimpi? Tapi, sudah terlambatkah untuk memulai? Apakah masih bisa kulanjutkan, apa yang kuinginkan puluhan tahun silam? Lalu, dari mana aku harus memulainya? Kawan? Tak banyak yang punya asa seperti yang kupunya. Lingkungan sekitar? Tak ada yang akrab dengan dunia menulis juga.

Sungguh, aku tak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaanku sendiri itu.

Ada satu titik, di mana aku benar-benar meminta pada Tuhan, apa jawabannya. Ku ingin Dia tunjukkan, jika memang itu membuatku jadi manusia yang lebih berguna.

Ajaib. Itu yang kurasakan, ketika yang kurasa tak mungkin, tiba-tiba hadir di depan mata. Aku tak tahu bagaimana semua bisa terjadi. Rasanya tiba-tiba saja semesta merestui. Tanpa kusangka, ada beberapa kesempatan yang membuatku bertemu dengan kawan yang berhobi sama. Akhirnya, bergabunglah aku di dalam komunitas pecinta aksara.

Pelan-pelan, Tuhan mengajakku mencoba lebih banyak hal. Dan semuanya, semuanya, sesuai apa yang kupinta. Rasanya tiba-tiba saja aku diperkenalkan kepada kelas-kelas menulis, kelas-kelas mentoring menulis, dan terakhir, di kelas-kelas tantangan menulis.

Aku pikir, ini pasti bukanlah kebetulan. Karena kebetulan memang tak pernah ada. Bahkan setiap daun yang jatuh, terjadi atas restu-Nya.

Ini, aku ingat benar, kapan aku pernah meminta ini terjadi. Hatiku yang memintanya. Doaku yang mengharapkan petunjuk-Nya. Akhirnya, semesta memberikan jalannya. Terima kasih Alloh, Engkau selalu luar biasa. Satu ‘keajaiban’ telah kau hadirkan kembali dalam kehidupan hamba.

Sekarang, di sinilah aku. Bersama kalian, teman-teman penulisku. Sahabat-sahabat seperjuanganku. Kita bersama dalam sebuah kisah. Merangkai mimpi, dan memperjuangkannya.

Karena seperti halnya cinta, kadang perjuangan yang membuat semesta bekerja seperti keinginan.

Bukan sebuah cinta tanpa harapan, karena tak pernah diungkapkan.

Terima kasih, Ibu ….

Aku percaya, ini berkat doamu.

Read Aloud Week

Sekitar dua pekan yang lalu, di sekolah anak, sedang berlangsung Read Aloud Week. Read Aloud adalah sebuah aktivitas yang dilakukan untuk menumbuhkan kecintaan anak pada buku. Berbeda dengan aktivitas mendongeng yang bertujuan untuk menumbuhkan kecintaan anak pada cerita dan bahasa.

Untuk mendukung aktivitas Read Aloud, yang diartikan sebagai ‘Membaca dengan lantang’, maka sudah pasti satu hal yang paling dibutuhkan adalah buku. Dikarenakan, read aloud adalah aktivitas membacakan buku dengan lantang, maka buku pun menjadi ciri khasnya. Berbeda dengan mendongeng yang tidak perlu menghadirkan buku, karena yang terpenting adalah cara bercerita yang menarik dan menghibur.

Namun ternyata, tidak mudah juga bagi para orang tua untuk mempersiapkan hal ini. Ada beberapa tips yang bisa dilakukan orang tua untuk persiapan Read Aloud. Antara lain :

  1. Pilih buku yang akan menarik perhatian

Banyak sekali buku-buku yang sering orang tua bacakan untuk anak. Namun untuk aktivitas Read Aloud, sebaiknya dipilih buku yang sesuai dengan usia anak, topik, kosakata, panjang cerita, pesan yang bermakna, dan ilustrasi yang membuat anak-anak lebih mudah tertarik. Para orang tua bisa memilih jenis buku yang sesuai bersama anak. Berikan pemahaman dan motivasi bahwa membaca adalah hal yang sangat penting untuk dilakukan.

IMG_9954

  1. Lihat gambarnya, dan buatlah prediksi

Sebelum anda membaca keseluruhan isi buku, alangkah baiknya jika Anda melihat gambar-gambar dalam buku itu terlebih dahulu, tunjukkan pada anak, lalu meminta anak untuk menebak gambaran umum ceritanya. Saat membaca, anda harus menyampaikan informasi pada anak jika ada hal baru, perubahan, atau berbedaan dari prediksi cerita awal si anak.

IMG_9953

  1. Mulai membaca dengan judul, pengarang, dan ilustrator (jika tercantum) di cover buku

Jangan langsung menuju ke halaman pertama, dan mulai membaca. Tunjukkan pada anak-anak covernya, dan bacalah judulnya. Lakukan dengan perlahan dan jelas. Setelah itu, ceritakan singkat tentang pengarang atau ilustratornya, juga tentang gambaran umum buku yang akan dibaca.

IMG_0570

  1. Bacalah dengan ekspresif

Ini bukan saatnya untuk mengkhawatirkan ‘terlihat jelek atau bodoh’. Anak-anak menyukai suara yang lucu, dramatis, atau apapun yang digambarkan dalam alur cerita. Membaca dengan ekspresif tidak hanya membuat cerita terasa hidup dan nyata, tetapi juga mampu menyentuh perasaan mereka tentang pesan yang ingin disampaikan oleh penulis.

Bisa juga menyertakan efek drama, misal tertawa, menangis, menjerit, berteriak, dan lain sebagainya untuk menggambarkan emosi dalam diri sang tokoh. Kadang, suara dan ekspresi saat membacakan, membuat anak-anak mampu mengingat dan lebih mudah memahami makna.

  1. Buatlah koneksi atau hubungan

Setelah membaca cerita, buatlah hubungan antara anak-anak, cerita yang disampaikan, dan kehidupan nyata. Misalnya, membuat sebuah diskusi tentang pesan apa yang ingin disampaikan buku tersebut. Apakah ada yang pernah mengalaminya? Jika mengalami, bagaimana rasanya? Jika ada teman yang mengalami masalah serupa, apakah kawan yang lain sudah membantu? Jika belum pernah mengalami, sangat bagus didiskusikan bersama tentang makna pesan dari buku, dan diarahkan untuk menjadi bekal solusi jika suatu saat mengalami hal yang sama.

Itulah 5 hal yang perlu dipahami, dan bisa dilakukan orang tua sebelum membacakan buku dengan Read Aloud. Aktivitas Read Aloud sebenarnya sangat sederhana, hanya sekitar 30 menit setiap kali membaca. Namun, habit kecintaan pada buku dan membaca yang dipupuk selama (hanya) 30 menit dalam sekian tahun, akan membantu membangun pondasi dan minat yang kuat terhadap buku dan membaca di masa depannya.

Salam Literasi!

Sekolah, Untuk Apa?

Pendidikan, adalah hal yang selalu saya sepakati untuk terus didengungkan. Bukan hanya karena latar belakang saya yang dari keluarga pendidik. Namun, karena bagi saya pendidikan lebih dari sekedar memberikan bekal pengetahuan. Pendidikan adalah simbol sebuah peradaban.

Selama beberapa tahun terakhir, kehidupan saya akrab sekali dengan perubahan lingkungan. Hampir setiap tahun, domisili selalu berpindah dari satu kota ke kota lainnya. Sangat memungkinkan juga untuk berpindah negara.

Salah satu hal yang paling membutuhkan perhatian besar adalah masalah pendidikan anak. Setiap kali berpindah kota, saya pasti akan melakukan survey ke beberapa lembaga pendidikan yang kami anggap memiliki concern yang bagus pada potensi pengembangan kemampuan anak.

Ada beberapa hal yang kami anggap penting dimiliki lembaga penyelenggara pendidikan, dalam hal ini adalah sekolah formal. Antara lain :

  1. Tingkat kompetensi tenaga pendidik

Kompetensi tenaga pendidik menempati posisi paling penting yang harus kami pastikan. Kompetensi bukan saja dilihat dari latar belakang pendidikan sang guru, tetapi juga bagaimana cara guru untuk membangun komunikasi dengan anak.

Sampai titik ini, kesimpulan yang saya dapatkan adalah latar belakang guru dari jurusan Ilmu Pendidikan sangat penting. Selain itu, kami menganggap guru yang kompeten adalah guru yang mencintai profesinya, bangga akan tugasnya sebagai guru, dan memiliki mental mendidik, tidak hanya mengajar.

  1. Fasilitas sekolah

Pertimbangan kami selanjutnya adalah fasilitas yang mampu ditawarkan sekolah. Banyak yang menafikan hal ini. Menganggap bahwa ini adalah hal yang tidak terlalu penting, karena terkait dengan biaya. Pandangan saya, tidak mungkin sesuatu berkembang maksimal jika tidak didukung oleh fasilitas yang mendukung.

Namun, yang lebih penting bukan ketersediaan fasilitas, tetapi pemanfaatan fasilitas. Bagaimana misal sekolah yang dilengkapi oleh fasilitas teknologi dengan perbandingan 1:1 mampu menjawab kebutuhan pengetahuan anak. Terkait dengan biaya pendidikan, memang tidak bisa dipungkiri bahwa sekolah yang memiliki fasilitas lebih banyak biasanya mematok angka biaya pendidikan yang lebih tinggi. Tapi jangan pesimis parents, yang paling penting telah mengusahakan yang terbaik sesuai kemampuan.

  1. Kurikulum

Pertimbangan lainnya yang juga sangat penting adalah tentang kurikulum. Kurikulum secara singkat didefinisikan sebagai rencana pembelajaran yang dijadikan acuan, disusun, dirancang, dan dilaksanakan lembaga pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan. Sejumlah pakar menyepakati bahwa jantung pendidikan terletak pada kurikulum. Kurikulum juga dianggap sebagai ‘pengejawantahan’ visi dan misi sekolah.

Ketiga hal ini yang paling dominan mempengaruhi pertimbangan dalam menentukan lembaga pendidikan sekolah mana yang paling tepat untuk anak saya. Jika ditanya sepenting itukah peran sekolah? Bukankah pendidikan yang utama justru dari rumah? Lalu untuk apa sekolah?

Jawaban saya adalah karena tidak semua ilmu mampu ditransfer oleh orang tua. Pendidikan di rumah lebih kepada pembangunan karakter, sopan santun, dan penanaman nilai-nilai agama. Sedangkan pendidikan di sekolah lebih kepada penguasaan keilmuan, meskipun unsur mendidik harus tetap disertakan dalam proses pengajaran.

Para guru adalah elemen yang memang dilatih untuk memiliki keahlian khusus yang mungkin tidak dimiliki oleh orang tua. Bahkan sering kali terjadi, orang tua justru ikut ‘belajar’ dari pendidikan di sekolah anaknya. Maka pilihlah lembaga pendidikan, dalam hal ini sekolah, yang benar-benar mendukung visi dan misi pendidikan kita sebagai orang tua.