Bagaimana Membuat Quotes yang baik?

Dalam kehidupan, seringkali manusia membutuhkan sebuah dorongan atau inspirasi untuk melakukan banyak hal. Dari yang ragu, menjadi tidak ragu. Dari yang salah, menjadi benar. Dari yang tidak tahu, menjadi tahu, dan lain sebagainya. Itulah yang akhirnya memunculkan sebuah ide, bernama quotes.

Quotes merupakan sebuah rangkaian kata yang mengandung sebuah arti atau makna tertentu. Ada beberapa hal yang sebaiknya diperhatikan, saat seseorang membuat quotes. Antara lain :

1. Diksi (pilihan kata)

Diksi adalah hal pertama, dan berperan sangat vital. Seseorang yang memang ingin membuat quotes harus menggunakan pilihan kata yang tepat, dan memiliki pemaknaan yang kuat. Sehingga quotes yang dihasilkan tidak perlu bertele-tele, menggunakan banyak kata, tetapi maknanya tidak memberikan kekuatan. Jika memang ingin membuat quotes, maka harus bisa menemukan diksi-diksi yang memberikan rasa dalam kata. Lalu dipadu padankan, akhirnya menjadi kalimat quotes yang singkat, padat, dan powerfull.

2.  Inspirasi

Untuk membuat quotes yang baik, maka juga penting untuk melakukan riset. Agar mampu menggali, apa saja kegelisahan, cara berpikir, masalah yang cocok diangkat, serta bagaimana seseorang mampu termotivasi dari quotes yang dibuat. Pada prinsipnya, riset sangat dibutuhkan sebelum melakukan berbagai macam hal.

Dalam hal inspirational quotes, maka dibutuhkan riset : Apa yang membuat orang tidak termotivasi, dan apa yang bisa membuat orang lain termotivasi. Ada dua jenis risetnya. Masalah dan solusi.

Jika pembuat quotes tidak melakukan ini, menurut saya, tetap bisa saja menulis quotes. Tetapi seberapa besar kekuatan quotes itu mempengaruhi orang lain, itu akan menjadi berbeda. Lalu apa tujuan membuat inspirational quotes, jika tidak ada orang lain yang merasa terpengaruh dan terinspirasi?

3. Gaya bahasa

Gaya bahasa adalah salah satu hal penting untuk diperhatikan saat menulis quotes. Dengan menggunakan gaya bahasa yang tepat, mampu membuat quotes tersebut diingat dengan baik oleh pembaca. Selama ini, gaya bahasa digunakan oleh banyak jenis tulisan, untuk menyampaikan pesan dengan lebih megena, karena mengedepankan rasa. Rasa, sangat penting. Karena dengan rasa, pesan bisa sampai dengan lebih mudah, dan sifatnya memorable. 

4. Tema

Tema sangat terkait dengan quotes yang akan dibuat. Jika seorang amatir, ingin membuat sebuah quotes, maka penting untuk menuliskan secara spesifik tentang tema quotes. Misal, tema umumnya adalah menulis dan inspiratif. Maka, penting untuk membuat daftar jawaban dari hal-hal terkait menulis dan inspiratif. Jawaban-jawaban itu, bisa diawali dari pertanyaan-pertanyaan. Misal, apa arti menulis untuk saya? Apa manfaat menulis untuk saya? Mengapa menulis itu penting untuk dilakukan? Apa saja yang bisa membuat orang suka menulis? Apa saja usaha yang telah saya lakukan untuk menulis? Apa yang akan saya lakukan jika saya merasa sedang tidak punya ide? dan lain sebagainya.

Jawaban-jawaban dari pertanyaan itu, akan mengerucutkan dalam tema spesifik. Dari tema spesifik, maka pembuat quotes bisa mendapatkan gambaran khusus untuk dituliskan ke dalam kalimat quotes.  Semakin spesifik tema yang diangkat, semakin mampu menjadi kekuatan bagi pembaca quotes.

Itulah keempat hal penting yang menurut saya perlu diperhatikan saat membuat quotes. Diharapkan quotes yang dihasilkan dari proses tersebut mampu menghasilkan kekuatan, solusi, dan inspirasi bagi pembaca atau pendengar.

Coba bedakan antara quotes biasa dengan quotes yang sudah biasa didengar. Quotes bisa saja abadi, bahkan meskipun pembuat quotes itu telah tiada. Quotes-nya masih selalu diingat dan didengungkan. Kenapa? Karena pesan yang ia sampaikan merupakan racikan yang tepat antara diksi, gaya bahasa, rasa, tema, paham masalah yang dihadapi, serta merupakan solusi.

Sebenarnya, menurut saya pribadi, quotes itu tidak untuk sengaja dibuat. Saat Anda mendengar inspirational quotes dari tokoh-tokoh besar, misal : Ir. Soekarno, Gus Dur, Emha Ainun Najib, Gus Mus, dan lain-lain, apakah beliau memang sengaja membuat quotes untuk menginspirasi orang lain? Saya berkeyakinan tidak. Namun, pada kenyataannya, banyak sekali kata-kata beliau yang dikutip, dan diangkat sebagai quotes. Tanya kenapa? Bagi saya, karena kalimat yang para tokoh sampaikan, secara tidak langsung mampu memberikan pengaruh bagi pendengarnya. Mampu mengusik rasa.

Namun, jika Anda memang sengaja membuat quotes, baiklah. Namun, buatlah quotes dengan baik. Sampaikan pesan dengan benar-benar mengedepankan rasa, tetapi juga memainkan logika dengan tepat. Keempat hal di atas, semoga bisa turut membantu untuk mencerahkan.

Advertisements

Tak Semua Masa Lalu Harus Dilupakan

Masih tentang cerpen. Dunia menawan yang menarik untuk dipelajari. Dalam belajar tentang cerpen, menganalisis, serta menyimpulkan sebuah cerpen sastra, maka saya diminta untuk membaca dan membedah banyak sekali karya penulis sastra.

Salah satu yang saya pelajari adalah cerpen milik Budi Darma. Beliau adalah seorang guru besar di Universitas Negeri Surabaya yang sudah banyak sekali membuat karya.

Cerpen tersebut judulnya Tarom. Tarom ditulis Budi Darma dengan gayanya yang khas. Diksi dan plotnya membuat kita seolah sedang terbang, mengunjungi satu negara ke negara lain. Namun, ada satu hal yang menjadi catatan saya. Cara Budi Darma, membuat kita terpaksa belajar masa lalu.

Masa lalu apa yang dituliskan Budi Darma? Budi Darma menyuguhkan sebuah kisah, dengan fakta-fakta masa lalu sangat terasa. Masa lalu di sini artinya adalah sejarah, atau sesuatu yang pernah terjadi di masa sebelum sekarang. Dalam tulisan-tulisan beliau,  pembaca secara tidak langsung diminta untuk melakukan riset.

Dalam cerpen Tarom tersebut, pembaca diajak belajar tentang masa Perang Dunia, Perang Indonesia dengan Malaysia dengan slogannya yang terkenal Ganyang Malaysia. Juga cerita antara Monalisa dan Leonardo Da Vinci. Semua dikemas secara apik, menjadikan cerita masa lalu itu indah untuk dinikmati.

Ya, banyak sekali di antara kita, manusia Indonesia khususnya, yang tidak peduli pada masa lalu negara ini. Masa lalu itu kita namakan sejarah. Sebuah bangsa yang hebat, adalah bangsa yang menghargai sejarah. Baik dan buruk, kelam, tetapi semua cerita masa lalu itulah yang membuat kita semua berdiri di sini.

Apakah kita harus menunggu selevel Master Budi Darma dahulu untuk bisa tergerak belajar masa lalu? Seharusnya kita justru bisa mencontoh dari beliau. Usia yang tak lagi muda, tetapi memiliki pemahaman dan pengetahuan seluas itu. Pasti ketertarikan pada sejarah, mempelajarinya, dan menuangkannya pada karya sastra sudah beliau lakukan sejak masih muda. Jangan melupakan masa lalu yang bisa memberikan arti bagi masa depan. Tak semua hal harus dilupakan.

Cicak Yang Mati Karena Memakan Nyamuk

Musim hujan kembali datang. Para nyamuk seperti mati satu tumbuh seribu. Memang, nyamuk lebih terasa banyak di musim kemarau. Namun, di musim hujan mereka jadi lebih rajin untuk berkembang biak. Begitu lahir baru, ia merasa langsung cukup mampu untuk berburu.

Nyamuk dulu pun ternyata berbeda dengan nyamuk sekarang. Jika dulu, jentik nyamuk butuh waktu 12-14 hari untuk berubah menjadi nyamuk dewasa. Nyamuk sekarang hanya butuh waktu 9 hari dalam pertumbuhannya. Karena para nyamuk masa kini adalah nyamuk dewasa prematur, maka tubuhnya semakin kecil, tapi nafsu makannya semakin bertambah. Frekuensi makannya juga meningkat.

Nyamuk-nyamuk kekinian itu pun perlahan berevolusi menjadi semacam iblis bagi manusia. Ketika iblis diriwayatkan hidup di dalam aliran darah setiap manusia, nyamuk-nyamuk iblis hidup layaknya vampir yang menghisap darah. Darah, di dunia ini banyak sekali yang menginginkannya.

Nyamuk-nyamuk iblis bukan saja mengincar darah, ia melesat ke semua celah-celah. Menghabisi siapa saja yang bisa dihabisi. Tanpa pandang bulu siapa pun yang ia sebut sebagai lawannya. Jika begitu besarnya keinginannya untuk membunuh, apakah ada yang pernah bertanya, apakah nyamuk kanibal? Pertanyaan ini, ingin sekali aku jawab tidak. Bagiku nyamuk bisa menjadi kanibal, ketika keinginannya makan, tak bisa terpenuhi. Di dunia ini, adakah yang lebih bertahan selain kepentingan?

Suatu hari ada seekor cicak yang tengah terjaga. Makan seperti biasa yang biasa mereka lakukan. Tiba-tiba ada seekor nyamuk yang tidak diketahui dari mana datangnya, hinggap di dekatnya. Hmm … kesempatan besar. Hap! dimakanlah si nyamuk kecil itu oleh seekor cicak di dinding.

Esok paginya, kutemukan seekor cicak mati. Terjatuh dari langit-langit ruang tamuku. Kata cicak yang lain, ia mati karena memakan nyamuk.

BBW 2018, Cinta Itu Masih Ada

Hari ini, event tahunan yang digelar sejak tahun 2016 ini, dianggap selalu mendulang kesuksesan setiap kali diselenggarakan. Big Bad Wolf (BBW), begitulah namanya. Cukup aneh ya, tidak terlihat ada hubungannya sama sekali dengan buku, haha ….

Penggagas BBW adalah sepasang suami istri bernama Andrew Yap, dan Jacqueline Ng. Nama Big Bad Wolf diambil dari kisah Little Red Riding Hood, di mana ada seekor serigala yang menyamar sebagai nenek tua dan akan memangsa seeorang gadis kecil berjubah merah. Akhirnya oleh Andrew, nama Big Bad Wolf dijadikan sebagai nama untuk perusahaannya, karena dianggap menarik.

BBW Event 2018 kembali diselenggarakan di Indonesian Convention and Exhibition (ICE), BSD  CITY, Tangerang sejak hari ini, 29 Maret hingga 9 April 2018 nanti. Hari ini memang sudah saya tunggu-tunggu sejak beberapa minggu, bahkan setahun yang lalu. Kenapa? Karena tahun ini, adalah pertama kalinya saya berkesempatan untuk mengunjungi event ini di ICE.

Pertama kali saya menyusuri jalan sebelum ke ICE, rasanya jalanan itu lengang. Ya, seperti biasanya. Kondisi ini sangat kontras dengan saat event yang diselenggarakan adalah GIIAS 2017, pada Agustus tahun lalu. Pada saat itu, hampir sepanjang jalanan BSD CITY penuh oleh lalu lintas mobil yang keluar masuk dari jalanan sekitar ICE. Bahkan panitia sampai menyediakan shuttle bus, dan lokasi parkir tambahan. Berbeda dengan event BBW ini, jalanan masih sepi.

Setelah agak kesal karena parkir kendaraannya ternyata dibuat paling ujung, saya masuk ke dalam ruangan. Berbeda dengan GIIAS, yang biaya masukknya Rp 75.000/ orang, kali ini FREE. Setelah memasuki ruangan, betapa senangnya melihat begitu banyak orang lebih dari yang saya bayangkan. Saya paham, hari ini pasti belum bisa ramai, karena masih hari kerja dan ini siang hari.

Jujur, saya agak bingung. Bukankah kata data, daya baca masyarakat Indonesia sangat rendah. Namun, tadi saya melihat banyak sekali yang memasukkan buku ke keranjang  belanja. Tampaknya ini bukan untuk dikonsumsi sendiri, melainkan hasil dari jasa titip beli yang dilakukan melalui media sosial. Jadi, jika Anda berada di daerah lain yang tidak mungkin dijangkau jaraknya dari ICE, maka silakan menghubungi kontak para penyedia jastip di media sosial.

Mungkin ini akhirnya yang membuat kesimpulan awal saya salah. Hanya melihat keramaian di jalan hari ini sebagai tolok ukur sukses tidaknya sebuah acara. Ternyata, saya salah. Dari sekian banyak keranjang yang penuh dengan tumpukan buku, hingga sepertinya … saking banyaknya pesanan buku itu, kita bisa menyusunnya menjadi sebuah bangunan sangat tinggi.

Lalu, sebenarnya apa sih yang menarik dari BBW event yang rutin setiap tahun ini?

BBW adalah cara yang dilakukan untuk menjual buku hasil sisa produksi. Caranya, dengan memberikan potongan harga yang besar. Banyak buku-buku, khususnya buku lokal terbitan Indonesia, dijual dengan harga hanya Rp 15.000. Jadi, jangan mengharapkan buku-buku terbitan baru akan tersedia di sana. Yang kedua, buku-buku impor. Saya cek sebenarnya buku-buku impor itu relatif buku-buku baru, hanya saja di BBW event ini harganya lumayan lebih murah dibanding harga biasanya di toko buku. So, kapan lagi bisa membeli buku-buku impor dengan kualitas yang sangat bagus, tetapi harganya murah?

Saya bahagia, karena penilaian saya ternyata salah. Saya sangat bahagia karena masih banyak yang peduli pada literasi.  Ya, ternyata cinta itu masih ada.

Bawang Putih, Nasibmu Kini. Tanya Kenapa?

Sebagai ibu rumah tangga, di mana frekuensi ke pasar lebih sering dibandingkan ke mall, maka saya tahu betul bahwa harga bawang putih kini sudah sama dengan harga ayam. Bukan hanya masalah harga, ketersediaan barangnya pun semakin langka. Selama kira-kira hampir sebulan, harganya terus saja merangkak naik meninggalkan komoditas lain. Ada apa gerangan?

Saya mencoba melakukan riset sederhana untuk membuat praduga atas alasan kenaikannya. Kira-kira ada dua hal besar yang menjadi dugaan saya, yaitu :

1. Impor yang belum tereksekusi dengan baik

Sejujurnya saya sedih untuk mengatakan, “Impor belum tereksekusi dengan baik.” Negara  dengan wilayah pertanian sangat luas ini justru masih menggantungkan 95% kebutuhan dalam negeri komoditas bawang putih dari impor. Negara importirnya terbesarnya adalah Cina dan Tiongkok.

Sesuai dengan riset data yang saya dapatkan, kebutuhan bawang putih Indonesia rata-rata berada di angka 500 ribu ton/ tahun. Namun berapa jumlah produksinya? Jika dibandingkan dengan tahun 2017, realisasinya hanya bisa di angka 70 ribu ton. Untuk tahun 2018, diproyeksikan bisa mencapai angka 100 ribu ton. Lalu berapa kebutuhan impornya? Tentu secara hitungan kasar, Indonesia masih membutuhkan sekitar 400 ribu ton. Luar biasa!

Pada awal Maret 2018 lalu, Kementerian Pertanian (Kementan) telah menerbitkan Rekomendasi Impor Produk Holtikultura (RIPH) untuk mengimpor sebanyak 400 ribu ton dari Cina kepada 37 perusahaan importir. Realisasi volume impor yang akan diberikan, seluruhnya tergantung pada ijin yang diterbitkan oleh Kementerian Perdagangan (Kemendag). Selanjutnya baru-baru saja, Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengeluarkan ijin untuk mengimpor 196 ribu ton bawang putih melalui Surat Persetujuan Impor (SPI) kepada 13 importir.

Meskipun sudah diterbitkan SPI, kelangkaan barang masih mungkin terjadi. Hal ini disebabkan realisasi impor yang dirasa kurang optimal. Terkesan terlambat, sehingga belum banyak bawang putih yang tiba di Indonesia. Jumlah importir saat ini juga hanya 13 perusahaan. Ada dugaan bahwa sedikitnya jumlah importir ini karena kebijakan dari Menteri Pertanian, yang dikeluarkan melalui Peraturan Menteri Pertanian (Permentan)  Nomor 16 Tahun 2016 tentang Rekomendasi Impor Produk Holtikultura (RIPH). Dalam aturan tersebut, mewajibkan importir untuk menghasilkan 5% bawang putih dari alokasi impor. Artinya, ada kewajiban bagi importir untuk ‘menanam’ bawang putih di lahan sendiri.

Simulasinya seperti ini. Jika seorang importir ingin mengeksekusi hak impornya, maka untuk menghasilkan 1.000 ton bawang putih dalam setahun, ia harus memproduksi 50 ton bawang putih dari kebun ‘sendiri’. Jika setiap hektar diperkirakan bisa menghasilkan 6 ton bawang putih, maka dibutuhkan lahan kurang lebih 8,33 hektar untuk menghasilkan 50 ton. Artinya, dibutuhkan biaya 416-500 juta per 50 ton bawang putih. Hal ini sebenarnya masih bisa disanggupi oleh importir. Hanya merasa berat, karena dianggap minim bantuan dari pemerintah, misalnya untuk bibit.

Lalu, apakah Indonesia tidak bisa swadaya bawang putih seperti halnya pada bawang merah? Ternyata, Indonesia pernah mampu memenuhi 80% kebutuhan dalam negeri sampai tahun 1998. Setelah itu, Indonesia bergabung dalam Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization/ WTO). Saat itulah, bawang putih asal negara lain khususnya Cina, menyerbu pasar Indonesia dan mematikan usaha bawang putih lokal karena harganya jatuh. Bawang putih lokal ukurannya kecil-kecil, berbeda dengan bawang putih impor yang besar-besar.

Dilihat dari teknik penanaman dan kondisi lahan yang ada di Indonesia, menanam bawang putih memang lebih sulit dibandingkan bawang merah. Bawang putih lebih memerlukan kondisi yang spesifik seperti kondisi lahan dan suhu tertentu. Itulah mengapa, semakin banyak petani yang malas melakukan penanaman bawang putih. Apalagi tanpa adanya bantuan teknologi untuk bisa melakukan penamanan secara massive.

2. Efek tidak langsung dari kenaikan harga minyak dunia

Pada pertengahan Februari 2018, harga minyak dunia menyentuh level hingga mencapai USD 65,73 per barel untuk harga minyak mentah Brent. Pemulihan pasar ekuitas global dan ketegangan di Timur Tengah angkat harga minyak,  di tengah kekhawatiran kenaikan produksi di AS. Pada awal pekan ini, harga minyak mentah Brent dibuka naik di atas USD 70 per barel untuk pertama kalinya sejak Januari 2018. Lantas apa efeknya bagi Indonesia?

Ada dua hal utama yang menjadi pembentuk harga jual BBM, yaitu harga minyak mentah dunia dan nilai tukar rupiah terhadap dolar. Jadi, jika dalam waktu yang bersamaan harga minyak mentah dunia naik, dan rupiah melemah, maka harga jual BBM akan melonjak. Atau, jika harga minyak dunia turun, tetapi nilai tukar rupiah melemah, maka harga jual BBM pun sulit untuk turun. Selama ini, Pemerintah meninjau harga jual BBM setiap tiga bulan.

Kondisi saat ini, harga minyak dunia memang sedang tinggi. Bagaimana dengan nilai tukar rupiah terhadap dolar? Akhir pekan lalu, nilai tukar rupiah melemah di level Rp 13.800 per USD. Namun, pekan ini sudah menguat ke level Rp 13.600 per USD. Melihat kisarannya, nilai tukar rupiah terhadap dolar itu masih relatif lemah. Kondisi itulah yang akhirnya membuat Pemerintah menaikkan harga Pertalite kembali per 24 Maret 2018. Alhasil, kenaikan pada Maret 2018 ini merupakan kenaikan yang kedua sejak Januari 2018.

Seperti diketahui bahwa sejak 2015, Pemerintahan Presiden Jokowi sudah mengurangi dan mencabut subsidi BBM besar-besaran untuk membiayai proyek-proyek infrastruktur. Karena itulah, kenaikan harga minyak mentah dunia dan lemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar mempengaruhi harga BBM non-subsidi.

Pemerintah mengklaim bahwa kenaikan harga BBM tersebut tidak akan terlalu mempengaruhi masyarakat. Hal ini dilihat dari tingkat inflasi bulanan di Februari  2018 sebesar 0,17% yang didominasi oleh kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau. Sementara dari kontribusi kelompok bahan bakar, hanya 0,22%. Prediksi inflasi di Maret hanya akan meningkat sekitar 0,2% dan di April akan meningkat lagi di kisaran 0,3% membuat Pemerintah merasa bahwa dampak kenaikan BBM tersebut tidak signifikan.

Namun, apakah benar demikian?

Sejak subsidi yang dikurangi besar-besaran oleh Pemerintah, maka golongan Non-subsidi juga akan merasakan pengaruhnya jika terjadi perubahan pada harga pasar dunia. Tiga kelompok bahan bakar yang  dikurangi subsidinya oleh Pemerintah meliputi, BBM, Gas (LPG), dan Listrik. Maka, jika terjadi kenaikan harga BBM Non-subsidi serta listrik, maka otomatis akan berimbas pada industri. Biaya produksi akan meningkat, karena akan mempengaruhi biaya pendistribusian barang hingga ke tangan konsumen. Naiknya biaya produksi tersebut, akan membentuk kenaikan harga hingga di tangan konsumen. Hampir seluruh harga bahan pokok mengalami kenaikan, termasuk bawang putih. Akibatnya, seluruh masyarakat baik di kelas penerima subsidi BBM maupun Non-subsidi, secara tidak langsung akan merasakan dampaknya.

Dua hal tersebut yang (mungkin) bisa saya simpulkan dari penyebab melambungnya harga bawang putih beberapa waktu terakhir ini. Jika bahan makanan pokok lain tidak terlalu tinggi naiknya, hal itu disebabkan karena ketersediaan pasokan di dalam negeri. Berbeda dengan bawang putih yang menggantungkan hampir semua kebutuhan dari impor. Itu membuat ketika terjadi kekurangan pasokan di dalam negeri, Indonesia harus buru-buru membuka keran impor.

Dengan harga produksi yang juga sedang tinggi, ditambah kekosongan stok di dalam negeri, membuat masyarakat Indonesia terpaksa harus menelan ludah. Mau tidak mau harus menerima. Tak ada yang bisa dilakukan. Lari pun ibarat dikepung macan. Bertahan dengan segala cara. Masyarakat Indonesia tidak mungkin makan tanpa bawang, kan?

Lalu, kapan Indonesia bisa seperti Thailand dalam hal pertanian? Hmm … masih jauh tampaknya perjalanan kita.

Sumber Referensi :

  1. https://www.bps.go.id/pressrelease/2018/03/01/1441/februari-2018-inflasi-sebesar-0-17-persen–inflasi-tertinggi-terjadi-di-jayapura-sebesar-1-05-persen-.html
  2. http://ekbis.rmol.co/read/2018/03/27/332604/Gila,-Harga-Bawang-Putih-Nyaris-Tembus-Rp-50.000-Per-Kg-
  3. http://industri.bisnis.com/read/20180322/99/753112/bawang-putih-realisasi-impor-belum-optimal-harga-tinggi
  4. https://www.merdeka.com/uang/kenaikan-harga-bawang-putih-dicemaskan-picu-kelangkaan.html
  5. http://www.liputan6.com/bisnis/read/3411055/harga-minyak-dunia-naik-bertahan-di-atas-usd-70-per-barel
  6. https://www.medcom.id/ekonomi/globals/xkEn777K-kenaikan-persediaan-as-buat-harga-minyak-dunia-jatuh
  7. https://tirto.id/alasan-pertamina-naikkan-harga-pertalite-rp200-per-liter-cGH7
  8. https://economy.okezone.com/read/2018/03/22/320/1876263/harga-minyak-dunia-naik-ke-level-tertinggi
  9. https://tirto.id/cara-pemerintah-dan-pertamina-menetapkan-harga-bbm-cvzz
  10. http://www.liputan6.com/bisnis/read/625211/bagaimana-cara-pertamina-hitung-harga-jual-bbm
  11. https://katadata.co.id/berita/2018/03/06/kementan-terbitkan-rekomendasi-impor-400-ribu-ton-bawang-putih
  12. https://katadata.co.id/berita/2018/03/07/kemendag-keluarkan-izin-impor-200-ribu-ton-bawang-putih
  13. https://katadata.co.id/berita/2018/03/23/harga-tinggi-di-pasar-mendag-akan-panggil-importir-bawang-putih
  14. http://jateng.tribunnews.com/2018/03/02/ada-apa-ini-nilai-tukar-rupiah-sentuh-rp-13775-per-dollar-as

‘Skill’ Kok Njiplak!

Beberapa hari kemarin, saya kembali dikejutkan oleh berita tentang seorang penulis yang melakukan plagiat pada 24 karya sastra. Sinting! Bagaimana mungkin ia bisa se-hilang akal itu? Bukankah sebagai seorang penulis –atau bahkan siapa pun manusianya — sejak awal mulai mengenal aksara, sudah pasti tahu bahwa plagiasi adalah sebuah kejahatan. Haram!

Yang lebih gila lagi, yang diplagiat itu adalah jenis cerpen sastra, yang kemudian dikirimkan ke beberapa media ternama Indonesia. Akhirnya, ada sebagian karyanya yang dimuat. Entahlah … ini sebuah kepintaran tingkat dewa bisa memilih dan memlagiat hingga 24 karya, atau justru kebodohan yang amat sangat.

Lebih mengejutlah lagi, melihat fakta bahwa plagiator ini adalah seorang penulis yang (katanya) sudah berkemampuan menulis dengan baik. Dengan profilnya waktu itu, seseorang yang digambarkan sebagai sosok sederhana dan pendiam.

Upaya seorang plagiat untuk menjadi penulis profesional yang mendapatkan pengakuan dari dunia literasi, tampaknya salah dipahami. Memplagiat karya orang lain sesungguhnya adalah upaya bunuh diri. Jika sudah begini, bukan masalah plagiator tersebut menyesal atau tidak. Bukan masalah ia berjanji tidak akan mengulangi atau tidak. Serta bukan masalah ia akan bangkit dari keterpurukannya akibat hujatan bertubi-tubi, atau tidak. Pertanyaannya, masihkah dunia percaya? Siapa yang akan percaya, karya yang ia tuliskan bukan hasil dari menjiplak?

Mengingatnya, membuat saya yang masih berjuang keras di dunia ‘ini’ serasa ditampar keras!

Namun, siapa sangka … penulis sekelas J.K Rowling dan Dan Brown pun pernah dihampiri dugaan melakukan plagiat. Dari Indonesia, sekelas Chairil Anwar pun pernah diduga menjiplak karya orang lain. Pada tahun 2010, penulis J.K Rowling disebut dalam perkara hukum yang menyebutnya mencuri ide untuk buku-buku Harry Potter-nya dari seorang penulis Inggris lainnya. Gugatan di salah satu pengadilan di London itu menyebutkan bahwa buku J.K Rowling yang berjudul Harry Potter and  The Goblet of Fire menyalin banyak bagian dari buku Jacob tahun 1987, The Adventures of Willy The Wizard-No 1 Livid Land.

Begitu pula yang terjadi pada Dan Brown. Novelnya yang berjudul The Da Vinci  Code dituduh melakukan plagiat atas novel berjudul The Holy Blood and The Holy Grail karya Michael Baigent dan Richard Lee. Tuduhan lain juga muncul dari seorang novelis lain bernama Lewis Perdue, untuk salah satu novelnya yang berjudul Daughter of God.

Di Indonesia, penyair Chairil Anwar dituduh oleh Hans Bague Jassin, seorang kritikus sastra yang juga bergelar Paus Sastra Indonesia. Hans membandingkan karya puisi Chairil dengan The Dead Young Soldiers karya Archibald MacLeish, penyair Amerika Serikat. Chairil menyanggah hal itu hingga ketegangan antara mereka sempat memuncak pada suatu acara di Gedung Kesenian Jakarta. Chairil dan Hans sempat berkelahi.

Itu sebagian dari nama-nama penulis Indonesia yang terkenal. Lantas, bagaimana yang namanya tidak populer? Seperti yang diungkapkan oleh Pak Bambang Trim,  Ketua Umum Perkumpulan Penulis Profesional Indonesia (Penpro) dan Pendiri Institut Penulis Indonesia, bahwa pernah dalam satu bulan, beliau sudah menerima tiga laporan tentang buku-buku rekan penulis yang diplagiat dalam bentuk buku lagi dengan judul yang mirip, atau paling tidak mengandung satu-dua kata kunci dari buku mereka.

Mental-mental plagiat ini memang harus dimusnahkan dari muka bumi. Namun, mengapa kenyataan ini bisa terjadi? Salah satu jawabannya adalah sulitnya melacak. Ada jutaan bahkan mungkin milyaran karya yang tersebar, dan masih terus bertambah setiap detiknya. Jika karya itu adalah sebuah foto atau lukisan, Anda hampir tidak mungkin untuk menjiplaknya. Tetapi jika tulisan, bagaimana Anda bisa menentukan originalitasnya?

Sesungguhnya, di dunia ini tidak ada ide yang benar-benar murni. Ide terbentuk dari pola pikir, cara pandang, dan hasil olah pikiran yang didapatkan dari mendengar, melihat, dan membaca ide orang lain. Jika memang demikian masih bisa dilakukan, mengapa Anda tidak memilih menjadi epigon saja dibanding menjadi plagiator? Epigon adalah orang yang tidak memiliki gagasan baru dan hanya mengikuti jejak pemikir atau seniman yang mendahuluinya. Singkatnya, peniru seniman atau pemikir besar. Itu masih tidak masalah, jika dibandingkan dengan melakukan plagiat. Contoh karya yang banyak ditiru oleh penulis lain misalnya Ayat-Ayat Cinta. Pada awal kemunculannya, novel ini banyak ditiru. Banyak yang menuliskan kisah sejenis, bahkan cover dan nama penulisnya pun senada.

Lantas, apa bedanya kisah tuduhan yang dilayangkan pada novelis J.K Rowling, Dan Brown, serta penyair Chairil Anwar dengan para plagiator recehan di Indonesia? Para penulis level dewa seperti J.K Rowling, Dan Brown, serta penyair Chairil Anwar berhasil membuktikan bahwa semua tuduhan itu salah. Bahkan mereka siap berperang di meja hijau demi membuktikan nama baik dan kredibilitas kemampuan mereka. Sedangkan di Indonesia, para plagiator kelas receh malah dengan bodohnya melakukan bunuh diri secara terang-terangan di perang terbuka.

Sumber Referensi :

  1. https://sains.kompas.com/read/2010/02/19/0405249/jk.rowling.digugat.melakukan.plagiat
  2. https://www.kompasiana.com/prasetyo_pirates/epigon-vs-plagiat_552e5e406ea83483568b456a
  3. https://www.kompasiana.com/bambangtrim/598272b557c78c462c121132/sontoloyo-plagiat-buku-merajalela
  4. http://sastranesia.com/arti-kata-epigon/
  5. http://www.plimbi.com/article/163307/tokoh-ternama-pernah-dituduh-plagiat

 

 

Hari Tersibuk di Dunia

Bagi seorang ibu rumah tangga, ternyata hari tersibuk di dunia itu bukanlah hari Senin hingga Jumat. Melainkan justru hari Sabtu dan Minggu. Mungkin Anda yang belum menikah, akan heran membaca pendapat saya. Solusinya, cepatlah menikah dan menjadi ibu rumah tangga, hehe ….

Bagi seorang ibu rumah tangga, Sabtu dan Minggu justru sangat banyak agenda. Mulai pagi, hingga pagi lagi. Kapan tidurnya? Haha …. Di mana semua yang bekerja sedang libur dan bersantai di rumah, tapi ibu rumah tangga tak punya hari libur. Justru ia harus bangun lebih pagi untuk memastikan banyak hal telah siap lebih awal. Mengurus suami dan anak-anak, yang mungkin saja hari itu akan membuat pemandangan rumah lebih mirip kapal pecah. Agenda siang, sore, hingga malam pun kadang sudah ada di luar rumah. Lelah? Pasti.

Namun, ini bukan tulisan berisi keluhan. Ini adalah kisah, di mana ternyata dalam tantangan menaklukkan hari tersibuk di dunia, saya memutuskan untuk tetap menulis. Meskipun ya, kali ini yang saya tulis hanya recehan. Hehe ….

Pada DWC12 kali ini, saya mengalami beberapa tantangan berbeda dibandingkan DWC11. Tantangan yang saya alami karena menghadapi orang yang berbeda, lingkungan yang berbeda, dan tujuan yang berbeda. Dalam beberapa hal, menjadikan saya lebih tertantang. Namun, dalam beberapa hal lain membuat saya sedikit harus memundurkan langkah. Namun, meskipun begitu, saya memutuskan untuk tetap menulis di hari tersibuk di dunia, Sabtu dan Minggu.

Mengikuti tantangan menulis membuat saya lebih berusaha untuk mengatur waktu. Saya harus bangun lebih pagi, harus selalu berusaha lebih cepat dalam menyelesaikan tugas-tugas keseharian, serta berpikir lebih cepat. Akhirnya, hari tersibuk di dunia itu, justru menjadi sangat sangat produktif. Bagi emak-emak, tidak ada waktu tidak produktif. Yang ada adalah sangat produktif, atau sangat produktif sekali.

Seperti saat ini, di hari ke-4 tantangan menulis di DWC12. Saya baru bisa mulai menulis dari pukul 21.47 malam. Banyak sekali yang harus saya selesaikan hari ini. Namun, apakah saya terpikir untuk tidak menyelesaikan tantangan menulis harian? Jawaban saya, tidak. Saya harus tetap menulis, masih ada waktu kurang lebih 2 jam lagi. Hanya tema yang saya pikirkan memang berubah, harus lebih sederhana. Namun, saya harus tetap menulis. Tidak ada alasan dengan bersembunyi di balik kata pembenaran.

Ya. Menulis dalam kesibukan, di hari tersibuk di dunia pula, membuat saya semakin paham, bahwa waktu adalah sesuatu yang harus kita tentukan sendiri. Kesempatan adalah hal yang harus kita ciptakan sendiri. Apapun bisa mungkin, saat kita merasa hal itu adalah penting. Akhirnya, kita akan lebih cerdas dalam menentukan sebuah prioritas di hari yang sama. Haruskah begini? Bagi saya, ya. Untuk naik kelas, bagaimana saya tidak mau menempuh ujian?