What’s Next in 30DWC Jilid 12 ?

Ya. Sudah sebulan sejak 30DWC Jilid 11 berakhir. Sekarang, masuk lagi hari pertama perang dimulai untuk 30DWC Jilid 12. Anggota Empire banyak yang berbeda, kawan Squad pun juga sudah tak sama. Rules secara teknis sebagian besar juga sama, hanya mungkin akan ada beberapa kejutan yang akan dilakukan di tengah-tengah periode tantangan.

Saya berpikir, apa yang akan saya lakukan di DWC Jilid 12 ini? Ketika semua kawan sudah berganti, begitupun semangat dari mentor untuk melakukan inovasi, apakah saya masih tetap sama? ”B-aja”, kata mentor saya. Jangan-jangan yang tidak berubah justru adalah saya. Jadi miris saya memikirkannya. Ini bukanlah perang melawan mereka, ini adalah perang melawan saya. Diri saya sendiri. Beranikah memulai?

Selama masa jeda antara DWC11 hingga DWC12, apa saja yang telah saya lakukan? Apakah seproduktif saat ikut DWC11? Ini akhirnya menjadi pertanyaan besar. Apakah saya selalu hanya terorientasi target? Semangat yang berapi-api itu karena saya punya target yang ingin saya capai. Jika tidak, maka terlenalah saya dengan segala alasan.

Maka dari itu, saya putuskan untuk ikut kembali di DWC12. Karena ternyata mental tempe saya, membuat saya belum membuahkan hasil yang saya harapkan. Tapi, ikut DWC12 lagi, lalu apa yang harus saya lakukan? Jawab pertanyaan besar ini dulu, begitu batin saya.

Sebelum melangkah ke sana, saya ingin menuliskan dulu, apa saja yang telah saya lakukan untuk aktivitas menulis, selama masa jeda. Antara lain :

  1. Mengambil project antologi

Ada tiga grup yang berencana akan membuat antologi. Cerpen teenlit remaja (fiksi), kumpulan eksperimen anak di bidang Fisika & Kimia (non fiksi), Cara menjadi orang yang lebih baik (non-fiksi). Ada beberapa lainnya, tetapi belum mendapatkan kepastian bagaimana tema dan ketentuan teknisnya.

  1. Revisi naskah-naskah antologi yang akan terbit

Dari dua yang akan terbit, yaitu tentang tema detektif cilik, dan genre thriller, sebagian harus saya revisi. Rencana akan diajukan ke penerbit major, dan editornya adalah salah satu editor penerbit major, sehingga lebih detail koreksinya. Di sini saya jadi banyak belajar tentang bagaimana membuat naskah yang lebih baik. Ada teknik-teknik yang harus saya pelajari lagi dengan lebih cermat.

  1. Belajar di kelas mentoring menulis

Ada kelas mentoring yang saya ikuti untuk belajar menulis lebih baik. Ada mentor yang akan membantu dalam proses saya bertumbuh. Sebenarnya, idealnya, kelas mentoring ini bisa saja tidak dilakukan. Artinya tidak akan menjadi wajib bagi seseorang. Asalkan ia punya kemampuan belajar sendiri yang luar biasa.

Hanya saja, bagi saya, kelas ini bukan hanya berperan sebagai kelas belajar, tetapi saya jadikan sebagai salah satu ‘pintu masuk’. Di kelas-kelas ini sudah terkumpul kawan-kawan baru, yang memiliki semangat dan tujuan yang sama. Saya bisa masuk ke dalam komunitas untuk memperoleh ilmu lebih banyak dan cepat.

  1. Mengikuti tantangan menulis 7 hari non stop, bernama GTC

Satu lagi, tantangan menulis yang ingin saya rasakan. Saat itu, ada seorang kawan yang menyarankan untuk ikut GTC. GTC adalah pintu gerbang untuk menuju ke grup menulis bernama YWC (Young Writers Club), di mana syaratnya adalah menulis 7 hari tanpa jeda. Namun, yang paling membuat saya semangat adalah, di dalam grup YWC tersebut ada seorang mentor menulis cerpen sastra media yang sangat hebat, bernama Ongky Arista. Tidak mudah untuk bisa menemuinya.

Beliau memang hanya berstatus sebagai anggota di YWC, tetapi akan membuka kelas sendiri untuk beliau mentori. Ini yang paling membuat saya rela menempuh perjalanan jauh, meskipun status saya sampai saat ini masih berdiri di depan rumah beliau, menunggu dibukakan pintu. Tapi saya akan menunggu, demi kesempatan itu.

  1. Mengevaluasi Draft Novel

Ada sebuah draft yang saya pernah tuliskan. Hasil dari pertarungan saya di lomba menulis novel. Ada tujuh tahapan seleksi yang harus saya lalui. Saat itu, belum untuk bertarget menang, tetapi lebih kepada ingin melihat sejauh mana kemampuan saya saat ini, sebagai pemula. Akhirnya, saya kalah di tahapan seleksi ke-4. Namun selama itu, saya  jadi bisa memperoleh sedikit gambaran mengenai tahapan seleksi oleh editor. Banyak yang memang harus saya perbaiki. Di waktu jeda inilah, saya sesekali melihat kembali ke draft lama saya, dan melakukan evaluasi.

Stres juga ternyata. Merevisi karya sendiri, menimbulkan rasa yang lebih berat dibandingkan dikoreksi orang lain. Selain harus membacanya berulang-ulang, rasanya juga seperti selalu saja ada kesalahan. Selalu saja ada yang kurang pas. Apalagi jika menemukan sebuah celah, atau alur yang ingin saya ubah. Tapi, bukankah itu sama saja akan mementahkan naskah jadi seperti awal lagi? Tidak mudah menjadi ingin sempurna, sungguh.

  1. Bergabung di komunitas WIFI Jakarta

Setelah berhasil melalui tantangan menulis di 30DWC Jilid 11, maka saya diijinkan untuk masuk ke grup alumni yang dibagi dalam Region, sesuai domisili. WiFI (Writer Fighter Indonesia) namanya. Saya bergabung ke dalam Region Jakarta. Di sana, bertemu kembali dengan para penulis yang sudah lebih senior, sudah lebih banyak karyanya. Wow!

Di sini, diberlakukan peraturan untuk OWOP (One Week One Post), artinya harus menyetorkan tulisan minimal satu tulisan setiap minggu. Hal ini dilakukan untuk membuat fighters tetap aktif menulis, meskipun hanya satu tulisan saja dalam seminggu. Sekali lagi, lingkungan bertumbuh yang kondusif berperan penting untuk menjaga semangat penulis. Tidak harus, tapi itu sangat membantu.

(bersambung)

Advertisements

Syukur Sederhana

Sebenarnya permintaan Tuhan itu sederhana. Bersyukurlah pada-Ku, maka akan Aku tambahkan nikmat-Ku untukmu. Namun dalam kenyataannya, banyak sekali di antara kita, manusia, yang tidak menyadarinya. Atau sebenarnya tahu, tetapi lupa. Padahal, jika kita menghitung jumlah nikmat Tuhan pada kita setiap hari, setiap detik, tak akan mampu kita menghitungnya.

Kucoba tuliskan satu saja hal yang membuatku bersyukur hari ini, dari sekian banyak yang kutuliskan. Sore ini, jadwalku mengantar anak untuk les menggambar manga. Kebetulan, aku bertemu dengan pemilik usahanya. Beliau jarang ada. Moment semesta yang mempertemukan kami saat itu, kugunakan untuk ngobrol ringan saja. Dari sekian bahan obrolan yang kami bicarakan, ada satu hal menarik yang akhirnya kuketahui. Beliau sangat suka membaca. Wah … hal yang akan sangat cocok dengan saya juga.

Saya penulis, ehm sorry … lebih tepatnya sedang belajar untuk menjadi penulis. Membaca adalah syarat mutlak untuk menjadi seorang penulis yang berkualitas. Menulis adalah sebuah aktivitas yang lebih sulit daripada membaca. Jika aktivitas membaca, Anda ingin menyerap ilmu atau pun pandangan orang untuk Anda simpan dan masukkan ke dalam memori Anda sendiri. Membuat sebuah pengalaman batin sendiri. Untuk mencapai itu, Anda tidak perlu menulis. Hal ini berbeda dengan aktivitas menulis. Menulis tidak bisa dilakukan tanpa membaca. Karena membaca adalah ‘asupan gizi’ yang dibutuhkan untuk bisa membuat materi dalam tulisan. Semakin banyak Anda membaca, maka akan semakin bagus kualitas tulisan Anda.

Tapi saya bahagia hari ini, karena saya bertemu dengan seorang lagi kawan baru yang suka dalam hal literasi. Baik itu membaca atau menulis. Bagi saya sudah sangat jarang seseorang dengan hobi membaca atau menulis hidup dalam era saat ini. Di mana semua orang seringkali hanya mengejar apa yang hanya terlihat saja, misal kecantikan fisik, dan kekayaan, tetapi lupa pada bagaimana mengupgrade keluasan berpikir dan imajinasi. Baik, anggaplah itu mungkin hanya pendapat saya saja. Tapi kenyataannya, kawan-kawan literasi saya berpendapat sama dan mereka semua, secara fisik sangat cantik. Jadi saya semakin bangga, bahwa banyak wanita cantik yang juga sangat pintar.

Menulis memang tidak menjadi pilihan setiap orang, karena konsekuensinya yang terasa lebih berat dibandingkan hanya sebagai seorang pembaca saja. Namun saya tetap memilih untuk menulis. Saya merasa bahwa dengan menulis saya bisa menjadi lebih bermanfaat. Baik kepada diri sendiri maupun orang lain. Namun berjuang untuk bisa mengimbangkan menulis dengan membaca itu sangat tidak mudah. Itulah kenapa saya bersyukur bertemu kawan baru saya. Selain karena kebiasaan itu semakin sulit ditemukan, pertemuan ini juga seakan menjawab kegelisahan dalam diri saya yang menginginkan adanya partner dalam membaca untuk bisa saling menyemangati. Dan kini, sore ini, saya menemukannya. Biarlah saya saja yang menjadi penulis, tapi dalam hal membaca, ku ingin berkawan dengannya. Boleh, kan?

Ternging suara Tuhan di telinga, Bersyukurlah pada-Ku, maka akan Aku tambahkan nikmat-Ku untukmu.

Ketika Asa Diberkati Semesta

Kemana saja aku selama ini ….

Pertanyaan itu kadang menghampiri pikiranku, di sela-sela hari. Banyak sekali yang baru kutemukan di usia ini, dan itu membuatku jadi baru saja memulai.

Aku kadang berpikir, bahwa dalam hidup ini, yang paling berat bukanlah menemukan mimpi. Tapi membangun dan memperjuangkannya hingga nanti.

Kadang, dalam hati juga aku bertanya, apa yang kusebut sebagai mimpi? Pernahkah aku bermimpi? Jika pernah, apa, dan sudah sampai di mana perjalanannya.

Dalam sendiri, aku coba bertanya suatu kali. Aku menyadari bahwa ternyata lebih mudah untuk mengikuti mimpi manusia lainnya, dibandingkan bermimpi sendiri, lantas memperjuangkannya.

Pertanyaan selanjutnya, untuk apa? Untuk siapa? Dan, bahagiakah?

Hingga datang suatu masa, di mana aku teringat kembali pada apa yang pernah kukatakan, sekitar 20 tahunan lalu pada ibuku. Waktu itu, kutulis sebuah cerpen pertamaku. Kisah seorang gadis yang tak mampu mengungkapkan isi hatinya, pada laki-laki yang dicintainya. Hanya bisa memandang dari kejauhan, dan menikmati senyumnya yang terpancar.

Apakah itu kisah nyata? Haha..

Kuingat saat itu, begitu sulit kulukiskan apa yang ingin kukatakan ke dalam sebuah cerita. Bayangan yang membayang, ide yang berputar, tak mampu kutuliskan dalam barisan kata. Lalu apa akhirnya? Cerpen itu berakhir dalam ending yang sangat biasa.

Kudengar suara ibu memanggil dari ruang makan. Memintaku beranjak dari kamar, yang ternyata telah kudiami sejak beberapa jam berjalan. Sebuah cerpen, dengan cerita biasa, dan ending yang sangat biasa juga. Tidak mengesankan.

Lalu aku berpikir. Kenapa cerita cinta harus selalu menyedihkan? Bukankah banyak juga yang berakhir dengan kebahagiaan? Aku sendiri, bagaimana akan berakhir? Tak bisa ku jawab saat itu juga tentunya.

Aku merenung, kenapa tak kuciptakan sendiri imajinasiku? Bahwa meskipun tak tahu jalan kisahku, kubisa membuat sebuah akhir yang sesuai mauku. Dalam siratan kata di buku-buku.

Kudengar ibuku memanggil lagi, untuk yang kedua kali.

“Iya, Bu … tunggu, sebentar lagi. Silakan makan saja dulu, aku menyusul.” sahutku yang masih tenggelam dalam pikiran.

Kuputuskan mengetik satu lembar putih lagi. Namun, ada yang berbeda kali ini. Kisahnya bukan sebuah curahan hati, tetapi sebuah motivasi. Motivasi untuk tetap mencintai, motivasi untuk tetap menunggu pujaan hati, suatu hari akan datang memberikan hati.

Haha … sungguh, masih sangat kekanak-kanakan, bukan? Maklum aku masih anak putih biru waktu itu. Di mana masalah terbesar adalah cinta yang tak terbalaskan. Ehm … benarkah itu hanya masalah anak-anak? Atau hingga kapan pun, kisah cinta sejenis itu akan tetap selalu memilukan? Hiks ….

Tiba-tiba pintu diketuk, “Ayo, makan dulu, nanti dilanjutkan lagi.” ucap ibuku dari balik pintu.

“Oh ya, Bu. Sudah selesai, kok.” sahutku sambil membuka pintu dan menemui ibuku.

“Menulis? Tentang apa?” tanya ibuku sambil mengikuti langkahku dari belakang menuju ruang makan.

“Bu, aku ingin menjadi penulis. Suatu hari nanti, aku bisa kan jadi penulis? Tapi aku ingin bukuku nanti adalah kisah-kisah yang membuat orang semangat. Penuh motivasi. Gimana?” sahutku menjelaskan sambil mengambil nasi untuk kutaruh di piring.

“Ibu doakan, aamiin. Boleh saja, apapun yang kau mau, lakukan. Ibu percaya, kamu bisa.” Jawab ibuku sambil duduk di kursi sebelahku.

***

Waktu berlalu, ke masa-masa di mana aku harus mengejar banyak hal yang orang lain bilang bisa menjanjikan kesuksesan. Aku sekolah, lantas kuliah, dan mulai bekerja. Ku lupakan apa yang pernah kukatakan pada ibu saat remaja. Dan ketika tersadar, aku sudah di sini. Di usia ini. Di detik ini. Tanpa pernah melakukan apa-apa pada asa yang sempat kuteriakkan pada dunia.

Aku muali berpikir kembali, apakah itu yang disebut panggilan hati? Apakah itu yang kuyakini sebagai mimpi? Tapi, sudah terlambatkah untuk memulai? Apakah masih bisa kulanjutkan, apa yang kuinginkan puluhan tahun silam? Lalu, dari mana aku harus memulainya? Kawan? Tak banyak yang punya asa seperti yang kupunya. Lingkungan sekitar? Tak ada yang akrab dengan dunia menulis juga.

Sungguh, aku tak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaanku sendiri itu.

Ada satu titik, di mana aku benar-benar meminta pada Tuhan, apa jawabannya. Ku ingin Dia tunjukkan, jika memang itu membuatku jadi manusia yang lebih berguna.

Ajaib. Itu yang kurasakan, ketika yang kurasa tak mungkin, tiba-tiba hadir di depan mata. Aku tak tahu bagaimana semua bisa terjadi. Rasanya tiba-tiba saja semesta merestui. Tanpa kusangka, ada beberapa kesempatan yang membuatku bertemu dengan kawan yang berhobi sama. Akhirnya, bergabunglah aku di dalam komunitas pecinta aksara.

Pelan-pelan, Tuhan mengajakku mencoba lebih banyak hal. Dan semuanya, semuanya, sesuai apa yang kupinta. Rasanya tiba-tiba saja aku diperkenalkan kepada kelas-kelas menulis, kelas-kelas mentoring menulis, dan terakhir, di kelas-kelas tantangan menulis.

Aku pikir, ini pasti bukanlah kebetulan. Karena kebetulan memang tak pernah ada. Bahkan setiap daun yang jatuh, terjadi atas restu-Nya.

Ini, aku ingat benar, kapan aku pernah meminta ini terjadi. Hatiku yang memintanya. Doaku yang mengharapkan petunjuk-Nya. Akhirnya, semesta memberikan jalannya. Terima kasih Alloh, Engkau selalu luar biasa. Satu ‘keajaiban’ telah kau hadirkan kembali dalam kehidupan hamba.

Sekarang, di sinilah aku. Bersama kalian, teman-teman penulisku. Sahabat-sahabat seperjuanganku. Kita bersama dalam sebuah kisah. Merangkai mimpi, dan memperjuangkannya.

Karena seperti halnya cinta, kadang perjuangan yang membuat semesta bekerja seperti keinginan.

Bukan sebuah cinta tanpa harapan, karena tak pernah diungkapkan.

Terima kasih, Ibu ….

Aku percaya, ini berkat doamu.

Feedback, Siapa Takut?

Sebagai seorang penulis, sering sekali mendengar kata feedback. Kadang diminta untuk memberikan feedback, kadang mendapatkan feedback. Tapi sebenarnya apa sih, feedback itu? Dan bagaimana caranya memberikan feedback yang baik? Sebagai penulis, harus bisa memahami dan mengetahui tekniknya dengan benar.

Feedback, sebenarnya berasal dari dua kata. Yaitu, feed yang berarti asupan, atau memberi makan kepada sesuatu, dan kata back yang artinya kembali (ke diri sendiri). Jadi secara harfiah, feedback adalah asupan makanan yang diberikan kepada sesuatu, tetapi apa yang diberikan tersebut akan kembali kepada diri sendiri. Sulit dipahami ya jika secara harfiah? Baiklah. Jika begitu kita memahami istilah feedback dari pemaknaan saja, yaitu umpan balik, atau lebih familiar lagi, feedback adalah tanggapan.

Maka secara pemaknaan, feedback adalah tanggapan yang diberikan oleh seorang komunikan (penerima pesan) untuk seorang komunikator (pemberi pesan) menyampaikan pesannya. Feedback yang dihasilkan dari proses komunikasi, memberikan gambaran kepada komunikator tentang hasil komunikasi yang dilakukan. Feedback bisa berupa respon positif atau negatif.

Dalam lingkup sebagai penulis, yang sering mendapat feedback untuk tulisan sendiri atau diminta memberikan feedback pada tulisan orang lain, tentunya ketrampilan dalam feedback adalah salah satu hal yang sebaiknya dikuasai. Tapi sebenarnya, bagaimana cara menjadi ‘feedbacker’ yang baik? Ada hal-hal yang bisa menjadi acuan. Antara lain :

  1. Apresiasi atau Pujian

Mulailah dengan memuji penulis pada apa yang telah mereka usahakan. Hal itu sangat penting untuk mengetahui bahwa Anda menyukai sebagian dari cerita mereka. Berikan apresiasi misal bagaimana plot, karakter penokohan, ide cerita, dan sebagainya. Ini mungkin akan terlihat bahwa Anda mengikuti ‘ego’ dari penulis, tapi ini juga berperan dalam proses untuk mengkritik.

Pertama-tama, sangat penting bagi pemberi feedback untuk membuat penerima feedback merasa bahwa Anda berada di sisi mereka. Jika Anda langsung memulai dengan sebuah kritik yang berat, sangat mudah bagi penerima feedback untuk bersikap defensive atau anti.

Dengan mengawali feedback dari pujian, akan membuat penulis lain merasa bahwa kritik yang akan disampaikan selanjutnya bertujuan untuk membantu mereka agar menghasilkan karya yang terbaik.

  1. Kritik

Kritik. Inilah ‘daging’ dalam proses feedback yang dilakukan dalam proses komunikasi. Ada kunci yang sangat penting dari sebuah kritik, yaitu bermanfaat, atau bersifat membangun. Tidak masalah jika apa yang disampaikan sebagai kritik bukan sesuatu yang dianggap umum, atau aspek yang disepakati oleh sebagian besar orang. Namun, tidak ada alasan untuk ‘mengomeli’ penulis. Kemungkinan mereka juga bekerja keras untuk karya mereka, seperti yang Anda lakukan pada karya Anda. Sangat memungkinkan untuk menunjukkan masalah tanpa harus membuat merasa bahwa mereka adalah penulis yang buruk.

Salah satu cara untuk membuat sebuah kritik yang baik, adalah menghindari membuat penilaian atau pernyataan, tetapi justru mengajukan pertanyaan. Misal, “Saya tidak suka karakter tokoh A di dalam tulisan ini. Membuat saya merasa sangat bodoh.” Daripada menggunakan kalimat tersebut, mungkin lebih baik mengubahnya menjadi “Apakah karakter dalam tokoh A ini membuat pembaca berpikir menjadi bodoh? Jika iya, maka sebaiknya Anda mengubahnya.”

Dengan cara ini, memang akan berbeda rasanya seperti membuat pernyataan (judgement). Rasanya tidak akan terlalu kuat seperti jika Anda yang membuat ‘keputusan’. Namun kembali lagi, ini adalah karyanya, bukan karya Anda. Sehingga lebih baik, Anda bertindak sebagai pihak yang menunjukkan masalah, tanpa berperan sebagai pihak yang membuat keputusan.

Kritik yang sukses harus mengilhami penulis untuk kembali bekerja dan membuat beberapa revisi perubahan yang menarik, tidak justru membuat penulis enggan untuk melanjutkannya.

  1. Saran

Dalam lingkup saran, Anda bisa menawarkan beberapa saran untuk solusi dari masalah yang Anda tunjukkan di dalam kritik. Hal ini bisa membantu penulis lain untuk mendapatkan beberapa gagasan baru, atau solusi dari masalah. Namun sekali lagi perlu diingat, ini bukan karya Anda. Ini bukan tulisan Anda. Ini bukan buku Anda. Buatlah saran atau gagasan untuk dipertimbangkan, tetapi hormati kenyataan bahwa merekalah yang akan membuat keputusan akhir. 

  1. Jangan Berbohong!

Bersikap baik dan memberi semangat adalah sangat penting. Satu lagi yang penting adalah, jangan berbohong! Penilaian yang jujur sangat penting saat memberikan feedback.

Ada hal menarik yang saya pelajari. Jika suatu saat, anda diminta untuk memberikan feedback pada sebuah buku secara keseluruhan, tetapi tidak Anda temukan kekuatan atau saran perbaikan, kecuali ‘menulis ulang’, maka mungkin Anda bukanlah orang yang tepat untuk project tersebut.  Saat itu terjadi, sebaiknya katakan pada penulis, bahwa ini bukanlah ‘tipikal’ jenis buku Anda, dan Anda merasa tidak cukup mampu membantu memberikan feedback.

Begitupun saat Anda dan kawan Anda adalah masih sesama rekan penulis amatir yang masih saling membutuhkan masukan pada karya masing-masing. Jika hal itu terjadi, katakan bahwa ini bukan tipe tulisan Anda, dan cukup sulit bagi Anda untuk memberikan saran yang bermanfaat bagi si penulis.

Penulis mungkin akan terluka dengan sikap Anda, tapi itu akan lebih baik daripada penulis merasa terhalangi oleh feedback Anda, yang bisa saja justru membuat mereka ingin menyerah.

Tapi bagaimana jika diminta tetap untuk memberikan feedback? Katakan bahwa Anda akan bersedia untuk memberikan feedback, tetapi penilaiannya berdasarkan subjektivitas Anda. Apakah rekan Anda bisa menerima? Jika iya, maka lanjutkan. Jika tidak, ya hentikan.

Semoga keempat hal di atas bisa dijadikan pertimbangan oleh rekan sesama penulis saat dihadapkan pada situasi untuk memberikan atau menerima feedback dari penulis lain, atau dari pembaca sekalipun. Memberikan feedback adalah tindakan mengurai sesuatu yang (mungkin) rumit untuk menolong penulis mencapai hasil yang terbaik. Meminta feedback juga membantu untuk mendapatkan sudut pandang baru, atau gagasan yang lain. Kritik juga bisa dirasakan sebagai sesuatu yang jujur, kritis, tetapi tetap menyenangkan. Kejujuran disertai dengan kebaikan, akan membuat sebuah karya, tersaji sempurna!

Salam Literasi!

Setitik Nila, Dalam Susu Sebelanga

“Pak, rumah Anda terbakar!!!” suara satpam perumahan terdengar dari ujung telepon, menghentikan laju mobilku ke arah kantor yang berjarak 45 menit dari rumah.

“APA??” ucapku kaget hingga hampir menabrak mobil di depan. Segera kupinggirkan mobil, dan kulanjutkan pembicaraan.

“Ya, halo. Terbakar??? Saya pulang sekarang!!” ucapku sambil memutar setir, dan kembali ke rumah.

Aku shock! Gelap. Kulajukan kendaraan dengan kecepatan lebih dari setengah bagian, bagai kesetanan. Berlari dengan sangat tergesa, hingga kubanting saat menutup pintu mobil yang kuparkir di luar kerumunan orang.

Ramai. Petugas pemadam kebakaran sudah sibuk di tengah usaha pemadaman. Para tetangga membantu. Sebagian mengambil air dari rumah-rumah, sigap menyalurkan dengan ember-ember maupun selang.

Aku terbelalak kaku. Gemetar hingga tak bisa kurasakan ujung kakiku. Sejenak terhuyung sebelum akhirnya ditangkap oleh seseorang.

“Pak, rumah bapak terbakar. Baru saja, tapi api sudah menjalar sedemikian cepatnya.” jelas Sarip, pemilik bengkel motor di seberang rumah.

“….” hanya kutengok wajahnya, tanpa bisa berkata apa-apa.

Dari kejauhan, kulihat api masih besar, melalap sebagian kamar depan. Asap sudah membubung tinggi dan tebal.

Kulihat ada batu cukup besar di bawah kakiku. Mau kuapakan?

Ingin rasanya kuhantamkan ia ke kepalaku. Mencoba mati, atau ingin menyadarkanku dari mimpi. Detik ini masih tak bisa kupercayai, tentang apa yang kualami.

Logikaku sebagai laki-laki bicara, “Gila kau, masa mau mati. Duduk saja dulu di situ, lepas sepatumu, dan bantu mereka memadamkan api itu.” Begitu sarannya.

Oke, akhirnya aku kembali ke dunia nyata. Duduk, dan berpikir. Apa yang sudah aku lakukan tadi, sehingga bisa terjadi kebakaran ini? Seingatku, tak ada aku menyalakan kompor pagi ini. setrika? Tidak mungkin … semua sudah kumatikan sebelum berangkat.

“Yaa Tuhan … Dona!!” tiba-tiba aku tersentak kaget, mengingat apa yang terjadi pada kucingku, di mana dia sekarang.

Segera aku berlari, menyibak kerumunann orang. Mendekati rumahku yang sebagian kamar depan sudah berwarna gelap menjadi arang.

“Dona! Dona!” panggilku ke sekeliling. Mencari tahu di manakah Dona kucingku bersembunyi. Rasa takut dan sedih menyelinap. Takut untuk kupikirkan, dan takut untuk kurasakan.

Hening. Tak ada suara Dona yang biasanya selalu Miaaww ketika kupanggil. Dona, sekitar empat hari lalu baru saja kuadopsi dari seorang kawan.

***

“Tak mampu mengurusnya. Kau bawa saja ia pulang,” katanya yang punya 24 ekor kucing peliharaan di rumahnya.

“Ya … tapi gimana nih makannya? Mau gak dia makan ikan asin campur nasi seperti kucing kampung itu?”

“Ikan asin? Mana dia mau. Aku kasih makan dia ikan tongkol, seminggu 3 kali. Selebihnya kasih makan yang di pet shop itu bisa. Yaa paling 200 ribu cukup lah kau untuk kasih makan dia seminggu. Muraah.” kata kawanku setengah membujuk.

“Haah, tongkol? Gaya juga ya kucing sekarang. Makanan di pet shop? Astaagaaa … makanan kucing pun sudah made in America punya.” Nada bicaraku yang kaget membuatnya tertawa.

“Ahh … malas ahh! Aku tak sempat juga mengurusnya.” tolakku saat itu, sambil menatap tingkah polah Dona yang naik-naik ke atas kursi ruang tamu.

“Kalo gitu, ya sudah. Nanti biar kujual saja. Aku punya sembilan nih yang jenisnya sama dengan Dona. Bosen.” jelas kawanku, sambil siap membagikan tongkol yang sudah dicampurnya dengan nasi.

Gila, pikirku. Rumah ini lebih mirip rumah kucing dibandingkan dengan rumah manusia. Pikiranku membaca dari apa yang kulihat dari lensa mata.

Kutatap Dona saat itu. Bulunya yang tebal,  berwarna coklat muda, halus, dan polos sejenak membuatku terkesima. Tampaknya ia kucing yang manis. Tak terlalu merepotkan, jika kurawat dia. Toh hanya satu ekor, tak terlalu pusing aku nantinya.

Sejenak pandanganku beralih ke sebagian kucing yang tiduran anteng di kotak-kotak sejenis kardus.

“Ehm … itu mereka tidurnya di situ ya? Kalo malam apakah pindah ke kandang, atau tidur di situ saja?” tanyaku. Dona tampak asik memainkan bola kuning dengan kaki depannya.

“Oh yaa … mereka suka tidur di situ. Dulunya aku masukkan kandang dan rumah-rumahan. Tapi mereka sepertinya lebih suka di situ. Ya sudah, kubiarkan.” Jawab kawanku sambil terus membagikan tongkol di piring ke-12. Kucing-kucing lain mengerumuni kakinya, meminta jatah. Padahal piring-piring sudah diisi dengan makanan, tetap saja mereka berebut meminta. Tapi aneh, Dona tak terlalu peduli dengan itu. Ia masih sibuk bermain bola.

Kulihat lagi Dona, kupikir-pikir lagi. Apakah sebaiknya memang kubawa ia pulang? Tampaknya aku akan suka. Dalam hati, aku menyepakati. Akhirnya kuputuskan untuk mengatakan “iya”.

***

“Pak, ini kucing Anda?” suara serak dari belakang membuyarkan lamunanku.

“Ohh … iya, Pak. Terima kasih, Pak. Saya mencarinya ke mana-mana.” Jawabku pada Pak Asep, tetangga dari rumah pojok sebelah kanan blokku.

Kulihat ke arah rumahku, tampaknya api sudah reda. Dalam kalutku, masih ada yang bisa kusyukuri. Yang terbakar hanya kamar depan. Artinya malam ini, aku masih bisa tidur di kamar belakang. Dan yang terpenting, Dona selamat, pikirku.

Hampir sepanjang sisa hari itu, aku dibantu oleh warga, membereskan bekas kebakaran. Kulihat ke arah jam dinding yang masih menggantung di atas ruang makan,

23.43 … hampir tengah malam.

Kucoba untuk membaringkan tubuhku yang sudah tak punya tenaga ini. Kuangkat Dona dari lantai, dan kunaikkan dia ke atas kasur tidur kami.

Ya, rumah kotak kardusnya memang sudah kubuang ke perapian dua hari lalu. Baunya sungguh tidak enak. Sepertinya itu bau sisa air kencing Dona dan bekas makanannya yang tercecer. Tapi sekarang, Dona punya tempat baru yang lebih nyaman. Tidur di kasur empuk, di ujung ranjang ini. Setiap malam ku taruh dia di situ. Agar hangat, begitu pikirku.

***

Rasa perutku tiba-tiba tak enak. Sepertinya aku perlu ke kamar mandi di tengah malam buta. Aduhh, sungguh malas lah aku urusan begini. Beberapa kali, aku berusaha menepiskan rasa, menggeliat ke kiri, lalu ke kanan lagi. Tapi rasa dalam perut semakin tak kuasa untuk kutahan. Sedikit kubuka mata, mencari-cari ini sudah jam berapa. Apakah sudah pagi, atau masih lama aku menanti matahari?

Namun, mataku tiba-tiba terpaku pada sesuatu.

DONA. Berdiri di dekat jendela. Berdiri. Dia berdiri.

Apa itu di tangannya?? Ku coba memicingkan mata agar tampak lebih jelas apa yang kulihat.

Korek api..??

HAHHH!! KOREK API!

Sebelum ku tersadar sungguh, ku lihat Dona menggesekkan korek api itu, dan … menyala!

“DONA!” Ku panggil ia, keras!

Ia menoleh ke arahku, menyeringai dalam senyumnya yang manis tapi bengis. Tangannya justru dengan sengaja malah menyulutkan api itu, ke tirai warna putih kelabu yang menggantung.

“DONA!” Aku masih memanggilnya. Masih tak percaya pada apa yang ku lihat. Kali ini aku dibuat tak percaya juga pada apa yang kudengar.

“Rasakan, Kau! Sekarang kau akan tahu, bagaimana rasanya kehilangan rumahmu. Kenanganmu juga akan mati di sini, bersama ragamu.” Bisik Dona pelan, tapi masih sanggup kudengar.

Aku terdiam, kaku. Tak ada kata yang bisa ku ucapkan.

Dona …. Hanya itu yang sanggup kubisikkan pada hatiku. Mataku hanya menatap kosong ketika Dona melompat keluar jendela, menembus gelapnya malam.

Api mulai merambat, menjalar membakar ruangan.

Aku masih juga terpaku di situ beberapa detik, sebelum akhirnya tersadar harus keluar dari ruangan ini.

Segera kusingkapkan selimut yang masih membungkus kakiku untuk berlari ke arah pintu.

Klek … klek … klek …

Apa ini? Kenapa tak bisa kubuka?? Pintunya terkunci!

Wuzzzzz … Angin panas menyapu punggungku. Saat itulah baru aku tahu, rasanya dijemput maut yang selalu kutakuti sejak dulu.

Sekilas ingatanku melayang pada seorang kawan di sudut kota, pemilik Dona sebelumnya.

Ketika Takdir Menyapa

Selasa, 20 Februari 2018

Tepat hari ke-30 pertemuan takdirku di sini, 30 Days Writing Challenge, Jilid 11.  Lucu rasanya saat  mencoba mengingat kembali bagaimana aku, akhirnya bergabung di dalam grup ini.

Waktu itu, sekitar tiga bulan sejak aku bergabung menjadi kontributor media online Bernas.id, ternyata aku memiliki performance yang sangat buruk. Tidak produktif untuk menulis. Namun, hal itu bukan tanpa alasan. Aku mengalami yang penulis sering bilang, Writer’s  Block yang disebabkan karena tulisanku mendapatkan remark  Tidak Layak Tayang (Tidak Layak Tayang). Akhirnya hal kecil itu yang membuatku berhenti. Hiks ….

Akibat dari mutung-ku itulah yang akhirnya membuatku terancam untuk dikeluarkan dari grup Creative Writer Academy, tempatku selama ini menimba ilmu dan sebagai wadah sesama kontributor Bernas.id. Sebelum dikeluarkan, ternyata ada masa pemutihan yang dilakukan oleh mentor, yaitu dengan membayar denda sejumlah artikel. Melihat performance-ku yang sangat buruk, sudah tentu banyak artikel yang harus aku setorkan. Saat kulihat, wow 20 artikel dalam 1 minggu! Hahaha…

Parahnya, hal itu baru kuketahui setelah hari ke-4, sehingga waktuku  hanya tersisa 3 hari lagi. 20 artikel, 3 hari, berarti harus membuat minimal 6 artikel dalam 1 hari. Woww!! Menulis 1 artikel saja sulit, apalagi 6. Namun, itu adalah konsekuensi, dan aku harus bisa lakukan jika tak ingin tersingkir.

Dengan perjuangan yang sungguh luar biasa, aku berusaha sangat keras. Namun, dalam keterbatasan waktu, hanya ada 16 artikel yang mampu kuselesaikan. Rasa untuk masih ingin bertahan, membuatku tidak bisa menyerah begitu saja. Jika aku hanya pasrah, pastilah sudah jelas nasibku selanjutnya. Akhirnya inilah justru yang membawaku ke 30 Days Writing Challenge, Jilid 11.

Bagaimana caraku untuk lolos dari penyisihan? Saya kontak langsung mentor kami, Kak Rezky Firmansyah. Selama ini beliau tampil sesekali saja, sehingga sangat jarang berkomunikasi. Saya meminta kepada beliau untuk memberikan toleransi waktu untuk 4 artikel. Saat ditanya butuh berapa hari, saya jawab cukup 2 hari. Oke, deal!

Komunikasi akhirnya membuat saya ingin lebih banyak bertanya, dan di situlah beliau mengenalkan pada saya tentang 30 Days Writing Challenge, Jilid 11. Sebenarnya saya sudah pernah diinfo mengenai DWC ini, tetapi masih belum tertarik untuk mengikuti. Namun, melalui penjelasan Kak Rezky, akhirnya saya putuskan untuk IKUT!

Akhirnya hari itu datang juga. Hari pertama di kelas 30DWC, Jilid 11 ….

Sekilas, hmm … mayan, sepertinya terorganisir, batinku setelah mendapatkan penjelasan tentang Empire, Squad, Guardian, Fighters, penjelasan tentang ‘aturan main’ grup, serta jadwal-jadwal kegiatan. Oke, cukup menarik, batinku.

Hari pertama langsung dimulai untuk menulis, dan dibawah arahan Guardian, maka tim Squad kami, Squad 10, diwajibkan menyetorkan link tulisan. Saya adalah tipikal yang tidak terlalu suka beramah tamah di awal, haha … Bukan, bukan karena sombong atau sejenisnya, tetapi tidak tahu bagaimana memulai, haha ….

Untung akhir satu karakter spesial muncul, Kak Butet, namanya. Dia memang menjadi pintu pembuka dalam Squad 10. Tipikalnya yang ceria, dan supel, membuat Squad 10 menjadi seperti keluarga pada akhirnya. Dia seperti bola karet yang memantul-mantul di lantai ruangan. Warnanya kadang merah, kuning, kadang juga hijau. Lucu sekali melihatnya. Akhirnya semua anggota squad melihat ke arah bola itu, termasuk saya yang awalnya tak peduli, dan hanya duduk di luar, asik sendiri.

Satu per satu akhirnya kami mengenal karakter masing-masing. Tidak ada kompetisi di antara kami para fighters. Selalu saling support dan membantu untuk tercapainya tujuan akhir bersama. Dalam 30DWC11 ini, saya sangat luar biasa mengapresiasi kerja sama tim. Tak akan mungkin tanpa karakter-karakter ini, akan bisa menjadi sebuah tim yang solid.

Guardian kami, Bu Muhib adalah orang yang sangat bijaksana, terlihat kalem, tetapi tegas. Memberikan arahan dan masukan yang baik untuk grup. Seperti seharusnya seorang leader, beliau adalah sosok ketua kelas yang hebat! Dalam ketegasannya yang kalem, beliau tetap  menjadi seorang ibu yang selalu menerima anaknya, dengan apa adanya. Tak lupa, pasti selalu memberikan dukungan kepada kami para anggotanya. Luar biasa!

Butet, tipikal gadis yang ceria dan mudah mencairkan suasana. Membuat kami semua selalu bisa tertawa dalam tekanan yang mungkin menyita pikiran dan batin dalam kehidupan nyata. Kak Butet mampu menjadi warna, menjadi pelangi, dan penyejuk di dalam squad kami. Hebat!

Yulia, gadis mahasiswa, lincah, dan ceria. Masih seperti kebanyakan anak muda di usianya. Ketika masalah terbesar sudah bukan hanya pada matematika, tetapi pada kisah cinta yang menunggu endingnya ke mana, haha…

Yoga, satu-satunya laki-laki di squad kami. Yang masih berusaha berjuang untuk menjadi ‘seseorang’. Yang kisah cintanya juga tak kalah memilukan, haha… Namun, tetap semangatlah untuk masa depanmu, nak … Agar siapapun yang pernah mengecewakanmu di masa lalu, akan menyesal di masa depan. Salah satu yang catat dari Yoga adalah sudah mengikuti kelas DWC sampai tiga kali, tetapi baru kali ini aksi menulis 30 hari tanpa henti, sanggup untuk diakhiri dengan manis. Good job!

Siti Romlah, dan Nur Padilah, dua dari anggota squad yang paling terlihat kalem. Maklum, kami hanya bisa meraba dalam dunia maya, tanpa pernah bertemu untuk berbicara. Dua orang yang sangat saya apresiasi juga bahwa dalam Squad 10 ini mampu menyelesaikan semua tantangan tanpa banyak bicara.

Ibu Desi, senior kami dalam usia khususnya. Keistimewaannya adalah semangat yang tidak banyak dimiliki oleh orang-orang selevelnya. Luar biasaaaa menginspirasi. Saya, yang katanya masih muda, masih banyak alasan untuk tidak bisa melakukan banyak hal. Malu sama Bu Desi ….

Saya, hanya orang yang ingin melawan diri saya sendiri. Selama ini, hal yang paling sulit adalah mengalahkan diri saya sendiri yang malas, penuh keraguan, ketakutan, dan terlalu santai menghadapi hari-hari. Padahal waktu tak bisa kembali. Sungguh, bukankah itu sangat rugi?

Akhirnya saya merasa bahwa ini sangat tidak sehat. Saya adalah ibu, saya adalah istri. Apa yang bisa saya harapkan dari sebuah keluarga yang tokoh utamanya tidak mau berkembang dan berpikiran maju? Maka, bagi saya 30DWC ini adalah salah satu wadah saya untuk melawan diri saya sendiri. Saya ingin mendapatkan energi dari lingkungan sebanyak-banyaknya untuk membantu pikiran saya agar tetap bisa bertumbuh.

Begitulah…

Banyak hal yang akhirnya saya dapatkan saat di DWC11 ini. Lalu apa kabar tentang tulisan saya? Apakah tujuan yang saya inginkan sudah tercapai?

Ada satu yang memang tercapai, yaitu menulis tanpa henti membuat akhirnya menjadikan menulis sebagai sebuah kebiasaan. Namun pertanyaannya, seberapa bagus kualitasnya? Yang itu menurut saya masih harus saya tanyakan. Kepada diri sendiri dan kepada pembaca.

Ada kalanya, saya ingin membuat sebuah tulisan gue banget! dalam tulisan yang kutorehkan. Namun, bagaimana bisa? Karakter tulisan saya saja masih belum bisa saya temukan. Jika pun sudah, apakah ada pembedanya dengan tulisan yang lain? Bagi saya belum.

Bagaimana mau jadi penulis handal, jika karakter tulisan saja tak mampu kita temukan. Itu yang menjadi pertanyaan terbesar saya saat  ini.

Lalu bagaimana?

Jawaban saya, pastinya terdengar klise, dan ingin terlihat mudah. Belajar.

Ahh … membosankan, bukan?

Jadi mau apa?

Untuk itu saya sedikit bermimpi. Bahwa saya bisa mendapatkan kelas lanjutan dari DWC ini. Kelas yang lebih membantu mengarahkan saya untuk menggali kekurangan saya, dan melatih kekuatan saya.

Dalam satu kesempatan yang diadakan oleh mentor malam ini, saya menyampaikan mimpi saya itu.

Namun, saya paham bahwa perumusan sebuah konsep pasti membutuhkan cerita dan pertimbangan yang panjang.

Saya, sebagai pemimpi, ingin mencoba mengawalinya.

Selamat berjuang bersama, teman-teman ….

Semoga kesuksesan kita di masa depan akan menjadi manfaat bagi lebih banyak orang.

Saya tak akan bilang, semoga sukses pada kalian.

Karena sukses bukan lagi impian, sukses bukan lagi pilihan. Tapi sukses, adalah sebuah keharusan.

Keep On Fire, fighters ….

Doa terbaik untuk kalian semua, di manapun berada.