Sekolah, Untuk Apa?

Pendidikan, adalah hal yang selalu saya sepakati untuk terus didengungkan. Bukan hanya karena latar belakang saya yang dari keluarga pendidik. Namun, karena bagi saya pendidikan lebih dari sekedar memberikan bekal pengetahuan. Pendidikan adalah simbol sebuah peradaban.

Selama beberapa tahun terakhir, kehidupan saya akrab sekali dengan perubahan lingkungan. Hampir setiap tahun, domisili selalu berpindah dari satu kota ke kota lainnya. Sangat memungkinkan juga untuk berpindah negara.

Salah satu hal yang paling membutuhkan perhatian besar adalah masalah pendidikan anak. Setiap kali berpindah kota, saya pasti akan melakukan survey ke beberapa lembaga pendidikan yang kami anggap memiliki concern yang bagus pada potensi pengembangan kemampuan anak.

Ada beberapa hal yang kami anggap penting dimiliki lembaga penyelenggara pendidikan, dalam hal ini adalah sekolah formal. Antara lain :

  1. Tingkat kompetensi tenaga pendidik

Kompetensi tenaga pendidik menempati posisi paling penting yang harus kami pastikan. Kompetensi bukan saja dilihat dari latar belakang pendidikan sang guru, tetapi juga bagaimana cara guru untuk membangun komunikasi dengan anak.

Sampai titik ini, kesimpulan yang saya dapatkan adalah latar belakang guru dari jurusan Ilmu Pendidikan sangat penting. Selain itu, kami menganggap guru yang kompeten adalah guru yang mencintai profesinya, bangga akan tugasnya sebagai guru, dan memiliki mental mendidik, tidak hanya mengajar.

  1. Fasilitas sekolah

Pertimbangan kami selanjutnya adalah fasilitas yang mampu ditawarkan sekolah. Banyak yang menafikan hal ini. Menganggap bahwa ini adalah hal yang tidak terlalu penting, karena terkait dengan biaya. Pandangan saya, tidak mungkin sesuatu berkembang maksimal jika tidak didukung oleh fasilitas yang mendukung.

Namun, yang lebih penting bukan ketersediaan fasilitas, tetapi pemanfaatan fasilitas. Bagaimana misal sekolah yang dilengkapi oleh fasilitas teknologi dengan perbandingan 1:1 mampu menjawab kebutuhan pengetahuan anak. Terkait dengan biaya pendidikan, memang tidak bisa dipungkiri bahwa sekolah yang memiliki fasilitas lebih banyak biasanya mematok angka biaya pendidikan yang lebih tinggi. Tapi jangan pesimis parents, yang paling penting telah mengusahakan yang terbaik sesuai kemampuan.

  1. Kurikulum

Pertimbangan lainnya yang juga sangat penting adalah tentang kurikulum. Kurikulum secara singkat didefinisikan sebagai rencana pembelajaran yang dijadikan acuan, disusun, dirancang, dan dilaksanakan lembaga pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan. Sejumlah pakar menyepakati bahwa jantung pendidikan terletak pada kurikulum. Kurikulum juga dianggap sebagai ‘pengejawantahan’ visi dan misi sekolah.

Ketiga hal ini yang paling dominan mempengaruhi pertimbangan dalam menentukan lembaga pendidikan sekolah mana yang paling tepat untuk anak saya. Jika ditanya sepenting itukah peran sekolah? Bukankah pendidikan yang utama justru dari rumah? Lalu untuk apa sekolah?

Jawaban saya adalah karena tidak semua ilmu mampu ditransfer oleh orang tua. Pendidikan di rumah lebih kepada pembangunan karakter, sopan santun, dan penanaman nilai-nilai agama. Sedangkan pendidikan di sekolah lebih kepada penguasaan keilmuan, meskipun unsur mendidik harus tetap disertakan dalam proses pengajaran.

Para guru adalah elemen yang memang dilatih untuk memiliki keahlian khusus yang mungkin tidak dimiliki oleh orang tua. Bahkan sering kali terjadi, orang tua justru ikut ‘belajar’ dari pendidikan di sekolah anaknya. Maka pilihlah lembaga pendidikan, dalam hal ini sekolah, yang benar-benar mendukung visi dan misi pendidikan kita sebagai orang tua.

 

Advertisements

Motherhood

Hari ini saya diminta untuk hadir di acara Coffee Morning, sebuah istilah untuk mengajak orang tua dan guru di sekolah anak saya untuk bertemu, berkumpul, dan membicarakan sesuatu. Untuk kali ini, kami akan membahas terkait MAP Recap, Upcoming Events, dan Pick Up Cards. Namun, bukan itu yang ingin kita bahas di sini. Namun, ada sesuatu yang lebih penting untuk kita renungkan kembali.

Diantara banyak sekali kesibukan yang harus saya selesaikan setiap hari, ada timing yang membuat saya kembali teringat saat dulu pernah ditanya, ‘Jurusan’ apa yang ingin saya ambil di Universitas Kehidupan yang saya jalani. Banyak sekali peran-peran yang harus bisa saya mainkan, tetapi jika diminta untuk memilih salah satu saja, apa ‘peran’ yang ingin saya ambil.

Kembali lagi saya meyakinkan diri, bahwa dalam Universitas Kehidupan ini, saya memilih untuk masuk dalam Fakultas bernama Keluarga. Jurusannya? Jurusan Ilmu Pengasuhan (Parenting). Sejak mendedikasikan kehidupan saya di situ, banyak sekali hal yang berubah dari cara pandang saya selama ini. Saya, 10 tahun yang lalu, tak pernah berpikir untuk bisa seperti ini.

Hari ini, ketika meeting telah usai, saya pulang dengan membawa banyak sekali pemikiran. Bukan hanya karena sebuah hal baru yang saya dapatkan, tetapi juga terasa disentil dan diingatkan kembali. Bertemu dengan beberapa kawan yang memiliki keluasan berpikir dan beragam wacana, ternyata sangatlah membuka wawasan bagi pandangan saya.

Salah satu hal yang saya dapatkan hari ini. Ada seorang kawan, yang anaknya 8 bulan diajak tinggal di Singapura untuk terapi sensori. Mungkin tidak banyak dari kita, atau orang tua kita yang  memahami Sensory Difficulties Disorder. Apa itu? Ini adalah bahasa dokter Singapura tempat anak kawan saya terapi untuk menjelaskan tentang ‘kekacauan’ yang terjadi pada sensori anak.

Jika Anda, mengalami kejadian seperti ini, kira-kira apa yang ada dalam benak Anda? Sebuah keluarga sedang makan di restoran. Ayah, ibu, kakak, dan adik. Tiba-tiba ada suara berisik dari meja sebelah, suara beberapa orang gadis tertawa terbahak-bahak. Ketika mendengar itu, sang adik langsung terganggu dan memelototkan matanya menatap para gadis itu, bahkan siap-siap melempar dengan sesuatu di meja. Itu hanya satu contoh kejadian. Si anak juga bisa saja akan menjadi sangat marah, jika melihat sang ibu terlalu banyak bicara, terutama saat memarahinya. Ada berapa dari Anda yang akan ngeh jika itu adalah bagian dari Sensory Difficulties Disorder?

Ada contoh lain, seorang anak, mengalami tantrum. Sulit sekali untuk diredakan. Pada sebagian tantrum, masalah awalnya adalah karena ada hal yang tidak sesuai dengan keinginannya. Misal, ingin mainan mobil-mobilan. Karena tidak menemukan yang diharapkan, maka si anak akan marah hingga melakukan perusakan, atau bisa sampai menyakiti dirinya sendiri. Misal, memukul kepalanya sendiri. Saat mainan mobil-mobilan itu sudah diberikan, dan si anak akan tetap marah, tetap merusak atau menyakiti diri sendiri, berapa banyak dari Anda yang akan berpikir bahwa ia mengalami  Sensory Difficulties Disorder?

Jiwa anak sesungguhnya sangatlah lembut. Kita yang sekarang adalah ‘produk’ hasil olahan stimulasi yang kita kumpulkan sejak hari pertama kita datang ke dunia. Stimulasi itu bisa kita dapatkan dari ayah, ibu, guru, kawan, lingkungan, dan lain sebagainya. Masalah Sensory Difficulties Disorder inilah juga yang akhirnya membuat kawan saya harus stay di Singapura selama 8 bulan lamanya. Apa hasil observasi dokternya? Dan apa saja yang dilakukan selama 8 bulan terapinya?

Hasil observasi dokter di Singapura, menyatakan bahwa anak kawan saya, secara bahasa sederhana, mengalami sensitivitas yang lebih tinggi dari kebanyakan orang. Ya, jadi kekacauan yang disebabkan sensitif pada pitch suara dengan level diatas rata-rata. Pitch suara yang tinggi biasanya dimiliki oleh jenis kelamin wanita. Itulah mengapa, anak tersebut sensitif pada suara para gadis yang tertawa kencang, atau suara kemarahan ibunya.

Selama delapan bulan di Singapura, beberapa hal harus dilakukan para dokter untuk membuatnya si anak menjadi lebih tenang. Apa hubungannya? Ya, dengan kondisinya yang sudah tenang, akan membuat si anak lebih mampu mengendalikan diri saat menerima kondisi lingkungan yang mungkin saja tidak ideal. Suara-suara di sekitar yang datang tiba-tiba bisa mengganggu. Bahaya sekali jika responnya tidak bagus untuk menghadapi itu.

Lalu apa terapinya? Salah satu cara yang digunakan di Singapura adalah latihan sensorik dan motorik. Dan semuanya dilakukan dengan cara yang menyenangkan bagi si anak. Ibunya? Disinilah anak membutuhkan peran yang sangat penting dari orang tua. Ibunya dulu adalah seseorang yang bekerja. Seperti semua orang ketahui, bahwa tuntutan pekerjaan dunia jaman now sangat luar biasa besar. Apapun pekerjaan kita, dibutuhkan sebuah totalitas untuk melakukannya, bukan? Atau, ya, gak akan perform!

Aktivitas terapi itulah yang akhirnya membuat sang Ibu memutuskan untuk totalitas mengurus sendiri anaknya, 24 jam, 7 hari seminggu, dan tanpa asisten. Luar biasa untuk usia seorang wanita di atas 40 tahun. Setelah beliau mengurus sendiri anaknya, ada hal besar yang sangat dirasakannya. Banyak sekali perubahan positif yang luar biasa dari si anak. Si ibu pun merasakan sendiri, dan merasa sedikit menyesal setelah paham bahwa ada beberapa hal yang missed di jiwa anaknya, ketika masa-masa ia bekerja.

Saya tidak mengatakan bahwa seorang wanita tidak seharusnya bekerja. Ini adalah sebuah pilihan masing-masing orang, tentu sudah dengan pertimbangan banyak hal. Namun, saya ingin pembaca memahami bahwa memang ini adalah faktanya. Suka atau tidak suka, percaya atau tidak.

Semua wanita memahami, bahwa ketiadaan waktu kita, ketiadaan kesempatan kita untuk mendampingi mereka, faktanya membuat sebuah lubang yang sangat besar di dalam jiwa. Tentu ada perbedaan yang pembaca harus bisa membedakan. Antara ibu bekerja, dan ibu tidak bekerja. Kemudian ibu yang bekerja tapi sepulang dari bekerja menyediakan waktu untuk anaknya, dengan ibu yang bekerja tetapi anak sudah tidur, tidak ada kesempatan ngobrol dengan anak karena kecapekan. Kenyataannya, sulit sekali untuk bisa menjadi ideal di tengah tuntutan dunia. Belum lagi, jika perbedaan tipis itu ditambah dengan adanya nanny, dan yang tidak.  Memang semua tidak jaminan. Yang jaminan hanya resikonya. Jelas, there is something missing in their soul in every choice that you take. Apakah itu membuat jejak? Pasti! Apakah itu bisa ‘sembuh’? Depend on you. Maybe yes, but in fact many problem can’t be cured.

Lalu bagaimana seharusnya menjadi orang tua? It’s a difficult thing to answer. Namun, kawan saya dan Room Teacher anak saya membagi beberapa saran, antara lain :

  1. Perkuat Bonding dengan Anak

Secara bahasa yang mudah dipahami, bonding adalah ikatan. Bonding ini harus dibuat, dibentuk, dan terus dibangun mulai anak masih belia hingga kapanpun juga. Bonding ini sifatnya luas, tidak hanya dengan orang tua sebenarnya. Namun, bonding yang paling kuat harus antara anak dengan orang tua. Bagaimana membangun bonding? Itulah hal yang selalu menjadi masalah klasik bagi para orang tua, karena sifatnya sederhana, tapi tak mudah untuk dilakukan.

Jika bonding tidak terbangun dengan baik, jangan selalu salahkan kenapa ada anak yang tidak patuh pada orang tua-nya? Kenapa ada anak yang nakal sekali? Kenapa ada anak yang juga tidak mau merawat orang tuanya di saat orang tuanya sudah tua? Apapun yang terjadi pada anak, tengok dulu bagaimana cara orang tuanya mendidik dan memperlakukannya.

  1. Belajar, Belajar, Belajar

Dunia saat ini sudah sedemikian luar biasa berkembang. Sangat jauh lebih cepat dibandingkan kemampuan kita untuk mem-filter-nya. Anak-anak berkembang di dunia yang membuat kecepatan, kecerdasan, dan keterampilan berpikir mereka sangat jauh melampaui orang tuanya yang hidup di masa beberapa dekade lalu. Sudah sangat jauh berubah!

Pertanyaannya, bagaimana orang tua akan menjaga anaknya tetap bisa di garis yang lurus, sementara ilmu dan kemampuan orang tua tidak terupdate dan terasah dengan tajam sesuai perkembangan jaman? Jawabnya, nol besar! Orang tua yang tidak mau belajar tidak akan menjadi apa-apa selain bulan-bulanan anaknya. Catet!

Lalu, ilmu apa saja yang harus orang tua pelajari? Bagi saya tidak ada pengkategorian ilmu, juga tidak ada ilmu yang basi. Belajar apa saja yang harus dilakukan untuk membawa orang tua pada tujuan membuat anak-anaknya bahagia, menemukan siapa jati dirinya, melakukan hal-hal yang disukainya, dan mensukseskan kehidupan masa depannya.

  1. Buatlah anak-anak bangga memiliki Anda sebagai orang tua

Kadang, seringkali ada kawan kita di masa sekolah yang akan mengatakan, “Ayahku kan hanya buruh tani.” HANYA! “Ibuku kan hanya pembantu rumah tangga.” HANYA! Kenapa anak bisa mengatakan bahwa ayah dan ibunya HANYA…? Agar terasa merendah…sorry, i don’t think so! Seorang anak wajib diberikan kebanggaan pada ayah dan ibunya. Apapun adanya, apapun keadaannya, orang tua harus bisa membuat anak bangga atas dirinya. Yang pasti, jika positif, banggalah!

Namun, kebanggaan itu ternyata tidak hanya bisa didapatkan dari cara berkata-kata. Seorang anak akan mampu merasa bangga pada orang tuanya, jika orang tuanya pun melakukan hal yang membanggakan untuk anaknya. Cara-cara sederhana sebenarnya sangat membantu, misalnya dengan mengajak anak terlibat dalam kegiatan orang tua, sehingga anak akan melihat bahwa ayah atau ibunya telah melakukan tugas yang luar biasa dan bermanfaat. Selain itu, usahakan bisa hadir dalam acara-acara sekolah anak. Sekali lagi, mudah. Tapi tak cukup mudah untuk dilakukan.

 4. Tarik! Anak Anda

Pengertian ‘tarik’ di sini adalah, sebagai orang tua kita harus memiliki semacam alarm yang digunakan untuk memberi peringatan pada diri sendiri, bahwa inilah saatnya Anda harus memberikan perhatian, pemahaman, dan penjelasan lebih kepada anak Anda. Saat dia sudah mulai menjauh atau bonding mulai memudar, maka Anda harus segera menariknya. Jangan sampai anak Anda terlalu jauh, sehingga sulit untuk dipegang, dan akhirnya terlepas. So, tarik! anak Anda.

  1. Konsisten

Konsisten, hanyalah satu kata, tetapi maknanya sangat mendalam dan tidak mudah untuk dilakukan. Konsisten lebih ke arah proses, yang itu akhirnya membutuhkan waktu, dan harus memberikan kesempatan untuk dilakukan secara terus menerus. Namun seperti juga, long-life learning, tidak ada waktu yang terputus untuk memberikan sebuah pembelajaran, begitu juga konsistensi. Bagaimana supaya bisa konsisten? Salah satu caranya adalah dengan mengingat tujuan akhir kenapa melakukannya.

Itulah sedikit yang bisa saya bagikan di sini, semoga memberikan manfaat dan another sight dalam hal pengasuhan untuk anak-anak Anda. Bagi saya, ibu dari anak saya,

Motherhood is…

A choice we make every day, to put someone else’s happiness

and well-being ahead of your own…

To teach the hard lesson…

To do the right things even when we’re not sure what the right thing is…

And…try to forgive ourself, over and over again,

for doing everything wrong…

 

Yess, and it’s still  the most magical day of my life

was the day I became a MOM…